One Last Bullet

One Last Bullet [2] --- A Kwon

Credit : A-Kwon

 

By. Rebecca Lee

 

You and Bias [ I use TOP ‘Bigbang’ here’ ] | Action, romance | T | Ficlet

 

This one last bullet means love forever

Suara desingan peluru telah berhenti sejak setengah jam yang lalu. Gudang tua yang menjadi sarang penyimpanan kokain itu kini dipenuhi tubuh-tubuh gangster yang meregang nyawa setelah adu tembak sengit yang terjadi sebelumnya. Serbuk-serbuk putih menghiasi kekacauan dengan sisa-sisa partikelnya yang masih melayang di udara. Organisasi kelas kakap yang bertahun-tahun bergerak menyelundupkan benda terlarang itu kini sepenuhnya hanya sejarah. Namun tidak dengan dua manusia yang tersisa yang mendapat tugas dari organisasi masing-masing sebagai mata-mata untuk menghabisi organisasi tersebut.

 
Tepat di tengah ruangan dua sosok beda gender itu masih berdiri tegap di tengah lautan mayat. Kondisi keduanya sedikit kacau dengan tangan masing-masing memegang senjata api. Saling berpandangan keduanya membeku dalam pikiran masing-masing. Tidak pernah menyangka takdir akan mempertemukan mereka di tempat ini bermusuhan.

 
Diam itu kemudian diinterupsi dengan getaran gadget di saku masing-masing. Dalam gerakan yang sama keduanya mengecek pesan masuk yang berisi satu misi lain. Beberapa detik menekuri smartphone detik selanjutnya dalam satu sentakan senada keduanya menodongkan senjata. Sang pria diincar tepat di jantungnya dan sang gadis merasakan ujung pistol lawannya tepat di dahinya. Dua telunjuk bersiap menarik pelatuk ketika salah satu diantaranya justru menurunkan senjata dan memejamkan kedua matanya dengan ketenangan penuh. Satu tarikan napas kemudian.

 
“Kau saja yang lakukan,” ucap sang gadis tegas.

 
Pria itu bergeming. Dua kali ia serakah memompa masuk oksigen di sekitarnya dan menghembuskan sisanya dengan ketenangan yang tak cukup. Di hadapannya ada seorang gadis dengan Desert Eagle yang siap memuntahkan peluru terakhir ke kepalanya, ia siap menghadapi maut.

 
“Semudah itukah menyerah?” tanya sang pria ketika ia memutuskan untuk ikut menurunkan miliknya dan menarik pergelangan tangan gadis di hadapannya dan memeluknya.

 
Gadis itu matanya terbuka dan senyum tipis terukir di bibir penuhnya. Ia melingkarkan tangannya ke pinggang sang pria yang memeluknya ketika sebuah kecupan mendarat manis di puncak dahinya. Bibir itu masih memberi sensasi lembut yang sama sambil meledakkan kembang api terakhir di dalam dadanya. Sebuah cinta yang selalu sama seperti awal kisah mereka.

 
“Kau juga menyerah?” gadis itu menyandarkan kepalanya di dada bidang yang selama ini selalu dicarinya jika membutuhkan kenyamana dan rasa terlindungi. Pemilik dagu yang bertumpu di puncak kepalanya menggeleng pelan.

 
“Lalu?”

 
Tanpa di duga sang pria menarik pelan dagu lancipnya dan menjawab tanya sang gadis dengan sebuah ciuman panjang yang memabukan dan agresif.

 
“Itu jawabanku. Kau mengerti?” pria itu melepas ciuman mereka dan membelai lembut pipi gadisnya. Sang gadis mengangguk.

 
“Kejutan untukku kita bertemu di sini,”

 
“Well, what can we do?”

 
“Tapi misi tetaplah misi. Aku sudah bersumpah untuk mereka and I was born for this, Baby,” sang gadis melepaskan tubuhnya. Kakinya mundur selangkah diikuti dengan tangan kirinya yang kembali mengacungkan handgun ke jantung lawan sekaligus kekasihnya. Mata itu menatap garang dengan seringaian seksi di bibirnya.

 
“Begitupun denganku. Mari kita selesaikan semuanya sekarang,” pria itu juga melakukan hal yang sama. Seringai dingin terukir di wajah tampannya.

 
“Tapi setidaknya kau tahu bahwa aku mencintaimu,” keduanya berucap bersamaan.

 
“Dalam hitungan ketiga. Satu,”

 
Sang pria mengangguk sebagai hitungan kedua.

 
“See you soon, Honey,”

 
Bersamaan dua pelatuk ditarik dan melesatkan peluru yang langsung menembus dan menumbangkan target masing-masing. Darah tersembur keluar dan sang pria menarik lengan gadisnya. Keduanya limbung bersamaan dengan sang gadis di atas tubuh kekasihnya. Gadis itu segera mengakhiri napasnya setelah peluru berhasil bersarang di otaknya. Sementara sang pria masih sempat memeluknya dengan sebelah tangan sebelum ikut memejamkan matanya dan beristirahat dengan tenang.

 

END

Advertisements

4 thoughts on “One Last Bullet

    • Iya mati,, dan bukan mereka bukan musuh, mereka sebenernya kekasih. Mereka agen rahasia dari organisasi berbeda gitu, trus satu misi mereka ketemu sbg musuh tanpa sengaja krn misi yang sama. Yah, kurang lebih inspired dari film Mr and Mrs. Smith. Thanks for reading^^

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s