[FF Freelance] A Real Man?

EXO_M_Kris

A Real Man?

B y

exoticpanda

M ain Cast

Wu Yi Fan/Kris (EXO M)

S upport Cast

Seo Hyun Ra (OC), Byun Baek Hyun (EXO K)

G enre

Romance, AU, School-Life

R ating

Teen

D uration

1.686 words [Vignette]

 

S ummary:

 

Lelaki sejati itu tak pernah menangis.

 

Lelaki sejati itu tidak lemah.

 

Air mata adalah tanda kelemahan.

 

Oleh karenanya, lelaki sejati tidak boleh menangis.

 

Benarkah begitu? Setidaknya iya –menurut Kris.

 

 

D isclaimer:

Pure mine. Posted to here. It’s nice to meet you in my personal blog, exoticpanda.wordpress.com

At last, E N J O Y

.

 

 

 

Kris keren.

 

Kris macho.

 

Kris sungguh tampan.

 

Kris adalah cerminan seorang pria.

 

Kris adalah lelaki sejati.

 

Dan, Kris, bukan hanya berjenis kelamin lelaki, tapi,

 

Kris adalah lelaki yang sesungguhnya.

 

Itu yang banyak orang pikirkan ketika mereka melihat penampilan Kris. Telinga dengan tindik, wajah yang dingin, baju yang keren, celana jeans kumal dengan bagian sobek di lutut, tattoo di lengannya dengan gambar yang menyeramkan, parfum maskulin serta suara parau yang seksi yang membuat orang yang melihat, mendengar, dan menghirup tak perlu meragukan kejantanan Kris. Ditambah dengan gaya hidup yang keras, Kris adalah seorang lelaki.

 

Semua gadis di sekolahnya tak bisa menolak pemandangan yang menyegarkan –Kris. Semua gadis akan melihatnya tanpa henti sampai ia menghilang di ujung koridor sekolah, atau belokan di persimpangan koridor, atau ia masuk ke kelasnya.

 

Ya, Kris. Itu Kris. Pria macho dengan sifat garangnya yang diidolakan banyak remaja wanita di sekolahnya. Gadis mana yang tidak bersaing mencari perhatiannya? Gadis mana yang tidak menggunakan trik-trik kuno untuk memperoleh sekedar lirikan bahkan sapaan? Menjatuhkan buku di depannya, berpura-pura tidak sengaja menyenggol lengannya, berpura-pura tak melihat jalan lalu tak sengaja menabrakknya, hingga pura-pura keseleo di depannya. Basi. Trik basi. Kris tau itu.

 

Tapi, bukannya ia cuek terhadap remaja-remaja labil itu. Ia terkadang menjadikannya sebagai hiburannya. Walau tak ada kata aku-cinta-kamu yang terlontar, atau maukah-kau-jadi-milikku, atau entah kata-kata yang meminta komitmen, gadis-gadis itu tak keberatan asal bisa dekat dengan Kris. Memang, sikap Kris yang tak suka dengan mudahnya membuat komitmen itu bagus. Namun, mempermainkan mereka tanpa komitmen, tetap saja hal yang buruk. Kris tau itu.

 

Sampai entah apa yang merasuk di pikiran Kris, ia diam-diam menyukai dan menginginkan seorang gadis untuk menjadi kekasihnya. Ya, akhirnya Kris memutuskan untuk mengatakan maukah-kau-jadi-kekasihku, walaupun belum terucap di hadapan gadis itu. Tapi dia akan segera melakukannya. Tentu Kris normal, sebagai lelaki sejati pun, ia juga bisa jatuh cinta.

 

Namun, 1 yang menjadi masalah baginya. Gadis itu tak menyukainya. JEDAAARRRR. Bagaikan disambar petir, gluduk, kilat atau yang bisa membuatnya gosong, itu benar-benar bagaikan arus listrik yang bisa membuatnya kesal, marah, dan sebagainya. Apa yang ada dalam benak gadis itu? Aku, ya, aku Kris, semua orang di sekolah tau itu. Dia menolakku? Demi Neptunus, planet yang suka meninggalkan garis edarannya, apa yang kurang dariku? Tentu, tentu itu yang ada di benak Kris sewaktu Kris telah menyatakan perasaannya, gadis itu malah mengatakan, “Mianhe, Kris. Sebaiknya kita berteman saja. Maaf, tapi aku sudah punya orang yang kusuka.”

