[Vignette] Lost

Lost

LOST

A fiction by Yoo

Lee Jaehwan/Ken VIXX – Hong Nami (OC)

Vignette | General | Romance, Sad

Also published at Grey Line and BAPFanfict2013 

© 2014

.

“Semoga kau bahagia.”

.

London, January 12th, 2014

Salju memenuhi sepanjang jalanan yang kutapaki. Ini bulan Januari, masih memasuki musim dingin tentu saja. Kurapatkan mantel, mencoba menghangatkan diri. Kendati tanganku yang lain terangkat ke udara, berusaha menggapai butiran salju yang jatuh satu per satu. Kegirangan layaknya anak kecil ketika sebutir salju akhirnya mendarat mulus di permukaan tanganku yang telanjang.

Tak berapa lama, mataku terfokus pada sungai Thames, sungai yang menjadi kebanggan masyarakat London. Sungai yang kini membentang di sepanjang mataku menyapu. Tidak banyak kapal yang melintas di sungai saat ini, sebagian besar masih menepi di tepian. Meski satu dua kapal ada yang terlihat beroperasi mengelilingi kawasan sungai.

Sudah hampir seminggu aku berada di kota ini dan belum mendapat kesempatan untuk merasakan berada di dalam salah satu kapal itu. Mungkin nanti aku harus meminta Hakyeon untuk menemaniku naik kapal sebelum kami kembali ke Seoul. Kudengar biayanya hanya 15 euro untuk sekali naik.

Ngomong-ngomong soal Hakyeon, kemana perginya laki-laki itu? Sudah hampir setengah jam ia meninggalkanku sendirian di sini.

Nanti juga dia kembali, pikirku. Kemudian kembali tenggelam dalam pesona sungai Thames, sebelum seseorang tiba-tiba datang dan berdiri tepat di sampingku. Awalnya kupikir orang itu adalah Hakyeon, tapi dugaanku meleset begitu aku mendongak. Ternyata yang berdiri di sebelahku hanya seorang pemuda asing, memakai coat kulit cokelat tua dengan syal rajut yang melilit leher jenjangnya.

Baru saja aku hendak menyapa —karena kupikir kami sama-sama berasal dari Asia, jadi tidak ada salahnya untuk menyapa— ketika pemuda itu melempar senyum padaku lebih dulu. Aku tidak mengerti mengapa otakku terasa membeku saat sepasang iris cokelat kelamnya bersirobok dengan milikku.

Seperti ada yang memaksaku untuk masuk ke dalam dimensi lain. Entah apa.

“Kau dari Korea?” Kupaksa diriku untuk kembali sadar, dan berinisiatif memulai obrolan. Ketika pemuda itu hanya diam sambil memandangiku tanpa berusaha mengalihkan matanya. Jujur saja, tatapannya tadi sempat membuatku salah tingkah.

Oh, ya ampun, ada apa denganku?

Pemuda itu mengangguk, masih dengan tatapan yang tak kunjung beranjak dariku. “Kau juga, ‘kan?”

“Benar!” seruku, lumayan takjub bisa bertemu dengan sesama penduduk Korea di London. Apalagi saat ia menjawab dengan hanguk. “Wah, senang sekali bisa bertemu dengan orang Korea di sini!” tambahku. Ia tertawa renyah, sembari mengangguk pelan.

“Kau tinggal di sini? Atau hanya sedang berlibur?” lanjutku. Tidak butuh waktu lama untuk merasa nyaman berada di dekat pemuda asing ini. Mungkin karena kami berasal dari negara yang sama.

“Aku menetap di London.”

Aku mengangguk-angguk paham, sebelum melempar balasan lagi, “Kalau aku sedang berlibur kemari.”

“Aku tahu.”

“Eh?”

“Bisa kutebak.”

Lagi-lagi aku menganggukkan kepala seperti anak sekolah dasar yang baru saja paham maksud perkataan guru.

“Namaku Hong Nami,” ujarku, langsung mengulurkan tangan. Tidak baik jika kita tidak memperkenalkan diri pada orang yang kita ajak mengobrol, bukan?

Ia membalas uluran tanganku. Entah hanya pikiran liarku atau apa, tapi sejenak saat ia menggenggam tanganku, aku bisa merasakan perasaan hangat yang familiar menjalari tubuhku. Tidak terasa seperti sesuatu yang baru. Semacam perasaan yang lama sekali tak kurasakan dan saat ini aku kembali merasakannya. Seperti itu.

Tunggu! Mengapa ini mulai terasa aneh?

“Lee Jaehwan,” ujarnya singkat. Namun matanya yang menatapku sendu seolah berhasil membuat sel-sel syarafku mati rasa.

Tatapan itu rasanya tidak asing bagiku.

“Jadi, Jaehwan-ssi—“ buru-buru kutarik tanganku yang semula masih tergenggam erat dengan tangannya. Menyembunyikan dentuman aneh yang mulai terasa di balik dadaku, “—sudah berapa lama kau tinggal di London?” tanyaku, basa-basi. Berniat menghilangkan kecanggungan yang mulai merebak di antara kami. Atau hanya aku yang merasakan itu? Oh, mungkin saja.

