[FF Freelance] The New Born

tumblr_m8xkytvNei1qitdj1o1_1280

Title :  The New Born

Author :  Lavender

Rating : General

Length : Vignette

Genre : Friendship, sad

Main Cast : Jessica SNSD & Tiffany SNSD

Support Cast : Lee Dong Hae Super Junior & Choi Siwon Super Junior

Disclaimer :  Semua cast milik Tuhan dan keluarganya. Ide cerita milik author. Ini FF pertama yang aku bikin. Mohon review-nya. Thanks and happy reading all.

Picture : Taken from Google

 

 

“Ya, aku tahu.”

“…..”

“Kau tenang saja. Aku sudah pernah mengalami kejadian seperti ini. Terlalu sering. Kau tidak perlu mencemaskan diriku.”

“…..”

“Baiklah. Aku akan menutup ponselku terlebih dulu. Bye.”

Huftt…

Wanita yang baru saja dihubungi oleh seseorang-entah siapa-melempar sembarang benda persegi panjang itu di atas kursi yang untungnya lumayan empuk. Terlihat sangat jelas gurat di wajah wanita itu dirinya sedang kesal. Ya, kesal karena seseorang yang  baru saja menghubunginya tadi. Lagi-lagi ini yang terjadi, pikirnya. Tidak ada yang berubah. Bahkan semenjak mereka-wanita itu dengan seseorang-pertama kali memutuskan untuk menjalin suatu hubungan yang lebih dari teman.

Wanita itu mendesah lagi. Kali ini lebih keras. Dia memijat dahinya yang terasa berdenyut. Bukan karena dia merasa pusing, melainkan isi kepalanya itu sudah tidak bisa lagi menampung semua perasaan dan keluh kesahnya yang selama ini dia simpan sendiri. Dia rasa ingin cepat mengakhiri semua ini. Didalam pikiran dan hatinya sudah lama tersemat kata menyerah. Sudah lama dia ingin keluar dari masalah didalam hidupnya. Terutama masalah yang melibatkan hatinya. Perasaannya.

Tapi dia sudah menjalani semuanya dalam waktu yang cukup lama. Bahkan sudah sangat lama. Jadi, bisa dipastikan bagaimana tangguh dan kuat dirinya selama ini. Mungkin jika dirinya ingin membangun sebuah rumah, dia akan secara suka rela untuk menawarkan dirinya sendiri untuk dijadikan beton rumahnya. Dia bahkan lebih kuat dari beton itu sendiri.

Tidak. Dia tidak boleh menyerah begitu saja. Kalau dia baru merasa lelah sekarang, sudah dari dulu dia menyerah. Buktinya, dia masih bisa bertahan sampai sekarang. Dan dia merasa dirinya baik-baik saja. Mungkin.

Perlahan dia menutup matanya dan menarik nafas dalam. Sebelum dia menghembuskan nafasnya, suara pintu terbuka dan seseorang memanggil namanya, membuat dia membuang dengan kasar nafasnya.

“Jess, ada yang perlu aku bicarakan padamu. Kau sibuk?”

Jess-nama wanita itu-menggeleng lalu memberi tanda untuk menyuruh orang itu masuk. Dirinya lalu bangkit dari tempat duduknya saat itu, lalu berjalan menuju singgasana dirinya yang sesungguhnya. Orang yang baru saja masuk itu mengikuti langkah wanita yang ada dihadapannya dan mengambil posisi duduk tepat dihadapan wanita tersebut.

Merasa risih dengan raut wajah gadis yang sedang berada dihadapannya itu, membuat orang tersebut tidak bisa untuk tidak menanyakan apa sebabnya.

“Jess, ada apa?”

Mendengar pertanyaan yang tertuju pada dirinya, Jess hanya mendesah pelan lalu beranjak dari tempat duduknya menuju jendela. Gadis itu bahkan belum dua menit duduk, dia sudah beranjak lagi dari kursinya. Gadis itu tidak mengucapkan sepatah kata apapun. Diam. Gadis itu tetap membiarkan mulutnya tertutup agar tidak mengeluarkan sepatah kata apapun.

Diamnya gadis itu membuat orang yang tadi baru saja melontarkan pertanyaan itu merutuki dirinya sendiri. Merutuki rasa penasarannya yang datang. Dan juga, diamnya gadis itu membuat dia tahu apa yang membuat gadis itu menjadi seperti besok dunia akan berakhir dan dia belum menuliskan daftar kegiatan atau impiannya sebelum dnia berakhir.

