[FF Freelance] I Love You, More Than I Know (Chapter 7)

hunzy Publist

Title : I LOVE YOU, MORE THAN I KNOW

Author : Monchan

Genre : Romance, Friendship

Rating : PG-13

Main Cast : Bae Sooji a.k.a Suzy

Oh Sehun

Krystal Jung

Xi Luhan

Kris  exo

Park Chanyeol

Kai exo

Previous : Chapter 1Chapter 2Chapter 3Chapter 4Chapter 5, Chapter 6,

^0^HAPPY READING^0^

 

Setiap gadis pernah mendambakan  ini, bukan?

Seseorang dengan wajah merah, menatapmu malu-malu dan mengatakan cinta.

Dunia seakan terhenti ketika kau mencoba mencerna kata C-I-N-T-A.  

Benarkah yang ku dengar ini? Tidak ku sangka pernyataan ini keluar dari mulutnya.

 

 

Author POV

Gadis itu menggigit bibir bawah dengan resah. Terdengar degupan jantung yang mengaung disana. Kedua tangan gadis itu sempat meremas tali ransel yang melingkar manis di pundak kecilnya. Tapi beriringan dengan itu seutas senyuman mengalun indah di bibir nan merah miliknya. Matanya tak henti mengawasi seorang yeoja dan seorang namja yang berada tak jauh darinya. Dan angin sore yang sejuk tak sengaja menerbangkan helaian rambut halus yang kini menari-nari diudara.

“Jiyeon-ah, A..ada yang ingin ku bicarakan.” Lelaki  itu mencoba berbicara pada gadis di hadapannya setelah beberapa menit keduanya berada di dalam kebisuan.

“Ne,” Jawab gadis itu setelah dengan susah payah ia akhirnya dapat menelan ludah yang seakan menjadi pengganjal di tenggorokan.

“A..A..ku..Aku,” seakan kehilangan sumber kata-kata, lelaki itu itu tak mampu melanjutkan apa yang ingin disampaikan. Ia menatap seorang gadis berkepang dua yang bersembunyi dibalik pepohonan tak jauh dari tempatnya berpijak, mengangguk perlahan padanya, seolah memberinya kekuatan untuk melanjutkan perkataannya lagi.

Baekhyun, byun baekhyun, lekali itu menatap lurus gadis di hadapannya, park jiyeon, yang kini terlihat cemas menanti apa yang akan diucapkan. Jiyeon sempat menahan nafas ketika baekhyun kembali berkata dengan wajah memerah.

“Jiyeon-ah, maukah kau menjadi pacarku?”

Mata jiyeon seketika membulat seakan tak yakin dengan apa yang didengarnya, mata gadis itu bergerak tak tentu arah, lalu kembali menatap baekhyun yang dengan setianya menatap wajah gadis itu.  Dan dengan sebuah anggukan kecil, jiyeon akhirnya menjawab pernyataan cinta baekhyun.

Sementara Gadis yang ada diseberang, bae sooji, tersenyum bahagia melihat kedua sahabat karibnya, akhirnya mengakui perasaan mereka masing-masing.

Sebuah harapan muncul dibenaknya. Akankah ia juga mengalaminya?

Seseorang dengan wajah merah, menatapnya malu-malu, dan mengatakan cinta padanya.

Memori tiga tahun lalu melayang-layang di kepalanya.

Tapi tidak disangka, ia akan mengalami hari ini dengan seseorang yang selalu membuatnya kesal dari awal pertemuan mereka.

 

Aku justru menyukaimu!” sehun berseru lantang. Entah apa yang membuatnya berkata demikian. Mungkin ia lelah harus menjelaskan apa lagi agar suzy percaya jika ia tak pernah sekalipun membenci yeoja itu. Yang jelas apa yang ia katakan saat ini,  keluar dari hati kecilnya.

“Eh?”

Kali ini sehun benar-benar menatap lurus tepat ke mata suzy. Membuat suzy salah tingkah dan kini giliran suzy yang memundurkan langkahnya. Ini pertama kalinya ia melihat wajah sehun seserius ini. Wajah yang sangat berbeda. Yang entah kenapa membuat jantungnya berdebar.

