[Oneshot] Cathy

Poster FF Cathy ver 2

A fanfiction by astriadhima

“Cathy”

Smiling like a cat, hunting like a cat

 

Main Cast : Park Jiyeon, Kim Myungsoo

Minor Cast : Kim Sunggyu

Oneshoot | Sureal, Psycho, Horror | PG-15

Summary : Apakah semua orang yakin bahwa Jiyeon tidak melakukan apa-apa? Lalu siapa yang melakukannya? Apakah kucing-kucing itu? Apa dia yang ia sapa Cathy?

Teaser : here

 

Petir menyambar-nyambar diluar jendela. Gelegarnya yang menakutkan membangkitkan bulu kuduk tanpa aba-aba. Di sana, disebuah rumah yang bisa dibilang cukup tua, dua orang gadis tengah beradu kata. Yang satu berambut panjang dan satunya cukup sebahu. Setelah membaca sebuah surat yang entah apa dan untuk siapa, si gadis berambut pendek mulai berteriak. Ditunjuknya si gadis berambut panjang, agaknya ia sedang mengolok-olok gadis itu. “Licik. Semua sudah menjadi milikmu.” Tuturnya. Hampir ia menonjok gadis itu dengan tangan kirinya. Urung, tangannya terlebih dahulu turun. Ia mendesis pelan, lalu berbalik arah, membuka pintu. Dan, akhirnya ia pergi, di tengah hujan dan belantara. Si gadis berambut panjang hanya menyimpan katanya. Ia tak bersedih ataupun bahagia. “Jangan pergi ….”

.

.

6 bulan kemudian..

“Kami tak punya kucing yang cantik. Oh, tapi kau bisa mengambil yang ini.” Seorang paman menunjukkan seekor kucing liar berbulu kuning. Kucing itu terlihat sehat namun mantanya sendu, itu sangat terlihat. Paman itu menggendongnya, menunjukkannya pada Jiyeon. “Matanya terlalu sedih. Aku tidak suka.” Lalu ia beralih pada kucing yang lain. Kucing dengan bulu hitam, tangan dan kakinya berbulu putih. Namun sayang, ia buta. “Tidak. Aku terlalu kasihan padanya.” Paman itu menunjukkan kucing yang lain. Kali ini kucing yang lebih besar dan gemuk. Warnanya putih dengan belang oranye. Matanya terlihat angkuh, namun terlihat sangat kuat. Dan seperti sebelumnya. Jiyeon menolak.

Paman itu memijit dahinya. Ia telah menunjukkan banyak kucing pada Jiyeon, tetapi dengan berbagai alasan gadis itu selalu menolak. “Kucing seperti apa yang kau minta?” Paman itu lalu beralih ke sebuah meja dengan tumpukan buku. Ia melihat-lihat buku itu, dicarinya data kucing-kucing yang ada di tempat penampungannya. “Aku ingin yang bermata hitam.” Jiyeon angkat bicara setelah bungkam beberapa lama. Paman itu terlihat kaget, beberapa kali menerjapkan mata. Namun Jiyeon tetap dengan raut mukanya, susah untuk dibaca. “Sepertinya sulit. Tapi kurasa ada satu.”

Jiyeon keluar dari tempat penampungan hewan dengan membawa seekor kucing. Bulunya lebat berwarna putih. Kaki dan telinganya bersih. Kukunya juga masih tajam. Dan tentu saja matanya berwarna hitam. Jiyeon menggendongnya dengan sayang, sesekali ia menelusupkan jari-jarinya pada hewan itu. Hewan itu nampak senang Jiyeon mengambilnya. Saat si Paman mendengar permintaan Jiyeon, ia beralih menuju belakang kios. Disana ada beberapa kandang kecil dengan hewan-hewan yang sepertinya jarang dirawat. Paman itu mengambil si kucing dari salah satu kandang itu. “Kau bisa mengambil yang ini. Dia baru saja dibuang jadi belum masuk dalam daftar kami. Matanya hitam kan?” lalu jiyeon mengambil kucing itu.

Jiyeon menaiki bis sambil terus menerus mengusap bulu si kucing. Di bis itu hanya ada beberapa orang yang terlihat sangat lelah, jadi tak ada yang terganggu dengan kucing Jiyeon. Ia menatap bangunan-bangunan pucat disekeliling jalan. Lampunya temaram sehingga nampak seperti rumah tak berpenghuni. Lalu kemana dia akan pergi? Tentu saja ke rumahnya. Salah satu rumah dengan lampu temaram itu adalah rumahnya. Ia mengelus ekor si kucing. Kucing itu mengeong karena merasa majikan barunya menyukainya. Namun ia salah, Jiyeon tidak benar-benar menyayanginya. “Sial.” Ia bergumam saat mendapati luka yang ada di ekor si kucing. Si kucing tetap mengeong sayang, setidaknya ia belum tahu apa yang akan Jiyeon lakukan selanjutnya.

Ia turun dari bis lalu berjalan di sebuah jalan setapak yang terlihat sepi. Disana-sini hanya terlihat beberapa rumah yang enggan memasang lampu banyak-banyak. Setiap balai rumah hanya diterangi satu lampu kecil. Kau tak perlu tanya bagaimana mengerikannya. Jiyeon tetap berjalan lurus hingga sebuah belokan memaksanya untuk berhenti. Belokan itu melindungi pejalannya agar tak jatuh ke sungai. Pantas saja, disamping jalan itu memang ada sungai. Sungai yang cukup besar dan deras tentunya. “Sekarang kau punya tempat yang baru kan?” Jiyeon berkata sambil mengangkat kucing itu tinggi-tinggi. Jiyeon menggosok hidungn kucing itu beberapa kali, ia mengeong, mungkin menyukainya. Lalu diangkatnya si kucing lebih tinggi, sorotan matanya yang hitam tampak tak berdosa. Diangkatnya lebih tinggi lagi lalu menjatuhkannya. Jatuh… benar-benar menjatuhkannya ke sungai. Lalu jiyeon tertawa puas. “Selamat malam kucing malang”

Di tengah lampu temaram, Jiyeon duduk disebuah sofa berwarna safir dengan santai. Ia mengelus seeokor hewan, menelusupkan jari-jarinya ditengah bulunya. Bulunya yang terlihat keperakan di bawah cahaya terlihat mengerikan. Dan matanya, terlihat sangat misterius. Hitam pekat. “Cathy.. Aku sudah membunuhnya. Kau tahu, dia mengotori kuku ku dengan darahnya. Ku kira dia baik, namun aku salah. Dia sama jalangnya dengan kucing-kucing lain. Tak akan ada yang menandingimu, Cathy.” Yang dielus hanya diam, tetap dengan pandangannya yang misterius. Bahkan tersenyum layaknya kucing pun tidak. Jiyeon tetap mengelusnya.

