[FF Freelance] Our Little Promise – When I First Met You (Chapter 2)

large8

Title                 :           Our Little Promise : When I First Met You

Author            :           Red Rose

Length             :           Chaptered

Rating              :           PG-15

Genre               :           Romance, Angst, Hurt

Main Cast       :           Jung Soo Jung & Kim Jong In

Other Cast      :           Stay Waiting

Previous         :          Chapter 1,

Credit Poster:           Google

Disclaimer     :           The story is mine. Read it and give me some advice about my story.

 

 

Jongin kecil terlihat masih asyik menulis di atas pasir dengan menggunakan sebatang ranting-yang entah darimana dia dapat-berukuran sedang. Walaupun tulisannya tidak terlalu rapi, orang yang melihatnya pasti tahu bahwa anak laki-laki itu sedang menulis namanya yang membentuk garis-garis tidak lurus.

Jongin melihat teman-temannya yang lain bermain dengan riang. Jongin melihat dua orang anak perempuan sedang bermain ayunan yang membuat kepangan rambut kedua anak tersebut melambai-lambai seakan mengajaknya bermain.

Jongin juga melihat beberapa anak laki-laki yang tingginya sama dengan dirinya sedang asyik bermain perosotan. Mereka berlomba-lomba menaiki tangga lalu meluncur sambil mengangkat tangan mungil mereka sembari berteriak.

Jongin senang melihat pemandangan itu.

Ya, dia hanya senang melihatnya. Mengapa kau tidak ikut bermain, Jongin?

Jongin bukannya tidak ingin bermain bersama teman-temannya. Dia tahu harus memulai darimana karena Jongin bukanlah anak yang bisa beradaptasi dengan cepat di lingkungan baru tempat tinggalnya.

Hal ini bukan karena Jongin adalah anak yang kuper atau semacamnya.

Sejak berumur tiga tahun, Jongin kecil harus puas hanya mengenyam pendidikan di dalam rumahnya alias home schooling. Orangtua Jongin bukannya tidak mau anaknya bermain seperti anak-anak lainnya yang sebaya dengan Jongin, hanya saja orangtuanya lebih bisa melepas Jongin hanya bermain disekitar rumah saja. Maklum saja, waktu umur Jongin baru menginjak dua tahun, Jongin pernah membuat kedua orangtuanya panik karena kehilangan dirinya.

Saat itu Jongin diajak oleh kedua orangtuanya pergi ke rumah nenek mereka. Sesampainya disana, insting anak berusia dua tahun tidak dapat dihalang. Rasa ingin tahu yang besar membawa Jongin pergi ke arah hutan yang berada tak jauh dari rumah neneknya. Jongin mengira bahwa disana dia dapat bertemu dengan Hansel dan Gretel, cerita pengantar tidur yang setiap malam ibunya bacakan.

Jongin merasa harus menyelamatkan kakak beradik itu dari tangan penyihir jahat. Namun, yang terjadi Jongin masuk ke dalam hutan terlalu dalam dan dia lupa meninggalkan petunjuk sebagai tanda jalan pulang-layaknya Hansel dan Gretel.

Jongin terus masuk kedalam hutan yang gelap, berharap dapt bertemu Hansel dan Gretel. Setelah merasa dia sudah lelah mencari, akhirnya Jongin memutuskan untuk beristirahat dibawah pohon besar yang mempunyai akar-akar besar yang muncul di permukaan tanah.

Jongin menunggu disitu sampai dia terlelap tanpa merasa khawatir akan ada sekawanan binatang buas yang datang atau bahkan nenek sihir yang menangkap Hansel dan Gretel.

Ketika terbangun, Jongin merasa bahwa hutan itu sudah berubah menjadi sebuah ruangan yang dihiasi warna biru laut dan nyaman. Jongin merasa tubuhnya panas. Dia merasa tidak mampu lagi hanya untuk menggerakkan kakinya yang kecil.

Jongin terkena demam tinggi akibat berada terlalu lama di dalam hutan dengan perut yang belum terisi apa-apa.

Sejak saat itu, kedua orangtuanya tidak lagi membiarkan Jongin keluar dari rumahnya.

Karena itu Jongin tidak bisa menyalahkan keputusan kedua orangtuanya itu. pada akhirnya, Jongin harus puas mengikuti bimbingan belajar dirumah sampai dia berumur lima tahun.

Saat memasuki usianya yang keenam, kedua orangtua Jongin mulai mengubah pikiran mereka dengan memasukkan Jongin di sekolah umum. Orangtuanya berpikir bahwa tidak bagus juga untuk perkembangan jiwa Jongin jika terus-menerus terkurung di dalam rumahnya. Jongin butuh teman.

Namun, entah karena pengaruh terbiasa sendiri itu atau karena Jongin memang kurang pandai dalam bergaul, Jongin belum juga mendapat seorang teman baru di sekolahnya yang baru.

Ini sudah memasuki bulan kedua Jongin berada disekolah barunya, tapi belum ada satu orangpun yang berhasil Jongin ajak bicara.