Pasti orang itu lagi.

Tidak tega melihat gadis yang sekaligus sahabatnya itu seperti itu, orang itu memutuskan untuk beranjak menuju tempat gadis itu berdiri. Gadis itu menatap kosong keluar jendela. Orang itu yakin walaupun ada sesuatu yang dahsyat terjadi diluar sana, gadis itu tetap akan dengan ekspresinya yag seperti itu. Apalagi, dengan suasana hati yang seperti sekarang ini.

“Kenapa lagi sekarang?”

Jessica-nama lengkap gadis itu-hanya menggelengkan kepalanya lemah. Namun, orang itu tahu bahwa gadis itu pasti menyimpan sesuatu yang terlihat begitu menyiksanya.

Bayangan Jessica yang terpantul dari kaca besar itu cukup memberi orang itu jawaban. Terlihat dari kedua mata Jessica butir-butir bening tertahan dipelupuknya.

Tanpa pikir panjang, orang itu membawa Jessica dalam pelukannya. Tangan mungil orang itu mengelus lembut rambut blonde panjang gadis itu.

“Keluarkan. Keluarkan semuanya, Jess. Jangan kau simpan sendiri, itu malah akan menambah rasa sesak dihatimu.”

Terdengar isakan lemah gadis itu. Jessica beruntung masih ada orang yang peduli dengan keadaannya saat ini.

“A… Aku masih kuat. Aku pasti bisa melewati ini semua. Aku sudah bertahan sampai disini. aku pasti bisa, Tiff.”

“Tapi, sampai kapan Jess? Sampai kapan? Aku tidak tega melihat kau seperti ini terus.”

Jessica menggeleng sembari melepas pelukannya dengan orang itu.

“Aku tahu kau khawatir, Tiff. Kau memang sahabat yang baik. Aku yakin aku bisa. Aku pasti bisa.”

Tiffanny-nama orang itu-hanya menatap sendu sahabatnya. Dia tidak tahu sihir apa yang digunakan laki-laki itu sehingga mampu membuat Jessica bertahan selama ini.

Lima tahun. Lima tahun bukan waktu yang singkat untuk menyimpan berjuta rasa sakit hati, emosi, luka batin, dan airmata seorang diri. Bagi sebagian orang, ini mungkin akan sangat mustahil dilakukan.

Tapi itu semua tidak berlaku bagi Jessica. Gadis itu berhasil melewati semua itu, walau dengan menahan sakit hatinya sampai dia tidak bisa bernafas. Tiffany berpikir bahwa dirinya akan bunuh diri atau tidak akan bisa bertahan dalam jangka waktu yang terbilang lama seperti itu jika mengalami apa yang Jessica alami sekarang.

“Kali ini dengan siapa lagi?”

Jessica sudah hafal betul pertanyaan sahabatnya yang satu itu. Pertanyaan yang sama tiap kali Tiffany tanyakan padanya tapi dia memiliki banyak jawaban untuk satu kalimat pendek itu.

“Hanna Kim. Anak dari pemilik perusahaan yang saat ini sedang bekerja sama dengannya.”

Jessica masih bisa merasakan ketidakpuasan Tiffany atas jawabannya. Tiffany hanya memberikan sebuah tatapan datar. Tatapan yang berarti ceritakan sampai ke akarnya. Tentu hal ini membuat Jessica kembali harus membuka mulutnya sedangkan dia sendiri tidak mau lagi menceritakan masalah ini.

“Mereka berdua akan dijodohkan untuk urusan bisnis. Jika sebelumnya dia bisa menolak, tidak untuk yang satu ini. Dia harus memenuhi permintaan ini karena hanya ini satu-satunya cara untuk membuat perusahaannya bangkit kembali sebelum benar-benar hancur.”

“Lalu apa jawabanmu?”

Pertanyaan Tiffany kali ini sukses membuat hati Jessica terasa dihantam badai besar. Dia tahu bahwa dia belum siap untuk kehilangan orang itu. Karena itu, Jessica hanya diam. Diam dan diam. Karena hanya itu yang bisa dia lakukan sekarang. dia tidak sanggup untuk memberitahu kepada Tiffany apa jawabannya.

“Jess, mungkin kali kau harus menyerah. Ini sudah diluar kemampuan yang kau miliki. Lepaskan dia. Jangan buat dirimu tersiksa seperti ini.”

