[FF Freelance] The Picture

Cover The Picture

Title:  The Picture|| Author: Luan || Rating: T ||Genre: Angst and Romance, lil bit horror || Length: Oneshoot || Cast: Lee Ji Eun (IU), Jang Wooyoung, Taecyeon, Suzy || Disclaimer: Ini murni ff buatan ku khusus buat ultahnya Woo-ppa.

Dia tampak begitu mencurigakan. Berjalan mengendap-endap di tengah kesunyian. Matanya itu, seperti seekor rubah ─begitu tajam dan jeli mengawasi setiap sudut ruangan tempatnya berdiri. Dia menyelipkan tubuhnya di sudut ruangan dengan sebelah telinga yg menempel pada daun pintu. Oh, suara langkah kaki itu sudah tidak terdengar. Sekarang ia bisa bernafas lega.

Dia kembali mengayunkan langkah kakinya yg sempat tertunda. Berjalan perlahan tanpa menimbulkan sedikitpun suara yg mungkin bisa membuatnya terperangkap. Selangkah, dua langkah, tiga langkah, dan akhirnya berhenti di depan sebuah loker bernomer setelah 240. Sekali lagi, ia menoleh ke kanan dan ke kiri sebelum akhirnya membuka pintu loker tersebut dan memasukan sesuatu kedalamnya.

*****

Pagi hari di musim gugur. Daun-daun berjatuhan melepaskan suasana romantis sekaligus melankolis ke hamparan langit bumi. Sinar mentari tidak terlalu terik, ia berlakon lembut di musim ini. Satu hal lagi yg nampak di senin pagi musim gugur ini, seorang gadis yg berbalut scraft berwarna putih dan mantel coklatnya berjalan anggun membelah laguna. Bersama senyuman manis yg selalu ia bawa bersama paras cantiknya.

Nama gadis itu adalah Lee Ji Eun. Siswi kelas tiga sekolah menengah atas, Seoul Performing Art School. Gadis ini memang selalu datang lebih awal dibanding dengan teman-temannya. Saat menatari masih ragu menampakan sinarnya, ia sudah menginjakkan kakinya di halaman sekolah. Oh, Tidak. Lebih tepatnya, sejak awal musim gugur tahun ini ia selalu menjadi yg paling awal datang ke sekolahnya. Bukan tanpa alasan ia melakukan ini. Awal musim gugur ini Ji Eun selalu menemukan sebuah foto misterius di dalam lokernya. Foto-foto itu bukan foto yg meyeramkan atau sebagainya, tapi foto-foto itu terkesan indah. Hanya saja terkadang ia menemukan tulisan yg menimbulkan tanda tanya besar untuknya. Di tambah lagi, ia benar-benar tidak mengetahui siapa yg melakukan ini. Ji Eun sungguh penasaran.

Ji Eun memperlambat ayunan langkahnya kala ruang loker sudah tak jauh dari hadapannya. Ia berjalan mengendap-endap seperti seorang pencuri. Tak lama, Ji Eun mendengar sesuatu dari dalam sana. Jantung Ji Eun berdebar selaras dengan desiran darahnya. Dalam hati Ji Eun cukup merasa puas karna mungkin setelah ini ia dapat mengetahui siapa orang yg sudah lama melakukan itu untuknya. Ji Eun semakin mendekat, sekain dekat, dan akhirnya muncul secara tiba-tiba diambang pintu sambil berseru, “Kena kau!” Namun sial, Ji Eun dibuat merasa bodoh karna ternyata tidak ada siapapun disana selain awang kosong.

Jantung Ji Eun mencelos, ia merasa merinding sekarang. Jelas-jelas tadi ia mendengar seperti suara langkah kaki dan dencitan pintu loker di dalam ruangan ini, tapi mengapa ia tidak menemukan apapun? Bahkan angin pun tidak ada. Ini mulai menakutkan, sama seperti film-film horror yg selalu ia tonton di malam Jumat.

Sebelum membuka pintu lokernya, Ji Eun sudah menebak bahwa sudah ada selembar foto berada di sana. Dan tebakannya itu benar seratus persen, ia mendapat sebuah foto lagi. Kali ini foto sepasang burung. Dan seperti biasa pula, foto ini nampak seperti buah tangan seorang photographer professional, sangat bagus dari segi pengambilan gambar dan pencahayaannya. Kemudian Ji Eun membalik foto tersebut, kali ini tidak ada tulisan apapun disana.

“Foto misterius lagi?”

Ji Eun menoleh cergap kearah datangnya suara. Itu adalah Suzy, teman dekatnya, ia baru saja datang. “Iya. Tadi itu aku hampir saja menangkap pelakunya.” Sahut Ji Eun yg kembali memperhatikan selembar foto di tangannya.

Seriously?” Suzy mendekat dan ikut memperhatikan foto yg ada pada tangan Ji Eun.

Ji Eun mengangguk pelan. “Tadi aku mendengar suara langkah kaki dan dencitan pintu. Tapi saat aku lihat, tidak ada siapapun di sini.” Ji Eun memasukan foto tersebut kedalam saku mantelnya masih  dengan perasaan penasaran. Berkat hal ini, ada satu hal lagi yg masuk kedalam daftar cita-citanya─ menjadi seorang peramal.

“Menakutkan! Ya, Tuhan, mengapa sekarang menjadi seperti cerita horror?”

Ji Eun menghela nafas sementara otaknya terus berfikir dan mencerna apa yg baru saja ia alami. Meskipun menonton film horror adalah hobinya, ia sama sekali tidak percaya bahwa semua yg ia alami ini ada kaitannya dengan hal-hal gaib atau semacamnya. Ji Eun orang yg realistis, ia hanya dapat percaya pada hal-hal yg dapat dibuktikan dan dicerna secara ilmiah.

Perhatian Ji Eun teralihkan pada Suzy yg tiba-tiba saja tergegum sambil memegangi knop lokernya. “Ada apa?” Tanyanya kemudian mendekati temannya itu.

“Pi..pintunya tidak terkunci─ jelas-jelas aku menguncinya kemarin.”

241, itu loker milik Suzy. Ji Eun menelan air liuarnya, mengapa loker Suzy tiba-tiba saja tidak terkunci sama sepertinya, padahal jelas-jelas pintunya sudah di kunci kemarin. Jantung Ji Eun berdebar kencang, mungkinkah pelakunya orang yg sama? “Kau tidak sedang bercanda, ‘kan?” Tanyanya memastikan.