Karena itu, Jongin memilih untuk menyendiri dan bermain ala kadarnya saja.

Sampai Jongin tidak sengaja menabrak seorang anak perempuan yang sedang memegang boneka beruang coklatnya saat Jongin ingin kembali ke kelas.

Boneka anak itu jatuh diatas pasir sehingga membuat boneka itu kotor dibagian wajahnya. Jongin yang saat itu sangat terkejut hanya bisa menunduk. Pasrah. Di otaknya saat itu hanya muncul dua kemungkinan, anak itu akan memarahinya atau anak itu akan menangis sekencang-kencangnya.

Namun, dugaan Jongin salah. Anak itu berjalan mendekatinya dan memanggil Jongin.

“Hei, kenapa kau menunduk? Kau takut melihat wajahku?”

Mendengar suara cempreng anak itu, Jongin sontak mengangkat wajahnya dan menemukan bahwa anak perempuan itu sedang memandangnya dengan ekspresi yang baik.

Anak perempuan itu tersenyum kepadanya. Senyum pertama yang dia dapat dari orang lain-selain orangtuanya-sejak dia berada di tempat itu.

Beberapa detik Jongin terpaku melihat wajah anak itu. Wajahnya putih dengan sedikit rona merah di kedua pipi chubby-nya. Rambutnya lurus hitam sepanjang bahu. Matanya terang dan bibirnya bewarna soft-pink.  Jongin berpikir bahwa yang kini sedang berada didepannya itu adalah sesososk boneka.

Lamunan Jongin buyar ketika lagi-lagi dia mendengar suara anak itu.

“Mengapa kau diam saja? Apakah kau benar-benar takut sampai menatapku seperti itu? Apa itu karena tadi kau menjatuhkan bonekaku? Aku tidak marah. Aku juga ceroboh tadi karena tidak berhati-hati dan melihat ada orang didepanku.”

“Ehm… ehm… Ti… Tidak. Aku tidak takut melihatmu. Kau tidak menakutkan.”

Kau manis, kau tahu. Bisik Jongin dalam hati.

“Syukurlah. Baru kau yang tidak takut melihatku. Aku tidak tahu mengapa anak-anak yang lain tidak mau bermain denganku.”

Jongin masih diam dan membiarkan anak perempuan itu terus berbicara.

“Kau tahu, aku baru saja pindah disini. Baru sekitar seminggu yang lalu. Aku pikir aku bisa mempunyai banyak teman, nyatanya tidak. Bagaimana kalau kita menjadi teman? Kulihat dari tadi kau juga sendirian. Bagaimana? Kau mau?”

Jongin terperanjat mendengar kata-kata naka perempuan itu. Teman? Ada seseorang yang mengajaknya untuk berteman? Mimpi apa dia semalam? Apakah dia bermimpi bahwa dia bermimipi terbang bersama superman? Tidak ini kenyataan, Jongin. Ini nyata!

“Heh… Aku…”

“Kau ini lama sekali, kenalkan namaku Jung Soojung. Panggil aku Soojung.”

Anak perempuan itu memindahkan boneka beruang yang tadi dia pegang ke tangan kirinya dan tangan kanannya menarik tangan Jongin yang sedari tadi dia sembunyikan dibelakang tubuhnya.

“Namaku Kim Jongin. Kau boleh memanggilku Jongin.”

“Jongin. Hem… Namamu bagus. Nah, Jongin. Mulai sekarang kita adalah teman.”

Senyum anak perempuan bernama Soojung itu entah mengapa berhasil mengusir semua bayangan ketakutan Jongin bahwa selamanya dia tidak akan memiliki teman. Satu saja.

Sekarang dia sudah memiliki seorang teman. Dan temannya itu adalah Jung Soojung.

***

Seminggu setelah Jongin dan Soojung resmi menjadi teman, Soojung mengajak Jongin untuk bermain ke rumahnya. Mengetahui hal itu, Jongin langsung mengiyakan permintaan Soojung dan pergi ke rumah anak itu setelah sebelumnya sudah meminta izin kepada orangtuanya.

Rumah Soojung tidak terlalu besar, namun cukup membuat Jongin nyaman ketika kakinya pertama kali melangkah memasuki rumah tersebut.

Soojung mengajak Jongin bermain dikamarnya. Jongin terperangah ketika melihat kamar pribadi Soojung untuk pertama kalinya. Ruangan itu dicat warna pink muda. Tempat tidur Soojung yang menurut Jongin cukup besar terlihat penuh dengan berbagai boneka.

Jongin belum pernah masuk ke kamar perempuan sebelumnya kecuali kamar ibunya. Berbeda sekali dengan kamar Jongin yang dicat putih bersih.

“Ayo masuk.”

Jongin baru sadar bahwa sedari tadi dia hanya berdiri melongo didepan pintu saat melihat kamar Soojung. Lalu, Jongin melangkah masuk dan mengambil tempat kosong disela-sela boneka Soojung yang luar biasa banyak untuk duduk.

