Spring’s Agitator [Chapter 3]

spring

Spring’s Agitator

by Atikpiece

Main Cast : T.O.P as Choi Seunghyun (BIGBANG), Lee Parkbom (2NE1) | Support cast : SE7EN as Choi Dongwook, Park Hanbyul | Genre : Romance, Psychology, Hurt/Comfort, Life | Rating : PG-15 | Length : Chaptered | Desclaimer : Plot and story is mine. Don’t copy or repost without permission!

©2014

Spring’s Agitator : [Prolog] | [Chapter 1] | [Chapter 2]

[Chapter 3] – Closer to The Truth

Setelah menyusuri koridor gedung agensinya yang sunyi dan nampak remang-remang, Choi Dongwook bergegas menghubungi managernya bila malam ini ia tidak bisa pergi menyusul para kru dan rekan kerjanya untuk minum-minum bersama di bar karena ada hal lain yang harus ia lakukan sebelum shooting musik video terbarunya dimulai. Sudah menjadi kebiasaan baginya untuk selalu mengunjungi rumah pemakaman mendiang ibunya setiap satu kali dalam seminggu. Meskipun anehnya ia lebih suka melakukannya ketika malam hari, tetapi setidaknya itu lebih bagus ketimbang harus mengikuti ritual tidak penting yang diadakan managernya sebelum hari di mana ia akan menjadi tontonan ribuan orang—bahkan—beribu penggemarnya di sepanjang jalan Seoul.

Ketika Dongwook telah menutup pintu mobilnya diikuti supir pribadi tengah menginjak pedal perlahan, tiba-tiba ponselnya berdering.

Yeoboseyo?

Hi, pretty boy!

Kening Dongwook berkerut samar. “Siapa ini?”

“Hei, tidak usah berpura-pura begitu. Kita bahkan baru berpisah selama enam puluh hari tapi kau sudah melupakanku.”

Dongwook membisu sejenak, berusaha menerka ingatannya akan suara yang sepertinya memang sudah tidak asing lagi di telinganya. Dan begitu ia mendengar suara wanita itu berceloteh sekali lagi, raut wajahnya sejurus saja berubah sumringah, seakan beban di kepalanya menghilang tak berbekas.

“Byul?” tanyanya, hampir memekik. “Kaukah itu?”

“Lama tidak bertemu, Wookie-ya,” balas wanita di ujung sana dengan mimik cerah. Sebut saja Park Hanbyul, teman lama Dongwook sebelum pria berambut cokelat tua itu mengawali debutnya sebagai penyanyi, sekaligus sebelum ia menitik karir di Amerika beberapa tahun silam. Mulanya Dongwook tertawa ketika mendengar kembali suara Hanbyul setelah sekian lama.

“Bagaimana kabarmu?” Dongwook menyandarkan tubuhnya pada sandaran jok, tersenyum seraya mendesah membiarkan lampu-lampu jalan menyoroti wajahnya silih berganti dari balik jendela. “Las Vegas terasa menyenangkan, ya.”

“Lebih dari yang kaubayangkan, tentu saja.” Hanbyul memutar kursinya menghadap cermin, mencermati bentuk wajahnya sendiri sesaat setelah penata riasnya berjalan menghampirinya untuk make up lanjutan. “Sutradaraku pernah bilang bahwa ada banyak tempat yang bisa kukunjungi setelah shooting scene film terakhir selesai. Dan sialnya, dia berhasil menipuku setelah aku hanya bisa meluangkan waktuku selama empat puluh lima menit hanya untuk mengunjungi klab malam. Sedikit kesal, sih, tapi setidaknya aku bisa bertemu banyak pria tampan di sana. Begitu juga dengan gadis-gadisnya yang cantik dan—hei, mungkin kau bisa mencicipi salah satu dari mereka saat kau kembali lagi ke sini. Bukankah kau penggila wanita?”

Dongwook tertawa.

“Kau tetap tidak berubah, Byul.” Lalu tersenyum lebar. “Mungkin benar apa yang kaukatakan. Tapi kau tahu, seorang laki-laki menyukai wanita adalah hal yang normal. Setidaknya aku masih waras karena tidak menggilai sesama jenisku. Kau pikir aku akan segila itu, hm?”

Hanbyul pun ikut tertawa. “Yah, tapi syukurlah, aku bisa menyempatkan diriku untuk menghubungimu. Akhir pekan ini aku sibuk sekali, dan sekarang hariku pun dipadati dengan jadwal pemotretan di sana-sini. Benar-benar melelahkan.” Kemudian mendesah pelan sembari berdiri memperhatikan tatanan rambut cokelat hazel bergelombangnya dari balik cermin setelah si penata rias melenggang pergi untuk memilih kostum.

