SANG BONEKA DAN SI ANGIN

photo_05

Sang Boneka Dan Si Angin

[THE DOLL AND THE WIND]

presented by AIDENTOP

T.OP [Choi Seunghyun], G-Dragon [Kwon Jiyong]

| Genre: Angst, Absurdisme | Duration: Ficlet | Rating: PG-15 |

Mereka memanggilnya boneka. Kaku bagai plastik, hina bagai sampah.

Mereka memanggilnya boneka. Kaku bagai plastik, hina bagai sampah.

Hidup terkutuk dalam balik kurungan bening kaca hampa. Diadili hanya dalam sekejap pandang, dipecundangi dalam sekali lirikan.

Mereka memanggilnya boneka, menunggu seseorang datang membelinya, memberinya nama, memanggilnya penuh senyuman—palsu.

Tak mampu menarik simpul senyum. Tak sanggup menggambar emosi diatas wajah plastiknya. Dia—si boneka—tersenyum walau dicampakkan. Tertawa meski direndahkan. Tenggelam jika itu yang mereka inginkan.

Dia—si boneka—berlakon seperti yang mereka inginkan, menyanggupi walau harus memendam perih. Hanya bisa dipeluk dan diabaikan, jika sudah bosan. Kaku bagai plastik, jalang bagai binatang, kata mereka.

Teronggok di pinggiran jalan keputusasaan, menungggu kembali uluran tangan, bersiap seseorang kembali memanggilnya ‘sayang’ dan berakhir di tempat yang sama—dimana keterasingan dan hujatan tercurah hanya padanya. Kembali mendapati diri runtuh dibalik retakkan kulit plastiknya.

Mencemooh logika, menghardik harga diri, membunuh perasaan, mengabaikan masa depan.

Yang mereka tahu dia adalah boneka. Berkulit plastik yang bahagia. Yang dia tahu Tuhan penyayang umatnya. Mereka hanya ingat dia sebuah boneka, mereka tak ingat dia hidup dengan hati yang sudah lama lumpuh. Yang setiap malamnya mengangis dalam diam. Bertopeng ketegaran, berjubah keangkuhan.

Hingga terkisah sesepoi angin menyapa. Melewati tabung kaca tempatnya berdiri menyaksikan dunia luar yang mempertontonkan kepalsuan, bersama secuil senyum janggalnya. Melempar suara juga membawa hening. Menyebut sebuah nama yang sama sekali dia abaikan.

“Temani aku malam ini.”

Dan tangannya datang menjemput tangan sang boneka yang terpaku dinginnya malam. Maka keheningan mengambil alih langkah mengisi kekosongan diantara jarak ilusi. Telinga mendadak tuli. Abjad memilih memusuhi.

Sang boneka pikir dia hendak kembali terbawa malam laknat lainnya, nyatanya, sang angin—begitu dia memanggilnya—membawanya jatuh dalam kesalahpahaman.

“Aku hanya bilang untuk menemaniku saja, kan?” Boneka diam, tak paham.

“Mengapa harus aku?” lalu sang boneka pun terkejut mendapati mulutnya telah berdamai dengan kebisuan.

“Karena memang hanya kau.”

*

“Kau tidak akan melanjutkannya?”

“Tidak.”

“Oh, ayolah, Seunghyun. Untuk apa kau menulisnya selama ini kalau hanya menjadi sia-sia seperti ini?”

“Aku tidak tahu akhir ceritanya, Jiyong.” Seunghyun mencoba membuat alasan. Namun yang Jiyong tangkap hanya sebuah dalih kebohongan.

“Ini tentang ‘dia’,kan? Si boneka?”

Seunghyun menjawab dalam tatapan.

*

“Kau tahu manusia?”

“Yang hina dan penuh kepalsuan itu? Aku tahu.”

“Tapi sekali saja aku ingin menjadi manusia.”

“Kau akan menyesal pernah mengatakan itu.”

“Yang hina dan penuh kepalsuan itu aku, angin.”

“Bedanya, kau mengakuinya. Mereka tidak. Kau sudah manusia sesungguhnya. Dan merekalah yang boneka, sesungguhnya.”

*

“Diam sudah menjawab segalanya,” sindir Jiyong menanggapi kebisuan Seunghyun. Yang disindir tidak peduli dengan sidiran yang tertuju padanya.

“Jangan pernah mencoba mendorongku, Jiyong. Gertakan tentang deadline yang harus kupenuhi takkan mempan buatku.” Seunghyun membalas, Jiyong tertawa geli. Baru saja dia henak mengatakan hal itu.

Oh, betapa Jiyong lupa orang yang sedang duduk di hadapannya dengan segelas Americano coffee ditangannya itu begitu keras kepala.

“Jadi dia itu sang boneka dan kau adalah si angin? Aku mengerti.”

“Brengsek.”

*

“Aku tidak tahu lagi bagaimana rasanya sakit hati. Bagaimana rasanya penuh hina. Bagaimana sakitnya dibuang. Aku sudah habis.” Kelamnya malam membawa mereka ke dalam poros kekelaman yang paling dalam.

“Kau hanya melihat dirimu dalam bentuk yang salah.” Si Angin menoleh demi menatap sepasang mata crimson.

Sang boneka memilih untuk menghindari desir terhembus angin padanya. Yang dia rasakan hanya hangat. Lalu dia mencoba membalas tatapan hangat angin yang memeluknya. Mencari maksud dari perkataannya.

“Lalu kau bahagia menjadi angin?”

“Hanya dua hal. Datang dan pergi. Mengikuti kemana arus akan mengalir. Tidak akan ada yang mampu mengekang. Yang aku tahu hanya kebebasan.”

“Jadi, kau hanya datang untuk pergi kembali? Setelah semua ini?” sang boneka terkesiap. Pertanyaannya membuka kepastian bahwa perasaan itu telah memenuhi lubang di hatinya yang menganga lebar dan menjadi tumpuan hidupnya.

*

Seunghyun masih teringat akan pertanyaan itu. Dan ketenangannya terusik. Di tengah heningnya fajar dan langit masih belum beranjak dari warna malam, Seunghyun mencoba bangkit dari kenangan lalu.

Pembicaraannya dengan Jiyong kemarin sore sekaligus membuka pintu lorong-lorong kenangan itu. Saat ia termenung dan sepasang alur basah membuka jalan untuk banyak air mata jatuh di sisi pipinya.

“Ini harapan terakhirku. Aku ingin menjadi angin.”

“Mengapa?”

“Agar aku bisa datang dan pergi bersamamu.”

Angin tercenung.

“Dan aku juga tersadar betapa boneka dan angin takkan pernah bisa bersatu. Angin takkan mungkin bisa kugenggam.” Angin masih tercenung mencari makna dari seribu arti yang terkandung dari penyataan sang boneka.

Seunghyun kembali membaca akhir dari cerita yang di tulisnya. Dan ini bukanlah akhir yang seharusnya. Namun dia tetap memaksa bahwa ini memanglah akhir yang seharusnya. Isi kepalanya hanyalah kertas putih penuh sayatan; kosong dan kacau balau.

Lilitan kain hitam menyembunyikan perasaannya dan kini dia termakan kesedihannya sendiri.

“Apa kau bahagia sudah menjadi sesungguhnya?”

Sesepoi angin menjawabnya.

*

“Apa kau tahu boneka?”

“Yang aku cintai dan kurindukan itu? Aku tahu.”

FIN

3 thoughts on “SANG BONEKA DAN SI ANGIN

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s