[FF Freelance] Finding Happiness (Chapter 4)

POSTER [FF FREELANCE] FINDING HAPPINESS

Title              : Finding Happiness (chapter 4)

Author          : @leenami0203

Rating           : PG-13

Length          : Chaptered

Genre           : Angst, Hurt, Family

Main Cast   : Lee Nami (OC), Cho Kyuhyun (super junior), Shin Yong Ra (OC)

Support Cast: Cho Ahra, Lee Hyukjae, Cho Hana, dll

Previous      : Chapter 1Chapter 2, Chapter 3

Disclaimer   : Author mau diem kali ini–

Happy Reading !!

 

 

Tapi tunggu dulu, dia bersama seorang yeoja. Ya yeoja itu adalah Yong Ra, sahabatnya. Awalnya aku hanya memandanginya biasa, tapi seketika mataku membulat ketika menyaksikan adegan yang sangat membuat hatiku sakit luar biasa.

Astaga, mereka berciuman bahkan di tempat umum. Mungkin aku masih bisa memaklumi jika Kyuhyun dan aku tidak terikat dengan sebuah status apapun. Tapi sekarang Kyuhyun sudah berstatus sebagai suamiku, dan dia mencium gadis lain.

Hatiku mendadak sakit sepeti ada ribuan jarum yang menusuknya, mataku perih, sekuat tenaga aku menahan tangisanku agar tidak terjatuh sambil berlari meninggalkan tempat itu. Yang aku inginkan hanyalah menjauh agar tidak melihat mereka.

To : Ahra eonni

Eonni, aku pulang duluan. Tiba-tiba perutku mulas, mungkin karena terlalu banyak makan tadi pagi. Selamat bersenang-senang dengan Hyukjae Oppa.

Aku mengirimkan pesan singkat pada Eonni agar dia tidak perlu mencariku. Setelahnya aku langsung bergegas pergi dengan bus, tidak pulang kerumah melainkan mengunjungi makam orang tuaku. Hanya ini yang bisa ku lakukan untuk mengusir rasa sakit hati yang tengah melanda akibat perbuatan Cho Kyuhyun dengan Shin Yong Ra.

***

Cho Kyuhyun POV

Aku baru pulang sekitar jam 9 malam, rasanya badanku sangat lelah. Aku menyuruh Yong Ra untuk main kerumah dan menemaniku karena ku tahu pasti Nami sudah tidur di kamar. Lagipula Ahra Nuna tadi meneleponku dan mengatakan bahwa dia akan pulang besok karena sedang menengok mertuanya yang sakit. Jadi aku bisa bersenang-senang sebentar dengan Yong Ra.

“Oppa, dimana istrimu?” tanya Yong Ra sambil membelai rambutku, aku sengaja merebahkan diriku di pangkuannya.

“Mungkin sudah tidur dikamar, wae? Kau takut ketahuan?”

“Ani, hanya ingin ‘menyapanya’ saja. Oppa kita bertanding game lagi yuk?” cih menyapanya? Aku mendengar Yong Ra mengucapkan kata ‘menyapa’ dengan nada mengejek.

“Aku lelah Ra-ya lagipula kau pasti kalah lagi,besok saja ya?”

“Ayolah Oppa, aku bosan. Jebaaaaaalll?” aish yeoja ini apa tidak merasa lelah setelah seharian berjalan-jalan, aku tidak bisa menolak jika dia sudah mengeluarkan puppy eyes nya.

“Baiklah, kau bisa ambil alatnya dikamarku. Aku meletakkannya di dalam lemari sebelah kamar mandi. Ingat! Jangan berisik agar yeoja gila itu tidak bangun,” akhirnya aku mengalah, sebelum beranjak dari tempatnya Yong Ra mengecup pipiku sekilas, aku bangun dan berpindah merebahkan diri di sofa.

15 menit telah berlalu, Yong Ra belum juga kembali dari atas. Aku berniat menyusulnya, tapi langkahku terhenti ketika Yong Ra sudah berdiri di depan kamarku dengan alat game ditangannya.

“Kenapa lama sekali mengambilnya?”

