THE LUCKY ONE

THE LUCKY ONE [JJ VER]

Author: @AnditiaNurul||Rating: PG-15||Length: Oneshot (maybe longshot -_-v)||Genre: Sad, Romance, Friendship||Main Characters: (B1A4) Jinyoung & (T-Ara) Jiyeon||Additional Characters: All B1A4’s members, (A-Pink) Namjoo, (Actor) Seungho, (A-Pink) Hayoung, (Infinite) L/Myungsoo, (OC) Dr. Kwan, (OC) Jung Ajussi—Jinyoung’s Father & (OC) The Nurse|| Disclaimer: I own nothing but storyline. Inspirated by film I Give My First Love To You||Warning: Edited! Sorry if you still got the typo(s). Sorry for bored plot. (Maybe) OOC.
Don’t like the pairing? Don’t read! Don’t like the plot? Just stop reading!

HAPPY READING \(^O^)/

@@@@@

Seorang yeoja berambut pendek sebahu berdiri di loteng ruang kesenian. Kedua tangannya memegang bagian atas dinding pembatas yang tingginya hanya sebatas pinggang. Suara isakan kecil terdengar darinya. Bahkan, nampak cairan bening yang membentuk aliran sungai kecil di pipinya. Ne, yeoja itu menangis. Entah apa yang membuatnya bersedih.

Sementara itu, di sisi lain, seorang namja berambut kecoklatan tengah menapaki tangga menuju loteng tersebut. Nampaknya namja itu kesusahan karena ada sesuatu yang terjadi pada kaki kirinya. Mungkin luka atau… terkilir. Tangan kanannya sejak tadi menempel pada bagian kiri dadanya. Wajahnya tampannya menunjukkan raut kesakitan.

“Hah~”

Namja itu menghela napas begitu ia berhasil tiba di loteng. Seketika ia duduk di lantai dekat tangga, menyandarkan punggungnya pada dinding. Bergegas ia menggulung celana panjang sebelah kirinya hingga sebatas lutut. Tampak jelas apa yang terjadi padanya. Sebuah luka ‘menghiasi’ bagian lututnya. Membiarkan luka tersebut terkena angin yang cukup sejuk di loteng.

Tidak lama, ia pun melihat ke sekitarnya. Baru menyadari bahwa ada orang lain selain dirinya yang berada di loteng itu.

Ya!” teriaknya pada sang yeoja yang belum atau bahkan sama sekali tidak menyadari keberadaannya.

Sang yeoja yang mendengar teriakan itu pun menoleh ke arah namja tersebut. Bergegas menyeka air matanya ketika melihat ada orang lain yang mendapatinya tengah menangis. Sayang, ia terlambat beberapa detik melakukan hal itu. Namja berambut kecoklatan sudah tahu kalau ia menangis.

“Kau siapa?” tanya yeoja tersebut dengan suara sedikit serak, masih berdiri di tempatnya berpijak. Hanya saja sekarang tubuhnya menghadap ke arah namja itu.

“Kau yang siapa, eoh? Aku sudah sering berada di tempat ini, tapi aku baru melihatmu di sini,” kata sang namja agak ketus.

Yeoja tersebut nampak kikuk. “Oh, mianhae,” kata yeoja tersebut. “Ng, apa yang terjadi padamu, eoh?” tanya sang yeoja kemudian. Kedua mata sembabnya menatap luka yang berada di lutut namja tersebut.

“Aku jatuh tadi,” jawab namja itu. “Aku pergi ke UKS untuk berobat, tapi siswi yang piket sedang tidak ada di sana. Ck! Dasar. Di saat-saat seperti ini dia malah tidak ada. Dasar tidak bertanggung jawab!” gerutunya.

Untuk kedua kalinya, yeoja itu kikuk. “Mi-mianhae. A-Aku siswi yang sedang piket di UKS sekarang,” ucapnya, berhasil membuat sang namja merasa tidak enak.

“O-Oh~ mianhae. Aku tidak bermaksud mengataimu,” sesal namja itu.

Yeoja tersebut mengangguk pelan. “Gwaenchana. Kau tunggu di sini sebentar. Aku akan mengobatimu,” katanya, kemudian bergegas menuruni tangga loteng kesenian. Berlari ke arah ruang UKS yang letaknya tidak begitu jauh.

A few minutes later

“Sudah selesai,” kata yeoja tersebut setelah ia mengobati luka di lutut si namja.

Ne, gomawo,” balas namja tersebut. Sang yeoja hanya mengangguk. “Ng, kenapa kau menangis tadi?” tanya si namja berbasa-basi. Bermaksud menghilangkan rasa canggung di antara keduanya.

“Ah, gwaenchana. Tidak usah dipikirkan,” jawab yeoja tersebut. “Mm…, ngomong-ngomong, kau… punya penyakit jantung, ya?” tebaknya kemudian, berhasil membuat namja itu terkejut mendengar tebakannya.

“Bagaimana kau bisa tahu, eoh?”

Ah! Rupanya benar, namja itu memang mengidap penyakit jantung.

“Sejak tadi kau memegang bagian kiri dadamu. Telapak tangan kirimu pun terlihat basah. Napasmu juga tersengal dan posisi dudukmu sedikit membungkuk,” jelas yeoja tersebut.

Ne. Aku memang punya penyakit jantung sejak aku lahir. Tapi, kau hebat juga ya bisa tahu hal itu hanya dari bahasa tubuhku. Kau belajar darimana, eoh?”

“Aku suka membaca buku-buku tentang kesehatan. Karena itu aku tahu.”

“Mmm… kau mau menjadi dokter?”

Yeoja itu mengangguk.

“Oh, hebat,” gumam si namja singkat. “Oh, ya, aku Jinyoung. Jung Jinyoung. Neo?” kata si namja memperkenalkan dirinya sambil menyodorkan tangan kanannya untuk dijabat.

“Park Jiyeon.”

Dan yeoja tersebut menjabat tangan sang namja. Keduanya saling melempar senyum satu sama lain. Namun salah satu dari mereka mengucap dalam hati, “Aku berjanji, akan membuatmu menjadi orang yang paling beruntung karena telah mengenalku.”

@@@@@

2 years later

Hiruk pikuk suara teriakan siswa-siswi Ulsan High School memeriahkan suasana di lapangan basket sekolah. Penyebabnya tidak lain adalah band sekolah, B1A4, yang tengah beraksi di atas panggung di sebelah kiri lapangan. Turut memeriahkan rangkaian acara perpisahan di sekolah tersebut.

Jinyoung, sang gitaris band, tampak begitu bersemangat. Bergerak kesana kemari di atas panggung sembari memetik senar gitar listriknya, sesekali melompat untuk menarik perhatian atau menyesuaikan dengan irama lagu yang ia dan teman-temannya mainkan. Tanpa ia ketahui, seorang yeoja yang berdiri di koridor sedang menatapnya penuh kekesalan.

Setelah menyanyikan 3 buah lagu, anggota band B1A4 yang terdiri dari 5 orang pun turun dari panggung. Kelihatan puas dengan penampilan mereka barusan.

“Haaa~ yang tadi terkahir kalinya kita manggung dengan seragam sekolah~” celetuk Sandeul, sang vokalis band. Kelimanya kini duduk di dalam sebuah ruang kelas di belakang panggung, di antara 5 minuman kaleng dan beberapa bungkus snack yang dibeli oleh CNU, keyboardist, beberapa saat lalu.

“Dan ini terakhir kalinya juga kita tampil bersama-sama,” timpal Baro, namja yang selalu mengenakan topi dan juga namja yang dipercaya untuk memainkan bass di dalam band. Mendadak membuat kelimanya terdiam. Ne, tentu saja seperti itu karena setelah ini mereka akan berpisah, melanjutkan pendidikan di tempat yang berbeda.

