[FF Freelance] Last Memories

g

  • Judul : Last memmories
  • Author : Phwangie
  • Rating : PG-13
  • Length : Vignette
  • Genre : Romance, Marriage Life, Sad
  • Main Cast : Tiffany Hwang, Nickhun
  • Support Cast : Victoria Song
  • Disclaimer : FF ini juga akan aku post di Wp pribadi (snsdfanfic27.wordpress.com). enjoy it!

Tiffany memasuki sebuah gedung megah. Dengan gaun panjang berwarna pastel dengan kristal-kristal pada bagian dadanya juga dompet yang juga berwarna senada menambah anggun wanita pemilik nama lengkap Tifany Hwang itu. Langkah yang juga bak seorang putri, menghantarkan ia berjalan menuju teman-temannya.

“Hai” Serempak teman-temannya menjawab sapaan Tiffany.

“Tiff, cantik sekali kau kali ini” Suara wanita berambut blonde itu membuat Tiffany tersenyum. Dengan nada yang sedikit mencibir, Tiffany menanggapi. “Jessie, bahkan kali ini kau tampak lebih mengagumkan”

“Aku tau” Jawab jessica yang mengundang gelak tawa orang-orang yangtengah berkumpul itu.

Tawa mereka terhenti ketika sebuah suara pria menghampiri mereka. “Permisi, bolehkah aku bergabung?”

Tiffany menatap pria itu. Rasa yang anah menguasai dirinya. Entah apa itu. Dia tak mengerti.

“Tentu saja, Khun” Kali ini lelaki dengan Tinggi tak melebihi pria itu yang mempersilahkannya. Tentu saja, dia memang bagian dari orang-orang ini.

“Akankah ada yang sedang bernostalgia?” Taeyeon-wanita yang berada disebelah Tiffany mulai menggoda. Tiffany menoleh kan kepalaku ke arah lelaki itu.

Selama 3 detik-mungkin- Kedua orang itu berpandangan. Dengan canggung, Tiffany membungkuk kan badan kearah pria berjas hitam itu untuk memecah keheningan diantara mereka. Pria itu pun membalasnya.

Sejak itu kelakuan Tiffany sedikit aneh. Mulutnya terkatup diam. Mungkin hanya kata ‘iya’ ‘hmm’ atau tertawa mengikuti yang lain. Walaupun dia tak mengerti apa yang harus ditertawakan. Hatinya sedang gelisah.

Tiffany mengangkat segelas anggur yang ia pegang kearah mulutnya, lalu menegaknya sedikit. Berkali kali sudah ia melakukan hal yang sama, dan kini hanyalah udara yang tersisa digelasnya. Tiffany menaruh gelasnya diatas meja didekatnya sambil menghela nafas.

Perasaan aneh memang tengah menghinnggapi dirinya. Mungkin ini rasa rindu dengan seseorang atau rasa yang pernah dirasakannya dengan seseorang dimasa lalu. Yang pasti perasaan itu membuat Tiffany merasatak nyaman berada disini. Terlebih pria itu disini.

“Aku ke Toilet sebentar” Tiffany meminta izin kepada teman-temannya. Lalu segera masuk kedalam ruangan yang ditujunya.

Langkahnya terhenti ketika ia sudah berada didepan kaca besar. Tangannya ia basuh dengan air. Dengan gelisah ia menutup keran watafel, lalu menatap bayangan dirinya dicermin.

Pria itu adalah orang yang membuat Tiffany memilih untuk pergi ke toilet dan melakukan hal yang kali ini sedang dilakukannya. Mungkinkah Tiffany Merindukannya? Atau ia masih mencintainya?

Tiffany dengan langkah kecewa memasuki kamar miliknya yang cukup besar. Setetes demi setetes air mata jatuh dari pelupuk matanya. Isakkan-isakkan pelan mulai terdengar menyelingi tangisannya. Ya, lagi-lagi Nickhun melukai hatinya.

Jika cinta benar-benar membawa kebahagiaan, apakah ada bukti dari kelimat itu? Tifany memulai percobaannya untuk mencintai pria itu. Begitupun Nickhun. Bahkan dia yang meminta Tiffany untuk melakukan itu. Tetapi, mengapa disaat Tiffany telah mencintainya, pria itu malah bersikap seakan dia yang harus mengatur. Apakah perasaan bisa diatur? Jika sudah begini, haruskah Tiffany yang menanggung semuanya sendiri?