Aku  sangat menyup─”

Sehun tak mampu lagi melanjutkan perkataannya. Seakan tersadar, ia membekap mulutnya sendiri. Roman merah muncul di wajahnya.

Suzy pun tak sanggup mengatakan apapun. Dipandanginya sehun tak percaya. Matanya membesar sempurna, lalu ia melemparkan pandangannya ke arah kakinya sendiri. Wajahnya berubah pucat dan jantungnya berdebar semakin cepat.

 

 

Suzy POV

“Aku menyukaimu.”

Bolehkah aku mengatakan yang sejujurnya? Ini adalah pertama kalinya seseorang mengatakan perasaan sukanya padaku.

Benarkah yang ku dengar ini? Tidak ku sangka pernyataan ini keluar dari mulutnya.

Seakan seirama, bola mataku  berputar ke sana ke mari. Mencoba mencerna situasi ini.

Kotak sereal yang tadi berada di tanganku  hampir saja terjatuh jika aku  tidak menggenggamnya dengan erat. Aku tahu tanganku gemetar dan jantungku berdebar dengan cepat. Semakin cepat dan cepat.

Setelah perkataan oh sehun yang terakhir, tidak ada diantara kami yang berbicara.  Ku tahu tidak ada diantara kami yang berani walaupun hanya sekedar untuk saling menatap. Aku tak mampu menatapnya, jantungku semakin berdebar.

“A..A..A..A.k..ku ha..r.us..k.ke..toilet!” serunya tiba-tiba lalu berlari meninggalkanku yang masih memantung di tempat.

Dengan langkah gemetar, aku berjalan perlahan mencoba mengikutinya. Mataku menangkap jika ia telah berlari keluar supermarket dan setelah itu menghilang.

“Bukankah dia bilang mau ke toilet?” gumamku perlahan.

Pada kaca jendela yang transparan, terlihat ia telah pergi bersama  motor hitam miliknya.

Aku mendesah berat. Tubuhku seketika merosot ke lantai. Kotak sereal itu terjatuh bersamaan dengan tubuhku yang sudah berada di lantai.

Otakku mencoba mereview kejadian tadi. Benarkah ini?

 

 

Sehun POV

Aku membekap mulutku. Aku tak sadar dengan apa yang aku katakan.

Aku terlalu malu untuk mengakuinya hingga akhirnya aku malah kabur. Kabur darinya.

Aku tak peduli dengan panggilan para hyungku. Aku mengunci pintu dan membanting tubuhku di tempat tidur. Aku menutup wajahku dengan bantal.

Bagaimana aku menghapinya besok?

Matilah kau Oh sehun.

 

 

Luhan POV

Pintu markas terbuka lebar hingga mengagetkan aku dan lainnya. Sehun masuk dengan wajah merah dan menuju ke kamarnya lalu setelah itu mengunci pintu.

Sejak kapan dia mengunci pintunya?

Jangan-jangan sesuatu yang buruk telah terjadi padanya?

Aku, chanyeol dan kai yang kala itu sedang bermain billiard, segera berlari ke depan pintu kamarnya. Kami memanggilnya dengan mengetuk pintu berkali-kali, lebih tepatnya hampir mendobrak pintu itu, tapi ia sama sekali tak menjawab.

“Ya ada apa denganmu, cehun-ah?” teriakku dari luar.

“Sehun-ah,” chanyeol yang ada di sampingku turut berteriak memanggilnya.

“Hyung, kita gunakan saja bubble tea.” Ucap kai.

“Betul hyung, gunakan saja itu.” seru chanyeol.

Benar juga, sehun paling tidak tahan dengan yang satu ini dan aku menunjukkan jempolku tanda setuju pada mereka berdua.

“Cehun-ah, kau mau hyung belikan bubble tea? Berapapun yang kau mau, hyung akan belikan, ne? Ayolah keluar, cehun-ah. ” tapi masih tak ada jawaban darinya.

