[FF Freelance] Remember This day

rememberthisday2

{ Baby’s present }

Title : Remember this day

Genre : sweet-hurt

Length : Vignette

Cast : Jongin/Kai | Soojung/Krystal |

~this fic is mine and I’m yours~

{the cast doesn’t belong to me, they belong to god and themselves, the story is purely mine and from my own thoughts, if there are similarities with other story please tell me}

Enjoy for read, guys !

_baby’s storyline_

Jung soojung itu gadis menyebalkan.Selalu ingin dihormati, gadis pintar yang selalu marah-marah, dia itu menjengkelkan.Terlalu disiplin, terlalu banyak aturan.Jongin tidak suka, dalam berbagai hal dari gadis berumur 15 tahun itu, jongin sangat tak suka. Jongin tak suka cara soojung memarahinya, jongin tak suka saat soojung menatapnya. karena, jongin tak suka merasakan jantungnya berdebar lebih cepat saat berhadapan dengan gadis itu, ia tak suka saat tak tahu harus melakukan apa dihadapan gadis itu, jongin tak suka saat dia hanya diam menatap gadis itu. intinya, jongin tak menyukai soojung karena soojung-lah satu-satunya orang yang bisa mengendalikan jongin, dalam segala hal apapun.

Soojung melirik jongin tanpa menolehkan kepalanya, ia tahu, pemuda nakal itu sedang menatap dengan kesal kearahnya, soojung tak peduli. Yang terpenting, kelas damai tanpa keributan.Baru saja, dia memarahi jongin yang bermain bola didepan kelas. Jongin yang duduk dibarisan paling belakang tak henti menggerutu kesal kearah soojung, dengan tangan yang dilipat didada, dia mengutuk soojung atas segala hal yang soojung lakukan padanya, Jika saja jongin bisa melawan, jika saja jantung jongin bisa dikendalikan, dan jika saja gadis itu buka jung soojung yang telah membuat jongin jatuh hati, pasti jongin takkan menurut dan terdiam seperti orang bodoh dibangkunya kini.

Soojung menoleh menatap jongin membuat jongin seketika membuang muka kearah lain, soojung tersenyum geli, ia kembali kepada kegiatan awalanya, mencatat tugas. Jinri, teman sebangku soojung menyikut pelan tangan soojung dengan senyuman menggoda.

“bukankah dia itu sangat tampan ?” tanya jinri dengan nada menggoda, soojung mendelik kesal.

“mwoya ?aku tersenyum karna mendapatinya menatapku,” jawab soojung dengan nada kesal.

“aku tahu, mungkin dia menyukaimu, soojungie,”

“aniyo, dia menatapku karna dia kesal, kau tahukan aku memarahinya barusan,”

“ne,ne, dia kesal tapi juga suka, kau juga seperti itu”

“dia anak nakal,”

“lalu masalahnya ? cinta itu tak memandang nakal atau baik, jungie,”

“sudahlah, tak penting membahas hal itu,” jinri terkekeh pelan melihat ekspresi wajah soojung yang kini sudah merona, tanpa soojung mengatakanpun, jinri tahu jika soojung menyukai pemuda bermarga kim itu.

_baby’s storyline_

Soojung dengan gugup bangkit lalu berjalan kearah bangku yang ditempati jongin, ditatapnya jongin yang tengah tertidur lelap.Ia menatap kesekeliling, bersyukur taka da siswa lain selain mereka berdua disana.

“ya, kim jongin, ireona !” teriaknya tertahan, jongin mendongak dengan wajah konyolnya sebangun tidur. Ia menatap soojung bingung, dengan satu hela nafas gugup soojung menyerahkan map hijau kearah jongin.

“itu, titipan dari jin songsaenim, aku tak membukanya karna itu milikmu,”

Sial, kenapaa saat ini soojung sangat gugup, padahal biasa saja dia tak pernah segugup ini.Soojung mengernyit melihat wajah jongin yang terlihat lebih datar dari biasanya, jongin menatap soojung dengan tatapan sendu.

“wae ?”

“kau benar-benar tak tahu apa isinya ?” soojung menggeleng pelan, seketika perasaannya menjadi resah, soojung tak tahu mengapa, namun ia sungguh khawatir saat ini.

“jangan bilang kau dikeluarkan,” jongin terdiam, soojung menggigit bibirnya dengan resah.

