[FF Freelance] Because My World Is You

3. Because My World is You

Author                    : Luhoney77

Main Cast              : Lee Junho (2PM) & Kim So Eun (Actress)

Supporting Cast  : Ok Taecyeon (2PM) & Meng Jia (Miss A)

Genre                       : Life, Romance lil’ bit.

Lenght                      : Oneshot

Author                      : Luhoney77 (@chikacharlotte)

Poster by                 : ansrswt

Desclaimer              : Hello everyone.. Ini FF ketigaku, di tengah jadwal padat dan 2 minggu menjelang UN ini aku sempet nyelesain FF ini, maklum bosen di depan buku mulu (curhat). Well, FF kali ini terinspirasi dari cerita salah satu tamu di Hello Counselor entah episode berapa kurang inget. Story line 100% dari otak aku, cast belongs to their agency u,u. Enjoy reading dan jangan lupa leave komennya. Saranghaeyo yeorobuunn.

 

 

“Kau seram! Kau seperti monster! Pergilah, aku tidak mau main denganmu.”

“iih, menjijikan sekali, jangan mendekat.”

“kau membuatku takut, menyingkir.”

Perkataan-perkataan seperti ini yang membuat aku memutuskan untuk berhenti pergi ke sekolah ketika aku memasuki tahun ke 2 ku di sekolah menengah pertama, bukan berarti aku tidak melanjutkan pendidikanku. Ayahku seorang pengusaha dan ibuku seorang professor, dari profesi mereka kalian bisa menebak bahwa aku berasal dari ‘well-build’ family. Ya, kalian benar, dan itulah sebabnya orang tuaku mampu menggaji guru-guru privat untuk membantuku melanjutkan pendidikanku di rumah.

Namaku Lee Junho, aku seorang lelaki berusia 23 tahun yang tinggal di Incheon, salah satu distrik besar di Seoul. Aku baru saja di terima untuk kerja part-time di salah satu café besar di Seoul. Kalian mungkin bertanya, mengapa aku harus repot-repot bekerja sambilan, padahal aku berasal dari keluarga yang dapat di katakan lebih dari berkecukupan.

Well, tidak lama ini aku pergi meninggalkan rumah, peristiwa klasik yang hampir setiap anak lelaki keluarga kaya lakukan. Namun sepertinya alasanku sedikit berbeda dengan anak lelaki lainnya. Seperti yang aku sebutkan sebelumnya bahwa aku mulai berhenti pergi ke sekolah di tahun ke 2 sekolah menengah pertama, saat itu usiaku 13 tahun, dan sejak saat itu pula aku tidak pernah melihat bagaimana dunia luar. Ketika aku memutuskan untuk meninggalkan rumah, saat itu pula aku sadar bahwa aku harus mampu menghadapi dunia yang telah aku hindari selama 10 tahun.

***

                Hari ini merupakan hari normal yang sangat sibuk seperti biasa, semuanya berjalan sangat lancar.

“Junho-ah, antarkan pesanan meja nomor 9.”

“Ne.”

“Junho-ah, jangan lupa kau bersihkan meja nomor 23 yang sudah kosong.”

“Ne.”

“Junho-ah, customer di meja nomor 4 meminta piring tambahan.”

“Ne.”

Hingga aku membuat satu kesalahan bodoh. Ya, itu kesalahanku, sepertinya…

“LEE JUNHO! AKU MEMANGGILMU SEJAK TADI! KAU TULI?” nyonya hwang manager café tersebut memanggil aku sejak aku mengantarkan pesanan meja nomor 9 rupanya, dan aku sama sekali tidak mendengarnya, tidak karena ia memanggilku dari sebelah kanan.

“Maafkan saya nyonya Hwang, saya tidak mendengarnya.”Jawabku sangat menyesal.

“Bandana yang kau gunakan menutupi telingamu, mana mungkin kau bisa mendengar! Lepas dan gunakan bandana itu dengan benar, sesuai ketentuan seragam pekerja.”Ucapan nyonya Hwang membuatku sangat terkejut.

Aku terdiam, tidak bisa melakukan apa yang nyonya Hwang perintahkan, kemudian tertunduk karena aku bisa merasakan pipiku memerah.