Suzy mengangguk pelan sambil menatap Ji Eun. Kemudian tangannya perlahan menarik daun pintu tersebut sehingga sebagian dari isi loker mulai terlihat. Deg..deg..deg.. jantung Suzy tidak tenang karna imajinasinya yg berkembang liar dalam pikirannya, mendapatkan beberapa foto yg disertai dengan tulisan-tulisan misterius di belakangnya. Namun imajinasinya tidak sama dengan yg ia lihat saat ini. Foto-foto yg ada dalam imajinasinya itu menjelma mejadi sebuah boneka Teddy Bear yg lucu di dunia nyata.

Helaan nafas Ji Eun terdengar jelas di telinganya. Suzy tersenyum lega seraya tangannya menarik boneka tersebut kedalam pelukannya. “Wah! Aku jauh lebih beruntung dari mu Ji Eun-ssi!” Ledeknya sambil mengelus boneka tersebut. “Siapa yg berbaik hati memberikan ini pada ku?”

*****

Musim gugur memang memiliki suasana sore yg sangat indah. Langit berwarna oren keemasan, di tambah dengan berbagai warna dedaunan yg menyatu dengan mega. Juga angin khas musim gugur yg tenang dan sejuk. Semua keindahan itu mampu mengalihakan perhatian Ji Eun, ia mengangkat kameranya kemudian menekan sebuah tombol hingga jipratan blitz terlihat jelas. Sayangnya, keindahan alam tidak mampu mengalihakan perhatian Ji eun seluruhnya. Foto-foto misterius itu masih menduduki tahta tertinggi di dalam otaknya.

Ji Eun menyandarkan tubuhnya pada sebatang pohon besar. Tangannya merogoh saku mantelnya dan mengambil selembar foto dari dalamnya. Bagi Ji Eun, rasanya semua ini begitu kebetulan. Ji Eun menyukai photografi, dan orang itu mengiriminya foto-foto yg bahkan gayanya sesuai dengan selara Ji Eun. Jika Ji Eun pikir-pikir, orang yg sering mengirimkan foto-foto ini pasti orang yg sangat mengenalnya. Ji Eun ingin bertemu orang itu, berterima kasih atas foto-foto indah yg menjadi mood bosternya sebelum menerima pelajaran yg bisa membuatnya mati bosan kapan saja.

Ji Eun memutar bola matanya pada Suzy yg masih asik memainkan boneka yg baru ia dapatkan pagi ini. Apa mungkin dia? Ah, tidak mungkin. Dia bahkan tidak mengerti apapun tentang photografi. Bisik Ji Eun dalam hati.

“Oh? kau Bae Suzy yg beken itu, ‘kan? Aku tidak salah kan?” Ji Eun terkekeh geli mendengar ucapan seorang laki-laki yg baru saja menghampiri Suzy. Ji Eun tidak asing dengan laki-laki itu. Dia adalah Ok Taecyeon yg tak lain adalah kekasih Suzy dan dia juga sudah bersahabat lama dengan Ji Eun.

Suzy tersenyum lebar. “Ne. Aku beken karna aku berpacaran dengan seorang laki-laki bernama Ok Taecyeon.” Sahut Suzy yg membuat Ji Eun tertawa geli. Mereka berdua sangat lucu dan terkadang menjijikan saat sedang bersama. “Kalian menjijikan!” cela Ji Eun sambil terus tertawa.

Taecyeon menatap Ji Eun sinis kemudian duduk dan berbaur bersama mereka. “Hey, berhentilah tertawa!” ujarnya saat melirik Ji eun yg masih saja tertawa geli.  “Chagi, kau tidak ingin mengatakan sesuatu pada ku?” kemudian ia beralih memandangi Suzy sambil tersenyum.

“Mengatakan apa?” sahut Suzy dengan polosnya.

Taecyeon mengertucutkan bibirnya. “Aku bangun pagi buta, kemudian berangkat ke sekolah saat mentari sedikitpun tidak bersinar hanya untuk memberikan kejutan untuk kekasihku. Tapi apa yg aku dapat? Nasibku buruk sekali.” Keluhnya.

Suzy nampak bingung, tapi seditik kemudian ia mulai menyadari maksud Taecyeon. “Jadi boneka ini dari mu, oppa? Ah, pacarku baik sekali! Gomawo!” serunya kemudian mengucup pipi pemuda yg duduk di sampingnya.

Rasanya seperti terkena sengatan lebah mendengar Taecyeon yg melakukan hal itu pada Suzy. Hal itu membuat imajinasi Ji Eun tumbuh liar. Ini membuat otak Ji Eun memberikan kemungkinan jika Taecyeon jugalah yg melakukan hal itu padanya. Mengingat Taecyeon merupakan salah satu member extrakulikuler photografi di sekolah ini, dan dia salah satu yg terhebat. Oh, ji Eun sungguh tidak menginginkan kemungkinan ini. Jujur saja, orang misterius yg selalu mengiriminya foto itu lama-kelamaan mulai mengisi relung hatinya. Tapi jika itu Taecyeon, bagaimana mungkin ia bisa sejahat ini pada Suzy?

“Aigo! Jangan-jangan kau juga yg melakukan ini pada Ji Eun!” celetuk Suzy asal tapi mampu membuat  nafas Ji Eun tercekat.

“Tidak. Hanya saja aku memang terispirasi dari pengalamannya.” bantah Taecyeon.

Rasanya hal menakutkan yg mencekik lehernya itu hilang setelah Taecyeon membantah pernyataan Suzy. Syukurlah jika begitu, Ji Eun tidak harus bersusuah payah dan merasa bersalah karna mencintai kekasih temannya. Tapi segelintir kekecewaan tetap harus ditelan Ji Eun, penantiannya menemukan orang itu masih panjang.

Hembusan angin menggelitik permukaan kulit sampai ke epidermis, memainkan anak-anak rambut Ji eun hingga letaknya menjadi berantakan. Gadis ini menyisir anak-anak rambutnya dengan jari-jari lentiknya. Kemudian ia menyelipkan beberapa anak rambutnya itu ke belakang telinganya. Hingga napaklah sesuatu yg nampak menyakitkan pada keningnya yang lantas membuat Suzy tersenyum pahit melihatnya. “Bekas lukanya sudah hampir hilang. Meski begitu tetap tidak dapat mengembalikan apa yg telah direnggut karenanya.” Pekiknya pelan.

“Maksud mu?”

