[FF Freelance] Secret

secret

Title : Secret | Author : andinarima | Main Cast : Kim Hyura dan Lee Donghae | Genre : Sad, tragedy, drama | Rating : PG-15 | Length : Ficlet

=

=

Hujan membasahi kota Seoul. Tidak cukup deras, namun mampu membuat siapapun yang menerjangnya akan basah kuyup. Di sebuah pertokoan, banyak sekali orang-orang yang berteduh. Salah satunya Hyura, gadis cantik yang bekerja sebagai editor di sebuah majalah. Gadis itu berdecak kesal, lalu melihat jam tangan yang melingkar manis di tangan kanannya.

“Aku sudah terlambat,” gumamnya pelan. Ia tak mungkin menerjang hujan ini kalau tidak mau baju yang dipakainya basah. Tidak masalah apabila hanya seragam kantor biasa, tapi sekarang ia sedang mengenakan gaun sepanjang lutut yang mau tak mau harus tetap kering hingga ia sampai di tujuan.

Oh, cepatlah. Gadis itu sudah tidak sabar. Ia sudah terlambat memenuhi undangan makan malam. Bukan undangan makan malam biasa, tentu saja. Tapi ini mempertaruhkan nyawanya. Itu tidak berlebihan, kok, kalau bukan orangtua kalian yang merencanakan makan malam ini. Dan bukan hanya ia dan orangtuanya saja, tetapi keluarga itu juga!

Hyura mengulurkan tangannya. Dingin, itu yang dirasakannya saat air hujan menetes ke telapak tangan indah itu.

“Permisi!” Hyura mendongak, menatap heran seorang anak kecil di hadapannya. Ia memegang sebuah payung lipat berwarna biru. “Pakai ini, Kak. Payung ini dari Kakak yang disana.” Anak lelaki itu menunjuk deretan mobil di tempat parkir. Bodoh. Mata Hyura minus, jadi ia tak dapat melihat siapa yang ditunjuk anak itu.

“Tidak, terimakasih,” tolak Hyura. Lalu gadis itu pun mengacuhkannya.

Anak kecil itu meraih tangan kanan Hyura, Hyura mengernyit heran. “Kakak pakai saja. Nanti baju Kakak basah dan pasti Kakak sudah terlambat, kan? Kakak juga pasti tidak mau mengecewakan orangtua Kakak, kan? Kalau begitu pakai payung ini!” lalu anak kecil itu pun pergi.

Hyura tak beranjak, ia masih sedikit heran dengan kejadian barusan.

Tak jauh dari tempat Hyura berdiri, di dalam sebuah mobil sedan keluaran terbaru, laki-laki itu memperhatikan apa yang terjadi pada Hyura. “Cepat pergi! Pakai payung itu, Hyura! Pakai!” Setetes air mata turun dari mata pria itu. ia menangis. Entah, apa yang membuatnya menangis. Namun perasaannya terluka. Air mata itu tidak berhenti, malah semakin deras saat ia melihat Hyura memakai payung itu. Perasaan terabaikan, perasaang sepi, perasaan negatif lainnya merasuki pria itu. Ia meninju lemah stir kemudi.

“Kau bodoh, Donghae!”

#

#

#

Akhirnya, Hyura memakai payung itu untuk mencari bus. Dan sekarang ia telah sampai di sebuah restoran, yang cukup mahal. Orangtuanya – terlebih ibunya, pasti sudah sangat merencanakan hal ini. Hyura tidak heran. Hyura masuk ke salah satu ruangan VIP, dan di dalamnya sudah menunggu lima orang. Kedua orangtuanya, dan keluarga itu.

Siapa yang dimaksud keluarga itu? Mereka adalah keluarga Han, dan anak lelaki mereka – Han Jungwoo – rencananya akan dijodohkan dengan Hyura. Hyura tahu soal perjodohannya, tetapi ia tak bisa menolak walau ia ingin. Terlebih di dalam hatinya ada seseorang yang penting baginya.

“Maaf saya terlambat!” Hyura membungkuk dalam-dalam, lalu ia duduk di sebelah Jungwoo.

Nyonya Han tersenyum. “Ah, tidak apa Nona Hyura. Apa tadi kau terjebak macet? Hem, memang akhir-akhir ini Seoul menjadi sangat padat,” lanturnya. Hyura hanya tersenyum menanggapi.

