Bloody School (Chapter 4)

bsc

Title : Bloody School (Chapter 4)

Author : DkJung

Main Cast :

  • [Miss A] Bae Sooji
  • [F(x)] Jung Soojung

Other Cast :

  • [15&] Baek Yerin
  • [GOT7] Im Jaebum
  • [A Pink] Oh Hayoung
  • [B.A.P] Choi Junhong
  • [EXO] Oh Sehun
  • [F(x)] Choi Jinri
  • [GOT7] Park Jinyoung
  • [15&] Park Jimin
  • [SNSD] Kim Taeyeon
  • [2PM] Jang Wooyoung
  • [Infinite] Kim Myungsoo

Genre : thriller, strictness, murder, horror, a little bit romance

Rated : Teen

Length : Chaptered

Disclaimer : terinspirasi dari novel ‘Bleeding Survivor’, tapi untuk chapter 4 dan seterusnya, idenya ngga aku ambil dari novel itu, melainkan berdasarkan imajinasi aku sendiri.

Summary :

Menjadi korban bullying di sekolah memang tidak enak, sangat. Itulah yang dialami yeoja malang, Bae Sooji. Hanya karena melakukan kesalahan yang seharusnya bisa diangggap wajar, teman-temannya tega membullynya habis-habisan dengan cara yang tidak wajar. Mereka tidak pernah tahu, kalau perbuatan mereka, akan ada balasannya. Mungkinkah, kematian? Apakah dengan cara yang wajar juga?

 

Chapter 1 . Chapter 2 . Chapter 3

 

“Chapter 4”

Soojung berjalan mendekati Jaebum dan Sehun dengan langkah perlahan. Sementara Jaebum dan Sehun justru berjalan mundur seiring dengan langkah Soojung.

Heokshi… kau yang membunuh Jinri dan Hayoung?!” tanya Jaebum yang panik seketika. Peluh dingin mulai mengalir di pelipisnya. Tapi pertanyaannya itu tidak mendapat jawaban dari Soojung.

“Hitungan ketiga kita lari,” bisik Sehun.

Mworagu?”

Hana… dul…set!”

Tanpa basa basi, Jaebum segera lari mengejar Sehun yang sudah mendahuluinya.

“Kau… tidak membunuh mereka?” tanya Sooji yang kini tengah duduk di pojok ruangan. Tangannya sudah tidak terikat lagi.

“Mungkin nanti, sekarang belum saatnya. Lebih baik kita singkirkan dulu mayat ini, sebelum membusuk.”

“…”

Wooyoung yang sedari tadi sedang sibuk mengawasi CCTV hanya bisa terpaku. Di hadapannya, di salah satu monitor yang menghubungkannya dengan CCTV gudang, sudah tergeletak mayat Junhong dengan keadaan kepala dan tangan yang terpisah dari tubuhnya. Darahnya yang segar menyiprat ke mana-mana.

“Lagi? Apa tidak ada yang bisa melihat pembunuhnya? Aku bahkan sudah sedari tadi duduk di sini dan memperhatikannya dengan seksama, bagaimana mungkin aku tidak melihatnya?” ucapnya frustasi.

CKLEK

Eottokheyo, Jang sonsaengnim?” tanya Taeyeon yang baru memasuki ruangan itu.

“Kau bisa lihat sendiri.”

Taeyeon memperhatikan monitor CCTV itu dengan seksama. Matanya pun membulat seketika saat tahu salah satu muridnya tewas lagi hari itu.

“…”

Sooji berjalan seorang diri menuju rumahnya. Hari sudah gelap. Jarak rumahnya sangat jauh dari sekolah. Baru beberapa langkah lagi dia akan sampai. Kepalanya terasa pusing, wajahnya bahkan terlihat pucat. Langkahnya sungguh lamban.

BRUK

Seorang lelaki yang kebetulan berjalan tidak jauh dari Sooji kaget melihat Sooji jatuh tergeletak. Lelaki itu segera belari menghampiri Sooji.

Ya, neo gwenchana? Ireonabwa! Ya!” serunya panik sambil mengguncang-guncang tubuh Sooji. Lelaki itu lalu memegang dahi Soojung, panas, batinnya.

Tanpa pikir panjang, iamenggendong Sooji di punggungnya lalu membawanya ke rumahnya.

“Kau harus bertahan!”