Suzy kembali mengukir senyuman pahitnya. “Dan aku benar. Kau masih tidak mengingatnya.”

******

Ji Eun tertunduk lemas sambil memerahatikan sederet foto yg ia susun di atas meja kantin. Benar, itu adalah foto-foto misterius yg ia dapatkan beberapa hari terakhir ini. Di hari pertama, ia mendapatkan foto pemandangan jalan yg dipenuhi kendaraan bermotor. Di hari kedua ia mendapatkan foto pemandangan pegunungan ditambah sebuah kalimat  ‘Sesuatu yg bagus tidak selamanya indah, kadang sesuatu yg buruklah yg ada di dalamnya’ di balik foto tersebut. Hari ketiga, foto yg ia dapat adalah foto kerumunan sekelompok remaja dan dua orang remaja yg nampak memisahkan diri dari kerumunan itu. Di balik foto itu juga bertuliskan, Memisahkan diri dan mencari kesanangan lain. Esok harinya ia menemukan foto sepasang burung ─ foto itu terlihat sangat romantis, Ji Eun sangat menyukainya. Kemarin, ia menemukan sebuah foto dua orang bersenjata yg nampaknya seperti penjahat. Dan hari ini ia mendapatkan foto sebuah jurang yg sangat dalam dan gelap. Serta sebuah kalimat di belakang kertas foto tersebut, Titik gelap dan dingin yg mampu membuat aliran darahmu membeku dan mengering.

Ji Eun mengacak-acak rambutnya, frustasi. Ia sungguh tidak mengengerti mengapa orang tersebut mengiriminya foto-foto yg disertai tulisan-tulisan aneh itu. Sedikit menyebalkan, tapi Ji Eun harus mengakui bahwa foto-foto tersebut memiliki makna yg mendalam di hatinya. Ji Eun kembali memerhatikan foto-foto tersebut dan mencoba memahaminya. Hal ini memang terlalu sulit hingga memaksa Ji Eun untuk segera mengulaikan kepalanya dan menyerah begitu saja.

Tiba-tiba saja Suzy ikut mengulaikan kepalanya, yg sontak membuatnya terlonjat kaget. “Masih memikirkan foto-foto ini?” guraunya.

Ji Eun mengangkat kepalanya, kesal. “Aishh!! Kau hampir membuat jantungku copot!”

Suara tawa Suzy terdengar setelah melihat wajahnya yg kaget setengah mati, kemudian diikuti oleh suara Taecyeon yg menertawai hal yg sama. Ji Eun mengecutkan bibirnya sambil mengusap keningnya yg terasa pening. Dan tak sengaja, permukaan telapak tangannya meraba sesuatu yg seperti bekas luka jahitan pada keningnya. “Bisa kalian ceritakan kenapa aku bisa mendapat luka ini?” pinta Ji Eun sambil menunjuk bekas luka itu di keningnya.

Taecyeon menatapnya lekat-lekat, membuat keningnya berkerut karena heran. “Jika ada bekas luka, maka pernah ada luka dan rasa sakit. Jadi, lebih baik kau tidak mengingatnya.” Ujarnya yg kemudian diikuti oleh anggukan kepala Suzy.

Ji Eun mengangkat kedua bahunya. Ia tidak mengerti maksud Taecyeon, tapi ia pikir itu hal yg sepele sehingga Taecyeon tidak mau bersusah payah menceritakannya padanya. Dari pada pusing memikirkan perkataan Taecyeon, Ji Eun  lebih memilih untuk kembali mengkulaikan kepalanya lalu kembali menatap foto-foto tersebut hingga lama-kelamaan membuat kelopak matanya terasa berat dan akhirnya terpejam rapat.

******

Ji Eun melangkah sendiri di tengah keheningan yg menjerat lorong-lorong seklohnya. Maklum saja, bel pulang sudah berbunyi dua jam yg lalu. Ji Eun mengedarkan pandangannya ke segala arah, nampaknya sudah tidak ada siapapun disini. Ji Eun memang kerap kali pulang terlambat, dan kegiatan memotret yg sangat disukainya itulah penyebabnya. Ia sering sekali terlalu asik memotret dari rootrof  gedung sekolahnya hingga tidak sadar bahwa hari hampir gelap. Hari inipun begitu, lagi-lagi ia lupa waktu karna hobinya. Ji Eun menghentikan langkahnya sambil menepuk keningnya dengan keras. Ia baru ingat bahwa tasnya masih berada di dalam lokernya. Ji Eun mendecah pelan kemudian berbalik dan berjalan menuju ruang loker yg letaknya sudah cukup jauh dari sini.

Kaki jenjang milik Ji Eun melangkah tanpa ragu menapaki setiap pola kotak lantai sekolah. Sesekali senandung merdu keluar dari bibirnya bersamaan dengan jentikan jarinya─ Ji Eun sangat menikmati musik yg sedang didengarkannya. Senyuman Ji Eun terukir jelas diwajahnya ketika ruang loker sudah tak jauh dari matanya, lekas ia mempecepat langkahnya. Namun langkah Ji Eun harus terhenti lagi bersamaan dengan sebuah pukulan yg keras─bukan karna tangannya yg memukul dahinya, juga bukan benda keras yg menimpanya. Tapi karna seorang pemuda yg berdiri dengan sebelah tangan yg ia usapkan pada sebuah loker. Dan loker itu adalah loker milik Ji Eun.

Pemuda itu tampan. Pemuda itu punya bibir tipis berwarna merah yg membuatnya terlihat seksi. Hidungnya mancung, sorot mata yg teduh dan tak terbaca. Pemuda dan kulit putihnya yg seakan berkelip saat temaram senja membasuhnya itu sanggup membuat Ji Eun mematung memandanginya tanpa berkedip.

Ji Eun masih terpaku melihatnya. Bibir yg beku dan lidah yg kelu, musik yg didengarkannya itu seakan-akan hanyalah hembusaan kehampaan. Kosong. Ji Eun tidak bisa merasakan apapun, mendengar apapun, dan melihat apapun selain pemuda itu. Hilang terpenjara keagungan pesona, berdiri didalamnya dengan kusen-kusen pintu yg seakan menjadi jerujinya. Dan apa yg pemuda itu lakukan disana? Tak sedikitpun ia tolehkan kepalanya barang melihat orang yg telah tersihir olehnya. Atau ia memang tidak menyadarinya?

“K..kau.” pekik Ji Eun yg setelah sekian lama tertelan oleh kebisuan.