Tiffany. wanita itu benar-benar telah berusaha semampunya agar bisa mencintai suaminya kini. Pernikahan yang seharusnya dilandasi oleh dasar cinta oleh kedua belah pihak yang akan menikah, dulu tak ada sama sekali. Selama 6 bulan wanita itu tak pernah mempedulikan apa yang Nickhun lakukan. Mulai dari Nickhun yang selalu pulang malam untuk clubing sampai dengan membawa wanita kedalam rumah mereka dan tanpa segan-segan dan dihadapan istrinya itu, Nickhun menciumnya. Apa itu tidak keterlaluan? Awalnya itu tak masalah bagi Tiffany, karena memang pada saat itu belum ada cinta untuk lelaki itu. Ia membebaskan suaminya melakukan hal yang sukainya.

Ketika usia penikahan mereka menginjak 9 bulan, Nickhum mulai berpikir untuk tidak bersikap kelewatan kepada Tifany, walaupun Tiffany benar-benar tak mempermasalahkannya pada waktu itu. Gadis itupun terlihat tenang-tenag saja. Tapi, apa salahnya jika kita mencoba mencintai seseorang?

Nickhun dan Tiffany sepakat atas perjanjian mereka. Walaupun awalnya Tiffany menolak. Tetapi Nickhun terus membujuknya. Sedikit perselisihan terjadi diantara mereka.

“Untuk apa mempertahankan pernikahan jika kita tak saling mencintai?”

Dengan santainya Tiffany menjawab, “Jika begitu, kita bercerai saja”

“Kau gila? Kau mau melihat ibumu jantungan?”

Dan setelah memikirkannya Tiffany pun setuju. Sejak saat itu Nickhun selalu bersikap manis pada Tiffany. Nickhun yang awalnya sering pulang malam, berubah. Bahkan ia sengaja mpulang lebih cepat untuk mengajak Tiffany makan malam diluar.

Sejak saat itu mereka berdua jatuh cinta satu sama lain. Walaupun tak diungkapkan secara ‘blak-blakkan’, mereka sudah merasakan itu.

Tetapi, semenjak sebulan yang lalu nickhun berubah. Ia tak se-romantis dulu. Kebiasaan pulang malam mulai ditekuninya lagi. Bahkan lelaki itu seperti acuh dengan Tiffany. Sejak saat itu, Tiffany memutuskan untuk mengamati kegiatan Nickhun.

Setiap pagi, ketika Nickhun masih tertidur, Tiffany melihat isi pesan Nickhun. Victoria, nama gadis yang pernah diceritakkan oleh Nickhun adalah mantan kekasihnya. Mereka putus karena perjodohan kami dan keputusan Victoria yang ingin melanjutkan kuliahnya di Paris.

Dada Tiffany terasa kesak menyadari isi pesan itu. Jadi, 1 bulan ini mereka berkencan tanpa Tiffany ketahui? Itukah alasan Nickhun selalu pulang malam?

Puncaknya, ketika Tiffany bersama dengan jessica sedang berjalan-jalan di pusat berbelanjaan yang tepat berada dijantung kota Seoul. Dan saat itu seorang lelaki dengan menggandeng tangan seorang wanita menabrak Tiffany. Dan bagaimana jika lelaki itu Nickhun?

Awalnya Tiffany hanya memandang dua orang itu dengan datar. Berbeda dengan ekspresi Tiffany,Ketiga orang yang berada disituasi itu,  Jessica, Nickhun dan perempuan yang bersama Nickhun itu-Victoria- menampilkan ekspresi terkejut. Victoria juga segera melepaskan genggaman tangan Nickhun padanya. Tanpa berkata apapun, Tiffany meninggalkan mereka diikuti dengan Jessica yang mengejarya.

Itu terjadi 1 minggu yang lalu. Dan hari ini, keadaan lebih parah dari pada kejadian itu. Bagaimana jika priamu membatalkan janji makan malam denganmu karena wanita lain?bagaimana ketika wanita itu cinta pertamannya? Lalu bagaimana ketika kau melihat priamu itu berciuman dengan wanita itu? tentu saja, SAKIT!

