Because It’s You (Saranghae) Part 9

1528521_10200759692629393_780702774_n

Title: Because It’s You (Saranghae) Part 9 || Author: Keyindra || Cast:  Yesung Super Junior,Yuri SNSD, Yoona SNSD, Siwon Super Junior. || Support Cast: Donghae Super Junior, Woohyun Infinite || Disclaimer: this FF is owned by my self,  all cast borrow by GOD, The Family, and SM Entertaiment || inspirate by novel, K-drama, music, MV, etc || Dont copy paste them without my permission. So please don’t be a silent readers. || Credit Poster by Ekha Lee Sunhi ||

*****

Ada Pepatah sekata Jepang mengatakan Shiranu ga hotoke’ dalam artian harfiah adalah ketidaktahuan adalah kebahagiaan atau bahasa lebih sederhananya adalah Lebih baik untuk tidak mengetahui kebenaran. Kalimat yang sederhana yang terlalu lama ia asumsikan yang akhirnya menjadi doktrin tersendiri yang merasukki pemikirannya sekarang. Sudah menjadi alasan manusia untuk hidup jika mendapat promblematika. Hidup dan problematika memang sudah satu paket yang harus didapatkan manusia untuk menapakki kehidupan yang lebih baik. Lantas disanalah puncak kekuatan manusia akan diuji. Seberapa kuat ia melewati arus kencang yang akan mengombang-ambingkan dirinya sebelum akhirnya ia berhasil sampai puncak tujuan kebahagiaan.

Cukup Yuri pejamkan matanya menahan sesak didada, seolah pikirannya akan meledak saat ini juga. betapa perkataan yang pernah keluar dari mulutnya itu terlalu picik dan meyudutkan seseorang. Hebat sekali sudah jatuh tertimpa tangga pula. Dalam hal ini ia adalah kunci utama mengakhiri masalah yang ia buat sendiri dan betapa perkataan cacian orang-orang terdekat yang saat ini begitu menyudutkannya, sekarang bahkan ia dihadapkan pada kenyataan pahit ketika semua pikiran piciknya mendominasi hingga benar-benar ia harus akhiri semuanya.

Dan Kwon Yuri baru saja terporosok nan dalam pikiran sepihaknya—hingga pada akhirnya mereka semua akan sama-sama terluka. Baik dia, Yoona ataupun Hana. Lalu siapa sebenarnya kini siapa yang patut dipersalahkan?. Takdirkah?. Atau garis kuasa Tuhan atas dirinya yang seperti ini?.

Yuri yang masih bergelut dengan semua yang terngiang-ngiang dikepalanya. Gadis itu memijit pelipisnya yang tak sakit, hanya sekedar untuk mengurangi ketegangan dalam pemikirannya. Penat dan jenuh rasa itu kian berputar-putar dalam kepalanya. Rasanya kepalanya saat ini akan pecah juga. Lelah. Ia lelah dengan siksaan batin yang menderanya kini yang membuatnya rapuh bagai orang tolol yang tak tahu arah. Jika sudah mengingat hal itu, Yuri pasti akan merasa ingin menangis. Ia ingat bagaimana wanita itu begitu melukai Donghae. Entah rasanya kini ia berada dalam posisi yang sulit karena kebodohannya sendiri.

Sungguh, sebenarnya Yuri enggan untuk kembali membuka cerita lamanya. Setelah lamanya ia menguburnya dalam-dalam agar melupakan yeoja itu. Susah payah ia timbun lembaran-lembaran itu untuk kemudian dikuburnya dalam-dalam, dan sekarang—kenyataan itu datang juga. namun sekarang apa yang terjadi?—setalah wanita itu datang lagi dan mulai masuk dalam kehidupannya dan kehidupan Hana—ia harus menggalinya kembali. Bukankah sama saja ia akan menyakiti dirinya sendiri?. Ikatan ibu dan anak siapa yang bisa memisahkan?. Bagaimanapun juga Hana pasti akan mengetahui sosok ibu kandung yang telah meninggalkannya.

Sudut hati itu mengerang dan berteriak mengatakan jika semuanya benar. Iya, Yuri menyakiti dirinya sendiri karena telah menutup luka itu dengan berpura-pura bahagia diatas semua kepedihan yang telah ia alami bersama dengan Donghae. Dengan mengingat serta berurusan kembali dengan masa lalunya, tidakkah luka yang telah pulih itu akan mengelupas lagi dan menimbukan luka baru?.

Tapi, dengan apa yang Yoona lakukan dimasa lalu, masihkah Yuri berbuat setega itu untuk tak mempertemukannya dengan Hana?. Waktu sudah menutup cerita lama mereka. Apakah hatinya masih tertutup juga?.

Yoona memang bersalah. Yoona pula yang membuatnya tersakiti akan cinta karena mencintai lelaki yang sama, meski hati pria itu hanya Yuri yang memmiliki. Tapi Yoona pula lah yang membuatnya secara tidak langsung membuatnya menjadi gadis tegar—ia mengerti bagaimana rasa kecewa itu dan bagaimana ia bisa membuat rasa kecewa itu berubah menjadi harapan untuk kebahagiaan. Ia coba kuatkan hatinya jika harapan akan kebahagiaan akan dirinya dan Hana masih ada dan dapat mereka rasakan. Ya, itu memang benar.

“Yul!..”

“Yul!..eekkhm..”

Lelaki yang berstatus sebagai atasan Yuri itu mengernyit bingung, melipat tangan didadanya selagi memperhatikan Yuri yang masih duduk diam dan hanya memandang tumpukan pensil dan spidol warna-warni dalam yang tersusun rapi didalam wadah didepannya. Heran, bagaimana mungkin Yuri tak mendengar suara sekeras itu yang memanggilnya. ia pandang sosok Yuri yang sedang duduk dari atas hingga bawah. Frustasi mengenaskan.

“Kwon Yuri!.”

Suara itu akhirnya membuyarkan apa yang sedang meretas dalam lamuanannya. Ia menoleh, menengokkan kepalanya pada sumber suara yang memanggil namanya.

Berhasil!. Karena wanita berambut hitam lurus itu mengangkat kepalanya untuk menoleh mamandang sekilas wajah atasannya itu.

“kenapa lagi denganmu?. Masih belum bisa focus?.” Tanya lelaki itu memastikan. Pandangan menyelidik itu lelaki itu berikan pada Yuri. Dia bukanlah orang yang bodoh, ia tak akan semudah itu dibohongi. Selama belasan tahun bersahabat dengan Yuri, ia hafal betul wajah yang menunjukkan adanya suatu masalah. Nam Woohyun. Kini lelaki itu singgung sahabatnya yang kini tampak tak focus pada pembasan design interior yang akan diluncurkannya pada rapat minggu depan untuk melanjutkan tender pembangunan hotel tersebut. Yuri menoleh hingga akhirnya ia menghela napas pendek dan mendesah kecil kemudian mengangguk. ia menutup map secara kasar dan menenggelamkan kepalanya ke meja.

“aku lelah Woohyun-aa. Bisakah kita berhenti sebentar. Rasanya aku ingin bunuh diri jika hidupku terus-terusan seperti ini.” katanya frustasi seolah tanpa minat.

Woohyun yang mengerti sikap Yuri yang tengah ia tampilkan. ia kemudian merapikan beras-berkas map yang tadi telah dipresentasikannya lalu kemudian beranjak mendekati Yuri, pria itu hanya menghela napas sambil menggelengkan kepalanya pelan. Heran dengan sikap Yuri.

“kau baik-baik saja Yul?.” Tanyanya pelan. Ia sentuh pundak Yuri yang masih duduk disampingya—masih dengan keadaan menenggelamkan kepalanya. Yuri meresponnya hanya membisu saja, tak memberikan jawaban. Hanya sebuah isyarat saja dengan lenguhan kecil. “hmm..”

“seperti yang kau lihat. Aku baik-baik saja. Hanya pikiranku yang tidak baik sehingga konsentrasiku terpecah pada pekerjaan ini.” Yuri mulai mengangakat kepalanya, lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Ia pejamkan kedua matanya erat dengan segelintir pemikiran keras pada apa yang tengah ia rasakan. Woohyun terdiam seketika. Ia bawa tubuhnya untuk beranjak berjalan kedepan hingga mencapai ambang pintu. Sebelum lelaki itu membuka pintu, Woohyun menoleh sebentar.

“selesaikan dulu masalahmu dengannya. Kau hanya akan terus-terusan menyakiti dirimu sendiri dan orang disekitarmu. Kau tidak bisa terus-menerus seperti ini.” anggapan itu hanya dianggap Yuri sebagai angin lalu saja. ia masih memejamkan matanya tak menyahuti ucapan Woohyun sama sekali.

“dan ingat deadine pekerjaan kita membutuhkan waktu dan pikiran yang tak sedikit. Jadi jangan hilangkan konsentrasimu begitu saja pada project besar ini. direktur tidak membayar pegawainya dengan gaji buta tanpa hasil!. Dan bedakanlah antara masalah pribadi dengan masalah pekerjaan!.” Tandasnya sebelum a berlalu dan meninggalkan Yuri seorang diri.

Mau tak mau kedua mata Yuri ia buka secara perlahan. Ia lihat jika kini hanya ia sendiri yang berada dalam ruangan meeting tersebut. Yang ada hanya keheningan yang sejatinya membuat pikirannya semakin masuk dalam permasalahan akan perasaannya yang tengah gelisah tiada akhir itu. Yuri mulai berpikir kembali. Ia cukup mengiyakan semua ucapan Woohyun dalam hatinya karena ia yakin jika Woohyun tak mungkin memberinya sebuah nasehat jika tanpa adanya masalah, juga selain itu ia tak ingin mengecewakan sahabatnya yang notabene adalah partner dirinya dalam bekerja serta rekan sekolahnya dahulu. Tidak mungkin ia tega mengecewakan sahabatnya hanya karena masalahnya sendiri, hingga perusahaan telah menegurnya karena efektivitas kerja Yuri yang pecah konsentrasinya hanya karena masalah yang ia hadapi.

“aku tahu Woohyun-aa.” Lirih Yuri.

**

Lembaran demi lembaran itu masih terjepit meski ujung kertasnya terlihat kusut, sesekali kedua mata itu meneliti dengan seksama mencheck list dalam lembar catatannya—mengecek beberapa perlengkapan untuk acara peluncuran produk terbaru design interior ruangan maupun luar ruangan sekaligus pameran beberapa replika maket bagunan-bangunan gedung pencakar langit yang terkenal di Seoul yang beberapa jam lagi akan dibuka. Ketika Yuri melakukan inspeksi di bagian maket replika bangunan-banguna pencakar langit semua terlihat berjalan lancar, semua maket-maket replika peserta Pameran dipajang sesuai dengan nama pembuatnya. Ya ia sadar tidak sepantasnya ia mencampur antar urusan pribadi dengan urusan pekerjaan. Masih terngiang-ngiang dan berdengung didalam telinganya. Perkataan Jongwoon tempo hari.

Sebuah pukulan besar terasa menghantam batin dan membuat Yuri hanya bisa mengharap tanpa adanya sebuah kenyataan yang jelas. Seketia ia harus bersabar lagi atas ujian Tuhan yang menimpanya. Kembali dan kembali Yuri harus merasakan pahitnya sebuah kehidupan akan harapan yang hanya tinggal harapan saja. Baru saja ia mengecap manisnya harapan akan hidup Hana yang lebih panjang dengan berita tentang donor jantung yang akan diberikan untuk putrinya, ia harus segera disuguhi kenyataan itu. Sangat pahit dan belum dapat ia terima dengan hati lapang.

‘Maafkan aku, Rhesus yang ada pada pendonor ini berbeda dengan rhesus darah yang ada didalam darah Hana. Percuma saja jikapun kita akan melakukan operasi pencangkokkan jantung itu, rhesus Hana adalah negative sedang rhesus pendonor adalah positive. Andaikata tubuh Hana tak menolak jantung baru tersebut. Percuma saja karena nanti akan terjadi pengumpalan agglutinin darah karena perbedaan rhesus tersebut.’

Dan seketika itu Yuri hanya bisa terdiam membisu, tak dapat merespon lagi ucapan dari Jongwoon ketika harapan itu hanya tinggal harapan yang musnah seketika. “j—jadi Hana..”

Keringat dingin itu tiba-tiba saja mengalir dari wajahnya, ia merasa begitu panas dengan tubuhnya, padahal diluar sana musim dingin masih berlangsung dan belumlah memasukki musim semi. Rasanya tubuhnya kembali bergejolak, namun Yuri hiraukan semuanya. Ia pun segera ke bagian ballroom untuk mengecek apakah semuanya sudah berjalan. Akhir-akhir ini beban pikirannya semakn berat saja.

Berharap acaranya berjalan dengan lancar, namun bertolak belakang dengan kondisi tubuhnya saat ini. kondisi tubuhnya saat ini tak mau diajak kompromi. Denyutan hebat dikepala Yuri semakin menjadi-jadi saat ia memegang kepalanya yang terasa pening hingga akhirnya ia tidak bisa mempertahankan keseimbangan tubuhnya namun dengan gesit seseorang memegangnya menahannya agar tidak jatuh.

“Yuri ssi, gwaenchansimnika?

Yuri tersenyum lemah, “ Aku baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir.”

Sementara dari arah lain yang berlawanan seseorang juga dengan cekatan memeriksa pekerjaan semua karyawannya. Begitu rapi. Dan ia yakin acara peluncuran produk design interior yang dicanangkannya akan berhasil mendapatkan respon dari berbagai perusahaan property. Kali ini mata Yoona beralih pandang dan tak sengaja menatap kexdepan—saat kdua matanya menatap kedepan—tepatnya ke arah main stage yang di desain begitu mewah. Ia melihat seorang wanita yang sangat ia kenal dan hafal betul. Wanita yang membuat ia harus bertekuk lutut menyerah akan harapan cinta dari pria yang sama pula dicintainya. Kwon Yuri. Dari sudut penglihatan Yoona wanita itu terlihat sedang berkonsentrasi penuh mengerjakan rancangan acara ini, tangannya secara cepat dan bergantian menunjuk beberapa orang agar segera menyelesaikan tugasnya.

“Hei Kwon Yuri!.” Pekik seseorang yeoja yang kali ini meneriaki dan memanggil namanya. Ia melambaikan tangan dengan antusias pada sosok Yuri yang berada didepannya. Yuri yang awalnya tersenyum pada rekan kerjanya tersebut, mendadak terdiam saat dibelakang yeoja itu berdiri sosok yang membuatnya semerawut seperti ini.

Wanita yang diketahui Yuri adalah Im Yoona—selaku salah satu direktur di perusahaan itu akhirnya berjalan mengikuti asistennya dan mendekati Yuri. Tidak!—lebih tepatnya kedua orang itu berjalan mendekati Yuri. Sosok yang tak akan pernah Yuri bayangkan akan bertemu disini setelah ia mencoba menghindari wanita itu mati-matian. Sosok yang dengan piciknya ia berdo’a pada Tuhan untuk tak pernah lagi dipertemukan kembali dengannya. Wanita yang selama ini menjadi mimpi buruknya. Dan saat itu juga kepala Yuri mendadak terasa berputar-putar kembali. Tangannya berusaha mencari pegangan yang paling dekat dengannya dengan mata yang sudah mulai terpejam menahan sakit.