“bodoh, tentu saja tidak,” jawab jongin kembali menidurkan kepalanya dimeja, dia menatap lurus, entahlah apa yang sedang ia pikirkan saat. Yang pasti, ia sedang dalam ambigu saat ini.

“ada apa denganmu ? kenapa tiba-tiba jadi pendiam ?” tanya soojung, ia melangkah menuju bangku kembali. Soojung melirik kearah jongin, ia menghela nafas, wajahnya terlihat sendu sama seperti jongin.

_baby’s storyline_

Soojung berteriak kesal kearah jongin, selalu seperti ini, ada apa sebenarnya dengan pemuda itu ?

Bukankah tadi dia menjadi pendiam, kenapa sekarang menjadi lebih hyper dari sebelumnya, soojung berjalan menghampiri jongin yang sedang berdiri didepan kelas, menggenggam bola, menatap soojung dengan tatapan menantang. Soojung menghela nafas, ia merebut bola dari tangan jongin.

“ya, bisakah sekali saja kau diam, eoh ?” teriak soojung, jongin terdiam. Soojung menatap jongin tajam.

“bisakah sekali ini saja kau biarkan aku bahagia ?” soojung terpaku, pasalnya, jongin berkata dengan sangat dingin. Tatapan jongin juga sangat datar, jujur soojung takut dengan tatapan jongin.Semua siswa menatap mereka aneh, ini pertama kalinya jongin bersikap seperti itu kepada soojung.Setahu mereka, soojung selalu bisa mengalahkan jongin.Jongin menghempaskan bola ditangan soojung dengan tangannya, bola itu kini terjatuh dan mengelinding begitu saja.Soojung menatap takut kearah jongin.

“soojung-“ jongin menghentikan ucapannya, ia menghela nafas. Soojung tersentak saat jongin menepuk pundaknya keras.

“ayo kita berkencan !” soojung terbelalak mendengar apa yang jongin ucapkan, seluruh siswa terkejut dengan pernyataan jongin. Soojung menelan ludahnya, sedangkan jongin tetap menatap soojung dengan tatapan penuh harap.

“ige mwoya ?” teriak sulli kesal, jongin benar-benar sudah menakuti mereka semua.

“kau membuat jantungku berhenti, kim jongin !” teriak yang lainnya, jongin tertawa nyaring, ia menggaruk-garuk kepalanya yang sedikit gatal. Sedangkan soojung masih menatap jongin dengan mulut sedikit terbuka.

“soojung, kau baik-baik saja ?” jongin melambaikan tangannya didepan wajah soojung, namun soojung tak bereaksi, ia hanya diam memandang jongin.

“ige mwoya ?” gumamnya pelan, soojung berbalik dengan tubuh yang bagaikan tak bernyawa. Tatapannya masih kosong dan mulutnya masih terbuka.Semua siswa menatap soojung khawatir, ini pertama kalinya mereka melihat soojung seperti ini.

“ya, kim jongin, tanggu jawab !” teriak sulli menggema, jongin menatap heran kearah soojung yang kini duduk dikursinya. Tiba-tiba soojung menatap kearah jongin, jongin tersenyum polos kearah soojung.

“apa yang tadi kau katakan ?”

_baby’s storyline_

Soojung berjalan dengan mengenggam kuat-kuat tas gendongnya, ia gugup. Dibelakangnya, jongin berjalan dengan senyuman lebar yang terlihat sangat konyol, soojung dengan tiba-tiba berhenti membuat jongin terkesiap dibelakangnya. Soojung berbalik, ia menatap jongin dengan gugup.

“kenapa tiba-tiba kau mengajakku berkencan ?” tanya soojung dengan sedikit gugup, jongin berpikir. Ia menatap soojung dengan tatapan tak biasanya, ia lalu menghela nafas dan tersenyum kearah soojung.

“memangnya tak boleh aku mengajakmu berkencan ? tak boleh jika aku menyukaimu ? kau juga kenapa menerima ajakanku, eoh ?” soojung terdiam, ia kembali berbalik, berjalan meninggalkan jongin yang mengekorinya.

“hmm, bagaimana jika kita ke kekedai di balai kota,” soojung menoleh.

“baiklah, ayo kita naik sepeda !” jongin tiba-tiba menunjukan deretan gigi putihnya kepada soojung, membuat soojung heran dengan kebodohan yang ditunjukan jongin kepadanya.