Setelah beberapa kali menekan tombol-tombol yang ada di ponselnya, Jiyeon mendekatkan benda itu ditelinganya. Terdengar dengungan panjang untuk beberapa sekon. Yang ditelpon agaknya tak mau menerima panggilan Jiyeon. “Licik kau. Kim Myungsoo!”

Petir menyambar disertai dengan hujan deras yang tak kunjung henti. Beberapa ranting pohon tampak menabrak jendela rumah Jiyeon dengan kasar. Tirainya berayun-aayun tertiup angin. Suara guruh memaksanya untuk terjaga. Masih tetap duduk di sofa berwarna safir, tatapannya kosong. Dan si kucing Cathy setia menemani. Kucing itu duduk di pangkuan Jiyeon dengan mata yang selalu siaga. “Cathy. Kau fikir dia sekarang ada dimana? Apa kau tak merindukannya hmm?” si kucing tampak tak peduli. Suara Jiyeon hanya seperti lolongan malam yang akan sirna saat lolongan lain bergemuruh. Benar saja, memang ada lolongan lain. Jauh di belantara sana. Lolongan yang tak berbahaya. “Aku rasa dia berada di sekitar sini. Bukankah begitu Cathy?”

.

.

Siang mulai menampakkan dirinya lagi. Kali ini sinarnya lebih cerah sehingga terasa hangat. Jiyeon dengan mengenakan gaun selutut berjalan anggun disebuah lorong universitas. Bukannya ia memutuskan untuk putus sekolah sejak tiga tahun lalu? Ya memang. Jiyeon sudah tak bersekolah lagi semenjak ia dikeluarkan dari sekolahnya. Saat itu ia masih kelas satu SMA, namun untuk alasan yang tak pasti ia dikeluarkan. Banyak beredar gossip bahwa Jiyeon lah yang menyebabkan Kim Ma Ru meregang nyawa. Saat itu Maru adalah wakil perkumpulan siswa di sekolahnya, dan Myungsoo adalah ketuanya.

Ia mengenakan kacamata hitam besar, menutupi mata cokelatnya yang indah. Beberapa orang yang merasa kenal padanya hanya tercekat heran. “Itu Park Jiyeon kan?”

Jiyeon tak peduli, ia terus melenggang lurus hingga seseorang yang ia tuju terlihat diujung lorong. Setelah melihat Jiyeon, orang itu membuang muka. Ia berjalan ke arah kanan, arah sebuah beranda. Jiyeon membuka kacamata nya, ditaruhnya benda itu di tas tangannya yang cukup besar. Ia juga mengarah ke beranda.

Seseorang itu menatap pemandangan di depannya dengan santai. Tampak tak memiliki masalah apapun. Tangannya memegang pagar besi pelindung, sesekali ia bersiul riang. “Selamat pagi, Kim Myungsoo!” seseorang yang dipanggil Kim Myungsoo itu menoleh. “Selamat pagi juga, Park Ji Yeon!” lalu mereka tertawa berirama.

“Masih dengan kucing itu?” Myungsoo memulai pembicaraan. Kenapa soal kucing? Dan kenapa harus kucing? Bukankah Myungsoo bisa mengajukan pertanyaan yang lain. Penampilan Jiyeon mungkin? Atau gaya rambutnya? “Ya. Dia sangat setia padaku.”

.

.

Sinar jingga menggelitik tubuh Myungsoo untuk keluar dari rumahnya. Setelah meneguk beberapa mili jus jeruk ia memutuskan untuk mecari udara segar. Dipakainya sebuah jaket tipis berwarna merah sekedar berjaga-jaga apabila angin sore memancing sebuah penyakit di tubuhnya. Jalanan nampak lengang, sesekali pejalan kaki melewati jalan itu dengan lelah. Mungkin baru pulang kerja.Hingga ia melewati sebuah taman kecil disamping sebuah minimarket. Ia melangkah ke lahan dengan luas sekitar setengah hektar itu. Ada beberapa ayunan dan jungkat-jungkit, ah Myungsoo jadi ingat masa kecilnya.

Saat Myungsoo mencoba duduk disebuah ayunan, dibelakangnya lamat-lamat terdengar suara tangisan anak kecil. Ya, perempuan. Myungsoo berbalik arah, dicarinya sumber suara itu. Hingga ia melihat sebuah ayunan yang mengayun lambat, disampingnya seorang gadis sekitar umur 7 tahunan menangis tersedu. Gadis itu menekuk lututnya dan menunduk. Semilir senja menerbangkan anak rambutnya yang berwarna cokelat. Myungsoo menghampirinya, ia berjongkok kemudian melepas jaketnya. “Apa kau kedinginan?” Myungsoo melingkarkan jaket itu kearah bahu si gadis kecil. Si gadis lalu menatapnya, dengan susah payah ia meredam tangisnya yang menggebu-nggebu. Bulir-bulir air mata masih jatuh dari maniknya tetapi sudah berkurang. “Maaf. Anda siapa?” gadis itu cukup sopan dibanding gadis seumurannya. Jika biasanya anak-anak selalu berteriak saat berbicara pada orang dewasa, gadis ini lebih memilih untuk menyapa terlebih dahulu. Gadis yang baik. “Tenang saja. Aku tinggal disekitar sini, saat aku berjalan-jalan aku tak sengaja mendengarmu menangis. Lalu kenapa kamu menangis?”

Myungsoo menatap manik hitam gadis itu dengan teliti. Tangan kekarnya menghapus beberapa bulir air mata yang tersisa. Terlihat sangat kontras, ia jadi mengingat betapa ia telah tumbuh dewasa. Sepertinya baru kemarin ukuran tangannya sama dengan gadis itu.

“Ini rumahku.” Lalu si gadis kecil menimpali.

.

.