Merasa ada yang aneh dengan apa yang dilihatnya dari kejauhan, wanita itu—Im Yoona segera berlari cepat menuju kearah Yuri yang sedang bersandar pada tembok. Saat kedua matanya menangkap sebuah lighting tepat di belakang Yuri terlihat bergoyang pelan, dan tak ada seorang pun yang menyadarinya. Jantung Yoona terhenyak terlebih ketika lighting seperti akan jatuh ke depan—dan tepat ada Yuri di bawahnya. Orang-orang sudah berteriak panik. Refleks Yoona segera menarik Yuri dari arah jatuhnya benda dengan berat lebih dari 1 ton tersebut. Orang-orang semakin panik, ketika Yuri menyadari sebuah tiang lighting tepat akan jatuh menimpanya. Yuri ingin menghindar namun tak sempat.

BRAKK…

Yuri kira hidupnya akan berakhir saat ini juga atau setidaknya terluka parah atau bahkan bisa kehilangan bayi yang dikandungnya. namun nyatanya ia terasa begitu baik-baik saja. Ketika ia membuka kedua matanya, yang ia sadari adalah sebuah tangan yang memeluk dirinya kuat—lebih tepatnya kedua tangan tersebut berusaha melindungi kepala Yuri. Yuri terkesiap dengan apa yang terjai baru saja. Dan ia bisa mendengar desahan napas sang penolongnya, hingga pandangannya jernih akhirnya ia menyadari. Seorang wanita yang ia kenal tengah menolongnya dan tak lain dan tak bukan adalah Im Yoona.

“ Kau baik-baik saja, Kwon Yuri?.” Tanya Yoona cemas.

Yuri memijit kepalanya yang terasa pening dan mengamati keadaan sekitar. Ia melihat tatapan lega orang-orang yang berada di dalam hall saat itu. Tiang lighting itu jatuh tak jauh dari posisi Yuri. Yoona berusaha berdiri dengan satu tangan menumpunya. Lekas berusaha membantu Yuri untuk berdiri.

“ gwenchanaseumnika?.” ucap Yoona lega. Yuri masih saja terdiam kaku ditempat menatap gadis berambut lurus pendek hampir sebahu itu tersnyum manis nan tulus padanya.

“saj—jangnim Im.” Ujar Yuri terbata. Dan untuk pertama kalinya Im Yoona menyajikan senyuman tulus yang ia berikan pada Yuri.

Yuri memejamkan kedua matanya namun tak lama ia menyadari jika lengan blazer yang Yoona kenakan robek seperti terkena api, dan lengannya pun terlihat mengeluarkan tetesan darah yang merembes pada pakaiannya.“sajang—nim anda berdarah.” Ujar Yuri lirih.

“hanya berdarah. Luka kecil ini tak parah bukan?.”

**

Masih sama-sama terdiam, keduanya diam membisu. Tak ada kalimat untuk memecah keheningan diantara mereka berdua. Yang ada hanya ada gerakan tangan yang cukup telaten dan bau alkohol yang sedkit menyergah hidung keluar begitu saja dari kotak P3K tersebut. Yuri masih bergumul dengan pikirannya. Antara percaya dan tidak percaya. Yuri tak percaya jika ia hampir celaka ditimpa oleh lighting lamp seberat lebih dari satu ton tersebut. Entahlah apa yang terjadi jika Yoona tak menarik yeoja itu?. Tentu bisa dibayangkan apa yang terjadi.

Yuri membungkukkan badannya dengan sopan dan tersenyum kepadanya. Seolah tak pernah ada pertemuan sebelumnya di antara mereka. Meskii terkesan senyuman paksa yang ia hadirkan. Tangannya masih sibuk dengan beberapa kapas kotor bekas darah dan beberapa obat luka ringan yang ia masukkan kedalam plastic untuk ia buang. Bergegas dengan cekatan Yuri pun mengambil perban yang diuraikannya dan sedikit dipotong, namun sebelumnya memberi luka Yoona sebuah obat untuk menghindari infeksi dan lalu membalutnya dengan perban di sekeliling lengan Yoona.

“sajangnim Im.” Ujar Yuri pelan. Dengan ragu ia mencoba membuaka percakapan meski tenggorokannya tercekat tertahan, tak bisa mengeluarkan kata-kata. Namun sebisa mungkin Yuri menutupi perasaannya. Apakah ia sanggup mengucapkan terima kasih karena ia telah diselamatkan oleh gadis yang selama ini paling benci didunia ini.

“nde?..”

“terima kasih..” ujar Yuri kikuk. Ia berusaha menutupi semua kegugupannya.

Seberapa sulit saat memulai lagi membuka hati, mungkin tergantung dengan kesiapan batin dan jiwa yang dimiliki. Walau teramat sulit untuk melupakan bayang-bayang masa lalu yang masih menghantui dan teramat begitu berarti mungkin terasa sangat sulit. Terlebih lagi jika masa lalu itu membawa pergi nyawa seseorang. Dan senyuman kaku itu ia paksakan untuk membalas ucapan Yoona.

Wanita itu tersenyum tipis lalu mengangguk pelan. “ya. Sama-sama.”

*****

Mencoba berpola pikir kedepan dalam menjalani hidup dengan meninggalkan masa-masa kelam boleh saja menjadi sebuah alasan untuk hidup lebih baik. Kadang kala saat membuka memori lama tak pernah terbayangkan akan serumit ini. Faktanya jauh lebih mudah jika rasa ikhlas itu ia coba untuk terima selapang-lapangnya, Tangan Tuhan tak pernah berhenti untuk membantu umatnya menyelesaikan masalah dan semuanya tidak ada yang sulit.

Semilir angin sore menjelang malam, saat musim dingin akan beralih menjadi musim semi, senja menjelang disebuah tanah lapang yang cukup luas. Angin cukup sedikit berhembus kencang yang terasa menusuk-nusuk secara perlahan setiap kulit ari dari tubuh kepunyaan wanita itu. Ia pejamkan kedua matanya kemudian ia hirup oksigen sebanyak-banyaknya dengan mata tetrpejam seolah mencar sebuah alasan klise bagaimana ia agar tegar dalam hidupnya. Lama ia memejamkan mata seolah merasa hatinya merasa tenang. Hingga tidak terasa dirinya pun mulai bergerak dan mata itu ikut terbuka secara perlahan.

Apa yang dia lihat masihlah tetap sama. Sebuah gundukan tanah dengan pusara bertuliskan nama seseorag yang berarti dalam hidupnya. Lee Donghae. Begitu nama itu terpampang jelas pada pusara didepan matanya. Kwon Yuri orang itu, nampak memang masih larut dalam kesendirian yang ia lakukan di pemakaman tersebut.

“apakah aku jahat jika membencinya sebagai Yeoja yang telah menghancurkan kehidupan kita oppa?. Oppa bilang dia baik. Tapi mengapa oppa harus terluka?!. Dan Hana— apakah ia pantas disebut sebagai ibu yang selalu diagung-agungkan Hana?. Bahkan ia saja tak pernah menganggap Hana adalah putrinya?!.” Tampak lelhan air mata itu mengalir begitu saja, namun segera ia usap lagi air mata yang keluar. yuri tahu sampai kapanpun ia akan menangis menyesalinya semua tak akan pernah kembali pada seperti semula.

Puing-puing harapan kebahagiaan seakan musnah sudah saat sosok Hana tak mengerti apa-apa tentang kehidupan kecilnya. Jika sudah mengingat hal itu, Yuri pasti akan merasa ingin menangis. Ia ingat bagaimana wanita itu begitu mencintai dan dan meninggalkan Lee Donghae begitu saja. namun sekian tahun berlalu, bisakah Yuri sudah bisa menerima kenyataan tentang Yoona yang telah kembali lagi.

“tap—tapi dia menolongku oppa..” lirihnya berujar. Yuri masih saja menatap datar pusara didepan matanya. Saat dimana ia atak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini.Yuri menggigit bibir bawahnya bingung. Ia tersenyum getir memaksakan senyumannya, mudah sekali ia mengatakan itu. Bahkan luka dalam hati karena Yoona saja belum mengering, bagaimana mungkin ia bisa memaafkan seseorang yang menorehkan luka yang sama. Ia benci, Yuri membenci semua yang berkaitan dengan Yoona. Namun ia sadar, jika ia hanya manusia biasa yang sudah memiliki batas rasa marah dan benci. Tidak sepenuhnya ini kesalahan Yoona, tapi apa daya rasa benci itu terlanjur membekas dihati Yuri.

Masih coba Yuri kuatkan hati,nya saat kedua langkah kakinya menuntunnya menuju kesebuah tempat lapang, tempat dimana orang-orang untuk tidur abadi dan bertemu dengan Tuhan. Ia masih Nampak bergelut dengan hatinya saat kakinya terhenti disebuah tanah yang cukup luas. Tempat dimana banyak orang bersemanyam untuk tidur panjang dan bertemu dengan Tuhan Sungguh hebat sekali sketsa Tuhan yang telah digariskan untuknya, seolah tia rasakan tak memberikan ia waktu untuk bernapas dengan lega barang sedikitpun. Perasaan buruk yang tak mampu ia jabarkan lagi ketika semuanya harus dia hadapi dalam satu petikan jari. Semuanya harus ia jalani dan ia alami dengan begitu cepat seolah tanpa jeda. Sejak wanita itu hadir dalam hidup Donghae, meninggalkannya dan kembali lagi. Dan kali ini Yuri lah yang masih dihinggapi rasa ketakutan masa lalu itu.

Yuri arahkan pandangan matanya menatap sekasama pusara makam bertuliskan nama seseorang yang kini ada dihadapnnya. Yeoja itu menghela napasnya kemudian ia taruh sebuket bunga itu pada makam sang kakak.

“oppa..” panggilnya lirih. Bak semilir angin yang mungkin tak akan terdengar dengan jelas.

Mendadak alisnya bertaut singkat ketika ia lihat juga sebuket bunga mawar putih juga. belum lagi tanah pusara Donghae yang masih segar padahal ia tahu hampr sebulan ini ia bahkan tak mengunjungi makam tersebut, dan meskipun ini musim dingin, tapi tak mungkin tanah pusara itu sesegar ini.

‘apakah ada yang datang sebelumnya?.’

Pikirannya langsung tertuju pada sebuket mawar putih yang setengah layu dihadapnnya. Ini tidak mungkin terjadi. Tidak ada yang tahu makam Donghae selain dirinya, Woohyun, Kristal dan kerabat dekat meraka dan tentunya Choi Siwon selaku sahabat Donghae dimasa lalu. Jika para kerabat dekatnya tidak mungkin. Karena woohyun dan Kristal sedang ada dirumah sakit, menunggu Hana. Tidak mungkin pula Choi Siwon jika datang membawa bunga mawar putih, karena yang ia tahu jika Donghae selalu membeli mawar putih untuk wanita yang ia cintai semasa hidupnya. Tidak mungkin itu…tidak mungkin.

‘Tidak..pasti bukan wanita itu. Selama ini ia tak pernah memberitahu jika Lee Donghae telah meninggal. Dan jika pun tahu pasti nyonya berhati iblis itu itu tak akan pernah memberitahukannya pada Yoona. Lalu siapa yang menaruh mawar putih di pusara milik Donghae tersebut?.,

Pikiran jelek itu segera Yuri hilangkan dari dalam benaknya. Tidak mungkin dia mengunjungi makam Donghae. Tidak mungkin!. Karena kematan Donghae sama sekali tidak diketahui olehnya. Ia sadar kemungkinan itu sangatlah kecil. Tida mungkin Im Yoona yang mengunjungi makam Donghae, itu mustahil. Selama ini bahkan sama sekalipun tak pernah ada yang memberitahukan kematian Donghae pada dirinya.

Air mata itu tiba-tiba menetes dari sudut mata Yuri. Ia hapus secara perlahan tanpa ia mau untuk bersuara jika ia memang tengah menangis sakit. a sudah terlalu lelah. Ini sudah cukup. Yuri harus tahu apa yang terjadi setelah ini dan resiko apa yang didapatnya. Hamir 7 tahun yang lalu sejak perpisahan yang menyakitkan itu untuk selamanya membuat hatinya terus meraung. Perasaannya lalu teramat terhimpit dan dirundung rindu yang terus bertambah tiap detiknya. Ia lelah berpura jika dirinya baik-baik saja namun jauh dibalik itu ia sesungguhnya rapuh.

Kedua telapak tangan itu akhirnya mengusap batu nisan dan membersihkan dari debu  yang dibawa oleh angin musim semi hinggap disekitar batu nisan tersebut. sementara sepasang matanya meneteskan cairan yang sama beningnya. Pertahanannya runtuh.

“oppa..aku minta maaf jika tak becus menjaga Hana hingga ia menderita penyakit mematikan seperti itu. Tapi kabar bagusnya adalah jika Tuhan masih memberikan kesempatan hidup bagi Hana. Hana hingga hari ini, meski ia gagal mendapatkan donor jantung itu..” Yuri menjeda ucapannya. Ia kemudian menatap keatas langit.

“sejak dulu aku sudah menutup masa-masa kelam itu. Meski bukan aku yang secara langsung tersakiti. Tapi aku merasa luka hati karena kekecewaan oppa, Yuri bisa merasakannya oppa. Meski secara langsung tak mengalaminya. Aku mencopa menutup kisah kelam itu dan melupakan apapun yang kau alami karena aku yakin itu adalah takdir Tuhan, agar Hana tak tersakiti lagi sepertimu oppa. Tapi kau tahu?.” Yuri menghela napasnnya pelan. Pandangan matanya ia bawa ntuk menatap pusara Donghae.

“ternyata Diam dan mencoba berpura-pura berbahagia serta melupakan masa lalu itu hanya memperburuk keadaan saja. Aku lelah oppa untuk lari dari masalah.”

“kau benar. Jika lari dari masalah dan menutup kisah sedih itu tak akan pernah kita mendapat ketenangan hidup. Setidaknya membuat hidupku menjadi lebih baik dan itu memang nyata terjadi, tapi hanya untuk sementara waktu saja. “

“oppa..” Yuri tahan napasnya. Ia kemudian melenguh pelan seakan melambangkan kegelisahan batinnya, merasa apa yang akan ia lanjukan ucapannya justru akan masuk pada rasa kekhawatiran yang sangat ia rasakan.

“Bagaimanapun aku hanya mausia biasa yang sudah digariskan untuk Tuhan menjalani takdirku sendiri. Dan aku tak bisa memungkiri takdir jika suatu saat Hana akan menanyakan siapa ibu kandungnya. Dan aku tentunya akan menjadi manusia nista jika mengingkari takdir jika Im Yoona adalah ibu Hana. Orang yang kau cintai sekligus orang yang mengecewakanmu.”

Ia kembali usap wajahnya. Tampak terlihat frustasi yang mendera batinnya yang tak juga berakhir karena tak ada jeda sama sekalipun ia diberi waktu untuk dapat menghela napas lega ketika dirinya merasa perlu untuk hal itu.

“dan bisakah aku meminta bantuanmu oppa?.” Yuri hadapkan wajahnya pada langit yang sedikit cerah itu. Ia menerawang jauh. Dan sunggingan senyum kecut itu coba ia paksakan. Meskipun mustahil untuk meminta bantuan pada orang yang telah tiada. Rasanya ia ingin berteriak memanggil nama Donghae dan mencari kejelasan atas semua ini. Tapi sekencang apapun ia berteriak, sepilu apapun ia merintih, bahkan meskipun ia berlutut dan mengiba, sosok itu tak bisa menjawab. Tapi Yuri percaya jika pasti semuanya aka nada titik terangnya.

