A Late Regret (Chapter 8)

a-late-regret

Title : A Late Regret (Chapter 8)

Author : DkJung

Main casts :

  • [Infinite] Kim Myungsoo
  • [A Pink] Son Naeun
  • [Miss A] Bae Sooji
  • [BTS] Kim Seokjin

Genre : Romance, School life, Angst

Rated : Teen

Length : Chaptered

Disclaimer : ff ini ngga terinspirasi dari manapun. Idenya muncul tiba-tiba. Masalah endingnya MyungZy/MyungEun? Still secret! >.< pokoknya ngga bakal ketebak! /sok misterius/ oh iya, untuk ‘Bloody School’ maaf belum update sampe sekarang, karena kena writer’s block… tapi pasti aku lanjutin kalo udah ada ide!

Poster : ettaeminho

Summary :

Penyesalan. Ya, penyesalan memang selalu datang di akhir. Jika penyesalan itu belum datang, kau tidak akan pernah berhenti dan menyadarinya, sampai ada pihak yang terluka atau bahkan pergi meninggalkanmu.

 

Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7

 

~Chapter 8~

“Baik? Dia bukan hanya mengencani Naeun, Ahjumma!”

Perkataan Seokjin membuat Nyonya Son menghentikan langkahnya.

“Kau ini bicara apa? Kalau niatmu ke sini hanya untuk menjelek-jelekkan namjachingu Naeun, lebih baik kau pulang saja,” ucap Nyonya Son tegas lalu meninggalkan Seokjin.

“Benar-benar brengsek! Kau Kim Myungsoo sialan!” gumam Seokjin.

~***~

“Ke Cina?” tanya Sooji pada ibunya, mereka sedang mengobrol di ruang keluarga.

Keurae, di sana kita akan tinggal dengan pamanmu, dia orang yang baik, kau juga bisa melanjutkan kuliah di sana.”

Sooji hanya diam mendengar perkataan ibunya. Pergi ke Cina? Itu artinya pergi menjauhi Myungsoo bukan? Sooji baru saja berhasil menemui Myungsoo, dan sekarang ia harus berpisah lagi dengan Myungsoo. Ia merasa, tak rela meninggalkan Myungsoo begitu saja.

“Apa, harus, Eomma?”

“Kau ini bagaimana? Kalau kau terus menetap di Korea, kau belum tentu bisa kuliah, pamanmu sudah berbaik hati mau membiayaimu, masa kau mau menolak? Lagipula, paman kan tahu kau bisa bahasa Mandarin.”

Sooji berpikir sejenak. Ya, memang benar, ia sangat ingin kuliah. Melihat keadaan ekonomi ia dan ibunya saat ini, sangat sedikit kemungkinannya untuk bisa kuliah. Tapi kali ini, Sooji memutuskan untuk menyetujui ibunya, pergi ke Cina.

Arrasseo, mungkin Eomma benar. Kapan kita akan berangkat?”

“Tepat di hari kelulusanmu.”

“Hari kelulusan? Apa harus pada hari itu? Kenapa kita tidak menunggu besoknya atau beberapa hari lagi, Eomma?”

Nyonya Bae menggeleng. “Aniyo, kita harus pergi hari itu juga, Sooji-ya.”

Sooji menyandarkan kepalanya pada sofa kecil di ruang keluarga mereka yang memang tidak besar.

Huh, seandainya saja Appa tidak memiliki banyak hutang, kita pasti masih tinggal di rumah kita! Benar, kan, Eomma?”

Nyonya Bae hanya bisa berdecak kesal mendengar perkataan anaknya yang seharusnya tidak perlu dikatakan itu

~***~

Naeun membuka matanya perlahan. Ditatapnya langit-langit kamar berwarna putih yang terlihat familiar. Ia merasa tubuhnya sakit dan kepalanya agak pusing. Naeun baru saja akan menggerakkan persendiannya ketika ia menyadari tangannya sudah diberi infus. Dan saat itulah ia tahu, bahwa ia baru saja dichemo untuk kedua kalinya.

Dengan helaan nafas panjang, Naeun berusaha bangkit dari ranjangnya untuk mengambil sisir di meja. Namun tiba-tiba saja pintu terbuka lebar.

“Naeun-ah!” seru Seokjin sembari berlari menghampiri Naeun.