.
.
.
.

Lima menit sudah Ji Eun duduk bersama pemuda itu di halte dekat sekolah. Keheningan dan kesunyian menyelimuti jantungnya yg tak mau tenang. Atau darahnya yg terjun bebas dari ujung kepala ke ujung kakinya saat manik hitam pemuda itu meliriknya. Ini fantasi yg luar biasa. Ji Eun menyukainya. Ia menikmati jantungnya yg berdebar keras dan rasanya ingin meledak menyadari pria itu masih duduk di sampingnya. Berlebihan memang, tapi ia memang serasa terbang ke udara walau hanya melihat pria itu dengan ragu melirik padanya sambil menyusun beberapa kata yg tidak terucapkan juga.

Ji Eun ragu untuk menyudahi keheningan ini, tapi akhirnya ia getarkan juga pita suaranya. “Jadi, siapa nama mu?” Tanyanya ragu. Pemuda itu menoleh pada Ji Eun, menatapnya dengan matanya yg penuh pesona itu. “Aku Wooyoung. Jang Wooyoung.” Katanya sambil tersenyum. Astaga, ia seribu kali lebih tampan saat tersenyum.

Ji Eun mengangguk pelan. “Aku Lee Ji Eun.” Balasnya dengan senyuman canggungnya. “Aku tahu.” Lagi-lagi pria itu menjawabnya bersamaan dengan senyumannya itu. Membuat Ji Eun rasanya ingin segera membeli batu es dan menempelkannya pada pipinya yg memanas.

“Apa kau murid baru?” Wooyoung menggeleng pelan. “Tidak, aku seangkatan dengan mu.” Jawabnya. Ji Eun mengangguk mengerti sambil otaknya yg terus berfikir untuk meneruskan perbincangan yg dimulainya dengan susuah payah ini. “Kau ikut extrakulikuler apa?” Tanya Ji Eun lagi.

“Photografi, sama sepertimu.”

Ji Eun mengerutkan keningnya. “Tapi sepertinya aku tidak pernah melihat mu.” Wooyoung menatap Ji Eun lekat. “Benarkah? Aku selalu melihatmu. Di manapun.” Kemudian ia kembali menyunggingkan senyumnya.

Deg.. Deg.. Deg..

Rasanya jantungnya ingin meledak sekarang juga. “Mungkin aku saja yg kurang memperhatikan.” sahut Ji Eun yg tertunduk menyembunyikan semburat merah pada pipinya.

“Ternyata kebiasaan mu dari dulu tidak pernah berubah, ya? Selalu lupa waktu saat memotret dari atas gedung sekolah.” tambah Wooyoung yg membuat Ji Eun semakin merasa bahwa pemuda itu memang selalu memerhatikannya. “Ternnyata kau tahu hal itu juga.” , Wooyoung mengangguk cepat kemudian berkata, “Ne. Aku tahu semua tentang mu.”

Semburat merah pada pipi Ji Eun semakin jelas terlihat. Jang Wooyoung, pemuda itu dengan begitu mudah membuat hatinya bergejolak hanya dengan beberapa kata yg diucapkannya. “Oh ya, teknik mu dalam mengambil gambar sangat bagus, Wooyoung-ssi. Aku sangat menyukainya.” Puji Ji Eun.

“Terima kasih. Fotomu saat pameran dua minggu lalu juga sangat bagus.”

“Ah! Itu tidak sebagus foto-foto mu.” Ujar Ji Eun merendahkan diri.

Wooyoung terkekeh pelan. “Kau ini! Tidak perlu seperti itu. Karya mu itu mamang sangat bagus. Aku fans nomer satu mu!” Wooyoung menepuk pelan dadanya.

“Dan akupun fans nomer satu mu. Andaikan saja orang yg ku kagumi itu mau mengajarkanku tekniknya yg hebat itu..” Ucap Ji Eun yg secara tidak langsung meminta untuk diajari oleh Wooyoung.

“Tentu saja! Aku akan melakukan apapun untuk fans ku.” Wooyoung mengeluarkan kamera dari dalam tasnya. “Begini, biar aku perlihatkan…”

Senja membawa kecanggungan itu tenggelam bersamanya. Lalu temaram malam datang bersama ribuan gemerlap bintang yg terang. Sayang, keindahan permadani malam masih tidak mampu mengalihkan perhatiaan dua remaja ini. Lawan bicaranya adalah satu-satunya pemandangan. Tanpa perlu repot-ropot berpaling pada yg lain, orang yg dihadapannya adalah yg terindah. Dan beberapa bus malam pun datang mencoba menjadi penganggu. Sedihnya, bus-bus itu sama sekali tidak memberikan pengaruh, bagaikan sebutir debu di tengah jalan.

Dua remaja itu sibuk menikmati perasaan yg diberi nama ‘cinta’. Hal yg tidak dapat dijabarkan tapi begitu luar biasa saat dirasakan. Cinta selalu menyajikan dua akhir cerita yg berbeda. Kebahagiaan dan luka, bagaikan hitam putih yg tidak bisa menyatu namun selalu hadir dalam pandanganmu. Akhir dari sebuah cinta tidak hanya dipilih oleh orang yg merasakannya, tapi takdirlah yg ambil peran besar dalam hal ini. Entah siapa yg akan mengakhiri cinta yg tumbuh di hati dua remaja ini. Dirinya sendiri, atau takdir? Siapapun, semoga akhir yg dipilih itu adalah kebahagiaan.

“Aku masih belum paham dan mengusai betul teknik ini. Benar-benar teknik yg sulit.” Gerutu Ji Eun yg sudah berulang kali mempraktekkan teknik yg diajarkan Wooyoung namun masih gagal.

Wooyoung menepuk pundak Ji Eun. “Sudahlah. Lama-kelamaan kau pasti bisa.” Kata Wooyoung menyemangati.

“Besok sekolah akan mengadakan perkemahan, kan? Apa kau mau duduk sebangku dengan ku di bus nanti? Ada banyak hal yg ingin aku tanya tentang teknik ini pada mu.” Itu hanya kamuflase. Bertanya tenatang teknik photografi itu hanya kamuflase saja. Alasan sebenarnya yg tidak lain adalah, Ji Eun ingin lebih dekat dengannya.

Tanpa sedikitpun keraguan Wooyoung mengangguk mengiyakan. “Baiklah. Dan setelah sampai kita hunting foto bersama, ya?” yg juga diikuti anggukan kepala Ji Eun setelahnya.

