[FF Freelance] 옛 생각(Reminiscence) (Chapter 1)

Percobaan77

Title           : 옛생각(Reminiscence)

Author      : Whitney

Cast            : Kim Myung Soo a.k.a L

Yeon Seul Mi

Nam Woo Hyun (will appear in part 2)

Genre        : Romance, little angst, humor (Maybe)

Rating       : PG15+

Length       : Part 1 of …

Disclaimer: Published on my personal blog. Hope you like and enjoy read this story. If you interesting with my FF, please leave a comment or hit ‘Like’. Thanks for the appreciate.

 

***

 

[First Scene]

Autumn, 2010. October 13th

Seoul, Gangnam. SmoothieKing café.

Mungkinkah jika ia diberi kesempatan, kesempatan itu akan memberikannya kemungkinan yang ada? Ia ingin mempercayai hal itu, tetapi… Kemungkinan itu hilang bersama kesempatan yang ada. Maka ia pun kehilangan segalanya.

Begitu juga dengan gadis yang tengah berdiri termenung, menatap kosong kejauhan dengan hati kecut. Tidak ada lagi yang bisa ia perbuat untuk kembali seperti dulu. Tentu saja. Bahkan uang yang ia miliki tidak dapat membeli waktu. Membuatnya sadar bahwa uang bukan segalanya di bumi ini. Dan ia menyesalinya.

“Seulmi-sshi, keberadaanmu sangat menggangguku. Jangan pernah mendekatiku lagi.”

Setidaknya… itu cukup membuat gadis itu sadar. Lelaki itu membencinya.

Dia… Gadis itu mungkin memang bisa mendapatkan segalanya. Termasuk dapat mengalihkan dirinya. Walau memang mulutnya berkata demikian, tapi tidak dengan hati dan batinnya. Tubuhnya. Jika ia tidak mengendalikan tubuhnya, mungkin saja ia dapat merengkuh gadis itu ketika ia bicara demikian rupa. Atau mungkin saja, ia menangis di depannya.

Kalau saja ia punya segalanya dipermukaan bumi ini, dia tak perlu mengatakan hal terkejam yang pernah ia katakan pada gadis ini, dan pergi menjauh. Hanya saja, ia bukan apa-apa. Bukan bagian terpenting dipermukaan bumi ini. Dia adalah makhluk paling rendah yang pernah ada. Demi uang… martabatnya… Bahkan menyakiti orang yang ia sayangi.

“Gurae… Kau pasti sudah menahannya selama ini. Maaf… maaf sudah membuatmu muak selama ini.”

Jika ada sebuah keajaiban yang terjadi, maka hari itu, siang itu, adalah sebuah keajaiban melihat Seulmi dan Myungsoo tidak bersama. Sudah menjadi rahasia umum jika Myungsoo dan Seulmi adalah sepasang insan yang memiliki status tak jelas. Mereka dekat, sangat dekat bahkan membuat pasangan-pasangan yang ada atau pun yang tidak memiliki pasangan iri akan keakraban mereka berdua. Hanya saja mereka bukan pasangan. Bukan teman. Ataupun sahabat. Hanya saling mengenal. Mengenal satu sama lain hingga dekat.

Jika dikatakan teman, mereka tidak memiliki awal akan hal tersebut. Jika disebut sahabat, mereka tidak memiliki hubungan dalam jangka yang cukup lama. Jika dibilang pacaran, mereka tidak pernah mengklaim akan hubungan tersebut. Yang ada, hanya saling mengenal.

“Apa mereka bertengkar hebat?”

“Entahlah. Kemarin Seulmi tak sekolah, kan?”

“Mungkin terjadi sesuatu waktu mereka berkencan dua hari lalu.”

Hampir sebagian besar anak-anak yang bersekolah di Aurevillly School mengenal kedua pasangan itu. Tak jarang mereka membuat kehebohan yang cukup memusingkan pihak guru. Seperti membuat event tanpa persetujuan dari guru Pembina, membolos, dan lain-lainnya.

Ah! Dan juga, sudah rahasia umum juga jika Yeon Seul Mi adalah anak pendiri Yayasan sekolah tersebut. Jadi bisa dibilang gadis ini berkuasa. Oleh sebab itu, setiap guru angkat tangan ketika gadis itu membuat ulah. Hanya saja, yang menjadi imbasnya adalah Kim Myung Soo. Karena lelaki itu selalu berada di samping gadis itu, maka guru-guru hanya bisa memarahi lelaki itu.