“Ne, sehun-ah. Hyung juga akan membelikannya untukmu. Kau juga mau ayam goreng?” ucap chanyeol.

“Hyung kalau ayam goreng, aku juga mau.” Ucap kai tapi aku dan chanyeol segera memukul kepalanya.

“Ya kita sekarang lagi membujuk maknae. Kau malah minta yang bukan-bukan.” Ucap chanyeol dan kai hanya memanyunkan bibirnya.

“Ya oh sehun, ada apa sebenarnya??” aku kembali berteriak diikuti oleh chanyeol dan kai. Kami kembali mendobrak pintu.

Pintu tiba-tiba terbuka. Ia keluar dan menaikkan sebelah alisnya. Yang seperti ku bilang sebelumnya, itu dia lakukan jika dia merasa kesal.

“Ya hyung, ada dengan kalian?”

“Ya ada apa denganmu?” tanyaku dan dianggukan oleh kai dan chanyeol.

“Aku baik-baik saja sampai kalian hampir membuat pintu ini copot. Aku mau istirahat, jadi jangan ganggu aku.” Ucapnya dengan menutup pintu di depan hidung kami.

“Ada apa dengannya?” ucap kai dengan setengah berbisik.

Pintu kembali terbuka.

“Hyung, jangan coba-coba mengetuknya lagi, arrha!” sehun kembali berkata dan menutup pintu dengan kasar.

Aku melihat ke arah chanyeol, lalu kai dan keduanya hanya mengangkat bahu.

Ku yakin pasti ada pertistiwa besar yang terjadi padanya hari ini. Tapi apa itu?

 

 

Suzy POV

Aku memukul kepalaku berkali-kali karena kepalaku ini masih saja memikirkan kejadian kemarin. Aku bahkan tidak bisa tidur semalaman. Aku mengantuk sekali pagi ini. Aku menguap beberapa kali tapi terakhir aku menutup mulutku rapat-rapat ketika melihatnya.

“Suzy-ssi..” seru chanyeol dan kai dengan tak lupa melambaikan tangan mereka.

Kenapa harus bertemu dengannya?  Kenapa dia berada diantara mereka? Rasanya aku ingin lari saja sekarang. Aku tak berani melihat ke arahnya.

“Suzy-ahhh..” seru luhan dengan berlari ke arahku. Tapi ia tiba-tiba berhenti. Tangannya yang tadi ingin memelukku terhenti begitu saja. Aku sangat bersyukur dia tidak jadi memelukku. Dengan tangan masih terlentang, luhan memutar kepalanya menghadap ke belakang lalu setelah itu menatapku.

Ia kemudian berdiri sempurna dengan salah satu tangannya memegang ujung dagu sementara tangannya yang satunya sebagai tumpuannya. Dahinya mengernyit seperti akan memecahkan rumus matematika.

“Aneh!” ucapnya. “Biasanya disaat seperti ini sehun pasti menghalangi aksi cintaku. Kenapa tidak kali ini?” luhan berkata dengan melihat ke arah sehun yang kala itu telah berjalan masuk ke dalam gebung sekolah.

Benar juga, sehun selalu melakukan itu. Aku lebih suka itu. Jika seperti ini, aku sungguh tidak nyaman.

“Ah!” pekik luhan dan itu membuat ku kaget. Ia bertepuk tangan lalu menatapku. Aku tahu tatapan ini. Dia pasti akan memelukku sekarang. Ia memamerkan senyuman manis mautnya.

“Suzy-ah, kajja.” Ucapnya dengan merentangkan kedua tangannya seakan memintaku untuk datang ke dalam pelukannya. Aku menggeleng pelan dengan memundurkan langkahku.

“Hyung, kajja.” Ucap chanyeol dan ia masuk ke dalam pelukkannya luhan. Dari arah belakang, kai juga memeluk luhan.

Luhan terlihat berontak tapi chanyeol memeluknya erat dan kemudian  menariknya pergi. Itu tidak terlihat seperti pelukan tapi justru terlihat seperti menggendong. Luhan yang lebih pendek dari kai dan chanyeol hanya pasrah tubuhnya dianggkat seperti itu. Chanyeol kemudian  membalikkan wajahnya dan mengedipkan sebelah matanya padaku.

