Kilauan Senja – Chapter 5

Kilauan Senja

Kiran storyline

Title  :  Kilauan Senja – Chapter 5 ||  Cast  :  Lee Junho (2PM) & Kim Sohyun (Actress)  ||  Support  Cast :  Nickhun Horvejkul (2PM), Ok Taecyeon (2PM)  ||  Genre  :  Angst, Romance, Action  ||  Rating  :  PG-16 || Length : Chapter

Summary:

Mungkin yang paling tepat, cintaku kepadamu tidak kupercaya. Aku terlahir bukan untuk dan tidak karena cinta. Jadi aku tidak mempercayainya dan tidak memaksakan diriku untuk percaya. Tapi di sini sakit sekali sekarang. Mungkin nanti aku akan mengobatinya. Ya, setelah pulang dan melalui mulai sekarang.

Previous Part :

Prolog | 1 | 2 | 3 | 4

*****

Pagi ini Junho menjalani hari-harinya seperti biasa. Dia bangun, makan, lalu menyendiri di ruang baca. Tak jelas buku apa yang dibacanya. Pria itu juga sepertinya tak menyadari bagaimana buku-buku itu berpindah dari tangannya ke sebuah meja di hadapannya. Tak fokus. Mungkin itu penggambaran paling jelas.

Ya, beberapa hari setelah kejadian itu, ia selalu menghindari Sohyun. Wanita itu juga sepertinya oke-oke saja. Tak masalah dan bersikap terserah. Mereka tak lagi makan di jam-jam yang sama. Junho lebih pagi, Sohyun lebih siang. Bahkan, dua hari yang lalu pria itu memilih tak pulang dan menginap di rumah Nickhun.

Seungho sepertinya semakin dekat dengan Sohyun. Mengisyaratkan kalau mereka sedarah. Walaupun Junho tak memberinya kepastian akan ketidaksepahaman ini, ia tetap yakin kalau Seungho anaknya dengan pria itu.

Lalu, siapa wanita itu? Yang dicintai Junho kah? Lalu… dengannya kenapa waktu itu datang untuk mengambil Seungho? Tapi, bukankah pria itu tak menyertakannya? Kalau memikirkan masalah ini, hatinya begitu sakit. Terlebih pada kata-katanya…

~k~

Hari itu, ia tidak pernah menduga akan ada hari seperti itu dihidupnya. Dia melihatnya. Sohyun melihat pria itu. Pria yang dirindukannya setiap malam ketika melihat wajah anaknya. Pria yang berpengaruh di hidup Sohyun. Pria yang…

Seketika itu ia mulai merapatkan pelukannya pada anak yang digendongnya. Ya Tuhan, ia begitu takut. Ia tak berani mendekat ke rumahnya sendiri.

Pria itu mendekat.

Kedekatan itu meimbulkan perasaan-perasaan tertentu di hatinya. Ia takut… tapi ia juga benar-benar merindukannya. Bagaimana ini? Bukannya berlari, ia malah mengucurkan air mata seakan semua tenaga yang dimilikinya telah diambil alih oleh otot-otot matanya. Tubuhnya kaku, gemetaran.

Tapi pria itu menyentuhnya. Hangat.

“Ternyata kau benar-benar melahirkan anakku?” sapanya. Benar kan kata-kata pertama setelah beberapa waktu tidak bertemu disebut sapaan? Kenapa begitu kering dan tak melegakan? “Boleh kulihat wajahnya?”

Sohyun semakin mencengkeram bayinya. Ia tak ingin pria itu melihat wajah anaknya. Ia tak ingin pria itu berkomentar bagaimana miripnya dia dengan anaknya. Ia tak ingin pria itu ada di hadapannya. Ia juga tak ingin… kehangatan itu kembali menyentuhnya.

“Jangan,” kata-kata yang keluar begitu rapuh. Juga begitu tak jelas maksudnya.

“Kenapa?” Junho tampak bersabar. “Dia bukan anakku?”

Sohyun terkejut. Kata-kata pria itu mengiris hatinya. “Kau yang bilang begitu,”

“Aku bertanya,”

“Itu jawabanku,”

“Dia begitu mirip denganku,” Ah, perempuan itu tak ingin mendengar kata-kata itu. Ia tidak ingin mendengar tanggapan pria itu. “Dia menoleh ke hadapanku barusan. Lihat, dia tersenyum.” Kata-kata itu membakar matanya. Begitu pedih.

“Lee Junho-sshi,”

“Apa aku boleh menggendongnya?”