Ne, tapi setidaknya kita sudah memberikan sesuatu yang baik untuk sekolah,” ujar Gongchan, sang drummer, berusaha untuk membuat suasana kembali ceria seperti sebelumnya.

Ne. Kalian juga tidak perlu bersedih, eoh. Meskipun kita tidak tampil 1 panggung lagi, tapi kita tetap B1A4. Benar, kan?” ucap Jinyoung, memperhatikan wajah teman-temannya satu per satu. “Untuk B1A4!” Dan, namja itu mengangkat kaleng minumannya ke udara, mengajak teman-temannya untuk bersulang.

“Untuk B1A4!” seru keempat temannya, turut melakukan hal yang dilakukan oleh Jinyoung.

Kelimanya pun meminum minuman masing-masing tanpa mereka sadari, seorang yeoja berjalan tegas ke arah mereka. Di tangan kanannya yeoja tersebut, terdapat buku yang digulung menyerupai tabung. Seperti… berniat untuk memukul seorang namja atau mungkin… kelima orang namja yang berada di ruangan itu.

“BUKH!” Dan benar, yeoja tersebut mengayunkan tangan kanannya untuk memukul kepala seseorang. Jung Jinyoung. Keempat namja lainnya menatap yeoja itu, terkejut. Jinyoung seketika berdiri, berbalik menghadap yeoja yang telah memukul kepalanya dari belakang. Nyaris membuatnya memuntahkan minuman yang berada di dalam mulutnya.

“YAAA! APA YANG KAU—” Menyadari siapa yeoja yang berdiri di hadapannya, Jinyoung mengurungkan niatnya untuk membentak.

Ah! Rupanya yeoja ini.

“SUDAH KUBILANG BERAPA KALI, JUNG JINYOUNG!? JANGAN BANYAK BERGERAK KALAU KAU SEDANG BERAKSI DENGAN TEMAN-TEMANMU!” Malah yeoja itu yang membentaknya.

Jinyoung memutar kedua bola matanya jengah. Ia mendengus.

“Jiyeon-ah, tenanglah. Jinyoung baik-baik saja,” sahut CNU, mencoba menenangkan Jiyeon yang tampak kesal.

Jiyeon melotot, tidak percaya dengan apa yang barusan keluar dari mulut temannya. “Kau bilang apa? Baik-baik saja!? Apa kau lupa kalau Jin—”

“CUKUP, JIYEON-AH!” bentak Jinyoung, memotong ucapan yeoja tersebut. Seketika ia meraih tangan kanan Jiyeon, menarik yeoja cantik itu keluar dari ruang kelas. Jelas terlihat di kedua mata namja itu, kilatan emosi yang tidak bisa ditahan. Sementara itu, Jiyeon merasa kesakitan karena Jinyoung memegang pergelangan tangannya terlalu keras.

Ya! Kau mau bawa aku kemana, Jinyoung-ah? Lepaskan tanganku! Sakit!” Jiyeon berusaha meronta, namun Jinyoung malah mempererat pegangannya.

Tiba di luar ruangan, Jinyoung menyandarkan tubuh Jiyeon pada dinding. Berdiri menghadap yeoja itu.

“Apa yang kau lakukan padaku, eoh? Sakit tahu!” gerutu Jiyeon sembari mengelus bekas pegangan Jinyoung di pergelangan tangan kanannya. Menyisakan bekas kemerahan horizontal di permukaan kulit putih yeoja itu.

“Justru aku yang seharusnya berkata seperti, Yeon-ah! Apa kau pikir kepalaku tidak sakit setelah dihantam buku tulis setebal 50 halaman, eoh?” balas Jinyoung.

Yeoja cantik yang masih memegang ‘barang bukti’ itu pun mendengus. “Semua itu karena salahmu! Kau tidak menuruti apa yang aku katakan!”

Untuk kedua kalinya Jinyoung mendengus sebal. Tangan kanannya bergerak memijat keningnya, seolah pusing mendengar ucapan sahabat pertamanya di Ulsan High School. “Dengar, Jiyeon-ah! Aku hanya berusaha menikmati hidupku. Aku tidak tahu kapan aku akan meninggal. Besok. Bulan depan. Tahun depan. Aku tidak tahu, Yeon-ah. Karena itu, selama Tuhan masih memberiku kesempatan untuk menggunakan jantung ini,” Jinyoung menyentuh bagian kiri dadanya, “Aku akan melakukan apa yang membuatku lupa kalau umurku tidak panjang,” lanjutnya.

Kedua mata Jiyeon berkaca-kaca. “Ta-tapi, caramu salah, Jinyoung-ah. Bukankah dokter mengatakan kalau kau tidak boleh melakukan aktifitas fisik berlebihan? Bukankah karena alasan itu selama di sekolah ini kau diperbolehkan untuk tidak mengikuti kegiatan olahraga, eoh? Aku tahu kau ingin melupakan penyakitmu, tapi… kau juga harus menjaganya di saat yang bersamaan agar kau bisa hidup lebih lama. Bulan ini saja kau sudah 2X masuk rumah sakit. Apa kau tidak kasihan pada appa-mu, eoh?”

“Berhentilah mengingatkanku tentang hal itu, Jiyeon-ah!” bentak Jinyoung. “Kau tahu? Jujur, aku tidak suka kau terlalu mencampuri urusan penyakitku. Kau selalu melarangku melakukan ini, melakukan itu. Tidak boleh ini, tidak boleh itu. Memang kau pikir kau siapa, hah? Dokter?”

Kenapa kau tega bicara seperti itu padaku, Young-ah?

Air mata yang menggenang dikedua pelupuk mata Jiyeon pun menetes. Tidak percaya bahwa namja di hadapannya akan berkata hal yang cukup membuatnya tersinggung. Lekas, ia menyeka air matanya, menghirup napas dalam-dalam.

N-Ne. Aku tahu aku bukan dokter. Aku hanya seorang siswi SMA yang menyukai hal-hal tentang dunia kesehatan. Entah kedepannya aku akan menjadi dokter atau tidak, aku tidak tahu. Tapi, aku ini sahabatmu, Jinyoung-ah. Aku—”

“CUKUP!” Entah sudah berapa kali Jinyoung membentak Jiyeon dalam beberapa menit terakhir. “Aku tahu kau sahabatku. Tapi, kau juga harus tahu, kau bukan dokter yang merawatku! Kau bukan ibuku! Karena itu, kau tidak punya hak untuk melarangku melakukan apa yang ingin aku lakukan. Kau mengerti itu, Park Jiyeon?” ucap Jinyoung sinis, lalu beranjak dari hadapan Jiyeon. Meninggalkan yeoja yang perlahan mulai mengeluarkan isak tangis. Tidak peduli beberapa siswa lain mulai memperhatikannya.

Kenapa kau seperti ini padaku, Jung Jinyoung? Kenapa kau tiba-tiba berubah menjadi galak padaku? Kau pernah bilang kalau kau berterima kasih padaku karena aku begitu peduli padamu. Tapi, kenapa… perkataanmu hari ini berbeda?

Apa yang salah padamu, Jung Jinyoung?

@@@@@

Setelah acara wisuda di pagi hari, acara hiburan di siang hari, tiba waktunya acara terakhir di hari perpisahan siswa-siswi kelas 3 Ulsan High School. Prom Night. Acara yang paling ditunggu para siswa-siswi tersebut diadakan di aula sekolah yang telah didekor sedemikian rupa sehingga terlihat menarik.

Semua siswa-siswi yang hadir tampak menikmati makanan dan minuman yang telah disediakan oleh pihak sekolah. Beberapa lainnya tenggelam dalam pembicaraan seru dengan teman-teman, sementara itu… seseorang tampak berdiri di depan pintu masuk, menunggu seseorang.