Myungsoo memasuki sebuah minimarket disamping taman. Bel kecil gemerincing diatas toko itu saat Myungsoo melewatinya. Si gadis kecil dengan takut-takut mengekor dibelakangnya. Ia mendekap jaket Myungsoo erat. “Kau mau makan apa, hmm?” Myungsoo menawari dengan terus berjalan menuju rak-rak makanan kecil. Lalu gadis kecil itu berjalan mendahuluinya. Ia berjalan terburu-buru. Lucu sekali, Myungsoo tertawa. “Aku mau roti kacang.” Gadis itu menunjuk rak roti dengan telunjuknya yang masih teramat kecil. Ia tak bergerak sebelum Myungsoo mengambil beberapa roti untuknya. “Apa kau mau makan yang lain?”

“Tidak, ini saja. Aku hanya akan makan roti kacang.”

 

Myungsoo, dengan membawa beberapa roti dan botol Coke melangkah menuju kasir. Ia disambut dengan wanita penjaga kasir bermasker yang terlihat dingin. Ia meletakkan seluruh belanjaannya di meja kasir. Sebelum menghitung belanjaan Myungsoo, untuk beberapa saat gadis itu menatap Myungsoo. Beberapa kali ia salah menuliskan belanjaan Myungsoo. Juga, tangannya bergetar kecil. “Ada apa? Apa Anda mengenal saya?” merasa bahwa ia diperhatikan, Myungsoo bertanya. Wanita penjaga kasir sedikit terlonjak, ia lalu tertunduk dan melanjutkan aktifitasnya.

Kenapa lama sekali? Ia hanya berbelanja 3 roti kacang dan dua botol Coke. Kenapa terasa lama sekali. Lalu setelah beberapa sekon terlewat, wanita penjaga kasir itu memasukkan belanjaan Myungsoo disebuah kantong plastik. “Terima kasih. Apa cuacanya begitu dingin? Kenapa kau memakai masker? Matamu yang hitam jadi tertutupi.” Myungsoo mencoba mencairkan suasana. Memang, wanita penjaga kasir itu memiliki bola mata yang hitam pekat, dan itu sangat indah. Sayang, masker menutupinya.

Myungsoo tercekat saat si gadis kecil itu tak lagi bersamanya. Memang ia serasa menunggu lama, tapi tak selama itu, kira-kira hanya sepuluh menit. Tapi gadis kecil itu sudah tidak ada. Myungsoo berbalik menuju wanita penjaga kasir, sekedar bertanya apakah ia melihat gadis kecil tadi. Wanita penjaga kasir itu masih sibuk menghitung belanjaan, agak banyak rupanya. Meskipun Myungsoo tak mendapati seseorang lain yang berbelanja disana. “Maaf, apa kau melihat gadis kec−.”

“Tidak. Minum saja Coke mu.”

Minum saja Coke mu. Myungsoo menatap kantung belanjanya. Hanya ada tiga botol Coke. Ia mengernyit. Lalu ia pulang. Tak lupa ia membawa jaketnya yang begitu saja tergeletak didepan pintu minimarket.

.

.

Jiyeon mengaduk-aduk espresso nya sembari menunggu Myungsoo memulai pembicaraan. Ekor matanya menatap Myungsoo yang masih sibuk dengan urusannya sendiri. Ia membolak-balik sebuah buku yang bisa ditebak bahwa itu buku mata pelajaran kuliahnya, Ekonomi. Lalu Jiyeon menatap cangkirnya lagi, ia meniup asap kecil yang mencuat dari gelasnya. Menyesapnya, membiarkan rasa pahit itu mengisi tenggorokannya yang mengering. Tetap saja, Myungsoo tak berniat untuk angkat bicara. “Kim Myungsoo, apa kau masih menganggapku ada disini?” Boom. Jiyeon tak tahan, kata-katanya yang bergemuruh di saluran suaranya akhirnya terlontar jua. Mengesampingkan bukunya, Myungsoo menatap Jiyeon. Diangkatnya cangkir minumannya. Itu kali pertama ia menyentuh cangkirnya selama ia duduk dengan Jiyeon di café itu. Ia terpejam beberapa saat, merasakan tenggorokannya yang basah karena mocca yang ia pesan. “Ji, aku hanya duduk bersama mu. Mana mungkin aku melupakan seseorang yang duduk bersama ku dihari yang cerah ini.” Myungsoo beralasan dengan mata bengisnya yang menawan. “ck. Murahan, Myung.”

Setelah mengumpan balik beberapa pertanyaan, sepi kembali menggelayuti ruang udara mereka. Suara lembaran kertas Myungsoo adalah satu-satunya sumber suara yang mendominasi. Daripada Jiyeon harus mati bosan menunggui Myungsoo membaca, ia memberikan makanan kecil bagi Cathy. Ya, kucing itu berada di pangkuan Jiyeon. Kau tak perlu heran, Jiyeon selalu membawanya kemanapun ia pergi. Dan sekarang Jiyeon mengeluarkan kotak kecil berisi makanan kucing yang berbau amis. Ia memberikan beberapa butir makanan itu pada si kucing, lalu Cathy melahapnya. Jiyeon lalu mengelusnya sayang. “Cathy, kau sangat baik dan penurut. Bukan seperti orang itu. Kau pasti menyayangiku kan?” Ujar Jiyeon. Ia mengangkat kucing itu dari pangkuannya, menampakkan bulu-bulu nya yang putih bersih. Matanya hitam pekat tampak memburu. Lalu si kucing itu nampak menatap Myungsoo yang mulai memperhatikannya juga.

Myungsoo merasa bahwa tatapan kucing itu mengunci ruang pandangnya. Remang-remang…. Lalu Gelap. Ia mencoba mengedipkan mata, tetap saja ruang pandangnya gelap. Bahkan semakin gelap dan gelap. Lebih pekat. Ia serasa masuk ke dalam bola mata si kucing. Berputar didalamnya hingga ia nyaris terjungkal.

“Roti kacang. Aku hanya akan makan roti kacang.”

Kata-kata itu tiba-tiba saja muncul menyapa gendang telinganya. Ia jadi teringat akan suara gadis kecil yang kemarin ia temui. Namun sekarang ia tak melihat wajahnya, bahkan membayangkannya pun Myungsoo tak mampu. Ia serasa berjalan disebuah lorong yang berbentuk bulat. Semakin ia masuk, semakin gelap pula. Saat ia mencoba meraba dinding disampinya. Sebuah benda memaksa hidungnya bersin. Dan saat itu juga berton-ton bulu kucing serasa menimpa tubuhnya. Ia menjerit.