Sebenarnya Sohyun ingin mengatakan tidak. Tapi lihatlah, anak yang ada di gendongannya sudah merengek ke ayahnya. Mana tega ia membatasi anaknya yang bahkan menyadari siapa pria yang ada di hadapannya.

Junho terlihat sangat bahagia, sampai-sampai membuat Sohyun menangis. Hatinya terpontang-panting ke segala arah.

Anaknya begitu menginginkan ayahnya, apanya yang salah? Anaknya menyukai ayahnya, mananya yang tidak benar? Kenapa hatinya begitu tak rela? Bukankah ia juga merasakan yang sama? Lalu apa yang membuatnya khawatir? Tidak dicintai oleh pria itu lagi? Bukankah sudah lama… kalau cinta itu sudah diujung senja.

“Aku ingin bicara padamu,” kata-katanya terasa sebuah peringatan. Kenapa? Kau berubah pikiran, Lee Junho-sshi? Terhadapku atau pada anak kita?, batinnya.

Lee Junho menyerahkan anak itu pada pria yang berdiri di dekatnya. Tidak! Lee Junho tidak boleh membawanya pergi! Jangan!

Belum sempat melakukan tindakan, tangannya sudah digenggam erat oleh Lee Junho. “Dengarkan aku,” bisiknya parau. Ia memeluk perempuan itu, membelai helaian rambut hitam berkilauan yang terjuntai indah, menenangkan gadis itu.

“Tenangkan dirimu,” bisiknya di telinga perempuan itu.

“Beberapa saat yang lalu, sempat terpikir pertanyaan yang sebelumnya benar-benar ingin kulupakan.” Lee Junho memeluknya lebih erat. Entah apa yang ada di pikirannya sekarang.

“Tahukah kau ternyata aku sama sekali tak memahamimu? Aku ingin bertanya kenapa kau meninggalkanku waktu itu, tapi mungkinkah itu pertanyaan yang layak untuk kau dengar?

Saat ingin tahu tentang hal itu, tiba-tiba saja ada banyak kaca di depan mataku. Aku seperti sudah mendapatkan jawabannya hanya dengan melihat pantulan diriku di kaca itu. Hanya saja, aku masih merasa tidak puas dengan jawaban ‘kau bukan pria yang baik makanya kau ditinggalkan’. Kupikir, pasti ada tambahan penjelasan. Tapi ternyata tidak.”

“Kau─”

“Ssst─aku belum ingin mengakhiri ini. Aku hanya akan bicara kalau itu tepat di telingamu. Aku ingin membuktikan padamu kalau aku ini lembut.” dan tidak mudah menangisimu, lanjutnya dalam hati.

“Lee Junho-sshi, tolong─”

“Kenapa?”

“Jangan mengambilnya dariku. Kumohon.”

Dan, Lee Junho sadar akan alasannya semula. Tidak seharusnya ia terpesona lagi pada gadis itu. Ya, ia harus kembali. Kembali ke tujuan awalnya.

“Baiklah. Dengarkan baik-baik saat aku mulai bicara. Di sini, aku tidak lagi membutuhkan penilaianmu.” Ada jeda beberapa saat. Junho sedikit ragu, pelukan ini rasanya juga semakin menyakitkan. Bagaimana bila suasana hatinya tak lagi sama ketika kegiatan ini berakhir?

“Waktu itu… aku tidak bermaksud menolakmu dan anak kita. Ya, kuaikui saat itu aku sedang emosi dan kau mengatakan sesuatu yang membuatku tidak bisa berpikir. Demi Tuhan aku ini preman, aku bermain dengan banyak wanita.” Mungkin yang paling tepat, cintaku kepadamu tidak kupercaya. Aku terlahir bukan untuk dan tidak karena cinta. Jadi aku tidak mempercayainya dan tidak memaksakan diriku untuk percaya. Tapi di sini sakit sekali sekarang.

“Tapi kehamilanmu mengejutkanku. Aku minta maaf untuk mengatakannya. Sekarang, aku menginginkan anak kita tanpamu. Aku berpikir aku harus merawatnya dan memberikan tanggungjawabku padamu. Aku tidak yakin kau mau melakukan pernikahan, maka akan lebih baik kalau anak itu bersamaku dan kau bisa hidup semaumu tanpa gangguan yang berhubungan denganku….”