“Aku bingung Oppa, lemarimu memiliki banyak pintu dan aku harus membukanya satu per satu untuk mencari benda ini,” Yong Ra mengangkat benda tersebut ke udara.

“Kau bilang istrimu ada di kamarnya, kenapa tidak ada Oppa?” sambung Yong Ra kembali.

Aku sedikit terkejut dengan kata-kata Yong Ra. Nami belum pulang? Benarkah? Tapi tadi Nuna mengatakan Nami sudah pulang duluan karena sakit perut. Seketika rasa gelisah melanda diriku. Dimana dia? Apa yang sedang dilakukannya? Kenapa belum pulang juga? Apakah dia baik-baik saja?, berbagai macam pertanyaan muncul di benakku. Badanku bergetar, aku takut bila terjadi sesuatu padanya.

“Yeoboseo” suara Yong Ra mengalihkanku.

“…………”

“Ne Eomma aku pulang sekarang,” Eomma Yong Ra menelepon, mungkin menyuruhnya pulang. Aku hanya meliriknya sekilas, lalu dia mematikan teleponnya.

“Maaf Oppa, Eomma menyuruhku pulang karena sudah malam,” aku hanya membalasnya dengan anggukan, Yong Ra berjinjit untuk mencium bibirku, tapi aku hanya diam saja tanpa membalas ciumannya sama sekali karena pikiranku masih tertuju pada Nami.

“Oppa gwaenchana? Kenapa kau diam saja?”, Yong Ra mengernyitkan alisnya, mungkin karena melihat ekspresi ku yang tidak seperti biasanya ketika dia mencium.

“Ani, gwaenchana. Pulanglah Ra-ya, hati-hati dijalan” kataku sambil menggiringnya ke pintu depan.

Setelah Yong Ra tidak terlihat lagi aku kembali masuk rumah dan mencoba menghubungi Nami. Tapi teleponny tidak aktif, aku mencoba menghubungi Nuna karena mungkin saja Nami kembali ke tempat Nuna. Tapi Nuna mengatakan dia tidak bersama Nami. Aku benar-benar khawatir dengannya, kucoba menghubinginya kembali berkali-kali, lagi-lagi tidak bisa.

Aku kembali ke kamar dengan perasaan kacau. Tiba-tiba ada suara pintu dari arah bawah, aku yakin itu adalah Nami. Dengan terburu-buru aku keluar kamar dan menuruni tangga.

Dan benar. Aku merasa lega melihat Nami dalam keadaan baik, hanya saja raut mukanya sedikit menunjukkan ekspresi entahlah, mungkin marah atau sedih.

“Dari mana saja kau? Kenapa baru pulang?”, aku langsung menghujaninya pertanyaan dengan nada dingin, berbanding terbalik dengan yang aku rasakan.

“Bukan urusanmu,” jawabnya singkat sambil berlalu melewatiku.

“Jadi sekarang kau berani membantah suamimu?” aku tersulut emosi sehingga nada bicaraku naik. Dia hanya tersenyum sinis tanpa melihatku dan pergi ke kamar. Aku terus mengikuti dibelakangnya, karena penasaran apa yang terjadi aku terus mendesaknya.

“Kau tidak punya mulut ha?” aku sedikit membentaknya.

“Aku dari mengunjungi orang tuaku. Puas kau?” jawabnya dengan suara pelan, walaupun terlihat sedang menahan emosi. Lalu dia langsung merebahkan dirinya di sofa dan memejamkan mata.

“Kenapa sampai larut? Kau tersesat? Atau jangan-jangan kau menggoda pria-pria diluar sana?” tanyaku lagi.

“……”, tidak ada jawaban sama sekali, baiklah aku menyerah. Mungkin dia terlalu lelah, cukup dengan melihanya pulang kerumah dalam keadaan utuh saja sudah membuatku lebih baik.

***

Author POV

Pagi hari seperti biasanya, Nami kembali melakukan rutinitas memasak, mencuci, dan mengerjakan berbagai kegiatan rumah tangga.

“Kau tidak kuliah Kyu?” tanya Nami yang melihat Kyuhyun berjalan menuju ruang makan masih mengenakan piyama tidurnya.