“Tapi kalau dilihat, memang seharusnya Myungsoo tidak mendekati Seulmi. Kau tahu, kan, Myungsoo hanya anak beasiswa. Sudah pasti miskin. Beruntung saja ia memiliki otak encer. Sedangkan Seulmi? Memang otaknya pas-pasan, tapi dia anak pendiri yayasan sekolah ini. Sudah pasti kaya.”

“Seulmi saja yang kecentilan. Waktu dia masuk ke sekolah ini, dia langsung mendekati Myungsoo bukan? Seenaknya menarik lelaki itu kesana-sini. Mentang-mentang banyak uang.”

“Mereka sangat manis bersama. Semoga mereka cepat-cepat berbaikan. Aku sangat suka melihat mereka bersama.”

“Myungsoo pasti hanya ingin uang Seulmi saja. Pasti sekarang Seulmi sudah tahu niat selubung lelaki itu. Semua juga pasti mendekati Seulmi hanya karena uangnya. Iya, kan?”

“Apa kau tak merasa mereka itu terlihat tulus bersama? Hanya ingin bersama dan saling menerima. Bagaimana kau bisa berpikir mereka tak cocok?”

“Memang tak cocok. Sejak kapan hubungan antara si miskin dan si kaya berjalan mulus?”

Angin musim gugur kembali berhembus seiring gadis itu mendesah untuk kesekian kalinya. Cahaya matahari yang bersinar sendirian menerangi seisi bumi menjadi teman gadis itu di taman sekolah. Dengan Camera DSLR yang menampilkan galeri photo di tangannya, ia pun kembali merenung. Bersandarkan pohon yang ada, ia menengada melihat langit biru yang berbecakkan awan putih.

“Apa aku memang gadis yang memuakkan?”

Ingatannya kembali terngiang akan kata-kata menusuk yang dikeluarkan lelaki itu kemarin, menorehkan luka ke dalam hatinya. Sejenak, ia menutup matanya dan mencoba mengenyahkan kepingan kenangan yang buruk itu lalu mulai memakan bekalnya. Melepaskan kameranya dan memegang bekalnya.

Biasanya, ia akan menikmati bekalnya bersama Myungsoo di taman sekolah. Berteduh di bawah bayang pepohonan dari sinar matahari dan bersendah gurau, menghabiskan bekal, dan bahkan sampai ketiduran saking nyenyaknya ia bersandar di sisi Myungsoo atau bahkan memotret lelaki itu hingga puas. Namun sekarang itu semua tinggal kenangan saja.

Segera Seulmi menyusut air matanya sebelum ia tak bisa membendungnya lagi. Sudah cukup ia mengurung diri seharian di kamar. Menangis tak ada gunanya. Mengenang masa lalu pun menambah lukanya. Yang ia bisa sekarang hanya terus memandang kedepan.Tanpa menghabiskan bekalnya, ia kembali menaru bekalnya di tempatnya dan menangkat cameranya kemudian membidik awan yang entah berbentuk apa itu.

Tiba-tiba, seseorang muncul dari balik pohon, tempat ia bersandar dan bertemu pandang. Ketika mata kedua orang itu bertemu, sejenak keduanya terdiam satu sama lain tanpa memalingkan tatapannya.

“Myung-”

Lelaki itu segera mengalihkan tatapannya dan kembali menghilang dari hadapan gadis itu. Bahkan sebelum ia menyelesaikan perkataannya. Menyebut nama lelaki itu. Ia pun kembali termenung, menunduk, menatap kameranya yang kembali bersiaga.

“Aku pasti sangat membuatnya muak.”

Tanpa terbendung lagi, butiran-butiran bening yang dikeluarkan matanya jatuh membasahi pipinya dan menetes ke layar kameranya. Bagaikan deras hujan dilangit siang yang gelap, gadis itu menangis tanpa henti-hentinya sampai pelangi pun mewarnai langit yang kembali bersinar cerah.

“Sampai kapan kau akan menangis?”

Seketika, Seulmi mengangkat wajahnya,  keasal suara yang sangat ia kenal. Myungsoo. Lelaki itu berdiri di depannya.

“Mi-mianhae… A-aku mengganggumu,” dengan gugup, gadis itu segera merapikan barang-barangnya dan hendak beranjak dari tempat itu. Berusaha untuk menghindari lelaki itu. Ia pasti muak melihatku.

Tepat saat gadis itu hendak melewati lelaki itu, dengan sigap Myungsoo mencekal pergelangan tangan gadis itu dan menarik gadis itu untuk menatapnya. “Untuk apa kau meminta maaf?” ujarnya dengan kening berkerut, menahan sakit.