“Jiyeon-ah? Kenapa kau berdiri di sini, eoh? Kenapa tidak masuk?” tanya Namjoo, salah satu teman Jiyeon yang baru tiba di aula sekolah. Sedikit keheranan melihat Jiyeon berdiri di dekat pintu masuk.

Yeoja cantik itu hanya tersenyum simpul, lalu berkata, “Gwaenchana, kau masuk duluan saja.”

“Memangnya kau menunggu siapa, eoh?” tanya Namjoo. “Apa… kau menunggu Jinyoung?” tebaknya.

A-Aniya. Aku tidak menunggu Jinyoung,” elak Jiyeon. “Ah, kaja, kita masuk bersama saja,” ucap yeoja itu akhirnya, seolah…, ia memang tidak sedang menunggu siapapun. Bersama Namjoo, ia pun berjalan memasuki ruang aula, namun… ia masih menyempatkan diri untuk menoleh ke arah pintu maksud. Berharap namja yang sejak tadi ia tunggu, menampakkan dirinya.

Apa kau tidak datang ke acara ini, Jinyoung-ah?

A few minutes later

Prom night telah berlangsung selama satu jam, namun Jiyeon masih tetap duduk di kursinya. Entah sudah berapa kali ia menoleh ke arah pintu masuk. Ketika teman-temannya asik berfoto atau sekedar mengobrol tentang rencana kuliah mereka, Jiyeon hanya duduk ditemani segelas cranberry juice.

Ya! Jiyeon-ah, kenapa kau duduk saja, eoh? Kelihatannya… kau kurang menikmati acara ini.” Seorang namja menegur yeoja cantik itu.

“Ah, Seungho-ya. Kau membuatku terkejut,” ucap Jiyeon.

Seungho terkekeh pelan. “Ah, aku tidak melihat Jinyoung. Dia tidak datang, ya?”

Molla.”

“Uh? Kau tidak tahu!? Tumben.”

“Maksudmu?” Jiyeon mengerutkan keningnya.

“Ya… tumben kau tidak tahu keadaan Jinyoung. Biasanya kan… kau yang paling tahu kondisi namja itu.”

Ya, tapi sekarang tidak lagi.

“Memangnya aku ibunya!?” sahut Jiyeon sinis. “Sudahlah! Jangan bicarakan orang itu.”

“Ah, geurae. Sepertinya, ia dan teman-teman se-band-nya punya acara sendiri. Karena itu mereka tidak datang.” Ucapan Seungho membuat Jiyeon tersadar.

Ne, sejak tadi aku juga tidak melihat Sandeul, Baro, CNU atau pun Gongchan. Dimana mereka?

Bergegas yeoja cantik itu merogoh clutch bag yang ia letakkan di atas meja, mengeluarkan handphone flip berwarna hitam dari sana. Dengan lincah ia membuka contact book ponselnya, mencari nama Jinyoung di sana.

“Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Silakan hubungi beberapa saat lagi.”

Namun, suara operator yang terdengar.

Sial! Kenapa kau me-non-aktifkan HP-mu, Jung Jinyoung?

Perasaan gelisah mulai menggelayuti benak yeoja yang malam ini tampak manis dengan gaun selutut berwarna turquoise-nya. Jemarinya masih menekan tombol HP, masih pada menu contact book. CNU menjadi orang kedua yang ia hubungi saat ini.

Yoboseyo?” Terdengar suara namja itu.

“Kau dimana, CNU-ya?” sambar Jiyeon.

“Di stasiun. Kau sendiri dimana, eoh? Kenapa kau tidak ke sini.”

Mwoya? Stasiun?

“Ha? Apa yang kalian lakukan di sana? Aku di acara prom night sekarang.”

“A-apa… apa Jinyoung tidak memberitahumu kalau malam ini dia akan pindah ke Seoul?”

MWOYA? SEOUL?

JINYOUNG PINDAH KE SEOUL TANPA MEMBERITAHUKU?

WA-WAE?

“Jiyeon-ah? Kau masih di sana?” Suara CNU membuyarkan lamunan yeoja itu.

N-Ne,” jawabnya. “CNU-ya, apa Jinyoung ada di dekatmu sekarang?” tanyanya.

Aniya. Jinyoung sedang ke toilet.”

Mwoya? Aish! Jinccaro.

Geurae, aku ke sana sekarang.”

Setelah memutuskan panggilannya, yeoja itu segera beranjak dari acara prom night. Meninggalkan Seungho yang kebingungan melihat tingkahnya. Di depan sekolah, yeoja itu menyetop taksi yang kebetulan lewat. Meminta supir taksi tersebut agar melaju lebih cepat menuju stasiun. Jiyeon tidak peduli jika supir taksi ini harus melanggar batas kecepatan. Yang ia pikirkan hanyalah… bertemu Jinyoung sebelum namja itu pergi ke Seoul atau… ia tidak akan pernah bertemu dengan namja itu lagi.

Aku mohon, Jinyoung-ah. Jangan pergi dulu.

Ada yang ingin aku katakan padamu.

Sekitar 10 menit waktu yang ia habiskan di perjalanan, akhirnya Jiyeon tiba di stasiun. Kepalanya celingak-celinguk mencari sosok Jinyoung atau salah satu dari keempat teman se-band namja itu.

Jinyoung-ah? Neon eodiya?

Yeoja itu semakin terlihat cemas. Untuk kedua kalinya hari ini, air mata membasahi pipinya. Sungguh, yeoja itu tidak peduli akan tatapan orang yang memperhatikannya. Pikirannya saat ini hanya tertuju pada satu orang. Jung Jinyoung.

“Jiyeon-ah?” Seseorang menyentuh pundak Jiyeon. Sontak yeoja itu berbalik.

“Sandeul-ah? Ah, syukurlah aku bertemu denganmu. Dimana Jinyoung?” tanya yeoja itu cepat.

Sandeul terdiam untuk beberapa saat. Pandangannya teralihkan ke arah lain. Tepatnya, menghindari kontak mata dengan Jiyeon. Terlihat tidak tega untuk mengatakan kalau sebenarnya…, “Jinyoung sudah berangkat ke Seoul sekitar 5 menit yang lalu, Yeon-ah,” ucap namja itu akhirnya. Berhasil membuat air mata Jiyeon semakin deras.

Kau jahat, Jinyoung-ah!

Kau jahat!

@@@@@

3,5 years later

Seoul

-Jinyoung’s POV-

Aku terbaring di atas tempat tidur Seoul Hospital. Sudah 2 hari aku berada di sini. Ne, apalagi penyebabnya kalau bukan karena penyakit jantungku yang semakin parah. Bahkan dengan dokter spesialis dan peralatan medis canggih di Seoul Hospital pun tidak membuat keadaanku lebih baik. Hah! Sudah kubilang pada appa, pindah ke Seoul pun tidak ada gunanya!

“Bagaimana keadaan Anda hari ini, Tuan Jung?” Kualihkan pandanganku ke arah pintu, mendapati Dr. Kwan dan seorang suster memasuki ruanganku.

“Aku merasa tidak ada perkembangan, Dr. Kwan,” jawabku, melihat ke arah dokter wanita tersebut. “Tumben hari ini Anda sedikit terlambat memeriksa keadaanku. Wae?” tanyaku. Ne, selama aku di Seoul, Dr. Kwan adalah dokter yang merawatku. Dikenal sebagai dokter wanita yang cantik dan juga disiplin.

“Ah, ne. Tadi ada pertemuan sebentar dengan para dokter muda yang akan bertugas di rumah sakit ini,” jawab Dr. Kwan sambil memeriksa detak jantungku dengan stestoskopnya.

“Dokter muda?” tanyaku bingung. Pertama kali aku mendengar istilah seperti itu

“Dokter koas.”

Baru aku mengerti. Hmm, jadi sekarang istilahnya sudah berubah, ya?!