2 jam lalu, sejak kejadian dicafe tadi, isakan-isakan itu belum juga terhenti. Begitu pula dengan matanya yang masih setia mengeluarkan air mata. Untuk beberapa saat tangisannya memelan. Deringan nada ponsel yang menghentikannya. Entah mengapa detik ini juga ia ingin menagis lebih keras dari yang sebelumnya. Nickhun menelponnya.

5 kali panggilan nickhun tak dijawab. Ia mengabaikannya, tak ingin Nickhun curiga dengan suara seraknya. Ia kembali menangis keras. Terlebih ketika mendapat pesan dari Nickhun. Sangat menyakitkan!

From : Nickhun

Maaf telah membatalkan secara sepihak. Dan maaf, aku akan pulang terlambat. Ada urusan penting yang harus kuselesaikan. Night..

Tifany tertawa garing membaca isi pesan itu. Lalu membanting ponselnya kekasur.

“Penting? Sepenting itukah wanita itu? Lalu apa aku dimatamu? Pelampiasanmu? Bodoh!” Teriaknya tak jelas.

Dengan mata yang sudah dipastikan membengkak, hidung yang memerah dan suara yang pergi entah kemana, Tiffany memutuskan untuk tidur. Dan besok ia akan pindah dari rumah ini. Tak akan mempedulikan lagi Nickhun.

Jessica menatap Tiffany dalam. Ia tak percaya apa yang Tiffany katakan. Bagaimana bisa Tiffany berpikiran begitu? Apa ia lupa jika ia mencintai Nickhun?

“Kau gila? Apa kau tak memikirkan dirimu, orang tuamu, dan- Nickhun?” Tanya jessica dangan penjedaan beberapa detik sebelum mengucapkan nama ‘Nickhun’dalam kalimatnya .

“Lebih baik daripada memaksakan kehendakku sendiri-” Tiffany menelan cemilanyang ada dimulutnya “-aku tak ingin sakit hati. Orang tuaku juga telah setuju. Mungkin aku akan memberi tahu Nickhun setelah ini” Dengan santai wanita itu memakan kembali cemilan dihadapannya. Santai? Hatinya tidak.

Jessica menatap Tiffany kesal “Jangan melampiaskannya pada makananku. Aku tahu kau tak setenang wajudmu ini. Matamu masih terlihat bengkak”

Tiffany masih diam. Mengutak atik cemilan dan remote tv, mengganti-ganti channel.

Jessica membuka mulut “Nickhun tak menghubungimu? Tak menanyakan kau ada dimana?”

 Tiffany melirik Jessica sekilas “Aku mengganti nomorku-”

“Aku sudah tau itu. Apa dia tak menghubungi orang tuamu?” Tiffany menatap jessica sebal. Tentu saja, wanita itu memotang ucapan yang masih ada kelanjutanya.

“Aku menyuruh orang tuaku untuk tak mengatakan tentangku pada Nickhun, dan ingat jangan coba-oba kau memberitahunya jika aku dirumahmu! Mati kau!”

Jessica hanya bergumam pelan setelah Tiffany menancamnya. Tak beberapa lama deringan ponsel putih milik jessica terdengar. Langsung saja wanita itu mengambilnya. Tetapi, yang dilakukannya hanya menatap ponsel itu bingung.

Tiffany yang sedikit merasa risih akibat nada dering ponsel jessica itu memberi tatapan yang menyuruh sahabatnya untuk cepat membukanya.

“Nickhun bodoh!”

Tiffany menelan ludahnya ketika nama pria itu benar-benar tercantum dalam layar ponsel milik sahabatnyha itu. Jessica menatap Tiffany “Aku angkat?”

Tiffany yang juga tak tahu harus melakukan apa hanya bisa mengangkat bahunya. Dan itu membuat bantal yang berada ditangan Jessica melayang mengenai wajah Tiffany. Dan saat ingin membalasnya jessica sudah berbicara dengan Nickhun ditelpon.

“Yeobboseo?”