“Myungsoo.”

“Kim Myungsoo.”

Myungsoo tersadar dengan memegangi kepalanya. Lalu ia membuka mata. Di depannya Jiyeon nampak khawatir. Gadis itu mengayun-ayunkan tangaannya sebagai isyarat apakah Myungsoo bisa melihatnya. “Myungsoo, ada apa denganmu?”

“Jangan. Jangan dekati aku. Pergi dan jauhkan kucing itu dariku. Aku membencinya. Begitu pula padamu Jiyeon.”

Begitu pula padamu Jiyeon. Myungsoo meraung. Ia menutupi kedua telinganya dengan tangan. Cangkir moccanya terguling dan cairannya merembes diatas buku-buku kuliahnya. Ia menendang-nendang meja seperti orang kesetanan. Jiyeon panik, ia bangkit dari duduknya. Diraihnya tangan Myungsoo untuk menenangkannya. Myungsoo menampik, ia tetap menutupi telinganya dengan kedua tangan. Ia tak ingin kucing itu membisikinya lagi. Hampir tiga kali ia mendapat peristiwa yang sama. Dan sekarang ia tak mau lagi. “Tunggu, Myung. Kau bisa jelaskan padaku apa yang terjadi.” Myungsoo serasa tuli. Ia tak memandang Jiyeon barang sekilas. Suara Jiyeon hanya melewati gendang telinga kanannya, lalu pergi lewat gendang telinga kiri.

Gadi itu mendekati Myungsoo. Mata coklatnya bersinar terkena sinar matahari. Tangannya ingin meraih wajah Myungsoo namun ia tak bisa. “Ada apa denganmu Myung?”

“Aku benci padamu.”

“Aku membencimu.”

Tangan kekar Myungsoo tak disangka berayun ke pipi manis Jiyeon. Gadis itu tampak terkejut dengan memegangi pipinya yang bersemu merah. Beberapa bulir air jatuh dari maniknya. Ia tersedu lalu meninggalkan café itu tanpa pamit. Kucing yang biasanya selalu mengekor dibelakang gadis itu sudah menghilang. Entah kemana, Myungsoo tak peduli.

 

Pintu café berderit lagi. Angin berhembus kencang mengiringi seorang gadis melangkah kedalam café. Ia mengenakan gaun berwarna biru safir dengan sebuah kalung yang nampak misterius. Gadis itu celingukan sebelum akhirnya ia berjalan menuju meja Myungsoo. Desir angin menerbangkan anak rambutnya yang berwarna cokelat sebahu. Myungsoo yang masih belum pulih dengan ketakutannya semakin menggigil lagi saat gadis itu menuju mejanya. Myungsoo tak bisa mengeluarkan suaranya, bibirnya terkatup seakan sekaleng lem telah membinasakannya. Dan Myungsoo entah kenapa memegangi lehernya sendiri. Jalan nafasnya terasa tertutup.

Gadis itu semakin mendekatinya. Dekat dan sangat dekat hingga Myungsoo dapat merasakan deru nafas gadis itu yang hangat. Mata gadis itu mengunci ruang pandangnya sekali lagi. Ia mendelik semakin ketakutan. Sebelum ruang inderanya menggeleap ia dapat melihat gadis itu mengangkat tangannya. Mengarahkannya pada leher jenjang Myungsoo. Ditekannya leher Myungsoo dengan kuat. Myungsoo mengerang. Kelopak matanya terasa berat namun hangat. Mungkin rasanya seperti ditutupi dengan tumpukan bulu. Lalu semuanya menjadi gelap.

“Jangan bunuh aku, Park Jiyeon.”

.

.

Air hujan menerobos masuk melewati pintu rumah Jiyeon yang terbuka. Genangan air mencembung disana-sini. Tak lupa suara guntur yang saling beradu melengkapi suasana mencekam di rumah yang hanya dihuni seorang diri tersebut. Si pemilik, duduk dengan santai di depan sebuah perapian. Cathy yang selalu dengan mata misteriusnya tampak menikmati sentuhan-sentuhan yang Jiyeon berikan padanya. Ekornya bergerak-gerak liar tak tentu arah. Mungkin jika kucing bisa bicara ia akan bilang “Tenang saja. Dia akan datang, Ji.” Siapa yang akan datang?

            Jiyeon mendekatkan dagunya kearah telinga si kucing. Menyalurkan segenap kekalutannya yang membabi buta. Terkadang saat ia merindukan keluarganya, ia akan berbicara banyak pada Cathy. Berharap kucing itu bisa mengerti akan perasaannya.

“Apa ini salahku Cathy? Apa salah jika seorang Kim Myungsoo tidak suka lagi padaku. Seharusnya kau tak segegabah itu.” Jendelanya tiba-tiba terbuka. Memaksa angin-angin malam masuk membawa serta beberapa daun yang jatuh dari inangnya. Jiyeon tetap mendekap kucing itu. Tatapannya tak berubah sama sekali. Tak sadar bahwa seseorang telah memandanginya dengan geram.

“Tindakanmu salah besar. Jangan membunuh Myungsoo.”

“Ini bukan salahku kan Cathy.”

.

.

Hujan sudah reda sejak tengah malam. Meskipun sisa-sisa genangan air masih banyak, setidaknya sinar sang surya yang hangat dapat memaafkan segalanya. Jiyeon berjalan santai ditengah ramainya kota Seoul. Ia tampak kerepotan membawa beberapa keranjang ditangan kanan dan kirinya. Ia berjalan lurus melewati toko-toko, restoran dan café. Hingga ia tiba disebuah gang kecil yang hampir tak terlihat diapit bangunan disampingnya. Setelah meletakkan keranjang-keranjang itu, ia membuka sebuah pintu rendah dengan kunci yang sudah mulai berkarat. Ia menendangnya hingga pintu itu terguling dan pecah. “Masih berguna.”

Jiyeon menarik napas dalam-dalam. Menghirup udara ruangan itu yang dipenuhi dengan aroma besi-besi tua. Tangannya bergoyang-goyang diudara, merasakan debu-debu yang tersangkut di tangannya. “Terlalu kotor tetapi tetap sama.” Ia memunguti keranjang-keranjangnya. Di letakkannya keranjang itu disebuah meja. Benda di dalamnya bergerak-gerak. Lalu Jiyeon membuka tutupnya, memaksa benda-benda itu untuk keluar. Seketika suara meong bersahut-sahutan dengan getir.