Helaan nafas keduanya terdengar bersamaan. Tidak terasa senja telah menjelma mejadi malam yg bertabur bintang. Mereka baru menyadarinya sekarang, bulan sudah menduduki tahtanya dan menjadikan bintang-bintang sebagai permaisurinya.

“Apa yg kau sukai dari photografi?”

“Entahlah. Aku tidak pernah memikirkannya. Yang jelas aku sangat menyukainya.”

“Lalu apa yg kau sukai dari ku?”

Wooyoung menoleh cergap. Matanya menerawang jauh mencari sebuah alasan.

“ Apa yg kau pikirkan saat menaruh foto-foto itu di lokerku?”

Mata Wooyoung menemukan berbagai alasan, namun otak dan bibirnya menghianatinya. Membuatnya seperti orang bodoh yg membeku dan membisu tanpa sepatah kata. Dan semua itu semakin mejadi-jadi ketika Ji Eun dengan tiba-tiba mengecup pipinya dengan bibir merah mudanya.

“Terima kasih, aku sangat menyukainya.” Seru gadis itu di sela-sela langkahnya yg berangsur pergi menuju sebuah bus yg kebetulan datang. Tanpa mau menoleh dan melihat bekas kecupannya yg kini menjadi semburat merah di pipi Wooyoung.

Keesokan harinya.

Masih terbilang cukup pagi, tapi segerombolan murid ini nampak cukup sibuk dengan koper dan sejumlah barang bawaan mereka untuk dinaikkan kedalam bus. Tapi berbeda dengan Ji Eun dan Wooyoung, mereka datang lebih dulu dari yg lainnya. Jadi, saat yg lain sibuk dengan barang-barang bawaan mereka, mereka sudah duduk tenang di dalam bus dan tinggal menunggu keberangkatannya.

“Hey, Jang Wooyoung!” panggil seseorang yg sontak membuat mereka menoleh kearah suara tersebut.

Taecyeon datang mengahampiri sambil mengandeng tangan Suzy. “Kau keterlaluan sekali! Tega sekali kau membiarkan aku kerepotan dan malah asik berpacaran di sini! Sahabat macam apa kau ini, huh?”omel Taecyeon yg baru saja datang.

Wooyoung terkekeh pelan sedangkan Ji Eun melukiskan kerutan aneh dikeningnya. “Sahabat? Kalian sudah saling kenal?” tanyanya terheran-heran melihat Taecyeon dan Suzy dan yg sepertinya sudah berteman sangat dekat dengan Wooyoung, padahal ia sendiri baru mengenal Wooyoung kemarin.

Suzy dan Taecyeon tertawa. “Tentu. Kau ini kenapa, Lee Ji Eun?” sahut mereka serempak.

Ji Eun masih tak mengerti. Tapi ia juga tidak mau ambil pusing soal itu.

Di perjalanan Ji Eun dan Wooyoung asik bercengkrama. Entah itu membicarakan soal hobi mereka, tentang apa saja yg akan mereka lakukan saat sampai nanti, atau sekedar menbicarakan dan menertawakan Taecyeon dan Suzy yg duduk di sebelah bangku mereka. Mereka berdua sependapat, Taecyeon dan Suzy memang serasi. Dan mereka juga sependapat bahwa terkadang tingkah pasangan itu sangat menjijikan dan menggelikan. Terutama saat mereka menanggap bahwa mereka adalah orang yg paling beken seantero sekolah setelah mereka berpacaran. Itu sangat menggelikan, sampai-sampai tak sadar mereka tertawa cukup keras hingga membuat Taecyeon dan Suzy menyadari bahwa mereka sedang menertawainya, lantas membuat mereka mengomel dengan cara mereka yg justru membuat Ji Eun dan Wooyoung tertawa semakin keras.

Setelah sampai di daerah pegunungan tempat mereka akan berkemah, mereka semua berkumpul dan mendengarkan beberapa intruksi dari Taecyeon. Ya, Taecyeon adalah ketua pelaksana kegiatan ini. Jadi wajar saja kalau dialah yg terlihat paling sibuk dan pengatur dibandingkan dengan yg lain.

Ji Eun menguap mendengar pidato Taecyeon yg sama panjangnya dengan perjalanan menuju tempat ini. “Huh! Jika seperti ini kapan aku bisa hunting foto?!” gerutu Ji Eun yg kemudaian tidak sengaja terdengar oleh Wooyoung.

Wooyoung menarik tangan Ji Eun. “Ayo, kita pergi dari sini!” ajaknya.

“Tapi bukankah tidak boleh berpencar sebelum diizinkan?”

Wooyoung tersenyum pelan. “Sudahlah, sebelum di beri izin dari kepala sekolahpun, sebentar lagi Taecyeon pasti akan mengajak Suzy berjalan-jalan menyusuri tempat ini. Kenapa kita tidak melakukan hal yg sama?” ujar Wooyoung.

“Kau benar juga.”

Akhirnya merekapun memisahkan diri dari rombongan dan mejelajah hutan demi hunting foto yg mereka idam-idam kan. Pemandangan disini memang luar biasa menakjubkan. Pepohonan tumbuh besar dan rindang, banyak burung-burung cantik yg tidak pernah mereka temui di kota terbang kesana-kemari. Hingga rasanya mereka tidak menyesal mengabaikan pidato Taecyeon dan kabur untuk melakukan hal ini.

Cekrek..cekrek

Jipratan blitz dari kamera praloid Ji Eun terlihat jelas saat ia menekan sebuah tombol pada benda itu. Ji Eun mengambil hasil fotonya kemudian goyang-goyangkannya agar gambarnya segera terlihat. “Wooyoung-ssi, coba lihat ini!” seru Ji Eun sambil menunjukan hasil fotonya pada Wooyoung.

Wooyoung bertepuk tangan. “Wah! Seperti yg aku bilang, aku pasti dapat melakukan teknik yg kuajarkan padamu. Fotomu jauh lebih bagus dari ku!” pujinya.

“Kau berlebihan!” Kata Ji Eun sambil duduk bersandar pada sebuah pohon.

Wooyoung ikut duduk di sampingnya. “Tidak. Aku mengatakan yg sejujurnya.” Bantah Wooyoung sambil mengusap kamera paraloidnya. “Hey, ayo berfoto.” Wooyoung mengangkat kamera paraloidnya kemudian…

Cekrek..