 

Siapa orang yang kau suka, huh? Apa dia Bradd Pitt, yang sanggup menyaingi ketampananku? Apa dia Michael Jordan, yang sanggup menandingi Slam Dunk ku saat bermain basket? Apa dia Edward Cullen, yang telah menggigitmu sehingga mengubahmu menjadi tidak manusiawi? Apa dia, Apa dia Hulk, yang jauh lebih kuat dariku? Tidak mungkin, tidak. Di sekolah tidak ada orang-orang yang seperti mereka.

 

“Jadi, katakan padaku siapa yang kau suka, Seo Hyun Ra?”

 

“Maaf, Kris. Tapi aku tak mau kau menyakitinya.”

 

“Tidak, Hyun Ra, aku tidak akan menyakitinya. Aku hanya ingin tau, seperti apa tipemu.”

 

“Janji?”

 

“Ehm iya, janji.”

 

“Baiklah. Dia Byun Baekhyun.”

 

JEDAAARRRRR. Lagi-lagi petir dan saudara-saudaranya seperti baru saja menyambar Kris dan angin badai seperti baru menyeretnya masuk ke segitiga bermuda.

 

BAEKHYUN? BYUN BAEKHYUN? SEORANG BYUN BAEKHYUN? KAU GILA HYUN RA?

 

Seorang Byun Baekhyun? Tingginya yang sangat semampai, semeter tak sampai. Tampangnya yang masih seperti bayi baru lahir dan mencicipi dunia. Aroma shampoo dan bedak bayi yang khas darinya. Kulitnya yang masih sangat halus seperti bayi yang masih dalam kandungan. Bahkan, jika Kris mau, dalam jarak 5 meter Baekhyun dapat terbang ke langit ke tujuh lalu kembali jatuh ke dasar Bumi dengan sekali tiupan. Apa yang dapat menyaingi aku dari Baekhyun? Apa kelebihan Baekhyun dariku?

 

Sebagai lelaki sejati, Kris pantang menyerah. Bukan Kris namanya kalau ia tak bisa mendapatkan Seo Hyun Ra. Seorang gadis biasa saja, dengan wajah yang biasa saja. Namun, dengan kepribadian yang tidak biasa saja. Buktinya, semua gadis di sekolahnya yang selalu mencari perhatian Kris, dapat dikalahkan olehnya yang tak pernah melirik Kris.

 

“Baiklah, dimana kau, Byun Baekhyun?”

 

Tidak, Kris, apa yang akan kau lakukan padanya?

 

“Habis kau, Byun Baekhyun.”

 

Ya! Kris. Ingatlah janjimu pada Hyun Ra, tak akan menyakitinya, kan?

 

“Persetan dengan omong kosong aku tak akan menyakitinya. Kita lihat dan buktikan siapa yang lebih jantan. Kau, atau aku?”

 

Kris sebaiknya kau memikirkannya lagi.

 

“Aroma kekalahan tak pernah tercium dariku. Bersiaplah, Byun Baekhyun.”

 

“Ya! Kau Byun Baekhyun?” tanya Kris setelah kelasnya sepi, dan seperti biasa, seorang Byun Baekhyun yang notabene adalah kutu buku, pasti ia pulang belakangan sehabis membaca dari perpustakaan.

 

“N-ne. Waeyo?” tanya Baekhyun agak sedikit ragu karena melihat ekspresi Kris yang menyeramkan seperti telah menjebak kelinci yang tak akan bisa kemana-mana.

 

“Kau tau seperti apa pria jantan?” Kris menggulung lengannya dan mendekati Baekhyun yang sudah terpojokkan di dinding koridor.

 

“Ma-maksud…” BUMMMM. Belum selesai kata-kata yang diucapkan Baekhyun, perut Baekhyun telah terasa perih akibat sesuatu yang keras mengantam perutnya. Itu tangan Kris.