Setelah terdiam cukup lama, aku di kejutkan oleh tangan nyonya Hwang yang dengan sigap membuka ikat bandanaku.

IGE MWOYA (What is this)?” aku bisa mendengar suara terpekik pekerja wanita juga desisan jijik dari pekerja lainnya.

Neo (You)?” nyonya Hwang berkata dengan suara tercekat setelah awalnya terpaku setelah melepas bandanaku.

***

                “Mianhae (I’m sorry) Junho-ah, aku tidak bisa melakukan apa-apa, ini keputusan dari pemilik café ini. Beliau mengatakan kalau beliau banyak mendapat protes dari customer. Kau tahu, kau sudah bekerja dengan sangat baik selama 2 bulan ini. Hanya saja, para customer…” Nyonya Hwang tidak bisa melanjutkan perkataannya, dan aku sudah sepenuhnya mengerti apa yang akan ia katakan.

Gwenchanayo (It’s alright), nyonya Hwang. Saya sangat berterimakasih, nyonya dan teman-teman pekerja lainnya mau menerima saya selama 2 bulan ini. Wajar sajalah nyonya, jika para customer mengeluhkan saya, mengingat keadaan saya yang seperti ini.”Jawabku tulus.

Mianhae (I’m sorry) Junho-ah, nomu mianhae (I’m so sorry).”Ucap nyonya Hwang kemudian memberikan amplop yang berisi upah terakhirku.

Lagi, niatku untuk mencoba menghadapi dunia berakhir dengan aku kembali memasuki ruangan pribadiku yang cukup luas, namun sangat gelap, sepi, dan dingin.

Malam ini ibuku menelepon dan menanyakan apakah semuanya baik-baik saja, well, meskipun aku meninggalkan rumah, ibuku tetap rajin menghubungiku, aku sengaja tidak mengganti nomor ponselku, tidak ingin membuatnya khawatir. Aku mengatakan segalanya berjalan dengan baik. Seperti yang aku katakan tadi, aku tidak ingin membuat ibuku khawatir, dan aku rasa semuanya akan berjalan baik, untuk sementara waktu.

***

                Setelah kejadian di café itu, aku memutuskan untuk tidak lagi mencoba berani menghadapi dunia, karena aku pikir dunia belum dapat menerimaku.

Selama kurang lebih 8 bulan aku sama sekali tidak pernah melangkahkan kakiku keluar apartment. Kalian mungkin penasaran bagaimana rasanya hidup seorang diri selama 8 bulan tanpa menjejakkan kaki keluar apartment. Well, aku sarankan jangan mencobanya, karena rasanya sangat tidak nyaman. Aku sering menangis di malam hari, menyesali keadaanku, menyalahkan orang tuaku karena aku terlahir seperti ini, dan marah kepada Tuhan yang telah menciptakanku seperti ini. Aku kesepian, sangat kesepian, namun aku berusaha menghilangkan rasa sepiku dan menyalurkannya melalui music.

Aku mencintai music, begitu mencintainya, aku rasa lebih dari rasa sayangku pada kedua orang tuaku yang telah melahirkanku seperti ini. Aku kejam, mungkin kalian tidak akan berkata seperti itu jika kalian berada di posisiku, karena memang kenyataannya, hanya music yang menghiburku ketika aku bosan dengan hidupku, dan merasa tidak sanggup lagi menjalaninya. Sebagai manusia yang terlepas dari keadaanku yang kurang, dapat dikatakan normal, aku memiliki cita-cita menjadi penyanyi. Baiklah, mengatakan hal ini sangat membuatku ingin tertawa, karena tidak ada agency yang mau menerima seorang laki-laki sepertiku, aku hanya bisa bernyanyi dan mencintai music, tetapi kekurangan pada tubuhku membuatku tidak terjual di insutri music.

***

                Hari ini Taecyeon, teman lamaku, temanku yang paling setia selama 10 tahun, sejak di bangku sekolah menengah pertama, menghubungiku.

“Ayolah, aku mohon, aku merindukanmu. Apa kau tidak merasa pengap berada di ruangan apartment mu?” ucapnya.

Taecyeon mengajakku bertemu setelah 10 tahun kami berpisah dan hanya berhubungan lewat email dan telepon. Aku tahu, maksudnya mengajakku bertemu di luar apartment ku adalah supaya aku bisa kembali berani menghadapi dunia.