“tolong bantu aku mempertemukan Hana pada ibu kandungnya. Dan oppa kuatkan hatiku untuk memaafkan Im Yoona dan juga oppa harus menyakinkanku jika Im Yoona tak akan menyakiti Hana. Sama seperti ia menyakiti oppa. Aku mohon oppa tolong katakan pada Tuhan agar membuka hati wanita itu agar dengan lapang dada menerima dan mengakui Hana sebagai putrinya. ”

Konyol dan telalu terjebak dalam halusianasi yang semestinya ia sendiri tak mempercayainya. Yuri sadar. Dan karena begitu bodohnya dia tahu hanya harapan kosong karena meminta pada seseorang yang telah mati. Nalurinya berkata jika dia memang perlu melakukan ini. setidaknya berbicara dengan makam mendiang Donghae ia bisa menguatkan hatinya dan membuka pikirannya agar bisa tetap kuat sampai dia bisa bertahan dalam masalah oelik yang ia hadapi.

“hanya itu oppa.” Ucapnya terakhir sebelum ia melangkah membawa tubuhnya untuk bergerak menjauhi makam tersebut. “Tolong katakana pada Tuhan, untuk membuka Hati wantia itu agar tak menyakiti Hana. Saat aku mengatakan kenyataan yang sebanenarnya. Aku hanya tak ingin menghancurkan harapan dan semangat hidup Hana.”

Yuri berikan senyuman tipisnya bersamaan dengan ia menghapus sisa-sia air mata nya yang sediri tadi masih mengalir deras tanpa jeda. Ia membungkkuk pelan untuk menghormati mendiang kakak lelakinya lalu ia mulai tegakkan kembali ubuhnya, berrbalik arah dan berjalan pergi meninggalkan pusara Donghae. Yuri melangkahkan kakinya dengan tenang dan pelan, sedamai desau angin yang kini menemaninya berdiri di tanah lapang degan rerumputan yang tumbuh.

Klimaks masalah pasti akan mencapai penuruannya, meski terkadang tak mudah untuk seorang manusia dapatkan. Ketika ia manapakki jalan setapak, ia merasakan sesuatu yang berbeda. Saat dirinya berhenti untuk membelokkan arah, seseorang yang sebenarnya tengah ia beri unek-unek curahan hatinya tengah datang dari arah lain ketempat dimana ia tadi berada. Tempat dimana ia tidur abadi. Lee Donghae mendengar semuanya, ia pancarkan senyuman tulus itu pada adik perempuan satu-satunya yang ia sayangi. Meski berbeda dunia, namun ia dapat berkomunikasi dengan batinnya.

‘Semua akan berakhir dengan bahagia jika engkau percaya. Kau hanya perlu bersabar untuk membuka hati dan menguatkan hatimu. Dia tidak membenci kalian, dia hanya belum membuka matanya. Tapi oppa akan selalu berada diamping kalian sampai kapan pun. Sampai kalian menemukan kebahagiaan. Oppa merindukanmu Kwon Yuri. ‘

‘percayalah’

*****

Kedua kaki itu masih saja melangkah berjalan sepanjang koridor, wajah lelahnya tak begitu terlihat saat dirinya selalu menyunggingkan senyuman manis dari bibirnya. Sudah sore, matahari bahkan sudah berganti dnegan malam yang berbintang dengan salju tak turun malam ini. . Dapat ia lihat jika bulan sangat bersinar terang diluar sana. Masih begitu banyak orang-orang beraktivitas namun tak membuat ia merasa hangat atau ikut bising dengan segala yang tersaji didepan penglihatannya. Semuanya terasa masih sama. Sepi. Lelaki itu, Kim Jongwoon masih bergelut dengan pemikirannya. Bagaimana tidak saat Yuri gantungan harapan kepadanya ia malah mengecewakannya. Donor jantung untuk Hana, ternyata tak cocok dengan respon aglutinogen darah pada Hana.

“Yuri tidak membencimu Kim Jongwoon-sshi. Hanya saja rasa shock yang ketika itu Yuri dapatkan. dengan membuat ia kehilangan harapan yang membuatnya sedikit merasakan kelegaan itu akhirnya pupus sudah. Dan kehilangan harapan atas kesembuhan Hana, Yuri sedikit emosi dan tak terkontrol. Walau Yuri masih saja diam dengan kemelut perasaannya tapi percayalah..ini bukan kesalahanmu. Ini maslaah waktu, kapan kalian akan mendapatkannya donor jantung yang cocok untuk Hana. Tapi dibalik semua itu aku yakin jika Yuri sudah menerimanya dengan ikhlas dan lapang dada.

Kim Jongwoon, dokter muda masih saja berjalan santai—ia menghembuskan napas beratnya meski pikirannya msih saja berkemelut memikirkan Yuri dan Hana. Hampir seminggu sudah lelaki itu tak bertemu sapa dengan Yuri sejak ia mengatakan jika donor jantung yang ia harapkan tak cocok untuk Hana membuatnya sedikit khawatir. Takut jika Yuri belum dapat memaafkan semua kesalahannya. Tapi ucapan Nam Woohyun tempo hari mampu membuatnya menghela napas lega. Lelaki itu bersyukur jika kenyataannya Yuri sudah bisa berlapang hati dapat menerima takdir yang terjadi.

Baru saja kakinya menapakki belokkan pada koridor dan mengarahkan langkahnya menuju lift, langkah kaki itu terhenti begitu saja saat kedua bola mata Jongwoon berpusat pada seseorang yang baru saja keluar dari lift. Jongwoon terhenti diam saat ia lihat seseorang yang tak salah lagi jika dia adalah orangnya. Ia cukup terkejut melihat sosok itu. Hatinya mulai bertanya ada maksud apa orang itu ada disini dan muncul kembali dalam kehidupan Jongwoon. Pijakan kakinya berhenti lemah saat sosok yang dipandangnya juga memandang seksama kearah Jongwoon. Bibir wanita itu dia gerakan guna mengukir senyum pada Jongwoon.

Dia..Jung Nicole kembali lagi dalam pandangan Jongwoon.

“K—kau..” lirih Jongwoon.

“Jongwoon…Kim Jongwoon.”

“Nicole..”

**

Secangkir teh hangat itu diletakkan tepat didepan wanita dengan penutup kepala dan wajah yang terlihat sedikit lemah. Wanita itu bahkan menggunakan kursi roda untuk membantunya untuk berjalan. Dari sudut pandang mata yang lain sesosok pelayan bertubuh kurus itu lalu menyodorkan secangkir kopi dan meletakkannya dihadapan pria berambut hitam—Kim Jongwoon. Sesaat setelah membungkuk sopan, dia berlalu pergi meninggalkan pria dan wanita tadi yang kembali bertatapan canggung lagi.

“Jadi..”

Jongwoon, lelaki itu menatap datar wanita yang taka sing baginya. 6 tahun berlalu, namun tak pernah terbayangkan jika mereka akan bertemu lagi. Jung Nicole, wanita yang dijodohkan dengannya sebelum insiden kecelakaan beruntun yang ia alami dulu. Masih sama, suara Nicole tak asing baginya—yang berubah hanya tubuhnya yang terlihat kurus dan pucat seolah menderita penyakit sudah lama. Mata Jongwoon menatap lurus kearah Nicole namun pikirannnya masih berkutat dengan menyusun kalimat dalam otaknya.

“sudah berapa lama ya kita tidak bertemu?.” Nicole sungingkan senyuman tipisnya berusaha terlihat tidak apa-apa didepan lelaki bermarga Kim tersebut, meski terkesan lemah.

Jongwoon menaikkan sebelah alisnya, menghela napas panjang untuk mencoba merilekskan diri dan hanya bisa tersenyum kaku membalas wanita itu. “Entahlah, aku tak pernah menghitungnya. Terakhir kali kita bertemu setelah aku secara paksa memutus hubungan kita. Dan tentunya insiden kecelakaan itu.” Desahnya lirih pada akhirnya.

Nicole mengulum senyum. “tak apa..itu sudah menjadi masa lalu dan semuanya sudah tutup buku. So, How’s Life Now?.” Wanita itu kembali meletakkan teh hangatnya dan menatap intens Jongwoon.

“baik..sama seperti yang kau lihat. Ternyata Tuhan memberikan keajaiban padaku untuk bisa mensyukuri hidup dengan selamat dari kecelakaan maut itu.”

“syukurlah..aku berharap semoga bahagia selalu setelah hubungan kita berakhir..” lirihnya.

“maaf—untuk semua itu..A—ku..”

“sudahlah. Tidak usah diungkit lagi.”

Hening untuk beberapa detik Jongwoon edarkan pandangan matanya untuk memutar otaknya—melanjutkan kembali pembicaraan dengan Jung Nicole. Namun sebelum Jongwoon melanjutkan pembicaraannya, Nicole justru terlebih dahulu mendahuluinya. “ternyata setelah 6 tahun tak bertemu, kau masih tetap saja sama. Aku pikir kehidupanku akan memburuk setelah kita sama-sama memutuskan hubungan kita.” Lanjutnya.

Jongwoon tesenyum kecil, semuanya sudah selesai, menutup cerita lama tanpa meninggalkan bekas luka bagi wanita yang tak pernah ia cintai namun pernah hadir dalam hidupnya beberapa tahun lalu. “Ah, I can see it.” Ia terkekeh kecil mencairkan suasana menjadi lebih hangat.

“lalu bagaimana dengan Yoona?.”

Lagi-lagi lelaki itu dibuat heran oleh Nicole, ia menaikkan alis dan membulatkan mata saat mendengar nama itu keluar dari mulut Nicole. Dengan penuh keheranan dia balas bertanya, “Maksudmu?”

“maksudku..apakah kau dan Yoona sudah eerrr..menikah?.” tanya Nicole hati-hati. mengira-ngira apakah kalimatnya cukup sopan dan pantas untuk dilontarkan pada Jongwoon. “bukankah kalian berdua cukup dekat dan ini sudah 6 tahun, bagaimana kehidupan pernikahan kalian?.”

Jongwoon yang sedang meminum kopinya nyaris tersedak. Nyaris. Pria itu terbatuk pelan dan menatap Nicole lagi dengan ekspresi tak percaya, “Istriku? Jadi, kau mengira dia menikah denganku?.” Butuh waktu lebih dari lima detik bagi Nicole untuk mencerna kalimat Jongwoon. Untuk sesaat, wajahnya terlihat bingung. Hingga Jongwoon yang tertawa menyadarkannya dari lamunan.

“haha..astaga. ada-ada saja. sudah lama kita tak pernah mengobrol seperti ini. Sejak kapan aku menikah dengan Yoona. Iya, memang benar aku akan menikah tapi tidak dengan Yoona. Kami hanya berteman saja.”ujar Jongwoon disela-sela tawanya yang renyah.

Nicole mengerutkan kening, masih tak mengerti, “Lalu?, jika kau tak menikah dengan Yoona. Apakah Yoona kembali pada lelaki itu?.”

Uhukk..kali ini Jongwoon nyaris tersedak lagi?. Ucapan Nicole berambigu tak jelas, ‘kembali pada lelaki itu?’ maksudnya?. Lelaki siapa?. “nugunde?. Lelaki?. Maksudmu?.” Tanya Jongwoon penasaran. Kali ini giliran Nicole yang menyipitkan mata, seolah menginterogasi dengan teliti. Oh, well ternyata dugaan wanita bermarga Jung itu salah total. Dia pikir 6 tahun berlalu mereka berdua—Jongwoon dan Yoona bisa menikah.

“hmmm..lelaki itu. Lelaki yang setiap hari menjenguk Yoona setelah insiden kecelakaan itu.” Jawab Nicole santai. Sebaliknya dengan lelaki itu, Jongwoon menatap Nicole dengan pancaran mata penuh tanda tanya.sorot matanya memandang tajam Nicole, seolah butuh penjelasan saat ini juga.

Hening, gelisah, bingung bercampur menjadi satu saat hatinya bergetar hebat menanti sebuah kepastian tentang bagaimana kondisi orang yang berada didalam ruangan dengan berbagai alat medis tersebut. Ia sedikit terpukul dengan kejadian yang menimpa kedua orang yang paling dekat dengannya. Wanita campuran Korea-Amerika bermarga Jung itu harus segera disuguhi kenyataan yang secara cepat berlalu dalam hidupnya. Sangat pahit dan belum dapat ia terima dengan hati lapang. Kedua orang itu Kim Jongwoon dan Im Yoona meregang nyawa bersama diantara garis hidup dan mati seseorang. Jung Nicole meremas rambut pendeknya frustasi, tak tahu harus melakukan apa. Ia pejamkan matanya seraya berdoa kuat semoga harapannya menjadi kenyataan. Berharap akan menjadi keyataan.

“Im Yoona!..”

Nicole menolehkan matanya sesaat, saat melihat lelaki itu dengan cepat berlari mengikuti Yoona yang hendak masuk kedalam ruang operasi tersebut. Im Yoona masih tak sadarkan diri, sedangkan lelaki itu berlari sekuat tenaga sebelum pitu ruangan operasi tertutup secara otomatis saat pasien masuk. Nihil ternyata kecepatan berlarinya tak bisa menyamai pergerakan dokter yang mendorong ranjang Yoona.

“Im Yoona!!..” lelaki itu sekuat tenaga menggedor pintu berlapis kaca ersebut tanpa mempedulikan kondisinya yang lemah.

“Yoong..Yoong..ini aku Yoong!!. Aku disini!. Aku akan disini!.” Teriaknya kembali tanpa mempedulikan kondisi tubuhnya yang mulai memburuk.

“kau harus selamat Yoong!. Aku disini..aku menyusulmu!, lakukan dengan baik!. Kau harus melakukannya!. Kau dengar itu Yoong?!!.”

Mencoba menguatkan diri, Nicole memberanikan diri berjalan pada lelaki yang terlihat frustasi itu, langkah kakinya berusaha mendekati secara perlahan agar dia tidak penasaran akan sosok yang sudah memanggil nama Im Yoona sebanyak berkali-kali itu. Belum selesai ia membalikan tubuhnya untuk melihat siapa orang yang sudah memanggilnya, sebuah tangan dengan secara tiba-tiba menyentuh pundaknya dan itu otomatis membuat dirinya menoleh kearah orang itu.

“duduklah Jung Nicole. Biar bibi saja yang menegur lelaki itu!.” Perintahnya. Wajah itu memberi tatapan bertanya melihat keadaan dirinya sekarang. Bisa dipastikan jika kini wajah wajah bibi bermarga Kwon tersebut berubah ekspresi menjadi dingin, terlihat sedikit tegang dan itu jelas terlihat aneh bagi Nicole.

“aku tak menyangka setelah kejadian itu kau masih berani muncul dihadapnku dan putriku?. Ternyata telingamu bagus juga, kau bisa tahu dan menyusl putriku higga keluar korea!.” Nyonya Hyorin mulai melangkah mendekat dan menegur sinis lelaki itu.

“Kwon Hyorin-sshi…” lirihnya.

“sudah kuduga pasti ada sesuatu yang buruk denganmu. Sudah kubilang jauhi dia!. Kalian berdua sudah tidak ada hubungan lagi, semuanya sudah berakhir!!. Kau dengar itu bodoh!!.” Pekiknya sedikit meninggi.

“nyonya aku tahu aku salah tapi bagimanapun Yoona……”

Omongan itu otomatis terpotong kembali saat mata merah penuh amarah itu menatap benci pria dihadapannya, seakan ia adalah sampah bagi wanita paruh baya tersebut. “Kkk—au..jangan pernah kembali ke kehidupan Yoona. Semua sudah berlalu, kau hanya akan member petaka pada keluarga kami..” lirihnya menusuk tajam.

