[Chapter 5] 2050

2050

“When you’re not a human..”

by Shinyoung

Main Cast: Kim Myungsoo & Son Naeun || Support Cast: Infinite & Apink || Genre: Fantasy, Angst, Romance || Length: Chapter 5/? || Rating: || Credit Poster: iheartpanda || Desclaimer: Official written by me. The cast belongs to God. No copy-paste. || A/n: Halo! Makasih banyak yang sudah baca FF ‘2050’ ini. Maaf banget chapter kemarin aku posting dengan durasi yang hampir satu bulan. Nah, itu masalahnya. Aku sibuk dengan US dan juga try out provinsi. Try out provinsi-nya susah banget /curhat. Aku janji chapter-chapter selanjutnya aku bakal posting secepatnya mumpung bulan ini aku cuma belajar rutin buat UN. Dan, di chapter-chapter selanjutnya, aku janji aku banyakin chemistry antara Myungsoo-Naeun. Aku bawel banget ya? Haha. Maaf, yaudah jadi enjoy!

Chapter 5 – Another Robovent

Teaser | 1 | 2 | 3 | 4

**

Sebelumnya: Naeun sudah membaca semua tentang Robolars. Akhirnya, ia juga harus menghadapi induk Robolars yang bernama Barvseu itu. Bahkan ia tidak tahu dimana letak persembunyian Barvseu itu. Bagaimana jika nantinya ia mati di tangan Barvseu? Atau ia mati di tangan Kim Joon-Myeon?

Disisi lain, Myungsoo masih bertanya-tanya kenapa Naeun mencari pekerjaan baru? Ia yakin, Naeun mencari pekerjaan sebagai pelayan hanya karena dia bosan di rumah. Lagipula, Myungsoo merasa sedikit kehilangan dengan ketidakberadaan Naeun di rumah.

Terakhir kali, Naeun memasuki mobil Jaehyun, ia merasa bahwa ia diikuti oleh seseorang. Tapi, siapa?

**

“Tunggu, hentikan mobilnya,” ujar Naeun sambil menahan pergelangan tangan Jaehyun. Jaehyun menatapnya bingung tapi ia menghentikan mobilnya. “Gomawo.”

Naeun segera turun dari mobil Jaehyun dan menatap ke belakang mobil Jaehyun. Tak jauh dari sana, seorang laki-laki jangkung tengah memperhatikannya, namun wajahnya tertutup tudung jaket.

Laki-laki itu menyadari bahwa Naeun menangkapnya. Dengan cepat, laki-laki itu berlari pergi dan menghilangkan jejaknya dari Naeun. Naeun mendengus, kemudian Jaehyun ikut turun.

“Ada apa?” tanya Jaehyun sambil mengerutkan keningnya.

“Ada yang mengikuti kita. Aku tidak yakin itu siapa, tapi sepertinya aku mengenali laki-laki itu.”

Jaehyun memutar kedua bola matanya. “Sudahlah, tidak usah dipikirkan. Dia tidak akan ‘meneror’mu. Kau kan bukan artis,” ujar Jaehyun sambil terkekeh pelan.

Mendengar perkataan Jaehyun, tangan Naeun segera meninju lengan laki-laki itu. Laki-laki itu meringis pelan.

“Apaan kau ini, aku memang bukan artis,” Naeun segera kembali menuju mobil Jaehyun. “Jadi mengantarku pulang tidak?” tanyanya sebelum memasuki mobil Jaehyun.

Jaehyun menganggukkan kepalanya sambil mengelus-ngelus lengannya. Kemudian, laki-laki itu memasuki mobilnya lalu ia menoleh ke arah Naeun. “Kekuatanmu sepadan dengan baja.”

Naeun tertawa renyah. Tentu saja, dia kan masih setengah Robolars. Dia lupa tentang itu. “Maaf, aku tidak akan meninjumu lagi.”

“Sudahlah, Naeun-ssi.”

Naeun melengos. “Tidak usah se-formal itu. Aku tidak biasa menggunakan kata-kata formal. Umurmu berapa?”

“24,” ujar Jaehyun sambil melajukan mobilnya. “Kau?”

Kini Naeun yang harus cemberut. Kenapa umurnya 22? Kenapa? Itu dia yang membuatnya bertanya-tanya. Apa memang itu umurnya?

“Biar kutebak,” kata Jaehyun. “Kau pasti 22 tahun,” tebaknya tepat sasaran. Naeun semakin cemberut. Jaehyun meliriknya dan tertawa. “Nah, aku benar. Jangan cemberut, wajahmu kayak kucing belum dikasih makan.”

“Ya!” katanya sambil menatap Jaehyun marah. “Jangan samakan aku dengan kucing!”

Jaehyun kembali tertawa. Naeun menatap laki-laki itu dan meneliti wajahnya. “Aku ini pencinta kucing tahu,” ujar Jaehyun sambil masih tertawa kemudian ia kembali fokus. “Apa salahnya? Kucing itu lucu. Seperti kau,”

Deg.

“Hei!” ujar Jaehyun sambil melambaikan tangannya di depan wajah Naeun. “Jangan melamun. Kita sudah sampai di depan rumahmu.”