Untunglah ada chanyeol dan kai tapi bersamaan dengan itu. aku teringat padanya.

Kenapa aku jadi memikirkannya?

Keadaan lebih bertambah buruk ketika aku masuk ke kelas apalagi ketika secara tak sengaja mata kami bertemu. Secara cepat ia membuang mukanya dan melihat ke arah lain.

Ia masih membuang muka ketika aku telah berada di mejaku. Ini sungguh menyesakkan.

Kenapa aku jadi begini, bukankah dia biasa saja?

Mungkin kepalanya terbentur atau dia keracunan makanan hingga mengatakan hal itu. Ku rasa itu penjelasan yang paling logis.

Aku menaruh tasku di atas meja dan menarik kursi untuk duduk.

BRAKK..

Dalam hitungkan detik tubuhku sudah berada di lantai. Astaga, apa yang terjadi?

“Suzy-ah !!” seru luhan yang sudah berlari ke arahku dan diikuti oleh chanyeol, kai beserta teman-teman sekelas.

“Suzy-ssi, kau baik-baik saja?” seru chanyeol dengan wajah kaget begitupun kai yang ada di sampingnya.

Aku hanya mengangguk, “Aku baik-baik saja.” Ucapku mencoba tersenyum.

Tapi bokongku sakit sekali. Kenapa kursiku tiba-tiba rusak? Ketika mencoba untuk berdiri, aku kembali terjatuh ke lantai dan itu menambah rasa sakitnya.

Appo?” tanya luhan yang sudah berjongkok disampingku. Saat itu sehun juga  sudah ada di sampingku dan secara tiba-tiba ia mengulurkan tangannya sama halnya luhan yang juga mengulurkan tangannya.

Aku melihat sesaat tangan pucat miliknya kemudian tangan milik luhan. Mana yang harus ku pilih? Dengan menutup mata, ku raih tangan itu.

“Kau tak apa-apa?” tanya luhan dan aku mengangguk. Ia membantuku berdiri.

 

Saat itu aku memilih tangan luhan, bukan miliknya.  

 

Sehun telah berdiri, menggaruk tengkuknya, lalu menatapku. Tidak ada tatapan jahil di sana,  tidak ada tatapan innocent, tidak ada tatapan mengejek hanya ada tatapan cemas yang tersirat di wajahnya. Apakah ia khawatir padaku?

“Suzy-ah, kita perlu ke UKS,” ucap luhan.

“Aniya. Aku baik-baik saja” Jawabku.

Dari arah pintu masuk krystal dan kris yang baru saja datang.

“Hyung, suzy-ssi tadi terjatuh.” Chanyeol berlari ke arah kris.

“Bagaimana bisa begitu?” ucap kris kemudian menghampiriku. “Ada yang sakit, suzy-ssi?”

Aku hanya menggeleng perlahan.

“Aku sudah memintanya ke UKS, kris.  Tapi, dia tidak mau.”

“Kau harus ke sana suzy-ssi. Kita harus memeriksa kalau-kalau ada memar atau luka.”

“Aniya, aku baik-baik saja.” jawabku dengan menatap mereka satu per satu.

Krystal menaruh tasnya lalu duduk. Kenapa wajahnya terlihat murung? Apa sesuatu terjadi padanya?

“Ini aneh sekali.” Ucap kai sambil mengamati kursiku. Sontak membuat perhatianku teralih padanya. “Kursi ini bukan rusak, tapi seperti sengaja dirusak seseorang.” Ucapnya dengan wajah serius.

“Benarkah?” ucap chanyeol dengan menghampiri kai dan  melihat kursiku.

Apa yang mereka katakan? Kursiku dirusak seseorang?

“Ya jangan main-main. Suzy-ssi tak punya musuh. Lihat yang benar!” ucap luhan.

