[FF Freelance] Just For One Day

tumblr_mz7pdypryW1t07lczo1_500

Judul : Just For One Day || Author : @ansabilna || Main Cast : Cho Kyuhyun & Lee Chae Rin (OC) || Genre : Hurt, Friendship || Rating : T || Lenght : SongFic – Vignette || Disclaimer : The story is pure mine! Inspired by Super Junior’s Kyuhyun song “Just For One Day”

***

Aku memiliki rahasiamu, seseorang yang hanya menganggap diriku seorang teman.

Ketika kau menghapus air matamu, tidakkah kau melihat diriku sebagai seorang gadis?

Mungkin aku sudah merasa nyaman. Saat aku menyeka air mataku dipundakmu.

Di tengah musim gugur, bangku taman halaman sekolah. Hanya aku dan pria bernama lengkap Cho Kyuhyun ini. Berperawakan tegap dengan ketampanan diatas rata-rata. Tak terlebih dengan predikat juara kelas yang ia sandang setiap tahunnya. Membuatnya terlihat begitu sempurna. Tidak mengelak, bahkan diriku-pun terpesona.

Mungkin, waktu lima tahun sudah sangat cukup untuk lebih jauh mengenal sosok dirinya. Bermula sejak keluarga Cho pindah kerumah barunya, tepat disebelah rumahku.

Saat itu usia-ku masih tiga belas tahun. Dan bisa ditebak, bocah laki-laki yang kala itu sedang berdiri didepan mobil sedan berwarna hitam metal dengan keadaan tangan terlipat didada-nya, memiliki usia yang sama denganku. Dengan menggunakan t-shirt polos berwarna biru, dengan pasangan jeans berwarna senada yang sangat terlihat pas ketika ia kenakan. Rambut depannya yang bersurai coklat keemasan sedikit tersibak oleh terpaan semilir angin kecil yang mampir ketika itu.

Kata pertama yang terbesit dalam pikiranku ketika melihat siluet diri-nya untuk pertama kali. Tak ada ekspresi, datar. Kedua alis tebal-nya saling bertautan, keningnya terlihat sedikit berkerut, seperti sedang menerka-nerka rumah megah dengan design minimalis yang terpampang jelas dihadapannya. Rumah baru milik bocah itu dan keluarganya. Ibu bilang, sebenarnya mereka sudah pindah sejak malam harinya. Tetapi siang itu, mereka sedang sibuk menata beberapa barang lama yang masih tersisa untuk disusun kembali.

Sampai pada akhirnya, ibu mengajakku untuk mengunjungi rumah tetangga baru kami. Memperkenalkanku sebagai putri tunggal dari keluarga sederhana Lee. Kunjungan pertama kami kerumah tetangga baru.

Sekaligus perjumpaan pertamaku dengan-nya. Dengan-nya yang kini menjadi teman dekatku. Saling berjabat tangan dan memperkenalkan nama masing-masing, layaknya sebuah perkenalan pada umum-nya.

Hey, dia tidak sedingin yang aku kira! Seruan itu lantas dengan otomatis terngiang didalam otakku. Tatkala melihat seulas senyuman lebar terlukis jelas di wajah tampannya. Dan dengan bangga, ia memaparkan sebuah nama yang indah, yang tak lain dan tak bukan adalah nama-nya sendiri. Tak mau kalah, aku juga melemparkan guratan senyum terbaikku saat itu. Memarken deretan gigi putihku yang rapi.

Awal yang indah.

Menjadi teman sepermainannya sejak masa remaja, mungkin bisa dikatakan sebagai suatu kebanggaan tersendiri dalam hidupku. Entahlah. Aku sudah hafal benar tingkah laku bocah separuh iblis ini. Tidak bisa hidup tanpa sebuah benda yang ia katakan sangat berharga.

Dan nyatanya benda tersebut hanyalah sebuah konsol permainan genggamyang dibuat dan dipasarkan oleh perusahaan terkenal, Sony Computer Entertainment. PlayStation Portable atau lebih terkenal dengan sebutan PSP, yang dibelinya dengan harga dua juta rupiah dalam satuan mata uang Korea.

Bagaimana tidak? Bahkan anak bungsu dari dua ber-saudara ini rela tidak tidur seharian, hanya untuk menuntaskan permainan yang sanggup membuat-nya kalah telak. Tidak, sebelum berhasil! Sebuah prinsip tidak masuk akal, yang ia peruntukkan untuk diri-nya sendiri ketika sedang asyik berkutat dengan benda ‘keramat’ buatan asli Negara mata hari terbit itu. Tidak peduli tempat dan waktu. Kapanpun dan dimana pun ia suka.