**

Tetes air mata itu masih saja mengalir tanpa diperintah meski cairan asin itu telah kering untuk bisa memproduksinya.namun rasa sesak dalam dirinya masih kental terasa. Bagaimana tidak, saat secara kasat maa tersaji pemandangan secara real orang yang dicintainya terbujur kaku dengan berbagai alat medis menempel ditubuhnya. Ia tak menyangka dibalik kesedihan yang hampir satu tahun menimpanya akibat luka yang ditinggal oleh wanita itu masih terselip cinta yang tulus—masih ia berikan pada wanita bermarga Im tersebut. Namun takdir siapa yang bisa menantangnya atau merubah jalan Tuhan untuk umatnya tersebut. Meraka akan berpisah sebentar lagi, bukan bercerai seperti yang telah mereka lakukan, namun berpisah untuk selamanya di dua alam yang berbeda, terselip rahasia takdir yang akan membawa jalan kehidupan mereka. Dan tak dir mereka adalah untuk berpisah.

Manik mata beriris hitam itu masih saja tetap berfokus pada sosok Yoona yang terbaring lemah. Ia masih saja mematung dikursi sisi ranjang. Kondisi Yoona masih belum tersadar setelah pendarahan perut serta benturan keras yang menimpa dirinya dan terbilang kritis diantara garis kematian dan kehidupan. Yoona masih memejamkan mata dengan berbagai alat medis yang menempel pada tubuhnya. Ia tahu jika Yoona saat ini mengalami kesakitan yang teramat sangat.

“Mianhada..” lelaki itu menghela napas berat.

“Yooong-ah…Im Yoona.” Lirihnya memanggil, namun yang dipanggil masih terbaring diam, yang ada hanya suara alat kardiograf yang menampilkan detak jantung Yoona—wanita yang dicintainya. Dan lelaki itu tahu jika Yoona masih hidup.

“kau selalu terlihat cantik meki terbaring lemah seperti ini. Kau tahu wajahmu sama seperti wajah putri kita. Dia begitu cantik saat tersenyum. Kau harus melihatnya walau hanya sebentar saja.” pria itu menahan rasa sesak didada dan beberapa kali tetes Kristal bening itu mengalir begitu saja di pipinya.” Yoona masih tak menunjukkan reaksi apapun. Mata wanita itu masih terpejam damai.

“Yoong-ah..mungkin ini adalah pertemuan terakhir kita. Aku harus pergi ke suatu tempat yang jauh dan tak akan pernah kembali lagi. Aku benar-benar minta maaf tak pernah bisa membahagiankanmu. Terlambat memang aku mengatakan ini, tapi keputusanmu tepat untuk berpisah denganku. Aku akan meninggalkanmu untuk selamanya, tinggal waktu saja yang berbicara kapan aku pergi untuk selamanya. Aku minta maaf untuk semuanya.” Ucapnya terisak sambil menggenggam tangan pria itu.

“satu hal yang pernah aku tahu dan aku yakini, aku tahu jika kau tak pernah membencinya. Kau dan dia punya ikatan yang kuat, sekuat apapun akau menolaknya kau tak bisa memungkiri jika dia adalah bagian dari hidupmu. Jangan lupa, kau jangan pernah melupakannya, karena suatu hari pasti kau merindukannya.” Ia elus wajah Yoona yang begitu teduh, berharap wanita yang memintanya untuk berpisah tersebut segera bangun dari tidur panjangnya. Perlahan wajah lelaki itu mulai mendekat dan berbisik lirih ke telingan Yoona. “Aku mencintaimu…aku sangat mencintaimu..sekalipun perasaanmu berubah rasa cinta itu masih sama.” Bisiknya.

           Air mata itu semakin mengalir deras membasahi pipi. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum kembali berbisik pada wanita itu. “maaf untuk semuanya..selamat tinggal Im Yoona. Aku mencintaimu..” lekas lelaki itu menggenggam tangan Yoona erat dengan tangisan pilu yang keluar dari dalam hatinya.

            “aku mencintaimu Im Yoona.” Bisiknya sekali lagi seolah-olah ingin menyakinkan Yoona.

“Aku  akan selalu mencintaimu..dan aku titip hatiku untukmu.”

“Aku mencintaimu Im Yoona…” Bisiknya untuk kesekian kali seolah-olah ingin meyakinkan Yoona.

Dan saat itu juga, mata Im Yoona yang tengah terpejam erat meneteskan butiran-butiran bening itu dari matanya. Wanita itu menangis, seolah-olah bisa merasakan hangatnya ucapan dan genggaman tangan darinya. Dan lelaki itu tersenyum dengan mencoba menyeka air mata yang mengalir dari mata pria itu. Namun dibalik itu semua ia tak sadar jika masih ada orang yang mendengar dengan jelas ucapan pria itu. Dia—Jung Nicole, ia tak bisa menyembunyikan isakan tangisnya saat kata-kata tulus itu keluar begitu saja dari mulut pria yang baru saja dikenalnya. Ia terisak dengan air mata yang mengalir pula. Namun sudut hatinya masih menyimpan berjuta pertanyaan tentang siapa sosok lelaki misterius itu. Kenapa lelaki itu seakan menyesal akan cinta dan terlalu besar yang telah ia berikan pada Yoona.

Ekspresi itu terlihat tegang dalam menanggapinya, Kim Jongwoon masih terdiam ditempat saat lontaran rangkaian kalimat itu mengalir dengan jelas bagaimana kejadian 5 tahun berlalu itu keluar begitu saja dari mulut mantan kekasihnya itu. Bagaimana tidak, senyatanya ia sama sekali tak mengetahui kejadian itu saat dirinya juga terbujur kaku dirumah sakit dengan keadaan yang memprihatinkan pula.

“katakan siapa lelaki yang bersama Im Yoona itu saat dirinya terbaring sakit 5 tahun lalu?.” Kini Jongwoon mendongakkan kepalanya dan menatap mantan kekasihnya tersebut dengan jantung yang berdetak lebih cepat dan rasa cemas kini karena ingin tahu benar-benar menggerayanginya.

Masih berlanjut, lelaki itu tak sengaja memperhatikan jika ada sosok yang memandangi bahkan mengamatinya sedari tadi. Ia arahkan pandangan matanya memadangi sosok Nicole yang mencoba menutup mulutnya menahan tangis.

Excuse me for bothering you..” ucap Nicole sopan. Ia menghapus bulir air mata tersebut agar tak terkesan cengeng dihadapan orang lain, namun lelaki itu hanya menggeleng pelan sembari tersenyum kecil melihat gadis tersebut. Buru-buru ia mengulurkan tangannya “Jung Nicole..I’M very sorry cause bothering you.”

“Donghae..Lee Donghae..”

“dia Lee Donghae..”

Jongwoon membelakakkan matanya. “Do—ng—Donghae?.”

Kali puncak kesadaran Jongwoon menghilang dan terganti oleh rasa yang terlalu sulit diartikan. Secara tak langsung pertemuannya dengan Nicole sedikit membuka masa lalu dari keterkaitan hubungannya dengan Yuri dan Yoona serta kakak lelaki Yuri. Kini Jongwoon hanya bisa menatap kosong sekelilingnya. Tubuhnya seolah kehilangan keseimbangan hingga ia hanya bisa menatap lemah sosok didepannya kini. Jantungnya seakan berhenti saat nama orang itu terucap jelas dari mulutnya. Dengan sulit Jongwoon berusaha mendengut ludahnya. Mulutnya terasa kelu untuk kembali berucap. Dan saat itu juga, pandangannya mengabur.

“Kim Jongwoon..Jongwoon-aa..”

Jongwoon masih memejamkan matanya saat ia masih mencoba menahan air mata yang akan keluar dari pelupuk matanya. Otaknya masih terlalu sulit untuk menerima kenyataan baru ini jika semuanya salaing keterkaitan. Dengan sulit ia berusaha mendengut ludahnya. Mulutnya terasa kelu untuk kembali berucap.  Dan kini, yang bisa ia lakukan adalah membuka kejelasan masalah semua ini. semua tak seperti yang Yuri pikirkan, salah besar jika ia menyalahkan Yoona sebagai tersangka utama dalam kematian kakak lelakinya tersebut. Dan ia harus menjelaskan semua ini.”

*****

Pagi menjelang dan datang lagi tak ia pedulikan saat tumpukkan pekerjaanya masih teronggok didepan matanya. Ia kerjakan pekerjan itu dengan super duper cepat. Im Yoona, wanita itu bekerja dengan cepat sekali, map-map laporan satu persatu di selesaikan dengan penuh semangat. Tak ada waktu barang sedikitpun untuk beranjak dari kursi kerja panas yang ia dudukki seolah tengah dikejar waktu. Besok semuanya harus terkumpul dan harus dibagikan pada direktur eksekutif masing-masing pemegang saham. Satu panggilan telepon yang tertera pada layar ponselnya bahkan tak digubrisnya sama sekali. Hingga panggilan kedua, ketiga dan keempat tak ia respon sama sekali.

Mata itu akhirnya melirik siapa yang sedari tadi menggangu dengan panggilannya Melihat nama si pemilik panggilan ponsel tersebut lewat layar ponselnya, lantas ia segera bereskan semua laporan tersebut. Yoona menghela napasnya sejenak lalu menghentikan pekerjaannya. Ia bawa setumpuk map itu yang hampir selesa lalu menyerahkannya pada sekeretaris yang berada diluar ruangannya. Niatnya hanya ingin meletakkannya saja, tapi ternyata sekeretarisnya sudah datang.

“Hwayoung-sshi!. Kau sudah datang?!” panggilnya pada seorang wanita yang kini baru saja duduk didepan meja kantor dan mulai menghidupkan layar monitor didepannya. Satu tangan Yoona ia gunakan untuk menekan angka pada layar touch screen yang ada didalam ponselnya.

“omo?!. Sajangnim?!. Apa anda semalaman menginap disini dan tidak pulang?.” Tanya wanita lajang itu yang mengamati Yoona, saat ia melihat mata wanita itu sedikit hitam dan berkantung.

Yoona tersenyum saja menangapinya yang mengisyratkan jawaban ‘ya’ “gwenchana..aku pulang dulu, dan tolong kau yang mewakiliku mengikuti rapat!.” Perintah Yoona.”

“tapi..tapi..”

“tak apa. Pengambilan keputusan masih rapat minggu depan. Ini hanya presentasi saja. dan aku yakin kau bisa mempresentasikannya.” Ujar Yoona tersenyum dan beralih pada ponselnya kini.

“yeoboseo..”

Suara diseberang sana mulai terdengar , benar dugaan Yoona jika suara cempreng ala beruang mengamuk sedang berkicau bak tak punya titik koma dalam pembicaraan. Dengan nada malas Yoona akhirnya menjawabnya.

“hmm…aku akan pulang dalam waktu satu jam lagi.”

“aku sibuk..bye..”

Langkah kaki itu ia gerakkan menelusuri koridor gedung perkantoran yang cukup megah itu. Ia berjalan dengan wajah yang lelah, hampir dua hari ini ia tak tidur karena memikirkan pekerjaan yang terbengkalai. Dibukanya secara kasar pintu mobil hingga berdebam cukup keras dan melajukannya secara kencang dalam suasana sepagi ini. Ia sudah stress ditambah lagi si tua sialan itu. Andaikata dia bukan ibu kandungnya Yoona akan membunuhnya saat ini juga.

Tanpa sadar traffic lamp kini sudah berubah menjadi hijau, sesaat Yoona tersadar kala bunyi klakson dibelakang, hingga akhirnya lamunannya buyar seketika saat pikirannya masih saja tertuju pada sang ibu yang memaksanya pulang saat ini juga. Ia pun segera menarik tuas rem sebelum ia diteriaki oleh pengemudi di belakangnya. Helaaan napas panjang untuk merilekskan diri Yoona coba lakukan. Ketika ia melewati kawasan Myeongdong yang cukup ia pusatkan perhatiannya pada sebuah toko boneka yang cukup ramai didatangi oleh pembeli. Entah mengapa hatinya ingin sekali masuk kedalam sana. Ia ingat jika Hana sangat menyukai boneka.

Tunggu dulu. Mengapa ia tiba-tiba mengingat Hana?. Ah..tidak..tidak, mungkin ini hanya sekedar rasa empatinya pada Hana yang sedang sakit dirumah sakit.

Hari terakhir dirumah sakit membuat Yoona akhirnya segera merapikan dan mengemasi semua pakaian yang ia bawa saat dirumah sakit. wanita itu masih berkutat dengan ponselnya untuk menunggu seorang Choi Siwon menghubunginya. Hah, daripada ia bosan didalam ruang kama. Lebih baik ia berjalan-jalan sbentar disekitar taman rumah sakit. Edisi memikirkan Jongwoon ia pending dahulu. Cukup muak ia memikirkan lelaki itu yang selalu mengganggu pikirannya.

Cukup Yoona alihkan pandangan matanya saat ia tepat dapat melihat dengan jela siapa sosok kecil yang berada ditaman rumah sakit dengan menggunkanakan kursi roda, terduduk tersenyum sambil memainkan gelembung sabun yang berada digenggaman tangannya. Ia yakin jika yang dilahaynya tak salah. gadis kecil yang Yoona lihat adalah Hana. Kwon Hana. Putri dari Kwon Yuri.

“annyeong..” sapanya halus. Gadis kecil itu spontan menengokkan matanya menghadap siapa yang kini memanggilnya.

“ahjummanim..”

Tak salah lagi dia adalah Kwon Hana. Gadis kecil yang akhir-akhir ini ia rindukan.“hai Hana..”

“wae ahjumma disini?. Apa ahjumma sedang sakit?.” tanya Hana polos. “aniyoo. Hanya sakit ringan dan hari ini boleh pulang.” Yoona membari jeda untuk omongannya lalu melanjutkannya kembali. “ kau juga sakit?. kalau boleh ahjumma tahu, kau sakit apa Hana?.” Senyuman cantik itu ia dipersembahkan Hana untuk wanita bermarga Im tersebut. Entah mengapa hati Yoona merasakan rasa jika ia bisa melihat bayangan dirinya dalam diri Hana. Seolah bagai cerminan dalam dirinya terlihat pada sosok Hana.

Mendadak Hana tertunduk lesu wajahnya berubah menjadi sendu. Tapi gadis kecil itu bukanlah tipikal orang yang suka mengumbar masalah pada orang lain. Sudah cukup ia merepotkan Yuri dan Jongwoon dalam penyakitnya, kini ia tak mau melihat orang lain sedih lagi. Ia mencoba tersenyum. “Hana tidak apa-apa ahjumma. do’akan saja semoga Hana cepat sehat kembali.”

“iya. Pasti ahjumma do’akan.”

“kau bisa berjalan?.” Yoona tepuk kedua pahanya yang merapat dan melambaikan tangannya pada Hana. Seolah memberi isyarat pada gadis kecil itu untuk berdiri dari atas kursi roda dan duduk dipangkuannya.

“gomawo ahjumma.”

“kau suka meniup gelembung?.” Hana mengangguk lalu kembali memainkan gelembung sabun dengan wajah lucu yang ia miliki. Sementara Yoona hanya bisa menumpukkan dagu pada kepala Hana, menyesap rambut gadis kecil itu lalu matanya terpejam menikmati angin musim semi yang menerpa mereka berdua.

“kau mau balon?.” Tawar Yoona lagi

“ahjumma!. Bisakah kau tidak berkata dengan kau mau, kau suka, dan kau bisa?!. Ini sudah ketiga kalinya ahjumma berkata seperti itu?!.” Hana merengut menggerutu sebal. Lalu turun dari pangkuan Yoona dan berjalan kearah lelaki yang kini tengah memegang balon. Ia ambil tiga balon dan duduk kembali disamping Yoona lalu menyodorkan satu balon untuk Yoona.