“mm.. baiklah. Aku akan segera kesana.”Jawabku setelah berpikir dan terdiam cukup lama.

Assa (Yes). Berpakaianlah yang rapih.”Tambahnya sebelum menutup sambungan telepon.

Aku masih ragu untuk pergi menemuinya atau tidak. Di satu sisi, aku sangat ingin menemuinya, teman terbaik yang sudah lama tidak pernah aku jumpai. Di sisi lain, tdak dapat kupungkiri, aku masih sangat takut menghadapi dunia, aku takut dunia akan kembali memperlakukanku dengan kasar, dunia akan mencibirku, aku takut dunia belum siap menerimaku.

***

Aku memutuskan untuk pergi dan menemui Taecyeon, dan aku sangat terkejut ketika melihat ia duduk dengan 2 orang wanita, aku mengenali seorang wanita yang berada di sampingnya, ia adalah kekasih taecyeon sejak 4 tahun lalu, ia mengenalkannya padaku melalui video chat, tapi aku tidak tahu siapa gadis yang ada di hadapan Taecyeon.

Dengan penuh keraguan dan jantung yang berdegup begitu kencang, aku membenahi hoodieku, memastikan bagian kanan kepalaku tertutup dengan benar, aku berjalan menghampiri mereka bertiga.

Wasso (You come)?” Taecyeon menyapaku dengan lambaian tangan, kemudian berdiri dan menghampiriku.

Aku hanya mengangguk.

Mwoya ige (What is this)? Bukankah aku sudah memintamu untuk berpakaian yang rapi, kenapa kau datang dengan menggunakan celana training?” tanyanya, ia tidak memprotes hoodie yang aku gunakan, ia tau alasannya, ia benar-benar teman terbaikku.

“Kau tidak menyebutkan Jianoona di telepon, kau berkata kau merindukanku, aku pikir aku hanya akan bertemu denganmu.”Jawabku berbisik di telinganya.

“Ahaha. Iya. Ayolah duduk dulu.”Jawabnya dengan tawa keras khasnya, kemudian mendudukkanku di samping gadis itu.

Annyeong (Hello) Junho-ya, orenmaniya (It’s been a while).” Jia noona, kekasih Taecyeon menyapaku.

Anyyeong noona (Hello sist). Ne, orenmaniya (Yes, It’s been a while). Jjaljinaeseo (are you doing well)?” jawabku.

Ne, jjaljinaeseo (Yes, I’m doing well). A, Junho-ya, kenalkan ini temanku, Kim Seo Eun. Seo Eun-ah, dia Lee Junho.” Jawab Jia noona, kemudian memperkenalkanku pada gadis yang sedari tadi aku rasa terus memperhatikanku.

Annyeonghaseyo (Hellom), Kim So Eunimnida (I’m Kim So Eun). Senang berkenalan denganmu.”Ucapnya, kemudian mengulurkan tangan dan tersenyum begitu indah.

Ne, annyeonghaseyo (Yes, Hello), Lee Junhoimnida (I’m Lee Junho). Senang berkenalan denganmu.” Jawabku menerima jabat tangannya.

Sungguh, aku ingin membalas senyumnya, namun aku seolah lupa bagaimana cara tersenyum, sehingga aku hanya memalingkan wajahku setelah menjabat tangannya. Aku rasa aku terlihat begitu kejam, karena Taecyeon memelototiku ketika aku menghadapnya. Aku hanya mengendikkan kepalaku seolah aku tidak mengerti apa yang ia maksud.

Kami berbincang cukup lama, mereka lebih tepatnya, karena aku hanya berbincang sedikit dengan Taecyeon, dan sedikit menjawab jika mereka mengajukan pertanyaan padaku.

“Sebenarnya maksud lain aku mengajak kalian datang kesini adalah, ini.” Taecyeon kembali berkata dan mengeluarkan 2 buah amplop merah maroon untuk ku dan So Eun, setelah kami meminum minuman kami masing masing.

“Wuaa.. kalian akan menikah rupanya. Chukkae (Congratulation)Taecyon-ah, noona.”Ucapku.