Setelah selesai memeriksa keadaanku, Dr. Kwan pun pamit untuk memeriksa pasien lainnya. Aku mengiyakan saja karena itu memang tugasnya. Sepeninggal Dr. Kwan dan susternya, aku mengambil posisi duduk. Berjalan ke arah jendela, melihat suasana taman rumah sakit. Di sana, di taman, tampak 3 orang yang mengenakan jas putih khas jas dokter tengah duduk. Terlihat masih muda—sepertinya seumuran denganku. Mungkin mereka adalah para dokter koas yang dibicarakan oleh Dr. Kwan tadi.

Sungguh menyenangkan menjadi mereka. Bisa belajar dengan baik tanpa harus tergganggu dengan penyakit. Sementara aku? Hah~ setelah menamatkan pendidikan SMA-ku di Ulsan dan pindah ke sini, aku kuliah di jurusan musik di Inha University. Seharusnya, tahun ini aku diwisuda, tapi… karena aku jarang masuk kuliah, sekarang aku baru memasuki semester 6. Hah~

Kedua mataku masih memandang ke arah tiga dokter muda di sana. Seorang di antara mereka adalah namja dan dua lainnya yeoja. Entah, melihat mereka membuatku teringat pada yeoja itu. Ne, kau benar. Park Jiyeon. Dimana dia saat ini? Apakah dia masih di Ulsan? Apa dia melanjutkan pendidikannya ke fakultas kedokteran?

Aku benar-benar tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang.

Di hari itu, hari dimana acara perpisahan diadakan di Ulsan High School, hari dimana terkahir kalinya aku melihat Park Jiyeon. Jujur, di hari itu aku tidak bermaksud untuk memarahinya. Aku… aku hanya takut mengatakan kalau… aku ingin pindah dan mungkin tidak akan pernah bertemu dengannya lagi. Hanya saja, aku… aku tidak tega sehingga… yang terjadi malah… aku membuatnya menangis.

Neon baboya, Jung Jinyoung!

@@@@@

Next Day

“Selamat pagi, Tuan Jung~” Suara Dr. Kwan membuatku mengalihkan pandanganku dari layar televisi ke arah pintu kamar. Ia masuk ke ruanganku bersama seorang suster, namun… hari ini sedikit berbeda. Selain suster tersebut, ada juga 2 orang lain yang mengenakan jas dokter. Seseorang di antara 2 ‘orang baru’ yang bersama dokter Kwan tampak tidak asing di mataku.

Maldo andwae.

“Tuan Jung?” Suara Dr. Kwan membuyarkan lamunanku.

Kualihkan pandanganku ke arah beliau yang sekarang telah berdiri di samping tempat tidurku. “Ah, n-ne?” balasku gelagapan.

“Bagaimana kabarmu hari ini?” tanyanya.

“Ah, eh… ba-baik, Dr. Kwan,” jawabku, sesekali melirik ke arah seorang yeoja yang berdiri di samping suster. Yeoja itu terlihat mengalihkan wajahnya dariku. Tidak ingin aku melihat wajahnya.

Dr. Kwan pun mulai memeriksaku seperti biasa. Meminta suster untuk mencatat perkembanganku sambil sesekali menjelaskan kepada 2 orang dokter koas yang tengah ikut bersama tentang penyakitku.

“Oh, ya, Tuan Jung, kedua anak muda ini adalah dokter koas dari Sungkyunkwan, Oh Hayoung dan Park Jiyeon.”

Rupanya benar. Dia Park Jiyeon.

Annyeonghaseyo, Tuan Jung. Nan Oh Hayoung imnida. Bangapseumnida. Semoga Anda cepat sembuh,” ucap yeoja yang rambutnya dicepol. Sangat terlihat bersemangat.

Sementara itu, Jiyeon… Jiyeon terlihat ragu untuk memperkenalkan dirinya. Aniya, maksudku… terlihat canggung. Mungkin… mungkin ia tahu kalau… ini adalah aku.

A-Annyeonghaseyo. Pa-Park Jiyeon imnida. Bangapseumnida,” ucapnya terbata, sedikit menundukkan kepalanya. Benar-benar tidak ingin aku mengenali dirinya.

“Baiklah, Tuan Jung. Kami permisi dulu,” kata Dr. Kwan mewakili.

Keempat orang tersebut pun berjalan menuju pintu. Sementara pandanganku tidak lepas dari punggung mungil yeoja yang sudah 3,5 tahun tidak pernah aku lihat. Tidak banyak yang berubah dari dirinya. Hanya… sekarang rambutnya lebih panjang dibanding ketika kami SMA dulu.

Hmph~

Nice to meet you again, Jiyeon-ah.

@@@@@

Next Day

“Tok… tok… tok….”

Suara ketukan pintu itu terdengar saat aku baru keluar dari kamar mandi. Ah, mungkin itu suster yang ingin melakukan follow up. Pelan, aku pun berjalan ke tempat tidur sambil mendorong tiang penyangga botol infusku.

Ne, silakan masuk,” ucapku ketika aku tiba di tempat tidur. Duduk di tepinya.

Pintu kamarku pun terbuka dan seseorang pun masuk ke dalam kamar inapku. Park Jiyeon. Yeoja itu terlihat seperti dokter sungguhan, lengkap dengan jas putih, stetoskop dan beberapa lembar kertas yang dijepit pada sebuah papan berwarna biru.

A-Annyeonghaseyo, Tuan Jung. Apa boleh saya melakukan follow up?” tanyanya dengan kalimat formal dan terdengar sangat sopan. Seolah… aku adalah orang lain. Gerak geriknya pun sama seperti kemarin. Kedua matanya tidak mau melihatku, berusaha sebisa mungkin untuk tidak melakukan kontak mata denganku.

N-Ne. Tentu saja.”

Jiyeon pun mulai mengecek kondisiku dengan stetoskopnya. Menempelkan bagian bundar benda itu ke beberapa titik di bagian dadaku untuk mendengar suara detak jantungku. Tidak lama, ia mengeluarkan senter kecil dari saku jas dokternya, mengecek mata dan juga rongga mulutku. Aku terus memperhatikan Jiyeon selama ia melakukan follow up-nya. Sementara itu, Jiyeon masih tetap tidak ingin membuat kontak mata denganku. Ia memasang wajah seriusnya, seolah dia benar-benar tidak ada waktu sedetik pun untuk SEKILAS SAJA melihat ke arahku.

“Dr. Kwan akan mem-visite Anda jam 8,” ucapnya sembari mencatat hasil follow up-nya pada kertas di papan penjepit. “Gamsahamnida, Tuan Jung. Semoga Anda cepat sembuh,” katanya, lalu berbalik hendak keluar dari kamarku. Namun, lekas aku memegang pergelangan tangannya.

“GREP!”

Jiyeon terdiam, berdiri membelakangiku.

“Ini kau kan, Park Jiyeon?” tanyaku.

Mianhae, Tuan Jung. Masih ada beberapa pasien yang harus aku follow up sebelum Dr. Kwan melakukan visite,” katanya, mengalihkan topik pembicaraan.

“Jiyeon-ah,” gumamku, masih memegang pergelangan tangannya yang terasa gemetaran. “Kau sudah… lupa padaku, ya?” tanyaku.

Jiyeon tidak menjawab, namun tangannya semakin gemetaran. Bahkan, jika diperhatikan dengan seksama, seluruh tubuhnya bergetar. Bahunya naik turun seperti orang yang tengah mengatur napas.

“Kau… menangis, ya?” Dan, aku tahu betul bahasa tubuh Jiyeon saat ia hendak menangis.