“Ngomong-ngomong, Wookie-ya, kau semakin tampan saja.” Hanbyul tersenyum cerah saat menemukan tab-nya—yang kebetulan sedang memamerkan foto Dongwook tengah tersenyum dan berpose dengan pakaian kasual—teronggok manis di meja rias. “Tidak heran bila kau selalu menjadi bahan rebutan teman-temanku saat istirahat shooting. Aku bahkan nyaris tidak menyangka apakah kau benar-benar setampan itu.”

“Hei, sejak lahir aku sudah ditakdirkan untuk menjadi tampan, kau tahu?” Dongwook terkekeh pelan, disusul dengusan kecil yang terdengar dari ponselnya. “Tapi, kuharap mereka tidak hanya melihatku dari tampilan visual. Mengertilah bahwa aku adalah seorang penyanyi, bukan pemain film.”

“Oke, oke, Tuan Choi Dongwook. Akan kuingat itu.” Wanita itu memutar kepalanya sembari tertawa pelan, sudah terbiasa mendengar teman baiknya selalu membanggakan diri seperti itu.

“Lalu, bagaimana Korea? Baik-baik saja, kan?” Sebelum Dongwook membuka mulut, suara Hanbyul kembali menyerbu. “Oh iya, kudengar kau akan merilis video musik terbarumu bulan depan.”

“Begitulah.” Dongwook mengangkat bahu. “Aku akan mulai shooting besok pagi. Dan yah, sepertinya besok akan menjadi hari yang panjang untukku.”

Hanbyul mendengus. “Menjadi artis ternyata tidaklah mudah, ya.” Lalu berjalan menuju sofa terdekat kemudian menghempaskan pantatnya begitu saja. “Kau harus merelakan waktu bersenang-senangmu untuk mencari keuntungan lain. Tapi aku tidak perlu ambil pusing, sih. Toh, Amerika benar-benar mengesankan bagiku.”

Dongwook menoleh ke kanan, tersenyum memperhatikan air mancur yang baru saja dilintasi mobilnya. “Korea juga sama menyenangkannya. Lagipula aku seperti ini juga karena keinginanku sendiri.“ Kemudian ia teringat sesuatu. “Oh, lalu, kapan kau pulang ke Korea? Aku bahkan hampir tidak yakin kalau wajahmu masih se-chubby dulu,” tambahnya, lalu tertawa.

“Hei, sekarang aku jadi agak hitam.” pekik Hanbyul. “Kau belum melihat foto-foto terbaruku, ya?” Bisa Dongwook bayangkan jika Hanbyul saat ini tengah mengerucutkan bibirnya. “Tapi, rencananya aku akan kembali sekitar tiga bulan lagi. Kau akan lihat betapa mempesonanya diriku.”

“Ish, percaya diri sekali.”

Hanbyul menarik sudut bibir kanannya, membentuk sebuah cengiran. Sementara Dongwook memasang senyum kecut seolah-olah yang dikatakan Hanbyul adalah hal paling mustahil, meskipun Dongwook pernah melihat dengan mata kepala sendiri jika Park Hanbyul—yang menurut pribadi Dongwook—ialah sosok yang sangat cantik dan anggun.

“Sudahlah, lupakan saja.” Hanbyul mengibaskan tangannya. “Oh, tunggu. Aku hampir lupa mengatakannya padamu.” Wanita itu bergegas menyambar tas jinjing yang berada di atas meja kemudian mengobrak-abrik isinya sejenak hingga ia menemukan sesuatu yang dicarinya.

Sebuah kertas poster berisi berbagai macam event yang akan diadakan secara gratis di Las Vegas akhir Januari nanti.

“Apa kau masih ingat dengan pertunjukan sirkus di Circus Hotel tahun lalu?”

Dongwook mengerutkan alisnya, terlihat sedang berpikir.

“Kudengar kau pernah melihatnya waktu itu. Jadi, berhubung akhir bulan aku sedang tidak banyak jadwal, mungkin kau bisa meluangkan waktumu dengan menonton sirkus itu bersamaku untuk yang kedua kalinya. Aku kangen bagaimana badut-badut itu beratraksi.” Kemudian Hanbyul menengok ke arah kalender yang terpasang di dinding sebelah kanannya, memeriksa hari dan tanggal pertunjukan itu diadakan. “Yah, itu pun jika kau tidak keberatan.”