“…”

Sooji mengerjap-ngerjapkan matanya sebelum benar-benar membukanya. Dilihatnya langit-langit sebuah kamar yang berwarna putih. Sooji pun melihat ke sekeliling. Dia berada di sebuah kamar bercat putih. Tirai jendela kamar itu terbuka, sehingga udara pagi bisa masuk. Di kamar itu terdapat lemari, laci kecil, dua kursi dan satu meja di tengahnya. Di salah satu kursi, duduklah seorang lelaki berambut hitam yang masih terpejam. Sooji terlonjak. Lelaki?!

Sooji segera bangun lalu berdiri. Kepalanya masih agak pusing, namun dia tetap memaksakan diri untuk berjalan keluar dari kamar itu. Baru saja beberapa langkah.

“Aku mengunci pintunya.”

Suara berat seorang laki-laki menghentikan langkahnya. Sooji reflek menoleh.

Ne?”

Lelaki itu merogoh saku celananya. “Ini kuncinya. Apa kau sudah merasa baikkan? Kau mau pulang?”

Sooji hanya mengangguk pelan. Lelaki itu tersenyum hangat lalu berjalan ke arah pintu dan membuka kuncinya. “Kau boleh pulang.”

Baru saja Sooji mau berjalan keluar, perutnya tiba-tiba mengeluarkan suara yang membuatnya malu setengah mati.

Grryyuuukkk

Lelaki itu terkekeh pelan. “Suara apa itu?”

Sooji hanya menggigit bibir bawahnya karena tidak bisa menahan malu.

“Kalau kau berkenan, aku sudah membuat sup untuk dua orang.”

Sooji hanya tersenyum tipis lalu mengangguk. “Gamsahamnida.”

“Tidak perlu seformal itu.” Lelaki itu mengulurkan tangannya, “Aku Kim Myungsoo, aku tinggal di sebelah rumahmu.”

“…”

“Kau yakin tidak melihat siapa pembunuhnya?”

Untuk ke sekian kalinya pertanyaan itu dilontarkan Taeyeon kepada Sooji, dan hanya mendapat respon gelengan kepala untuk kesekian kalinya juga.

“Tapi hanya kau yang ada di tempat kejadian saat itu! Masa kau tidak melihat pelakunya tapi melihat kejadiannya? Kau pikir bisa membodohiku?”

“Apa aku harus berbohong agar kau percaya? Dengar ya, Saem, apa gunanya aku menutupi ini semua? Apa untungnya bagiku? Justru jika aku menutupinya, itu berarti kasus ini akan lama terungkap, dan kegiatan sekolah pun pasti terganggu oleh penyelidikan.”

Keunde, di CCTV, kau ada di sana, melihat jelas pembunuhan itu! Keunyang, CCTV itu tidak bisa menangkap bayangan si pembunuh! Jadi aku tidak bisa melihatnya, itu yang mau kutanyakan padamu!”

“Kenapa sonsaengnim berpikir aku melihatnya?”

“Kau tidak melihatnya?”

Sonsaengnim saja tidak melihatnya, kenapa aku harus melihtnya? Apa bedanya aku dengan Sonsaengnim? Kita sama-sama manusia, kan? Keurom, kenapa aku harus bisa melihat sesuatu yang memang tidak bisa dilihat manusia?”

Taeyeon hanya bisa terdiam mendengar penjelasan Sooji yang memang, masuk akal. Kalau pelakunya tidak terlihat olehnya, kenapa ia harus mengira kalau Sooji juga melihatnya?

Mianhae, mungkin aku terlalu memaksamu. Kalau memang kau tidak melihatnya, kenapa kau bisa setenang ini?”

“Memang kenapa aku bisa tidak tenang?”

“Kau ini bagaimana? Yang kau saksikan itu adalah mayat! Dan mayat itu adalah temanmu sendiri!”

“Teman?” Sooji menggeleng pelan, “Dia bukan temanku, Saem.”

“Apa maksudmu? Kalian kan dulu berada di kelas yang sama.”

“Apa Saem pikir kalau kami berada di kelas yang sama berarti kami berteman? Apa menurutmu hubungan kami sebagai teman satu kelas berjalan baik-baik saja, Sonsaengnim?”

Taeyeon mengerutkan dahinya. Ia kadang tidak mengerti dengan muridnya yang satu ini. Ia sangat berbeda dengan murid-murid lainnya. Sifatnya yang misterius dan sulit ditebak. Ya, setidaknya ia tidak seperti itu saat masih kelas satu. Taeyeon sendiri tidak mengerti, kenapa Sooji bisa sampai dijauhi teman-temannya itu?