Pelukan itu terlepas. Dan Sohyun dengan berat hati menyatakan kata-kata Junho membuatnya sakit hati. Apa salahnya sekarang? Sudah banyak hal yang dilaluinya, sudah banyak perlakuan yang kurang menyenangkan yang ia terima. Tapi kenapa masih sesakit ini…

Tubuh perempuan itu terperosok di kakinya. Ia menangis sejadi-jadinya. Tidak ada perlawanan. Mukanya memerah dan matanya memelas seakan harapan hidupnya diambil hanya dengan kata-kata. Betapa mudahnya…

Lee Junho beranjak dari tempatnya. Sepertinya ia juga kesusahan seolah hatinya sudah menggantung dan hampir jatuh di tempat itu dan ia tidak bisa melakukan apa-apa. Tapi lagi-lagi ia berpikir dan menguatkan hati serta prinsipnya. Ia melangkah seolah ia tidak perlu menyesal akan tindakannya.

Sohyun tersadar ketika pria itu sudah terlalu jauh. Ia mencoba berdiri. Ia juga berlari. Tapi kaki kecilnya juga tetap tak bisa mengejarnya. Hingga ia lelah dan lagi-lagi seperti orang paling menderita sesemesta.

“Oppa,” Satu kata itu yang keluar ketika punggung seorang pria tampak mengecil di kaki langit. Ia masih berdiri dengan lututnya yang setengah lumpuh karena berlari terlalu jauh. Namun, seperti sudah ditakdirkan, segala sesuatu yang diusahakan olehnya memang berakhir sia-sia. ”Kenapa kau tidak pernah menanyakannya padaku?”

Perempuan itu pingsan. Dan tubuhnya tampak menggungguling-guling di jalanan yang miring.

~k~

“Sohyun-a,” sapa seorang wanita tua yang masih berdiri di sekitar pintu. “Apa kau baik-baik saja?”

“Ah, Omonim. Aku baik-baik saja.” balasnya sambil mengusap air matanya.

“Apa Junho masih belum bicara padamu?” Ah, pertanyaannya membuatnya tersentak. Sangat frontal dan tanpa basa-basi. Lee Junho sekali.

“Belum,”

“Dia tipe pria dengan sejuta harga diri. Kau harus mendatanginya lebih dulu untuk memperbaiki perasaanmu terhadapnya.

Temuilah dia. Dia juga sama tersiksanya sepertimu.”

Sohyun mengangguk. “Sore nanti saya akan menemuinya. Itu yang saya rencanakan tiga hari sebelum hari ini. Ngomong-ngomong ada apa Omonim mencariku?”

“Ah, aku hampir lupa. Aku berencana untuk pulang hari Kamis nanti. Apa aku perlu membawa Seungho bersamaku? Ah, bagaimana kalau kau juga ikut aku pulang dan kita mengurus Seungho bersama-sama?”

“Omonim, aku ingin bersama Seungho tapi sepertinya aku ingin mengurus─”

“Kalau kau ingin mengurus Seungho, menikahlah dengan Junho. Kalau kau mengurus sendiri, pria itu akan sedih.” ucapnya lembut. “Waktu itu ketika Junho kembali ke rumah sambil membawa bayi, aku hampir menangis karena wajahnya terlalu datar. Waktu kutanya ini anak siapa dia hanya menjawab ‘anakku dengan wanita yang kucintai’. Aku tahu dia menyidirku.

Baiklah kuberitahu kalau Junho adalah anakku dengan seorang pria yag tidak kucintai dan tidak mencintaiku. Aku diperkosa olehnya, hamil, lalu kami menikah. Sampai akhirnya kami bercerai dan melukai Junho yang masih kecil.

Dia suka minum, bermain wanita, dan berjudi setelah lulus sekolah atas. Aku tidak tahu bagaimana dia bisa bergabung dengan mafia, waktu itu aku hanya mendengar desas-desus.

Saat aku bertanya dia hanya bilang kalau aku tidak perlu tahu. Dan menurutku itu sudah cukup daripada kami bertengkar lagi seperti sebelum-sebelumnya. Kupikir bayi kalian cukup membawa berkah untuk hubunganku dengan anakku. Aku berterima kasih kau melahirkannya, Sohyun-a.” pungkasnya sambil menghela air mata yang keluar dari sudut-sudut mata indah itu.

“Omonim, aku minta maaf membuatmu menceritakan hal yang menyakitkan,” ucap Sohyun sambil membungkukkan badan.

“Tidak apa-apa. Aku merasa bersalah sekarang karena menceritakan dia suka bermain wanita. Apa perasaanmu tidak apa-apa?”

“Aku sudah tahu. Dia pria yang sangat jujur dan aku menghargainya walaupun kejujurannya menyakitkan. Omonim tidak perlu mempermasalahkannya. Aku baik-baik saja.” jawab Sohyun meyakinkan.