Lalu terjadilah percakapan-percakapan yang sudah gadis itu duga. Pertama mereka akan membicarakan kerjasama bisnis mereka, lalu pada akhirnya akan merembet ke masalah pertunangan Hyura dan Jungwoo. Hyura sendiri tidak pernah mengeluarkan sepatah kata kalau tidak ditanya, bahkan tak berminat mencari bahan pembicaraan. Ia makan dengan tenang, sangat tenang malah.

Setelah menghabiskan makanannya, ia pamit untuk ke toilet. Sudah tak tahan sepertinya.

Di dalam toilet, Hyura membuka ponselnya dan menekan beberapa nomor. Ia letakkan ponselnya itu di telinga kirinya. Tersambung, tetapi belum diangkat.

“Ayolah, angkat! Aku mohon!” Hyura bergumam. Ia sedikit gelisah, tak henti-hentinya mengayunkan sebelah kakinya dan menggigit bibirnya.

“Donghae-ya, aku mohon angkat teleponnya!” Tetap tidak diangkat. Hyura menyerah lalu memasukkan ponselnya ke tas tangannya.

Ia melihat ke cermin, wajahnya terlihat pucat walau ia memakai make-up. Untuk mengusir kekalutannya, ia membasuh wajahnya dan seketika polesan bedak dan lain sebagainya luntur. Terlihat sudah wajah asli gadis ini. Pucat, terlihat lelah.

Ia kembali ke ruangannya.

“Hyura-ya, kau… lama sekali.” Nyonya Han menelisik wajah gadis di hadapannya ini.

Hyura menundukkan kepala. “Maaf.”

Nyonya Han menggeleng. “Kau tidak apa? Kau terlihat, em pucat Hyura.”

Nyonya Kim mengangguk setuju. “Iya. Hyura, mungkin kau butuh air putih. Ini!” Hyura mengambil gelas dari tangan ibunya, tapi… gelas itu meluncur bebas dari tangannya. Semuanya terkejut.

“Maaf, maaf.” Hyura membungkuk, berniat memunguti pecahan gelas itu. tapi pelayan buru-buru menolaknya. “Biar saya saja, Nona!”

Hyura – dibantu ibunya – duduk di bangku restoran. Ia terlihat sangat pucat sekarang.

Drrt…. Drrt….

Yoboseo? …. Iya, ada apa Bibi Lee? …. Apa??” Air matanya menetes, entah apa berita yang ia terima tapi kesedihan mendalam sangat terlihat di wajah pucatnya. “Ia tak mungkin meninggal,” desisnya.

#

#

#

Hari ini hujan turun cukup deras, membasahi kota Seoul. Entah kebetulan kah, tapi bukan hanya bumi yang menangis, Hyura pun menangis. Sekarang ia berada di sebuah pemakaman. Menghadiri pemakaman sahabatnya – dan orang yang ia cintai, Lee Donghae. Suasana haru sangat terasa. Hyura sudah beberapa kali pingsan, dan menangis. Bagaimana tidak sedih? Setelah dua tahun tak berjumpa, tak saling berkomunikasi – oh, Hyura seringkali menelpon tapi tak diangkat – laki-laki itu pergi. Pergi untuk selamanya. Tak ada yang tahu, sekalipun keluarganya, kalau lelaki itu menderita leukemia..

Ia kesal pada Lee Donghae. Apa ia tak menganggap Hyura sahabatnya? Mengapa ia bertindak sendiri seperti itu? Bahkan yang lebih mengejutkan, ia meninggal bukan karena penyakitnya. Melainkan bunuh diri dengan mengonsumsi obat-obatan yang dosisnya terlalu tinggi.

Bodoh! Lelaki itu bodoh. Dan sekali lagi, Hyura pingsan

——————————————————————————————————-

END

———————————————-

Hei ho.. Hallo, setelah hiatus panjaaaaaaaaaaaaaaaaang.. Akhirnya bisa ngirim fanfiksi ini ke RFF lagi🙂 Entah kenapa udah klop deh sama RFF /curcol/ Semoga pada suka sama cerita ini, ya.. Satu yang pasti, aku enggak yakin kalian akan ngerti sama ceritanya -_-

Thankyou ^_^

Credit poster : http://cafeposterart.wordpress.com/

 

2 thoughts on “[FF Freelance] Secret

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s