“Apa kau berkenan untuk berbagi cerita dengan Sonsaengnim?” tanya Taeyeon.

Aniyo. Apa aku bisa pergi sekarang?”

Taeyeon hanya menghela nafas berat sebelum akhirnya memperbolehkan Sooji pergi.

“…”

Maldo andwae!” teriak Yerin setelah mendengar penjelasan Jaebum dan Sehun di kelasnya. Mereka kini tengah berkumpul di bangku Yerin, untuk menyelidiki kematian teman-teman mereka.

“Kau pikir kami berbohong? Aku dan Jaebum melihatnya dengan mata kepala kami sendiri, bahwa yang membunuh Junhong adalah Soojung! Dan aku yakin sekali bahwa ia juga membunuh Jinri dan Hayoung!” tegas Sehun.

Yerin terlihat masih tidak percaya. Ia menjambak rambutnya sendiri saking frustasinya.

“Sebenarnya apa maunya? Kenapa murid baru sepertinya bisa membunuh Jinri, Hayoung, dan Junhong?” tanya Yerin.

“Entah mengapa aku merasa Soojung tidak melakukannya sendirian. Apa kau sadar, Sehun-ah? Soojung bahkan menyelamatkan Sooji dari kami!” ucap Jaebum.

“Jadi maksudmu, Sooji bekerja sama dengan Soojung?” tanya Jinyoung.

“Mungkin?” ucap Jaebum sambil menyipitkan matanya dengan tatapan penuh selidik.

Huh, gadis itu pasti sudah gila!” ucap Yerin sambil menggaruk-garuk tengkuknya yang tdak gatal.

“Bagaimana kalau kita laporkan pada Sonsaengnim?” usul Jimin.

“Benar juga! Lagipula kalian berdua adalah saksinya!” ucap Jinyoung.

Sehun hanya mengangguk mendengar usulan Jimi. Sementara Jaebum justru kini terlihat berpikir. Entah kenapa ia tidak langsung menyetujui usulan Jimin. Ia masih merasa ada yang janggal dengan ini semua. Kalau memang Soojung yang melakukannya, bukankah seharusnya ia tertangkap CCTV? Tapi kenapa sampai sekarang pelakunya saja belum ditemukan? Ini aneh. Jaebum berpikir, mungkin, Soojung tidak ketahuan. Atau mungkin, CCTV belum dicek sama sekali? Tidak mungkin. Jaebum tahu bahwa di sekolahnya terdapat penjaga CCTV, bahkan kadang beberapa orang guru juga ikut mengawasi.

“Jaebum-ah, kenapa kau diam saja?” tanya Sehun.

Jaebum segera tersadar dari lamunannya. Ia hanya tersenyum ke arah teman-temannya lalu berjalan keluar kelas, membuat teman-temannya kebingungan.

“…”

BRAAKK

Sooji harus menahan sakit di punggungnya begitu Yerin, Jimin, Jinyoung, dan Sehun bersamaan membanting tubuhnya itu ke tembok dengan sangat keras. Tangan-tangan besar Sehun dan Jinyoung kini menahan kedua bahunya, menekan tubuhnya agar terus menmpel pada dinding. Sementara Yerin kini mulai melangkah maju mendekati Sooji.

“Dimana Soojung?” tanya Yerin sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

Sooji memutar kedua bola matanya sebelum memalingkan mukanya dari Yerin. Melihat hal itu, Yerin menampar keras pipi Sooji hingga meninggalkan bekas kemerahan. Karena sudah terbiasa, Sooji hanya diam tak berkutik. Ia lebih memilih diam, menerima dengan pasrah segala bentakan dan siksaan dari teman-temannya, daripada harus melakukan perlawanan yang pada akhirnya akan sia-sia.

“Jawab aku, paboya!” bentak Yerin yang terlihat kesal melihat reaksi Sooji.

Sooji berdecak kesal. “Memangnya kenapa kau bertanya soal dia padaku? Apa hubungannya denganku? Kau cari saja sendiri!”

Dengan kejamnya, Yerin kembali menampar Sooji di sisi lain pipinya.

“Kau pikir aku sebodoh dirimu, huh? Aku tahu kau dan dia bekerja sama untuk membantai kami! Kau pikir aku tidak paham dengan ini semua? Pertama Jinri, lalu Hayoung, dan sekarang Junhong! Kau pikir bisa membodohiku setelah melenyapkan teman-temanku, huh?”