Naeun tersadar kemudian ia menatap rumahnya. Bukan, itu rumah Kim Myungsoo. Dia hanya menumpang dan mencari uang untuk membeli rumah baru setidaknya. Dia tidak mau merepotkan laki-laki itu.

“Kau melamun lagi?”

“Eh–Eh, iya.”

Jaehyun tersenyum kemudian ia mengacak rambut gadis itu. “Nah, besok kau mau kujemput?”

“Apa aku tidak merepotkanmu?” tanya Naeun dengan wajah setengah tidak enak. Jaehyun menggeleng pelan.

“Tidak apa-apa, rumahku dekat denganmu.”

“Benarkah?” tanya Naeun was-was. Dia takut, kalau-kalau nanti Jaehyun menangkap seorang laki-laki yang keluar dari rumahnya. Tentu saja, siapa lagi kalau bukan Myungsoo.

Apa kata Jaehyun nanti mengetahui bahwa Naeun tinggal serumah dengan laki-laki itu? Ah, bilang saja bahwa Myungsoo adalah kakaknya. Bukan kakak kandung, kakak angkat.

“Iya, aku tinggal disana,” ujar Jaehyun sambil menunjuk sebuah rumah mewah yang berada diujung jalan. Naeun tersentak kaget. “Ada apa?”

“Kau orang kaya?”

“Ada banyak hal yang tidak orang ketahui tentangku,” Laki-laki itu tersenyum. “Kau yang pertama mengetahuinya.”

Naeun tersenyum kecil. “Wah, aku merasa terhormat.”

Jaehyun terkekeh. “Jadi, kau punya ponsel?” tanya Jaehyun. “Maaf, kau pasti punya.”

Kini, giliran Naeun yang terkekeh. Gadis itu mengeluarkan ponselnya kemudian memberikannya kepada Jaehyun. “Masukkan saja kontakmu,” ujar Naeun kemudian Jaehyun menerima ponsel gadis itu.

**

Ting.

Naeun yang tengah menggosok giginya mengangkat kepalanya ke arah ponselnya. Kemudian ia melanjutkan menggosok giginya sambil menggeser layar ponselnya menggunakan tangan kirinya.

Dilihatnya sebuah pesan baru saja masuk. Tanpa berlama-lama, ia langsung membuka pesan itu.

Ahn Jaehyun: Ini aku Jaehyun. Oh, iya kau sudah tau ya. Sedang apa?

Naeun tertawa kemudian ia berkumur-kumur menggunakan air keran. Lalu, gadis itu meletakkan sikat giginya pada tempatnya. Dan, melangkah keluar dari sana sambil mengetikkan balasan pada Jaehyun.

Son Naeun: Aku tertawa membaca pesanmu. Aku baru saja menggosok gigiku. Kau?

Tak usah menunggu lama, ponsel Naeun kembali berbunyi. Gadis itu tersenyum, bagaimana bisa laki-laki itu sangat cepat mengetikkan pesan. Segera dibukanya pesan itu.

Ahn Jaehyun: Aku sedang berbaring diatas tempat tidur dan sms denganmu. Tertawalah sepuasnya. Aku senang melihat kau tertawa, karena daritadi di mobil kau hanya diam saja. Kau sudah mau tidur?

Son Naeun: Oh, artinya kau juga sudah mau tidur. Memangnya tidak boleh kalau aku diam saja? Tidak. Aku tidak jadi tidur karena kau mengirimiku pesan.

Ahnn Jaehyun: Tidak, aku belum mau tidur. Kkk. Apa aku mengganggumu, Son Naeun-ssi? Apa kau sudah tau siapa fans mu itu?

Kini tawa Naeun meledak ketika membaca kata ‘fans’. Apa Jaehyun benar-benar menganggap bahwa Naeun adalah seorang artis? Tiba-tiba saja, Naeun ingin sekali mengobrol dengan Jaehyun.

Son Naeun: Jelas-jelas kau tadi bilang bahwa aku bukan artis. Tidak, kau tidak menggangguku. Aku justru butuh teman untuk malam ini.

Ahn Jaehyun: Teman? Apa kau tidak punya teman selain diriku? Wah, aku merasa terhormat. Memang kau bukan artis. Siapa yang bilang kau artis? Pede sekali. Kkk.

Son Naeun: Haha, tentu saja aku punya teman. Tapi, kau orang pertama yang mengirimiku pesan. Jahat sekali, kau ini-_-

Ahn Jaehyun: Sekali lagi, aku merasa terhormat menjadi temanmu yang pertama kali mengirimi pesan. Kkk. Aku ini Jaehyun yang baik.

Lama sekali, Naeun tidak membalas. Jaehyun menunggu balasan dari gadis itu. Apa jangan-jangan gadis itu sudah tidur? Mungkin saja. Akhirnya, Jaehyun ikut terlelap dibalik selimutnya.

**

“Son Naeun?”

Gadis itu masih menggeliat dibalik selimutnya. Kemudian, ponsel terjatuh dari tangannya. Kalau, Myungsoo tidak cepat, ponsel itu akan terbanting mengenai lantai kamar Naeun.

“Hm?”

Myungsoo mendengus kesal kemudian diusapnya layar ponsel Naeun. 1 pesan masuk. Pesan?