Jessica lagi-lagi hanya bisa diam.

“Jess, jawab aku! Kau harus tegas untuk kali ini! Cukup! Aku tidak ingin lagi melihatmu seperti anak kucing yang kehilangan induknya yang diterpa hujan dan tidak makan selama berhari-hari. Kau harus buat keputusan sekarang juga. Jangan biarkan orang tidak berperasaan seperti itu memiliki hatimu. Ini sudah yang kesekian kalinya dan ini sudah sangat keterlaluan.”

Tiffany yang tidak bisa lagi menahan emosinya terpaksa harus berteriak dihadapan Jessica. Ini baru pertama kalinya selama jalinan persahabatan merka terajut dia berteriak seperti ini kepada Jessica.

Ini bukan karena apa-apa. Hanya Tiffany sudah tidak sanggup lagi melihat sahabatnya itu layaknya manekin yang dimanfaatkan laki-laki brengsek itu.

“Atau perlu aku yang datang menemuinya dan memberinya sedikit pelajaran?”

Jessica sontak mengangkat kepalanya dan menatap Tiffany dengan tatapan memohon.

“Tiff, aku mohon jangan. Jangan temui dia. Jangan kau. Ini masalah antara aku dan dia-“

Belum sempat Jessica menyelesaikan perkataannya, Tiffany kembali berbicara.

“Kalau begitu, besok temui dia. Bicarakan masalah ini. Selesaikan semuanya, maka kau akan merasakan arti kebebasan itu yang sebenarnya.”

Lalu Tiffany berjalan keluara ruangan tersebut tanpa menoleh ke belakang lagi. Jessica hanya menatap sedih punggung sahabatnya yang hilang dibalik pintu. Jessica terduduk dilantai. Badannya lemas. Pikirannya kacau.

Kata-kata Tiffany tadi terngiang kembali dikepalanya. Berputar begitu cepat seperti pita kaset.

Haruskah dia melakukan apa yang Tiffany katakan barusan?

Apakah sudah saatnya dia menyerah dan kalah atas perjuangannya selama ini?

Atau mungkin, inikah jalan menuju kemenangan untuk dirinya?

Pikiran Jessica masih bercampur aduk sampai akhirnya kedua tangannya meraih ponsel yang tadi dia lempar diatas sofa dan mengetikkan sebuah pesan kepada seseorang.

Setelah menekan tombol ‘SEND’, Jessica kembali melempar ponselnya sambil membenamkan wajah kusutnya dikedua tangannya.

Dan terdengar isakan keras gadis itu disertai getaran hebat tubuhnya.

***

“Aku tidak punya banyak waktu. Jadi, jika ada hal penting yang ingin kau bicarakan, katakan saja. Waktu yang aku punya saat ini terbatas.”

“Tenang saja. Ini adalah yang terakhir kalinya aku menyita waktumu, setelah itu kau tidak usah lagi repot-repot meluangkan waktumu yang sangat terbatas itu untukku.”

Baru saja laki-laki itu akan menyesap Americano hangat miliknya, cangkir putih itu ditaruhnya kembali diatas meja kayu bulat itu.

“Apa maksudmu?”

Gadis yang berada dihadapannya hanya tersenyum tipis.

“Kau adalah orang yang berpendidikan dan merupakan lulusan terbaik dibidangmu, masa hal seperti itu kau tidka mengerti? Aku ulangi sekali lagi, kau tidak harus lagi bersusah-payah meluangkan waktu yang kau miliki untukku. Dan itu sama artinya kita tidak usah bertemu lagi.”

“Maksudmu  we’re… Break up?”

Absolutely yes!”

Jawaban dari gadis itu sukses membuat laki-laki itu seketika pucat.

“Tapi kita sudah lama menjalan hubungan ini, Jess. Sudah hampir tiga tahun.”

Kali ini Jessica tertawa keras.

“Tiga tahun? Pantas saja selama ini kau tidak sadar berapa lama perbuatan kotor yang kau lakukan selama ini. Pantas saja sahabatku berteriak dihadapanku untuk membuatku sadar bahwa selama ini aku hanya mempertahankan sebuah hubungan yang benar-benar membuat aku semakin tua hanya untuk menunggu orang yang tidak tahu diri sepertimu!”

Laki-laki itu kini tidak hanya pucat. Laki-laki itu diam, kaku, dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Sementara Jessica masih asyik menyaksikan pemandangan dihadapannya, laki-laki itu menarik nafas lalu membuangnya dengan cepat.