“Kau beruntung noona, kau memilih laki-laki yang tepat. Aku yakin dengan jaminan seluruh jiwaku, kau tidak akan pernah menitikkan air mata kecuali air mata kebahagiaan jika kau hidup dengannya.”Lanjutku tulus. Benar, Taecyeon adalah lelaki yang baik, begitu baik, dan aku tahu ia sangat mencintai Jia noona.

“Ooo.. apa yang kau inginkan Lee Junho?” ucapnya. Selalu saja, sejak dulu ia memang senang sekali merusak suasana haru maupun romantic.

“aish, selalu saja kau ini…”

“Junho-ya, datanglah bersama So Eun, ia juga akan menjadi orang yang beruntung bisa datang ke acara pernikahan kami bersama namja (man) tampan sepertimu.” Jianoona memotong ucapanku.

Aku terkejut mendengarnya, untuk datang ke acara mereka saja, aku perlu mengumpulkan segudang keberanianku, mana mungkin aku bisa datang bersama gadis cantik seperti So Eun.

“Aku…”

“Aku akan menjemputmu. Akan kuhubungi lagi kau nanti. Aku pergi dulu, terimakasih minumnya unnie, Taecyeon-ah. Aku duluan Junho-ah.”Ucap So Eun memotong perkataanku, kemudian beranjak dari kursinya, dan pergi meninggalkan kami bertiga.

“Kalian gila?” ucapku segera setelah pintu café tertutup.

“Tidak, kami waras, 100%.”Jawab Jia noona.

“Oh, ayolah Junho-ah, dia gadis yang baik, dia masih sendiri, baru saja menyelesaikan studinya di oxford. Bukan kandidat yang buruk untuk kau jadikan kekasih bukan?” tambah Taecyeon.

Apa yang baru saja temanku ini katakan? Sepertinya ia benar-benar gila. Aku? Kekasih? Oh yang benar saja.

“Kau tahu Taecyeon-ah? Gadis biasa saja berteriak ketakutan dan memintaku pergi dari hadapannya ketika ia mengetahui keadaanku, kau tidak berpikir bagaimana ia akan bereaksi ketika melihat keadaanku. Berhenti bermain main denganku.” Aku menjawab dengan nada kasar kemudian beranjak pergi meninggalkan café.

***

                Aku melepas headphone yang sejak 3 hari lalu tidak pernah lepas dari telingaku. Aku sedang menulis lagu. Hanya itu yang bisa aku lakukan ketika perasaanku sedang buruk. Aku mengecheck handphoneku dan mendapati 31 panggilan tak terjawab. 14 panggilan dari Taecyeon, 16 dari ibuku, dan 1 nomor asing. Aku juga melihat terdapat 5 pesan belum terbaca. 2 pesan dari ibuku yang menanyakan keadaanku, 2 pesan dari Taecyeon yang berisi penyesalan dan permintaan maaf, 1 pesan dari nomor asing yang juga melakukan panggilan yang tidak terjawab olehku.

‘Lee junho, ketika kau membaca pesan ini, aku akanada di depan apartmentmu.’

Hah, lucu sekali. Orang bodoh macam apa yang masih melakukan terror di jaman sekarang ini.

‘ting tong’

Bel apartmentku berbunyi tepat setelah aku meletakkan handphoneku. Menakutkan, benar-benar menakutkan. Aku tidak memesan apapun hari ini, aku juga tidak pernah bergaul dengan tetangga di gedung ini. Jadi, hanya ada 1 kemungkinan baik dan 2 kemungkinan buruk. Kemungkinan baiknya adalah Taecyeon datang untuk meminta maaf padaku. Sementara kemungkinan buruk yang pertama ibuku datang untuk memastikan keadaanku, atau yang kedua peneror yang mengirim pesan singkat padaku benar-benar datang ke apartmentku.

Awalnya aku mencoba mengabaikan bunyi bel tersebut. Namun kemudian aku dikalahkan oleh rasa penasaranku karena orang yang saat itu berada di depan apartmentku terus menerus menekan bel tersebut. Aku menekan tombol cctv untuk memastikan siapa yang terus memaksa menekan bel pintuku. Dan aku benar-benar terkejut mendapati orang tersebut melihat tepat pada cctvku dengan menunjukkan ponselnya. Kau tahu, ini adalah scenario terburuk, lebih buruk dari kedua kemungkinan terburuk yang telah aku sebutkan. Aku memasang hoodie dan membuka pintu apartmentku.