Selembar kertas foto keluar. Wooyoung segera mengambilnya lalu mengoyang-goyangkannya. Senyumannya terukir lebar setelah ia melihat hasil jipratannya, ia nampak sangat senang sekaligus puas melihatnya. “Apa hasilnya bagus?” terdengar Tanya Ji Eun sambil berusaha melihat foto yg ada pada tangan Wooyoung. “Sangat bagus.” Jawabnya sambil menunjukan foto itu pada Ji Eun.

Tak lama, Wooyoung kembali mengambil foto itu kemudian merogoh tasnya dan mengambil sebuah pena dari dalamnya.

“Ada apa?” Tanya Ji eun bingung.

Wooyoung berbalik memunggungi Ji Eun lalu menuliskan beberapa kalimat di belakang foto tersebut. “Bukan apa-apa.” Jawabanya santai sambil terus menulis.

“Apa yg kau tulis? Biarkan aku melihatnya!”

Wooyoung mengangkat foto itu tinggi-tinggi ketika Ji Eun bermaksud merebutnya dan membaca apa yg baru saja ia tuliskan di belakangnya. “Jangan sekarang.” Tolak Wooyoung.

“Tidak mau! Apa yg aku tulis?! Biarkan aku melihatnya!” rengek Ji Eun namun Wooyoung masih pada pendiriannya. ‘Jangan sekarang.” Ulangnya.

Ji Eun cemberut. “Kalau begitu beri tahu maksud kata-kata yg kau tuliskan pada foto-foto yg selalu kau kirim ke lokerku. Aku sungguh tidak mengerti dan penasaran.”

Wooyoung tersenyum simpul. “Tidak sekarang. Kau akan tahu nanti.” Ujarnya lembut.

Ji Eun mendecah pelan. “Aish! Kau ini menyebalkan sekali Jang Wooyoung. Aku tidak mau nanti, aku mau sekarang!” rengek Ji Eun manja.

Namun sekali lagi, Wooyoung berkata, “Kau akan tahu nanti.”

Ji Eun menyilangkan tangannya seraya bibirnya yg asik merutuki orang yg ada di sampingnya. Namja bernama Jang Wooyoung itu sangat menyebalkan dan menjengkelkan, rutuknya. Hanya beberapa kata di balik selembar foto dan aku tidak boleh melihatnya, hatinya yg geram ikut berbisik. Ji Eun nampak sangat kesal sehingga mengacuhkan Wooyoung yg sejak tadi menggodanya.

Wooyoung berulang kali menyenggol lengan Ji Eun tapi gadis itu sama sekali tidak meresponnya. Wooyoung juga berulang kali bertanya apa Ji Eun marah padanya, dan gadis itu juga tidak mau menjawabnya. Wooyoung tersenyum manis menatap wajah Ji Eun yg walau cemberut tetap cantik. Baginya, tidak ada gadis manapun yg walau sedang kesal tetap terlihat cantik seperti Ji Eun. Biarkan aku memandangimu sebentar saja, setelah ini hanya akan ada sembilu rindu di depan mata ku, bisiknya

Tiba-tiba saja perhatian Wooyoung dan Ji Eun teralihkan ketika mereka mendengar suara raungan seekor binatang. Mereka segera bangkit dari posisi mereka dan melihat kesegala arah untuk mencari di mana sumber suaranya. Lalu suara binatang itu terdengar lagi, namun kali ini ia terdengar seperti sedang meringis kesakitan.

Dua remaja ini tetap penasaran, mereka beranjak dan mencari-cari di mana letak asal suara itu. Setelah sepuluh menit mencari, mereka tidak menemukan suara bintang itu. Tapi mereka melihat siapa yg menyebabkan binatang itu meringis. Itu adalah sekomplotan pemburu liar yg kini sedang mencoba menangkap beberapa burung langka dan dilindungi.

Wooyoung berjalan mendekat. “Hey! Apa yg kalian lakukan?!” Teriak Wooyoung tanpa gentar walaupun mata kepalanya melihat sendiri dua orang pemburu itu membawa beberapa senapan dan pisau. “Wooyoung-ssi, apa yg kau lakukan?” bisik Ji Eun pelan sembari menyembunyikan dirinya di balik punggung Wooyoung.

“Kalian tahu, ‘kan itu adalah hewan-hewan langka dan di lindungi?!” Wooyoung semakin berjalan mendekat sedangkan Ji Eun masih dengan ragu mengikutinya dari belakang.

“Ya, kami tahu. Lalu kenapa?!” kata salah seorang pemburu itu menantang.

Wooyoung menyeringai kesal. “Kenapa? Kalian ini gila, ya?” sahut Wooyoung yg kesal.

“Lepaskan bintang-binatang itu! Atau aku akan menelpon polisi?!!” ancam Wooyoung sambil menunjukan ponselnya kepada para pemburu itu.

Rahang dua pemburu liar itu nampak mengeras, yg menandakan mereka sedang marah. “Lakukan itu jika kau berhasil mengalahkan kami!” lalu salah seorang dari pemburu itu melayangkan tinjunnya pada Wooyoung sedangkan yg satunya lagi berusaha menyerang Ji Eun.

Perkelahian pun dimulai. Para pemburu itu menyerang Wooyoung. Untungnya Wooyoung masih bisa melakukan bela diri sehingga dirinya dan Ji Eun masih bisa terlindungi. Tapi bukan berarti Wooyoung tidak dapat terlukai, buktinya sekarang darah mulai mengalir dari kepalanya. Biarlah ia terluka, asalkan Ji Eun tetap selamat, pikirnya dalam hati.

Perkelahian antar Wooyoung dan dua pemburu itu semakin seru. Sesekali salah seorang dari pemburu itu kembali mencoba melukai Ji Eun namun Wooyoung selalu bisa menggagalkannya. Wooyoung selalu mengalihkan perhatian dua pemburu itu agar mereka tidak menyerang Ji Eun. Alhasil, wajah dan tubuhnya lah yg selalu menjadi korban pemukulan dua pemburu liar itu.

Sedangkan Ji Eun yg sudah dengan susah payah dilindungi Wooyoung malah membahayakan dirinya sendiri dengan mencoba mengambil beberapa gambar pemburu itu dengan paraloidnya. Ia pikir itu akan bisa di jadikan barang bukti saat Wooyoung dapat menghubungi polisi nanti. Alhasil, salah seorang pemburu itu dengan cepat merebut kameranya lalu mendorongnya hingga terjatuh ke tanah. Kepala Ji eun terbentur batu hingga darah mengalir kemana-mana.