“Jess, aku tidak mau kehilangan dirimu. Aku sangat mencintaimu, Jess. Pikirkan ini baik-baik.”

“Kau takut kehilangan karena mencintaiku atau takut karena akan kehilangan boneka Barbie yang selama ini setia memuja dan menunggumu dengan semua kelakuan kotor yang kau lakukan.”

“Tapi Jess. Aku benar-benar…”

“Cukup! Jangan katakan itu lagi. Perasaan yang selama ini sudah aku bangun dengan kokoh kau rusak begitu saja. Kepercayaan yang aku berikan kepadamu, kau anggap seperti pasir dalam genggaman tangan yang hilang disapu angin. Aku rasa semua yang aku berikan itu sudah cukup selama ini.”

Jessica yang mengucapkan semua itu dengan nada yang lembut namun cukup menusuk hati laki-laki itu. Setelah itu, Jessica berdiri hendak meninggalkan laki-laki yang ada dihadapannya yang sedari tadi hanya bisa terdiam-seperti yang dia lakukan dulu-tidak bisa mengelak. Apa yang dikatakan oleh gadis itu benar adanya.

“Baiklah. Tuan Choi Siwon terima kasih sudah meluangkan waktumu yang sangat terbatas itu. Oh, ya. Ada satu hal lagi yang ingin aku katakan kepadamu, aku bisa mengetahui semua affair yang kau lakukan selama lima tahun hubungan kita itu tidak usah kau permasalahkan. Semoga kau bahagia dengan kekasihmu sekarang. Dan ingat, lima tahun bukan tiga tahun. Itu waktu yang lama untuk membuat diriku menyadari semuanya. Walau ya… bisa dikatakan terlambat. Sangat sangat terlambat. Untuk terima kasih telah memberiku waktu yang cukup lama untuk menyadari segala perbuatan yang kau lakukan sebelum aku jatuh terlalu dalam.”

Setelah itu, Jessica berjalan keluar dari tempat itu meninggalkan Choi Siwon-laki-laki itu-yang masih tidak beranjak dari tempat duduknya.

Jessica tersenyum puas. Sambil berjalan ditengah keramaian orang-orang, Jessica mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya dan mengirimkan sebuah pesan singkat untuk seseorang.

Thanks, Tiff. Kau benar. Aku merasa bebas sekarang. Seperti burung yang terbang bebas dilangit.

Jessica tersenyum tanpa henti. Dia benar sudah memutuskan melakukan ini semua dan dia tidak akan pernah menyesal dengan semua yang telah dia lakukan hari ini. Dia sudah memikirkan ini semua dengan matang sejak kemarin setelah kedatangan Tiffany. Dia berterima kasih kepada sahabtnya itu dan juga kepada Tuhan yang sudah mengirimkannya sahabat seperti Tiffany.

Jessica juga sadar bahwa masih banyak laki-laki lain didunia ini yang lebih baik dari Choi Siwon brengsek itu.

Jessica juga yakin bahwa Tiffany pasti senang setelah membaca pesannya tadi.

“Jess! Jessica!”

Mendengar namanya dipanggil, Jessica membalikkan badannya mencari siapakah yang memanggilnya tadi.

Mata Jessica seketika membulat sempurna setelah menemukan siapa yang memanggilnya tadi.

“Lee Donghae!”

Lagi-lagi kedua sudut bibir Jessica membentuk garis lengkung yang cantik. Tapi kali ini lengkung yang menandakan bahwa dia harus memulai lagi membangun hatinya yang hancur.

Tentu saja tidak sendirian.

Mungkin dengan orang yang baru saja memanggil namanya yang terdengar seperti suara malaikat itu.

-END-

5 thoughts on “[FF Freelance] The New Born

  1. yeay~ jess bisa bangkit dari keterpurukannya dan tidak terus menerus diperdaya oleh siwon
    aku suka part endingnya, itu bener bener ‘the new born’
    nice ff..

  2. berhasil berhasil hore *aladora #hehe
    akhirnya berhasil move on juga nih si jessie
    salut buad jessie plus tiffany yang selalu ksh dukungan

  3. ternyata siwon yaa yg dapat bgian ‘antagonis’ y…..
    syang peminat couple haesica sedikit yaa….
    SUKA~
    DAEBAAAK~
    kpan2 oneshoot haesica yaa…

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s