 

“Ke-kenapa?” Baekhyun bertanya dengan muka kesakitan dan sangat teramat menahan sakit.

 

“HAH, KAU TANYA KENAPA?” BAAAMMMM. Pukulan lain melayang ke pipi Baekhyun yang membuat sudut bibirnya meneteskan darah segar.

 

“A-a-pa sa-salahku, K-kris-ssie?” tanya Baekhyun sambil memegangi perutnya yang masih sakit, lalu tangannya kembali menyeka darah yang masih terus mengalir. Tak terasa air matanya mengalir karena menahan sakit yang teramat.

 

“BALAS AKU KALAU KAU BISA, BYUN BAEKHYUN.” BAAAMMM. Kali ini pukulan yang lebih keras melayang lagi ke perut Baekhyun, sangat keras. Ia terjatuh tersungkur. Mulutnya mengucurkan darah yang banyak dan tak henti. Ia mencoba bangkit tapi tak bisa karena sakit akibat pukulan Kris sudah tak tertanggungnya lagi.

 

“Hah, ternyata kau sangat lembek, Byun Baekhyun. Bahkan berbicara saja kini kau tak sanggup lagi. Kau tau, kau sangat menyedihkan. KAU TAK TERLIHAT SEPERTI SEORANG PRIA, BYUN BAEK…”

 

“CUKUUUPP!!! APA YANG KAU LAKUKAN, KRIS?” Seorang wanita mendekati Baekhyun yang tersungkur.

 

“Baekhyun, gwaenchanayo?” tanya wanita itu lagi.

 

“Apa yang kau lakukan di sini, Hyun Ra?” tanya Kris memanjangkan lengannya lagi.

 

“KRISS!! KAU!!” Hyun Ra menatap Kris dengan air mata berderai. Dia sungguh memandang Kris dengan tatapan menjijikan.

 

“Su-sudahlah, Hyun Ra.” Baekhyun tersenyum kecil melihat Hyun Ra yang berjongkok dan meletakkan kepalanya di pangkuan gadis itu.

 

“Bahkan, kau tak mampu membalasku. Huh, pengecut. Dan kau menangis karena pukulanku. Kau benar-benar menjijikan, Byun Baekhyun. Hanya jenis kelaminmu saja yang pria, tapi nyatanya…”

 

“KAU YANG BUKAN PRIA, KRIS. KAU YANG MENJIJIKAN. KAU SAMA SEKALI TAK PANTAS DISEBUT PRIA SEJATI, BAHKAN PRIA SAJA TIDAK.” Hyun Ra berteriak dibalik tangisannya.

 

JEDAAARRRR.. Entah ini petir keberapa yang menyambar Kris.

 

Bukan pria sejati? Bahkan pantas disebut pria saja tidak? Apa? Seorang Kris tak layak disebut pria? Sungguh, jika ada alat pengukur tensi, mungkin tekanan darah Kris sudah melebihi nenek-nenek yang menderita hipertensi. Dia sangat kalap mendengarnya.

 

“KAU TAU KRIS. KAU SUNGGUH BUKAN PRIA SEJATI. KAU TAK LEBIH DARI ANAK KECIL YANG MERENGEK MINTA SUSU NAMUN BERLAGAK KAU SEOLAH PRIA DEWASA. CIH.”

 

“H-hyun Ra, su-sudahlah.”

 

“Diam dulu kau, Baek. Dan kau Kris. Itu lah alasan aku tak menerimamu dan aku lebih memilih Baekhyun.”

 

Kris tak bergeming. Tangannya sudah gemetar menahan amarah akan kata-kata Hyun Ra yang tak berdasarkan fakta. Oke, jika Kris bukan seorang pria, dapatkah kau membuktikannya, Hyun Ra? Atas dasar apa kau mengatakan hal itu? Semua orang tau siapa Kris dan bagaimana Kris sungguh lelaki sejati.

 

“Baiklah, kuberi tau mengapa aku menyebutmu bukan lelaki sejati, Kris.”

 

Baiklah, Hyun Ra, kami mendengarkanmu sekarang. Kurangi tangisanmu sejenak, agar kami mendengar dengan jelas apa yang akan kau kemukakan.