“A-aku tidak… Kau sudah muak melihatku, kan? Ja-jadi…” Seulmi memalingkan tatapannya dan melihat sekeliling dengan gelisah. “A-aku takkan membuatmu muak lagi. Aku takkan muncul lagi di depanmu… Ma-maaf.”

Myungsoo mengeratkan genggamannya, seraya menatap gadis itu dengan pandangan penuh penyesalan dan kekesalan. Emosinya bercampur, membaur menjadi satu hingga membuatnya tak tahu lagi emosi apa yang muncul dari gabungan semua emosinya.

Entah hal apa yang membuatnya kembali nekat mendekati gadis ini. Bahkan berhadapan langsung. Selama ini, ia berusaha menjaga gadis itu dari jauh. Mencoba untuk hanya melihat dari jauh. Selain karena ia telah melakukan sesuatu yang fatal dan ia sudah berjanji agar tidak akan mendekati gadis ini. Hanya sekarang? Ia melanggarnya. Hanya karena air mata gadis ini. Ia mengabaikan kemungkinan yang terjadi.

“Kamu muak, kan? Myungsoo-ya… Lepaskan aku. A-aku…” Seulmi mencoba untuk menahan tangisnya walau malah membuatnya terisak lebih parah. Di tutupi wajahnya dengan tangannya dan menunduk, mencoba memalingkan wajahnya agar lelaki itu tidak melihatnya. “Aku juga muak… muak jika kau juga muak… Mian… Mianhaeyo… Jongmal mianhae…”

Myungsoo tahu, kalimat yang ia ucapkan merupakan kalimat terfatal yang ia ucapkan pada Seulmi. Seharusnya ia tidak mengatakannya. Seharusnya ia hanya menghindar saja, atau langsung menjauhi gadis itu dalam diam. Tak perlu mengatakan kata-kata seperti itu untuk membuat gadis itu menjauh. Setidaknya… ia tak perlu menyakiti gadis ini dengan kata-katanya.

“Aku yang seharusnya meminta maaf, Seulmi-ya… Aku satu-satunya orang yang seharusnya meminta maaf padamu… Bukan kau…”

Dia pun menangkup wajah Seulmi dan menghapus air mata gadis itu dengan jarinya kemudian memberikan kecupan di kedua kelopak mata gadis itu. Menghapus air mata gadis itu seketika. Dengan senyuman perih yang ada, diberikan kembali kecupan penenang di puncak gadis itu seraya memeluknya erat.

“Mianhae, Seulmi… Jongmal mianhae… Yeon Seul Mi.”

Onething that I never forgive you…

You leave me alone. Here…

Without you

 

Spring, 2013. May 12th

Seoul, Mozart’s Cafe.

“Tak apa-apa bilamana kau menjauhiku, asalkan aku masih bisa melihatmu bahagia. Walau pun kau bersama orang lain, walau pun kau bahagia bersama dia, walau pun aku merasa sakit yang luar biasa, asalkan aku melihatmu baik-baik saja. Maka itu sudah cukup bagiku. Daripada kau berada disampingku dan menderita.”

Dengan senyum yang berlumurkan air mata, ‘Hyunsoo’ pun menutupi drama itu dengan kecupan perpisahan di puncak kepala gadis itu dan melangkah pergi. Meninggalkan gadis yang masih berdiri di tengah-tengah taman kota yang tengah menggugurkan dedaunannya, memberikan effect dramatis yang begitu menawan hati pada siapa pun. Diiringi dengan dentingan piano yang begitu lembut, mengantar drama itu pun perlahan-lahan menuju ending yang meneteskan air mata. Begitu juga dengan gadis ini.

“YEON… SEUL… MI…!!!!”

Gadis yang semula terharu menatap layar TV itu segera tersentak kaget dan berbalik ke belakang. Menatap seorang bibi yang sudah cukup berumur, dengan tatapan ngeri. Sambil menyusutkan air matanya gara-gara film tadi, ia tersenyum kikuk dan membungkukkan badannya sambil tetap menatap bibi itu.

“A-annyeong, adjumma…” sapanya dengan kikuk. “A-aku hanya ingin mengambil bahan yang kurang,”

Bibi itu pun tersenyum mengerikan dan menopangkan kedua tangannya ke pinggang, “Eoo~~ Mengambil bahan ya…”

Seulmi perlahan-lahan mengambil posisi tegap dan tertawa kikuk lagi, “hehehe… yee, Adjumma. Kalau begitu aku balik sekarang, sepertinya pelanggan sudah lama menunggu. Hehehe, aku pergi dulu ya, adjumma.”