Jiyeon memungut salah satu kucing dari keranjang itu. Digendongnya dengan bahagia. Kucing itu berwarna kuning keemasan dengan corak putih di moncong dan telinganya. Kira-kira masih berusia dua bulan. “Sayangku, kau tidak kedinginan kan?” Lalu Jiyeon mencium puncak kepala si kucing.

Deruan suara mesin memenuhi ruangan pengap itu. Jiyeon sengaja menghidupkan sebuah mesin cuci kecil yang ada disudut ruangan. Entah untuk apa. Untuk mengecek apakah mesin itu masih berfungsi atau hanya untuk memberi suasana bising diruangan itu. Jiyeon tengah asyik dengan urusannya. Di kedua tangannya penuh dengan butir-butir makanan kucing. Ia duduk disebuah kursi rendah yang didepannya terdapat sebuah meja. Dan meja itu sekarang dipenuhi dengan kucing-kucing dengan berbagai corak dan warna. Kebanyakan dari hewan itu berusia sekitar dua sampai enam bulanan. Diantara kerumunan itu juga –Cathy duduk dengan tatapan misteriusnya.

Setelah puas memberi makan si kucing, Jiyeon bangkit dari tempat duduknya. Ia menggendong tiga kucing sekaligus. Salah satunya adalah Cathy. Jiyeon tertawa renyah tatkala seekor kucing menjilat pergelangan tangannya. Lalu Jiyeon mengusap kepalanya beberapa kali. Ia berjalan menuju dekat mesin cuci. Deruan besi-besi tua di dalam mesin cuci itu berusaha sekuat tenaga untuk tetap bekerja. Tak peduli masih adakah pelumas diantara sekrup-sekrupnya, mesin itu tetap berderu dan airnya membuncah ke seluruh sisi mesin.

Jiyeon merunduk, mensejajarkan wajahnya dengan pintu mesin cuci. Napasnya membentur dinding kacanya, menampilkan bayangan wajah Jiyeon yang mulai memucat. Ia menurunkan Cathy dari pergelangan tangannya. Kucing itu dengan cakar yang siaga menatap Jiyeon dengan tatapan was-was. Melihat hal itu Jiyeon tertawa geli. Ia alihkan pandangannya lagi pada dua kucing yang tersisa dalam dekapannya. “Kau tahu kan ada yang menyayangimu? Jadi jangan pernah marah padaku.” Jiyeon menyeringai. Diangkatnya kedua hewan berbulu itu lalu dilemparkannya dalam mesin cuci. Setelah Jiyeon menutup kacanya, kucing-kucing itu nampak kebingungan. Kepalanya berputar-putar dan cakarnya membentur-bentur dinding. Dan beberapa saat kemudian air dalam mesin itu berubah menjadi merah cerah. Ah, lagi-lagi kucing itu bertingkah aneh. Ia menjilat kuku-kukunya yang tajam seolah ia tidak melihat apa-apa. “Dasar kucing bodoh.” Tawa sengau Jiyeon beradu dengan deruan mesin cuci.

.

.

Bau anyir tak dapat dihindarkan dari ruangan yang Jiyeon singgahi. Petak itu makin sempit saja tatkala bulu-bulu kucing berserakan diseluruh laintanya. Beberapa bungkusan besar tampak menjembul disudut-sudut ruangan. Belum lagi sisa-sisa bungkus makanan berserakan disana-sini. Tak ada yang tahu pasti alasannya, yang jelas Jiyeon akan merahasiakannya dari orang manapun. Setelah mematikan mesin cuci itu, Jiyeon beringsut keluar. Dikuncinya pintu itu untuk terakhir kali dan membuang kucinya sembarang tempat.Kini ruangan itu kosong. Suara mesin cuci yang meraung-raung kini tak ada lagi.Jiyeon tak peduli, toh orang-orang tidak pernah menganggap tempat itu ada.

Saat ia berjalan melewati gang kecil hujan mulai turun rintik-rintik. Beberapa malah sudah membasahi rambutnya. Ia menutup kepalanya lalu berlari menuju sebuah halte bis. Ia memeluk lengannya sendiri, meminimalisir udara dingin yang mulai menggelitik tubuhnya. Sebuah mobil bercat silver berjalan lambat didepannya. Kubangan yang sedikit bercampur lumpur hampir menciprat ke jeans Jiyeon kalau saja ia tak cepat-cepat mundur. Setelah mobil itu berhenti, si pemilik menurunkan kaca jendelanya beberapa senti. Derasnya hujan mengaburkan bayangan wajah sang pemilik. Jiyeon menyipitkan matanya. Si pemilik mobil itu membiarkan jari-jarinya terjulur melewati jendela. Bulir-bulir hujan nampak membasahi jari-jarinya yang lentik dan terpoles rapi. Saat Jiyeon mencoba melangkah mendekatinya, mesin mulai berbunyi lagi dan mobil itu melaju kencang menerobos hujan.

Hampir saja bola matanya keluar tatkala melihat seekor hewan yang sangat ia kenal. Bulunya sedikit kotor karena basah terkena hujan. Juga perutnya terlihat kurus saja saat hujan membasahinya. Dan benar, Cathy dengan mata hitamnya membakar uadara dingin disekeliling Jiyeon.

Semua pun menjadi gelap.

.

.

Seorang gadis dengan memakai celana jeans dan atasan berwarna safir berlari di tengah hujan. Matanya membara mulutnya komat-komit. Ia kalab. Ditendangnya beberapa tong sampah yang menurutnya menghalangi jalannya kali itu. Juga ia membanting beberapa pot bunga yang ada disekitarnya. Derasnya hujan tak menghalangi tekadnya. “Saatnya Kim Myungsoo. Saatnya.”

Ia berhenti saat tiba disebuah rumah yang masih meninggalkan kesan tradisional korea. Rumah dengan atap yang meruncing disudutnya, juga lonceng kecil disalah satu sisinya membuat siapa saja akan merasa betah berlama-lama. Pasti rumah itu melindungi pemiliknya dari guntur dan angin. Mungkin jika badai-pun lewat, mereka akan tetap nyaman. Tetapi siapa sangka, sesosok ancaman telah mengintai didepan rumah tradisional itu. Matanya yang sepekat gerhana bergerak kesana-kemari. Liar, lalu ia menendang pintu besi rumah itu. Halaman dibelakangnya yang sangat terawat menampakkan diri. Orang itu tak peduli dengan taman atau semacamnya. Lantas ia melenggang menuju beranda rumah itu. Kayu yang tercuat dilantainya berderit ngeri saat orang itu melangkahinya. Di tangan kirinya, sebuah benda bersinar keperakan menunggu digunakan.

