[Chapter 6] 2050

2050

“When you’re not a human..”

by Shinyoung

Main Cast: Kim Myungsoo & Son Naeun || Support Cast: Infinite & Apink || Genre: Fantasy, Angst, Romance || Length: Chapter 6/? || Rating: || Credit Poster: iheartpanda || Desclaimer: Official written by me. The cast belongs to God. No copy-paste. || A/n: Halo! Aku kembali dengan part 6. Tidak kerasa ya udah part 6 lagi. Um, tadinya judulnya mau Die Hard, tapi aku ganti deh. Itu gara-gara pas ngetik aku keinget Running Man, Jaesuk bilang Die Hard pas main hide and bells, di episode awal-awal. Oke, abaikan, jadi selamat membaca:) Jangan lupa doain aku minggu depan Ujian Nasional:’ dan jangan lupa comment + like-nya ditunggu<3

Chapter 6 – Nightmare

Teaser | 1 | 2 | 3 | 4 | 5

**

Sebelumnya: Naeun semakin senang karena ternyata Yoon Bomi yang ia kenal adalah Robovent yang lainnya. Kini, Naeun dan Bomi harus merancang rencana untuk menemukan Barvseu. Petualangan mereka masih jauh, mereka juga belum menemukan letak Barvseu yang sebenarnya.

Saat merancang rencana, mereka harus main sembunyi-sembunyi dengan Jaehyun. Terakhir kali, Jaehyun ingin mengatakan sesuatu dan Naeun memiliki perasaan buruk tentang itu. Kira-kira apa yang akan dikatakan oleh Jaehyun terakhir kali itu?

**

Itu dia yang terjadi setelah Jaehyun mengatakan segalanya. Rasanya Naeun ingin mati sekarang juga. Bagaimana kalau Jaehyun-Bagaimana? Mulutnya kini benar-benar terbungkam.

Bibirnya bergetar ingin mengatakan sesuatu, namun ia tidak bisa. Dia terlalu takut untuk mengatakannya. Ia juga ingin menanyakan segalanya. Namun, dia tidak bisa.

“Son Naeun?”

Naeun mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah Jaehyun yang duduk disampingnya. Laki-laki itu menatapnya. Naeun, masih tidak bisa percaya oleh segala hal yang dikatakan oleh Jaehyun.

Terlalu naif, jika Jaehyun tiba-tiba muncul dihadapannya dan mengatakan segalanya. Tapi, Naeun tidak bisa berbohong juga, di lubuk hatinya yang paling dalam, ada bagian terkecil yang mengatakan bahwa ia mempercayai Jaehyun.

Walaupun memang kecil, artinya bisa juga berubah menjadi besar. Otak besi Naeun mencoba berputar-putar dan berpikir.

“Kau benar-benar Robovent dari tahun 3000?” tanya Naeun akhirnya. Ia tahu pertanyaannya bodoh. Itu artinya ia mencoba memastikan segalanya adalah benar.

Jaehyun mengangguk sambil tersenyum. “Kau masih tidak percaya?”

“Bukan begitu–.”

“Seharusnya aku mengajak Bomi juga,” potong Jaehyun sambil terkekeh pelan. Naeun hanya diam menanggapinya.

Terlalu kaget bagi Naeun untuk mempercayai segalanya. Apa benar di 500 tahun berikutnya, Robolars masih ada? Tapi, mungkin saja. Kim Joon-myeon bisa melakukan segalanya.

“Aku bisa membantu kalian,” kata Jaehyun akhirnya.

Naeun menoleh ke arah Jaehyun sambil mengerutkan keningnya.

Jaehyun tertawa kecil. “Kalian–Kau dan Yoon Bomi tentu saja. Siapa lagi memangnya yang akan menjadi Robovent kalau bukan kalian berdua?” Ia mengakhiri pertanyaannya sambil terkekeh pelan.

“Oh–Oh, iya.”

Jaehyun diam. Sedangkan, Naeun kembali dalam pikirannya. Ia masih tidak bisa mempercayai laki-laki yang satu ini walaupun ia memang sudah menunjukkan segalanya.

Screvisible miliknya dan juga Desktor miliknya yang terletak di tengkuknya. Naeun terlalu takut untuk mempercayai laki-laki itu. Di dalam pikirannya, ia terus memikiran segalanya.

Pikirannya terus saja mengatakan bahwa  Kim Joon-myeon bisa saja mengirimkan Jaehyun untuk memata-matainya. Bisa saja Kim Joon-myeon menciptakan Jaehyun hanya untuk membunuhnya. Ia takut.

Bagi seorang Kim Joon-myeon, tidak ada yang tidak mungkin baginya. Ia bisa menciptakan segalanya. Dia terlalu pintar, jika dibandingkan dengan Albert Einstein yang katanya pintar. Kalau ada Universitas semacam Harvard, bagi Naeun, kepintaran Kim Joon-myeon melebihi alumni-alumni Universitas Harvard.