“ini untuk ahjumma.”

“eh..”

“Ahjummanim..kau tahu jika balon bisa menyampaikan rasa rindu kita dan apapun yang kita inginkan tersampaikan?.” Wanita itu menggeleng lemah tanda tak mengerti.

“waktu itu eomma pernah bercerita jika Appa Hana pernah menggunakan balon untuk menyampaikan harapan dan permintaannya. Nah, sekarang Hana ingin memberitahu pada ahjumma bagaimana agar keinginan kita terwujud.” Hana memeberi jeda untuk omongan kritisnya lalu menadahkan tangan tepat didepan muka Yoona. “pinjam pulpen dan minta kertas!.”

“kau menuliskan apa?.”

“appa..Hana menuliskan nama Appa Hana. Dan satu lagi untuk eomma yang pernah melahirkan Hana.” Tukasnya singkat. “silahkan ahjumma menuliskan harapan ahjumma.”

            Mereka duduk bersama dibarengi percakapan ringan yang seringkali membuat mereka harus tergelak secara bersamaan, tertawa ringan bersama yang membuat Yoona sungguh merasakan sesuatu yang ia belum pernah rasakan sebelumnya. Sudut hati keduanya pun ikut menghangat saat itu juga. Antara percaya dan tidak, atas ketidaksengajaan ini. Sungguh tidak mereka sangka. Namun kembali, kuasa Tuhan memang tidak akan ada yang bisa untuk diukur. Meski keduanya tak mengetahui. Tapi ia yakin pada diri Hana-lah Yoona seakan menemukan sebuah kasih sayang yang pernah hilang. Sungguh ia sangat menyayangi Hana, meski secara singkat mereka baru saja bertemu.

Wanita itu segera menghilangkan lamunannya lalu menepikan mobilnya dan keluar dari mobilnya bergegas menuju toko yang baru saja menarik perhatiannya. Sebuah boneka Teddy Bear yang memakai baju Isdangui berwarna merah muda (baju kebesaran ratu pada zaman Joseon), ia mengambil boneka tersebut dari etalase dan tersenyum. Boneka itu seperti lambang keluarga, dengan seorang putri kecil berada ditengahnya. Hal apa yang tiba-tiba saja melandasi pikirannya hingga Yoona memgagang boneka itu dan memikirkan gadis kecil bernama Hana. Padahal mereka sama sekali tak ada hubungan darah. Entahlah. Mungkin hanya sekedar rasa empati saja.

Ketika Yoona baru saja mendudukkan dirinya, poselnya kembali berdring cukup menggganggu. Lagi..dan lagi…suara wanita tua sialan itu memanggilnya lewat ponsel selular, sudah 20 kali panggilan masuk kembali?. Yoona mendengus kesal lalu memasang Headset Wireless nya sambil setengah hati menganggkatnya. Baru beberapa menit menjalankan mobilnya Yoona tersentak seketika.

CKKKITTT..

Yoona mengerem mendadak mobilnya dan tubuhnya terpental kebelakang. Sesuatu seperti petir menembus telinganya seolah tubuhnya kaku seketika ditempat. “Mwoya?!!!.. P—ernikahan?. Mm—enikah?…Ming—Minggu depan?!!.” Kembali wanita itu memekik tak percaya dengan apa yang baru saja terlontar dari mulut nyonya Kwon saat dirinya berbicara tentang pernikahan.

‘Menikah?. Minggu depan?. Dengan lelaki itu?.’

Saat itu juga Yoona merasakan pikirannya kosong. Diantara berbagai perasaannya bercampur di benaknya, sepertinya rasa tidak percayalah yang paling mendominasi. Haruskah ia menikah secepat ini?. ia belum bisa mencintai lelaki itu saat dirinya masih mencari jati dirinya di masa lalu dan terbelenggu dalam penjara cinta Jongwoon. Tanpa ba-bi-bu lagi Yoona segera menarik gas mobilnya menuju kesebuah tempat. Meminta klarifikasi lebih lanjut pada lelaki itu.

**

Suasana Hening dan diam itu tercipta begitu saja saat keduaanya hanya bisa duduk berhadapan didalam sebuah ruangan besar tersebut. Im Yoona masih saja belum dapat perasaan itu Yoona redakan akibat berita shock yang baru saja ia dengar dari sang ibu beberapa menit lalu tentang rencana pernikahan yang akan dilakukannya dengan pria yang kini tepat didepannya.

Bola matanya ia jelajahi untuk sekedar menatap secara bergantian pria bermarga Choi tersebut dan benda-benda disekitarnya—mencoba menahan rasa gugup yang mendera saat ia akan berbicara. Dalam hati wanita itu mencoba untuk menguatkan diri untuk berbicara. Ia harus berani karena ia tak mungkin membiarkan begitu saja masalah ini semakin berlarut. Ini gila jika jika pernikahan itu hanya berdasarkan pihak dari kedua orang tua mereka. Ini pernikahan paksaan.

Yoona paksakan dirinya untuk membuka suara, memulai pembicaraan, “ini semua tentang kabar pernikahan yang akan kita lakukan.”

Well…tak salah lagi, tebakan melalui pemikiran lelaki bernama Choi Siwon tersebut tepat sasaran. Seperti yang ia duga wanita itu pasti akan langsung datang ke apartemennya, meminta klarifikasi lebih lanjut perihal pernikahan mendadak mereka. “aku tahu kau pasti terkejut dengan kabar itu.” Jawabbnya tenang.

Yoona mengangguk lemah. “entahlah. Terlalu rumit jalan hidupku. Rasanya aku ingin mengakhiri hidupku saat ini juga.” ia memberi jeda sejenak pada lontaran kalimat pembicraannya, berjalan pelan mendekati jendela besar yang terbuka karena terpaan angin yang baru saja melintas.

“aku tahu kau sama juga menolak pernikahan ini. benarkan?.” Yoona beujar pelan mencoba menahan suara lemahnya. Mungkin tebakanya tak ada salahnya juga, mengingat jika lelaki itu juga tak pernah memberikan respon jika menerima kehadiran Yoona dalam hidupnya?. Toh, keduanya juga sama-sama menolak atas pernikahan berlandaskan bisnis ini.

Siwon menghela napas panjang lalu berjalan menuju kearah depan dan berhenti tepat disamping Yoona yang kini keduanya sama-sama berdiri dibalkon apartemen Siwon—masih berkutat dengan pemikiran masing-masing.

“apa kau percaya cinta itu pasti saling memiliki?. Dan dengan merasakan cinta itu kita bahagia?.”

“antara yakin dan tak yakin. Tapi aku lebih memilih tak meyakini jika cinta bisa saling memiliki. Aku lelah dengan semuanya. Aku hanya ingin bahagia dan dikelilingi oleh orang yang menyayangiku.”

Siwon masih seksama memperhatikan apa yang dilhat oleh wanita itu—hanya memandang lurus kedepan. Ia paksakan kepalanya menoleh pada Yoona, masih dalam keadaan diam tanpa suara untuk berpikir pada apa yang Yoona baru saja lontarkan. Banyak yang pria itu pertimbangkan dari ucapan itu. Sudut hatinya bertanya apakah itu penting untuk ia lakukan mengingat hubungan dirinya dan juga Yoona masih hambar sama sekali. Cukup lama Siwon terdiam dan berpikir akhirnya pria itu menyahuti.

Terlalu kaku saat Siwon akan menyahuti ucapan Yoona, tenggorokannya serasa tercekat saat akan mengucapkan kalimat yang begitu mudah diucapkan Tapi siapa saja yang berada pada masa dimana dirinya terjepit suatu masalah pastinya semua akan terasa sedikit lebih sulit. Bukan sebuah penyesalan sebenarnya kenapa Siwon merasa dia telah bersalah dengan menerima pernikahan paksaan ini. Namun pria itu masih coba untuk bertanya, benarkah keputusan yang dia ambil? Tepatkan cara yang dia lakukan? Semua itu menuntut dengan secara bersamaan ketika akibat ulahnya sendiri, pria itu tetap harus melakukannya.

Sebuah senyum kecil mengembang perlahan dari sudut bibir Yoona. Senyum kecut yang ia pakasakan untuk menerima kenyataan gila ini. ia masih tak percaya jika takdir membawanya pada sebuah pernikahan yang terpaksa yang ia yakini kemungkinan besar akan hancur. Bahkan ia tak menyangka jika menikah dengan lelaki asing yang baru saja ia kenal.

“jika permintaan penikahan itu bisa membahagiakan seluruh keluarga kita. Aku akan menerimanya sebisa mungkin?.”

“telepas dari pernikahan ini. ada sesuatu hal yang ingin kutanyakan padamu. Masihkah kau mencintai Kim Jongwoon?.”

Yoona terdiam. Ia mengerutkan kening dan menatap kedua bola mata Yoona jauh lebih serius, ia mendesis pelan lalu merapikan poni panjang yang jatuh mengenai matanya, lalu menyelipkannya ditelinga. “kau ingin mengetahuinya?. Hhhh—aku memang mencintainya. Lelaki pertama yang membuatku merasakan jatuh cinta sekaligus patah hati. Well…jika kesempatan kedua itu masih ada aku akan berusaha sebaiknya, merebut hati Jongwoon dan berbahagia dengannya. Namun aku harus bangun dari mimpi indahku itu, semuanya sirna saat melihat Jongwoon berbahagia dan mencintai Kwon Yuri dan saat itu juga aku kalap ingin melakuan apapun demi lelaki itu agar mendapatkannya meski dengan cara yang picik.” Ia beri jeda sejenak untuk melanjutkan omoganya.

“mata hatiku baru terbuka saat aku sadar perkataannmu tempo hari benar. Jika aku harus melepas lelaku itu. Karena dengan melepasnya sebagaian beban dan luka hatiku akan berkurang. Dan jika aku masih saja berharap terus pada lelaki itu. Dan entahlah mungkin aku akan menjadi monster yang akan berbuat jahat pada semua orang hingga ambisiku tercapai. Aku menyerah untuk mendapatkan hati Jongwoon.”

“Yoona-sshi…kk—kau..”

“panggil aku Yoona atau Yoong. Terlalu formal kau memanggilku.”

“Choi Siwon-sshi!.” Panggil Yoona tega dan menatap intens lelaki itu. “ siap tak siap pernikahan ini pasti akan terjadi. Beri aku kesempatan untuk berpikir secara matang-matang tentang pernikahan ini.”

“apa kau menolaknya?.”

“aku tak tahu. Biarkan waktu yang menjawabnya. Aku hanya bisa mengikuti alur watu saja.”

“aku tahu kau pasti memutuskan yang terbaik.”

“pernikahan dan bisnis. Cih…bahkan cinta bisa dibeli dengan uang. Kau tahu Choi-sshi, bahkan kau belum tahu diriku yang terlalu lemah terombang-ambing akan cinta yang tak pernah sekalipun aku dapat. Aku terlalu lemah dan bertekuk lutut—takluk pada cinta. Selama ini aku hanya merasa takut ketahuan segalanya.”

“Ketakutan?. Mwo?.”

“bahwa aku bukanlah Im Yoona yang tegas dan terlihat berwibawa didepan orang, namun aku hanya orang yang berpura-pura menutupi segalanya padahal aku sendiri tak bisa mengatasi masalah hidupku sendiri yang rumit. Bahkan untuk membuat diriku kuat, aku memakai cat kuku leopard di kukuku, tapi pikiranku tidak kuat. Aku tidak percaya diri. Sepertinya aku bisa ketahuan, diriku yang sekarang ini. tak punya uang dan pangkat yang tinggi tak masalah, asal hidupku bahagia dan cukup dicintai dan mencintai seseorang yang bisa memberikan arti hidup sudah cukup. Uang bisa dicari, dan didapatkan lebih. Tapi jika diriku yang lemah ketahuan, aku bisa gila. jadi, jika aku ketahuan—aku minta ChoiSiwon yang pintar membela dan melindungiku. Mengerti?. okay?.” Melihat ekspresinya seakan Yoona mengerti mimik wajah yang disajikan oleh lelaki itu, ia tersenyum kecil lalu menganggu.

“jika kau tak ingin terlihat lemah, bukan dengan berlari dari ketakutan itu agar ia bahagia. Tapi justru dengan menghadapi ketakutan itu untuk kehidupan mendatang. Dengan begitu akan disadari hal mana yang bahkan lebih menakutkan. Jika kau terlihat lemah bersikaplah seolah-olah kau adalah batu karang yang tegar saat diterpa ombak.” Choi Siwon mengacak pelan rambut Yoona lalu tersenyum tipis sebelum ia berlalu meninggalkan Yoona terlebih dahulu.

Berbeda dengan lelaki itu Yoona justru menujukkan reaksi yang tak diduga, wanita itu entah mengapa sepertinya mengerti betul lontaran kata yang diucapkan oleh Siwon. Tidak!. Mungkin semuanya hanya kebetulan semata, ia yakin. Kata-kata yang baru saja terlontar dari mulut Siwon taka sing baginya dan iya yakin jika itu adalah kata-katanya yang selalu ia dengungkan dan iya yakini. Dan itu adalah kata-katanya. Darimana lelaki itu mengetahuinya?. Apa sebelum perkenalan mereka ia mengenal Siwon?.

Lagi-lagi wanita itu dibuat bingung oleh seorang Choi Siwon, manic matanya mencoba mengekor pada sosok Choi Siwon dan memperhatikannya dengan seksama. Merasa ada yang aneh dan tak nyaman lelaki itu alihkan pandangannya dari kaleng minuman yang ia pegang kearah Yoona.

“waeyo?.”

“anniyo..”

“eemmm..”

“Wae?.” Lelaki itu memasang ekspressi bingung saat melihat raut wajah Yoona yang terlihat kebingungan. Namun relative pada dasarnya semua lelaki bersikap acuh untuk merespect ekspresi wanita, Choi Siwon pun hanya bisa mengabaikannya dan mengambil mantel yang akan ia kenakan untuk keluar. “kau masih tetap ingin disini?. Ada yang harus kulakukan, jika kau ingin berada disini untuk sementara tak apa. Aku pergi..”

“aahhh..chakkamannyo..” henti Yoona, Tubuhnya ia paksakan untuk bergerak. Ia sadar dirinya memang belum bisa memberi tempat khusus bagi namun kata-kata yang terlontar dari mulut membuat I yakin dan tersadar seketika jika kata-kata itu adalah miliknya. Tapi darimana lelaki itu mengetahuinya. Apa mereka berdua pernah bertemu sebelumnya?.

“chakkaman..Tunggu!. sebentar saja!. aku belum selesai berbicara?.”

“ada sesuatu yang belum kau katakan?.” Siwon terhenti untuk sejenak mencoba merespon omongan dari Yoona.

“karena kita sudah berbicara aku ingin mengatakan sesuatu hal.” Ucapnya dan Siwon langsung berbalik menghadap Yoona. “aku tahu ini kedengarannya aneh, tapi jangan dianggap aneh..” Yoona sedikit ragu mengatakannya pada Choi Siwon. “ini sedikit aneh untuk dikatakan, tapi…apakah kita…pernah bertemu sebelumnya?. sebenarnya, apa kau mengenalku terlebih dahulu sebelum kita dijodohkan?.” Terlalu to the point memang ucapan Yoona, tapi terlalu besar rasa penasarannya pada lelaki itu.

Kedua mata Siwon seakan membulat seketika semakin melebar saat ia lihat wanita itu sedang menatapnya sayu yang membuat seketika itu Siwon terkejut. “apa sebelum kita bertemu, kita pernah bertemu sebelum ini?. kenapa kau mengetahui kata itu?.” Lanjut Yoona.