 

“Kau mengingkari janjimu, Kris. Lelaki sejati adalah lelaki yang dewasa. Lelaki dewasa dipegang kata-katanya. Kau mengingkari janjimu untuk tidak menyakiti Baekhyun.”

 

Baiklah, baru 1 alasan. Kau masih bisa tenang, Kris. Atur nafasmu, dan biarkan dadamu tenang tidak bergejolak naik turun.

 

“Lelaki dewasa tidak menggunakan jalan pintas terlebih dengan melukai orang seperti ini. Lelaki dewasa sanggup menerima kenyataan, Kris. Dan kau tak sanggup menerima kenyataan aku menolakmu, sehingga kau melukai Baekhyun.”

 

Kris tersentak. Kaget. Tapi, ia masih membungkam mulutnya.

 

“Lelaki dewasa tidak labil dalam hal emosi, dan sanggup menahannya. Tidak sepertimu yang melampiaskannya, Kris. Kau masih labil. Bahkan Baekhyun jauh lebih dewasa darimu. Ia sanggup menahan sakit yang ia dapatkan. Menahan sakit lebih susah daripada melampiaskan emosimu dengan pukulan.”

 

Oke. Sepertinya Kris kalah. Kris masih bergetar hebat mendengar apa yang dikemukakan gadis di depannya.

 

“Dan kau salah, Kris, soal tangisan. Air mata bukan lambang kelemahan. Itu lambang perasaan manusia. Menangis itu manusiawi, Kris. Pria sejati juga bisa menangis. Karena pria sejati manusia biasa yang berperasaan. Kau sungguh seperti kekanakan. Kau masih ingat apa yang ibu-ibu katakan sewaktu anak lelaki mereka menangis? ‘Jangan menangis, kau seorang lelaki, lelaki tak boleh menangis.’ Dan kau percaya kata-kata itu, Kris? Kau sungguh seperti seorang bocah.”

 

Baiklah, argumenmu menang, Hyun Ra. Kris tak menjawab sepatah katapun.

 

“Kris, kau perlu tau. Lelaki sejati itu bukan kebalikan dari wanita –yang lemah dibanding lelaki. Tapi, lelaki sejati itu adalah pria dewasa yang kebalikan dari kanak-kanak. Pola berpikir, cara bertindak, itu mencerminkan apakah kau seorang yang dewasa atau bukan. Bukan melalui penampilan, otot, kekuatan atau hal semu yang kasat mata lain.”

 

BAAAMMMM… Kali ini suara pintu kelas dibanting dari luar. Ya, Kris pergi meninggalkan Hyun Ra dan Baekhyun.

 

Kris, sepertinya kau harus merubah pandanganmu mengenai seperti apa lelaki sejati dan pria dewasa itu. Cobalah melihat dari berbagai sudut pandang. Jangan melihat dari 1 sudut pandang saja. Ingat Kris, lelaki sejati sanggup menanggung hal-hal yang menyakitkan. Kata-kata Hyun Ra tadi semoga menjadi motivasi mu untuk menjadi lelaki sejati yang sesungguhnya.

 

A real man isn’t someone who is strong

 

A real man isn’t someone who can hold his tears

 

A real man isn’t someone who releases all his strength

 

But, a real man is someone who is capable to carry burdens

 

Someone who is brave to face what will happen

 

Someone who is mature –opposite of childish

 

“H-hyun Ra, ka-kau ba-barusan me-mengatakan apa tadi?”

 

“Yang mana Baek, tadi aku bicara banyak. Soal lelaki sejati?”

 

“Bu-bukan. Ya-yang ada na-namaku.”

 

Hyun Ra tersenyum. Ya, rona pipi muncul sekilas di atas kedua pipinya.

 

“Oh itu. Kau dengar, ya? Apa ya? Aku lupa, Baek. Ayo kita lekas pulang, kita bersihkan lukamu.”

 

“Tu-tu-tunggu. Se-seo H-hyun Ra, aku menyukaimu.”

 

-end-

 

A/N:    I really grateful and thankful if you leave your review or your comment here. Gamsa hamnida.

3 thoughts on “[FF Freelance] A Real Man?

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s