Naeun menoleh ke arah Jaehyun dan sambil tersenyum dalam hati. “Jaehyun, kalau kau memang Robovent, kau bisa teleportasi bukan?” tanya Naeun.

Oh, bodohnya kau Son Naeun, bisa saja Kim Joon-myeon menciptakannya dengan kemampuan-kemampuan yang sama seperti Robovent lainnya, batin Son Naeun sambil merutuki dirinya sendiri.

“Tentu saja. Kau mau kita teleportasi langsung ke rumahmu?” tanya Jaehyun. Naeun hanya menganggukkan kepalanya.

Kemudian, ia menatap sekeliling. “Kita harus mencari tempat yang sepi, aku tidak mau tiba-tiba kita menghilang di tengah keramaian ini.”

**

Naeun melangkah menuju dapur dan ia mengambil segelas air putih. Dalam kegelapan malam, ia meletakkan buku yang digenggamnya sedari tadi ke atas meja.

Tidak biasa bagi seorang Son Naeun untuk terbangun di tengah malam seperti ini. Jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari dan ia pun meletakkan gelasnya di samping buku itu.

Buku Robolars.

Dia ingin mencari tahu, siapa tahu di dalam buku itu ada cara pembuatan Robovent. Tapi, rasanya aneh jika Robovent diciptakan. Robovent tercipta karena ketidaksengajaan para Faylars ketika mengubah Robolars menjadi manusia bukan? Tapi, itu semua mungkin saja bagi Kim Joon-myeon.

Kalau saja Naeun bisa membunuh laki-laki itu, pasti sudah ia lakukan dari sebelum ia meninggalkan tahun 2050. Kepalanya berputar-putar dan itu membuatnya pusing.

“Ah, untuk apa aku memikirkannya. Jika aku memikirkan laki-laki itu, dia pasti akan mencariku.”

“Siapa?” tegur sebuah suara.

Naeun terlonjak kaget dan menyadari kehadiran Myungsoo dari kegelapan. Seorang Robovent memiliki penglihatan yang lebih tajam dari Robolars. Ia bisa menangkap Myungsoo yang melangkah kearahnya.

“Bukan siapa-siapa,” jawab Naeun lugas.

Myungsoo tersenyum kemudian ia duduk dihadapan Naeun. “Kau benar-benar ingin merahasiakannya?”

“Laki-laki itu Kim Joon-myeon,” kata Naeun akhirnya. “Puas?”

Myungsoo terkekeh kemudian wajahnya menjadi serius. Naeun takut juga pada laki-laki itu. Bagaimana jika Myungsoo sebenarnya bukan manusia? Bagaimana kalau dia adalah mata-mata yang dikirim oleh Kim Joon-myeon? Pikiran Naeun berkelebat.

“Kenapa kau terbangun?”

Gadis itu menggeleng, “Aku haus.”

“Jangan tidur terlalu malam,” kata Myungsoo sambil bangkit dari tempatnya duduk. Kemudian laki-laki itu menepuk kepala Naeun pelan sambil mengacak rambut gadis itu.

Setelah Myungsoo hilang dari pandangan, Naeun bisa merasakan darahnya berdesir dan jantungnya berdegup kencang. Ada apa dengannya? Padahal ia hanya berbicara dengan Myungsoo.

“Ah, sudahlah,” kata Naeun pada dirinya sendiri. Kemudian, ia membuka buku tebal itu. Dengan bantuan cahaya bulan yang terang malam itu, ia membuka halaman-halaman yang terakhir kali ia baca.

Naeun bergumam sendiri. “Dimana ya?” tanya Naeun pada dirinya lagi. “Oh, ya, aku belum menghubungi Namjoo akhir-akhir ini.”

Dengan cepat, Naeun menyentuh layar Screvisible-nya. Kemudian, ia men-dial Namjoo. Lama, sampai akhirnya munculah wajah Namjoo dilayar. Dia tampak cemas.

Ada apa, Naeun?” tanyanya. “Kita harus cepat, ayahku sepertinya mulai sadar bahwa ia melupakan sesuatu yang sangat penting!

Naeun membulatkan matanya. “Kau belum menyihirnya lagi?” tanya Naeun. Namjoo menggelengkan kepalanya pelan.

Aku harus mencari satu Faylars lagi yang mau membantuku. Setidaknya, kami bisa menyatukan kekuatan untuk menghapus ingatannya. Kalau masih tidak mempan, terpaksa aku meracuninya.

“Apa?!” pekik Naeun. “Itu tidak mungkin, Namjoo! Kim Joon-myeon adalah ayahmu!”

Namjoo menggeleng pelan. “Dia bukan ayahku. Aku baru tahu kemarin, dia hanya menciptakanku dan mengangkatku sebagai anaknya. Lagipula, aneh kan jika seorang Faylars memiliki ayah?

Naeun terdiam dan ia menyadari bahwa Faylars dan Robolars hanyalah diciptakan. Wajah Namjoo tampak sangat tegar. “Maafkan aku, tapi kau bagaimana?”