Ku tahu luhan bermaksud membuatku tidak khawatir. Karena jujur saja aku tak pernah mencari masalah dengan siapapun sejak masuk kemari. Dan kemarin-kemarin tak ada yang berbuat begini padaku kecuali insiden shin seonsaeng palsu. Setelah itu tak ada apapun.

“Benar yang dikatakan kai. Lihat ini.” chanyeol berkata sambil menunjukan bagian kursiku, ada mur yang sengaja dilepas. Mungkin itu yang membuat kursinya menjadi rapuh dan mudah rusak ketika diduduki.

“Bukankah ini aneh. Kenapa hanya kursi suzy-ssi saja?” Ucap kai.

Saat itu krystal tiba-tiba keluar kelas dan disusul oleh kris.

Ada apa denganmu, krystal-ah? Jika kau ada masalah, kenapa kau tak mau menceritakannya padaku?  bukankah kita sahabat?

 

 

Kris POV

Aku terus mengamati mimik wajahnya. Dia tidak pandai menyembunyikan sesuatu. Aku mengikutinya ketika ia keluar kelas.

Ku tahan tangannya ketika ia akan menaiki tangga.

“Apa kau tahu apa yang terjadi tadi?” tanyaku dan ia melepas tanganku.

“Apa maksudmu?” ucapnya dengan kembali menaiki tangga.

Aku mengikutinya.

“Kau tidak terlibat dengan hal itu, kan?” tanyaku. Aku harap tidak benar.

Krystal berhenti ketika kaki kanannya hampir menaiki anak tangga.

“Dengarkan aku, itu bukan urusanmu!” ia kembali menaiki tangga.

“Ya apa ini karena sehun?”

Dan itu membuatnya mematung beberapa saat.

“Hentikan itu, krystal-ah.”

“Sejak kapan kau tahu?”

“Menurutmu sejak kapan? Aku mengenalmu sangat lama. Mana mungkin aku tak tahu. Jadi hentikan tindakan konyolmu itu.”

Ia kemudian berbalik menatapku.

“Benarkah?” ucapnya sambil tertawa. “Kau salah, aku tidak serendah itu. Yeoja sepertinya tidak setara denganku.” Ucapnya kemudian kembali menaiki tangga.

Aku harap bukan kau yang melakukannya, krystal-ah.

 

 

Suzy POV

Ada apa  dengan krystal, aku jadi cemas padanya. Dia akhir-akhir ini terlihat murung dan tak seceriah sebelumnya. Apa aku perlu ke rumahnya? Tadi dia langsung keluar kelas begitu saja. Aku ingin mengikutinya tapi gagal karena  oh sehun bersamanya.

Aish, kenapa aku menjadi aneh begini, kenapa aku harus menghindari si namja sinting itu? Pokoknya mulai detik ini aku harus biasa saja kalau bertemu dengannya.

Itu hanya omongan belaka. Aku berhenti sempurna ketika melihat tubuh jangkung itu masih berada lorong.

Astaga, kenapa dia masih ada di sini? Padahal aku sudah berusaha menjadi orang yang pulang paling terakhir. Bagaimana aku mau pulang kalau begini?

Syukurlah setelah itu ia kembali berjalan. Dengan mengendap-endap, aku mengikutinya dari belakang. Aku harap ia terus berjalan tanpa berhenti. Aku seperti penguntit saja kalau dipikir-pikir. Tapi jujur saja ini lebih baik daripada harus berhadapan langsung dengannya. Aku masih tidak nyaman bertemu dengannya sejak kejadian kemarin.

Ternyata doaku tidak dikabulkan. Dia malah berhenti di tangga membuatku secara spontan mengacak rambutku─frustrasi.

Ya oh sehun, kenapa kau harus berhenti???

Aku bersembunyi di balik tembok untuk mengamatinya.  Dan tidak beberapa lama ia akhirnya mulai kembali berjalan setelah menaruh ponsel di saku celana. Ini adalah hari paling melelahkan dalam hidupku.

Aku kemudian menuruni tangga setelah ia telah menuruni beberapa anak tangga.