Ah, jadi mereka temanmu? Aku kira hanya pesuruh,” ucap Sooji tanpa rasa takut.

Jimin, salah satu annggota geng Yerin yang tersisa tak bisa menahan emosi. Tanpa ragu ia juga ikut menyiksa Sooji dengan kembali menampar pipi gadis itu, membuat pipi yang sudah memerah itu semakin perih saja.

“Sebelum aku dan Yerin kehilangan kesabaran, labih baik kau beritahu kami dimana Soojung!” bentak Jimin yang kali ini sudah terpancing emosinya.

Mwo? Kehilangan kesabaran? Aku bahkan ragu orang-orang seperti kalian memiliki rasa sabar,” ledek Sooji. Kentara sekali bahwa ia tidak takut sama sekali pada Yerin dan teman-temannya.

Neo jinjja!” Jinyoung baru akan meninju wajah Sooji ketika tiba-tiba saja pukulannya meleset dan justru bergerak menuju tembok hingga buku-buku jarinya mengeluarkan darah segar karena berhasil membuat tembok itu rusak.

Jinyoung mengerang kesakitan begitu menyadari buku-buku jarinya itu mengeluarkan darah yang cukup banyak karena kulitnya yang robek-robek dan mengelupas. Bagaimana tidak? Setelah melihat kerusakan temboknya saja, rasanya sebanding dengan kerusakan tangan Jinyoung. Hanya saja, tidak masuk akal jika hanya dengan pukulan tangan manusia, tembok itu bisa sampai rusak parah.

Sooji spontan menarik kedua sudut bibirnya. Ia memiliki ide yang bagus. Setelah melihat apa yang terjadi pada tangan Jinyoung, ia kini tahu, dimana Soojung berada.

“Kalian masih mencari Soojung? Aku tahu dia di mana,” ucap Sooji sembari memasang seringai yang cukup membuat Sehun yang tadinya menahan bahunya itu bergidik.

Dengan santai Sooji menepuk kedua tangannya sebanyak empat kali lalu menghentak-hentakkan kakinya sebanyak dua kali. Tak sampai satu menit, sosok Soojung langsung muncul di antara manusia-manusia itu.

“Soo-Soojung?” ucap Yerin yang masih tak percaya melihat munculnya Soojung yang tidak seperti manusia itu.

Bukan hanya Yerin, Jimin, Jinyoung, dan Sehun pun hanya bisa menganga melihat Soojung yang tiba-tiba menampakkan dirinya, tanpa terdengar langkah kaki layaknya manusia.

“Kenapa kalian begitu terkejut? Bukankah kalian mencariku?” tanya Soojung, seolah tidak melihat ekspresi Yerin dan teman-temannya yang mulai ketakutan.

“Kau ini sebenarnya apa? Bagaimana bisa kau tiba-tiba muncul dengan cara seperti itu?” tanya Jinyoung yang masih memegangi tangannya yang sudah bersimbah darah segar.

“Tidakkah tanganmu itu sudah menjadi bukti kedatanganku? Kalian saja yang tidak menyadarinya.”

Ya! Apa yang sebenarnya kau bicarakan? Bicaralah yang jelas!” teriak Yerin.

Soojung hanya menyeringai. Hening sejenak. Namun, keheningan itu tak bertahan lama begitu tubuh Jinyoung terangkat sampai ke langit-langit koridor sekolah yang sedang sepi itu. Sontak Yerin, Jimin, dan Sehun langsung membulatkan bola mata masing-masing, melihat tubuh teman mereka yang kini diputar-putar lalu dipukul-pukulkan pada tembok. Anehnya, tembok itu tidak mengalami kerusakan sama sekali, berbeda dengan tubuh Jinyoung yang mulai menghasilkan lebam-lebam di daerah tangan dan kaki, juga luka-luka yang mulai terbuka di daerah pelipis.

“Jung Soojung, keumanhae! Neo micheoseo?!” teriak Jimin yang terlihat tak sanggup melihat Jinyoung diperlakukan sekasar itu. Lebih dari kasar, hal ini, tidak manusiawi.

Seolah tak mendengar teriakan Jimin, Soojung menjatuhkan tubuh Jinyoung ke lantai cukup keras, dengan posisi lutut kanannya yang mendarat terlebuh dahulu, menyebabkan tulang tersebut patah. Hal ini diluar logika, melihat Soojung yang hanya diam, tidak bergerak sama sekali, tetapi ia bisa menggerakkan tubuh Jinyoung sesukanya, tanpa harus menyentuhnya.