Karena penasaran, Myungsoo membuka pesan itu kemudian membaca pengirimnya. Ahn Jaehyun. Jaehyun? Siapa lagi? Oh, pasti laki-laki yang kemarin.

“Myungsoo,” gumam Naeun. Cepat-cepat, Myungsoo meletakkan ponsel Naeun dan menatap gadis itu.

“Hei, bagunlah. Ini sudah jam 7. Kau mau terlambat?” tanya Myungsoo. Sebenarnya, Myungsoo hanya menakut-nakuti Naeun saja. Lagipula, dia tidak tahu jam berapa Naeun berangkat kerja.

Naeun akhirnya bangkit dari tempat tidurnya. “Ah, ya. Terimakasih.” Kemudian, gadis itu melangkah turun dari tempat tidurnya kemudian ia melangkah menuju kamar mandi dengan ling-lung.

Myungsoo menggelengkan-gelengkan kepalanya melihat Naeun seperti itu. Dia belum sepenuhnya sadar. Akhirnya, Myungsoo menarik gadis itu ke dalam pelukannya.

Naeun tersentak. “Apa.”

“Diamlah,” Myungsoo mempererat pelukannya pada gadis itu kemudian ia melepaskannya.

Deg.

Jarak wajahnya dengan wajah Naeun hanya 3 cm. Jika, ia maju sedikit, maka BUM! Mereka akan ciuman. Cepat-cepat, Naeun mengalihkan wajahnya. Dia tidak mau tertangkap basah bahwa pipinya sudah memanas.

“Apa-apaan kau ini. Pagi-pagi.”

“Kau tadi berjalan setengah tertidur. Kau tau? Kau bisa saja menabrak pintu kamar mandi. Aku memelukmu biar kau sadar,” ujar Myungsoo sambil melipat kedua tangannya. “Mandi sana, baumu menyeramkan.”

Naeun menoleh ke arah Myungsoo. Ia memanas. “Ya!”

Myungsoo menoleh ke arahnya kesal. “Ya?! Aku ini lebih tua daripada dirimu, Son Naeun!”

“Memangnya aku harus menghormatimu?!”

Myungsoo merasa kalah. Dia tidak pernah memenangkan debat dengan siapapun. Ia pun akhirnya melangkah keluar dari kamar Naeun dengan wajah memanas.

Rasanya tidak adil jika Myungsoo-lah yang harus mengalah. Bagaimanapun, Naeun hanya berteriak ‘Ya!’ padanya. Dan itu bukanlah apa-apa bagi seorang Kim Myungsoo seharusnya. Pasti ada apa-apa dengan dirinya.

Sesampainya di kamarnya, Myungsoo menjadi frustasi. Melihat gadis itu marah saja, membuatnya frustasi. “Argh! Kenapa harus aku yang mengalah?”

**

Abeoji?”

Laki-laki tua itu menoleh ke arah Krystal. Kemudian menatap gadis itu bingung dan juga dipenuhi dengan rasa kesal. Laki-laki itu tidak pernah menyukai anak dari istrinya ini.

“Ada apa?” tanya laki-laki itu ketus. “Jangan lama-lama, aku harus berangkat kerja.”

Krystal menghela nafas pelan. “Aku tidak bisa mengikuti perintah, Abeoji. AkuAku tidak sanggup. Laki-laki itu sudah tidak peduli padaku.”

“Apa?!” Laki-laki itu meledak. “Hanya seorang Kim Myungsoo saja tidak bisa? Lalu, apa yang kau lakukan dulu sehingga bisa menjadi pacarnya?”

Krystal ingin menangis. Dia tidak menyukai ayah tirinya itu. Rasanya hidupnya sangat tertekan oleh kehadiran laki-laki itu. “AkuAku tidak lagi menyukainya. Aku sudah punya pacar.”

“Kau tidak mau membalaskan dendamku?” tanya laki-laki tua itu. Kemarahannya semakin memuncak setiap kali Krystal mengatakan hal-hal yang sebenarnya.

Gadis itu menggeleng pelan dan ia bahkan tidak berani menatap ayah tirinya itu. “Kenapa bukan ayah saja yang menyuruh orang lain untuk membunuh Kim Myungsoo?”

Laki-laki itu tersenyum. “Oh, jadi kau ingin aku menyuruh orang lain?” tanya laki-laki itu. “Bagus juga saranmu. Kalau begitu, baiklah.”

Cepat-cepat Krystal mengangkat kepalanya. “Jangan! Jangan, Abeoji! Kumohon! Jangan bunuh laki-laki itu!”

“Kau bukan lagi anakku. Keluar dari rumahku. Sekarang!”

Eomma bagaimana?”

“Dia istriku dan kau bukan anakku. Kau anak tidak beguna. Buang-buang waktu saja bicara denganmu,” ujar laki-laki tua itu. Matanya mengeras, menandakan bahwa ia benar-benar sudah marah besar. “Keluar! Sekarang!”

**

“Son Naeun? Kau berangkat dengan siapa?”

Naeun meneguk susunya. Setidaknya atmosfer diantara mereka tidak lagi menegang. Myungsoo sudah membuatkan gadis itu sarapan, jadi Naeun pasti merasa sedikit bersalah.