Ia menggeleng cepat untuk mengelak dari ucapanku. Entah apa yang merasukiku, aku pun bergerak turun dari tempat tidur, kemudian… memeluk yeoja itu dari belakang. Aku tahu kau pasti mengatakan kalau aku namja yang tidak tahu malu atau semacamnya, tapi… mau bagaimana lagi? Aku merindukan yeoja ini. Dan, di saat aku memeluknya, suara isakan pun terdengar.

Aku benar, kan? Yeoja ini menangis.

Kusandarkan daguku di bahu kirinya, kemudian berbisik, “Ini aku…, sahabatmu, Jung Jinyoung. Namja keras kepala yang selalu kau marahi ketika kau masih SMA, ingat?” Tubuh yeoja itu semakin gemetaran dan suara isak tangisnya pun semakin terdengar.

“Aku tahu ini kau, Park Jiyeon. Meskipun sekarang rambutmu panjang, tapi aku tahu ini kau, Park Jiyeon, sahabatku di Ulsan High School.”

Seketika yeoja itu pun melepaskan pelukanku, kemudian berbalik dan langsung memelukku.

“Kau kemana saja selama ini, hah? Kenapa tidak memberitahu aku kalau kau mau pindah ke Seoul, eoh? Kau masih berani menyebut dirimu sahabat setelah kau melakukan itu padaku? Dasar kau jahat, Jinyoung! Kau jahat!” ucap Jiyeon sambil menangis dalam pelukan. Menumpahkan semua kekesalannya padaku.

Mi-mianhae~” Hanya ini yang bisa aku ucapkan.

“Kau jahat! Kau menyebalkan! Aku rindu padamu, Bodoh!”

Aku terkekeh pelan. “Ne. Nado.”

Beberapa detik kemudian, Jiyeon pun melepas pelukannya. Menyeka air mata yang membasahi wajahnya. Ia bernapas lega, lantas mendongak untuk melihat wajahku. Bisa kulihat matanya sembab dengan maskara yang sedikit luntur. “A-Aku pikir aku tidak bisa bertemu denganmu lagi,” katanya dengan suara serak.

Aku tersenyum simpul. “Nado,” balasku. “Tapi, sekarang kita bertemu lagi, kan!? Kau kelihatan berbeda. Sekarang… kau terlihat lebih feminim, eoh!? Berbeda dengan Jiyeon yang dulu.”

Yeoja itu terkekeh pelan. Tidak lama, mimik wajahnya mulai berubah sendu. “Tapi…, kau tetap sama seperti yang dulu. Wajahmu tetap saja pucat dan tubuhmu tetap saja kurus.”

Aku mengangguk pelan. “N-Ne.”

Mendadak, kami berdua pun terdiam. Bingung harus berbicara apa lagi. Jujur, sebenarnya ada banyak hal yang ingin aku katakan padanya, tapi… aku tidak tahu harus memulai dari mana. Aish! Jinyoung-ah!

“A-Aku permisi dulu, Jinyoung-ah. Aku harus melakukan tugasku dulu. Kapan-kapan lagi kita mengobrol bersama.” Untuk kedua kalinya aku mengangguk pelan. Yeoja itu tersenyum sembari melambaikan tangannya sekilas, lalu beranjak keluar dari ruanganku.

@@@@@

Jam di dinding telah menunjukkan pukul 5 sore. Aku berbaring di atas tempat tidurku, menonton acara televisi yang entah kenapa… semuanya nampak membosankan. Biasanya, sore begini appa sudah datang menemaniku. Hanya saja, hari ini beliau terpaksa lembur karena banyak pekerjaan yang ia tinggalkan setelah beberapa hari pulang cepat karena mencemaskan keadaanku. Eomma? Ah! Sudahlah! Lupakan saja tentang beliau. Sejak bercerai dengan appa ketika aku berusia 10 tahun, aku tidak pernah bertemu dengannya lagi.

“KLIK!”

Kumatikan televisi tersebut. Melihat ke sekitar untuk menyejukkan mataku, namun… pandanganku terpaku begitu melihat sosok Jiyeon tengah duduk di bangku taman di dekat kamarku.

Ah, lebih baik aku ke sana dari pada hanya berdiam diri di kamar.

“Ji-Jiyeon-ah?” panggilku ketika kuhampiri yeoja yang tengah duduk sambil tekun membaca sebuah buku tebal. Mendengar aku menyebut namanya, yeoja itu mendongak.

“Uh? Jinyoung-ah? Apa yang kau lakukan di sini, eoh? Seharusnya kau ada di kamarmu,” ucapnya panik. Seketika berdiri dari duduknya, membantuku memegangkan tiang penyangga botol infus yang aku bawa dari kamar.

Nan gwaenchana, Yeon-ah. Aku bosan di kamar,” ujarku menangkan yeoja tersebut. Ia pun duduk di tempatnya semula. Meletakkan buku tebalnya di pangkuannya. “Apa yang kau lakukan tadi, hm?”

Yeoja itu melirik bukunya, lalu melihat ke arahku. “Ah, aku hanya membaca buku ini.”

“Cita-citamu tercapai, hm? Sekarang kau sudah jadi dokter.”

Jiyeon terkekeh. “Belum dokter. Sekarang aku baru meraih gelar sarjana kedokteran. Setelah koas, baru aku bisa mendapat gelar dokterku. Doakan agar semuanya lancar.” Aku mengangguk pelan. “Oh, ya, aku tidak pernah melihat Jung Ajussi.”

“Oh, hari ini appa lembur di kantor. Biasanya, sore begini dia yang menemaniku.”

“Ooh~ karena itu kau merasa bosan, hm?”

Lagi, aku mengangguk pelan.

“Kau… masih suka membuat lagu, Young-ah?” tanya Jiyeon kemudian.

Membuat lagu, ya? Hah, sudah lama aku tidak melakukan kegiatan itu. Semenjak aku pindah ke Seoul, aku tidak pernah lagi membuat lagu. Tentu saja. Belakangan ini aku semakin sering keluar-masuk rumah sakit. Mana ada waktu untuk membuat lagu?!

Aku menggeleng. Kulihat mimik wajah Jiyeon berubah sendu dan sedikit terkejut.

W-Wae?”

“I-itu—”

Ya! Park Jiyeon! Aku dari tadi mencarimu, ternyata kau ada di sini.” Seorang namja berjas dokter menghampiri Jiyeon.

Jiyeon mengalihkan pandangannya ke arah namja yang tidak aku ketahui namanya. “Ah! Myungsoo-ya, ada apa, eoh?”

Namja itu membisikkan sesuatu di telinga Jiyeon, sedikit membuatku penasaran. Kulihat Jiyeon mengangguk, sesekali tersenyum. Sekarang aku semakin penasaran dengan apa yang dikatakan namja yang dipanggil Jiyeon dengan nama Myungsoo itu.

“Aku tunggu nanti malam di depan rumah sakit, oke?”

Ne,” jawab Jiyeon sembari mengangguk riang. Tidak lama, namja itu pun beranjak ke suatu tempat. Dia pun terlihat sama riangnya dengan Jiyeon tadi.

Apa mungkin… namja itu adalah… namjachingu-nya?

“Siapa namja itu, Jiyeon-ah?” tanyaku.

“Oh, itu Myungsoo, temanku. Dia juga koas di sini, tapi dia di stase bedah.”

“Tapi, kelihatannya dia dekat denganmu. Bukan teman biasa, hm?” tebakku.

Jiyeon menatapku sedikit aneh. “Menurutmu begitu, hm?” Ia terkekeh. “Aish! Dia hanya temanku, ara?” lanjutnya. “Oh, ya, aku mau kembali ke ruanganku. Sebaiknya…, kau juga kembali ke kamarmu.”

Ne.”

Yeoja cantik itu pun mengambil bukunya, kemudian membantuku mendorong tiang penyangga botol infusku. Sembari mengantarku kembali ke kamar, Jiyeon cukup banyak menceritakan bagaimana suka-dukanya menjalani pendidikan di kedokteran. Pendidikan yang… memang ia inginkan sejak dulu.