Well.”Ucapku.

“Sopan sekali, membiarkan seorang nona muda menunggumu membukakan pintu selama 30 menit lebih.” Mengomel, itu yang ia lakukan pertama kali ketika memasuki ruanganku.

Aku mempersilahkannya duduk, kemudian menyiapkan minuman. Apa kalian berpikir aku akan bingung dan terburu-buru merapikan ruanganku ketika ia masuk? Maaf, kalian salah, aku tipe orang yang sangat mencintai kebersihan, ruanganku bahkan mungkin lebih bersih dari ruangan nona muda yang ada di hadapanku sekarang ini, jika aku melihat dari gayanya berbicara, dia orang yang berantakan, meskipun cantik.

“Bagaimana…”

“aku bisa tahu nomor ponselmu dan apartmentmu?Taecyeon dan Jia, ingat? Mereka temanku juga.”Di memotong pertanyaan yang bahkan belum aku selesaikan.

Aku terdiam, kemudian.

“Aku datang kemari untuk memastikan kau akan datang ke acara pernikahan Taecyeon dan Jia minggu depan.”Ucapnya memecah keheningan di antara kami.

“Tidak semudah itu, aku mungkin akan datang di acara after party, atau aku akan mengunjungi rumah mereka saja.” Jawabku sambil terus menyibukkan diri dengan menyiapkan minuman untuknya.

“Aku pikir kau dan Taecyeon adalah teman dekat.”

“Oleh sebab itu, aku bisa datang kapan saja aku mau, karna kami teman dekat.” Jawabku datar.

“Oh Tuhan, kau ini bodoh atau bagaimana? Kau tahu, pernikahan itu hanya terjadi sekali seumur hidup, Taecyeon akan sangat kecewa jika ia tidak menjumpaimu di inti acara pentingnya tersebut.”

Aku terdiam, meletakan secangkir moccha latte di meja di hadapannya.

“kau bahkan tidak bertanya minuman apa yang aku inginkan. Sudah sebegitu lama kah kau tidak menghadapi manusia?” ucapnya singkat.

Aku tidak menjawab dan segera menghentikan tangannya ketika ia mengangkat cangkir akan meminumnya.

Ya (Hey)!” teriaknya.

“Sopan sekali berteriak di hadapan orang asing yang baru kau kenal, datang dan masuk seenaknya ke dalam apartmentnya. Kau sama sekali tidak memiliki sopan santun nona muda, bahkan berani menanyakan apakah aku sudah lama tidak menghadapi manusia. Seharusnya aku yang bertanya, tingkahmu begitu kasar, kudengar kau lulusan oxford university, apakah ini yang kau dapat di universitas besar yang sangat terkenal dengan sopan santunnya itu?” Aku sudah tidak bisa menahannya, aku meledak, perkataannya terlalu menusuk perasaanku.

Kami terdiam, So Eun hanya melihatku dengan pandangan terkejut. Aku merasakan tangannya bergetar, aku melepaskan genggamanku yang aku rasa terlalu erat karena aku melihat bekas merah pada pergelangan tangannya setelah aku melepasnya.

“Aku memang tidak seharusnya datang kemari, ini semua salahku, tidak seharusnya aku meminta Taecyeon mempertemukanku denganmu, kau terburuk.” Ia berkata dengan suara bergetar, aku melihat matanya memerah, kemudian ia pergi meninggalkan apartmentku.

Aku terdiam melihatnya pergi, ucapannya masih terngiang di telingaku “tidak seharusnya aku meminta Taecyeon mempertemukanku denganmu..” tapi apa maksudnya, kenapa ia ingin Taecyeon mempertemukannya denganku?

Aku sempat berpikir untuk mengejarnya, tapi aku mengurungkan niatku, aku merasa aku tidak perlu lagi berurusan dengan gadis bernama So eun itu.

***

                “Akhirnya kau datang, aku pikir kau tidak akan menampakkan diri.” Taecyeon berdiri dan memelukku ketika aku datang dan mengucapkan selamat kepadanya.

“Awalnya aku memang ingin datang saat after party, hanya saja..” aku tidak melanjutkan ucapanku melainkan melihat kesekeliling taman tempat acara ini di langsungkan.