“…”

“Tiffany kenapa? Sejakkapan ia melarikan diri dari rumah?” Ini terlalu bohong.

“…”

“Maaf aku tak tahu. Dia tidak menghubungiku sama sekali”

“…”

“Baiklah”

Setelah itu sambungan telpon ditutup oleh Nickhun. Kedua orang itu bernafas lega menanggapinya.

“Sebaiknya keputusanmu itu dibicarakan dengannya. Ini bukan kemauan kalian berdua, mungkin saja saat itu kau salah lihat atau ada alasan mengapa mereka melakukan itu”

Tiffany menggeleng “Jika aku salah lihat, tidak seharusnya Nickhun membatalkan acaranya denganku. Dan keputusan ini aku yakin dia akan menyetujuinya”

“Setuju? Kau tau bagaimana dia mencarimu 1 minggu ini? Aku yakin dia mencintaimu Tiff. Kau terlalu kekanak-kanakan!” Jessica menatap manik mata Tiffany tajam. Tak sanggup dengan tatapan Jessica , Tiffany segera mengalihkannya. “Aku tidak siap untuk sakit hati lagi. Kuharap kau mengerti” lalu meninggalkan Jessica sendiri dengan TV yang masih menyala, memilih untuk menuju kamar.

“Kau sebenarnya kemana?”

Suara berat Nickhun mengobati rindu Tiffany kepada orang dihadapannya itu. Khawatir akan dirinya, itu sangat biasa bagi seorang suami kepada istrinya. Ini waktunya.

“Aku pikir ini yang terakhir”

Nickhun menyeritkan dahinya. Kalimat Tiffany terlalu sulit untuk dimaksudkan. “Maksudmu? Terakhir?”

Terasa sekali jika saat ini Tiffany tengah mencoba agar terlihat kuat. Mata yang ia alihkan kearah makanan didepannya, ludah yang ditelannya, dan nafas yang mencoba untuk bernafas teratur. Mulutnya terlalu sulit untuk mengatakan kata itu.

“Aku tak tahan-” nickhun masih diam. Tak ingin menggangu Tiffany untuk berbicara “Saat melihat pesanmu dengannya, saat aku melihat kalian, saat sikapmu berubah, saat kalian-berciuman, aku tak tahan. Mungkin aku memang terlalu egois dengan perasaanku. Aku mempertahankan pernikahan yang sepertinya memang sudah pasti akan pecah. Aku tak ingin beredar hal-hal aneh tentang kalian, aku tak ingin aku merasakan sakit lagi. Aku sudah-“

“Tiffany!” Bentakkan Nickhun membuat Tiffany mengambil nafas. Para pengunjung cafe juga melirik kearah pasangan yang tengah dirundung permasalahan itu.

Karena suasana yang tak memungkinkan untuk melanjutkannya didalam cafe,Nickhun menarik tangan Tiffany menjauhi tempai itu. Langkah mereka terhenti ketika Tiffany menghempaskan Tangan Nickhun.

“Aku ingin kita berakhir disini” Ucap Tiffany dingin yang berniat segera pergi dari tempat itu. Air matanya memang tak bisa diajak kompromi.

“Apa?” Nickhun mengapit pergelangan tangan Tiffany dengan jari-jarinya. Tentu saja wanita itu tak dapat pergi begitu saja. “Berakhir? Kau gila?”

“Tidak. Itu kepusan yang paling tepat untuk saat ini. Keluargaku, keluargamu, mereka telah mengetahuinya. Aku yakin kau juga akan menyetujuinya. Jadi lepaskan” Nada suaranya sedikir parau akibat tangisan yang keluar.

“Setuju? Tidak! Tidak akan! Dengar aku. Aku dan Victoria tak ada hubungan apapun. Mungkin benar saat awal-awal aku bertemu dengannya aku berkencan. Tetapi, tidak lagi ketika aku mengetahui jika aku tak mencintainya. Dan ciuman itu, bukan aku yang menginginkannya. Vic-“

“Cukup!” “Lepaskan!” Ucap Tiffany cukup keras. Nickhun tetap dengan pendiriannya. Ia benar-benar tak ingin ini terjadi. “Kubilang Lepaskan!” Tiffany yang masih tengah berusaha untuk merepaskan tangan Nickhun tersikap setelak sadar bahwa Nickhun tengah menciumnya.