Maka, sore itu dihabiskan oleh sepasang anak kecil itu bermain. Mereka bermain tuan putri dan pangeran dimana Soojung berperan menjadi putri yang berpura-pura sedang ditawan oleh naga jahat dan berharap sang pangeran, Jongin dapat membebaskannya.

Jongin yang terkesan sangat menikmati bermain dengan Soojung tidak menyangka bahwa ternyata dirinya bisa membuka diri kepada orang lain.

Mengapa dia tidak bisa merasa sebebas ini ketika berada di depan teman-temannya yang lain?

Mengapa ketika bersama Soojung, semuanya terasa lebih bebas.

Jongin lebih bisa mengekspresikan dirinya ketika bersama Soojung.

Entahlah.

Entah itu karena mereka sama-sama tidak memiliki teman atau hal lain. Yang pasti, Jongin merasa sangat bahagia.

Waktu bermain terasa begitu cepat. Tidak terasa jam sudah menunjuk angka lima dan itu saatnya Jongin untuk pulang.

Bunyi klakson mobil ayahnya menandakan bahwa waktu bermain Jongi dan Soojung sudah selesai. Untuk hari itu.

Sebelum pulang, Jongin berpamitan dengan Soojung dan ibu Soojung. Ayah Soojung belum pulang kerja sehingga Jongin tidak bisa bertemu dengan ayah Soojung. Ketika langkah kaki Jongin sudah sampai dibatas pintu rumah Soojung, Jongin merasakan tangannya ditarik seseorang.

“Soojung, ada apa?”

“Jongin, kau harus berjanji akan bermain denganku lagi besok, lusa, dan seterusnya karena kau adalah temanku. Teman baikku. Oke?”

“Ya, aku janji. Kau juga adalah teman baikku, Soojung.”

Entah apa yang mempengaruhi Jongin saat itu. Secara refleks, tangannya terangkat didepan wajah Soojung dan mengacungkan jari kelingkingnya yang mungil. Dengan senyum yang sedari tadi menghiasi wajahnya Jongin menatap Soojung.

“Ayo kita berjanji.”

Soojung yang melihat hal itu, langsung mengangkat tangan mungilnya dan menautkan kelingking miliknya dengan Jongin.

“Ya, janji.”

Setelah itu, Jongin melepaskan tautan jari mereka dan melangkah pergi sambil berlari-lari kecil. Tak lupa Jongin melambaikan tangannya kepada Soojung dan Soojung pun melakukan hal yang sama.

Sambil menuju mobil ayahnya, Jongin tersenyum dan berkata dalam hatinya.

Terima kasih Soojung karena kau mau menjadi temanku. Teman pertama sekaligus terbaik. Aku berjanji akan selalu menemanimu bermain. Selamanya.

Jongin terus mengulangi perkataannya itu dalam hati sampai dia pulang rumah, bahkan sampai matanya terpejam dan dirinya terbawa alam mimpi.

***

Bagaimana chapter 2 ini? Harap diberikan pendapat ^^

23 thoughts on “[FF Freelance] Our Little Promise – When I First Met You (Chapter 2)

  1. Demi apa bagus banget thor serisan deh gak boong. Itu si jongin ntar jadi artis ya trus lupa sama soojung gitu. Soojung nya patah hati gitu thor. Aaaaaa pokoknya lanjutkan😀

  2. haloo~
    aku suka banget sama flashback ini! sebelum baca part ini, aku sempetin baca part 1 yang belum sempet kubaca dan jadilah aku nyambung sama ceritanya *applause for me* *ga penting* *skip*

    aku suka sama ceritamu🙂 bahasanya runtut, jelas, enak banget bacanya, bikin penasaran sama cerita selanjutnya🙂
    lanjutkan ya!

  3. kisah persahabatan masa kecil yang manis~
    aaaa aku suka flashbacknya, semoga jongin nggak lupa ya sama soojung, kan kasian
    next part soon

  4. Main castnya aku suka, bahasa, alur, dan ceritanya juga aku suka. Tapi kurang panjang thor, mungkin part selanjutnya bisa lebih panjang🙂
    hmm semoga di next chapter, konfliknya tdk terlalu berat.. Aku ga tega bacanya wkwk😀

    • Hai ^^
      Makasih udah baca.
      Kurang panjang ya??? Mungkin part selanjutnya bisa memenuhi permintaan kamu.
      Aku masih dalam tahap belajar, so ditunggu saja.

    • hai^^ makasih ya udah baca
      memang untuk part ini aku bikin sedikit lebih pendek. hehe
      untuk part selanjutnya, dijamin lebih panjang dari ini.

  5. aduh, manis banget awal pertemuan mereka, jongin yang pendiem ketemu ma krystal yg aktif gitu🙂 chapter 4 nya ditunggu secepatnya ^^

  6. haaai aku kembali lagi~ maaf ya aku lama lanjutin bacanya abis baca yang part 1 T_T
    tapi akhirnya kebaca juga kok part 2 nya hehehe maaf yaaa😦
    waaah jadi gini toh awal mula mereka kenal, karena sama2 nggak punya teman. yaampun pasti pertemanan mereka nanti bakal terasa manis :3

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s