Gadis itu menatap Myungsoo. “Aku berangkat dengan Jaehyun Oppa,” ujarnya kemudian menggigit rotinya. “Ada apa?”

Oppa?

Jeger. Rasanya Myungsoo ingin mati dari sana. Oppa?! Naeun bahkan tidak pernah memanggilnya dengan sebutan Oppa.

Deg.

Myungsoo lupa bahwa ia menolak ketika Naeun memanggilnya Oppa. Rasanya dia ingin mati sekarang. Kini, ia ingin sekali dipanggil Oppa oleh Son Naeun. Kenapa dia jadi seperti ini?

Tidak. Pasti ada yang salah dengan dirinya. “Tidak, aku hanya bertanya. Siapa tahu aku bisa mengantarmu.”

“Oh, begitu,” ujar gadis itu sambil melahap habis roti di tangannya. Dia pasti bakal lapar sekali hari ini. Apalagi, ini akan menjadi hari pertamanya dia official menjadi pelayan Restoran Youdora.

Naeun sebenarnya tidak menyangka bahwa Yoon Doojoon alias pemilik restoran itu akan menerimanya begitu saja. Bahkan, Naeun sedikit bahagia. Setidaknya ia bisa mengendalikan jantungnya kalau tidak ada Myungsoo. Eh.

Apa-apaan ini, pasti ada yang aneh dengannya.

Ia langsung meneguk susunya untuk yang terakhir kemudian membawa piring itu menuju dapur. Cepat-cepat Myungsoo bangkit. “Biarkan saja, aku yang akan mencucinya. Kau berangkat saja.”

Naeun menoleh ke arah Myungsoo. “Jaehyun Oppa belum sampai. Aku bisa mencucinya. Aku tidak mau merepotkanmu, Myungsoo-ssi.”

Ssi lagi? Myungsoo, dia tidak tahu harus marah atau bagaimana. Dia sebenarnya agak sedikit kesal ketika mendengar Naeun memanggilnya dengan sebutan itu. Ia menarik nafas dalam. “Naeun-a?”

Naeun menolehkan kepalanya dengan tangan yang masih sibuk mencuci piring itu. “Ada apa?”

“Jangan memanggilku dengan sebutan ssi. Aku sedikit risih.”

Naeun menganggukkan kepalanya kemudian ia melanjutkan aktivitasnya. Kemudian, gadis itu menaruhnya di dalam tempat penyimpanan piring. “Lalu aku harus memanggilmu dengan apa? L?”

Deg.

Darimana gadis itu tahu bahwa panggilannya adalah L?

“Darimana kau tau L?” tanya Myungsoo hati-hati.

Gadis itu menolehkan kepalanya. “Apa aku kebetulan? Hanya saja aku berpikir bahwa kau sangat mirip dengan tokoh itu.”

“Oh,” kata Myungsoo ber’oh’ ria. “Terserah kau asal jangan panggil aku dengan tambahan ssi. Kita bukan lagi orang yang baru bertemu. Kita sudah mengenal oke?”

“Baiklah,” ujar Naeun sambil tersenyum kemudian ia mengambil ponsel dari dalam kantung celana jeans-nya. Kemudian ia mengetikkan sesuatu disana. Dia pasti sedang ber-sms ria dengan Jaehyun Oppa-nya itu, kata Myungsoo dalam hati.

Naeun mengangkat kepalanya kemudian ia menatap Myungsoo. “Aku harus berangkat, L.”

Deg.

L? Gadis itu memanggil Myungsoo dengan L. Myungsoo cepat-cepat mengangguk kemudian membalikkan badannya. Ia bisa merasakan bahwa pipinya memanas.

“Aku berangkat,”

**

“Hai! Kalian berangkat bersama?” tanya Yoon Bomi ketika Jaehyun dan Naeun tiba di dapur. Mereka yang hendak bersiap-siap mengganti pakaian, langsung terganggu oleh Bomi.

Naeun merasakan bahwa pipinya memanas. Aduh, aku ini kenapa sih?

Cepat-cepat Jaehyun berbalik. “Sajangnim yang menyuruh kami. Lagipula, rumahku dan rumahnya berdekatan.”

“Oh ya?” tanya Bomi penasaran. Gadis cantik itu rupanya memiliki kebiasaan memastikan sesuatu. Dia perlu mengklarifikasinya.

Naeun menganggukkan kepalanya sambil mengikat rambutnya yang lebat. “Rumah kami hanya beda beberapa blok,” kata Naeun. Kemudian ia menatap Bomi, meneliti wajah gadis itu. Benarkah dia Robovent yang dimaksud oleh Namjoo?

Gadis itu merasa bahwa Naeun sedang meneliti wajahnya. Kemudian, ia tersenyum. “Ada apa, Robovent?” bisiknya.

Deg.

Bagaimana gadis itu tahu bahwa Naeun juga Robovent? Ia mengerutkan keningnya. Kemudian cepat-cepat, ia memastikan keadaan. Jaehyun? Laki-laki itu sudah hilang. Pasti, dia sudah keatas duluan untuk membantu istri Doojoon Heo Gayoon membereskan meja-meja.

“Darimana kau tau?” tanya Naeun ketus.