“APANYA YANG MENGAMBIL BAHAN, HUH?! KAU HANYA INGIN MANGKIR DARI PEKERJAAN, KAN?!!”

Dengan kecepatan kilat, bibi itu segera melayangkan pukulan andalannya ke kepala Seulmi dan menjewer telinga gadis itu. “Ahh!!! Appeo!! Adjumma, Appeo!!! Jinjja Appeo!!!” pekik Seulmi merintih kesakitan.

“Appeo, huh?? Appeo?? Rasakan itu! Itu akibatnya kau mangkir! Kau pikir aku memberi gaji hanya untuk kau bersenang-senang menatap dramamu itu, huh?!”

“Ouw!! Ampun, adjumma! Ampun!! Tidak lagi! Ahh!!! Jinjja appeo, adjummaa!!!”

Setelah pergulatan yang cukup lama, akhirnya adjumma itu pun melepaskan jewerannya dan menghela nafas frustasi. Ditatapnya potongan-potongan scene drama dengan iringan lagu penutup yang memilukan hati.

“Dasar! Memangnya apa bagus drama ini?? Kau pasti hanya ingin melihat cowok ganteng yang jadi pemeran utamanya, ya?” ujar bibi itu sambil menatap wajah pemeran utama pria yang sedang terpampang di TV.

Seulmi menatap layar itu dan menggeleng, “Tidak juga… Hanya saja… Aku memang seperti mengenal ‘Hyunsoo’. Tapi dimana, ya?”

Pletak!

Kembali kepala Seulmi menjadi sasaran ringannya tangan bibi itu.

“Ah!! Adjumma!! Appeoyo!!”

“Jangan mimpi kau. Kau kenal dimana orang ini. Kau itu hanya gadis tanpa asal usul yang kebetulan saja pingsan di depan cafeku. Tak mungkin kau pernah bertemu dengan artis seperti mereka.”

Seulmi menatap bibi itu dengan tatapan cemberut namun membenarkan ucapan tersebut dalam hati. Benar… Aku hanya gadis tanpa asal usul yang bahkan tak mengingat masa lalu sama sekali. Kebetulan saja begitu ia bangun dari pingsannya yang entah berapa lama, ia sudah ada di kamar rumah bibi ini dalam kondisi yang sangat mengenaskan. Baju compang-camping dan tubuh yang kurus kering tak terurus.

Hanya karena kebaikan hati bibi ini, ia akhirnya bisa mendapat baju yang layak pakai, tubuh yang sudah lumayan berisi walau masih dalam taraf kurus, dan bisa hidup layak. Ia tak tahu apa yang terjadi sebelumnya, yang ia ingat hanya namanya saja dan tanggal lahirnya. Itu pun ia tahu hanya karena sebuah kalung yang ia pakai sekarang.

Kalung berbandulkan sebuah kristal salju yang memiliki label sebuah angka di baliknya dan sebuah cincin berlabelkan namanya. Seperti cincin kawin. Jika dilihat dari baik-baik, seharusnya ini adalah barang mahal. Karena kristal itu terbuat oleh besi putih asli yang cukup berat, ia tak tahu berapa gram beratnya dan juga cincin tersebut. Ia sebenarnya bingung, kenapa ia bisa mempunyai barang mahal seperti ini kalau jelas-jelas ia hidup melarat? Dan kenapa ia bisa tidak mengingat sama sekali tentang masa lalunya?

“Sudah, sekarang kau kembali bekerja. Pelanggan sudah menunggu. Palli!” perintah bibi tersebut dan segera dipenuhi oleh Seulmi. Dengan sigap ia berdiri tegak dan memberi hormat pada bibi tersebut.

“Siap, komandan!” Tanpa mementingkan lagi alasan mengapa ia bisa memiliki barang-barang tersebut dan tak mengingat masa lalu, ia bergerak cepat menuju restoran dan melayani pelanggan dengan senyum lebar.

Ia tahu, orang yang tak memiliki masa laluseharusnya tak seceria dirinya. Tapi… entah kenapa… ia malah merasa… ia tak memerlukan ingatan masa lalunya. Ia merasa lebih baik terus menatap kedepan dan terus melangkahh. Bukan menghadap kebelakang dan mencoba untuk mundur.

Seoul, WEnt Studio.

“Kau akan mundur dari dunia acting?”

“Ya… Aku hanya ingin focus pada bisnisku sekarang.”