Aku? Tidak usah pikirkan aku. Aku bisa diciptakan lagi. Kalau kau? Kau tidak bisa, kau berada di tengah-tengah hidupmu. Robot dan manusia,” kata Namjoo sambil melirik ke belakang.

Naeun menyadari bahwa perkataan Namjoo benar. Dia tidak bisa, dia berada di posisi yang sulit. “Kalau begitu, akan aku hubungi nanti lagi. Tampaknya, kau buru-buru, aku harus menceritakan sesuatu.”

Maafkan aku, Naeun,” katanya lalu sambungan terputuskan. Naeun sampai tidak bisa memaafkan dirinya karena Namjoo jadi harus mengorbankan segalanya.

**

Son Naeun, tunggu!

Aku harap kau mati secepatnya. Bukan—Bukan, melainkan kau harus mati sekarang.

Hei, apa-apaan ini? Kita harus cepat membunuhnya.

Tapi—Hei, kau tidak gila kan? Jangan bunuh dia! Hanya demi ayahmu?!

Kim Jongin, aku bahkan tidak tahu apa dendam Abeoji..

Kau harus mati sekarang, Kim Myungsoo..”

 

Naeun langsung terbangun dengan nafas terengah-engah. Bulir-bulir keringat menempel pada dahinya langsung ia hapus begitu saja. Mimpi buruk. Ini tidak boleh bagi seorang Robovent. Mimpi buruk membawa kesialan bagi seorang Robovent. Apapun itu, mimpi buruk Robovent akan benar-benar terjadi.

Dengan jantung yang masih berdegup kencang dan bulir keringat yang terus berjatuhan, Naeun melirik jam yang berada di nakasnya. Masih jam 4. Artinya dia baru tertidur selama dua jam.

Sambil tertatih-tatih, ia mengambil sweater-nya dan melangkah menuju pintu kamarnya. Kemudian, pelan tapi pasti ia mengetuk pintu kamar Myungsoo. Tak ada jawaban.

Akhirnya, Naeun membuka pintu kamar Myungsoo yang tidak terkunci itu. Diatas tempat tidur Myungsoo masih tertidur pulas. Gadis itu mendekap dirinya di dekat tempat tidur Myungsoo.

Lalu, gadis itu menoel pipi Myungsoo. Tak bangun. Naeun kembali mengusik laki-laki itu dengan menarik ujung rambut Myungsoo. Tak bangun juga. Ketika ia hendak menarik pipi laki-laki itu, tangan Myungsoo langsung menahan pergelangan Naeun. Mendadak, darah Naeun berdesir.

“Kau ini sedang apa, Son Naeun?” Pelan tapi pasti, mata Myungsoo terbuka kemudian ia menatap gadis itu.

Naeun melongo, dia tidak sempat berkata apa-apa, Myungso sudah bangun dari tempat tidurnya kemudian terduduk disana. Ia menutup mulut Naeun. Barulah, Naeun tersadar.

“Maaf,” Naeun memasang wajah memelas. Myungsoo tersenyum tipis kemudian ia mengacak rambut gadis itu pelan.

Bukannya melepaskan, Myungsoo malah mengeratkan genggamannya pada pergelangan Naeun. Melihat itu, Naeun hanya diam saja. Dia tidak mencoba memberontak. “Ada apa?”

“Aku mimpi buruk,” Myungsoo menarik gadis itu untuk naik ke tempat tidurnya. Kemudian mereka duduk berhadapan. “Bagi robot sepertiku, mimpi buruk itu bisa jadi kenyataan. Aku mimpi kau akan dibunuh.”

Wajah Myungsoo menegang. Tangannya semakin mengerat pada pergelangan tangan Naeun. “Di—Dibunuh?”

“Iya, aku tidak tau siapa. Tapi yang jelas suara perempuan. Dan—Dan, aku berpikir bahwa itu adalah suara Krystal-ssi..”

“Krystal?” Kening Myungsoo berkerut. “Krystal mau membunuhku?”

Naeun mengangkat bahunya. “Aku tidak tahu, tapi samar-samar suara itu mirip punya Krystal. Satu lagi, ada suara laki-laki dan kalau tidak salah namanya Kim Jongin.”

Kim…… Mendadak jantung Naeun berdegup kencang. Entah kenapa mendengar marga Kim bisa membuat gadis itu megap-megap. Mungkin karena efek dari Kim Joon-myeon.

Tapi, Kim Myungsoo? Gadis itu tampaknya tenang-tenang saja mendengar nama Kim Myungsoo. Naeun menatap wajah Myungsoo yang mendadak pucat. Apa laki-laki itu mengenal Jongin?

Oppa, kau mengenal Jongin?”

Jantung Myungsoo berdegup kencang. Inikah rasanya ketika Naeun memanggilnya ‘Oppa’? Laki-laki itu tersenyum tipis kemudian ia mengusap kepala Naeun dengan pelan.