“Hampir dua tahun,” Ia menggantung kalimatnya. Tampak menerawang, namun kembali mengarahkan irisnya padaku sedetik kemudian. Aku bisa melihat tatapan nanar yang tersorot dari kedua matanya. “Setelah gadis yang kusukai mengalami musibah.”

Saat itu juga, aku merasa jantungku benar-benar berhenti berdetak.

“Musibah?”

Lee Jaehwan kembali menerawang. Bisa kulihat senyum lemah yang terukir di wajahnya. “Aku tidak bisa terus berada di sampingnya. Aku tidak boleh.” Beberapa detik, kepalanya tertunduk. Ia menggigit bibir bawah. Seolah menahan luka yang kembali menganga. “Jadi aku memutuskan untuk tinggal di sini, tempat yang jauh darinya,” ia mendongak, memasang seulas senyum meski terlihat berat.

Aku tidak tahu harus membalas apa. Sekedar untuk mengomentari kisahnya atau memberinya sedikit dukungan. Dan pada akhirnya aku hanya membisu. Laki-laki itu kelihatan sangat menderita. Mungkin itulah yang membuatku ikut bersedih.

“Dia masih tidak mengingatku.”

Suaranya seperti magnet yang menarikku untuk kembali mendongak. Dan saat itu juga, aku melihatnya menatapku. Sama seperti tatapan sebelumnya. Nanar. Ada secercah perasaan rindu terlihat di sana. Juga perih.

“Mungkin memang lebih baik jika dia melupakanku,” ia melanjutkan. Tangannya merogoh saku coatnya, mengeluarkan sesuatu yang aku pun tak tahu, karena aku sendiri kembali menunduk. Kepalaku, bahkan tubuhku, terasa melemas setiap ia mengucapkan kalimatnya tadi. Dan seperti ada sebuah cabikan dari dalam hatiku begitu ia berbicara tentang melupakan.

Tuhan, sebenarnya ada apa denganku?

“Untukmu,” ia mengulurkan kertas origami kecil yang sudah kusut di sana-sini, dengan warna asli yang sudah pudar. Mau tak mau, sekali lagi aku mendongak menatapnya. Menerima pemberian kecilnya itu. Ada jutaan pertanyaan yang mendadak berkelebat dalam pikiranku, meski lidahku juga terasa kelu, bahkan hanya untuk mengucapkan satu kata.

Ia menunduk sejenak, sebelum kemudian tersenyum padaku yang masih membeku di tempat. Berbalik badan lalu berjalan meninggalkanku. Tanpa berkata selamat tinggal atau salam jumpa. Tapi aku bersumpah mendengarnya mengucapkan satu kalimat sebelum benar-benar pergi. Jika saja aku tidak melihat bibirnya bergerak, mungkin aku akan berpikir baru saja berhalusinasi ketika mendengar suaranya merapal kalimat terakhir.

Semoga kau bahagia.’

Ya, kalimat itu yang ia ucapkan.

Tanpa sadar, tanganku memegang origami pemberian Jaehwan tadi semakin erat. Origami lusuh yang warnanya telah memudar. Aku tidak tahu sudah berapa lama origami ini dibuat. Yang jelas, benda mungil yang ada dalam genggamanku ini seolah memaksa otakku untuk mengingat hal yang bahkan tidak bisa kuingat.

Aku merasa adanya suatu keterikatan dengan benda mungil ini. Entah apa itu. Dan pemuda tadi, apa aku pernah mengenalnya sebelum ini? Perasaan aneh terus menghinggapiku selama berada di dekatnya, bahkan sampai sekarang setelah mataku tak lagi menangkap sosoknya. Yang lebih aneh adalah perasaan hampa yang menguar dalam diriku begitu sosoknya menghilang dari pandangan.

“Kau menunggu lama?”

Sebuah cup kopi hangat tiba-tiba menempel di pipiku, membuatku terlonjak kaget dan memekik pelan. Suara itu tidak asing di telingaku. Dan benar saja, ketika aku mendongak, Hakyeon sudah berdiri di sampingku sambil melempar cengiran jahilnya, “Kaget, ya?”

“Cha Hakyeon!” Aku memukul lengan kirinya sebal. Balasan karena sudah mengagetkanku, dan meninggalkanku sendirian begitu lama. Meski aku tidak benar-benar memukulnya dengan tenaga penuh. Ia masih terkekeh sembari mencoba menghindari pukulanku. “Kemana saja kau? Kenapa pergi lama sekali?” Seingatku tadi ia bilang akan membeli kopi hangat untuk kami. Apa membeli kopi harus selama ini?