“Aku libur, wae?” sahut Kyuhyun.

“Ani, makanlah sarapanmu dulu” Nami kembali ke dapur untuk membereska alat-alat masaknya yang masih berantakan.

Kyuhyun sedikit bingung melihat Nami pergi meninggalkannya, “Kau tidak ikut makan?”

“Nanti saja,” jawab Nami singkat sambil berlalu.

Sedangkan Kyuhyun diam saja dan melanjutkan memakan sarapannya.

Kyuhyun hanya mengisi waktu liburnya dengan menonton TV seharian, lain halnya dengan Nami, dia menyibukkan diri untuk mengerjakan segala sesuatu agar tidak bosan.

Karena merasa ngantuk, Kyuhyun berjalan menuju kamar. Tapi tiba-tiba langkahnya terhenti saat melihat Nami yang baru saja keluar dari kamar orang tua nya.

“Apa yang kau lakukan didalam?” tanya Kyuhyun penasaran. Ini adalah pertama kalinya Kyuhyun melihat Nami memasuki kamar orang tuanya.

“Hanya meletakkan pakaian bersih milik Eomma dan Appamu, daripada menumpuk di tempat setrikaan.” Kyuhyun hanya mengangguk mengerti.

Ahra baru pulang sore harinya, tapi dia sendirian karena suaminya sedang bekerja.

“Mi-ah,” panggil Ahra yang melihat adiknya sedang menyiram bunga di halaman itu.

“Oh kau sudah pulang Eonni,” Ahra hanya mengangguk sambil menatap Nami.

“Aigo, kau rajin sekali mi-ah. Ingat pesan Eomma jangan sampai kelelahan, kami tak ingin kau jatuh sakit lagi. Arra?”  aku hanya tersenyum.

“Mana Kyuhyun?”, lanjutnya sambil mengedarkan pendangan kesekitar.

“Dia ada didalam”

“Aku masuk dulu ne,” aku membalasnya dengan anggukan kecil.

***

Author POV

Seminggu telah berlalu, kini Eomma dan Appa Kyuhyun pulang ke rumah kembali.

“Hyunnie, Nami, kami pulang,” teriak Eomma dari pintu depan. Bukannya Kuhyun atau Nami yang muncul melainkan Ahra.

“Eommaaa, appaaaa, kalian sudah pulang. Kyuhyun dan Nami sedang dikamarnya, mungkin mereka tidak dengar,”

“Apa hubungan mereka sudah membaik?” tanya Appa Kyuhyun.

“Lumayanlah, bahkan Kyuhyun sempat mengantarnya jalan-jalan juga”

“Jinjja? Ah syukurlah…” Appa terdengar lega mendapatkan berita baik dari anak perempuannya tersebut.

“Oiya, Appa , Eomma, Hyukjae mengundang keluarga kita untuk datang ke pesta pertunangan adiknya,” Ahra menyerahkan sebuah undangan berwarna merah marun dengan tulisan Lee Donghae dan Song Hyesoo berwarna emas. Lee Donghae adalah adik Lee Hyukjae satu-satunya, sedangkan Song Hyesoo adalaa tunangan Lee Donghae.

***

Eomma Kyuhyun terlihat kebingungan mencari sesuatu di lemari.

“Appa, kau melihat kotak perhiasan Eomma?” tanya Eomma sambil tetap menggeledah lemari.

“Annio Eomma, memang kenapa?”

“Kotaknya menghilang, padahal aku sangat ingat meletakkan disini. Huh, kalo seperti ini kan aku jadi tidak bisa memakai kalung pemberian Appa” jawab Eomma dengan menunjuk almari tempat menyimpan perhiasannya, tapi dengan raut sedih.

“Yasudah pakai kalung yang lainnya saja Eomma, nanti setelah pulang dari pesta kita cari kembali.” Appa mencoba menenangkan hati istrinya.

Mereka semua berangkat menuju kediaman Lee, untuk menghadiri pesta termasuk Kyuhyun dan Nami.

Pesta selesai sekitar pukul 7 malam, tetapi karena perjalanan sedikit macet mereka baru tiba dirumah sekitar pukul 9.