Bomi tertawa. “Tidak usah marah. Aku juga Robovent, sama sepertimu. Apa Kim Namjoo tidak pernah memberitahumu?”

Naeun tersenyum. “Aku tidak marah, aku hanya memastikan bahwa kau Yoon Bomi yang diceritakan oleh Namjoo. Aku takut, ada orang lain yang tahu tentang kebenaranku.”

“Oh, begitu rupanya. Jadi, kau sudah baca buku itu?”

Naeun menganggukkan kepalanya. Kemudian, ia menyadari bahwa Yoon Bomi juga pasti sudah membaca buku itu. Gadis itu menatap Bomi. “Kita harus bagaimana? Kita harus mencari tahu dimana Barvseu.”

“Aku tahu.”

Tenggorokan Naeun tercekat. Bagiamana bisa Bomi tahu? Jelas-jelas, tidak ada penjelasannya disana. “Bagaimana kau tau?”

“Aku hanya menebak.”

“Menebak?” Alis Naeun bertautan. “Memangnya dimana, menurutmu?”

Bomi menatap Naeun lemas. Sepertinya, gadis itu kehilangan semangatnya begitu mendengar pertanyaan Naeun. “Aku hanya menebak. Dan aku berpikir bahwa dia hidup di tahun 2050. Entahlah. Dia tidak mungkin hidup di tahun 2014 ini.”

“Tapi.”

“Artinya kita harus kembali ke tahun 2050.”

Bibir Naeun bergetar. “Bagaimana jika dia hidup di tahun 2014? Lagipula, aku sudah melihat bahwa yang menciptakan Barvseu bukanlah Joon-myeon. Dia hanya menciptakan Robolars yang sempurna.”

“Aku tidak bisa memastikan itu. Aku.”

“Takut?”

Bomi mengangguk pelan. Sama, Naeun juga takut. Rasanya hidupnya sangat dipertaruhkan. Ia merasa bahwa Barvseu bersembunyi disuatu tempat. Entah dibelahan bumi yang mana. Dia tidak tahu.

Apa harus ia mencari Barvseu? Dan mengalahkan induk Robolars itu bersama dengan Bomi? Tapi, kenapa rasanya dia tidak mau meninggalkan tahun 2014? Kenapa rasanya, ia ingin tetap tinggal.

Deg.

Kenapa jantungnya? Ada apa dengannya?

“Naeun?”

Naeun tersadar. Kemudian ia menatap Bomi. “Kita pikirkan nanti lagi. Kita harus menghubungi Namjoo untuk menanyakan letak Barvseu. Dia bisa mengendap-ngendap kedalam perpustakaan Joon-myeon.”

Bomi menganggukkan kepalanya kemudian berlalu pergi meninggalkan Naeun dengan lamunannya. Pikirannya masih tidak stabil. Ia terlalu belum percaya dengan keberadaan Barvseu.

“Kenapa harus aku yang jadi Robovent?”

“Robovent?”

Naeun menolehkan kepalanya. Mampus, ujarnya dalam hati. Dia ketawan. Dia menatap laki-laki itu setengah tidak percaya. “Ada apa memangnya?”

“Kau barusan menyebutkan kata-kata yang tidak asing ditelingaku,” ujar Jaehyun. “Robovent? Tadi katamu.”

Naeun mengerutkan keningnya dan menatap Jaehyun setengah tidak percaya. “TungguTadi katamu, tidak asing?”

“Kapan aku berkata seperti itu?” tanya Jaehyun bingung. Namun, jelas-jelas Naeun mendengar bahwa Jaehyun berkata sepert itu tadi. “Kau mau kerja tidak?” tanya Jaehyun.

Naeun menganggukkan kepalanya. Kemudian ia mengekor di belakang Jaehyun menuju lantai dua. Dimana ia harus bekerja dan membantu Jaehyun.

**

Lagi-lagi, Naeun insomnia. Dan, hari ini dia menemukan sebuah laptop diatas tempat tidurnya. Ia tentu saja tahu cara menggunakannya, lagipula dia lebih modern daripada Myungsoo.

Ketika ia hendak mengucapkan terimakasih, laki-laki itu justru tertidur pulas diatas tempat tidurnya. Kini, dia sedang berkutat dengan laptopnya. Sibuk mencari-cari Robovent di google.

Sebenarnya, dia tidak yakin bahwa ia bisa menemukan informasi tentang Robovent disana. Lagipula, ini kan masih tahun 2014. Son Naeun, omong kosong macam apa ini.

Kembali, dia terpikirkan oleh Demontel miliknya yang hilang. Dia sudah mencoba mencarinya ke penjuru rumah Myungsoo, namun nihil. Dia tidak menemukannya.

Bagaimana jika ia tidak bisa kembali?

Tapi, kenapa perasannya mendadak ia tidak ingin meninggalkan tahun 2014? Kenapa rasanya ia ingin tetap tinggal di tahun ini? Ada apa dengannya? Itulah pertanyaan yang terus berkelebat di kepalanya.

Apa ia harus melanjutkannya untuk mencari Demontel?