Saat menuruni anak tangga yang ke lima, aku merasakan tubuhku didorong ke depan. Aku jatuh terguling hingga tubuhku menghantam oh sehun yang berada di depanku. Kami berdua ambruk bersamaan.

Ini sakit sekali. Aku merasakan tubuhku sakit di semua bagian. Siapa yang mendorongku? Sebelum terjatuh aku sempat mendengar suara yeoja tapi saat aku mendongak tak ada siapapun di sana.

“Mian.” Seru ku cepat dan segera bangkit dari atas tubuh sehun.

“Maaf, aku tak sengaja melakukannya. Apakah kau baik-baik saja?” tanyaku saat ia sudah berdiri. Secara tiba-tiba ia mendekat. Aku menunduk saat tangannya akan menyentuh wajahku.

“Ada luka di pelipis mu. Bagaimana ini, kakimu juga berdarah?!!” Ucapnya sambil mengamati wajah dan kakiku.

Aku melihat ke arah kakiku dan benar ada luka di sana bahkan darah segar telah mengalir  hingga sebagian kaos kaki putihku berwarna merah. Aku baru merasa sakit setalahnya. Kakiku perih. Membuat ku meringis.

Aku mengamati tangga yang tadi aku turuni. Syukurlah aku tidak terjatuh dari atas. Jika itu terjadi mungkin bukan hanya kakiku yang berdarah tapi mungkin saja kakiku bisa patah. Dan untungnya saat itu sehun sudah berada di tangga yang terakhir sehingga ketika aku menabraknya ia tidak apa-apa.

“Ya, darahnya semakin banyak.” Ucapnya. Ia mengambil sebuah sapu tangan, berjongkok di depan ku,  lalu menghapus darah di kaki ku dengan sapu tangan itu.

Apa yang dilakukannya?

“Appo?” tanyanya .

“Aniyo,.” jawabku cepat dan segera membungkuk dan meraih sapu tangan itu. “Biar ku lakukan sendiri.” Ucapku dengan mencoba tersenyum. Aku tak mau berlama-lama bersamanya.

Ia berdiri dan menatapku dengan galak.

“Ya apanya yang tidak apa-apa?!!” Ia berteriak sambil menunjuk lukaku.

“Kenapa kau harus berteriak?” Tannyaku. Aku heran, kenapa dia jadi marah-marah?

Tanpa banyak bicara, ia tiba-tiba langsung menggendongku.

“Ya oh sehun-ssi, apa yang kau lakukan? Ya turunkan aku. Kau mau membawaku kemana?”

Ia tidak menggubrisnya  tapi justru terus menggendongku hingga menaikkanku pada motornya.

“Ya kau mau membawaku kemana?” tanyaku frustrasi karena ia tidak menjawab dari tadi.

Kami tak bicara sampai akhirnya  tiba di depan sebuah tempat, maksudku  sebuah rumah. Apakah ini rumahnya?

Sehun menuntunku berjalan dan ia membantuku duduk di sebuah sofa panjang berwarna coklat. Aku mengedarkan pandanganku ke semua isi ruangan ini saat sehun pergi ke ruangan sebelahnya. Dinding ruangan ini dihiasi dengan tulisan-tulisan besar berwarna-warni. Di sudut kiri ada meja billiard. Tempat ini sepertinya besar sekali, tapi sepi. Apa ia tinggal sendirian?

Sehun kembali muncul dengan sebuah kotak obat ditangan kanannya. Ia kemudian berlutut di depanku. Mataku membesar. Kenapa jadi begini? Aku semakin salah tingkah ketika matanya menatapku. Aku memalingkan wajahku memilih melihat ruangan ini dan berhenti pada meja billiard.

“Kau suka main itu?” aku mencoba bertanya padanya dengan menunjuk meja billiard. Ia melihatnya sekilas dan kembali sibuk pada kotak obat.

Aduh, bagaimana menghilangkan kecanggungan ini?

“Wuah, rumahmu besar sekali.” Seruku.

Ia tidak menjawabnya.

“Sehun-ssi, apakah kau yang membuat tulisan-tulisan itu?” tanyaku kembali dan ia tidak menjawabnya.