“Kau harus istirahat, kau jangan banyak bergerak dulu.”

Naeun hanya menurut lalu kembali ke posisi tidurnya. Sementara Seokjin meletakkan buah-buahan yang dibawanya di atas meja, bersebelahan dengan sisir yang tidak jadi diambil oleh Naeun. Dengan pelan, Seokjin meraih sisir itu sambil menatapnya nanar.

“Kenapa kau ingin mengambil sisir ini?”

Naeun tersenyum masam. “Rambutku semakin tipis, mungkin akan lebih mudah menyisirnya, jadi aku ingin mengambilnya untuk menyisir rambutku.”

“Naeun-ah, rambutmu–“

“Akan habis, aku tahu itu,” sela Naeun sambil memejamkan matanya.

“Tidak berbeda jauh dengan rambutku, sisa hidupku juga akan habis sebentar lagi,” lanjutnya.

Ya!”

Seokjin mengerutkan alisnya melihat keadaan Naeun yang memprihatinkan.

“Seokjin-ah,” panggil Naeun.

“Hm?”

“Ingat pesanku, kan?”

Mwol?”

“Jangan sampai Myungsoo tahu aku seperti ini.”

Lagi. Hal yang paling Seokjin benci terucap lagi dari mulut Naeun. Seokjin benci melihat Naeun yang begitu mencintai Myungsoo yang jelas-jelas sudah menduakannya. Tidak, Seokjin bukan hanya heran pada Naeun, tapi juga pada Sooji. Sebenarnya, apa hebatnya Kim Myungsoo brengsek itu? Batinnya.

Arra, aku akan merahasiakan ini darinya,” ucap Seokjin sambil tersenyum. Senyum palsu tepatnya. Dalam hatinya, ia sungguh marah pada Myungsoo.

Ya, hanya kata-kata itu yang bisa terlontar dari mulut Seokjin. Ia tidak tega jika harus memarahi Naeun yang begitu keras kepala. Ia sungguh berharap, Myungsoo akan mendapat balasan atas apa yang telah ia lakukan selama ini.

Gomawo, kau memang sahabatku yang terbaik.”

Dan hanya pengakuan sebagai sahabat yang bisa Seokjin dapat dari seorang Son Naeun.

~***~

“Apa dia tidak masuk lagi?” gumam Myungsoo sambil terus mengedarkan pandangannya ke seluruh kelas. Ia juga berjalan menuju pintu kelas, berharap Naeun akan masuk lewat sana.

Myungsoo pun tidak berhenti mengecek ponselnya, berharap ada pesan balasan dari Naeun, namun hasilnya nihil. Hal itu membuat Myungsoo semakin khawatir dengan kondisi kesehatan Naeun. Apalagi saat mereka terakhir kali bertemu adalah saat di mana Naeun jatuh pingsan. Myungsoo semakin curiga bahwa Naeun memang sedang sakit. Tetapi, penyakit seperti apapun Myungsoo belum yakin.

“Aku harap ia baik-baik saja, aku harap ia selalu sehat,” harapnya.

~***~

Seokjin menatap Sooji kesal. Pertanyaan yang sudah ia lontarkan lebih dari tiga kali itu tidak dijawab oleh Sooji. Ya, memang apa yang Seokjin tanyakan tidak berhubungan sama sekali dengan tugas yang sedang mereka berdua kerjakan saat ini. Tetapi, rasa penasaran Seokjin tak kunjung hilang setelah mendengar kepindahan Sooji ke Cina saat kelulusan nanti.

“Jadi, kau benar akan pindah?” tanya Seokjin untuk kesekian kalinya.

Sooji meletakkan pulpennya dengan kasar ke atas meja hingga menimbulkan suara yang cukup lantang. Ia melirik sebal ke arah Seokjin.

“Kapan tugas kita akan selesai kalau kau terus bertanya tentang hal-hal yang tidak penting?”

Arra, lagipula tugas kita sedikit lagi juga selesai.”

“Karena itulah, lebih cepat selesai akan lebih baik, dan kau akan lebih cepat pulang.”

Ya, kenapa kau ini benci sekali padaku, huh?”

“Siapa yang tidak benci dengan orang menyebalkan sepertimu?”

“Jawab saja pertanyaanku, apa benar kau akan ke Cina?”

