[Chapter 4] 2050

2050

“When you’re not a human..”

by Shinyoung

Main Cast: Kim Myungsoo & Son Naeun || Support Cast: Infinite & Apink || Genre: Fantasy, Angst, Romance || Length: Chapter 4/? || Rating: || Credit Poster: iheartpanda || Desclaimer: Official written by me. The cast belongs to God. No copy-paste.

Chapter 4 – Robovent

Teaser | 1 | 2 | 3

**

 Sebelumnya: Naeun sudah menerima buku yang berisi tentang Robolars dari Kim Namjoo  Faylars  yang ikut membantunya dalam misinya melarikan diri. Ketika dibukanya buku itu, ia baru menyadari bahwa ada seorang manusia yang mulai menyukainya. Karena itulah beberapa hari yang lalu, ia sempat jatuh koma.

Naeun juga sempat berpikir bahwa Myungsoo yang menyukainya, namun segera ia hapus pikiran itu. Ia tidak mau mudah percaya bahwa laki-laki itu benar-benar menyukainya. Toh, belum ada buktinya.

Kini, kehidupannya semakin terganggu oleh kedatangan seorang perempuan yang bernama Jung Krystal. Dan, Naeun bertanya-tanya siapa gadis itu? Apa hubungannya dengan Myungsoo?

**

Dalam keheningan malam itu, Naeun belum bisa menutup kedua matanya. Walaupun ia seorang Robolars, ia juga tentu bisa Insomnia. Mungkin, ia masih terpikirkan oleh buku tebal tadi.

Akhirnya, ia memutuskan untuk bangkit dari tempat tidurnya kemudian menyalakan lampu kamarnya dan mengambil buku tebal tentang Robolars yang ia letakkan diatas meja di dekat pintu kamarnya.

Dibukanya halaman pertama buku itu.

Robolars Facts

Alih-alih, kata pengantar, daftar isi, segera ia lewatkan begitu saja. Juga pengertian tentang Robolars. Ada juga daftar nama-nama Robolars yang pertama kali dibuat.

Sampai akhirnya, ia tiba di halaman 20.

Bagaimana Cara Membuat Robolars Menjadi Manusia Sempurna?

Hal yang pertama, biasanya seorang Robolars akan meminta seorang Faylars untuk mengubahnya langsung menjadi manusia. Namun, hal itu adalah hal yang paling umum untuk kalangan Robolars yang bisa langsung sepenuhnya berubah.

Bagaimana dengan para Robolars yang sudah diubah oleh Faylars, namun mereka masih menjadi ‘setengah’ Robolars?

Hal yang kedua, para Robolars akan menjadi seorang setengah Robolars, jika ia diprogram dari awal tidak bisa mengubah dirinya menjadi manusia. Para pembuat Robolars  yang memprogram Robolars, banyak yang memprogram Robolars agar tidak bisa berubah menjadi manusia asli. Ketika para Faylars mencoba mengubah Robolars itu menjadi manusia, sihir mereka hanya akan berjalan setengahnya.

Lalu kemanakah sihir mereka yang setengahnya lagi? Jawabannya adalah, sihir itu ditangkis oleh tubuh Robolars itu. Robolars itu akan menjadi setengah robolars atau setengah manusia.

Kami menyebut setengah robolars itu dengan sebutan Robovent. Para Robovent, sangat berbahaya. Mereka bisa menghancurkan dunia. Keadaan Robovent akan langsung terdeteksi, karena itulah para Ownlars akan menghancurkan para Robovent.

Robovent hanya bisa berubah menjadi manusia sepenuhnya, jika ia menerima cinta yang seutuhnya dari seorang manusia. Atau, Robovent itu yang mencintai manusia itu.

Namun, sayangnya, selain cara itu, tidak ada cara lain lagi untuk mengubah Robovent selain menghancurkan mereka sepenuhnya. Walaupun, Robovent itu sudah menjadi manusia, mereka akan mati.

Naeun segera menutup mulutnya. Ia tidak mau berteriak sekencang-kencangnya. Mati?

Jika ia mati, untuk apa ia bersusah payah mencari cara bagaimana agar dirinya terlepas dari kutukan Robogent itu? Naeun mencoba mengendalikan dirinya, ia belum selesai membaca buku itu sepenuhnya. Akhirnya, ia membalikkan halaman selanjutnya.

Mereka yang mati tentu saja karena Monster Barvseu belum mati. Monster itu adalah musuh dari para Robolars. Awalnya, Barvseu diciptakan untuk menjadi seorang Robolars yang sempurna, namun karena kesalahan Kim Joon-myeon, Barvseu berubah menjadi monster.