“kenapa ?” jongin menggaruk bingung tengkuknya, ia menggeleng pelan.

“demi apapun, jangan bilang kau tak bisa naik sepeda !” teriak soojung kesal membuat siswa yang berjalan melewati mereka menatap aneh seraya menahan tawa kearah jongin.

“ya, jangan keras-keras, aku malu,”

“kau ini, sudah besar masih tidak bisa naik sepeda ! apa saja yang kau lakukan, eoh ? bisanya mengganggu orang sih,” jongin berdecak kesal kepada gadis yang baru saja tadi ia kencani ini, tapi ia bersyukur karena keadaannya dengan soojung tidak canggung seperti tadi.

“hey, naik sih aku bisa hanya mengendarainya aku tak bisa !”

“dasar bodoh !”

_baby’s storyline_

Soojung dengan lelah menggoes sepedanya, jongin duduk menahan tawa dibelakangnya.Rambut soojung yang tertiup angin membelai lembut wajahnya, jongin tersenyum seraya menutup matanya.

“soojungie, kau, harus mengingat apa yang kita lakukan hari ini, hanya hari ini, ingatlah dengan jelas !” gumamnya dalam hati seraya menutup mata.

“hey, aku lelah, giliranmu !” jongin membuka matanya, ia menatap malas kearah soojung.

“kau sudah gila, mana bisa aku mengendarainya !” soojung turun dari sepeda, ia menatap jongin dengan pasti lalu tersenyum manis membuat jongin bingung dengan gadis pandai dihadapannya.

“aku akan mengajarimu agar nanti kau yang memboncengku, bukan aku,” jongin terdiam menatap soojung, ia yang bodoh, harusnya hari ini ia sudah pandai bersepeda agar keinginan soojung terlaksana. Jongin bodoh !

“baiklah, ayo ajari aku !” soojung tersenyum manis, ia lalu memegangi bagian belakang sepeda putih miliknya.

“ya, pegangi aku ! jangan sampai kau lepas !”

“iyaa, bawel kau !” teriak soojung.

Lama soojung mengajari jongin bersepeda, gelak tawa tercipta dari mulut mereka berdua. Soojung selalu menertawakan jongin yang menurutnya sangat bodoh, jongin berdecak kesal, ini sudah ke lima kalinya dia jatuh. Menyebalkan.

“hey, berhenti menertawakanku, bodoh !” teriak jongin kesal dengan sepeda disampingnya, soojung tak bisa berhenti tertawa, posisi jongin yang terjatuh sangat konyol menurutnya.

“kau, sangat konyol, kim jongin !” jongin berdecak kesal, namun wajah kesalnya tergantikan mimic sedih melihat tawa renyah soojung yang ia lihat secara jelas, tawa soojung bersamanya, tawa soojung untuknya. Pertama kalinya mungkin juga terakhir kalinya, andai saja jongin lebih berani dulu, mungkin ia sudah menjadi seperti ini sedari dulu.

“eh, wae ?” soojung menyadari perubahan mimic jongin, ia menghampiri jongin. Jongin tersenyum bodoh, ia menggeleng lalu kembali menaiki sepeda milik soojung, ia menepuk kursi dibelakangnya. Isyarat agar soojung duduk disana, soojung terbelalak, ia menggeleng dengan cepat.

“ya, kau mau balas dendam hey, aku belum mau terjebur kesungai !” tolak soojung dengan kesal.

“ya, cepatlah, aku sudah mahir, kok !”

“dustamu, tuan kim,” meskipun ragu, soojung tetap duduk disana. Ia berpegangan dengat erat kepada jongin, jongin tersenyum melihat tangan putih soojung yang melingkar dengan indah di pinggangnya, sungguh ia tak pernah merasa sebahagia ini.

“jika kita jatuh kau harus bertanggung jawab !” teriak soojung dengan mata terpejam. Jongin mulai menggoes sepeda soojung dengan lancer tanpa kendali, soojung membuka matanya.

“kau bisa ? ternyata aku guru yang hebat, haha “ soojung memuji dirinya sendiri, jongin hanya tersenyum.

“aku juga murid yang hebat, saenim,”

“ya, jangan panggil aku seperti itu !”

“lalu, aku harus memanggilmu apa ? chagiya, yeobo, honey, babe ?”

