[FF Freelance] One Side (Prologue)

[REQPOST]+One+Side

One Side

Author : (at)_aisyahaas

Title : One Side

Length : Series (on going)

Genre : Friendship, Romance, College-life, Drama, Tragedy, Humor (maybe)

Rating : General

Cast(s) :

Arisa Choi

Kim Jong-in a.k.a Kai

Oh Se-hun a.k.a Se-hun

Xi Lu-han a.k.a Lu-han

Han Ha-ni

Shin Hee-ni

Park Hwa-seul

Shin Sung-gi

Park Chan-yeol a.k.a Chan-yeol

Wu Yi-fan a.k.a Kris

Do Kyung-soo a.k.a D.O

Etc

Disclaimer : I do own the plot and the story. All casts belong to God, their family, and themselves. I just use their characters. After read this story, please give some comments or whatever. I need your criticize. Or you can mention me on my Twitter @aisyahass. Thank you and enjoy your reading ;;)

Summary :

A complicated story. About the past and the future. About friendship and love…

About first love, hatred, revenge, and… wealth.

It’s all about them who isn’t loved, who don’t trust with love, who don’t know what love is, who think that revenge can remove all the pain…

It’s all about them, so be ready…

 

“Love me before I love someone else…”

Copyright © 2013 by Aisyah Amaliyah

Prolog

 

Kau tahu apa yang membuatku begitu membencimu? Karena aku membenci kenyataan kalau aku mulai melupakannya karena ada kau. Aku membenci kenyataan kalau yang menjadi alasan setiap aku bernapas adalah kau. Aku benci kenyataan kalau semua hal yang kulakukan karena aku ingin terlihat baik di matamu. Aku… membenci kenyataan kalau kau membuatku jatuh cinta padamu. Itulah mengapa aku begitu membencimu.

Kau tahu kenapa aku mencintaimu? Mollayo. Aku juga tidak tahu. Kenapa aku bisa jatuh cinta pada gadis bodoh sepertimu? Otakku pasti sudah bergeser saat itu. Tapi satu hal yang aku tahu kenapa aku bisa jatuh cinta padamu.

Karena aku melihatmu menangis. Karena laki-laki lain.

Pertama kalinya aku melihatmu menangis setelah sekian ratusan kali kita bertatap muka, hanya wajah marahmu yang kautunjukkan padaku. Kau tahu apa yang kurasakan saat itu? Ya, kau benar. Hatiku terasa sakit. Dadaku sesak. Dan untuk pertama kalinya pula, aku menangis hanya karena melihat seorang gadis menangis.

Konyol sekali, kan?

Aku suka mata coklatmu yang selalu menatapku dengan tatapan menantangmu itu. Membuatku merasa tenggelam dalam matamu dan merasakan ketenangan walaupun pada saat bersamaan aku dapat merasakan amarahmu.

Ah, sepertinya ada alasan lain.

Kau ingat ketika kita bersama yang lain menempuh perjalanan berjam-jam hanya untuk ke kebun teh hijau Boseong di Jeollanam? Saat itu kita akan merayakan ulangtahun Se-hun dengan berkemah di sana. Kau, aku, Se-hun, Chan-yeol, Hwa-seul, dan Sung-gi. Kita bahkan tidak tidur sampai dini hari dan menghabiskan waktu dengan bernyanyi sampai suara kita menjadi serak.

Kau tahu momen apa yang paling aku sukai saat itu? Kau tertidur di bahuku. Kuulangi sekali lagi. Di bahuku. Ada sesuatu yang membuncah di dadaku saat itu. Rasanya… bahagia sekali melihatmu tertidur di bahuku dengan aku di sampingmu. Wajahmu saat tertidur manis sekali. Aku tidak berbohong, sungguh.

Jadi kali ini dengarkan baik-baik.

Aku mencintaimu. Tidak bisa bila tanpamu. Kau sudah seperti alasanku untuk bernapas. Kau tahu apa yang akan terjadi jika seseorang tidak dapat bernapas dengan benar? Mati. Aku akan mati.

 

{}{}

 

Kau tahu mengapa saat itu aku begitu tidak menyukaimu? Kau selalu mengikutiku, dan aku tidak menyukai saat-saat di mana seseorang mengikutiku. Siapapun itu.

Aku tidak membencimu. Aku hanya tidak menyukai caramu yang terlalu frontal dalam menunjukkan perasaanmu padaku. Aku tahu kau menyukaiku, dan aku sangat berterimakasih karena dapat dicintai oleh gadis sepertimu.

Harus kuakui kau adalah gadis yang… yah, cukup manis. Jadi kurasa tidak akan sulit jika kau ingin mendapatkan laki-laki lain yang lebih baik daripada aku. Aku tidak menolakmu, sungguh. Aku hanya ingin kau memberiku ruang gerak yang lebih luas.