Kyuhyun memilih untuk langsung masuk ke kamarnya diikuti Nami dibelakangnya. Sedangkan Eomma dan Appa Kyuhyun sibuk berbisik-bisik mendebatkan tentang ‘hadiah’. Ya, hadiah yang akan diberikan kepada Nami.

Setahu mereka Nami selalu mengenakan sepatu lusuh, karena memang itu adalah satu-satunya sepatu yang dimilikinya termasuk saat pesta tadi Nami mengenakan sepatu itu. Bukanya bagaimana, hanya saja Eomma dan Appa Kyuhyun merasa Nami pantas untuk dibelikan benda-benda bagus mengingat sekarang statusnya sebagai istri Kyuhyun. Tidak hanya sebuah sepatu, Eomma dan Appa Kyuhyun juga membelika sebuah ponsel canggih keluaran terbaru.

Dengan mengendap-endap Eomonim masuk ke kamar anaknya bermaksud meletakkan hadiah untuk Nami di laci lemarinya. Tapi langkahnya terhenti ketika melihat Nami tidur meringkuk di sofa, sedangkan Kyuhyun di atas ranjang dengan nyaman.

“Aigo..kenapa malah tidur di sofa?” tangan Eomma Kyuhyun terulur untuk membangunkan Nami, tapi ditariknya kembali karena ingat dengan tujuan awalnya yaitu meletakkan hadiah.

Saat membuka laci lemari, mata Eomma melebar dikejutkan dengan sebuah kotak berwarna biru tosca.

“Kenapa Nami punya benda seperti milikku, bahkan persis?” karena penasaran Eomma Kyuhyun mengambilnya, lalu membukanya.

Matanya semakin membelalak ketika melihat benda yang ada dalam kotak tersebut.

“Perhiasanku, kenapa bisa disini?” lirihnya. Lalu Eomma Kyuhyun memuka laci itu lebih lebar, kini matanya kembali dikejutkan dengan sebuah kotak putih yang seingatnya milik suaminya. Perlahan diambilnya kotak tersebut, dan benar saja ketika dibuka isinya adalah sebuah jam tangan mahal milik Appa Kyuhyun yang dulu pernah dibelinya di Paris.

Hilang sudah niatan untuk memberikan hadiah dan membangunkan Nami untuk pindah ke atas ranjang.

Dengan tergesa-gesa Eomma Kyuhyun kembali ke kamarnya, suaminya tampak bingung dengan ekspresi yang ditunjukkan istrinya, bahkan kebingungannya bertambah ketika melihat hadiah yang di khususkan untuk Nami dibawa kembali.

“Eomma, kenapa hadiahnya belum diberikan?” bukannya menjawab, Eomma Kyuhyun malah menyodorkan 2 buah kotak yang ditemukan di laci lemari milik Nami.

“Ahh, syukurlah kotak perhiasannya ketemu..Tapi kenapa jam tangan Appa ada pada Eomma?”

“Aku menemukan benda ini di laci milik Nami” terang Eomma Kyuhyun sambil menampakkan raut kekecewaan.

“MWO? Kenapa bisa disitu?” bentak Appa tidak percaya.

“Molla Appa, aku benar-benar kecewa pada Nami,” Eomma Kyuhyun tertunduk sedih karena ternyata menantunya tega mencuri benda miliknya.

Pagi harinya, Appa menanyakan hal yang semalam dilihat istrinya pada Kyuhyun. Siapa tahu Kyuhyun mengerti kenapa Nami melakukan hal tersebut.

Dan benar saja, Kyuhyun menceritakan hal mengenai ekspresi Nami ketika mengetahui rumahnya disita dan beberapa hari yang lalu ketika melihat Nami keluar dari kamar orang tuanya.

Kyuhyun mengkaitkan 2 kejadian tersebut dengan perkataan Nami tentang ‘ingin hidup bahagia dengan menikahi namja tampan dan kaya raya’.