“Ji Eunn!!!!”

Terdengar Wooyoung berteriak sambil berusaha menghampirinya, namun dua pemburu itu kembali menghadangnya. Ji Eun mengerjap-ngerjapkan matanya. Pengelihatannya mulai berbayang, ia mengulurkan tangannya mencoba mengagapai Wooyoung yg kini tengah dipukuli habis-habisan oleh dua pemburu itu.

Bayangan Wooyoung terlalu jauh untuk di gapai sementara raganya melemah dan matanya di selubuti kabut hitam. Yang perlahan menariknya semakin dalam, semakin dalam, hingga akhirnya semuanya meredup dan hitam…

Namun dencitan paraloidnya yg mengeluarkan foto masih terdengar jelas.

******

“Ji Eun tenanglah, kau hanya mengigau!” Ujar Suzy sambil mengusap kepala Ji Eun yg terkulai diatas meja kantin.

Ji Eun mebuka kedua matanya dan dengan cepat memutarnya kesegala arah─ seakan-akan ia sedang mencari-cari sesuatu yg hilang. “Kenapa aku ada di sini?” pekiknya lemah yg membuat Suzy dan Taecyeon terkekeh karenanya. “Wooyoung!! Di mana Wooyoung?!!” Seru Ji Eun yg sontak membuat Suzy dan Taecyeon terlonjat kaget.

“Kk..kau.. kau sudah mengingatnya?”

“Apa maksudmu? Mengingat apa? Dan mengapa kita ada di sekolah? Bukankah kita sedang berkemah? Tolong beri tahu aku!!” celotehnya dengan nada yg cukup tinggi. Ji Eun terlihat amat gusar dan linglung saat ini. Entah apa yg merasukinya sehingga ia bersikap seaneh ini sekarang.

Taecyeon duduk tertunduk dihadapannya. “Ini semua salahku. Sebagai ketua, aku tidak bisa melakukan tugas ku dengan baik.” Kemudian ia bersenandung sendu dan membuat Ji Eun semakin bingung.

Suzy mengusap pundak Ji Eun. “Kau hanya bermimpi Ji Eun-ssi. Perkemahan itu terjadi dua bulan yg lalu.” Ujarnya lembut.

Ini semua mulai berbelit-belit dan semakin membingungkan bagi Ji Eun. Suzy bilang ia hanya bermimpi. Tapi mengapa ia mengatahui tentang pekemahan itu? Dan anehnya lagi, ia mengatakan perkemahan itu terjadi dua bulan yg lalu. Padahal Ji Eun merasa itu baru saja terjadi tadi.

Mata Ji eun beralih pada Taecyeon yg tertunduk lemas, “Itu terakhir kalinya aku mengomel padanya karna tidak mau membantu ku.” Taecyeon mengusap air mata yg meluncur begitu aja di pipinya.

“Dan itu terkhir kalinya kami mendengar kalian menertawai kami.” Sahut Suzy dengan nada yg tidak kalah sedihnya.

“Hentikan semua ini!!” Ji Eun mengusap keningnya yg terasa cenat-cenut. Semuanya benar, dalam mimpinya Taecyeon memang meomel saat Wooyoung tidak mau membantunya, dan mereka juga mengomel ketika ia dan Wooyoung menertawai mereka. Ini semua membuat Ji Eun gila! Seakan-akan semuanya membenarkan bahwa mimpinya itu adalah nyata. “Ceritakan semuanya.”

Taecyeon menghela nafas. “Kau dan Wooyoung adalah sepasang kekasih. Kita berempat adalah sahabat.” Dan kini air mata Ji Eun meluncur cepat seiiring otaknya yg memahami mengapa dalam mimpinya Wooyoung begitu dekat dengan Taecyeon dan Suzy.

“Saat perkemahan itu kalian hilang entah kemana. Kami semua mencari kalian kemana-mana. Dan akhirnya kami menemukan mu tergeletak di tengah hutan dengan kepala yg terus mengalirkan darah. Dan Wooyoung.. kami tidak bisa menemukannya.” Lanjut Taecyeon.

Ji Eun semakin larut dalam isakannya. “Saat itu kami memisahkan diri agar dapat segera hunting foto. Lalu kami bertemu dengan dua orang pemburu liar. Wooyoung berusaha mengingtakan mereka, tapi kami malah diserang. Salah seorang dari mereka mendorongku sampai aku terjatuh.. huhu..” papar Ji Eun yg kini terisak semakin hebat di dalam pelukan Suzy.

“Lalu Wooyoung?”

“Aku tidak tahu.. terakhir kali aku mencoba menggapainya yg sedang dipukuli oleh dua pemburu itu.”

Taecyeon ikut mengusap pundak Ji Eun. “Ya sudah, ini semua sudah berlalu. Maaf membuat mu mengingat semua kepahitan itu.” Katanya lalu membereskan foto-foto yg berserakan diatas meja kantin.

Ji Eun yg meyadari itu segera melepaskan dirinya dari pelukan Suzy. Itu, itu adalah foto-foto yg Wooyoung kirimkan ke dalam lokernya. “Tunggu dulu!” kata Ji eun kemudian merebut foto-foto itu dari tangan Taecyeon. Ji Eun tatap foto-foto itu dengan penuh air mata. Terus menatapnya sampai akhirnya otaknya memberikan sebuah isyarat padanya.

Jika diperhatikan foto-foto yg dikirimkan Wooyoung itu membentuk sebuah alur. Foto pertama yg Ji Eun temukan, foto pertama adalah pemandangan jalan. Ji Eun baru sadar salah satu dari detetan kendaraan yg berada disana adalah bus sekolahnya, itu adalah bus yg ia tumpangi saat perkemahan. Foto kedua, adalah foto pegunungan. Jelas sekali! Perkemahan itu memang diadakan di sebuah daerah pegunungan! Di tambah lagi dengan foto ketiga yg menggambarkan dua orang yg memisahkan diri dari kelompoknya.

Ji Eun memerhatikan seluruh foto tersebut hingga akhirnya ia yakin betul foto-foto itu memanglah menceritakan pengalaman pahit itu.

“Kalau begitu Wooyoung…” pekik Ji Eun.

Ji Eun menatap foto terakhir yg ia dapatkan dari Wooyoung. Benar, foto sebuah jurang yg disertai kalimat, Titik gelap dan dingin yg mampu membuat aliran darahmu membeku dan mongering,  di belakangnya. Otak Ji Eun membenarkan semuanya, di hutan tempatnya berkelahi dengan dengan pemburu itu memang ada sebuah jurang yg sangat dalam. “Di jurang ini!” katanya disela-sela isak tangisnya.