“Aku mengenalnya. Dia adalah teman sebangku-ku ketika di Incheon. Dulu, ketika aku pindah ke Seoul, Krystal menyebut-nyebut nama Kim Jongin. Mungkin saja, benar.”

Naeun tersenyum. “Aku pasti akan menjagamu. Jadi, kalau ada apa-apa, secepatnya telpon aku,” Naeun hendak bangkit dari tempat tidurnya, namun cepat-cepat Myungsoo menahan gadis itu.

“Kumohon, aku t—ta—.”

“Takut?” Myungsoo mengangguk pelan. “Yah, apa boleh buat.”

Gadis itu melepaskan tangan Myungsoo kemudian beralih menuju sofa yang ada di dekat tempat tidur Myungsoo. “Jangan tidur disitu, tidur saja disini,” kata Myungsoo sambil menunjuk tempat di sebelah Myungsoo.

“E—Eh?”

“Lama. Cepatlah,” ujar Myungsoo. “Aku tidak akan ‘ini-itu’ denganmu. Memangnya wajahku tampak seperti ‘ini-itu’ denganmu?”

Naeun terkekeh pelan, kemudian ia menggelengkan kepalanya. Akhirnya, dengan berat hati, ia menuju tempat tidur Myungsoo dan terlelap disana. Myungsoo yang masih berpikiran tentang hal ‘bunuh-membunuh’ itu tidak bisa tidur.

Ia sudah mencoba memaksa matanya untuk tertidur, tapi tetap tidak bisa. Akhirnya ia membalikkan tubuhnya agar bisa menatap wajah Naeun yang tertidur pulas. Ia memperhatikan dan meneliti wajah gadis itu.

Kemudian matanya beralih menuju bibir Naeun yang merah. Myungsoo jadi terkekeh pelan saat mengingat dirinya langsung mencium Naeun tanpa aba-aba, untung Naeun tidak marah.

Ya! Kim Myungsoo! Dia baru mengenalmu beberapa bulan yang lalu. Kau jangan berpikiran yang aneh-aneh, ujar Angel Myungsoo.

(Ketawa jahat) Cium aja udah, lagi tidur ini. Dia gak bakal marah kok. Kalau bisa cium sepuasnya sampai dia bla bla bla bla, ujar Devil Myungsoo.

Cepat-cepat, Myungsoo menggelengkan kepalanya kemudian ia memaksa dirinya untuk tidur. Tepat saat itu, dirinya sudah tenggelam dalam mimpinya. Mimpi indahnya.

**

“Hei, gimana tidurmu?”

Naeun mengerjap-ngerjapkan matanya, kemudian ia menarik tangannya ke atas membiarkan otot-otot dalam tubuhnya melemas. Tunggu, otot-otot? Dia kan masih terbuat dari besi.

Sejenak, Naeun melirik ke arah jam yang berada di nakas Myungsoo. Jam 7 pagi. Kemudian, matanya beralih pada Myungsoo yang sudah berdiri dengan rambut basah. Pasti laki-laki itu baru saja mandi.

“Hm—Um, hai? Kau baru mandi?”

Myungsoo menganggukkan kepalanya kemudian ia membantu Naeun untuk bangun dari tempat tidurnya. “Kau kerja hari ini?”

“Hm—Iya,” kata Naeun sambil tersenyum kemudian ia melangkah menuju pintu kamar Myungsoo dan berbalik, “makasih untuk selimutnya.”

Myungsoo mengangguk lagi. Setelah Naeun keluar dari sana, ia segera menuju kamarnya untuk mandi dan berganti baju. Selesainya ia berganti pakaian, ia turun ke lantai satu untuk menuju dapur.

Ternyata di ruang makan, Myungsoo sudah membuat sereal yang entah kapan dibelinya atau juga mungkin dibelikan oleh Chorong dan Woohyun. Naeun duduk berhadapan dengan Myungsoo.

Disela-sela ia makan, ia mengangkat kepalanya untuk menatap Myungsoo. “Bagaimana jika aku buatkan alat?” tanya Naeun lalu ia menyuapkan lagi sesendok serealnya.

Myungsoo mengerutkan keningnya.

“Iya, biar kalau kau sedang darurat, aku kan bisa telepor—.”

“Teleportasi?” tanya Myungsoo sambil melebarkan matanya. Naeun mengangguk pelan. “Ya—Ya, aku terserah kau saja.”

Setelah selesai, Naeun menganggukkan kepalanya. Kemudian ia bangkit dan melirik Myungsoo sambil menarik piring Myungsoo yang sudah bersih. “Kau ada pekerjaan hari ini?”

“Tidak. Ada apa?”

“Jangan keluar kemana-mana. Kalau ada telepon jangan diangkat.” Myungsoo hanya menganggukkan kepalanya kemudian Naeun melangkah menuju dapur untuk membersihkan piring-piring kotor itu.

Myungsoo menatap punggung Naeun. Gadis itu terlalu baik, menurutnya. Maksudnya, mereka bahkan baru mengenal beberapa bulan yang lalu, tapi Naeun sudah baik.