Mereka semua berkumpul di ruang tengan dengan suasana yang mencekam, tidak ada yang berbicara sama sekali, hanya ada ekspresi kekesalan dan kekecewaan tergambar jelas di wajah Eomma, Appa, maupun Kyuhyun.

“Eomonim, sebenarnya ini ada apa?”, tanya Nami hati-hati karena atmosfir di sana semakin keruh.

Eomma mengeluarkan dua buah kotak yang ditemukannya tadi malam ke meja tepat didepan Nami, “Bisakah kau menjelaskan kenapa benda tersebut ada di laci kamarmu?” tanya Eomma Kyuhyun dengan nada dingin.

“Aku tidak mengerti apa yang Eomonim bicarakan,”

“JAWAB SAJA PERTANYAANKU!!” bentak Eomma Kyuhyun dengan suara tinggi.

“Tapi aku benar-benar tidak mengerti apa yang Eomonim bicarakan,” jawab Nami dengan raut muka kebingungan.

“Semalam istriku menemukan benda tersebut di laci lemarimu, apa kau yang mengambilnya?” Appa Kyuhyun akhirnya angkat bicara.

Nami terkejut sesaat, “Aku tidak mengambilnya Abeonim, bahkan menyentuhnya pun tidak pernah”

“Kyuhyun bilang dia pernah melihatmu keluar dari kami ketika kami tidak berada dirumah” selidik Appa Kyuhyun tidak mau kalah.

“Tapi bukan berarti aku mengambilnya, aku hanya sekedar meletakkan pakaian Eomonim dan Abeonim, aku tidak menyentuh barang apapun didalam. Sama sekali” Nami menekankan kalimat terakhir yang diucapkannya.

“Nami, kau tahu ini bukanlah menyangkut seberapa mahal harga benda itu. Tapi ini semua mengenai sebuah kepercayaan. Kau tahu, kepercayaan itu sangat mahal harganya bahkan lebih mahal dari perhiasan dan jam tangan yang ada didepanmu,” penjelasn Appa Kyuhyun benar-benar membuat Nami semakin lemas, bahkan kalimat pembelaan Nami tak di dengarnya sedikitpun. Perlahan air matanya meleleh melewati pipi bersihnya tapi tak ada suara tangisan disana.

“Dan sekarang kau telah menghianati kepercayaan kami. Mungkin kau boleh marah pada kami karena masalah penyitaan rumahmu, tapi tak seharusnya kau melakukan hal serendah ini Nami-ah. Kau tinggal meminta jika kau menginginkan rumahmu kembali,” lanjut Appa Kyuhyun dengan ekspresi semakin terluka.

Kyuhyun hanya duduk di samping Nami tanpa berbuat apapun, dia hanya menunduk. Dia tahu benar jika Eomma dan Appa nya sudah marah secara bersamaan maka jangan pernah membantah, karena ‘sesuatu bisa saja terjadi’.

“PERGI!” teriak Eomma Kyuhyun semakin emosi.

“Aku benar-benar tidak mengambilnya, kenapa kalian semua menuduhku?” Nami merasa emosinya terpancing tetapi tetap tidak meninggikan suaranya. Bahkan airmatanya turun semakin deras.

“AKU TAK MAU ADA SEORANG PEMBOHONG DAN PENGHIANAT DI SEKELILINGKU, SEKARANG PERGILAH!!” Eomma Kyuhyun semakin berteriak meluapkan emosinya tak terkendali.

“Eomma, kumohon maafkan aku…” Nami berlari untuk berlutut di hadapan Eomma dan Appa Kyuhyun, rasa ego dan malunya di buang jauh-jauh karena yang dibutuhkan saat ini adalah penerimaan maaf dari mereka.

Tiba-tiba Eomonim memegangi bagian dadanya yang terasa nyeri, Kyuhyun dan Abeonim yang melihat hal tersebut langsung berteriak panik. Sedangkan Nami yang tidak mengerti dengan situasi didepannya hanya diam saja tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

***

TBC

Udah part 4 meeen, itu tandanya udah mau final (kayaknya). Terima kasih buat readers #lemparKyu. Hehe #biaringaring

 

3 thoughts on “[FF Freelance] Finding Happiness (Chapter 4)

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s