“ya !” dengan wajah memerah soojung menjitak kepala jongin bertepatan dengan itu, sebuah mobil muncul dihadapan mereka. jongin yang baru saja bisa mengendarai sepeda gugup, sepedanya oleng.

“ya, ya, eotteokhe ? didepan ada mobil, ya !”

“ya, stabilkan saja, ya, ya, aku takut jongin ! heeyyyyy !”

Dengan kesal soojung melirik kearah jongin, dengan sebagian tubuh yang sudah basah kuyup ia bangkit dan menghampiri jongin, orang yang telah membuat mereka tercebur kedalam sungai. Jongin menatap soojung dengan senyum konyolnya, ia menjipratkan air kearah wajah soojung.

“hey,” teriak soojung kesal, jongin tertawa puas melihatnya. Soojung balas dendam kearah jongin, ia mengguyur jongin dengan air yang ia ambil menggunakan tangan mungilnya. Mungil hanya sedikit namun airnya tepat masuk kedalam mulut jongin, soojung tertawa puas melihat jongin yang terbatuk-batuk.

“dasar menyebalkan,” soojung berbalik dengan senyuman lebar diwajahnya. Jongin kembali menyerang soojung dengan air, tanpa ampun.

“ya, hentikan !” soojung berbalik dan menutup wajahnya, jongin tertawa melihat ekpresi lucu soojung yang sudah basah kuyup itu.

“kim jongin !” soojung berlari kearah jongin, jongin hanya menghindar. Mereka terus bermain disungai, dengan pakaian yang sudah basah kuyup.Mereka bahkan tak memikirkan sepeda soojung yang masih berada didalam air.

_baby’s storyline_

Soojung dan jongin berjalan sambil memakan tteokboki yang mereka beli dipinggir jalan, dengan masih basah kuyup mereka memutuskan untuk pulang karena hari memang sudah sore. Jongin menonel, ia menatap soojung yang sedang mengunyah tteokbeoki panasnya.

“soojung-ah,” panggilnya pelan, soojung menoleh dengan mulut terisi penuh.

“hmm ?”

“sebelum kita pulang, aku ingin mengajakmu kesuatu tempat,” soojung mengernyit. Ia mendongak menatap langit yang kian mendung.

“tapi, sebentar lagi hujan, jongin,”

“bilang saja kau tak mau,” jongin mendengus kesal.

“bukan begitu, ummaku sering marah jika aku hujan-hujanan, dia bilang dia khawatir aku akan sakit jika aku kehujanan,”

“ummamu pasti sangat menyayangimu,”

“mungkin karena aku satu-satunya orang yang dia punya, ayahku sudah meninggalkan sehari setelah ulang tahun ketigaku, jadi ibuku sangat menjagaku,” jongin menatap soojung dengan iba, dia tak tahu tentang latar belakang soojung, yang ia tahu hanya soojung si anak pintar yang sangat menyebalkan dan selalu mengatur orang lain.

“lalu, bagaimana denganmu, jongin ?”

“hah, aku ? apanya yang bagaimana ?” jongin menggaruk kepalanya, bingung dengan pertanyaan soojung. Soojung mendesah, sifat bodoh jongin tak pernah hilang.

“lupakan, ayo pulang,” dengan kesal soojung berjalan mendahului jongin.

“hey, kenapa kau gampang sekali marah ?”

“kau sih menyebalkan,”

“mian, mian, akukan memang tak mengerti dengan yang kau maksud, hehe,“

“dasar bodoh,” berhenti, ia menoleh kearah jongin.

“pria sejati harus berjalan didepan wanita, bodoh,” jongin menggaruk kepalanya, ia menatap soojung dengan tatapan ragu. Bukan apa-apa, ia takut soojung meninggalkannya.

“keure, berhenti memanggilku bodoh !” jongin berjalan mendahului soojung, soojung tertawa tanpa suara melihat wajah kusut jongin. Dia tak marah, sama sekali tidak. Soojung sedari tadi menahan senyumannya, ia malu tersenyum didepan jongin, itu sebabnya soojung menyuruh jongin berjalan didepannya. Sepanjang jalan menuju jembatan soojung tak henti tersenyum menatap jongin yang berjalan dengan kesal.Tiba ditengah jembatan, jongin terhenti membuat soojung bingung.

“ada apa ?” jongin berbalik, ia menatap soojung dengan tatapan berbeda. Lebih serius.