Siwon spontan terkejut mendengar pernyataan Yoona. Setelah beberapa detik ia terdiam, mau tak mau ia akhirnya menjawab. “tidak!. Kita tidak pernah bertemu sebelumnya.” Ucapnya tegas tanpa membalikkan badan menghadap Yoona.

Tubuhnya ia paksakan untuk bergerak. Mungkin Yoona tidak tahu jika selama dirinya menangis—ya, menangisi sebuah kesalahan masa lalunya. Ia terlalu menutup telinga untuk semua itu semua itu. Pria itu juga turut dengar semua yang Yoona ucapkan. Hingga Siwon lebih memilih memalingkan mukanya saat ia hendak melangkahkan kakinya keluar meninggalkan Yoona yang masih terdiam berdiri. Dan bersamaan juga saat itu putaran memory Siwon memainkan kembali pertemuannya dengan Im Yoona.

Tepukan dipundak itu spontan ia rasakan saat ia lihat sosok wanita cantik berambut sebahu berdiri dihadapannya yang kini sedang sarat akan emosi dan frustasi. Bagaimana tidak jika namanya tercoreng sebagai lelaki yang melecehkan kehormatan wanita atas pelecehan seksual yang ia sama sekali tak dilakukannya. Dan besok adalah keputusan hakim atas kasus yang diajukan oleh yeoja atas nama Ahn Sohee—selaku yeoja yang tak pernah ia sadari akan bertindak se-brutal ini. cinta memang membutakan, apapun akan dilakukannya asalkan tercapai semua keinginanya untuk bersanding dengan lelaki yang dicintainya.

“nde?.”

“kau Choi Siwon kan?.”

“wae?. Bukankah kau Im Yoona, teman Sohee?. Wae?!. Apa kau ingin menuntutku seperti Sohee?. Dan..apa kau akan memebela temanmu yang seperti wanita rendahan itu?!. Asal kau tahu saja aku tak pernah melakukan perbuatan sekeji itu!. Ingat baik-baik, meski aku adalah seorang playboy, aku tak pernah melakukan perbuatan sekotor itu, aku tidak pernah meniduri Ahn Sohee!.” Ancamnya sebelum ia meninggalkan Yoona yang masih diam membatu—tak mengerti apa-apa.

“hey..Mr Choi!!..” teriakan itu ia suarakan untuk menghentikan langkah Siwon yang sudha menjauhinya, namu ia berhasil menghentikan langkah lelaki itu.

“beri aku kesempatan untuk berbicara. Apa kau tadi memberikanku kesempatan?.”

“Bodoh!.” Ia pukul pelan lengan Siwon, saat ia bisa menyamai langkah kakinya.

“mwo?!.”

“siapa bilang aku membela Sohee?!. Kau jang sok tahu?. Kau hanya terlalu takut bodoh!. Apa kau takut jika kau kah di persidangan?.”

Bingo…

Jawaban Yoona menebak semua kekalutan hati Siwon. Lelaki itu terlalu takut jika harus kalah sidang dan divonis terdakwa oleh pengadilan.

“jika kau tak ingin terlihat lemah, bukan dengan berlari dari ketakutan itu agar ia bahagia. Tapi justru dengan menghadapi ketakutan itu untuk kehidupan mendatang. Dengan begitu akan disadari hal mana yang bahkan lebih menakutkan. Jika kau terlihat lemah bersikaplah seolah-olah kau adalah batu karang yang tegar saat diterpa ombak.”

“maksudmu?.”

“aku akan menjadi saksi atas kasus yang mengenai dirimu.”

 

*****

Pasrah yang diiringi dengan sebuah kegelisahan saat ini mulai medera. Terkadang ia merasa yakin, namun dalam seketika berubah cepat berganti dengan pikiran untuk berhenti. Rasa itu sekan menjadi campur aduk antara sedih, cemas dan ketakutan berkelebat penuh dalam pikiran dan juga batin. Kaki jenjang itu akhirnya terhenti disebuah tempat untuk mengadu masalah pada Tuhan. DisebuahChapel sederhana yang berada dilantai dasar sebuah rumah sakit elite disalah satu pusat kota Seoul tersebut. Gadis itu tak henti-hentinya menangan tangis dan isakannya. Sudah hampir berjam-jam ia gantungkan harapannya pada sebuah kabar jika keadaannya mulai membaik dan semua sudah berakhir dengan lancar. Namun itu hanya ada dipikirannya yang belum menjadi kenyataan, nyatanya toh sekarang Tuhan belumlah memberikan kabar itu. Terlalu lelah ia untuk berjalan kesana-kemari hanya sekedar untuk menengok sebuah lampu berwarna merah tanda berakhirnya kegiatan yang sedang berada didalam ruangan dengan berbagai alat bedah medis. Ia putuskan untuk mengadu pada Tuhan saja.

Sorot matanya—Kwon Yuri memindai setiap sudut Chapel kecil yang didepannya terdapat patung bunda Maria dan Tuhan Yesus yang disalib. Yuri bersimpuh dan berlutut didepan altar kecil, menautkan jemarinya. Matanya terpejam erat, membiarkan seluruh tangisnya tumpah. Ia tak tak tahu lagi kepada siap ia harus mengadu—selain pada Tuhan. Karena ia tak punya siapa lagi saat dirinya sudah jatuh dalam sebuah keterpurukan seperti ini.

“Tuhan..aku tahu dosaku terlalu banyak yang kulakukan. Kesalahanku bahkan tak termaafkan. Terlalu banyak kesalahan yang pernah kulakukan..” gumamnya, lirih sekali. Tangannya terangkat menyentuh bagian dadanya, meremasnya pelan. Rasanya sakit, tapi bukan di luar, melainkan di dalamnya. Kenapa terasa begitu sakit?. “yang salah adalah aku—manusia bodoh dan munafik dihadapanmu ini. Kumohon jangan jadikan putriku sebagai penebus dosa yang pernah kulakukan. Aku berjanji Tuhan akan mempertemukan mereka ..asal jangan jadikan putriku sebagai penebusnya.”

“jika bisa dilakukan. Aku ikhlas jika harus menukar nyawaku dengan nyawa putriku agar ia bisa hidup lebih lama. Tapi tak bisa, saat ini kau juga tengah menitipkan seorang malaikat kecil dalam rahimku. Tidak bisa..tidak bisa jika untuk memilih, Tuhan tidak bisa..tidak bisa..”

Untuk sekian lama Yuri terdiam. Air matanya masih mengalir seiring dengan tumpahnya seluruh isi hatinya. Ia tidak punya tempat berpegang selain yang berada diatas sana, yang menentukan garis takdir jalan dari sebuah bagian rumit kehidupan yang sedang ia jalani, serta untuk member solusi bagi masalah hidupnya. Keputusannya untuk menyetujui surat persetujuan operasi jantung pada Hana membuatnya harus menggantungkan ekspetasi hidup putrinya sendiri didepan meja operasi. Karena tak ada pilihan lain selain apa yang kini tengah tersaji dihadapannya dan terjadi saat ini adalah pilihan yang tak dapat ia hindari ketika keputusan itu akhirnya setujui diatas kertas saat dirinya memutuskan untuk menerimanya dan mengatakan kata ‘ya’ pada pengharapan itu. Meski harapan yang ia gantungkan hanya bisa separuh saja. tubuhnya masih saja gemetar tak menentu. Rasa takut akan tidak bisa melihat wajah ceria gadis kecilnya itu.

‘oppa..jeongmal mianhae. Aku adalah adik dan ibu yang sangat tolol. Aku tidak bisa menjaga Hana dengan baik. Tapi kumohon, jangan bawa ia pergi dariku. Jangan biarkan matanya menutup selamanya. Biarlah aku saja yang merawatnya sampai ia kelak dewasa nanti. Berikanlah satu kesempatan lagi untukku agar aku bisa menebus segala kesalahan yang telah kulakukan padanya aku berjanji akan mempertemukan Hana dengan Im Yoona—ibu kandungnya.” Isaknya lirih.

Sekembalinya dari Chapel, waktu terasa berjalan begitu lambat. Seakan penantian kabar tentang keadaan Hana yang sedang berada didalam yuri bahkan tak tahu tiap detik yang berlalu yang berubah menjadi menit bahkan jam, dengan helaan napas takut yang tak bisa terjabarkan. Saat-saat kritis itu sudah dimulai. Bagaimana ia bisa hanya duduk diam sementara istrinya bertaruh nyawa diatas meja operasi.

“kau sudah kembali nak?. Darimana saja?.” Yuri dongakan wajahnya namun ia hanya mampu tersenyum pedih saat tahu siapa yang sudah memanggil namanya.

Gadis itu mendekat lalu duduk disamping dua orang wanita pula yang masih menunggu kabar dari dalam. Mereka dengan setia menanti kabar jika operasi yang dilakukan telah berhasil.

“aku hanya memanjatkan do’a pada Tuhan ahjummanim untuk kelancaran semuanya.”

“Yuri-ya. Kwon Yuri. Tenanglah. Dokter itu pasti berhasil mengoperasi Hana. Ahjumma yakin itu. Hana kan yeoja kecil yang hebat!. Wanita paruh baya yang sudah Yuri anggap ibu itu mencoba menguatkannya, sebenarnya hanya bisa menahan hatinya untuk tidak menangis. dan jauh dari yang Yuri tahu wanita paruh baya itu lebih rapuh dari dirinya. Meski Hana bukan siapa-siapa untuknya dan tak ada ikatan darah, yeoja bermarga Jung itu sangat menyayanginya—layaknya cucu sendiri.

“aku takut ahjumma..aku takut jika Hana….tidak terselamatkan.”

“Dia satu-satunya miliku, ahjumma.” lirihnya “Haruskah aku kembali kehilangan lagi seseorang yang paling berharga dalam diriku?”

Belum sempat Yuri melanjutkan omongannya pekikkan suara lantang itu memotongnya “ya!. Kwon Yuri. Jangan berpikiran yang tidak-tidak. Hana pasti bisa melewati operasi ini dan akan hidup normal seperti sedia kala!.”

“Jung Soojung!!. Bisakah kau tidak berteriak?!. Ini bukan saatnya untuk memaki seseorang!.” Kali ini sang ibu justru memarahi gadis yang menjadi sahabatnya tersebut.

“percayalah keajaiban Tuhan itu pasti datang pada umatnya yang mampu melalui cobaan itu.” Sapuan lembut penuh kasih nyonya Jung berikan pada Yuri ntuk ia hapus air mata yang turun itu. Wanita paruh baya itu mencoba tersenyum walau dalam hatinya dirinya juga turut khawatir apalagi mengingat sosok kecil Hana yang telah ia anggap sebagai cucunya sendiri.

“Hana pasti selamat Yul!. Dan ia pasti akan kembali sama seperti semula.”

Yuri kembali menangis pelan dalam dekapan wanita yang sudah ia anggap menjadi ibu kandungnya sendiri. Ia tak ingin rapuh dan menjadi pencundang seperti ini. Namun alasan klasik yang yang sekarang tergambar dari situasi ini nampaknya tengah tak memberi ia waktu untuk dapat menata lebih lama dirinya dalam posisi kuat. Ketakutan mendera yang masih menjadi bayang-bayang masa lalu selalu menghantuinya, saat Lee Donghae harus pergi untuk selamanya setelah ia menjalani operasi. Yuri terus menangis lirih mengeluarkan semua rasa sakit karena terlalu takut jika masa itu kembali harus ia alami.

Yuri khawatir. Teramat khawatir saat dirinya harus kembali mengalami hal yang sama. Kehilangan seseorang lagi yang paling berharga dalam hidupnya.

           

**

Kedua tangan saat ini tengah menenteng beberapa barang belanjaan yang mereka butuhkan untuk keberlangsungan hidup mereka. Matanya menatp sedikit kebahagiaan yang diberikan Tuhan melalui pandangan yang diperlihatkan, saat sosok kecil yang masih tertidur lelap dalam tempat tidur bayi itu tertidur pulas dengan cantiknya, dan sesekali geliatan bayi itu mampu membuatnya tersenyum sendiri. Yuri letakkan semua barang yang ia bawa, lalu ia elus dengan lembut wajah cantik dari bayi perempuan itu.

“Hana..apakah Yuri Imo harus memanggilmu dengan sebutan Lee Hana atau Kwon Hana?.”

“kau cantik. Dimana appa?.” Ia berbicara sendiri sambil terkekh pelan pada bayi tersebut.

Kekehan serta rasa lucu itu nyatanya hanya cukup sampai disitu saja. Ketika ia merasakan ada sesuatu yang janggal yang secara reflek ia tangkap dengan pendengarannya dari arah lain. Pendengarannya ia tajamkan saat sebuah suara keran air terdengar dari dalam toilet dari dalam kamar. Pasti tak salah lagi jika sang kakak lelaki yang ada didalam sana. Namun saat inisiatifnya untuk melangkah mengetuk kearh pintu toilet. Ia tertegun seketika, saat Yuri dapati beberapa bercak darah segar yang menempel dilantai. Tak salah lagi jika didalam sana Lee Donghae sedang berurusan dengan penyakit mematikan yang dideritanya.

“oppa!!.” Ketuknya.

“oppa!..oppa!. Oppa!…kau sedang apa di dalam?. Gwenchananyo?!.” kali ini gedoran pintu itu lebih didperkeras lagi saat kepanikan kini menghinggapi Yuri. Ia takut jika terjadi apa-apa dengan Donghae didalam sana.

Sementara yang didalam sana tengah dirundung sebuah kepanikan pula sekaligus rasa takut. Pria it, Lee Donghae semakin tergesa-gesa membersihkan sisa darah yang keluar dari Hidungnya yang masih mengalir begitu deras. Beberapa saat yang lalu ia tak hanya mimisan, namun muntah darah pun ia alami dalam sekejap Beruntung semua terjadi sesaat sebelum Yuri datang.

“N—nde..Yuri-ya. Oppa didalam. Sebentar lagi oppa keluar.” Jawab Donghae gugup.

Entah sudah berapa lembar tisue dan berapa lama ia menghidupkan keran air guna membersihkan darah itu. Ia begitu gemetar. Kali ini sungguh ia tak mau menyulitkan satu-satunya adik yang sudah berjuang untuk membiayai sekaligus berada disamping lelaki itu hingga saat ini. satu-satunya keluarga yang Donghae miliki, selain putri kandungnya. Karena harapan akan indahnya sebuah pernikahan bersama dengan wanita yang ia cintai pupus sudah.

Ttaaar…

Suara sebuah benda pecah terdengar jatuh menimpa lantai, seakan benda tersebut hancur berkeping-keping. Pecah. Tanpa ba-bi-bu lagi Yuri segera membuka pintu tersebut secara paksa. Seketika itu matanya terbelalak, mendapati Donghae kini terjatuh duduk dilantai dengan tubuh yang lemah. Donghae mendongak, lekas menatap nanar adik perempuannya yang Shock seketika melihat Lee Donghae yang begitu rapuh.

“oppaaa!!..gwenchana?. oppa, Jebalyo.”

“nan Gwenchanaa Yul. Oppa baik-baik saja.” ujarnya lemah. Lelaki itu mencoba berdiri tanpa bantuan tangan dari Yuri yang kini sudah ada didepannya. Gadis itu terlihat panic saat mengetahui keadaan Donghae yang seperti ini.

