[FF Freelance] Maybe Tomorrow

younjoo

Tittle: Maybe Tomorrow

Author: Viayamada [@INFINITEVIAKIM]

Genre: Familly

Ratting: PG-13

Length: Vignette

Cast: L Kim[INFINITE] and Original Character

 

 

“oppa, oppa mau pergi kemana?” pertanyaan itu terlontar dari bibir gadis berumur 18 tahun dengan surai hitamnya.

Tangan gadis itu menggelayut manja ketangan seorang pria yang lebih tinggi beberapa senti darinya.

“aku pergi ke California untuk beberapa hari ini, Jane. Kau tunggu disini, okey?”

Gadis dengan nama Jane itu segera melepaskan tangannya. Menatap dengan pandangan penuh ketidakmauan pada pria yang ia panggil oppa itu, sedang pria bersurai hitam itu hanya bisa menghembuskan napasnya dengan kasar.

“L oppa kapan pulang? California itu jauh ada dibunua lain. Aku takut, oppa.”

L hanya mampu menghembuskan napasnya kasar, mencoba mencari-cari cara agar adiknya ini bisa menerima kepergiannya ke California.

Jane memang gadis berumur 18 tahun tapi perilakunya sudah menyerupai bocah berumur 5 tahun yang takut sendirian dan tak mau ditinggal.

Adiknya ini memang memiliki phobia ketinggian. Tapi, maubagaimana lagi? Ia harus pergi ke California sekarang atau ia akan dipecat secara tidak terhormat oleh atasannya yang berkepala botak itu.

Rumah mereka memang terbilang cukup besar. Namun, mereka tak punya pelayan atau apapun itu namanya sehingga mereka tinggal hanya berdua ditempat ini. L bekerja disebuah perusahaan dan untuk beberapa kali ia diharuskan pergi ke kantornya. Hal itu tak dipermasalahkan oleh Jane namun sekarang? Jane akan ditinggal ke California dan itu cukup menakutkan untuk Jane.

Dan itu lebih menakutkan dari apapun.

Jane masih menunjukkan raut memelasnya berharap dengan itu L tak perlu repot-repot pergi ke California yang ada nun jauh disana.

Untuk kesekian kali, L menghembuskan napasnya kasar.

“oppa janji akan segera pulang setelah pekerjaan oppa selesai, okey?”

Itu adalah kalimat terakhir L sebelum sosoknya menghilang dibalik pintu rumah meninggalkan Jane dan phobia yang ia milikki.

.

.

.

Jane Kim, nama itu terdengar seperti nama gadis keturunan para manusia dibumi bagian barat. Namun, tidak.

Jane bukanlah gadis dari keturunan para orang-orang barat atau apapun itu namanya. Ia dilahirkan dengan darah murni dari Korea Selatan namun,  –entah apa alasannya—kedua orangtuanya menemainya Jane Kim dan kakak laki-lakinya yang kini genap berumur 22 tahun L Kim.

Kedua orangtuanya sudah tertimbun dibawaha batu nisan dengan ukiran nama masing-masing dikarenakan kecelakaan pesawat menuju Mongolia beberapa tahun yang lalu.

Jane tumbuh sebagai gadis cantik dengan bibir mungil, hidung bak prosotan, dan kulit putih seputih susu dengan kakaknya yang juga tumbuh sebagai pria sempurna yang banyak dikagumi para gadis.

Diumur Jane saat ini, gadis itu duduk dibangku kelas 3 SMA sebuah sekolahan elite didekat rumahnya.

Jane bukanlah gadis yang mempunyai banyak teman, justru sebaliknya gadis itu dijadikan bahan pembullyan teman-temannya. Hal itu serta-merta membuat Jane tumbuh sebagai pribadi yang sulit bersosialisasi.

Baiklah, mari kita lupakan kehidupan Jane.

Ini sudah 2 minggu sejak L pergi ke California dengan alasan pekerjaan namun, sampai detik ini sosoknya tak juga muncul dibalik pintu dengan cengiran khasnya.

Jane benar-benar ketakutan. Firasatnya mengatakan ada hal buruk yang terjadi pada kakaknya itu.

Jane duduk diruang tamu. Pandangan matanya tertuju pada pintu yang berdiri beberapa meter dari tempatnya kini berharap dibalik pintu itu muncul L yang teramat ia rindukan.

Drrrt drrrt

Jane segera meraih ponselnya dan tanpa bu-bi-bu ia segera mengeser layar ponselnya tanpa perlu repot-repot melihat siapa penelponenya toh, Jane yakin itu pasti kakaknya.

“oppa.”

“Jane bagaimana kabarmu? Maaf, oppa tak kunjung pulang. Mungkin besok oppa akan segera pulang.”