“Kim Myungsoo, keluarlah.” Teriaknya. Untuk beberapa menit rumah itu masih hening. Setelah lampu yang ada diruangan terdepan menyala, pintu segera terbuka.

“Ji, apa yang kau lakukan disini?”

“Tidak bolehkah aku masuk? Aku kedinginan.”

“Tentu saja.” Lalu Myungsoo mengarahkan seorang yang ia panggil Ji itu kedalam rumahnya. Suasana hangat lalu menyambut indra peraba Ji. Ia tak lagi mendekap bahunya. Ia berlari menuju sofa tamu milik Myungsoo. Setidaknya rumah ini terlihat modern dari dalam.

“Keringkan rambutmu. Aku akan membuatkan minuman hangat.” Kata Myungssoo sambil melemparkan sebuah handuk pada Ji. Gadis itu langsung menangkapnya dan ia gunakan untuk mengeringkan rambut serta tangannya. “Myungsoo-ya, kau sendirian dirumah?”

Suara sendok dan cangkir yang saling bertrubukan tiba-tiba berhenti saat Ji menanyakannya. Hening beberapa saat sebelum terdengar lagi. “Apa kau lupa? Ibu dan ayahku meninggalkanku. Tidak biasanya kau bertanya itu padaku.” Ji sedikit mrndelik, ah ya kenyataan bahwa orang tua Myungsoo meninggalkannya bukan rahasia pribadi lagi, teman-temannya bahkan semua orang telah mengetahuinya. Lalu Ji menggelengkan kepalanya. “Rumah ini nyaman ya.”

Myungsoo kembali keruang tamu dengan membawa nampan berisi teh hangat dan beberapa kue yang ada di toples-toples kecil. Disodorkannya hidangan itu pada tamunya yang agaknya tidak merasa kedinginan meski jelas-jelas kulitnya mulai mengkerut. Myungsoo mengernyit. “Ji, sejak kapan selera berpakaianmu berubah?” Ji spontak mendongak, membalas tatapan Myungsoo yang mengintimidasi. “Ada apa dengan gaya berpakaianku? Apa terlihat aneh dimatamu?”

Myungsoo mengusap dagunya, menimang-nimang sesuatu yang salah menempel di tubuh Ji. Dan secepat guntur sampai ke tanah, ia berani bersumpah bahwa gaya berpakaian Ji memang janggal. “Sejak kapan kau menyukai warna safir?” Ji yang sedang berusaha meminum tehnya merasa tertohok dengan pertanyaan Myungsoo. Tak disangka gadis itu meletakkan cangkirnya kasar. Ia menarik bajunya. “Safir?” ia terdiam. Kata-kata yang hendak menerobos keluar dari mulutnya terhenti. Matanya berkilat namun tak kunjung berbicara. Hingga ia duduk tenang kembali dan mengatur nafasnya. “Aku memang tak suka warna safir. Aku tidak sengaja memakainya.”

 

Petir menyambar diluar sana, meperdengarkan gelegar yang menyeramkan. Derak ranting yang patah bertumbukan dengan jalan dan angin kasar menerpa. Ji masih terduduk di sofanya, menanti Myungsoo yang tak usai-usai membaca bukunya. Terakhir mereka beradu kata saat Ji melontarkan pertanyaan “Benarkah kau mencintaiku?”. Pertanyaan itu menggantung diudara, Myungsoo tak lekas menjawabnya. Malah ia mengambil sebuah buku, membiarkan Ji menunggu.

“Myungsoo? Apa kau membenciku?”

Myungsoo menurunkan bukunya, lengannya terlipat. Merasa serius, Ji membenarkan posisi duduknya. Sekarang mata mereka berdua sedang bertaut satu sama lain. Mencari celah kebohongan diantara mereka. “Aku tidak membencimu. Aku hanya membenci Cathy. Aku tak suka kucing.”

Mata Ji membulat sempurna. Kata-kata Myungsoo menjadi serentetan pedang yang menghunus ulu hatinya. Ia menelan ludah, tangannya bergerak-gerak diudara menampik kenyataan bahwa lelaki yang selama ini bersamanya membenci kucing itu. “Kau bilang apa? Kau tak suka kucing?” amarah Ji membuncah. “Kenapa kau tak bunuh saja kucing itu? Kenapa kau baru bilang sekarang.” Myungsoo berdiri dari sofanya. Pemuda itu membuang muka, tak menyangka bahwa arah pembicaraan mereka akan berjalan kearah ini. “Kim Myungsoo! Jadi kau membenciku.”

Teriakan Ji mengundang Myungsoo untuk berbalik arah dan menatapnya. Tak disangka matanya ikut membulat sempurna saat seekor hewan yang sangat ia kenal hadir diantara mereka. Dia –Cathy duduk diatas meja tamu Myungsoo dengan santainya. Saat Myungsoo mulai terkejut kucing itu malah menatapnya dramatis.Tanpa ada gerakanpun, bola mata kelamnya telah mengunci Myungsoo. Ia tak bisa bergerak, tangannya terasa berat dan kram. Di belakangnya Ji terlihat menyeringai, menampilkan senyuman yang khas. Lalu gadis itu melangkah, menendang meja hingga sang kucing turun dan mendekati Myungsoo secara bersamaan. Myungsoo masih terpaku, bahkan berteriak pun ia tak mampu. Ji mulai memperpendek jarak antara dirinya dan Myungsoo. Hingga gelegar menampilkan mata hitamnya yang berkilat. Tunggu, apa aku tak saah lihat. Matanya gelap sekali erang Myungsoo dalam hati.

Setelah menyentuh dan mengusap kasar wajah Myungsoo, gadis itu merogoh sakunya. Tanpa butuh cahaya lagi Myungsoo dapat mengenali benda yang tengah dibawa gadis itu. “Ji..” susah payah Myungsoo mengeluarkan suaranya. Ji malah melengos. Ia menggendong Cathy dengan sayang. Sesekali Ji membumbungkan hewan itu keudara. Ia terlihat sangat sayang akan hewan itu, ia menelusupkan jari-jarinya pada bulu si kucing, ia mengerang. “Lihat siapa yang kau benci, Kim Myungsoo!”