Barvseu adalah induk dari para Robolars. Dan, hanya seorang Robovent lah yang bisa menghancurkan Barvseu agar ia tidak mati begitu saja. Alasan para Robovent bisa mati begitu saja ketika mereka berubah menjadi manusia seutuhnya adalah karena Barvseu memiliki kekuatan super dahsyat yang bisa menghancurkan seorang manusia yang sebelumnya adalah Robovent.

Untuk para Robovent, selamatkan diri kalian.

Semoga, kalian bisa beruntung dan temukan Barvseu secepatnya.

“Apa?! Ini gila! Aku bahkan tidak tahu bagaimana caranya menemukan Barvseu!” Ujar Naeun. Ia menutup buku itu, kemudian cepat-cepat dijauhkannya buku itu.

Dia menyelinapkan dirinya di balik selimut dan terus berpikir. Dan tanpa ia sadari, kini ia sudah terlelap dalam tidurnya karena terlalu mengantuk.

**

Myungsoo menyandarkan dirinya pada tembok kamar Naeun sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Melihat Naeun yang tertidur dengan pulas itu membuatnya ingin tertawa.

Bagaimana bisa seorang gadis tidur seperti itu?

Itu yang dimaksudkan disini adalah tidur dengan rambut teracak-acak ditambah juga oleh mulut Naeun yang terbuka. Gadis itu pasti sangat aneh ketika ia tidur. Myungsoo yakin Naeun pasti bergerak kesana dan kesini.

Kalau saja, hari ini bukan hari pemotretan penting, maka ia tidak akan sudi masuk kamar Naeun, karena ini namanya membuka privasi seorang perempuan yang tak dikenalnya sama sekali.

Saudara saja bukan.

Myungsoo mengeluh kesal. Dia mencoba mendekati Naeun, kemudian merapikan rambut gadis itu. Tanpa ia sadari, Naeun mulai terbangun dengan gerakan-gerakan tangannya.

Laki-laki itu segera menjauhkan dirinya dari Naeun, kalau saja Naeun terbangun dengan ekspresi terkejut melihat Myungsoo ada di kamarnya, bisa saja gadis itu berteriak sekencang-kencangnya karena merasa tidak adil.

Oke, lalu aku harus bagaimana? Myungsoo bertanya-tanya, apa kata gadis itu jika melihat dirinya sudah ada di dalam kamarnya. Namun, gadis itu justru bangun dari tempat tidurnya dan mengucek kedua matanya. Pertanyaan itu terjawab sudah, dengan sebuah senyuman.

Deg.

Myungsoo mengalihkan wajahnya. Sial! Kenapa jantungku!

Alih-alih agar tidak ketahuan bahwa wajahnya sudah merona, laki-laki itu segera berdeham kecil. Kemudian ia merentangkan kedua tangannya. “Nah! Karena kau sudah bangun, sekarang mandi dan kita akan berangkat ke studio.”

Gadis itu menatapnya bingung. “Bukankah hari ini hari Minggu? Memangnya tidak libur?”

“Aish! Kau ini tidak tahu bagaimana mendapatkan honor rupanya. Nah, ada sebuah produk yang menginginkan kau menjadi model mereka karena sudah melihat bagaimana kau menjadi model di sebuah majalah kemarin.”

Gadis itu tercengang. “Secepat itukah?”

“Ya,” Myungsoo menganggukkan kepalanya. “Sekarang, ayo cepat mandi dan bergegas. Kau mengerti kata bergegas bukan?”

Naeun menganggukkan kepalanya sambil menyibak selimutnya kemudian berjalan menuju kamar mandi. Myungsoo hanya menghela nafas panjang, kemudian laki-laki itu keluar dari sana.

Lagi dan lagi, Myungsoo hanya bisa diam-diam tersenyum mengingat bagaimana Naeun hanya tersenyum ketika melihat dirinya. Namun, cepat-cepat, Myungsoo menghapus ingatan itu.

Apa-apaan kau ini? Myungsoo jadi curiga pada dirinya sendiri jangan-jangan dirinya mulai menyukai Naeun. Tidak! Kau tetap harus menjadi L yang dianggap orang-orang adalah seorang Myungsoo yang sangat cool.

“Bah, mana mungkin aku suka pada gadis setengah robot itu,” ujarnya sambil melangkah masuk ke dalam kamarnya.