Terlalu sulit dan terlalu tega saat ia tengah terlihat rapuh dan lemah, layaknya pecundang yang masih saja merepotkan kehidupan orang lain. Benar. Seharusnya ia tak pernah memberitahukan penyakit sialan ini pada Yuri. Hampir lebih dari 2 bulan berlalu dan selama itu pula kehidupannya terasa sudah tidak berarti lagi karena ia ternyata sudah mengidap penyakit itu sejak lama namun ia tak pernah menyadari akan hal itu.

Kanker otak stadium lanjut. Dan suatu saat pasti akan menjadi kanker otak stadium akhir.

Sekuat tenaga Yuri mencoba membopong Donghae yang tergeetak lemas dan memapahnya menuju tempat tidur. Wajah lelaki itu begitu pucat pasi dan lemas. Donghae coba gerakan bibir atasnya guna mengukir senyum untuk menyakinkan Yuri jika ia kini masihdalam keadaan baik-baik saja.

“Yul..” panggilnya lirih.

“oppa..ayo kita kerumah sakit oppa..” pinta Yuri. Gadis itu sekarang terlihat panic dengan kondisi Lee Donghae yang seperti ini. ia hendak mengambil tasnya, namun sebelum itu Donghae sudah menghentikan langkahnya dengan menarik pergelangan tangannya.

            “oppa baik-baik saja. itu hanyalah efek kemoterapi saja. nanti semuanya akan kembali seperti semula.”

            “tap..pi oppa. Oppa mengeluarkan darah…”

            “ssst..tidak apa-apa. Semuanya akan kembali normal seperti biasa.”

            ‘Tuhan…apakah sanggup ia membiarkan Kwon Yuri sendirian. Dia begitu menyayangiku dan begitupun aku. Sanggupkah ia membuat senyum itu memudar dengan kenyataan pahit yang harus ia terima jika ia tahu jika penyakit yang ia derita sudah separah ini?.’

            “oppa baik-baik saja. oppa hanya takut kau sendiririan didunia ini. oppa hanya ingin masih bisa menjagamu.’ Batin Donghae, lekas ia memeluk Yuri erat seolah tak mau melukai dan meninggalkannya barang sedetik pun.

“aku ingin kau menjaga baik-baik Hana. Didik Hana hingga ia bisa menjadi gadis yang tegar dan jangan cengeng.”

“makk—sud oppa?.”

“aniya. Oppa hanya ingin Hana tidak cengeng seperti dirimu.” Donghae tertawa ringan lalu ia seka air mta Yuri yang sudah mengalir itu. Ia sedih. Ia pun memang terluka karena harus membohongi adik yang paling berharga dalam hidupnya itu setiap harinya. Belum lagi penyakit sialan itu harus ia sembunyikan karena ia merasa semakin hari semakin parah membuat ia selalu berperilaku aneh dan terkadang tidak sesuai dengan apa yang ia inginkan.

Piip…

Suara itu terdengar bersamaan dengan matinya lampu yang berada disebelah pintu ruang operasi. Lamunan yang berkecamuk dalam pikirannya buyar seketika saat ia menyadari jika operasi telah selesai. Perasaan itu sgak sedikit lega, tapi tetap tidak mengurangi kekhawatiran semuanya sebelum dokter keluar dan memberi kabar tentang bagaimana keadaan Hana setelah operasi tersebut. Mereka bertiga dengan antusias, terutama Yuri langsung berdiri berdiri didepan pintu, bersiap menunggu Kim Jongwoon keluar dari ruangannya.

Knop pintu besar berlapis kaca itu bergerak seraya sosok lelaki yang Yuri kenal dari balik pintu. Pakaian steril berwarna biru itu masih menempel ditubuhnya, hanya saja saat ini ia sudah memakai jas putih dokter. Terlihat wajahnya l elah namun tetap menampilkan sebuah senyuman tulus. Ia berjalan pelan, lekas menghampirinya.

“bagaimana operasinya oppa?. Eotthokhae?. Apa Hana baik-baik saja kan?.” Yuri segera menghujani Jongwoon dengan berbagai pertanyaan. Ekspresi wajah Jongwoon tak bisa diterka sama sekali. Tidak bisa. Namun ia hanya menampilkan senyuman sebagai jawabannya.

“jadi begini semuanya..” Jongwoon menghela nafas selama beberapa detik sebelum melanjutkan kalimatnya, “Operasi yang kami lakukan ternyata berhasil. Tapi disamping itu, kita harus terus memantau keadaannya. Jika dalam kurun waktu 48 jam ia dapat melewati masa kritis nya pasca operasi dan segera siuman, saya optimis ia akan hidup normal kembali dengan jantungnya  yang baru. Tapi jika ia belum tersadar dalam kurun waktu tersebut, kemungkinan anya penolakan bisa saja terjadi. Dan Hana bisa mengalami koma atau bahkan gagal jantung.” Ujarnya tegas.

Ada perasaan lega yang menghinggapi mereka, meski tak 100 persen, Tuhan telah mengabulkan dan menjawab do’a nya. Namun rasa khawatir itu masih saja menggelutinya. Koma?. kata itu sukses membuat Yuri tak bisa berpikir lagi.

“hal seperti ini tak bisa ditebak dan diperkirakan dan sering terjadi diluar perkiraan. Dan kita berdo’a saja untuk Hana agar dia segera bisa tersadar dan tubuhnya tak menolak donor jantung tersebut.

Yuri hela napasnya berulang-ulang. Ia coba menghirup oksigen sebanyak-banyaknya mencoba menerima keadaan. Dan napasnya memang seakan tengah tersenggal sekarang ini, manakala dirinya kembali rasakan sesak itu. Keringat dingin yang kini sedikit nampak di daerah dahinya mampu membuat sosok Yuri harus tabah menerima semua keadaan yang ada. Operasi itu menghasilkan dua berita, baik sekaligus buruk. Hana memang selamat, namun jika ia tak tersadar dalam waktu 48 jam maka gadis kecil itu akan koma dalam waktu yang tidak ditentukan. Kejadian yang menimpa puterinya memang sama persis seperti apa yang di alaminya hampir 6 tahun lalu saat ia harus berada diantara 2 pilihan, dimana Donghae harus melakukan operasi itu meski kabar itu haruslah menyakitkan bagi Yuri, saat ia mengetahui jika operasi kanker dijalani Donghae berujung pada kegagalan. Tapi sekarang keadaanya berbeda, Ia harus berpikir positif jika transplantasi jantung baru Hana pasti akan bisa direspon oleh tubuhnya.

“Terima kasih karena kau masih memberi kesempatan ini, Tuhan.” Lirihnya.

**       

Belaian tangan Yuri mengusap kening Hana, lalu mencium kening itu singkat. a sungguh merasa kasihan pada puterinya itu karena harus mengalami masa-masa seperti ini. Ia tahu ini adalah cobaan daru Tuhan. Hanya saja Yuri tidak kuat karena cobaan itu terasa begitu menyakitkan. Sudah lamanya sekitar 2 jam Yuri hanya bisa terduduk disebuah kursi disamping ranjangmemandang keadaan sosok gadis kecil yang sedang terbaring lemah dengan peralatan medis yang menempel pada tubuhnya dan sebuah alat cardiograf yang menunjukkan kinerja detak jantungnya. Hening dan rasanya sunyi sekali bagi perasaan Yuri, Sungguh membuatnya begitu miris. Anak sekecil ini harus mengalami hal sepahit dan mengerikan seperti sekarang. Yuri hapus air matanya yang selalu turun kala ia merasa perih dan pedih melihat keadaan puterinya. Puterinya belum sadarkan diri. Ada rasa ketakutan mendalam yang pria itu rasakan. Ia teramat takut jika puterinya tak bisa untuk bertahan lama.

Jemari itu mencengkeram lembut sebuah pergelangan tangan yang kecil dan ringkih. Haruskan kenangan pahit tu terulang kembali pada sosok yang berbeda dan berarti dalam hidup Yuri?. Sulitkah ia menggapai sebuah kebahagaian itu. Yuri baru saja mengecap sebuah kebahagiian kecil jika dalam rahimnya kini ada seorang calaon malaikat kecilnya dan tentunya Hana yang sudah mendapat transplantasi jantung. Namun operasi yang dilakukan Hana belumlah menunjukkan hasil positif selama Hana belum tersadar.

“eomma mohon jangan tinggalkan eomma. Eomma takut jika Hana meninggalkan eomma seperti menciang appa. Hanya Hana yang eomma miliki. Eomma mohon sadarlah chagi. Jangan buat eomma terus bersedih seperti ini. eomma tak sanggup jika harus kehilanganmu.” Isaknya. Perasaannya selalu kacau jika Yuri mendengar kabar buruk tentang keadaan putrinya itu.

“sadarlah Chagi..eomma mohon sadarlah. Kau tahu jika Hana tersadar eomma punya kabar gembira untuk Hana. Sebentar lagi Hana akan mempunyai adik.” Yrui berusaha tersenyum memberikan kabar gembira tersebut. Meski senyuman tersebut miris dan terkesan dipaksakan. ang lebih penting saat ini adalah Hana. Tidak ada yang lain lagi selain puterinya.

Sementara dari pandangan sosok seseorang dilain arah lelaki itu melangkahkan kakinya pelan, ia sedikit sunggingkan meski terasa miris. Sesampainya didepan kamar Han, Jongwoon putar knop pintu ruangan tersebut. . Ia longokan kepalanya sejenak, al pertama yang ia lihat adalah Kwon Yuri, wanitanya. Sebelum pada akhirnya pria itu hampiri Yuri yang masih menatap nanar Hana yang baru dua jam lalu selsai ia operasi dan keadaannya belum sadarkan diri.

“Yul..” tepukan pelan tangan Jongwoon menyadarkan Yuri seketika dari acara lamunannya. Ia hapus air mata itu agar lelaki itu tak melihatnya tengah bersedih lagi. Mencoba beralibi jika ia dalam keadaan baik-baik saja.

“oppa..”

“ini sudah malam, pulanglah!. Biar aku yang menjaga Hana. Atau kau sudah makan malam?. Makanlah dulu Yul…” Jongwoon berujar lembut “Setidaknya kau butuh istirahat sejenak untuk mengembalikkan dirimu agar segar kembali.Isilah perutmu dulu, agar kau tidak terlihat lemah seperti ini. Anak kita butuh perhatian darimu.” Gadis itu masih tak bergeming

“nanti kau bisa sakit sayang..” Yuri hanya menatap sekilas atas perkataan lembut yang baru saja terlontar dari mulut Jongwoon. Kemudian kembali memandang kedepan dengan satu sorot mata kosong seolah tanpa ada jiwa dalam dirinya.

“Yul..” ia mendekati wanita itu kemudian merengkuhnya dalam pelukan hangat, berbisik lirih padanya. Yuri hanya butuh dukungan untuk menjalani hidupnya, ia hanya masih tenggelam dalam masa lalu dan sulit untuk menutup luka lama yang pernah ditinggalkan oleh seseorang, hingga akhirnya Yuri membenci hidupnya.

“Oppa..” akhirnya Yuri mulai membuka suaranya. Ia pandang sosok lelaki yang dicintainya dengan tatapan mata sendu.

“bolehkah aku memelukmu sebentar oppa?.” Jongwoon menahan perasaannya yang terasa getir karena melihat ekspresi begitu memelas dari wajah Yuri.

Jongwoon biarkan Yuri memeluknya untuk sejenak. Gadis itu terdiam kembali dengan mata yang mulai memejam erat. Dalam keadaan tersebut ia dapat rasakan sedikit ketenangan walau sebenarnya hati Yuri masih diliputi oleh kerisauan yang teramat. Satu tangan Jongwoon yang lain ia gunakan untuk mengusap lembut punggung Yuri.

“oppa..Jongwoon oppa.” Yuri berucap pelan. Kedua matanya mulai memanas, seiring dengan usapan tangan Jongwoon yang membelainya. “tidakkah ini terlalu kejam padaku?.”

“aku tahu dosaku terlalu banyak dosa yang kulakukan dalam hidupku. Selama ini aku bersikap munafk pada diriku sendiri dan pada Hana. Harusnya bukan Hana yang menanggung semua ini?. Hana tak tahu apa-apa. Akulah yang jahat, aku telah menyembunyikan rahasia ini selama bertahun-tahun..”

“Disaat aku mencoba untuk melupakan dan menerima semuanya, tapi kenapa hal yang sama harus kembali aku alami?. Untuk kedua kalinya aku harus melihat kedua orang yang sangat aku cintai dalam keadaan kritis dan meregang nyawa seperti ini?.” tetesan air mata itu mulai mengalir begitu saja turun membasahi pipi Yuri. Ia terlalu sibuk melawan rasa keputusasaan dalam hatinya karena merasa mengalami hal yang sama untuk kedua kalinya.

“sebisa mungkin aku mencoba untuk melupakan dan menerima semuanya, tapi kenapa hal yang sama harus kembali aku alami?. Apakah aku tak pernah ditakdirkan untuk menggapai sebuah kebahagiaan, meski kebahagaiaan itu kecil?.”

“Yul..ini tidak sepeti yang kau bayangkan. Kau hanya perlu bersabar saja..” tekan Jongwoon lembut.

“inikah takdirku?. Harus kehilangaan satu persatu orang yang kucintai?.” Tak bisa lagi Yuri tahan perasaannya untuk dia kembali menitikan air mata karena terlalu merasa pedih pada hatinya. Ia menangis. Yuri menangis untuk kesekian kalinya.

“kau bukan gadis atau wanita munafik. Satu-satunya gadis yang tak pernah mengeluh tentang masalah dalam hidupnya. Tuhan hanya sedang mengujimu. Hana pasti sadar dan tentunya ia bisa tersenyum kembali.” Lelaki itu menumpukkan dagu pada puncak kepala Yuri. Jongwoon coba untuk menahan dirinya agar tidak ikut larut dalam kesedihan Yuri. Satu tangannya yang terbebas ia gunakan untuk hapus air matanya yang sudah ikut keluar taatkala Yuri bertanya tentang pertanyaan pilu itu yang secara tak langsung menggores hati Jongwoon. Dan malam ini Yuri hanya bisa meluapkan perasaannya dengan tangisan sekeras-kerasnya karena ia sudah tak sanggup dengan semua masalah hidupnya ini dalam pelukan Jongwoon.

**

Dua hari terasa bertahun-tahun bagi Yuri, ia harus melakukan semua ini. tidak peduli sekeras hatinya menolah untuk mempertemukannya. Tapi ini semua demi Hana—orang yang paling berharga dari dalam hidupnya. Dalam hening yang terus ia ciptakan, Yuri terus menatap resah pergelangan tangannya yang dilingkari sebuah jam. Ia ingin pergi, tapi dirinya terlalu merasa ragu. Entahlah keputusan yang ia ambil ini terlalu frontal atau tidak, meski hatinya bertolak belakang dengan semua keinginannya. Dia hanya merasa ragu untuk melakukannya.

Wanita itu maju selangkah lebih depan ke arah pintu apartemen mewah dipusat kota Seoul tersebut. Ia coba gerakkan tangannya untuk memencet bel apartemen milik wanita yang paling ia benci didunia ini. siapa lagi kalau bukan Im Yoona.

“jangan pernah membencinya. Kami berdua sudah meutuskan untuk berpisah. Mau dipertahankan seperti apapun kita terlalu bertolak belakang untuk menyatu. Anggap saja Hana adalah sebuah karunia Tuhan yang membuat hidup kita bahagia.”

“tap—tapi…aku benci orang yang menyakiti oppa.”