Ji melemparkan kucing itu tepat di wajah Myungsoo. Dan saat itu juga Myungsoo bisa menggerakkan kedua tangannya lagi. Setelah beberapa sekon bergulat dengan kucing itu, akhirnya Myungsoo dapat membebaskan diri. Namun guratan-guratan cakar telah memenuhi parasnya yang tampan. Di hidung, pipi, dahi dan janggutnya penuh dengan cakaran-cakaran yang meneteskan darah. Myungsoo menjerit sejadi-jadinya. Dan lagi, si kucing menyerangnya. Kini ia mencabik lengan Myungsoo hingga bajunya robek. Perlahan cairan kental berbau anyir menetes dari lengan kirinya. Karena tak tahan Myungsoo akhirnya limbung. Lamat-lamat ia mendengar hentakan sepatu Ji menghampirinya. Tertawa sarkastis penuh kemenangan. Dan dengan sepatu rucingnya ia menginjak dada Myungsoo hingga pemuda itu harus memuntahkan cairan anyir dari perutnya. “Kau pantas mendapatkannya lelaki jalang!” Benda perak itu mengacung sebelum pintu terbuka. Menampilkan sosok jangkung yang tiba-tiba berteriak ketakutan.

 

.

.

Jiyeon tak menjawab segala pertanyaan yang polisi ajukan padanya. Sejak tadi pagi, berpuluh-puluh polisi telah mendatangi kediamannya. Memborgolnya lalu bertanya ini dan itu. Sebenarnya ia sendiri juga syok saat menerima kabar bahwa Myungsoo telah meninggal. Tetapi polisi tak mengijinkannya untuk menangis, mereka terus menuntut jawaban dari mulut Jiyeon. Namun tetap saja, gadis itu mengunci mulutnya yang mulai memucat.

“Apa yang kau lakukan malam itu?”

“Apakah kau bersama Myungsoo saat itu?”

“Kau menyembunyikan pistolmu dimana?”

“Apa yang kau lakukan padanya?”

“Park Jiyeon-ssi apa anda mendengar saya?”

Polisi akhirnya menyerah. Ia melepaskan borgol di tangan Jiyeon dan menyuruhnya keluar rumah. Polisi mengira bahwa Jiyeon saat ini tengah dalam keadaan tidak sadar, entah menyesali perbuatannya atau sedang tidak ingin berbicara. Ia menyuruh gadis itu untuk keluar rumah dengan beberapa penjaga. “Biarkan dia pergi dan menemui saksi.”

 

Udara pagi yang seharusnya menyapa ceria malah tertutup kelabu. Bau-bau tanah yang akan tersiram air hujan menusuk hidung setiap orang yang menghirupnya. Jiyeon melangkah kearah beranda rumahnya. Ia bersandar di dinding, mengambil nafas berat. Seseorang berteriak hingga sukses mebuatnya berjingkat. Dia Sunggyu, orang yang ditetapkan polisi sebagai saksi atas pembunuhan Myungsoo. Dengan mata yang berapi-api, pemuda bermata sipit itu menunjuk-nunjuk Jiyeon jijik. “Perempuan laknat. Teganya kau melakukan ini pada Myungsoo.” Kepalan tangannya ditangkis seorang penjaga yang berdiri tepat disebeah Jiyeon. Penjaga itu menahannya hingga Sunggyu tak bisa bergerak. “Biarkan aku memukulnya penjaga. Lepaskan aku.” Laki-laki itu tak sabar, beberapa kali ia meninju si penjaga hingga hampir terlepas. Secepatnya penjaga itu menahannya lagi. “Maaf, anda tidak bisa main hakim sendiri.”

“Apa dia masih pantas hidup. Dia pembunuh, begitu juga kucing sialan itu. Mereka mebunuhnya!”

Jiyeon berdiri tegap, air mata yang ia tahan tiba-tiba menetes begitu saja. “Apa kau bilang? Aku bukan pembunuh. Aku tidak membunuhnya.”

“Pembohong. Jelas-jelas aku melihatmu mengacungkan pistol dan membiarkan kucing sialanmu itu mencabik-cabik Myungsoo.”

Air mata Jiyeon semakin menjadi. Ia mengisyaratkan si penjaga untuk melepaskan tangannya terhadap Sunggyu. “Dengar. Aku mencintai Myungsoo, mana mungkin aku rela menyakitinya. Dan kucing, aku membenci kucing.” Jiyeon terduduk. Kedua tangannya menahan air mata yang sejak tadi membasahi irisnya. Sunggyu hampir saja menendangnya saat si penjaga menahannya lagi.

“Jadi? Kau menyalahkan Cathy si kucingmu itu dalam peristiwa ini?”

Jiyeon mendongak. Mata cokelatnya yang mulai membengkak menatap sosok lelaki dihadapannya. Ia berdiri, mulutnya komat-kamit. “Apa kau bilang? Kucing? Mana mungkin kucing mebunuh. Dan..”

“Kau tak perlu beralasan lagi, Cathy si kucingmu itu telah membantumu mengahabisi Myungsoo.” Sunggyu menunjuk Jiyeon dengan telunjuknya. Dengan tangan penjaga yang masih mengahalanginya ia bersikukuh untuk memukul Jiyeon. “Cathy? Cathy siapa? Aku tak pernah menamai kucing, bahkan aku membencinya.”

Sunggyu gamang, ia sedikit tenang. Ia baru menyadari bahwa mata Jiyeon mengisyaratkan kejujuran dalam dirinya. Oh juga matanya yang coklat tampak suci. “Oh aku mengerti. Benar, Cathy yang mebunuhnya. Dan Cathy itu bukan kucing, dia Park Juyeon, kembaranku.”

.

.

 

Setelah terpisah sejak lahir saat usia mereka menginjak 12 tahun, Tuhan mempertemukan si kembar. Saat itu Jiyeon sedang berangkat ke gereja dekat Jeolanam-do. Saat berdo’a Jiyeon menyadari seseorang tengah mengawasinya. Hingga ia terkejut saat wajah seseorang itu sangat mirip dengannya. Jiyeon menghampirinya. “Halo namaku Jiyeon. Kau siapa? Dan bagaimana wajah kita bisa sama?” Jiyeon kecil tak tahu apa-apa. Tangan ibunya tiba-tiba meraihnya dan mengajaknya pergi. Tanpa ada penolakan, Jiyeon hanya bisa menurut.