**

Gadis itu masih mondar-mandir di depan cermin riasnya. Ia masih teringat bagaimana Myungsoo menyapanya kemarin. Hahaha! Ia semakin tertawa di dalam hatinya.

“Jung Krystal!”

Cepat-cepat Krystal membuka pintu kamarnya, dilihatnya ayahnya yang ada di lantai bawah tengah duduk sambil membaca koran. Sudah pasti, laki-laki itu menunggunya untuk membicarakan sesuatu.

Gadis itu menuruni tangga rumah dan segera duduk di sofa di seberang ayahnya. Krystal tahu bagaimana harus berbicara baik-baik dengan ayahnya. Yaitu, duduk manis dan kau akan diperlakukan manis oleh ayah tirimu yang kaya raya ini.

Ya, setelah meninggalnya ayahnya, ibunya sudah mempunyai pengganti yang baru yaitu ayah tirinya. Ayah tirinya sangat kaya raya. Ibunya, tentu saja ia hanya mencintai uang suami barunya ini yang ia nikahi 3 tahun lalu.

“Kau sudah menemui Myungsoo?”

Gadis itu mendecak kecil, tentu saja tanpa terdengar sedikitpun. “Tentu saja, Abeoji.”

“Tidak perlu se-sopan itu kepadaku. Lagipula, kau bukan anakku,” Ayahnya menutup korannya kemudian menatap lurus ke arah Krystal yang menundukkan kepalanya. “Sekarang kau tahu bukan tugasmu apa?”

Gadis itu menganggukkan kepalanya dengan tenang.

“Nah, sekarang kembali ke kamarmu,” kata laki-laki yang tak sadar bahwa rambut putihnya mulai bertambah. “Sekarang.”

Dengan berusaha setenang mungkin, Krystal membungkuk pada ayahnya itu lalu melangkah pergi dari sana. Apa-apaan kau ini? Menyuruhku sesuatu yang tidak mungkin aku lakukan.

Gadis itu segera membanting tubuhnya ke arah tempat tidur dan membuka ponselnya. Ditekannya angka 3 dan ia segera terhubung dengan seseorang yang ia cintai sepenuhnya.

“Oh, Jongin-a! Aku merindukanmu,” ujar gadis itu sambil tersenyum kemudian memainkan rambutnya. “Aku butuh bantuanmu. Bisakah kau datang pukul 7 malam nanti? Kita bisa bertemu di base nanti. Katakan pada yang lain agar tidak mengganggu acara kita.”

Lagi-lagi Krystal tersenyum cerah sambil membalik-balikkan badannya di atas tempat tidur empuk itu. Lalu ia bangkit. “Oke, gomawo ne. Aku mencintaimu. Dah.”

Ditutupnya ponselnya kemudian ia segera berganti pakaian. Bukankah ini masih pagi? Tentu saja, ia akan keluar dari rumah seharian. Ia tidak akan betah seharian berada di dalam rumahnya yang menjijikan itu bersama dengan ibunya yang ia benci dan ayah tirinya yang membencinya.

**

“Hei, Naeun. Jangan lupa, ini adalah pekerjaan yang besar jadi aku butuh kau bekerja sebagai model yang profesional,” kata Myungsoo sambil menyetir mobilnya. Sesekali ia melirik ke arah Naeun yang sibuk memperhatikan pemandangan.

“Iya, aku sudah tau, Myungsoo-ssi.”

Deg.

Ini adalah pertama kalinya, Naeun memanggil nama Myungsoo. Sebelumnya, ia tidak pernah. Myungsoo merasakan jantungnya berdetak tak karuan. Sialan, dia hanya menyebut namamu, Myungsoo.

Myungsoo berdeham. “Umurmu berapa? Aku tidak sempat melihat formulirmu karena kau sudah menceritakan bahwa kau adalah setengah robot bukan?”

“Ya, begitulah. 22 tahun.”

“Kau bisa berumur?”

“Tentu saja. Kau pikir hanya manusia yang bisa berumur? Kim Joon-myeon menciptakan kami dengan begitu sempurna.”

Myungsoo hanya menganggukkan kepalanya kemudian ia melirik ke arah radio mobilnya. Ah, tidak usah. Paling-paling dia tidak mengerti.

“Myungsoo-ssi?”

“Hm?”

Naeun terdiam. Myungsoo menoleh ke arahnya sebentar lalu fokus lagi pada jalanan berkelok. “Ada apa?” tanya Myungsoo akhirnya karena tidak sabar menunggu Naeun berkata.

“Bolehkah aku memanggilmu Oppa?”