Itu adalah kalimat terakhir dari L sebelum sambungannya terputus.

Jane menghela napas.

Mungkin besok?

.

.

.

Ini sudah 2 hari semenjak telepone terakhir dari L yang mengatakan bahwa dirinya akan pulang dai California keesokan harinya. Tapi sosok L tak kunjung menampakkan dirinya.

Jane menenggelamkan wajahnya kekedua telapak tangannya berharap setelah ia mendongakan wajahnya ia bisa menemukan L yang tersenyum kearahnya.

Tapi sekali lagi, semua itu hanyalah khayalan Jane semata karena ketika ia mendongakan wajahnya ia hanya bisa menemukan angin-angin yang berhembus disekitarnya.

Jane kembali mendapat telepone.

“oppa.”

“Jane, maaf oppa tak bisa menepati janji oppa. Mungkin besok oppa akan pulang.”

“t-tapi–.”

Jane menatap kearah layar ponselnya. Sekali lagi, belum sempat ia menjawab namun panggilan terputus begitu saja.

Mungkin besok?

.

.

.

Sekali lagi, kata mungkin besok hanyalah bualan L semata pasalnya sampai detik  ini Jane tak kunjung menemukan L yang ia rindukan.

Ada apa sebenarnya?

Ponsel Jane kembali berdering nyaring kesaentero kamarnya.

Jane menerimanya.

.

.

.

Jane menatap tak percaya kearah seorang pria dengan gurat wajah yang betul-betul ia kenali.

Dia adalah L dan kini tubuh itu tak lagi bernyawa. Tak lagi menghirup oksigen dan mengeluarkan karbondioksida. Jantungnya tak lagi berdetak untuk memopa darah sebagaimana mestinya.

Jane tak dapat mempercayai ini semua.

Dari apa yang ia dengar. Kakaknya ini ditemukan tewas terbunuh dihotel tempatnya menginap selama ia di California. Diperkirakan pembunuhan terjadi 5 hari yang lalu—hari dimana untuk pertamakalinya L menelpon Jane setelah ia pergi ke California.

Jika L memang terbunuh pada hari itu lalu suara itu?

Jane memukul kepalanya berulang kali membuatnya serta-merta merintih kesakitan.

Ini semua terasa begitu nyata. Tapi, siapa yang bisa menjelaskan ini semua?

.

.

.

Jane mengerjapkan matanya. Menyesuaikan cahaya yang masuk tanpa permisi kematanya.

Sosok yang pertamakali Jane lihat saat itu adalah kakaknya, L dan bau obat-obatan menyapa indera penciuman Jane membuat gadis itu bisa segera menyimpulkan bahwa kini ia berada dirumah sakit.

“sudah bangun, Jane?”

Jane menolehkan wajahnya dan menemukan eksistensi L yang kini sedang merengangkan otot tubuhnya yang kemungkinan terasa kaku.

Jane mengerjap tak percaya. Apa itu benar kakaknya yang teramat ia rindukan?

“oppa.”

“hm.”

“benarkah kau itu L oppa?”

“menurutmu?”

“oppa aku melihatmu tewas. Kau tewas tebunuh tapi kenapa kau bisa ada disini?”

Jane menatap lamat kearah kakaknya. Mengkoreksi penampilan kakaknya dari atas hingga bawah.

Aneh, Jane tak menemukan luka sekecilpun pada tubuh L.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Jane meneguk ludahnya susah payah.

“apa-apaan kau itu Jane. Kau sudah terbaring lemah disini sejak 19 hari yang lalu. Kau pasti berkhayal lagi.”

“kenapa aku disni, oppa?”

“karena kau tak sadarkan diri 19 hari lamanya.

“kapan oppa kembali dari California?”

L menatap kearah adiknya dengan tatapan yang mengatakan apa-yang-kau-bicarakan?

“bahkan aku tidak pernah ke California.”

“t-tapi oppa—“

“Jane, kau tak sadarkan diri karena kau terlalu banyak berkhayal. Bukankah sudah kukatakan bahwa kau itu jangan pernah lagi berkhayal karena jika kau terlalu banyak berkhayal kau tak akan sadarkan diri dan sulit membedakan antara kenyataan dan dunia khayalmu.”

Jane mengerjap.

Benar, ia memang suka berkhayal hingga beberapa kali tak bisa membedakan dunia nyata dengan dunia yang ia buat sendiri, omong-omong.

“oppa kapan aku bisa pulang?”

“mungkin besok.”

Dan kenyataannya, Jane paling benci dengan kalimat tersebut.

Mungkin besok, huh?

FIN

One thought on “[FF Freelance] Maybe Tomorrow

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s