“A, So eun? Di belum datang Junho-ya, semenjak seminggu lalu, kami tidak bisa menjangkaunya. Terakhir ia memberitahu kami bahwa ia sedang dalam perjalanan menemuimu. Apa ia datang ke apartmentmu? Karena dia kau datang? Tapi kemana gadis itu sekarang?” Jia noona menjawab kemudian melakukan hal yang sama sepertiku, melihat ke sekeliling taman mencari sosok So Eun.

“ng, aku datang karna dia, noona.” Ucapku setelah mengumpat dalam hati karena tidak bisa menemukan sosok yang telah membuatku bersalah dan akhirnya memutuskan untuk menampakkan diri di acara penuh manusia ini.

“kau terlihat tampan dengan tatanan rambut seperti ini.” Ujar Taecyeon menyentuh rambutku.

“Hentikan, jika kau tidak ingin melihat aku pergi sebelum acara ini selesai.” Ucapku sinis. Aku memang memutuskan untuk membiarkan rambutku tumbuh sedikit lebih panjang dari seharusnya, karena aku tidak ingin datang ke acara ini dan menjadi pusat perhatian karena hoodie, bandana, atau headphone yang aku gunakan, bukankah akan sangat aneh jika menggunakan benda-benda itu di acara seperti ini.

A~rasoo.. (Okay).. well, karena sekarang kau sudah disini bagaimana jika kau menyanyi, sebagai hadiah pernikahan kami.” Taecyeon berkata di sambut dengan anggukan antusias dari Jia noona. Cuaca hari ini cukup berangin, sebenarnya aku ingin duduk diam di tempat dimana tidak ada manusia yang bisa memperhatikanku, namun melihat mereka begitu bahagia hari ini dan aku tidak ingin merusak suasana ini, aku memutuskan untuk menuruti keinginan mereka.

Aku mengangguk, kemudian berjalan menuju tempat dimana tersedia sebuah gitar, kursi, dan mic yang awalnya di gunakan penyanyi yang mereka sewa. Saat aku sedang melakukan tune-up gitar yang akan aku gunakan, tiba-tiba angin berhembus kencang dan menyibakkan rambutku yang sejak awal menutupi sisi kanan kepalaku.

Aku mendengar beberapa tamu undangan terpekik ketika rambutku tersibak.

“Dia tidak bertelinga.” Ucap salah satu tamu undangan.

Seketika suasana menjadi sangat dingin, dan aku bisa merasakan semua mata tertuju padaku. Taecyeon dan Jia noona terlihat sangat cemas, bahkan Taecyeon hampir turun dari kursi mempelai, namun aku memberinya tatapan sinis kemudian memberi senyuman mencoba menenangkan mereka.

Aku berusaha tidak menghiraukan keadaan di sekitarku, aku memejamkan mata, dan mulai melantunkan lagu milik Baek Ji Young yang berjudul ‘Again, I Love you’ karena aku rasa lagu itu akan sangat menggambarkan apa yang taecyeon selalu rasakan pada Jia noona. Juga apa yang saat ini sedang aku rasakan.. ya, aku merasakannya.

Aku menyelesaikan penampilanku dan membuka mata, awalnya semua tamu undangan masih tetap terdiam dan memandangku, hanya saja aku merasa pandangan mereka terhadapku berubah, tidak lagi seperti sesaat sebelumnya ketika mereka mengetahui aku tidak memiliki daun telinga di sisi kanan kepalaku, aku tidak mengerti pandangan apa yang mereka berikan, yang aku tau itu hangat. Kemudian aku mendengar tepukan dari arah pelaminan, Taecyeon dan Jia noona memberi tepuk tangan dengan sangat bersemangat, aku bisa melihat mereka tersenyum sangat lebar, Kemudian setiap tamu undangan berdiri dan bertepuk tangan.

Aku tersenyum, untuk pertama kalinya aku tersenyum kepada manusia asing yang aku temui. Dan untuk pertama kalinya, semua manusia asing yang ada di hadapanku juga tersenyum tulus, bahkan beberapa dari mereka menjabat tanganku.

Jadi, keputusanku untuk datang adalah benar, dan keputusan gadis itu.. ya, dia seharusnya benar, dan aku membuatnya menyalahkan dirinya sendiri.