Myungsoo langsung terbatuk hebat. Kemudian ia kembali fokus. “Bukankah itu terlalu… Eung. Ya kau tahu kan? Aku ini hanya partner kerjamu. Aku yang menggajimu, itu saja.”

“Aku tinggal di rumahmu.”

“Tapi itu kan hanya sementara.”

“Bagaimana kalau aku tinggal di rumahmu selamanya?”

Diam. Mulut Myungsoo terasa terbungkam ketika Naeun mengatakan hal semacam itu. Perkataan yang sama. Ucapan yang sama. Intonasi yang sama. Namun, orang yang berbeda. Rasanya seperti dejavu. Ingatan lama yang tak pernah kembali, itu dia.

**

Laki-laki berumur 14 tahun itu menghela nafas lega. Dengan seragam SMP-nya yang masih berantakan, ia segera memasuki kamarnya. Membantingkan tubuhnya ke atas tempat tidur dan tersenyum merona.

“Myungsoo-a!!”

Ibunya pasti memanggilnya. Kalau bukan karena ia lupa melepaskan sepatu atau mengotori rumah, ibunya tidak akan memanggilnya. Kemudian, ia melirik ke arah sepatunya yang kotor. Pantas saja.

“Maaf, Eomma! Nanti aku bersihkan!” teriaknya dari dalam kamar. Tanpa basa-basi, ia segera mengambil kain dan mulai membersihkan lantai yang kotor. Disela-sela ia membersihkan lantai, ia samar-samar bisa mendengar tawa ibunya yang manis di depan pintu rumah. Ada tamu?

Setelah selesai, ibunya memasuki rumah dan tersenyum kecil ke arah Myungsoo yang masih sibuk membersihkan lantai. “Myungsoo, kau punya pacar ya?”

“Aish, aku masih kecil, jadi tidak mungkin.”

“Kau ini masih suka berbohong rupanya. Suzy sudah menunggumu di luar sana,” ujar ibunya sambil tertawa. Kemudian ia meninggalkan Myungsoo sendirian disana. Terdiam dengan wajah merah merona. Suzy? Ke rumahku?

Segera, laki-laki itu menyelesaikan pekerjaannya. Kemudian, ia melangkah keluar rumah. Disana – di atas ayunan – terduduklah Suzy yang sibuk bermain dengan sebatang bunga.

“Suzy-ya!”

Suzy mengangkat kepalanya kemudian ia langsung tersenyum melihat Myungsoo. Gadis itu lantas bangkit dari sana dan melangkah mendekati Myungsoo. “Kau tampak letih,” ujar gadis itu seraya merapikan rambut Myungsoo.

“Ah, tidak juga. Ada apa?”

“Tidak aku hanya ingin melihatmu saja,” ujar gadis itu sambil tersenyum kecil. “Aku ingin melihatmu setiap hari.”

Myungsoo tertawa kemudian ia menepuk kepala gadis itu pelan. “Bagaimana kalau tinggal di rumahku saja? Eomma pasti mengizinkannya.”

“Bagaimana kalau aku tinggal di rumahmu selamanya?” tanya gadis itu.

“Aish, kalau itu pasti Eomma tidak mengizinkanmu.”

Suzy terdiam. Kemudian, gadis itu mengangkat kepalanya dan menatap Myungsoo lekat-lekat. “Aku akan pergi ke LA.”

“LA? Liburan?” tanya Myungsoo sambil tersenyum kecil.

“Bukan. Aku pergi selamanya.”

Myungsoo terdiam. Saat itu juga, ia baru mengerti, kenapa akhir-akhir ini Suzy tampak menyenangkan baginya, tampak tak ingin ia lepaskan begitu saja. Ternyata gadis ini ingin pergi jauh dan memutuskan hubungannya.

“Kita sudahi saja hubungan kita. Maafkan aku,” ujar Suzy sambil tersenyum lemah. “Aku mencintaimu.”

Gadis itu melangkah pergi. Sedangkan, Myungsoo hanya bisa tercengang diam menatap kepergian gadis itu. Ia sama sekali tak menyusul gadis itu. Ia terlalu syok untuk mendengar keputusan Suzy yang terlalu tiba-tiba.


 

Sejak saat itu, Myungsoo tidak pernah mendengar kabar gadis itu. Sampai akhirnya, laki-laki itu tiba di Seoul dan bertemu Krystal. Gadis yang memaksanya untuk berpacaran.