Tidak. Ia tidak harus. Biarkan saja, waktu terus berjalan. Dia harus mencari Barvseu dan menyelamatkan hidupnya. Kalau tidak, dia akan terus-terusan menjadi Robovent. Dia ingin menjadi manusia.

Itu saja. Satu keinginannya.”Son Naeun?”

“L?” tanya Naeun memastikan. Bodoh, lagipula siapa lagi yang ada di rumah Myungsoo kalau bukan Myungsoo sendiri atau bisa juga hantu. Tapi dia tidak pernah berpikiran seperti itu.

“Tentu saja. Kau pikir siapa lagi selain kau kalau bukan aku?” tanyanya kesal. Akhirnya, Naeun bangkit dari tempat tidurnya kemudian membukakan pintu untuk Myungsoo.

Myungsoo melangkah masuk ke dalam dan menatap Naeun sambil tersenyum. “Aku mau tidur disini,” Myungsoo meletakkan selimutnya, bantal, dan gulingnya diatas sofa panjang milik Naeun.

Naeun mendengus. “Memangnya kenapa?”

“Aku tidak bisa tidur.”

“Ya, justru itu. Aku juga insomnia!”

Ting.

Myungsoo menatap Naeun. Sudah pasti itu milik Naeun. Sebuah pesan masuk. Naeun segera memeriksa ponselnya.

Ahn Jaehyun: Besok berangkat bareng, lagi?

Son Naeun: Kalau kau tidak keberatan, boleh.

Ahn Jaehyun: Baiklah. Jam 9 ya?

Son Naeun: Ok.

“Dari siapa?” tanya Myungsoo penasaran. Kini ia sudah dibalik selimutnya seperti sebuah kepompong. “Kalau tidak mau dijawab juga tidak apa-apa.”

“Dari Jaehyun,” Naeun menjawab kemudian ia menutup pintu kamarnya. Dia kembali menuju ke arah tempat tidurnya kemudian mematikan laptopnya.

Myungsoo tersenyum kecil. Ia mengeratkan selimutnya karena udara Seoul yang cukup dingin. Menjelang musim dingin, suhu udara menurun drastis sekitar 2 derajat. Jadi, pakai selimut juga tidak cukup untuk menutupi tubuhnya, dia butuh jaket.

Laki-laki itu menatap Naeun yang sudah tertidur pulas. “Naeun, kau tidak kedinginan?”

Diam. Hening.

Namun, Naeun bergerak-gerak seperti kedinginan. Pasti. Akhirnya, Myungsoo bangkit dari tempatnya tidur. Myungsoo melangkah menuju lemari Naeun, dan disana ia menemukan selimut miliknya yang sengaja ia simpan disana.

Ia mengambil selimut itu kemudian ia meletakkannya diatas tubuh Naeun. Laki-laki itu tersenyum kecil. Kemudian ia mengelus kepala gadis itu sambil tersenyum kecil.

Gadis itu menggeliat kemudian merapatkan tubuhnya ke dalam selimut.

Deg.

Apa dia menyukai Naeun?

**

“Hei, L! Bangun!” ujar Naeun sambil mengguncang-guncangkan tubuh Myungsoo. Gadis itu sudah rapi dengan pakaiannya yang kasual. Naeun menghembuskan nafasnya, apa laki-laki itu sengaja tidak bangun?

Myungsoo membuka matanya kemudian ia menarik tubuh Naeun kedalam pelukannya dan kembali tertidur.

Deg.

Kini, jantung Naeun tidak karuan. Gadis itu mengatur detak jantungnya. Ia sudah merasakan bahwa pipinya memanas. “L, aku harus berangkat kerja. Kau juga bangun lah.”

Akhirnya Myungsoo terbangun kemudian ia mendekatkan bibirnya ke telinga Naeun. “Selamat pagi, gadis nyentrik.”

Sapaan yang sama.

“Oh, ayolah, L. Lepaskan aku. Aku harus berangkat.”

Myungsoo akhirnya melepaskan gadis itu, kemudian tersenyum ke arah gadis itu. Naeun cemberut, kemudian ia melangkah keluar dari kamarnya.

“Hei! Tidak ada salam perpisahan?” tanya Myungsoo sambil bangkit dari sofanya.

Naeun mengenakan sepatunya. “Memangnya harus?” tanya Naeun setengah berteriak. Gadis itu tidak mau membuat Jaehyun menunggu lama. Apalagi, laki-laki itu sudah menunggunya daritadi.

“Naeun!”

Naeun menoleh, didapatinya Myungsoo yang berjalan menuruni tangga. “Ada apa, sih? Aku harus berangkat.”

“Sebentar saja,” kata Myungsoo kemudian ia melangkah mendekati Naeun. Lalu, menarik gadis itu dan memegang leher Naeun.

Chu~

Bibirnya bersentuhan dengan bibir Naeun. Naeun melotot. Ia bahkan tidak sempat menutup matanya. Ia bisa merasakan bahwa bibir Myungsoo melumat bibirnya pelan.

Pelan-pelan, Myungsoo melepaskan bibirnya. Kemudian ia menatap gadis itu sambil tersenyum. “Maaf. Hanya itu yang bisa kulakukan,” katanya sambil mengacak rambut gadis itu.

Blush.