Tangannya mengambil obat merah. Dengan cotton bud, ia mengoleskan obat merah itu ke pelipisku membuat terkejut. Dalam sekejab sarafku membeku, membuatku hanya menatap wajah pucat miliknya. Aku hanya terdiam dan bahkan tidak merasakan sakit apapun.

Mataku bergerak mengikuti tangannya. Melihatnya menempelkan sebuah plester di pelipisku.

Apa, dia akan menempelkan plester ini ke pelipisku?

“Ah,” pekikku dan itu membuatnya berhenti. “Biar aku yang menaruhnya sendiri.” Ucapku buru-buru dan hendak mengambil plester itu dari tangannya tapi, ia memukul tanganku.

“Diam saja.” ucapnya.

Tidak perlu harus memukul tanganku kali! Ingin sekali aku menjitak kepalanya.

“Mm, ini..ini mengenai. Maksud begini. Aku..aku” ucapnya tertahan.

Apakah ini soal yang kemarin itu?

Gawat!!

“Yang kemarin?” ucapku setengah berteriak. “Kau tenang saja. Aku akan menganggap tidak terjadi apa-apa. Tidak mendengar apa-apa. Aku tahu kau tidak serius mengatakannya.” Aku mencoba tertawa sambil memukul pundaknya pelan, tapi tanganku ditahannya.

Wajah pucat itu semakin lama semakin mendekat. Mata coklat itu menatapku lembut dan dalam. Aku tak tahu berapa lama pandangan itu berlangsung.

Mata itu masih menatapku. “Aku serius. Aku benar-benar menyukaimu.”

Saat itu aku tak bisa memikirkan apapun. Aku merasa sekujur tubuhku membeku. Satu-satunya yang hidup hanyalah jantungku. Berdegup dan berdegup.

“Aku menyukaimu, suzy-ah.”

Tapi suara langkah gaduh membangunkanku. Membuatku melepaskan tangannya.

“Hyung, ayolah jangan marah.”

“Hyung saja hajar dia.”

Selanjutnya terdengar suara tawa, suara itu semakin mendekat tatkala pintu di buka.

Aku spontan berdiri ketika melihat kedatangan mereka.

Terlihat luhan sedang memukul chanyeol, kai masuk dari belakang, kemudian muncul krystal dan kris.

Kenapa mereka semua di sini?

“Suzy-ah?” seru luhan kemudian berlari ke arahku meninggalkan chanyeol yang sudah terjatuh ke lantai.

“Suzy-ssi, bagaimana kau bisa di sini?” tanya luhan dengan mata berbinar-binar.

“Aku yang membawanya ke mari.” Ucap sehun yang telah berdiri.

“Mwo?” teriak luhan.

 

T B C

Maaf atas keterlambatan FF ini.

Saya harap cerita ini masih cukup membuat mata para readers mau membaca chapter selanjutnya.

Terima kasih bagi readers yang masih setia membaca.

sampai ketemu lagi chapter selanjutnya^^

annyeong

 

 

26 thoughts on “[FF Freelance] I Love You, More Than I Know (Chapter 7)

  1. Suzy ga sadar klo dia dlm ‘bahaya’..
    Br ngeh klo FF ini msh ongoing dan terakhir apdet bln april.. Msh ada harapankah ini di lanjut?? Penasaraaann… TTTT_____TTTT

    • halo, aku author dari ff itu…sebelumnya aku meminta maaf pada semua yang menunggu ff ini, mian banget aku ga bisa lanjutin padahal sebenarnya aku pengen lanjutin lg..cuman ada satu dan dua hal makanya aku ga bisa lanjutin lg disini tp kalau ada yg masih berminat mungkin aku akan mempertimbangkan lagi untuk melanjutkannya di blog pribadi. karena jujur saja ini ff perdana yg dipublish dan dibaca oleh orang lain. jadi awalnya berat banget untuk menstopkan ff ini hanya sampai pada part ini. yah sekali lagi jika ada yg berminat bs hub aku lewat twitter @monchan

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s