Hari dimana meninggalnya orang tuanya. Hari dimana ia mengalami masa-masa sulitnya. Hari dimana ia harus tinggal bersama paman dan bibinya yang sangat membencinya.

Dan, sampai akhirnya, ia mendapatkan kabar meninggalnya gadis yang ia tunggu itu. Suzy.

Gadis yang meninggal karena kanker otak yang dideritanya itu. Alasan ia pindah ke LA adalah untuk berobat bukan untuk pergi menjauhi Myungsoo tiba-tiba. Namun, gadis itu sama sekali tidak menyampaikan apa-apa bagi Myungsoo sebelum ia meninggal.

Ia justru sudah memiliki laki-laki lain yang ia cintai.

BUM! Cerita sedih itu selesai dan Myungsoo sekarang seperti ini. Menjadi laki-laki yang dingin, pendiam dan tak peduli akan apapun. Myungsoo menjadi cold city boy yang dijuluki L.

**

“Naeun, bangun. Kau tidak ingin bangun?” tanya Myungsoo ketika mobil mereka tiba di studio Myungsoo. Kemudian, laki-laki itu sedikit mengguncang-guncangkan tubuh Naeun.

Akhirnya, dengan perasaan sedikit kesal, Naeun terbangun. Kemudian ia membuka matanya dan mendapati Myungsoo yang tengah menontonnya. Naeun menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

“Kau ini kenapa?” tanya Myungsoo heran. Akhirnya, laki-laki itu menjauhkan wajahnya dari wajah Naeun.

“Aku tidak mengigau kan?”

“Setahuku tidak. Kau diam saja.”

Naeun pun menganggukkan kepalanya kemudian ia menjauhkan tangannya dari wajahnya. Dan ia keluar dari dalam mobil Myungsoo. Mereka berdua segera melangkah masuk ke dalam gedung studio.

“Jadi, ini endorsment apa?”

“Semacam alat makeup,” kata Myungsoo sambil membolak-balikkan halaman buku katalog alat make-up itu. “Nah, lihat ini. Jadi, ini adalah contoh-contoh model-model sebelumnya. Kalau bisa, kau harus lebih bagus.”

“Baiklah,” ujar Naeun sambil tersenyum. Kemudian ia menyentuh layar ‘Screvisible‘ nya dan tak lama kemudian ia sudah diprogram. Jadi, akhir-akhir ini Namjoo yang tengah sibuk dengan pekerjaannya, meminta Naeun agar memrogramkan dirinya sendiri saja.

Mau bagaimana lagi? Toh, dia sudah banyak minta bantuan pada Namjoo. Naeun berbelok ke arah ruang rias dan Myungsoo menuju ke arah ruang pemotretan.

“Jangan terlambat!” ujar laki-laki itu sebelum memasuki ruangan.

Naeun hanya tersenyum kecil dan menganggukkan kepalanya. Seraya melangkah masuk, seorang gadis menyambutnya. “Aigo! Son Naeun, kenapa setiap hari kau tampak cantik sekali.”

“Kau juga cantik, Jung Eunji,” ujar Naeun sambil tersenyum. Kemudian gadis itu segera duduk di depan cermin. Dengan cekatan, Eunji memoleskannya make-up dari iklan tersebut.

“Warnanya natural.”

“Ya, begitulah, mungkin karena itulah mereka memilihmu,” Eunji tersenyum. Kemudian gadis itu merapikan rambut Naeun.

**

“Hei, kerjamu hari ini bagus,” Myungsoo berujar ketika mereka selesai pemotretan. Kemudian Naeun tersenyum mengangguk dan melangkah masuk ke dalam mobil Myungsoo.

Entah kenapa, gadis itu jadi cukup pendiam sejak pemotretan. Ia sama sekali tidak pernah melakukan kesalahan. Karena itulah, Myungsoo merasa sangat tepat telah memilih Naeun dan merasa sangat beruntung karena Naeun datang ke dalam kehidupannya.

Eh?

Sebentar. Apa? Baru saja ia mengatakan bahwa ia sangat beruntung ketika Naeun datang ke dalam kehidupannya?

Yasudahlah. Itu memang kenyataannya.

“Naeun, kau mau makan dimana?”

“Di rumah saja. Oh ya, aku ingin mencari pekerjaan lain. Hitung-hitung saja, lagipula aku belum begitu sibuk dengan pemotretanmu bukan?”

Myungsoo menganggukkan kepalanya. Pekerja keras sekali Naeun ini walaupun dia sebelumnya robot. Apa dia pernah merasakan cinta? Pertanyaan itu berkelebat di kepala Myungsoo.