Naeun bisa merasakan bahwa pipinya merona. “Sudahlah,” Gadis itu melangkah keluar, ia tidak mau Myungsoo mendapatinya bahwa ia sudah merona. “Aish, apa-apaan sih.”

**

“Jongin-a,” kata gadis itu membuka pembicaraan.

Tampaknya, laki-laki yang berada dihadapannya itu sama sekali tidak menanggapi perkataan kekasihnya. Krystal menghela nafas pelan. Lalu, ia menggoyang-goyangkan tangannya di depan Jongin.

“Jongin-a,” kata Krystal lagi. “Aku butuh bantuanmu.”

Jongin menghembuskan nafasnya. “Krystal, kita tidak bisa begini terus? Kau tau ayah tirimu itu keterlaluan. Kalau aku ingin menikahimu bagaimana?” tanya Jongin.

“AkuAku rasa aku tidak bisa berlama-lama dengan ayah tiriku,” kata Krystal sambil memainkan cangkir kopinya. “Aku membencinya.”

Jongin tersenyum kecil. “Aku tau, lalu bagaimana dengan kau?” tanya Jongin. “Aku tidak ingin kau berlama-lama seperti ini. Hidup tanpa rumah dan tanpa uang sepeser pun.”

Gadis yang ada dihadapan Jongin hanya bisa tersenyum getir. Rasanya ia ingin menangis. Dia bahkan tidak punya uang sama sekali.

“Jadi bagaimana?” tanya Jongin. Laki-laki itu, apa dia masih mencintai Krystal? Ditambah lagi, dia yang harus memenuhi kebutuhan hidupnya. Dia tidak bisa membantu Krystal.

“Aku harus kembali dan membantu Abeoji.”

“Apa?! Kau gila?” tanya Jongin. “Tapi.”

Krystal menatap Jongin. “Tidak ada cara lain, aku harus membalaskan dendam ayah tiriku.”

**

“Bomi-ya!”

Bomi menoleh kearah sumber suara. Son Naeun rupanya. Naeun tengah diam-diam kabur dari lantai dua dan menuju ke lantai satu. Mengendap-ngendap memanggil Bomi yang juga tengah bekerja.

“Ada apa?” bisik Bomi sambil pelan-pelan mendekati tangga dimana Naeun bersembunyi. Sedangkan itu, Jang Dongwoo, si kasir sedang memelototi mereka berdua.

Bomi dengan terpaksa mengerlingkan matanya ke arah Dongwoo. Akhirnya, Dongwoo mendengus seakan berkata yaudah-terserah-kau. “Aku sudah mencari tentang Robovent di google tapi tidak ada.”

“Yaiyalah!” pekik Bomi sambil berbisik kesal. “Kau ini apa-apaan Son Naeun. Tentu saja tidak ada. Kita hidup di tahun 2014.”

Naeun terkekeh. “Tapi, kemarin Jaehyun agak sedikit aneh.”

“Maksudmu?”

“Naeun, Bomi?”

Mereka membalikkan badan mereka dan mendapati Jaehyun tengah memelototi mereka berdua. Cepat-cepat Naeun berlari menuju lantai dua sambil menarik tangan Jaehyun.

Jaehyun bergidik saat mendapati tangannya tengah digenggam erat oleh Naeun. Cepat-cepat, Naeun melepaskan tangan Jaehyun.

Jaehyun pun tersenyum jail. “Lumayan juga genggamanmu. Sangat kuat,” kata Jaehyun sambil terkekeh.

“Apaan kau ini. Maaf, aku meninggalkanmu. Ada sesuatu yang harus aku bicarakan dengan Bomi.”

“Tentang?”

Naeun memelototi laki-laki itu. “Urusan wanita.”

“Oh ya?” tanya Jaehyun jahil.

“Ya!” pekiknya namun dengan berbisik. Dia tidak mau mengganggu pelanggan Restoran itu. Sudah cukup, baginya bermain-main disana. Dia tidak mau dipecat oleh Sajangnim.

**

Hening.

Itulah yang terjadi di dalam mobil Jaehyun saat ini. Daritadi tak ada yang buka suara. Jaehyun sebenarnya ingin buka suara dan mengatakan segalanya. Tapi, dia takut.

Dia takut jika ia salah berkata dan BUM! Naeun akan menganggapnya gila. Naeun pasti berpikiran yang aneh-aneh dengannya.

“Naeun?” katanya akhirnya.

Naeun memiringkan kepalanya. “Hm?” tanyanya sambil menaikkan ujung bibirnya.

Manis. Itulah yang dikatakan Jaehyun didalam hatinya ketika melihat senyum Naeun mengembang. Semua yang Naeun lakukan menurutnya sangat manis. Gadis itu terlalu cantik baginya.

“Kau Robovent?” tanyanya akhirnya.

Naeun terdiam. Senyumnya memudar. Ia menatap Jaehyun tidak percaya. Bahunya bergetar hebat. Dia tidak pernah mengungkapkan ini pada siapapun, tapi bagaimana laki-laki itu tahu. “Kau.”

“Aku mendengarkan pembicaraanmu dengan Bomi,” katanya. “Maaf.”

Naeun kembali diam. Tapi, apakah laki-laki itu tahu tentang Robovent? Naeun bertanya-tanya. “Kau tahu Robovent?”