Gomawo, Jiyeon-ah,” ucapku ketika aku telah berada di dalam kamar. Duduk di tepi tempat tidurku.

Ne, Jinyoung-ah. Cheonmaneyo. Selamat beristirahat,” ucapnya, tersenyum, lalu keluar dari kamarku. Sepeniggal Jiyeon, aku pun membaringkan tubuhku. Hah, baru berjalan-jalan sebentar saja, aku sudah merasa begitu lelah sekali. Jinccaro!

@@@@@

“AKH!”

Aku terbangun dari tidurku begitu kurasakan bagian kiri dadaku sangat sakit. Entah reaksi apa yang sedang terjadi pada jantungku saat ini. Sungguh aku merasa sangat kesakitan. Sambil memegang bagian kiri dadaku dengan tangan kanan, aku berusaha membuka mataku untuk melihat sekitar.

Bagaimana ini?

Appa tidak ada. Pasti beliau masih di kantornya.

Sambil berusaha menahan rasa sakit yang semakin menjadi, aku menekan tombol pemanggil suster yang berada di sisi kiri tempat tidurku. Kutekan tombol itu berkali-kali sambil merintih kesakitan.

Tidak lama kemudian, beberapa orang suster dan Hayoung—dokter koas teman Jiyeon—pun masuk ke dalam ruangan.

Ya! Apa yang terjadi, Tuan?” tanya Hayoung sedikit panik.

“Sa-sakit,” gumamku. “Jantungku sa-sakit sekali.”

Ia dan beberapa suster yang ikut bersamanya pun segera melakukan tindakan yang aku tidak tahu apa. Dan tidak lama, Hayoung menyuruh seorang suster untuk menghubungi Dr. Kwan. Aku masih merasa kesakitan. Perlahan, pandanganku pun mulai kabur. Telingaku pun tidak begitu mendengar jelas apa yang diucapkan oleh orang-orang di sekitarku.

“Jinyoung-ah?” Suara itu terdengar. Suara Jiyeon. Namun, aku tidak bisa melihatnya. Semuanya… gelap.

-End Of Jinyoung’s POV-

-Jiyeon’s POV-

Aku hendak menemui Myungsoo yang saat ini tengah menunggu untuk pergi ke toko buku bersama sesuai janji kami sore tadi, tapi… begitu mendengar kabar kalau pasien di paviliun 3 mendadak sakit jantung, aku pun membatalkannya. Seketika berlari menuju ruangan itu, mendapati Hayoung yang bertugas sebagai dokter jaga dan beberapa suster tengah melakukan tindakan terhadap pasein paviliun 3 tersebut, Jinyoung.

Namja itu telah dipindahkan ke ICCU (Intensive Cardio Care Unit). Dr. Kwan, dokter spesialis—yang baru aku ketahui—yang telah menangani penyakit jantung Jinyoung selama 3,5 tahun pun bergegas mengambil tindakan yang… yang aku harap bisa menyelamatkan nyawa Jinyoung sekali lagi.

Sendiri, aku duduk di bangku penunggu pasien. Menunggu hasil dari tindakan Dr. Kwan, juga menunggu Jung Ajussi yang baru saja aku hubungi. Sejak tadi aku tidak bisa membendung air mataku. Entahlah, ini pertama kalinya sejak 3,5 tahun lalu, aku melihat namja itu meringis kesakitan karena penyakitnya.

Terkadang, di satu sisi, aku ingin Tuhan lekas mengambil Jinyoung. Tolong jangan anggap aku jahat karena mendoakan sahabatku seperti itu. Aku… aku hanya tidak tega jika ia terus menerus menahan sakitnya terlalu lama. Namun, di satu sisi, aku ingin Tuhan tetap membiarkan Jinyoung hidup meskipun keadaannya seperti ini karena… sebenarnya… aku…

“Jinyoung-ah? Dimana Jinyoung?”

Seorang pria yang masih mengenakan kemeja dan jas kantor lengkap dengan sepatu pantofel-nya, tampak panik menanyai suster yang baru saja keluar dari ruang ICCU.

“Tuan Jung sedang mendapat penanganan dari Dr. Kwan,” kata suster tersebut. “Sebaiknya Anda duduk tenang dan mendoakan Tuan Jung,” lanjutnya.

Suter tersebut pun beranjak entah kemana. Sementara itu, pria yang tidak lain adalah Jung Ajussi pun dengan langkah gontai mengambil tempat di sebelahku. Kurasa beliau tidak mengenaliku atau mungkin… dia sudah lupa padaku.

Ajussi?” gumamku. Kulihat beliau tengah duduk sambil menundukkan kepalanya, terlihat sangat mencemaskan Jinyoung. Tidak lama, ia menoleh padaku, menatapku untuk beberapa saat.

“Kau—”

Aku rasa beliau sudah mengenaliku. “Ne, Ajussi. Aku Jiyeon.”

Dan setelahnya, Jung Ajussi mulai berkeluh kesah padaku. Lagi, setelah 3,5 tahun aku mengalami hal ini karena dulu, aku sudah terbiasa menemani Jung Ajussi saat Jinyoung harus dirawat di rumah sakit.

Entah sudah berapa jam waktu aku habiskan berbicara dengan beliau. Rasa kantuk pun pelan-pelan mulai menyergapku, membuatku beberapa kali menguap. Hanya saja, aku ingin berada di sini menemani Jung Ajussi dan… menunggu perkembangan keadaan Jinyoung.

@@@@@

“Jiyeon-ah? Ireona! Ya! Park Jiyeon!” Aku tidak tahu apakah saat ini aku bermimpi atau tidak, tapi… sayup-sayup aku mendengar suara Jinyoung.

“Park Jiyeon! Ireona! Ya! Yeoja jelek! Ppalli! Ireona!” Dan kurasakan sebuah tangan mencubit hidungku, kemudian secara sengaja menggerakkannya agar aku terbangun. Kubuka kedua mataku perlahan dan kulihat Jinyoung berdiri di depanku.

Haha! Mustahil!

“Park Jiyeon! Ppalli! Ireona!” ujar Jinyoung gemas, masih menggerakkan hidungku sehingga membuatku sedikit kesulitan bernapas.

Aku pun terbangun sepenuhnya. “Ya! Apa yang—” Namun, namja itu sontak membungkam mulutku dengan telapak tangan kirinya.

“Jangan berisik. Nanti appa-ku bangun, Babo!”

Aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat ini. Jinyoung berdiri di depanku tanpa bantuan alat medis apapun. Ia terlihat sangat sehat, setelah semalam aku berpikir bahwa… mungkin ini adalah akhir dari hidupnya.

Dengan kasar, aku melepas bungkamannya dari mulutku. “Apa yang kau lakukan, eoh? Kenapa kau melepas selang infus dari tubuhmu?” tanyaku berbisik saat kulihat Jinyoung memberiku isyarat agar jangan bicara terlalu keras.

“Aku ingin kau menemaniku ke suatu tempat.”

Aku mengernyitkan dahiku. “Kemana?”

“Ulsan High School.”

Aku melotot. “Kau sinting, eoh!? Tidak mungkin kau diijinkan pergi ke tempat itu.”

“Siapa yang mau minta ijin, Babo. Aku tahu kita tidak akan diijinkan, karena itu aku membangunkanmu pagi-pagi begini dan kita pergi diam-diam.”

Lagi, aku melotot. Apa yang ada di dalam otak namja ini, eoh?

Sirheo!”

“Jiyeon-ah, jebalyo. Aku mohon padamu. Temani aku ke tempat itu hari ini.” Jinyoung memohon sambil menunjukkan wajah memelas terbaik yang ia punya.