“Maaf, maaf, tadi setelah membeli kopi, aku mampir ke suatu tempat,” ujarnya, memberikan kopi bagianku. Masih tak berhenti tersenyum ketika melihatku menekuk wajah. Ia lalu merogoh saku mantelnya, mengeluarkan sesuatu serupa jepit rambut, dan aku bisa benar-benar melihat benda yang baru saja ia keluarkan itu ketika ia mengangkatnya —yang ternyata sesuai dugaanku. Jepit rambut berbentuk kupu-kupu berhiaskan permata di tepiannya.

“Aku tidak sengaja melihatnya di etalase toko yang kulewati tadi dan langsung membelinya. Kupikir ini sangat cocok untukmu, jadi aku tidak perlu berpikir dua kali sebelum membeli.” Ia terus mengoceh, sementara tangannya yang bebas memasangkan jepitan itu di rambutku. Aku bisa melihat senyum puasnya ketika memandangi jepit kupu-kupu itu terpasang di rambutku. “Manis sekali.”

“Terimakasih, Hakyeon-ah,” Aku mengulum bibir begitu melihat pria yang sudah menjadi kekasihku selama beberapa bulan terakhir ini tersenyum. Masih sangat jelas dalam ingatan, pertama kali kami bertemu tepat di sebuah rumah sakit di mana Hakyeon bekerja. Ya, ia adalah seorang dokter. Dulu Hakyeon-lah yang merawatku setelah kecelakaan naas yang merenggut semua ingatanku dan bahkan sempat membuatku koma beberapa hari. Ia yang terus menjagaku selama berada di rumah sakit, tentu saja ketika kedua orangtuaku dan juga kakak laki-lakiku sedang tidak bisa menemaniku. Dan selama itu pula, kami berdua semakin dekat hingga berakhir sebagai sepasang kekasih seperti sekarang ini.

Ia masih tersenyum, hingga matanya menangkap origami kusut yang sedari tadi kugenggam. Alisnya bertaut, menampakkan ekspresi bertanya-tanya. “Dari mana kau dapat origami itu? Kenapa sudah kusut sekali?”

Pertanyaannya itu kembali memaksaku untuk mengingat pemuda bernama Lee Jaehwan. Dan seketika rasa hampa kembali menggelayuti jiwaku. “Aku mendapatnya dari seseorang tadi.”

“Oh? Kau bertemu dengan seseorang? Temanmu?”

“Tidak, aku baru saja mengenalnya.”

“Baru saja mengenalnya? Jadi kalian berkenalan? Apa dia laki-laki? Dia tampan?” Hakyeon melipat kedua tangannya di dada. Matanya memicing layaknya detektif. Ah, tidak. Lebih tepatnya seperti seorang pria yang menemukan kemungkinan kalau pacarnya bermain api di belakang.

Aku memutar bola mata. Terkadang Hakyeon bisa menjadi sangat konyol. Ia bukan tipe pencemburu. Barusan ia hanya berulah seperti anak kecil yang berpura-pura dongkol. “Dia laki-laki dan dia sangat tampan. Senyumnya sangat manis, kau tahu?” Aku tidak bermaksud mengatakan itu sungguh-sungguh, tapi ketika aku kembali menyinggung tentang Lee Jaehwan, sesuatu kasat mata lagi-lagi menohokku. Tepat di jantung. Meninggalkan perih di dalamnya, yang bahkan aku tak tahu mengapa aku bisa merasakan semua ini. Akal sehatku pun tidak bisa menemukan alasan logis.

Alih-alih merasa cemburu, Hakyeon malah tertawa renyah dan mengacak puncak kepalaku. Tangannya yang bebas turun ke leherku, memperbaiki syalku dengan satu tangan. Ia mengulum bibir, dan mengarahkan tangannya ke pipiku. Membelainya lembut. Membuatku tergoda untuk ikut tersenyum. Aku selalu menyukai rasa hangat dari tangannya tiap kali bersinggungan dengan kulitku. Dan aku menyukai senyumnya yang selalu bisa meneduhkan hatiku.

“Aku tidak peduli setampan apa dia. Yang jelas, sekarang hatimu adalah milikku.”

-FIN-

Fic ini sudah pernah dipublish di WP pribadi saya dengan cast yang sama dan memang cast ini versi originalnya, juga pernah saya publish di BAPFanfict2013 dengan cast yang berbeda (Daehyun-Yoo Ara). Jangan lupa tinggalkan jejak!🙂

/Yoo

11 thoughts on “[Vignette] Lost

  1. telat baca ffnya. Tapi daripada ga ngomen mending tinggal jejak /loh

    agak nyesek sih pas bagian nami ga bisa inget jaehwan. kasian jaehwan harus banting stir jadi penggalau /digampar

    keseluruhan aku suka ceritanya. kayaknya seru kalo ada hidden scene/? semacem kecelakaannya gitu hohoho

  2. Seperti nya nami lah yg dmaksud jaehwan…duuhhh keren ini crta nya,,tp kurang panjang……
    Dbkin lbh panjang lalu diakhir nya nami inget masa lalu nya…lalu siapa yg bner2 bersanding sm nami????
    *ini aku koment apa gmn cii *maapken duuhh

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s