“soojung-ah,”

“hmm ?” jongin berjalan menghampiri soojung, ia menatap soojung begitupun dengan soojung yang mendongak menatap jongin yang lebih tinggi darinya.

“aku ingin, kau selalu mengingat hari ini, kau boleh melupakan segalanya tentangku, tapi aku mohon, sampai kapanpun jangan pernah lupakan hari ini, hari dimana aku mengajakmu berkencan dan hari dimana tawamu hanya untukku, aku hanya meminta ini padamu, ingatlah hari ini,” soojung menatap jongin dengan serius, ia tak mengerti dengan apa yang jongin ucapakan, tepatnya ia pura-pura tak mengerti dan takkan pernah mau mengerti.

“sebenarnya, apa yang kau bicarakan, jongin ?” jongin menggenggam kedua tangan soojung.

“soojung, jika besok dan seterusnya kau tak melihatku, jangan pernah tanyakan keberadaanku pada siapapun, karena satu-satunya orang yang tahu keberadaanku hanya kau,” soojung menatap jongin semakin dalam, ia berusaha menyakinkan dirinya bahwa jongin sedang memberikan candaan bodoh yang sangat tak ia sukai.

“berhenti berbicara, ayo pulang !” soojung mengalihkan tatapannya, ia tak sanggup menatap mata jongin lebih lama. Ia takut, takut jongin akan mengatakan apa yang sudah ia perkirakan.

“tunggu soojung, aku-“

“jika kau tahu ini yang terakhir, kenapa kau mengajakku berkencan, jongin ?” teriak soojung seraya menghempaskan tangan jongin.

“jika kau sudah tahu, kenapa kau mau berkencan denganku ?” soojung menggigit bibirnya, ia tak mau menangis, ia kuat.

“jawabannya sama seperti kenapa kau mengajakku berkencan, cukup jongin, jangan katakan apa-apa lagi, aku tak mau mendengarnya !” soojung menutup kedua telinganya, ia membelakangi jongin, air mata mulai mengalir membentuk sungai kecil dipipi tirusnya.

“jadi, kau sudah tahu apa isi map itu ? kenapa kau pura-pura tak tahu tadi ? soojungie, maafkan aku,” soojung tak menyahut, jongin tahu soojung menangis, jongin tahu.

“cukupp !” soojung berteriak lalu berlari meninggalkan jongin, jongin hanya menatap soojung dengan sendu. Ia menoleh, menatap sepeda milik soojung yang ditinggalkan begitu saja oleh pemiliknya.

“maafkan aku, soojungie,”

_baby’s storyline_

Soojung menidurkan kepalanya diatas meja belajar, ia memikirkan kejadian tadi sore, dia sungguh bodoh karena meninggalkan jongin bersama sepedanya. Tapi, ini semua salah jongin, sudah soojung katakan ia tak mau mendengarnya tapi jongin tetap saja mengatakan hal itu kepada soojung. Soojung menghela nafas. Diluar sedang hujan deras, jadi tak ada yang bisa ia lakukan malam ini, tak ada bintang yang biasanya soojung pandangi.

“soojung-ah, tolong berikan ini kepada jongin, ne ?” soojung mengangguk pelan lalu pergi meninggalkan gurunya, dia menatap map itu, dengan penasaran ia membuka map itu. tak apa, mengintip sedikit mungkin tak masalah, pikirnya.

“pindah ?kenapa jongin akan pindah ? ke seoul ? untuk apa ?”

 

Soojung meraih ponselnya yang bordering, dia menghela nafas mendapati orang yang mengiriminya pesan.

Aku menunggumu diluar,

Soojung beranjak dari kursi meja belajarnya, dia melangkah dengan ragu saat membuka pintu rumahnya. Tapi soojung meyakinkah dirinya, jika tidak sekarang, ia takkan pernah bertemu dengan jongin. Takkan pernah sampai takdir menemukan mereka kembali.Entah kapan.

Soojung menatap jongin yang berdiri menghadapnya sembari memegang sepeda yang soojung tinggalkan tadi, dengan payung berwarna hijau yang tetap membuat tubuh jongin basah.

“ada apa ?” teriak soojung, jongin menunjuk sepeda soojung dengan dagunya.

“hmm, simpan saja disana dan pulangnlah hari sudah malam dan hujan semakin deras,” soojung baru saja akan berbalik tapi jongin menghentikannya.