“Kau hanya belum mengerti adikku. Ini sudah menjadi keputusan kami berdua. Tidak ada yang perlu disesali.” Donghae masih tampilkan senyum tipisnya saat wanita disebelahnya itu memandang kosong namun ia tahu jika kedua telinga wanita disampingnya menyerap dengan baik apa yang tengah ia ceritakan.

“jangan pernah sekali-kali kau memisahkan Hana dari Yoona, karena bagaimanapun dan apapun yang terjai mereka adalah satu. Ikatan tali hati mereka tak akan pernah putus walau terpisah jarak dan waktu.”

“kau tahu meski kami berdua mantan suami-istri, tapi tidak ada satu orang pun didunia ini ada mantan anak. Sampai kapanpun tidak ada mantan ibu atau mantan ayah. Meski kami berpisah dengan cara yang tak pernah oppa duga. Tapi oppa tak pernah sekalipun ingin memisahkan ibu dan anak. Jadi jika Yoona ingin bertemu dengan Hana, oppa justru bahagia karena mereka adalah ibu dan anak, meski status kami tidak bersama lagi.”

“jadi jika kau ingin membesarkan Hana bersama oppa, jangan pernah sekali-kali kau tak menganggap jika Yoona adalah ibu Hana. Jangan pernah mengingkari takdir meski Yoona tak hanya sedikit saja ia meninggalkan kenangan manis dalam hidup kita.

Masih sama, untuk beberapa saat Yuri kembali coba kembali menetralkan hatinya yang masih tidak tenang itu. Terlalu bodoh dan picik saatsakit hati masalalunya mengusai semuanya. Ia coba menyamakan detak jantungnya yang semula bergejolak hebat, menjadi ia senadakan dengan sikapnya yang ia coba untuk kembali tenang. Saat dirinya menapakan kaki di area itu, area tempat ibu kandung Hana tinggal. Hatinya memang selalu tidak dapat di ajak kompromi. Selalu bergemuruh layaknya deburan ombak di laut yang luas. Dan perasaan takut itu selalu menghantuinya. Ia pejamkan matanya untuk beberapa detik. Helaan napas itu ia hembuskan sebelum pada akhirnya ia coba kuatkan diri, lalu melangkah lebih dekat pada sosok itu.

Kali ini takdir baik tak berpihak padanya—berbalik 180 derajat, justru tanpa ia duga sosok wanita jalang itu kini tampak didepannya.

Tidak…

Tidak…

Tidak…

Bahkan dalam mimpi saja tak pernah sekalipun Yuri akan membayangkan bisa menghabiskan waktunya dengan meladeni sifat gila wanita parah didepannya itu. Sial. Ini sangat sial tentunya. Niat awal hanya ingin bertemu dengan Yoona tapi dia malah yang harus terus-terusan menanggung beban kepahitan. Tidakah ini sangat tidak adil?. Dalam suasana yang seakan dirinya di tengah sebuah himpitan beban yang begitu besar kedua mata yang menatap tajam ke arahnya mampu membuat diri Yuri seakan sangat pengecut. Namun jika toh ia terlihat lemah wanita itu pasti akan semakin menyingkirkannya.

“aku tidak ingin bertele-tele!. Untuk apa kau datang kemari!!. Tempo hari bukankan sudah kubilang!. Semuanya sudah selesai, jangan pernah muncul dihadapan kami lagi!!.” Wanita paruh baya itu menatap sengit Kwon Yuri yang kini hanya bisa terdiam. Begitulah pemikirannya saat ini. Dia tetap berteguh hati kalau apa yang terjadi dimasa lalu semuanya sudah selesai dan ia tak pernah menganggap jika Yoona pernah memiliki seorang putri atau pun statusnya yang pernah menikah.

“aku han..hanya ingin bertemu dengan Im Yoona.” Lirihnya.

“mwo?!. Untuk apa?!.”

“Hana butuh ibunya.” Jawabn itu langsung meluncur saja dari mulut Yuri, tak peduli dengan ekspresi wajah nyonya Kwon yang sudah memerah akibat bertemu dengannya.

“Hana?. Nugunde?. Kami tidak kenal dengan nama itu?. Dan kami sudah tidak peduli dengan ap yang terjadi dikeluarga kalian. Pergilah!. Kau mengganggu hari kami saja. perihal butuh atau tidak kami sama sekali tidak peduli!.” Ucapnya datar, namun terasa menusuk sampai ulu hati Yuri, bagaimana tidak ia bisa menganggap jika wanita didepannya adalah wanita jalang yang tak berperasaan, bahkan untuk sekedar meminta belas kasihan sedikit saja, rasanya sagat mustahil.

“Lee Hana, putri kandung dari Im Yoona dan Lee Donghae.” Yuri mengucapkannya masih  dengan wajah datar. Ia tak mampu lagi untuk menaikan suaranya hanya sekedar ingin membalas setiap kalimat yang wanita paruh baya itu ucapkan.

“cihh!. Kau masih berani-beraninya menyebut nama bajingan dan anak haram itu?!.”

Cukup sudah pertahanan kesabaran Yuri diuji untuk kesekian kalinya, emosinya langsung naik seketika saat dirinya menatap benci wanita didepannya. “dia bukan bajingan dan Hana bukan anak haram!!.” Sentaknya keras dihadapan wanita itu.

“dia putri dari Im Yoona!.” Dan untuk kesekian kalinya Yuri dapat mengeluarkan semua apa yang dia rasakan. Air matanya sudah tak terbendung dan berlinang sejak tadi. Sejak dia mulai berani berkata dengan nada yang cukup tinggi dari biasanya.

“Bukankah kau sudah tahu alasannya?. Putri Im Yoona sudah mati.” hatinya memang terlalu keras. Ia pun hanya dapat menjawab asal pada luapan emosi Yuri.

“Itu tidaklah cukup. Hanya menjadikan kejadian itu sebagai alasan kau pikir sudah berapa orang yang kau dan putrimu sakiti?!. Kau bukan manusia!!.”

“eomma…” suara itu pun akhirnya mengakhiri pertengkaran sengit antar keduanya. Wanita itu Im Yoona berekspresi yang sulit untuk diartikan saat sedari tadi tanpa sengaja ia mendengar perdebatan serius antara ibu dan juga Kwon Yuri.

“apa maksud dari semua ini?. Hana?. Lee Donghae?. Putri?. Apa maksud dari semua ini?. eomma!!.” Kali ini manik mata Yoona menatap intens kedua orang tersebut—mencoba mencari kejelasan.

“eomma!!..Kwon Yuri!!..jawab aku?!!. Apa kalian tidak bisa bicara!!.” Dan detik itu juga Yoona seakan kembali teromabang-ambing oleh rentetan kalimat penjelasan yang ia sendiri pun tak percaya dengan semua itu.

**

Terumbang-ambing mungkin seperti itulah yang tengah Yuri rasakan. Saat dirinya udah mulai merelakan hatinya untuk jujur dan mengikhlaskan semua hal dimasa lalu, kini dia harus dihadapkan pada posisi sama lagi, yaitu ia ragu dan haruskah ia membenci kembali wanita itu?. Saat ia beradu pandang dengan wanita itu, kesakitan yang pernah ia rasakan kembali muncul. Ia jelas kembali merasakannya walau mungkin tak sebesar dahulu. Kecewa kenapa takdir seolah-olah terlalu kejam padanya. Apakah sepenuhnya salah dari Im Yoona?.

“Bisakah semuanya hilang dan berhenti mengusikku?. Aku tidak tahu jika mendadak semuanya berubah seperti ini. entahlah sulit bagiku untuk percaya. Aku tak tahu siapa disini yang harus disalahkan.” Kedua matanya masih menatap kosong. Tubuhnya terpaku lemah ketika dirinya sadar jika telah ada sesuatu yang hilang tanpa ia sadari. Ia terus termenung cukup lama hingga waktu kian berlalu, tubuh itu mulai bergetar lirih menggumamkan sebuah isakan kecil dari mulutnya. Ia, Kwon Yuri merintih dalam perasaan pedih. Hatinya bertanya kenapa ini kembali terjadi.

“sudahlah..bukankah kau sendiri yang ingin memulai lagi semuanya.” lelaki bermarga Nam yang duduk disebelahnya menepuk pelan pundak Yuri seraya mencoba menenangkannya. “Waktu akan terus berputar dan jangan biarkan kau terus berlari pada waktu yang sama jika itu akan membuatmu lelah. Kau hanya butuh dan memberi kesempata untuk semuanya,”

“Kau harus bisa menentukan mana yang harus kau teruskan dan mana yang semestinya kau akhiri”

“Baik ataupun buruk, Yoona sudah memilih jalannya sendiri. Kau atau siapapun manusia di dunia ini tidak dapat merubahnya karena semuanya sudah takdir Tuhan. Tapi tak ada yang bisa memungkiri jika Yoona noona adalah bagian dari Hana.”

Susah payah Yuri kuatkan dirinya untuk tak mengeluarkan air mata namun masih tetap juga sama, gadis itu tetap saja menangis. Tubuh itu mulai bergetar lirih menggumamkan sebuah isakan kecil dari mulutnya. Ia, Yuri merintih dalam perasaan pedih. Hatinya bertanya kenapa ini kembali terjadi. Isakan kecil yang keluar mampu menembus telinga dari Nam Woohyun. Dan pemandangan itu mampu membuatnya ingin bertanya apa yang terjadi sehingga membuat Kwon Yuri itu menjadi seperti ini. Dalam situasi itu, Yuri coba menggeleng kecil dengan ia paksa sudut bibirnya bergerak ke atas.

“Semua yang terjadi adalah takdir Tuhan kan Woohyun-aa.” katanya lembut “Kematian Donghae oppa juga adalah takdir Tuhan, kan?.” Rasa bingung itu semakin menyelimuti pikiran Woohyun, ia semakin dibuat tak paham oleh Yuri. Kenapa?. Apa maksud dari semua ini?.

“Kwon Yuri!. Sebenarnya apa yang terjadi?!.”

“Susah payah aku coba mempercayai dan meyakini semuanya memang takdir, Tuhan. Apa aku salah, Woohyun-aa?.”

“Yuri-aa…”

“Yakinkan aku jika semuanya memang takdir Tuhan, Nam Woohyun.”

“Tolong….beri aku keyakinan itu….” Yuri larut dalam kesedihannya sendiri. Dalam keinginannya untuk bisa menumbuhkan rasa percaya itu. Sedangkan Woohyun, ia sendiri belum sepenuhnya paham maksud dari ucapan Yuri.

“Woohyun-aa. Aku telah mengatakannya..”

“mak—suddmu?.”

“anii..anii..” kilahnya. Yuri paksakan senyumannya sebelum ia beranjak dari kursi dan berdiri untuk berjalan. “aku akan menemui Jongwoon oppa. Aku titip Hana sebentar ya.”

Dan setelah menghilang dari pandangannya menuju koridor rumah sakit itu Woohyun masih juga diselimuti rasa tidak percaya. Mengatakannya?. Apa maksud dari mengatakannya?. Jangan-jangan..tidak..tidak mungkin itu terjadi. Detik itu pula disaat bersamaan arah pandang mata Woohyun menangkap sesosok wanita cantik yang berjalan kearahnya. Wanita itu juga sama-sama menatapnya. Ia tak percaya dengan semua ini. apa yang dimaksud dengan mengatakannya adalah…Im Yoona.

“Nam Woohyun-sshi..”

“Yoona Noona..”

 

—TBC—

 

Hai readers….

Mungkin kalian uda pada bosen ya sama cerita ini. Selain ga selesai-selesai juga lama banget nge-update nya.sebelumnya aku mau makasih banget sama semuanya. aku coba buka konflik satu-persatu pelan-pelan, kalo aku buka semuanya mungkin alurnya akan menjadi kecepetan. maafkan saya jika ada typo. so 60 komentar g memberatkan kalian kan buat lanjut ke next part secepatnya.

thanks banget buat:

Ellen yang merupakan admin RFF, meski sepi Ellen tetp aja nge-update blog, juga desain blog nya makin bagus aja makin hari *nunjuk Akdong Musician sebgai header blog #kekekek. fighting Ellen, tunggu aku comeback ya buat jadi admin blog..hehehehe…

readers kakak-kakaku (Kak Uchie, Kak Ekha, Kak Hani, Kak Shania) yang selalu aku rempongin buat nanya gimana epep ini berlanjut dan setia untuk menunggunya.

mungkin ada yang tanya kenapa saya menyelipkan beberapa cameo yang g diduga ya (read: Nicole ‘ex KARA, sm Woohyun INFNITE) Soalnya ide saya buntu kalo saya harus mengurai benang merah antar tokoh buat ngurai masalah. Dan sekali lagi saya g menepati janji saya untuk menyamakan part ini dengan teaser part 9, soalnya kalo disamamain sama teaser part 9 bisa sampai 100-120 lembar, jadi aku potong deh #maaf ya…

dan terakhir ocehanku ini yang perlu disimak tolong yang minta PW part 8 bisa menghargai karya saya. saya g minta sepeser uang pun buat ngedapetin PW part 8. saya cuma minta anda bisa menghargai karya saya dengan meninggalkan komentar. 5 komentar ada dari keseluruhan part. dan tolong ya jika sms saya jangan macem-macem. e.g:‘eon, saya uda komentar tp cuma dua part aja’, bagi PW donk’ ada juga lagi..’kak, saya uda baca semua part tp g komen, minta PW donk’ saya memang sinis sama siders yang g bisa menghargai karya saya. buat ngedapetin PW gampang kog, cukup baca+komen, terus sms saya dengan nama/id yang digunakan saat komen. uda selesai, gampang kan.

dan sekali lagi saya minta maaf g bisa ngebales satu-satu sms nya, meski reders yang uda baca+komen minta PW berkali-kali, tp tetep saya bales kog sms nya.

dan next part kemungkina saya akan PW lagi untuk menghindari silent readers…

*See You Next Part…

Advertisements

79 thoughts on “Because It’s You (Saranghae) Part 9

  1. ceritanya makin seru nih, satu-persatu konflik-nya udah mulai terbongkar, yuri eonni kau yang sabar ya semua permasalahan pasti ada jalan keluar-nya ko, mungkin tuhan sedang menguji kesabaran yuri eonni, agar yuri eonni makin jadi manusia yg di lebihkan derajat-nya karna bisa melewati ujian ini, dan tuhan sedang merencanakan kebahagian yg tak terkira sebagai balasan atas semua ujian-nya. jong woon oppa kau kemana aja kenapa di saat yuri eonni butuh dukungan dan semangat kau tidak ada di samping yuri eonni. malah woohyun yg ada, banyakin scene romance yulwoon ya ❤ semoga yulwoon cepat marriage ya 😉 di tunggu undangan-nya #hehe ^_^ dan aegy-nya sehat selalu 😀 . hana cepat sadar ya dan sehat kembali 😉 sumpah eomma-nya yoona kejam banget 😦 di tunggu next part-nya 🙂

  2. aahh complicated banget aku jadi terbawa suasana sediih yg Yuri alami…dia takut Hana bernasip seperti Donghae 😦 tapi dia juga harus mengakui Yoona itu Eomma Kandung Hana…semoga Hana cepet sembuh 🙂

  3. ceritanya tambah complex
    t[ kok kakeknya yuribg ada ya
    klo ada kan busa mbantu walau dikit buatb ngalahin hyorin
    yoona get back you lost memory and try to make a better lifr

  4. wah daebak eonni…
    ceritanya sprt drama
    ak bacanya marathon bbrp wkt lalu.. jd koment ny jg marathon, hehehe
    maaf baru koment skrng (internet lg kenceng)
    hhhmm semoga hana baik2 dn yuri bisa bahagia, dan happy end…
    semangat ya author. . . .

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s