Nan sirheoyo, Young-ah! Aku akan menemanimu ke tempat itu setelah keadaanmu membaik,” tegasku.

“Park Jiyeon, aku mohon. Ini kesempatan terakhirku, Jiyeon-ah. Aku hanya ingin pergi ke sekolah kita dulu, setelah itu, aku berjanji padamu, aku tidak akan pernah merepotkanmu lagi. Sungguh.” Jinyoung berlulut di depanku, memegang kedua telapak tanganku.

Aish! Bagaimana ini?

Apa yang harus aku lakukan?

“Jiyeon-ah, jebal~” gumam namja itu.

Aku menghela napas panjang. “Geurae. Tapi, kalau keadaanmu mulai memburuk, kau harus cepat bilang padaku, ara?!”

“Siap, Dr. Park!”

Hah~ mianhae, Dr. Kwan.

Mianhae, Jung Ajussi.

@@@@@

Setelah melewati perjalanan menggunakan kereta, akhirnya, aku dan Jinyoung tiba di Ulsan High School. Karena hari ini adalah hari Minggu dan gerbang sekolah tutup, terpaksa… aku dan Jinyoung memanjat tembok samping sekolah yang ukurannya lebih rendah.

“Kalau bukan karena kau yang memaksaku, Jung Jinyoung, aku tidak akan melakukan ini!” gerutuku saat memanjat pohon untuk mempermudah aku melewati tembok. Dulu, melakukan hal ini sangat mudah, entah kenapa sekarang terasa begitu sulit.

“Jangan cerewet! Nanti kau jatuh!” ujar Jinyoung yang sudah tiba di bagian dalam sekolah. Ish! Namja ini benar-benar. “Ppalli! Pegang tanganku!” ujar Jinyoung, mengangkat tangan kanannya sebagai pegangan agar aku tidak jatuh saat melompat turun.

“Hap!”

“Hah! Sudah lama aku tidak melakukan ini!” gumamku.

Kaja! Kau membuang waktu terlalu banyak hanya untuk melewati tembok setinggi satu setengah meter itu,” ledek Jinyoung yang berjalan meninggalkanku. Aish! Jung Jinyoung!

Lekas aku mengejarnya. Berjalan di sisi kiri namja itu, mengikuti ke arah mana ia berjalan. Sambil berjalan, kedua mataku tidak henti melihat-lihat sekitar. Sekolah ini tidak banyak berubah semenjak kami lulus.

Ya! Ya! Kau ingat, eoh? Kita pernah dihukum di sini karena kau ketahuan mencontek ulangan Fisikaku!” celetukku ketika aku dan Jinyoung melintasi lapangan upacara.

Jinyoung terkekeh. “Ne. Kau terus menggerutu kepanasan saat itu.”

Kenangan yang pernah terjadi di sekolah ini seolah berputar di kepalaku setiap aku melintasi tempat-tempat dimana kenangan itu terjadi. Layaknya rekaman film yang sengaja diputar di otakku. Membuatku kembali merasakan kenangan-kenangan yang dulu.

Ya! Ya! Jinyoung-ah, jangan berlari saat menaiki tangga! Kau harus ingat jantungmu!” teriakku saat melihat Jinyoung menaiki tangga menuju loteng ruang kesenian sambil berlari. Tapi, namja itu tidak mau mendengarkan ucapanku.

“HUAAH! AKU RINDU TEMPAT INI~~” teriaknya ketika sampai di loteng.

Namja itu berdiri di balik tembok setinggi pinggang, melihat sekitarnya. Aku pun berjalan pelan menghampiri Jinyoung seiring dengan kenangan-kenangan yang pernah kami lakukan di sini, terlintas di pikiranku sekali lagi.

“Jadi, kau kabur dari rumah sakit hanya untuk melepaskan rindumu akan tempat ini, eoh?” tanyaku saat aku berdiri di sebelahnya.

Jinyoung menoleh ke arahku, tersenyum. “Ne.”

Aigo! Sampai sekarang pun aku tidak bisa mengerti jalan pikiranmu, Jung Jinyoung! Kau kabur dari rumah sakit dengan kondisi kesehatan yang buruk hanya untuk datang ke tempat ini!? Oh, aku benar-benar tidak percaya ini.”

“Bagimu, tempat ini mungkin biasa saja, Jiyeon-ah. Tapi bagiku, tempat ini sangat berharga,” ucap Jinyoung lirih.

Tidak lama kemudian, Jinyoung memegang kedua tanganku. Dielusnya dengan lembut kulit punggung tanganku, membuat darahku berdesir. Aku tidak menunjukkan reaksi apapun.

Jinyoung lalu melanjutkan ucapannya. “Semalam aku bermimpi, Jiyeon-ah. Aku memimpikan aku berada di tempat yang serba putih. Dan di tempat itu, aku bertemu dengan seseorang yang juga berbaju putih. Orang yang ingin mengajakku ke suatu tempat. Dia bilang, dia ingin mengajakku ke tempat yang lebih baik.”

Mwo-mwoya?

“Tapi, tapi aku mengatakan kepada orang itu, ‘Aku akan ikut denganmu setelah aku berpamitan pada seseorang’. Karena itu, aku sengaja mengajakmu ke tempat ini, Jiyeon-ah. Aku ingin berpamitan padamu. Aku ingin mengungkapkan perasaanku padamu. Aku ingin meminta maaf padamu karena… karena aku merasa kalau… hidupku mungkin sebentar lagi akan berakhir.”

Air mataku semakin deras. “Ka-kau bicara apa, Jinyoung-ah? Aku… aku tidak suka kau berbicara seperti itu, eoh?! Kau akan hidup lama. Percaya padaku. Aku akan membantumu sembuh, Young-ah.”

Bisa kulihat setitik cairan bening menghiasi sudut mata namja itu. Namun, ia sengaja terkekeh untuk menyembunyikan rasa sedihnya. “Ne, aku tahu kau akan membantuku. Kau selalu membantuku, tapi—”

Aku langsung memeluk namja itu sehingga ia tidak melanjutkan ucapannya. Seketika aku menangis sembari mempererat pelukanku pada tubuhnya yang ringkih. Tidak peduli air mataku yang membasahi kaus yang dikenakannya. “Aku mohon jangan pergi lagi, Jinyoung-ah. Jebal.”

Namja itu tidak berbicara satu patah kata pun. Namun, bisa kurasakan tangannya membelai punggungku. “Ka-kalau kau pergi, kalau kau pergi aku… aku akan merubah perasaanku padamu.”

“Ma-maksudmu?” tanyanya dengan nada sedikit terkejut.

Aku pun melepas pelukanku, kemudian menatapnya. “A-Aku… aku mencintaimu, Bodoh! Karena itu, kalau kau pergi, aku akan membencimu!” ucapku sambil menangis.

“Jiyeon-ah?” gumamnya.

“Jangan katakan kalau kau akan pergi lagi, eoh!? Aku tidak suka!” bentakku.

Namja itu mengalihkan pandangannya sejenak dariku, lalu kembali menatapku. “Mianhae, Jiyeon-ah, tapi aku—”

“CHUP~”

Entah apa yang merasukiku, aku langsung mencium bibir tipis namja itu. Aku tahu dia terkejut, tapi aku tidak melepas ciumanku darinya. Aku bahkan bisa merasakan air mataku sendiri dan Jinyoung pun pasti begitu. Sepersekian detik kemudian, segera aku melepas ciumanku darinya. Takut dia kesulitan bernapas.

Mianhae~” gumamku menundukkan pandanganku darinya.

Tidak lama, kurasakan tangan kanan Jinyoung menyentuh daguku, mengangkatnya sedikit sehingga kami kembali bertatapan. Beberapa saat kemudian, ia mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Ponselnya. Ia menyerahkan benda itu padaku. “Ini untukmu. Tolong simpan ini baik-baik.”