Maniak! sebutan atau bahkan lebih pantas dikategorikan sebagai bentakan yang sangat cocok dilampirkan untuk pria bermarga Cho itu. Kurang lebih begitulah yang akan Kyuhyun dapatkan dari seorang Cho Ahra—kakak kandung pria yang memiliki tinggi sekitar 180 cm ini. Apalagi, jika sudah mendapati Kyuhyun sedang tertidur lelap didepan komputer milik-nya, dengan layar menjurus kepada sebuah permainan ber-genre animasi bernama StarCraft. Salah-satu, dari sekian banyak game favorit-nya.

Ahra—putri sulung keluarga Cho itu, hanya lebih tua dua tahun dibandingkan sang adik. Rasanya sudah sangat diluar kepala, jika menyangkut tentang pria satu ini. Aku tahu apa yang ia suka dan ia tidak suka. Enam puluh delapan kilogram untuk berat badannya, dan empat puluh satu untuk ukuran sepatunya.

Menjadi sebuah rahasia besar, ketika Kyuhyun lupa untuk menaikkan resleting celana-nya, malam natal tahun kemarin. Kebetulan, tahun lalu Kyuhyun diminta untuk menghadiri acara makan malam bersama dirumahku. Bisa ditebak, seruan tawa pecah saat itu juga. Sampai-sampai aku tidak bisa membedakan mana kepiting rebus, dan wajahnya yang aku yakini sangat malu. Untuk hal sekecil itu saja dia lupa? Dasar.

Aku tidak bisa membayangkan, bagimana jika aku menceritakan peristiwa memalukan ini pada Ahra, atau bahkan teman-teman kami disekolah. Akan menjadi trend yang menarik, pastinya. Haha.

Masih tersimpan rapi dalam memoriku, ketika kudapati Kyuhyun sedang menitihkan butiran airmata yang jarang ia tumpahkan didepan altar sebuah gereja seberang jalan komplek perumahan kami. Bukan hanya sedang kebetulan lewat. Jika tidak ada dirumah, sudah dipastikan sosok-nya akan mampir ke tempat se-suci ini.

Rindu akan sosok adik kecilnya. Bocah laki-laki berusia enam tahun yang meninggal akibat kanker ganas yang bersarang di pembuluh darah-nya. Cho Ahn Yeong. Begitu merasa kehilangan, pasti itu yang dirasakannya.

Hanya dengan mengusap bagian pundak kanannya, dan berusaha membuatnya lebih tenang dengan kata-kata motivasi yang mungkin bisa sedikit membuatnya bangkit, itu yang kulakukan. Selalu itu yang kulakukan. Dan nyatanya, sedetik kemudian ia akan menyeka aliran sungai kecil yang mengalir dipipi-nya, dan menyulam sebuh senyuman tipis nan manis.

Begitu juga yang ia lakukan padaku saat itu. Saat dimana aku mengetahui bahwa kedua orangtua-ku akan bercerai. Anak mana yang hatinya tidak hancur ketika mengetahui kedua orangtua yang amat disayangi akan berpisah? Pastilah itu bukan aku.

Kyuhyun bersedia meminjamkan bahu-nya untukku ketika aku menangis terisak saat itu. Berusaha membuatku yakin bahwa Tuhan merencanakan sesuatu yang lebih baik lagi dibalik ini semua. Ketika itu kurasakan sangat nyaman, bahkan jika ada kata yang melebihi kata nyaman, pasti akan aku sebutkan.

Waktu aku duduk disampingmu, walaupun hanya aku disebelahmu.

Teman-temanku mengatakan ini mencurigakan pada awalnya.

Itu cukup asing.

Tapi jujur, itu membuat diriku senang.

Setiap kali aku duduk disampingmu, apa yang teman-teman katakan padaku.

Kita sangat sesuai, bersamaan dengan tatapan lucu mereka.

Jujur saja, itu membuatku gelisah.

Tapi itu keinginan kecilku.

Seringkali mereka menganggap hubungan kami melampau jauh dari hanya sekedar hubungan antarteman. Mereka, ya mereka, teman-teman kami disekolah. Bahkan, ketika kami hanya duduk berdampingan seperti ini. Ini mencurigakan, racau mereka ketika melewati kami yang sedang asyik berbagi senda gurau untuk menghabiskan waktu demi waktu yang terbuang.