Taecyeon menggeleng cepat. “Tidak mungkin. Kami dan kepolisian sudah mencarinya disana.” Bantah Taecyeon.

“Kau pikir apa maksud Wooyoung mengirim semua ini pada ku? Dia meminta kita untuk menyelamatkannnya dari tempat menyeramkan itu!! Dia terjatuh ke jurang itu!! Dan dua orang ini pasti pelakunya!” hardik Ji Eun kemudian menunjuk foto kelima yg Wooyoung berikan padanya─ foto dua pria bersenjata yg tidak lain adalah pemburu liar itu.

*****

Sore musim gugur yg begitu kelam dengan sejuta kisah menyakitkan tersembunyi di langit menganya. Beberapa manusia bernaung di bawahnya dengan kain hitam yg mengartikan duka. Terisak sedih merindukan dia yg telah pergi ke sisi-Nya. Angin melambaikan tangannya, menyampaikan salam perpisahan tak terucapkan darinya yg dirindukan. Dia bilang dia juga sedang merindu.

Burung-burung bersiul sedih menatap oranye senja yg perlahan tergantikan oleh gelap. Tumpukan tanah itu masih basah, seakan-akan mereka berteriak agar senja tidak hilang dan membawa kerumunan orang-orang ini bersamanya. Tapi senja dengan begitu angkuh menolaknya, sama sekali tidak mau mendengarnya. Senja membawa satu persatu dari mereka pergi meninggalkannya seniri di tempat yg kelam ini.

“Polisi sedang menyelidiki pelakunya. Ji Eun, kau harus kuat.” Kata seorang pemuda berpakaian serba hitam sambil menepuk bahunya. Gadis yg dipanggilnya Ji Eun itu tidak berkutik dan terus terisak meratapi dia yg kini mungkin sedang meringkuk sedih di bawah tumpukan tanah itu.

Hingga oranye senja itu hanya menyisakan beberapa garis cahaya keemasannya di langit bumi. Ji Eun masih termenung menatap tumpukan tanah merah yg ada di hadapannya. Semilir angin datang memainkan helaian anak rambutnya, berceloteh manja mencoba menghibur kegundahan hatinya. Jadi maksud dari kata-kata yg kau tuliskan di foto-foto itu adalah perpisahan Wooyoung-ssi? Ya, aku sudah mengetahuinya sekarang. Pikir Ji Eun dalam-dalam.

Lalu semlikir angin menghembuskan kepiluan, membawa sebuah janji yg walau terlambat harus ditepati. Angin membawakan selembar foto terakhir kepada gadis yg dirundung rindu ini. Mengucapkan satu kata yg di benci. Selamat tinggal.

Ji Eun memungut selembar foto yg entah dari mana datang dan terjatuh diatas pesemayaman Wooyoung. Kemudian senyuman pahit itu di tebarkannya bersama air bening yg meluncur di pipinya. Wooyoung menepati janjinya. Itu adalah mereka berdua, diamana Wooyoung menuliskan sesuatu di balikanya dan Ji Eun tidak boleh melihatnya saat itu. Tapi sekarang ia memperlihatkan tulisan yg manis namun menyayat luka itu.

Ji Eun mengusap air matanya dan kemudian tersenyum tegar. “Kau tahu, Wooyoung-ssi? Otak ku mungkin melupakanmu. Tapi hati ku tidak. Bahkan tetap terjatuh untuk mu.” Setangkai mawar ia letakan. Membiarkan sang mawar yg mengatakan bahwa takdir yg telah memilihkan jalan cinta mereka. Seperti mereka yg menginkan kelopaknya namun takdir memilihkan duri sebagai akhirnya.

Ribuan warna dunia tidak bisa menyingkirkan satu-satunya keindahan di hatiku. Bayang mu menjadi sembilu yg menusuk  rangkaian rindu. Senyata mungkin senyuman mu masih melekat pada dua iris mataku yg tak lagi melihat dunia.─ Wooyoung.


─T H E  E N D─

 

Huaaa!! Kenapa endingnya jadi kaya gini? Masa Wooyoung korban pembunuhan yg jasadnya gk di ketemuain selama dua bulan?! Timpukin aja nih authornya!!

Advertisements

6 thoughts on “[FF Freelance] The Picture

  1. Kirain si IU cuma lupa ingatan dan wooyoung msh hdup.
    Awalnya nunggu2 mana horrornya ??
    Ternyata~
    foto2 itu arwahnya wooppa’ yg taruh yaa (?)
    kereen2 thorr!
    Tapi,tragis amat jasadny wooppa’ dbuang kejurang gitu :”(

  2. jadi semua cuma kilasan masa lalu yg masih terbayang? oh~
    kasian wooyoung, jasadnya masih belum ketemu ya?
    terus siapa yg mengirim semua foto itu di loker jieun?
    nice ff..

  3. Sedikit bingung si alurnya, cuma pas dicerna2 paham juga-_-
    Keren eonn ceritanya, misterius gimana gitu hehe
    Next ff buat iu sm wooyoung ditunggu ne.. Fighting^^

  4. Ini kerrrreeeennn kata2 nya simple tapi rumit jadi ya begitulah (?) Aku sangat sangat menyukai alurnya sungguh…. semuanya bisa kebayang dengan jelaaass..

    Waktu awal2 yang lagi mendiskripsikan sosok yang kasih foto ke jieun pas di halte. Aku mikirnyaa ini wooyoung. Ini wooyoung bodo amat kalo nantinya bukan yang pasti aku harus bayangin woo. Karena aku milky couple sejati /dampak Dream High/
    [Aku engga baca castnya. Cuma yang aku baca suzy doaang. Jadi kaget juga waktu si jin kuk nyempil dan kaget karena tebakanku benerrr /yeaaaayy!! MILKY COUPLE/

    Pokoknya engga ada pasangan yang kiyut2 plus lucu kaya merekaa…. engga ada yang bisa nandingin milky couple. Pokoknya pilsuk-Jason harus jadiaaaaaan!!!!! /eh udah yaa… yang belum itu wooyoung sama iu/

    Alurnya itu keren banget no komen buat diksi karena ini udah oke banget.

    Pokoknya ini perfect cuma paling typo dikit dooang siih…

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s