Lima tahun kemudian, saat kedua orang tua Jiyeon telah tiada. Gadis gereja itu mendatangi rumahnya. Tanpa memberi kabar, gadis itu langsung masuk ke rumah Jiyeon dan menjabat tangannya “Halo aku Park Juyeon. Kau Jiyeon kan? Aku saudara kembarmu.” Semenjak itu mereka hidup bersama.

Tanpa ketenangan

“Kakak, kenapa kau tak makan nasi?” “Tidak, Jiyeonie aku hanya akan makan roti kacang.”

“Kenapa kau selalu bersama kucing itu Ju?” tanya Jiyeon. Gadis itu sedang mengawasi kakaknya –mereka berbeda 10 menit, menggendong sayang seorang kucing putih kecil. “Aku penyuka kucing. Karena mereka bernasib sama denganku.”

Petir menyambar-nyambar diluar jendela. Gelegarnya yang menakutkan membangkitkan bulu kuduk tanpa aba-aba. Di sana, disebuah rumah yang bisa dibilang cukup tua, dua orang gadis tengah beradu kata. Yang satu berambut panjang dan satunya cukup sebahu. Setelah membaca sebuah surat yang entah apa dan untuk siapa, si gadis berambut pendek mulai berteriak. Ditunjuknya si gadis berambut panjang, agaknya ia sedang mengolok-olok gadis itu. “Licik. Semua sudah menjadi milikmu. Orang tua kita membuangku demi mempertahankanmu. Lalu kau hidup bahagia sedangkan aku harus menderita di gereja” Tuturnya. Hampir ia menonjok gadis itu dengan tangan kirinya. Urung, tangannya terlebih dahulu turun. Ia mendesis pelan, lalu berbalik arah, membuka pintu. Dan, akhirnya ia pergi, di tengah hujan dan belantara. Si gadis berambut panjang hanya menyimpan katanya. Ia tak bersedih ataupun bahagia. “Jangan pergi Juyeon”.

Jiyeon memotong rambutnya sebahu, mewarnainya dengan warna cokelat. Ia lalu pergi ke kota untuk mendaftar sebagai mahasiswa disebuah fakultas hingga ia bertemu Myungsoo disana. Dikarenakan ketidak jelasan data yang dimiliki gadis itu, ia harus rela untuk mengenyampingkan keinginannya untuk melanjutkan sekolah. Dan ia berubah menjadi dingin, berpura-pura menjadi penyuka kucing dan berperingai kasar. Bertingkah seolah tabiat Juyeon ada di dalam dirinya juga. Dan hidup tak berbatas dibawah bayang-bayang Juyeon yang selalu mengintainya.

 

End.

Ehem. Hola readers!😀 ya ampun ini udah lama banget ya semenjak aku rilis teasernya disini. Rencananya sih emang mau dipublish segera setelah teaser rilis eh tapi kenapa ke tunda sampe sekarang. Ini bukan karena tenggelamnya kapal Sewol atau gundahnya hati Shawol karena SHINee mau ke indonesia, ini murni karena WB yang tiba-tiba menyerang. Dan ff ini akhirnya jadi meskipun jauh banget dari ide awal. Untuk typo dan cerita yang aneh bin absurd aku minta maaf. Soalnya jiwaku ke ff ini udah berkurang -,-. Semoga aja sih dengan ff ini masih bisa menghibur readers semua. Jangan lupa review ya?😀😀

Gomawo

18 thoughts on “[Oneshot] Cathy

  1. aaahh~ rada nggak ngerti sama ceritanya, cathy ini sebenernya siapa? dia mutlak emang kucing apa sosok juyeon yang masuk dalam tubuh kucing?
    tapi overall keren kok, aku suka pemilihan katanya. nice..

    • hehe maaf kalo ide ini absurd hahahh. Sebenernya Juyeon itu kembarannya Jiyeon, tapi mereka gak tinggal serumah. Juyeon sering dipanggil Cathy saat masih kecil. Juyeon berwatak jahat dan Jiyeon sebenernya baik. Juyeon penyuka kucing, sedangkan Jiyeon tidak. Karena Jiyeon banyak menyiksa kucing akhirnya Juyeon berusaha balas dendam ke Jiyeon dengan cara membunuh Myungsoo. Ini juga akibat dendam masalalu sih, Juyeon dibuang karena orang tua mereka gak ingin punya anak kembar. Kehadiran kucing ini cuma buat serem-sereman aja sih. Atau malah ngebingungin? mian.
      But makasih udah sempetin baca

    • Maaf udah bikin kamu pusing, but inilah sureal. Juyeon itu kembarannya Jiyeon. Kucing yang kucing, itu peliharaannya Juyeon yang dirawat Jiyeon seentara. Makasih udah sempetin baca

  2. Sempet gak ngerti
    tapi begitu liat komentar author udah mulai ngerti, jadi sebenernya yang ngebunuh myungsoo itu juyeon kan bukan jiyeon, cuma dia nyamar sbg jiyeon jadi seolah” si jiyeon itu yang ngebunuh si myungsoo supaya si jiyeon dipersalahkan

  3. Ceritanya ngeriiii tp keren. Aku kira jiyeon itu smacem pecinta kucing yg psycho..eh ternyata itu kembarannya toh. Pantes pas dia ke rumah myung tingkahnya janggal. Euuuu sadis benerrrr si kucing dan majikan kompakan ngebunuh orang. Kasian jiyeon jd tertuduh, padahal gak tau apa2 blom lg dia yg hrs kehilangan myung. Msh bingung sh motif dia nyamar jd kembarannya mpe pura2 suka kucing itu apa? Dan ke mana perginya si kembaranny itu? Nice oneshoot~

    • Makasih banget udah baca + review. Sebenernya di ide awal aku masalah yang dihadapi jiyeon sama Juyeon itu lebih kompleks lagi. Dan lebih yang nonjolin konflik antara kakak beradik. Well, apa mau dikata Writer’s block udah nyerang tanpa aba-aba.
      Sekali lagi makasih ya udah baca😀

  4. it yg bunuh myung juyeon.terus yg bunuh banyak2 kucing it sapa selain caty.bingung oy.kl yg bunuh kucing it jiyeon betati sama2 jahat donk.

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s