***

                “Hey, Trendsetter Lee Junho. Kau terlihat semakin tampan saja.” Taecyeon datang dengan sangat bising memasuki studio rekamanku, membawa beberapa bungkusan yang aku tau itu pasti makanan dan oleh-oleh.

YAAAAAA (HEEYYY)!!!!!!” aku berlari keluar menanggalkan headsetku.

Pogosipo ya (I miss you hey)! Ok appa (Daddy Ok).” Ucapku terbahak kemudian memeluknya.

“junho-yaaa….” Jia noona berteriak kecil ketika memasuki studio, bersama mainan, maksudku bayi lucu di gendongannya.

noona..” aku beralih memeluknya.

“Ya Tuhan, dia seperti boneka. Syukurlah dia memiliki kulit ibunya, aku tidak bisa membayangkan jika ia memiliki kulit cokelat seperti ayahnya.” Ucapku sambil mengusap bayi yang ada di gendongan Jia noona.

Kami bertemu kembali setelah 3 tahun, Taecyeon dan Jia noona pergi dan menetap di Venice seminggu setelah pernikahan mereka. Sekarang mereka memutuskan untuk kembali setelah Taecyeon berhasil menyelesaikan proyek besar di Venice.

“Tidak ada tempat yang lebih baik untuk membesarkan bayimu kecuali di negara asalmu.” Ucapku.

“makanya, segeralah menikah dan besarkan bayimu sendiri.” Ucap Jia noona.

“ya, segera noona, dan akan aku pastikan bayiku lebih cantik dari bayimu.” Jawabku tersenyum.

“Kapan So Eun akan kebali?” Tanya Taecyeon.

“Segera, setelah fashion week di Fullham berakhir.” Jawabku.

“Tolol, coba saja kau sedikit lebih peka, kau tidak harus menunggu dia kembali dari Fullham seperti ini kan.” Ucap Taecyeon.

“Tidak juga, menjadi pengamat design merupakan mimpinya, misal aku mengetahui siapa dia di pertemuan kami 3 tahun lalu pun, dia akan tetap pergi melanjutkan studinya kan?” Jawabku.

*Flashback*

Usai acara pernikahan Taecyeon dan Jia noona, aku bergegas menuju Incheon International Airport setelah memperoleh pesan dari So Eun.

‘Junho-ya, aku mungkin sudah ada di dalam pesawat ketika kau membaca pesanku. bertemu dengan mansusia asing, tidak seburuk yang kau kira bukan? Tidak ada manusia yang sempurna Junho-ya, setiap manusia memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing, dan kau, terlepas dari kekurangan yang kau miliki, kau tetap memiliki paras menawan dan suara indah yang bisa membuatku jatuh cinta sejak 18 tahun lalu. Mulai saat ini, cobalah lebih banyak bergaul. Annyeong. Keke~’

Aku ingat, So Eun adalah gadis yang pernah melempari anak yang memanggilku dengan sebutan monster dengan pasir di taman bermain 18 tahun lalu. Aku tidak pernah mengenalnya, aku tidak berani menanyakan namanya, aku hanya selalu merasa berterimakasih pada sosoknya yang seperti peri pelindung bagiku, dulu sebagai ucapan terimakasih, aku selalu menyanyikan sebuah lagu untuknya. Namun, di akhir tahun kami di taman kanak-kanak, tiba-tiba dia menghilang, dan ya, kami bertemu kembali setelah 18 tahun, dan aku bodoh, tidak segera mengenalinya.

Aku tiba di Incheon Airport, namun tidak berhasil menemukannya.

“Dimana kau?” aku memutuskan untuk menelponnya.

“Kau menerima pesanku? Aku di ruang keberangkatan, 15 menit lagi aku harus masuk ke dalam pesawat.” Jawabnya.

Neo Micheoseo? (Are you crazy)? Kau hampir saja melakukan hal yang sama seperti 18 tahun lalu, pergi tanpa memberitahuku kemana tujuanmu, kau ingin membuatku gila?” Ucapku berteriak. Aku tidak bisa mengontrol emosiku saat ini, aku benar-benar tidak ingin berpisah dengan peri penyelamatku lagi.