“Tapi, kenapa kau—”

Ia mengulas sebuah senyum yang tidak bisa aku artikan. “Simpan saja agar kau tidak lupa padaku,” ucapnya.

Aku mengangguk.

Jinyoung pun tidak berbicara lagi. Hanya terdiam sembari memandang sekitar. Mungkin ingin mengingat semua kenangan-kenangan kami yang pernah terjadi di tempat ini, di sekolah ini. Hampir satu jam kami berdiri di sini, tertawa kala mengingat semua hal-hal bodoh yang pernah kami lakukan bersama. Sampai akhirnya, mungkin ia merasa tidak enak badan, Jinyoung berkata, “Aku mau pulang sekarang.”

Jinyoung menggenggam telapak tanganku begitu erat saat kami menuruni tangga. Namun perlahan, pegangannya itu semakin mengendur ketika kami berjalan menuju dinding samping seiring kurasakan suhu tubuhnya mulai dingin.

“BRUUUK!”

Tiba-tiba saja Jinyoung jatuh tidak sadarkan diri. Membuatku sangat panik.

Aku memegang pergelangan tangan kirinya untuk memeriksa denyut nadinya, tapi tidak merasakan denyut apapun. Kurapatkan telingaku di dada kirinya untuk mendengar detak jantungnya, tapi aku tidak mendengar apapun. Kurapatkan jari telunjukku di dekat lubang hidungnya untuk merasakan embusan napasnya, tapi… hasilnya… aku tidak merasakan apa-apa.

Seketika tubuhku melemas. Napasku tersengal. Cairan bening kembali keluar dari kedua bola mataku.

Andwae!

Andwae!

“JINYOUNG-AH! IREONA!”

@@@@@

3 Days Later

“Jiyeon-ah, aku mau ke stase anak. Kau mau ikut, hm?” ajak Hayoung. Aku menggeleng.

Aku beruntung karena pihak rumah sakit dan pihak kampus masih memaafkan kesalahanku membawa pasien keluar dari rumah sakit, bahkan sampai meninggal. Suatu kesalahan besar yang dilakukan oleh sarjana kedokteran sepertiku. Karena itu aku masih berada di sini, menyelesaikan masa koas-ku.

Duduk sendiri di dalam ruang perawat interna, sedikit malas mengikuti Hayoung yang ingin berjalan-jalan di stase anak. Menghilangkan sedikit kebosanan, aku ingin mendengarkan lagu. Kurogoh tasku, hendak mengeluarkan ponselku. Namun, seketika aku teringat sesuatu. Bukankah Jinyoung memberikan ponselnya padaku!?

Ya, lagi, aku beruntung karena ponsel Jinyoung berada di dalam tasku. Kuurungkan niatku mengambil ponselku, malah mengambil ponsel Jinyoung. Di layar ponsel Jinyoung, aku bisa melihat foto kami berdua saat masih mengenakan seragam Ulsan High School. Aku tersenyum melihat foto yang sudah lama itu.

Aku lantas membuka satu per satu aplikasi yang berada di dalam ponselnya, namun… aku tidak menemukan apa-apa. Semua pesan dan kontak telah dihapus. Aneh! Untuk apa Jinyoung memberikan benda ini padaku? Di galeri fotonya pun hanya ada foto yang kini menjadi wallpaper ponselnya.

Sampai… tanpa sengaja aku menemukan satu rekaman video di dalam galeri ponsel ini. Ya, rekaman yang diberi nama ‘For Jiyeon’. Penasaran, aku pun memutar video itu. Sepersekian detik kemudian, di layar ponsel aku bisa melihat Jinyoung yang tubuh ringkihnya dibalut seragam pasien rumah sakit ini.

“Hai, Jiyeon. Apa kabar? Baik? Kalau kau memutar video ini, itu artinya aku sudah pergi. Apa kau menangis saat pemakamanku, eoh?”

Tentu saja, Bodoh!

“Maaf, waktu aku memaksamu kembali ke sekolah. Kau tidak dihukum, kan?”

Aku hampir dihukum, Jinyoung! Jika bukan karena appa-mu, aku tidak akan bisa melanjutkan koas-ku!

“Hehe… maaf jika kau dihukum. Aku benar-benar minta maaf.” Di dalam video, kulihat Jinyoung menangkupkan kedua tangannya. “Oh, ya, Jiyeon-ah. Sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu.”

Ha? Apa?

“Terima kasih karena sudah peduli padaku selama ini. Terima kasih sudah memperhatikanku. Terima kasih atas semuanya. Aku sungguh beruntung mengenalmu, Park Jiyeon. Orang yang paling sering kurepotkan, tapi dia tetap saja perhatian padaku. Orang yang paling sering aku ledek, tapi dia tidak pernah marah padaku. Orang yang sering aku bentak, tapi dia tetap saja mau menjadi sahabatku.”

Aku terkekeh mendengar ucapannya. Namun, tanpa aku sadari, entah sejak kapan air mataku meleleh.

“Aku benar-benar beruntung. Aku tidak tahu akan bagaimana hidupku jika tidak mengenalmu. Hehe. Apa kau berpikir aku sedang menggombal? Tidak. Aku sama sekali tidak mengombal. Aku mengucapkan semuanya dengan tulus.”

Aku tersenyum sembari menyeka air mataku.

“Aku mencintaimu.”

Apa?

Seketika aku terkejut. Kuundur beberapa detik video ini hanya untuk mengulang kalimat yang terakhir kali kudengar.

“Tidak. Aku sama sekali tidak mengombal. Aku mengucapkan semuanya dengan tulus. Aku mencintaimu.”

Ji-Jinyoung… kau…

“Terima kasih untuk semuanya, Park Jiyeon. Terima kasih karena membuatku merasa menjadi orang yang paling beruntung karena mengenalmu. Selamat tinggal.”

Layar ponsel Jinyoung pun menghitam, tanda bahwa video rekaman itu telah habis. Kuletakkan ponsel tersebut di atas meja, lantas menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku. Air mataku mengalir deras. Kenangan-kenangan bersama Jinyoung satu per satu berkelebat di dalam pikiranku.

Asal kau tahu saja, Jinyoung. Itu janjiku. Itu janji yang aku ucapkan saat pertama kali kita bertemu. “Aku berjanji, akan membuatmu menjadi orang yang paling beruntung karena telah mengenalku.”

-THE END \(^O^)/-

-Anditia Nurul ©2014-

Do not claim this as yours

Do not re-post/re-publish without permission

Also posted on High School Fanfiction & Noeville

Advertisements

6 thoughts on “THE LUCKY ONE

  1. Hallo. Ini kah pasangan J comeback 😀 eonni aku kangen couple J, Jinyoung dan Joorin. :p
    Overall, bagus ceritanya. Lebih bagus lagi… kalau aku yg jadi cast ceweknya, biar disandingkan dengan Jinyoung. :p
    Aku tunggu FF yg lainnya. 🙂

  2. Hiks.. Hiks… Cerita ini sungguh mengharukan.
    Ternyata jiyi & jinyoung sama2 saling mencintai.
    Ditunggu ff mu selanjutnya thor.

  3. T_T hahhh,, mengharukan!
    andaikan mereka gak berpisah selama itu. lain lg ceritanya…
    entah kenapa aku jingkrak” pas ada myungsoo, yah walaupun hny sbg cameo 😄 seenggaknya aku jd bisa bayangin akhirnya jiyeon kyk gmn nnt’y karena ada myungsoo 😀 hahaha #plak

    • Iya, hehe. Kalo gak gitu, ceritanya gak bakal seperti ini 😀
      Hahaha… iya, maaf ya kalo Myungsoo-nya cuma cameo di sini. Untuk selanjutnya bayangin sendiri saja… hehe 😀

      Gomawo udah RC ^^

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s