‘Kalian pasangan yang serasi’ atau mungkin ‘kapan hari jadi hubungan kalian?’ perkataan yang sudah sangat akrab menjamah indra pendengaranku. Apalagi jika sudah disertai dengan tatapan aneh mereka yang lucu. Risih, dan terusik jika terjebak dalam situasi seperti ini. Namun entah apa, sensasi rasa senang juga kudapati dalam waktu yang bersamaan. Entah, asal kau tahu, tapi itulah keinginanku untuk saat ini.

Jujur, aku mulai merasa tidak tertarik dalam persahabatan.

Hanya untuk satu hari.

Persahabatan datang lebih dalam dari cinta.

Cinta yang harus aku sembunyikan.

Yang aku inginkan adalah hanya bersamamu.

Tak lama lagi, hari kelulusan tiba. Dapat dihitung dengan hitungan hari, mungkin. Kyuhyun sudah mantap menjatuhkan pilihan-nya pada negara Paman Sam, untuk mendalami ilmu dalam bidang otomotif.  Sementara aku, lebih tertarik untuk melanjutkan study-ku di salah satu Universitas terkenal di Korea, KyungHee Univercity.

Pria yang sedari tadi duduk disampingku ini, menghela nafas berat nan panjang. Kedua lengannya bertumpu pada kedua lutut-nya. Wajah-nya perlahan menoleh tepat kearahku. Menatap lekat manik mataku. Entah sejak kapan, pandangan kami terkunci satu sama lain. Perlahan, kulihat bibir tebal-nya mulai ber-ucap.

“Tidak terasa tinggal beberapa hari lagi. Ah, rasanya aku belum siap untuk meninggalkan Korea. Aku akan berada di Amerika dalam waktu lama. Aku pasti akan merindukan masa-masa bermain denganmu seperti kemarin. Itu pasti. Jangan melupakanku, ya.” Panjang lebar pria berkulit seputih susu itu menjelaskan. Sesekali, ia mengacak rambutku pelan. Mendalami setiap kata yang keluar dari bibir berwarna merah muda itu. Sorot mata-nya yang nanar seakan berbicara.

“Tapi berjanjilah, takan ada jarak untuk persahabatan kita, Lee Chae Rin. Aku pasti akan kembai ke Korea untuk berlibur.” Terdengar ucapan dengan kata memohon pada akhirannya. Cukup serius.

Akan merindukanku, katanya. Merindukanku, sebagai seorang sahabat yang selalu setia berada disampingnya. Membantunya dikala susah, dan menghiburnya dikala sedih. Akan merasa sangat kehilangan, ketika sosok-nya beranjak pergi. Aku ingin ia tetap tinggal, tapi apa daya, inilah keputusannya.

Mungkin, sebuah senyuman yang terukir secara paksa diwajahku dapat dianggap sebagai balasan atas ucapan-nya kali ini.

Akan terkesan sangat wajar jika sebuah perasaan asing muncul tanpa permisi dan hinggap begitu saja bukan? Perasaan asing yang tak dapat kukendalikan dengan mudah. Perasaan yang mungkin menyimpan begitu banyak makna.

Cinta? Ya, aku mencintainya. Aku mencintai sahabatku sendiri, Cho Kyuhyun. Apa itu salah? Jelas ini bukan kemauanku. Tuhan sudah menentukan garis takdir. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Cukup dengan menyembunyikan cinta ini sendiri. Pastilah perasaan ini takan terbalas. Walau seribu kali-pun aku berharap. Aku tahu itu.

‘Kau adalah sahabat terbaikku’, entah sudah berapa kali telingaku memanas mendengar kata demi kata dengan embel-embel sahabat.  Muak, mungkin begitu. Selama ini pandanganku salah. Memandangnya lebih, sementara pandangan kami takan pernah sama. Aku salah.

“Ya.” Terdengar singkat, padat, dan jelas. Tetap dengan senyuman paksa yang masih betah mampir tuk menghiasi wajah mungilku. Dan pada akhirnya, kurasakan kedua bolamataku mulai memanas.

Suatu hari, hanya suatu hari. Aku berharap kita bisa bertemu bukan sebagai teman, tapi aku sebagai kekasihmu.~~

***

 

Advertisements

3 thoughts on “[FF Freelance] Just For One Day

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s