“Apa urusannya denganmu?”

“Aku hanya bertanya! Kenapa kau selalu menjawabnya dengan kalimat itu? Menyebalkan!”

“Kalau menurutmu responku menyebalkan, maka berhentilah mengobrol denganku,” tegas Sooji yang sudah mulai berkonsentrasi kembali pada tugas kelompoknya.

Ya!”

“Pantas nilaimu selalu kecil.”

Mwo?”

“Kau tidak pernah serius dalam belajar, Kim Seokjin.”

~***~

“Apa kau yakin akan terus sekolah?”

Naeun mengangguk pelan sambil tersenyum. Sebuah senyum lagi-lagi ia tunjukkan pada ibunya dengan bibirnya yang pucat itu.

“Tetapi keadaanmu semakin memburuk. Kau seharusnya dirawat di rumah sakit. Kau ingat pesan dokter, kan?”

Eomma, saat berada di rumah sakit, aku selalu merasa kematianku semakin dekat. Saat berada di rumah sakit, aku merasa menjadi seorang pasien leukemia yang tidak berdaya. Sedangkan jika aku berada di sekitar orang yang kusayangi, aku bisa melupakan penyakitku. Aku bisa menganggap aku hanya seorang Son Naeun, Son Naeun yang sehat dan mempunyai banyak orang yang menyayanginya.”

Nyonya Son hanya bisa tersenyum pahit mendengar ucapan putrinya itu.

“Kau akan segera sembuh, Naeun-ah, Eomma yakin.”

“Aku harap juga begitu.”

Naeun bangkit dari kursi setelah selesai menghabiskan sarapannya lalu berjalan mengambil tasnya. Ia tesenyum lalu melambaikan tangan pada ibunya.

“Aku berangkat, Eomma!”

Setelah menutup pintu rumahnya, Naeun tersenyum mendapati Seokjin telah menunggu dengan motornya. Ia lalu berlari kecil menghampiri Seokjin.

“Kenapa kau tidak mendengarkan Eommamu?”

Ne?”

“Son Ahjumma pasti tidak dengan mudah mengijinkanmu untuk pergi sekolah, kan?”

Naeun hanya mengangguk pelan sambil menaiki motor Seokjin.

“Aku kan tidak ingin semakin tertinggal jauh pelajaran di sekolah.”

“Kau ini, sudah sakit, masih saja memikirkan pelajaran!” ketus Seokjin lalu melajukan motornya.

~***~

Setelah memarkirkan motornya, Seokjin mengantarkan Naeun ke kelasnya. Selama berjalan, ia tak henti memandangi Naeun. Memandangi gadis yang dicintainya itu, yang kini tengah menderita kanker darah. Seokjin masih tidak percaya kenapa bisa ada kenyataan seperti ini, ia tidak bisa menerimanya. Ia merasa, penyakit separah itu tidak cocok untuk gadis sebaik Naeun. Mungkin menurutnya, penyakit itu lebih cocok pada Myungsoo. Ya, Kim Myungsoo yang benar-benar brengsek dan tak punya perasaan itu.

“Sudah sampai, kau masuklah ke kelasmu,” ucap Naeun.

“Berhati-hatilah.”

“Maksudmu?”

“Maksudku, berhati-hatilah dan jaga kondisimu itu. Kau tahu kan, kau bisa kembali ke rumah sakit kapan saja?”

Naeun tersenyum pahit lalu mengangguk.

Arrasseo,” ucapnya sambil memasuki kelas.

Seokjin hanya menghela nafas sambil menatap punggung Naeun.

Ya! Kim Seokjin!”

Seokjin reflek membalikkan tubuhnya. Kim Myungsoo. Lelaki itu kini tengah berdiri tegak sambil menatap Seokjin penuh arti.

“Kita harus bicara.”

~***~

Seperti biasa, Myungsoo dan Seokjin memilih untuk bertemu di rooftop sekolah. Karena di tempat inilah mereka bisa mengobrol dengan tenang, dimana hanya ada mereka berdua.

“Naeun atau Sooji?” tanya Seokjin spontan.

Mwo?”

“Kali ini apa yang mau kau tanyakan? Dan, berkaitan dengan siapa?”

Seokjin sudah tahu. Pasti hal yang ingin Myungsoo tanyakan padanya tidak akan jauh dari Naeun atau Sooji.