Digengamnya dengan kuat kedua tangan Tiffany. wanita itu tak tinggal diam. Ia berusaha meronta-ronta agar Nickhun melepaskannya. Tetapi, itu tak berhasil. Tangan Pria itu terlalu kuat mengunci tangan Tiffany. Namun tak beberapa lama Nickhun melepaskannya.

Dengan nafas yang masih sedikit tak teratur. Tiffany berteriak lalu berakhir dengan tamparan di pipi kiri Pria itu.

 “Kau. Lupakan aku!”

Tiffany berjalan memandang arah depan sebagai tumpuannya. Kedua orang itu masih ingin membisu. Entah canggung atau memang tak tahuharus memulai dari mana karena terlalu banyak hal yang harus dibicarakan. Hingga pria itu membuka mulutnya.

“Tiffany”

Mungkin kata itu terdengar lirih jika ducapkan pria itu. Tapi,memang begitu.

“Ya?” Hanya jawaban singkat itu dan tolehan kebelakang yang dapat dilakukan Tiffany. ia terlalu gugup saat ini.

“Bagaimana keadaanmu?”

“Baik. Dan kau?”

“Tidak begitu baik”

Lagi-lagi pria itu memanggil Tiffany. “Tiffany..”

“Ya?” jawaban yang sama pula

“Mengapa aku tak begitu membaik? Karena kau. Aku merindukanmu”

Tiffany hanya bisa menelan ludahnya. Matanya masih memandang sebelah wajah Nickhun yang sedang memandang depannya dengan kosong. “Nickhun. Masihkah persaan itu?”

“Tentu. Sangat sulit melupakannya”

“Maaf. Kukira ini akan mudah bagiku. Ternyata tidak juga”

“Aku masih mengharapkan kau menjadi istriku kembali”

“Maafaku terlalu egois. Maaf aku menyakiti hatimu. Aku benar-benar minta maaf” Kini Tiffany beralih memandang batuan di bawah. Hingga sebuah benda hangat mengapit tanagannya. Tiffany rindu sekali dengan kehangatan ini.

“Aku ingin bersamamu kembali. Aku masih mencintaimu”

Kedua orang itu berpandangan. Iris mata Nickhun menatap dalam manik mata Tiffany dalam. Tiffany pun mengerti jika Nickhun sungguh-sungguh dengan perkataannya.

Aku juga. Aku mencintaimu.

-END

Advertisements

22 thoughts on “[FF Freelance] Last Memories

  1. Mungkin pepatah ” kalo jodoh gak kemana ” cocok untuk pasangan ini…meskipun mereka sempet berpisah tetapi takdir mempersatukan mereka kembali…

  2. huwaaa~ aku kira mereka nggak bakal balik lagi tapi ternyata huaaa mengharukan sekali, mereka masih saling mencintai dan bisa menekan ego masing masing
    nice ff. keren!

    • beneran? castnya tiffany kah? kalo bukan Tiffany biasana aku gak baca..
      idenya bener” mucul gitu aja kok 🙂 atau mungkin alur yang begitu mainstream? o_o
      Iya, mksh 🙂

  3. Dilihat dr judulnya last night ku kira meraka tdk akan pernah bersatu, tp tenyata jdoh memang memihak mereka 🙂

  4. Whaa,, awalnya sih gak trlalu ngrti…
    tp untung endingny aku udh mlai ngrti hehehe 🙂
    keep writing y thor

  5. Hai, aq reader baru nech. Lg bosen cari2 ff pas banget dapet ff yang langsung buat aq tertarik dan nyaman ngebacanya. Bahasanya juga rapi dan enak di baca, mudah di mengerti dan tidak terlalu berbelit-belit.
    Plotnya rapi dan intinya aq suka banget,, bagusss. Makasih udah buat ff yang dapat menghilangkan rasa bosan *_*

  6. Hello reader baru disini 😀 ga sengaja lagi surfing trus nemu ni ff
    Ceritanya bagus , konfliknya ada trus ga susah buat kita cerna nya. Alur maju mundurnya juga ga bikin bingung. Keep writing!

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s