Setelah selesai, Naeun mengambil ponselnya untuk menelpon Jaehyun. “Jaehyun-ssi, kau sudah dimana?” tanya Naeun. “Baiklah, aku akan bersiap.”

Myungsoo meneliti wajah Naeun sambil mengganti-ganti channel televisi. “Kau masih berhubungan dengan Jaehyun?” Naeun hanya mengangukkan kepalanya pelan.

“Ada apa?”

“Tidak—Um, hanya saja—Sudahlah abaikan saja,” kata Myungso.

Dan, dengan itu, Naeun menganggukkan kepalanya kemudian ia menarik tasnya yang berada di kursi ruang makan. Setelah itu, ia menuju rak sepatunya dan mengambil sepatu kets-nya.

Tangan Naeun menyentuh layar Screvisible-nya, kemudian ia menciptakan suatu alat yang berbentuk seperti remote, dengan tombol satu berwarna merah. Setelah selesai memprogram, kemudian alas itu langsung keluar dari layar itu.

“Hei, ini,” Naeun menyerahkan remote itu pada Myungsoo. Myungsoo menerimanya kemudian ia menimbang-nimbang alat itu. “Itu, pencet tombol merahnya, maka aku akan datang secepatnya. Kalau aku bisa.”

“Kalau?”

“Ya—Ya, begitulah. Kan aku tidak bisa pergi begitu saja dari tempat kerjaku. Bagaimana jika nanti sajangnim menanyakanku?”

“Bilang saja kau sakit atau apa,” kata Myungsoo sedikit kesal.

Yeah, baiklah, liat nanti.”

**

“Bagaimana?”

“Tidak tahu,” jawab gadis itu sambil mengeluh frustasi. “Kalau kita masuk polisi bagaimana? Aku takut, Jongin.”

Jongin menghela nafas panjang. “Aku pikir juga begitu, lebih baik tidak usah. Abaikan saja Abeoji-mu itu. Bilang saja kau lebih baik pergi.”

“Tapi itu tidak mungkin!” Krystal setengah berteriak pada kekasihnya itu. “Aku sudah memikirkannya matang-matang, tapi apa yang muncul hanyalah kemarahan Abeoji.”

Jongin menepuk pundak Krystal sambil duduk di pinggir tempat tidurnya. “Kalau kau berani, coba saja. Aku akan membantumu.”

“Ta—.”

“Krys, sejauh aku mengenalmu, kau adalah perempuan yang berani. Kau pasti bisa memilih apa yang benar. Kalau kau memang tidak mau membunuh Myungsoo, kau harus berani mengatakan itu pada ayahmu.”

Krystal menatap Jongin. “Aku benar-benar tidak mau. Disisi lain, aku benar-benar takut pada Abeoji. Aku takut dia menyuruh orang lain, bukan aku.”

Air mata Krystal mulai mengalir, cepat-cepat Jongin menghapusnya dengan jempolnya. “Jangan menangis. Aku disini, Krystal. Sudah hentikan saja, segalanya. Kau tau itu dosa?”

Krystal mengangguk pelan sambil sesenggukan. “Tapi—Bagaimana jika Abeoji menyuruh orang lain?”

“Tanyakan apa dendam Abeoji-mu.”

Krystal terdiam kemudian ia menatap Jongin. Sambil mengangguk, “Baiklah.”

**

Sudah satu minggu, tapi Krystal belum membuat pergerakan. Aneh menurut Naeun, padahal biasanya jika ia bermimpi buruk, maka kejadian itu akan terjadi secepatnya. Tapi, bisa saja kali ini Krystal membuat pergerakan lambat.

Myungsoo masih membawa remote itu kemana saja dan ia meletakkannya di dalam kantung celananya. Sampai-sampai, ia mandi juga tetap ia bawa. Takutnya, Krystal mencurinya ketika ia sedang mandi.

“Hei, Naeun!”

Naeun menoleh pelan ke arah Bomi dan Jaehyun yang tengah mengobrol itu. Rupanya mereka sedang merencanakan sesuatu untuk melawan Barvseu. Sedangkan itu, Naeun sudah percaya sepenuhnya bahwa Jaehyun adalah Robovent dari tahun 3000.

“Jadi bagaimana?” tanya Bomi.

Naeun duduk di meja bundar itu. Sedangkan Jaehyun tengah menggambar sesuatu. “Kau sendiri sedang apa?”

“Hm?” Jaehyun bergumam kemudian ia mengangkat kepalanya. “Aku?”

Naeun mengangguk.

“Aku sedang menggambar perkiraan Barvseu asli. Kupikir dia 2 kali lipat lebih besar daripada Namsan Tower.”

Heol. Tapi dia tidak kurus kan?” tanya Bomi. “Maksudku, kalau kurus tidak mungkin dia bisa melawan kita kan.”