Sementara Myungsoo justru tertawa sinis lalu memutar bola matanya.

“Bagus kalau kau langsung tahu kemana arah pembicaraanku. Aku ingin bertanya soal Naeun. Ah, lebih tepatnya penyakit Naeun. Kau pasti tahu hal itu, kan?”

Seokjin terdiam. Ia sama sekali tidak menduga Myungsoo akan menanyakan hal ini. Walau bagaimanapun, ia harus bisa menyembunyikannya dari Myungsoo, sesuai pesan Naeun.

“Penyakit apa maksudmu?”

Myungsoo berdecak kesal melihat sikap Seokjin. Ia yakin sekali kalau Seokjin mengetahui penyakit Naeun. Apalagi setelah melihat kedekatan Seokjin dengan keluarga Naeun.

“Jawab saja, aku yakin kau tahu soal penyakit Naeun, kan? Sakit apa dia?”

“Apa kau sedang peduli padanya saat ini?” tanya Seokjin yang membuat Myungsoo bingung.

Mwo?”

“Apa saat ini yang sedang kau pedulikan adalah Naeun? Lalu bagaimana kabar Sooji? Apa kau juga tidak ingin mengetahuinya? Apa kau tidak ingin menanyakannya juga padaku?”

“Kim Seokjin!”

Mwo? Apa aku salah? Bukankah mereka sangat mencintaimu? Tapi kau justru menduakan mereka–“

BUGH

Detik itu juga Seokjin langsung jatuh tersungkur, tersenyum sinis sambil memegangi sudut bibirnya yang sedikit mengeluarkan darah akibat pukulan keras dari Myungsoo.

“Apa ini tujuanmu sebenarnya menemuiku, huh?” tanya Seokjin.

“Jaga perkataanmu itu, Kim Seokjin.”

“Bukan aku yang harus menjaga perkataanku, tapi kau yang harus menjaga perilakumu itu! Bagaimana bisa kau mengencani dua gadis sekaligus?”

Ya!”

Seokjin tidak mempedulikan bentakkan Myungsoo. Ia bangkit lalu membersihkan seragamnya yang sedikit kotor sambil sesekali memegangi sudut bibirnya yang berdarah.

“Ah, kau bahkan tidak tahu salah satu dari mereka akan pergi meninggalkanmu, kan? Keurom, kau pasti tidak akan tahu!”

Myungsoo menengkram kerah seragam Seokjin.

“Siapa yang sedang kau bicarakan? Siapa yang akan meninggalkanku? Jawab!”

“Kalau kau mencintai mereka, ah, bukan mereka, kau harus mencintai hanya salah satu dari mereka. Kau pasti bisa mencari tahu, siapa yang akan pergi meninggalkanmu,” ucap Seokjin sambil melepaskan cengkraman Myungsoo dari kerahnya yang mulai merenggang setelah mendengar perkataannya. Ia lalu pergi meninggalkan Myungsoo seorang diri.

~***~

Myungsoo hanya bisa membisu mendengar pertanyaan ibunya di ruang makan. Makan malam bersama yang sudah menjadi kebiasaan keluarganya itu Myungsoo anggap sebagai sesi tanya jawab. Ya, soal masalahnya tentunya.

“Jawab Eommoni,” ucap ibunya.

“Memangnya kenapa, Eommoni?”

“Kami hanya tidak ingin gadis itu melukaimu lagi. Abeoji berharap kau tidak dekat dengannya.”

Myungsoo menghentikkan makannya lalu menaruh sumpitnya di atas mangkuk nasinya yang hampir habis. Ia menatap dingin ke arah kedua orang tuanya.

“Memangnya apa yang akan kalian lakukan kalau aku mendekatinya?”

Tuan Kim yang baru saja meneguk air mineral langsung menaruh gelas belingnya dengan keras ke atas meja makan yang memang terbuat dari kaca, hingga menimbulkan suara yang lantang.

“Kim Myungsoo!”

Wae? Kenapa Abeoji dan Eommoni begitu membencinya? Sejauh aku mengenalnya, dia gadis yang baik!”

“Baik katamu?”

“Aku sudah selesai, aku mau ke kamar.”

Ya! Kim Myungsoo! Abeoji belum selesai bicara! Ya!”