“Hm~~ Sayang sekali. Jadi ini adalah drama terakhirmu, ya. Padahal mungkin setelah drama ini, kau akan mendapat banyak tawaran. Kau tahu berapa ranting yang mereka dapat untuk drama ini?”

‘Hyunsoo’ menatap lawan bicaranya itu dengan tatapan lurus, tanpa emosi. Sangat berbanding terbalik dengan dirinya ketika berada di depan kamera. Sesungguhnya inilah dirinya yang sesungguhnya. Manusia tanpa emosi dan kaku, memiliki sorot mata tajam, dan penyendiri.

Tapi entah kenapa, ketika berada di depan kamera, seperti sebuah sihir. Ia bisa bergerak bebas dan memiliki emosi untuk menunjukkan perasaannya. Mungkin itu karena gadis itu. Ya… gadis yang membuatnya seperti sekarang.

“Yaa! Berhenti mengambil gambarku. Aish…”

“Sirheo! Aku ingin menyimpannya. Aku sama sekali tak punya photomu.”

Gadis itu kembali mengambil gambar lelaki itu walau ia tetap menutupi wajahnya dengan tangan atau menutup lensa kamera itu agar gadis itu berhenti mengambil gambarnya. Alhasil, banyak sekali gambar-gambar yang mubazir. Walau begitu, gadis itu terlihat senang mengambil gambar lelaki itu.

“Hanbonman… Jebal. Hanbonman! Nee??” Sekarang gadis itu mengeluarkan wajah permohonannya dan menatap lelaki itu penuh harap. Diunjuk jari telunjuknya mengukir angka satu dan menarunya di depan wajahnya.

Sang lelaki menatap gadis itu dengan wajah tak menentu, antara mewujudkan permohonan gadis itu atau tidak. Sebenarnya ia tak terlalu suka dengan benda digital satu itu, tapi entah kenapa, karena gadis itu sangat menyukai benda itu, ia pun perlahan-lahan mulai menyukainya dan membiarkan gadis itu mengambil gambarnya sebanyak mungkin.

“Haish… Geurae-geurae-geurae! Geundae, ttak hanbon! Arra?”

Dengan senyum yang mengembang lebar, gadis itu mengangguk kepala dan segera menarik lelaki itu. Dilingkarkan setengah tangannya ke leher lelaki itu dan menjulurkan tangannya yang satu ke depan mereka berdua, berniat mengambil selca berdua.

“Hana… Deul… set! Kimchi~”

Tanpa sadar, ‘L’ tersenyum mengenang. Selama ini, ia akhirnya turun ke dunia acting berharap bahwa nantinya gadis itu akan melihatnya kemudian mencarinya. Tapi nyatanya itu tak pernah terjadi selama kurang lebih 3 tahun ini. Namun, setidaknya satu mimpinya telah terwujud. Kini ia bukan lagi orang kecil seperti dulu, sekarang ia adalah salah satu actor dan pengusaha muda terkaya di Seoul.

“Kau tersenyum, Kim Myung Soo.”

Sadar bahwa masih ada orang lain di dalam ruangan itu, ia menatap pada orang itu dan kembali memalingkannya. “Aku tersenyum?”

“Kau pasti sedang memikirkan gadis itu,”

Kali ini, tanpa ditutupi lagi, ia kembali tersenyum kecil, “Ya… Gadis itu… Kau masih ingatnya, ya?”

“Tentu saja. Sangat jarang bisa mendengar curahan hati seorang Kim Myung Soo, bukan?” Lawan bicaranya tertawa mengejek dan kembali berdeham begitu melihat tatapan sorot mata tajam lelaki itu, “Ehem… Jadi, siapa nama gadis itu? Yoon… yong… Yeon?”

“Yeon… Yeon Seul Mi.”

“Ah! Itu… Yeon. Anak pemilik mantan yayasan Aurevilly yang bangkrut itu, kan? Sayang sekali, ya. Padahal nama yayasan itu cukup terkenal.”

Kim Myung Soo pun hanya berdiam diri, memandang jauh keluar jendela bening yang memperlihatkan pemandangan kota Seoul dibawah cahaya matahari yang cerah. Merenung kembali akan hidupnya… dan juga keberadaan gadis yang sangat dirindukannya.

 

2 thoughts on “[FF Freelance] 옛 생각(Reminiscence) (Chapter 1)

  1. Seulmi nya kasihan banget, gak nyangka dia bakal bangkrut terus lupa ingatan,,😭
    Oke thor, ditunggu part 2 nya~~

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s