“Aku tidak tahu kenapa Junho melepaskan perempuan baik sepertimu,”

Karena dia berpikir kalau dia adalah pria buruk, jawabnya dalam hati.

~k~

Sohyun mengetuk pintu di hadapannya dengan sebelah tangan. Rasanya nampan itu semakin berat di sebelah tangannya. Hatinya juga sama. Ia takut. Ia ragu. Tapi masalahnya ia sudah berjanji.

Terdengar balasan seorang pria di dalam ruangan itu untuk mempersilakannya masuk. Ia masuk ke ruangan itu dengan hati-hati. Dilihatnya Lee Junho sedang menghadap jendela yang mengarah ke bagian barat. Melihat matahari yang hampir-hampir tergelincir, ia jadi ingat senja itu ketika Junho menggambarnya. Betapa hangat perasaan itu. Senja yang mengalun lembut itu mengingatkannya pada lagu Hayley Westenra yang berjudul Snow Flower, lagu kenangannya dengan Lee Junho.

“Lee Junho-sshi,” sapa Sohyun sopan. Tidak ada tanggapan. Apa benar senja kali ini begitu memukau hingga membuatnya tak bisa berpaling?

“Oppa,” sapanya sekali lagi. Pria itu menoleh dengan tampannya. Sinar hangat mentari yang terpapar di setengah mukanya membuatnya begitu mempesona. Tapi ini bukan saatnya untuk saling mengagumi dengan terang-terangan. Ada beberapa hal yang seharusnya dikatakan.

“Oppa aku membawakan teh untukmu,”

“Hm, nanti akan kuminum. Kau sudah menaruhnya di tempat yang tepat.” balasnya sambil melirik ke meja tempat Sohyun meletakkan tehnya tadi.

Sohyun diam. Ia tidak membalas lagi. Apa yang harus diucapkannya sekarang? Salahkan dirinya yang tak membuat kerangka kata-kata sebelum masuk ke sini. Sepertinya memang tidak akan ada yang bisa dilakukannya lagi bukan?

“Apa ada yang ingin kau sampaikan padaku?”

Sohyun menoleh ke arah Lee Junho. Ia menjawab dengan agak kaku, “tidak ada.”

“Oh, kau boleh keluar sekarang.”

“Baik,” jawabnya ragu-ragu.

Sohyun mendekat ke arah pintu. Ia menekan gagang pintu itu. Dalam hatinya terasa sesak. Tapi ia sendiri tidak tahu bagaimana cara membebaskan perasaan ini. Perasaan yang membayakan ini hendak meledak rasanya.

Ia menutup kembali pintu yang tadi dibukanya. Ia mendekat ke arah Lee Junho tanpa mengeluarkan suara. Ia memeluk dengan perlahan punggung seorang pria yang ada di hadapannya.

Nyaman. Hangat. Menenangkan.

Tidak ada balasan dari Lee Junho. Pria itu masih sama tenangnya sejak sebelum perempuan itu masuk. Tapi ketika merasakan punggungnya yang agak basah, ia jadi terhenyak. Ia membalikkan badannya dan memeluk perempuan itu.

Ia memeluknya dengan sayang. Biarkan gadis itu menangis asalkan di tempat yang tepat. Ia tidak akan mencegahnya, tidak akan menahan keinginan perempuan rentan itu. Kali ini biarkan kilauan-kilauan senja itu yang mengutarakan perasaannya. Ya, biarkan saja.

~k~

8 thoughts on “Kilauan Senja – Chapter 5

  1. akhirnya di lanjut jg ceritanya, udah nikah aja junho ngapain mendem perasaan lama-lama?🙂

  2. Uyeah, akhirnya lanjutannya ada lagi. Setelah sekian lama nunggu 😂. Aku udh agak lupa ceritanya, akhirnya baca lagi chap awalnya.

    /Sigh/ Junho ini perubahan ‘perilakunya’ semacam menyeramkan ya, biar itu buat ‘yang katanya dia’ melindungi soo hyun. Disini di chap ini Junho dinginnya agak2 cair gitu dinding es nya. /Apa enggak?/

    Junho, kalo cinta tuh bilang aja kenapa. Mendem rasa cinta malah bikin gila tau…

    Ah, aku pengen banget liat interaksi Junho, soo hyun sama anaknya. kayak keluarga kecil gitu. Kayaknya bakal manis deh. Request itu boleh ya /kedip2/.

    Next chapternya ditunggu ya. Jangan lama2~

  3. hwaaaa akhirnya dilanjutin , terakhir baru baca part3 kirain gk dilanjutin lagi eh tau2nya udah part5 . seru seru ditunggu kelanjutannya

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s