“Kau pernah jatuh cinta?” tanya Myungsoo akhirnya ketika mereka berhenti di lampu merah.

Naeun menggelengkan kepalanya. “Robolars diciptakan untuk bekerja bukan untuk mencintai seseorang.”

Myungsoo menganggukkan kepalanya kemudian ia mengerti kenapa Naeun tidak pernah menceritakan kehidupannya. Mungkin, kehidupannya adalah masa-masa yang sangat sulit.

Gadis itu malah sibuk memperhatikan kemacetan Seoul malam itu. Namun, Myungsoo tak mau mengusiknya. Lebih baik jika mereka saling diam dan tidak menanyakan apapun.

Setibanya mereka di rumah Myungsoo, segera begitu saja Naeun keluar dari mobil Myungsoo dan melangkah masuk ke dalam rumah Myungsoo. Myungsoo bertanya-tanya alasan gadis itu menjadi seperti itu padanya.

Apa jangan-jangan gadis itu marah padanya? Dan, sekarang Myungsoo ikut bertanya-tanya dimana Sungyeol? Bukankah tadi laki-laki itu berjanji akan datang ke rumahnya?

Ding dong.

Myungsoo memetikkan tangannya. Kemudian, laki-laki itu segera membukakan pintu rumahnya. Disana, Woohyun dan Chorong berdiri. Aku pikir Sungyeol, sialan dua orang ini.

Melihat wajah Myungsoo yang cemberut, membuat Chorong menyikut pacarnya. “Ada apa dengan laki-laki ini?”

Woohyun mengangkat bahunya. “Naeun dimana? Dia tidak bersamamu?” tanya Woohyun akhirnya.

Myungsoo menghela nafas. ” Aku kira Sungyeol ternyata kalian. Yasudahlah, kalian masuk.”

Kedua manusia yang berpacaran itu masuk ke dalam rumah Myungsoo. Tanpa basa-basi mereka segera duduk diatas sofa besar yang ada di ruang TV. Kemudian, Myungsoo mengambilkan sebotol jus dan dua gelas dari dalam kulkas dan meletakkannya di depan Woohyun-Chorong.

“Ada apa sih? Kau tampak aneh hari ini.”

Myungsoo mengangkat bahunya ketika Chorong berkata seperti itu. “Salahkan Naeun, dia tampaknya marah padaku.”

“Kau tau darimana dia marah?” tanya Woohyun akhirnya setelah dia diam daritadi. Kemudian ia meneguk jusnya.

Lagi-lagi dia mengangkat bahunya. “Nebak.”

“Aku tidak marah denganmu, Kim Myungsoo-ssi.”

Myungsoo terkejut kemudian ia menoleh ke arah lantai dua dimana Naeun berdiri dengan gelas air putihnya sambil menatap Myungsoo tajam. Kemudian, gadis itu melangkah pergi masuk.

“Nah, sekarang dia marah beneran denganku.”

“Ya, kau seperti itu padanya,” ujar Woohyun. “Sudahlah, aku kesini mau membicarakan perusahaan ayahku. Dia menawarkan pekerjaan untukmu. Katanya, dia bosan melihatmu sibuk dengan foto-fotomu itu.”

“Apa? Bosan? Sama anaknya sendiri gak bosan?”

Chorong terkekeh mendengar perkataan Myungsoo. Woohyun yang tak mau ditertawakan menyikut Chorong. “Aku cuma tertawa. Jangan kayak gitu denganku. Kalau aku putusin tau rasa kamu.”

“Ancamannya menyeramkan,” ujar Myungsoo kemudian ia beralih ke arah Woohyun. “Pekerjaan apa?”

“Ya, semacam wakilnya CEO. Jadi dengan kata lain, dia mau kau menjadi wakilku.”

“Apa? Bagus sekali. Aku jadi wakilmu? Sekalian aja aku jadi pengantinmu!” ujar Myungsoo kesal. “Aku ini sedang sibuk dengan fotografiku. Aku baru saja mendapatkan gaji dari endorsment yang menyewaku untuk menjadi fotografer Naeun.”

“Ah pantas saja. Yasudah, aku tunggu keputusanmu saja.”

**

“Hei, kau mau kemana?” tanya Myungsoo ketika Naeun melangkah keluar dari rumahnya dengan pakaian kasualnya ditambah sebuah jaket yang menutupi badannya.

Naeun menoleh ke arah Myungsoo. “Aku mau bekerja. Ada apa? Mau mengantarku?” tanya Naeun.