Naeun menyela perkataan Jaehyun. “Belum tentu,” katanya dan Jaehyun pun setuju dengan ucapan Naeun. “Yang kubaca, Barvseu itu benar-benar kuat. Jadi, tidak menutup kemungkinan bahwa ia kurus atau kecil. Yang pasti dia kuat.”

“Aku pikir kita harus mulai mencari dimana letak Barvseu,” kata Jaehyun dan menyebabkan Bomi Naeun langsung melotot mendengarnya.

Bomi mendeham kecil. “Artinya kita harus melakukan perjalanan begitu?”

“Perjalanan ya?” gumam Naeun. Di pikirannya sempat terlintas wajah Myungsoo. Dia sedikit khawatir juga dengan laki-laki itu. Mana, dia bakal dibunuh oleh Krystal—bukan, melainkan karena dendam Ayahnya itu.

“Ada apa?” tanya Jaehyun. “Kau mengkhawatirkan sesuatu? Atau—Um—Seseorang?”

Sontak wajah Naeun langsung merona. Bomi dan Jaehyun langsung tertawa keras saat melihat wajah Naeun. “Ya! Hentikan itu,” ujar Naeun sambil memukul lengan Jaehyun dan Bomi bersamaan.

Aigoo. Siapa sih?” tanya Bomi.

Jaehyun pun ikut penasaran. “Iya, siapa? Kau tidak pernah menceritakannya pada kami. Jahat.”

“Astaga,” Naeun menggeleng-gelengkan kepalanya. “Begitulah. Sudah ah, nanti saja. Kita bisa membicarakannya nanti. Nah, sekarang kalau kita mau melakukan perjalanan bagaimana?”

Bomi terkekeh pelan. “Ah, Naeun mengalihkan pembicaraan. Tapi, yasudahlah. Menurutku kita harus secepatnya melakukan perjalanan.”

“Tapi kemana?” tanya Naeun.

Jaehyun tersenyum lebar. “Kita harus keliling dunia. Bagaimanapun itu caranya, kita harus keliling dunia. Tidak dijelaskan bukan tempat persembunyian Barvseu?”

Kedua gadis itu mengangguk.

“Ya, kita harus mencarinya. Secepatnya. Kita harus mengumpulkan Robovent lain yang berada di luar Korea. Aku yakin, tidak hanya kita.”

Kedua gadis itu kembali mengangguk. “Kapan kita harus berangkat?” tanya Bomi.

“Secepatnya,” jawab Naeun sambil melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 10 malam. “Kita harus pulang sekarang. Kalau tidak, sajangnim pasti akan curiga.”

“Tentu,” jawab Bomi dan Jaehyun bersamaan.

**

“Myungsoo!”

Myungsoo menolehkan kepalanya ketika ia sedang berjalan sendirian di taman. Ia sedang lari pagi. Sontak, tangannya langsung memegang remote ketika melihat Krystal yang tengah berlari pagi juga.

“Ada apa, huh?” tanya Myungsoo dingin. Ia tetap siaga dengan remote di tangannya sambil berlari-lari. Kemudian, Krystal menghampirinya. Ikut berlari di sampingnya dengan santai.

Krystal hanya menggeleng pelan. “Aku minta maaf.”

“Kenapa?”

“Aku telah membunuh Ayah-Ibumu,” kata Krystal. “Maksudku, secara tidak langsung.”

Myungsoo hanya tersenyum getir. “Tidak usah dipikirkan. Sudah berlalu. Tidak semuanya kekal di dunia ini. Seperti orang tuaku,” Myungsoo mengelap keringatnya. “Bagaimana dengan Abeoji?” Myungsoo bertanya dengan hati-hati.

Krystal mengangkat bahunya. “Entahlah, aku sudah tidak begitu memperhatikannya. Terakhir kali aku diusir dari rumah karena—Um, begitulah.”

“Apa?”

“Um, maafkan aku—Rupanya Abeoji punya dendam dengan Ayah-ibumu. Aku tidak tahu apa itu. Tapi, ya—Um, dia ingin membunuhmu.”

Myungsoo diam seribu bahasa. Memangnya apa yang dilakukan ayah-ibunya di masa lalu? Kenapa bisa orang itu punya dendam dengan ayah-ibunya? Atau jangan-jangan dia yang membunuh kedua orang tuanya waktu itu?

“Um—Myungsoo?”

“Hm?”

“Kau tidak marah kan?”

“Tidak,” jawab Myungsoo cepat. “Kau tau apa dendamnya?”

Krystal menggeleng pelan. “Terakhir kali, Jongin—um, kekasihku yang baru, menyuruhku untuk menanyakan tentang itu pada Abeoji. Belum sempat aku bertanya, dia justru bertanya ‘Kau sudah membunuh Myungsoo?’. Begitulah,” jawab Krystal.

Kalau saja Myungsoo punya alat pendeteksi kejujuran, dia ingin mengetes Krystal. Apa gadis itu berbohong atau jujur. Yang pasti, dia hanya mempercayai dulu perkataan Krystal.