Dan untuk seterusnya… Tolong, menghilanglah dari jarak pandangku. Aku tidak cukup pantas untukmu. Aku tidak akan bisa membahagiakanmu. Rasanya tidak adil jika hanya aku yang bahagia karena dapat memilikimu. Biarkan aku yang mengalah, walaupun rasanya sakit sekali.

Maafkan aku karena terus menyakitimu. Maafkan aku karena kita tidak dapat menjalani hubungan seperti yang kauharapkan. Tapi percayalah, aku juga mencintaimu.

 

{}{}

 

Balas dendam. Aku datang ke sini untuk membalaskan dendamku pada mereka yang telah merenggut seluruh kebahagiaanku. Orangtuaku dibunuh di hadapanku dan mereka membuatku dan adikku harus merasakan yang namanya penderitaan. Sampai akhirnya adikku meninggal dunia.

Kau mengerti kan bagaimana perasaanku?

Aku hanya ingin mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku. Aku hanya ingin menuntut apa yang seharusnya ada di tanganku sekarang. Aku tidak akan membunuh mereka, aku tidak segila itu.

Tapi entah pikiran tidak waras dari mana yang berhasil membuatku… berbalik arah. Kau tahu apa alasanku? Karena kau. Kau yang merupakan putri dari si perenggut kebahagiaanku. Hah, aku tidak percaya ini. Bagaimana bisa aku berbalik arah hanya karena… jatuh cinta? Konyol.

Harus kuakui—pada awalnya—aku sangat tidak menyukaimu. Kau selalu mengikutiku—sama seperti gadis-gadis gila itu. Bahkan kau nekat pindah ke apartemen tepat di depan apartemenku. Kau tahu apa yang ada di pikiranku saat melihatmu berdiri di depan pintu apartemen pagi itu?

Bagaimana bisa kau pindah ke apartemen itu? Karena seingatku, ada sepasang suami-istri yang tinggal di sana. Apa yang kaulakukan sampai mereka rela pindah apartemen? Kau tidak… mengancam mereka, kan?

Kau selalu berhasil menyelinap ke apartemenku dan aku benci akan kenyataan itu. Ada banyak rahasia yang tersimpan di apartemenku dan aku tidak ingin semuanya terbongkar. Setidaknya tidak di hadapanmu. Aku tidak ingin ketika kau mengetahui semuanya, kau akan menjauh dariku. Walaupun aku tahu hari itu pasti akan datang. Hari saat aku kehilanganmu.

Aku menyukai kenyataan bahwa kaulah yang pertama kali kulihat pada saat aku bangun di pagi hari. Aku begitu terkejut saat pertama kali melihatmu sudah berada di dapurku dengan apron kuning yang melekat di tubuhmu. Kau tahu? Kau terlihat seperti seorang istri yang sedang membuatkan sarapan untuk suaminya. Dan aku membayangkan suatu saat nanti kita akan menjadi suami-istri, rasanya pasti menyenangkan sekali.

Hanya membayangkannya saja, perasaan bahagia itu sudah begitu membuncah. Bagaimana bila itu menjadi kenyataan? Aku tidak sabar untuk menantikannya. Dan untuk sampai pada hari itu, aku akan menunggunya. Tidak tahu harus sampai berapa lama, aku akan terus menunggu hingga hari itu datang.

 

{}{}

 

Melihat seseorang yang kaucintai bahagia bersama orang yang dia cintai, bukankah kita seharusnya turut merasa bahagia? Tapi entah kenapa aku sama sekali tidak merasakannya. Rasa bahagia itu, aku tidak merasakannya.

Aku ada di sana. Tepat lima meter di hadapannya. Melihatnya bersama laki-laki lain. Mereka saling bertukar cincin. Ya, mereka bertunangan. Tepat di hadapanku.

Hah, dia kejam sekali. Mengundangku untuk hadir dalam pesta pertunangannya padahal dia jelas-jelas tahu bahwa hal itu akan menyakitiku. Setidaknya jika dia tidak mengundangku, aku mempunyai alasan untuk tidak datang ke pesta laknat itu.

Kisah cintaku menyedihkan sekali, ya? Mencintai seseorang secara sepihak, bukankah itu menyakitkan?

 

{}{}

 

Aku dan dia berteman sejak kecil. Tubuh kami yang sama-sama mungil membuat kami berdua begitu cepat akrab dan bersahabat hingga sekarang. Aku menyayanginya—tidak, bukan sebagai seorang kakak.

Bukankah dalam persahabatan antara laki-laki dan perempuan tidak pernah murni? Selalu ada satu pihak yang memiliki perasaan berbeda. Dan ‘satu pihak’ itu adalah aku.

Iya, aku mencintainya. Tidak tahu harus menunggu berapa lama hingga ia mengetahui perasaanku ini, aku akan dengan sabar menunggu hari itu datang. Dan jika suatu saat nanti ia malah menjauhiku, rasanya mati jauh lebih baik daripada saat-saat mengerikan itu terjadi.

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s