“Bekerja? Dimana?”

“Restoran. Aku bekerja sebagai pelayan.”

“Oh, yasudah, mau kuantar?”

“Boleh.”

Myungsoo menganggukkan kepalanya kemudian ia mengambil kunci mobilnya yang digantungkan tak jauh dari pintu utama. Kemudian, laki-laki itu menuju ke arah garasi. Ia bisa merasakan bahwa Naeun mengikutinya dari belakang dengan ragu.

“Kenapa?” tanya Myungsoo sambil membuka pintu mobil dan ia menekan sebuah tombol yang membiarkan pintu garasi terbuka automatis.

Naeun menggelengkan kepalanya. Kemudian ia menatap Myungsoo lekat-lekat. “Kenapa kau menganggapku marah padamu?”

“Entahlah, hanya saja aku merasa bahwa kau semakin menjaga jarak denganku,” ujar Myungsoo lalu masuk ke dalam mobilnya. Ia segera mengeluarkan mobil itu dan membuka pintu mobilnya.

Naeun menekan tombol pintu garasi automatis itu. Kemudian, ia melangkah keluar dari pintu utama. Myungsoo melangkah ke arah pintu itu dan menguncinya.

“Aku sungguhan, aku tidak marah padamu, Oppa.”

Deg.

Naeun menatap Myungsoo yang diam dengan wajah merah merona. Laki-laki itu kenapa? tanya Naeun bingung. Apa jangan-jangan laki-laki itu…….. menyukainya?

Tidak. Tidak. Tidak mungkin. Dia pasti masih mencintai Suzy!

Cepat-cepat gadis itu melangkah pergi, kemudian menatap Myungsoo. “Ayo, kau tidak jadi mengantarku?”

Myungsoo tersadar dari lamunannya. “Iya,” Laki-laki itu berlari ke arah mobilnya dan masuk. Begitu juga dengan Naeun, yang ikut masuk ke dalam mobil.

Kemudian, mobil itu melaju. “Restorannya dimana?”

“Tidak jauh dari sini. Setelah keluar komplek, kita menuju ke perempatan dan belok kiri. Tepat di seberang toko buku.”

“Oh, restoran itu. Kapan-kapan kalau kau sudah lama, traktir aku makan disitu ya.”

“Uangmu lebih banyak daripada milikku, Myungsoo-ssi.”

“Aku hanya bercanda,” Myungsoo tertawa. Tak lama, mereka tiba disana. Dan, Naeun segera turun dari mobil Myungsoo. Laki-laki itu tersenyum. “Pulang jam berapa?”

“Entahlah. Kau tidak perlu menjemputku. Aku bisa pulang sendiri.”

Myungsoo terdiam. “Baiklah.”

**

“Kau mencari siapa?” Gadis dengan rambut panjang tanpa poni itu bertanya ke arah Naeun.

Naeun menatap gadis itu takut-takut. Namun, akhirnya ia memantapkan dirinya kemudian ia menatap gadis yang dibelah dua rambutnya itu. “Aku orang yang kemarin mendaftar pekerjaan sebagai pelayan.”

“Oh, kau orangnya? Aku Yoon Bomi!”

Naeun terdiam. Ia terkejut bukan main ketika ia mendengar nama itu. Yoon BomiBukankah dia juga Robovent?

“OhOh, Hai. Aku Son Naeun.”

Yoon Bomi mengulurkan tangannya kemudian ia menjabat tangan Naeun erat-erat. Sepertinya dia juga baru disini. Dia tampakuhm, begitulah. Tampak masih kekanak-kanakkan.

Dia menarik tangan Naeun menuju dapur. Kemudian, orang-orang tampak terkejut, begitupula dengan Naeun. “Ini dia, karyawan baru kita! Namanya Son Naeun.”

“Eh? Memangnya aku sudah diterima?”

“Tentu saja,” ujar seorang laki-laki. Naeun menatap laki-laki itu. Dia tampaknya seorang pelayan juga.

Kenapa begitu banyak pelayan di restoran ini? Yang dilihat Naeun, restoran ini hanya kecil. Namun, akhirnya ia menyadari bahwa ada lantai atas.

“Yoon Bomi, tinggalkan dia. Lanjutkan saja pekerjaanmu,” ujar seorang laki-laki tua yang tampaknya seorang Chef.

Bomi menganggukkan kepalanya senang kemudian ia melangkah keluar. “Aigo, dia selalu seperti itu. Tersenyum kepada semua orang, padahal di dalamnya, dia punya banyak masalah.”