~***~

Naeun hanya bisa menghela nafas berat begitu menyadari bahwa lagi-lagi ia berada di rumah sakit. Badannya entah kenapa terasa sakit semua. Ketika ia mencoba menggerakkan jari-jarinya, ia kembali terpaku. Lagi-lagi ada bekas suntikan jarum di sana. Naeun bingung sendiri, kenapa ia semakin sering chemotherapy? Apa kankernya semakin parah? Tidak. Ia sungguh sangat tidak menginginkan hal itu.

Terlepas dari itu, Naeun mulai mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan kamar inapnya, tetapi tidak ada siapapun. Karena kebingungan, tanpa sadar Naeun menggaruk kepalanya, yang mengakibatkan segumpal rambut rontok menyangkut pada jari-jarinya. Naeun terkejut bukan main. Ia hanya menggaruk sedikit, tetapi rambut yang rontok sangat lebat. Ia bahkan kini tak kuasa menahan air matanya, menatap rambut indahnya yang mungkin sebentar lagi akan habis.

Tak lama kemudian, pintu yang sedari tadi tertutup rapat itu mulai terbuka, menampakkan wajah seorang gadis yang terlihat terkejut melihat Naeun. Sementara Naeun yang saat itu sedang menangis belum menyadari keberadaan gadis itu, yang kini menatapnya penuh arti.

“Son Naeun?” panggil gadis itu sambil berjalan menghampiri Naeun dengan setengah berbisik.

“Son Naeun, rambutmu,” ucapannya terpotong begitu melihat beberapa helai rambut Naeun yang berserakan di lantai.

Ketika merasa suara yang didengarnya asing, Naeun menghentikan tangisnya untuk melihat siapa yang datang menjenguknya.

“Bagaimana bisa kau ada di sini, Bae Sooji?”

To Be Continued

 

Maaf kalo chapter ini pendek banget, karena emang ini chapter terpendek dari chapter2 sebelumnya ._.v

Tetep tinggalin komentarnya, ya^^

20 thoughts on “A Late Regret (Chapter 8)

  1. aku pertama kah? haha.. wahh konfliknya kamin seru nih.. tapi alurnya kecepetan thor 😦 ditinggu cerita selanjutnya

  2. eh typo maksudnya makin seru haha… sebenernya aku itu sukanya myungeun, tapi sepertinya tidak ada harapan lg dicerita ini, yasudah myungzy aja lah endingnya wkwkwkwk

  3. ya ampun, aku jadi sangat terbawa perasaan sedih waktu part rambut naeun yg semakin rontok itu thor *bahasa apa ini?kkk* seperti aku bisa membayangkan penyakitnya yg akan segera merenggut nyawanya *bahasa apalagi ini? haha*

    tapi, ff nya bagus kok thor. kkk. jadi penasaran, endingnya seperti apa. kkk

  4. hayooo soojinya baikan aja sama naeun .. biarkan mereka jadi temen karib ouo.. jinnya jahat 😦 myung nya juga jahat 😦 aku gak nemu typo gak tau gak keliatan :). ditunggu capt 9 sama bloody school 😀

  5. thorrr :((( masa iya suzy sama myungsoo pisah lagi? gak relaaT-T myungzy ya thooor:(( nxt part jangan lama2 thoor:(
    semangat ya thor:D

  6. mkin mewek ksini.. gimana kalo benr terjadi perkataannya seokjin.. 22nya bkal ninggalin Myungsoo.. Naeun yang mungkin ngga lama lagi dan sooji yang pergi ke Cina.. Trus myung gimana? Seokjin nanti ma siapa?? Kyaknya aku bkal kecewa ma endingnya..

  7. ih!gw stju dngan seok jin lebih baik myungsoo yg kena kanker..biar dia tau situ gi mna rsa di skiti..lanjt thor..part trsa pendk tpi alur cerita ya keren

  8. Greget sama myungsoo, ganteng tapi minta dibejek bejek/?
    Mending suzy naeunnya buat seokjin aja. Nanti myungsoonya buat aku /ga.
    Kasih kode dong thor endingnya bakal siapa/?
    Lanjut next part jangan lama lama thorr

  9. oooo kalo gitu suzy sm jin ajah myungsoo nya begitu siy -__- ok author minta nextnya pliss *puppy eyes brg vee*

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s