“Aa.. kau sudah ingat rupanya. Mian (Sorry), kau ingatkan aku pernah bercerita padamu bahwa aku ingin sekali menjadi pengamat design terkenal? Aku harus pergi melanjutkan studiku, Junho-ya, tapi aku berjanji akan segera kembali.” Jawabnya.

Aku menghela nafas panjang, berusaha mengontrol emosiku, aku merasa mataku terbakar, aku menahan supaya tidak meneteskan air mata.

“Dengarkan aku, aku ingin kau segera kembali, sungguh, aku merindukanmu sejak 18 tahun yang lalu, kau selalu membantuku menghadapi dunia dan manusia asing So eun-ah.” Ucapku dengan suara bergetar.

“Kau mengucapkan namaku, terdengar sangat indah ketika kau yang menyebutkannya. Junho-ya, pamanku salah satu pemegang saham terbesar Mini Entertainment datang sebagai salah satu tamu undangan pernikahan Taec dan Jia hari ini, beliau benar-benar terpukau melihat penampilanmu, tunggu contact darinya dalam waktu dekat ini, ingat karena aku akan mengejar mimpiku, kau juga mulai kejarlah mimpimu Junho-ya.” Ucapnya, setelah jeda sebentar kemudian ia menambahkan.

“Junho-ya, aku mencintaimu. Sejak 18 tahun lalu, dan tidak pernah berkurang sedikitpun hingga hari ini. Saranghae (I Love you).”

Aku terkejut mendengarnya, aku tidak mengira aku akan mendengar pengakuan seperti ini dari seorang gadis cantik yang selalu ku kagumi. Namun, aku tidak ingin kehilangan kesempatan untuk yang kedua kali, akhirnya aku menjawab.

“Aku akan menikahimu ketika kau kembali ke Korea. Nado Saranghae So Eun-ah (I love you to So Eun). Jjal Kattawa (Come back safely).”

Aku bisa mendengar So Eun menahan nafasnya di seberang telpon, kemudian menjawab.

“ng.. Aku akan kembali dengan selamat. Annyeong (Bye).” Kemudian menutup sambungan telepon.

*flashback off*

Aku berdiri di depan gate keluar darurat, ya, aku tidak mungkin menunggu kedatangan So Eun di Gate kedatangan dengan begitu banyak reporter yang juga menunggu kedatangannya.

“YA LEE JUNHOOO!!!!!” Ia berteriak dan segera menghampiriku, membuang segala yang ada di genggamannya dan memelukku.

“YA!!” ia terkejut melihatku tidak menggunakan berbagai macam benda untuk menutupi sisi kepala kananku, ia terlihat panik dan berusaha menutupinya.

Wae? (Why?) Gwenchana… (It’s allright…)” ucapku menurunkan tangannya yang menutupi sisi kanan kepalaku.

Gwenchana? Jinjja? (It’s allright? Really?)” So Eun memastikan dan menatapku dengan cemas.

Aku menjawabnya dengan senyum dan anggukan. So Eun menghela nafas lega.

“Aku merindukanmu, ayo kita pergi ke gereja dan menikah.” Ucapnya kemudian mengecup pipiku.

Di tengah banyaknya kru yang ia bawa dari Fullham dan manajer yang sedang sibuk memunguti barang bawaannya, ia mencium pipiku, aku membatu beberapa detik, dan bisa merasakan telinga kiri ku memanas.

“Ya! Kau ini.” Ucapku sambil mencoba menjauhkan kepalanya.

Aaa, waeeeee…? (aaa, whyy…?)” Kim So Eun merajuk dan semakin membenamkan kepalanya di bahuku.

Aku bisa membayangkan bagaimana merahnya warna daun telinga kiriku, namun aku berusaha tidak merasakan hal-hal yang tidak penting, saat ini adalah moment yang paling membahagiakan dalam hidupku, dimana aku tidak perlu menyembunyikan sisi kanan kepalaku yang tidak berdaun telinga dan di dampingi oleh gadis yang paling aku cintai dan paling bisa menerima diriku bagaimanapun keadaanku.

*fin*

 

 

 

35 thoughts on “[FF Freelance] Because My World Is You

  1. Maksudnya junho itu kupingnya cacat ya…aku blm mengerti sepenuhnya tapi yg jelas ini bagus……

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s