“Sudahlah, tidak usah dipikirkan,” kata Myungsoo. Kemudian, ponselnya berdering dan Myungsoo langsung mengangkatnya. “Ada apa?” Myungsoo melirik Krystal yang melambaikan tangannya untuk pergi.

Kau dimana?

Myungsoo berhenti. “Sedang lari pagi. Ada apa?”

Tidak, aku mengkhawatirkanmu. Aku takut kalau kau bertemu Krystal.

Myungsoo melirik Krystal yang baru saja pergi meninggalkannya. Tampaknya gadis itu tidak merencanakan apapun. “Aku baru saja bertemunya.”

Hah? Kau tidak diapa-apakan?

Myungsoo terkekeh pelan. Rupanya, gadis itu khawatir dengannya. “Tidak. Aku tidak apa-apa. Sebentar lagi aku pulang. Aku akan cerita padamu.”

Kemudian sambungan telepon terputuskan. Myungsoo kembali berlari dengan otak tercampur aduk. Dia memikirkan bagaimana kehidupannya nanti kalau Naeun tiba-tiba hilang?

Bagaimana jika Naeun sudah tidak lagi di tahun 2014?

Memikirkannya saja membuat Myungsoo mual. Lebih baik dia cepat-cepat pulang sebelum Krystal melakukan sesuatu padanya. Dengan tangan yang siaga remote, ia berlari memasuki kompleknya.

Tak lama kemudian, ia sampai di rumahnya. Setelah itu, ia masuk ke dalam rumah dan sudah melihat Naeun yang dengan enaknya duduk diatas sofa sambil mengganti channel.

“Kau tidak bekerja?” tanya Myungsoo sambil mengelap keringatnya dan melepaskan sepatunya menggunakan ujung jarinya.

Naeun menoleh. “Kau tau kan ini jam berapa? Masih jam 7.”

Mendengar itu, Myungsoo langsung membulatkan bibirnya membentuk huruf ‘O’. Lalu, ia melangkah menuju lantai dua untuk mandi sebelum ia menemukan sesuatu tergeletak di koridor rumahnya.

“Ya! Son Naeun! Kenapa sepatumu kau letakkan begitu saja?”

Huh? Iya kah?”

“Iya!”

“Maaf, tolong masukkan ke dalam kamarku ya.”

Myungsoo mendengus mendengar dirinya disuruh-suruh oleh Naeun. Akhirnya, dengan terpaksa, laki-laki itu meletakkan sepatu Naeun di dalam kamar Naeun. Kemudian, ia menuju kamarnya dan mandi.

**

Naeun menggeser layar Screvisible nya lalu ia segera menghubungi Namjoo. Sedangkan itu, Myungsoo tengah memakan serealnya. “Hei! Namjoo!” pekik Naeun girang ketika wajah Namjoo muncul.

Bagaimana kabarmu?

“Tentu saja baik. Ah ya, aku bersama Bomi dan Jaehyun ingin mencari Barvseu. Bisakah kita menciptakan alat transportasi?”

Namjoo menganggukkan kepalanya. “Tentu. Kalian harus secepatnya mencari Barvseu sebelum Kim Joon-myeon bertindak. Kemarin, aku sudah melupakan ingatannya lagi.

“Akan bertahan berapa lama?”

Entahlah,” jawab Namjoo dengan wajah sedih. “Aku tidak begitu yakin. Tapi menurut para Faylars lain bisa sampai 6 bulan.

“Artinya kami punya waktu 6 bulan sebelum Kim Joon-myeon tersadar dari ingatannya?”

Namjoo menganggukkan kepalanya. “Kalian harus cepat-cepat menghancurkan dan mengalahkan Barvseu. Apapun itu caranya.”

Apapun itu caranya.

Perkataan Namjoo sedikit membuat Naeun merinding. Dia takut, ketika melawan Barvseu entah kapan itu harus ada yang dikorbankan. Dia tidak mau. Dia terlalu takut untuk membayangkan itu semua.

Um,Na—Naeun?

“Iya? Maaf. Tadi aku sedikit merinding membayangkannya. Jadi apa saja kira-kira yang harus kami siapkan?”

Namjoo memetikkan tangannya. Kemudian ia mengambil suatu perkamen kertas dari dalam laci meja komputernya. Lalu ia menyerahkannya, setelah itu perkamen itu langsung muncul di hadapan Naeun.

“Woah, ini daftar yang harus kita siapkan?”

Tentu. Mencari Robovent yang lain adalah yang tersusah. Kalian harus mengerahkan seluruh kekuatan kalian.”

“Hm, aku mengerti. Kita harus menggunakan Eyes Detector kan?”

Iya dan kalian harus cepat-cepat merekrut Robovent yang lain. Aku takut ada Robovent lain yang ingin memimpin.”

Naeun menganggukkan kepalanya. Dia sampai tidak bisa membayangkan berapa banyak Robovent yang ada di dunia ini. Sebenarnya tidak penting, tapi dia harus tetap memasukkan itu dalam list nya.