Setelah membuat tulang kaki kanan Jinyoung patah, Soojung merobek pelipis kanan Jinyoung hingga mengeluarkan cairan merah pekat. Sebelum menyelesaikan permainannya, Soojung melirik ke arah Yerin, Jimin, dan Sehun yang terlihat membeku, seolah terhipnotis oleh permainannya.

“Apa kalian akan menunggu sampai tubuh teman kalian hancur tak berbentuk?”

“…”

TUK TUK TUK

Taeyeon yang kebetulan duduk di bangku guru yang paling dekat dengan pintu ruang guru langsung menoleh dan mendapati Jaebum di sana, sedang berdiri menatapnya.

“Im Jaebum?”

Jaebum hanya terdiam sambil melangkah memasuki ruang guru. Ia lalu membungkukkan badan sebelum akhirnya berbicara.

“Tadi aku tidak melihat kepala sekolah di ruangannya, jadi aku ke sini, Saem.”

Keunde, wae geurae?”

“Apa Sonsaengnim sudah tahu, siapa pembunuh Junhong?”

Taeyeon hanya mengerutkan dahi lalu menggeleng pelan.

“Aku tahu, siapa yang membunuhnya, Saem.”

To be continued…”

 

Maafkan aku yang sudah terlalu lama mengabaikan ff ini selama hampir 6 bulan, maaaaaaaaafffff banggetttt maaf maaf maaf!

Yang namanya kena writer’s block, author mana sih yang mau? Rasanya tuh ngga enak, ngga punya ide buat nerusin ff, huhuhu T_T

Tapi akhirnya aku bisa update ff ini setelah sekian lama /nangisdidepanreader/

Sebagai catatan : munculnya myungsoo di ff ini bukan berarti bakal banyak romance, aku malah ngga yakin bakal ada romance di ff ini, karena menyesuaikan sama genre ff, tapi aku harap readers ngga kecewa ya.

Maaf kalo masih ada typo, dan maaf kalo kependekan. Di chapter 5 nanti, aku usahain bakal lebih panjang.

Aku harap, kalian masih berkenan untuk meninggalkan komentar sebagai bentuk penghargaan karena aku udah berhasil melanjutkan ff ini, terimakasih^^

 

21 thoughts on “Bloody School (Chapter 4)

  1. hueee akhirnya FF ini update juga :”)
    Itu udah mau ketauan? Terus kenapa ada Myungsoo?
    Ah, next chap nya ditunggu! 😄

  2. Huaaaa!!!! Akhirnya muncul juga nih ff setelah sekian lama menunggu..
    Itu Soojung nyiksanya kurang sadis deh..(Nah lho..readers yang kejam..-_-)
    Asikk Myungsoo ada di ff ni
    Next chapt jangan lama-lama ya..^^

  3. Di tunggu kelanjutanx thor, hmm knapa q rsa guru kim taeyeon spertix ada hubx deh dgn soojung, gitu jga myungsoo

  4. wuih, daebak!! jaaan, bener bener ngefeel ceritanya.. apali horornya, bikin deg degan pas baca.
    yes! myungzy ❤
    semoga myungzy jadi bumbu dan pewarna/? di tengah kehororan #ngomong apasih
    next part thor~~~~~~

  5. Akhirnya ff ini update juga , padahal udah pututs asa gara” ff ini ga update” .
    Sampe” mampir dibloq ini buat tau ff ini dilanjutin .
    Dikirain bln desember bakal dilanjtin ternyata bru skrg .
    Tapi keren thor (y)
    Ah penasaran , lanjut thor .
    Please keep writing thor 🙂

  6. . Keren,, inii sadis bgt tau gak?

    . Tpii aku rasa kecepetan miin,,, 😀
    . Di tunggu Yoo, next’a…..

  7. Oh? Myungsoo muncul? Omo! Thor, kasiin romance dong. Dikit aja buat mereka, yah buat penghilang rasa ngeri aja gitu kekeke~ *abaikan* 😀
    Eh, myungsoo itu disitu usianya bpr? Seumuran dgn Zy eon atw mungkin seumuran soojung? Dia bukan pacarnya soojung dlu kan? Aigo, penasaranku udah tingkat akut thor 😀 *kepanjangan ya?*

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s