“Iya,” jawabnya.

BUM! Rasanya Naeun ingin melayang. Tapi, bagaimana bisa Jaehyun tau tentang Robovent? Jelas-jelas, Namjoo memberitahunya bahwa hanya ada Robovent di tahun 2014 yaitu Naeun dan Namjoo.

Kalau Jaehyun bukan Robovent? Lalu dia siapa?

“KauKau siapa sebenarnya?

Jaehyun tersenyum getir. “Kau tidak tahu aku?” tanyanya.

Naeun menggelengkan kepalanya. Dia semakin takut dengan laki-laki ini. Bagaimana jika dia adalah Barvseu? Bagaimana?

“Aku adalah..”

**


 

Yeay! Akhirnya ngegantung lagi nih! Ayo, tebak! Menurut kalian Jaehyun itu siapa ya? Hehehe. Kasih pendapat kalian ok?

Ada yang tahu Ahn Jaehyun itu siapa? Jangan bilang kalian gak tahu. Ituloh, pacarku. Jeger.

Dia adalah Ahn Jaehyun yang bermain peran sebagai adik dari Cheon Song-Yi di ‘You Who Came From Stars’. Jangan bilang pada gak nonton ‘You Who Came From Stars’? Ayo ngaku. Nah, aku juga nonton itu karena ada my lovely Song Samdong alias Kim Soo Hyun. Aku suka sama Kim Soo-hyun sejak jaman-jaman Dream High, udah gitu Moon Embraces the Sun, lalu Secretly Greatly dan terakhir ‘You Who Came From Stars’. /Curcol.

Udah deh, balik ke Ahn Jaehyun. Kalau ada yang gak tau, ini aku kasih fotonya deh. Jangan rebut pacarku ya kalau udah tau fotonya /plak.

Ahn_Jae_Hyun9 tumblr_mzaffiCTyV1qg750jo1_500

Udah kan? Bye>u<

Advertisements

22 thoughts on “[Chapter 5] 2050

  1. oke, seneng banget ada ahn jaehyun disini, dia nipiu banget muka ama umurnya ga cocok 😀 pecinta k-drama pasti tau lah ya ama dia ho8 myungsoo beani banget kisseu ama naeun? btw krystal beneran mo bunuh myungsoo? knp?

    • halooo, duh kamu sering banget nih komentar. maaf aku gak pernah bales:( makasih loh udah jadi komentator setia. jehehehe, tau aja kalau myungsoo berani. itu ceritanya pemanasan /apasih.

      • abis baca kan musti ninggalin jejak 😀 jaehyun itu barvseu kah..? jangan di nistakan dong jaehyun nya, kkk

  2. kyaaaa author, ceritanya nggantung ><
    jadi penasaran kan hadududuh /_-
    okeh next chapternya aku tunggu thor~
    ceritanya bagus thor hwhwhw :3
    fighting ne ^-^)9

    • halooo, panggil aja aku shinyoung kkk. cie penasaran yea, aku juga penasaran loh /apaini. sip, tunggu terus sampai ending! makasih yaaaaa hahaha saranghae!<3

  3. Akhirnya di post juga huaaaah. Naeun peka dikit kek, myungsoo udh ngasih kode keras tp ga ditanggepin-__-gue curiga, jaehyun itu barvseu._myugsoo mau dibunuh ama krystal? Andwaeeee;_;next chapr ditnggu yah mwa

    • halooo>< emangnya kelamaan ya? itu kan durasinya cuma dua minggu kkk. naeun kan gak punya kepekaan karena dia robot /apalagi. makasih, silahkan ditunggu!:)

  4. gilaa seru…. jangan sampe kalo ahn jaehyun itu barvseu soalnya gapantes masa cakep cakep gitu jahat hahaha. ditunggu chapter berikutnya yaaa 🙂

  5. duh thor sukses dah bikin gue mati penasaraaaan… jaehyun siapa sih??? apa dia Barvseu?? atau Robovent juga??
    aaakkh,, u drive me crazy now ;AAA; update soon <3<3<3

    • halooo, panggil aja aku shinyoung kkkk. cie elah penasaran><jaehyun itu ayy, nanti dijelaskan di chapt selanjutnya kokk. yeyeyeyeye, i'm gonna make you crazier now /whut. hhhh, okeee<3

  6. Uuaahhh,, critaanya daebakkk.. Krenn,, dohh,, skinshipnya tmbahin dkit dong /ehh,, ituu dia siapaa ko tau tntang naeun, nahh,, pokokee daebakkk,, ayoo thorr lanjutkan (ง’̀⌣’́)ง fighting :*

    • wahhh, maaf banget kalau skinship nya sedikit/? nanti aku tambahin dehhh hehehehe. tapi nanti-nanti-nanti ya, soalnya kan myungsoo-naeun sebenarnya masih dalam keadaan formal.

      kkk, pokoknya makasih yaaaa<3

  7. Wah bisa apa aku? ini ide nya keren. Sebenernya aku tahu fic ini juga telatan, jadi ya harus baca dari part awal dulu hehe. Sampe part 5 masih bikin penasaran xD
    Jadi terinspirasi buat fic Naeun

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s