“soojung tunggu, aku ingin minta maaf, harusnya aku melakukan hal itu sedari dulu, maafkan aku,” soojung menoleh, ia menatap jongin yang terhalang oleh derasnya air hujan.

“gwaenchana, ini lebih baik daripada tidak sama sekali, terima kasih atas hari ini, kim jongin,” mereka saling bertatapan.

“hmm, aku akan pergi sekarang,” jongin berbalik, soojung menatap jongin yang berjalan menjauh. Soojung kembali menangis, tidak, perpisahannya tak boleh seperti ini.Dia tak mau menyesal. Segera ia berlari mengejar jongin.

“kim jongin !” jongin menoleh mendengar teriakan soojung, ia menatap khawatir kearah soojung yang kini sudah basah kuyup.

“apa yang kau lakukan ? nanti kau bisa sakit, soojung !” jongin menghampiri soojung, dengan kasar soojung menghempaskan payung yang digenggam jongin.

“alasan kenapa aku menerima ajakanmu untuk berkencan adalah karena aku menyukaimu, aku benar-benar menyukaimu !” teriak soojung, air matanya menyatu dengan air hujan.

“soojung,” gumam jongin lirih, sedangkan soojug semakin terisak, jongin memeluk soojung dengan erat.

“aku juga soojung, alasan aku mengajakmu berkencan karena aku ingin melewati hari terakhirku denganmu, orang yang benar-benar aku sukai !” soojung melepaskan pelukan jongin, ia menatap jongin dengan senyuman yang tak bilang menghilangkan air mata dipipinya.

“jongin, aku akan mengingatnya, kau jangan khawatir. Sebaliknya, kau juga harus tetap mengingatnya, jalan pernah kau lupakan, jongin !” jongin mengangguk yakin dengan senyuman bodohnya, mereka bertatap lama, lalu tertawa bodoh. Air mata soojung tak berhenti mengalir disetiap tawanya, jongin tau itu tapi jongin membiarkannya. Jongin membalikan tubuh soojung, ia bersandar dipunggung soojung. Jongin menggenggam tangan soojung dengan perlahan, mereka mendongak, menatap hujan dengan harapan mereka masing-masing.

“soojung, kau boleh melupakan kenangan yang lain tapi tidak dengan yang kita buat hari ini,” soojung mengangguk yakin.

“jongin, ingatlah hari ini,”

_baby’s storyline_

Soojung terduduk dikursinya, ia menatap notebook didepannya. Disana, sebuah gambar indah menunjukan dua sejoli yang tengah menikmati derasnya hujan dengan saling membelakangi dan bersandar dengan tangan yang saling bertautan. Soojung tersenyum, ia yang mengambarnya, dia menoleh, menatap kursi milik seseorang yang sedari dulu selalu soojung perhatikan, selalu sedang tertidur saat soojung menatapnya. Soojung membuka lembaran-lembaran sebelumnya, semua terisi dengan sketsa wajah jongin.Soojung kembali tersenyum melihat jongin yang sedang tertidur, jongin yang sedang bermain bola, jongin yang sedang belajar, dan jongin yang sedang makan.

“soojungie, palli, acara perpisahan akan segera dimulai !” teriak sulli dari daun pintu, soojung hanya mengangguk, ia kembali menatap gambar terakhir di notebooknya. Dengan rapih, soojung menuliskan kata-kata diatas gambar itu.

‘Remember this day, jongin-ah,’

Soojung menutup notebooknya dengan senyum mengembang ia berlari mengikuti sulli yang sudah meninggalkannya.

I don’t care if you forget everything,

but please,

don’t you ever forget the moment at this day,

this day, when you’re mine and when your smile is mine.

 

_END_

7 thoughts on “[FF Freelance] Remember This day

  1. uhuhuhuhu~ kencanya manis sekaliii tapi hmm kok sedih ya endingnya, kenapa mereka harus pisah? kenapa jongin harus pindah huhu~
    dan hari terakhir itu benar benar penuh kenangan ya
    keren! nice ff

  2. Anak pinter sama anak nakal yaa? Sama2 suka tapi gengsiii?
    Romantiss.
    Nice ff🙂
    tapi,sad ending :’)
    keep writing thor!;)

  3. Nice fic. Ringan tapi manis. Aku kira dibagian akhir bakal diceritain pas berapa tahun kemudian gitu terus mereka bertemu lagi.
    Keep writing yaaa auhtor ^^

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s