“Masalah?” tanya Naeun. Ups, keceplosan.

“Nah, ini dia Son Naeun. Pakaian kerjamu. Segera ganti dan mulailah bekerja,” ujar laki-laki Chef itu. “Namaku Yoon Doojoon.”

Naeun segera membungkuk. Doojoon terkekeh melihat Naeun kemudian ia segera pergi meninggalkan Naeun.

“Naeun-ssi?

Naeun tersadar kemudian ia menegakkan tubuhnya lagi. Kemudian ia menatap laki-laki yang belum juga pergi itu.

“Aku Ahn Jaehyun,” ujar laki-laki jangkung itu. Jaehyun menyodorkan tangannya.

Cepat-cepat, Naeun menerima uluran tangan itu. “Son Naeun.”

“Pergilah ke lantai dua, setelah selesai berpakaian. Aku akan mengawasimu.”

Naeun menganggukkan kepalanya. Tanpa menunggu lama, Naeun segera mengganti pakaiannya dengan seragam pelayan restoran itu.

Kemudian, ia menuju lantai dua yang ternyata tak kalah ramai daripada lantai satu. Bedanya, lantai satu adalah sebuah ruangan dengan kaca-kaca yang membuat pengunjung restoran bisa melihat seluruh kota Seoul.

“Son Naeun!”

Naeun menolehkan kepalanya. Mencari-cari Jaehyun, sampai akhirnya ia bisa melihat laki-laki jangkung itu. Naeun segera mendekati laki-laki itu tanpa ragu.

“Nah, kau layani.”

Naeun menanggukkan kepalanya. Hari itu ia harus kerja penuh, karena kepiawaiannya dalam melayani, Doojoon memperkerjakannya di lantai dua yaitu para pelanggan yang VIP. Tentu saja, Naeun merasa sangat bangga.

“Nah, Son Naeun, terima kasih atas kerja kerasmu. Sebelumnya karena kita hanya memiliki dua pelanggan, kita kewalahan,” ujar Yoon Doojoon ketika restoran mau tutup. Naeun hanya tersenyum kecil mendengar perkataan pemilik restoran tersebut.

Doojoon mengalihkan kepalanya ke arah Jaehyun. “Jaehyun-a! Antar Son Naeun-ssi pulang ya?”

Naeun membuka mulutnya, “Sajangnim, ak—.”

“Iya, Sajangnim. Nanti aku antar dia pulang,” ujar Jaehyun sambil mengerlingkan mata ke arah Naeun.

Naeun berpaling begitu Jaehyun menariknya keluar dari sana. Kemudian, Jaehyun membukakan pintu mobil untuk Naeun. Naeun yang masih tidak terima akan ajakan Jaehyun itu, hanya bisa menatapnya kesal.

“Kenapa? Daripada kita dimarahi Sajangnim,” ujar Jaehyun sambil cemberut. “Kau tau? Dia hanya mencoba baik padamu dan dia ingin kau selamat di jalan. Kau tau jam berapa ini?”

Naeun menggeleng kemudian ia melirik ke arah jam tangannya. Namun, tidak berhasil, penerangannya terlalu sedikit.

“Jam 9 malam. Kau mau pulang sendirian dan digodai—.”

“Tidak,” ujar Naeun kemudian langsung masuk ke dalam mobil Jaehyun. Jaehyun tertawa kemudian ia masuk ke sisi mobil yang satunya.

Jaehyun segera melajukan mobilnya. Namun, mereka tidak menyadari bahwa sepasang mata tengah mengawasi mereka dan kini laki-laki itu mengepalkan tangannya.

**

Advertisements

9 thoughts on “[Chapter 4] 2050

  1. Aaaaaa akhirnya update juga. Dooooh ko kegantung amet yah endingnya?:”””)postnya asap yah chingu.paikting’-‘)9

  2. Ceritanya Keren 😀 .Makin penasran Sama.kelajutnya nanti , yng memperhatikan Itu Myungsoo Kn ???? ..

    Thor Tambahin Adegan romantisnya Donk ,
    Faighting buat FFnya ^^

  3. Kyaakkk udh chp 4 trnyata prmisa, ~ㅋㅋㅋㅋ bguss thoorr, lnjutkan yeww, fighting (ง’̀⌣’́)ง

  4. Thor gantung ;A; penasaran ini !! Itu yang merhatiin Naeun sapose? Haha kenapa harus Jaehyun pst krn di real Jaehyun suka ama Naeun kan .__. #gakPenting ditunggu next partnya!

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s