“Ah, kita harus menciptakan transportasi apa?”

Yang pasti, kalian harus menciptakan pesawat. Bentuk awalnya adalah pesawat, kemudian bisa berubah menjadi kapal dan juga mobil. Entah apapun itu, pokoknya kalian harus bisa mengubah transportasi itu menjadi semua transportasi. Nanti aku cari programnya.”

“Baguslah, lebih mudah. Bukankah merubah itu pekerjaan Faylars?”

Namjoo mengangguk. “Tentu. Nanti aku akan menyempurnakan transportasi kalian jika sudah jadi. Sebisanya, kalian harus mengirim transportasi itu. Jangan lupa, kalian juga harus memprogram diri kalian.”

“Untuk?”

Tentu saja melindungi diri kalian! Kalian harus menciptakan pelindung diri dan alat-alat lainnya untuk melawan Barvseu atau musuh lain.”

“Aku harap tidak ada musuh lain,” Naeun cemberut.

Namjoo terkekeh pelan. “Aku tidak yakin, tapi pasti ada. Yang pasti kalian harus memprogram diri kalian. Kalian tidak boleh salah dalam memprogramnya, tapi aku yakin kau bisa memprogramnya.”

Naeun mengangguk. “Aku pasti akan bantu Bomi juga. Kalau Jaehyun, dia pasti lebih baik daripada aku.”

Ya, karena dia berasal dari tahun 3000.”

“Oh ya, memangnya benar Jaehyun adalah Robovent tahun 3000?” tanya Naeun.

Namjoo mengecek layar komputernya dengan cepat. Kemudian, semua informasi muncul. “Benar. Dia dari tahun 3000. Dia Robovent. Tapi, bukan Kim Joon-myeon yang menciptakannya. Melainkan..

“Siapa?”

Um—Aku tidak tahu mengatakannya. Tapi ini sangat aneh. Sungguh aku tidak mengerti.

Naeun memutar bola matanya. “Uh, cepatlah. Siapa?”

Um—Jangan terkejut. Dia adalah…”

**

36 thoughts on “[Chapter 6] 2050

  1. nugu? nugu?? penasaran thor, next capt nya ya bakal aku tunggu~ dan moga sukses UN nya~ Fighting~ (•̪ -̮ •̪)

  2. Uuaaa… Ituu tbcnya -,- ~ㅋㅋㅋㅋ doot critanya mkiin seruu nii xD, pngen skinskip myungeun /eehh :3 , ayoo lnjutkan thorr.. Fighting (ง’̀⌣’́)ง

  3. siapa Yang Menciptakan Jaehyun ??? Jangan ” Myungsoo !
    Makin Penasaran Thor >< Ayo Cepat Lanjut ^^

  4. Waa siapa yg nyiptain jaehyun?
    Penasaran banget ><
    Btw, kamu udah liat myungeun moment di mama award belum? Geregett banget lho!
    Ditunggu, chap.7 nya ya~

  5. Yang menciptakan Jaehyun siapa? Kim myungsoo /sotoy/ akhirnya ff yg ditunggu !! Part7 nya pasti always diriku tunggu juga thor good luck 😀

  6. Apa myungsoo yg ciptain jaehyun…? #soktau
    Haha new reader thor, bangapta ^^ maaf ya baru sempet komen hehe ^^’v

    Ffnya bikin penasaran thor.. Idenya jg bagus dan unik, jarang ketemu ff yg ada robot2nya begini hahaha. Btw, myungeun momentnya ditambah dong… Biar makin sweet u,u

    Ditunggu ya thor lanjutannya ~ fighting! ^^9

    • puhahaha, lagi-lagi myungsoo. mehehe. bangapta juga!! santai aja untuk baru komennya. wah, makasih pujannya>< huhu, iya nih, aku belum tambah-tambahin myungsoo-naeun nya. kkk. makasih, silahkan ditunggu! 😀

  7. Hai author aku reader baru! Maaf baru bisa komen di chapter ini
    Penasaran bgt siapa yg bikin jaehyun, trs krystal gajadi ngebunuh myungsoo?
    Yasudah ditunggu kelanjutannya thor!(:

    • haloo reader baruu>< santai aja buat baru komentarnya kkk. krystal gak jadi bunuh myungsoo? gimana ya? kalau itu, masih abu-abu huahaha. silahkan ditunggu dan makasihh 😀

  8. Udah lama sih semenjak aku mau baca ff ini tapi baru sempet sekarang ke baca. Dan well aku menikmati alurnya. Pas akhir-akhir malah aku ga nyangka itu udah to be continued elah padahal masih asik ya. Dan itu bikin penasaran
    Ditunggu kelanjutannya

    • yeeey, akhirnya kesempatan baca jugaa. wah, makasih looh kalau menikmati alurnya. padahal, aku pikir ff ini biasa aja kok kk 😀 hihi, maaf loh kalau tbc nya lagi seru-seru. kkk. sip! makasih banyak! 😀

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s