Dongwook memandangi arlojinya, kemudian melirik kalender digital yang terpasang pada bagian tengah dasbor mobil. Mulanya ia mengangkat sebelah alisnya, berusaha untuk menimang-nimang keputusan. Sebenarnya itu bukanlah hal yang bagus untuk dilakukan, karena mungkin saja hari pertunjukan itu bertepatan langsung dengan beberapa hari sebelum perilisan video musiknya, walaupun ia tidak tahu pasti kapan acara sirkusnya dimulai. Namun biasanya, sirkus diadakan setiap akhir bulan, dan itulah yang membuatnya sedikit risau memikirkan bagaimana cara ia dapat menghadiri tanpa harus mengacaukan jadwalnya. Tapi…

“Baiklah, mungkin aku bisa.”

“Ah, baguslah kalau begitu.” Sorot mata dan wajah Hanbyul nampak berseri-seri. Berbeda jauh dengan raut seseorang yang sedang ia ajak bicara. “Janji, ya. Kau akan datang,” tambahnya, “Sebagai gantinya, aku akan mentraktirmu Taco[1] setelah melihat tarian air mancur di Bellagio. Dan oh, jangan lupa, kau juga harus menjelaskan siapa wanita idaman yang pernah kauceritakan waktu itu, ng, siapa namanya? Lee Parkbom?”

Dongwook hanya tersenyum kecil.

Yah, mungkin setelah ini ia harus menghubungi managernya, cepat atau lambat.

 

*****

 

Sekejap malam tengah ditemani oleh terpaan desau angin yang terus bermunculan, menggerakkan bagian ujung rerumputan disertai air danau yang mendesir begitu tenang. Cahaya bulan di atas sana masih sudi menyinari alam, tanpa terkecuali kedua sosok yang kini sedang menyirobokkan pandangan tanpa berucap apapun, membiarkan waktu yang mereka gunakan terasa begitu lamban berlalu. Meski sebenarnya mereka tahu, bila malam semakin larut, dan tentu tidak menunjukkan kondisi yang bagus untuk menghirup udara segar.

Lee Parkbom sejenak memperhatikan tatapan kosong itu lagi untuk kesekian kalinya. Sementara di dalam benaknya ia meyakini bahwa ekspresi ketakutan itu masih tersisa di wajah Seunghyun.

“Di sini kau rupanya.” Parkbom mengerutkan alis, menilik gerak bola mata Seunghyun dengan ragu, meskipun ia sendiri sudah merasa lega karena telah menemukan pria itu. Beruntunglah Seunghyun hanya berjalan sekitar 200 meter dari rumah sakit dan berinisiatif untuk berhenti di dekat danau.

Seunghyun tidak mengindahkan ucapan Parkbom. Ia cuma membisu sembari memutar kaku badannya menghadap danau. Kepalanya ia tundukkan, kemudian mengangkat kaki, memeluknya erat-erat, meringkuk di atas kursi seraya membiarkan kantung matanya terlihat jelas pada permukaan danau.

Dengan sedikit gugup, Parkbom pun mendekatinya, lantas mendudukkan pantatnya di sebelah Seunghyun, meski dari gelagat pria itu menunjukkan seperti tidak memedulikan kehadirannya.

Sejenak hening menyelimuti, kemudian pecah setelah semilir angin menerpa wajah mereka masing-masing.

“Kenapa kau pergi ke sini? Di sini dingin, bukankah lebih baik kau kembali ke rumah sakit untuk menghangatkan diri?”

Seunghyun tidak menjawab, tetap bersikukuh dengan posisinya. Akan tetapi, sesuatu yang membuat keadaan batin Parkbom semakin terasa sakit adalah,

Tatapan kosong itu lagi.

“Ng, i—ini sudah waktunya untuk tidur, Seunghyun-ssi. Sebaiknya kau harus kembali.” Parkbom hendak meraih lengan Seunghyun dengan tangan gemetar, namun sebuah gelengan tidak wajar pria itu membuyarkan niatnya.

“Tidak…”

Ada jeda sejenak.

“ Aku… aku tidak mau pulang…” racaunya, disertai pupil mata bergerak ke sana sini dan napas sedikit tersendat. Kening Parkbom berkerut, lantas mengembuskan udara perlahan. Entah terasa sangat sulit memahami bagaimana sosok di sampingnya ini. Sementara Seunghyun semakin mempererat pelukan pada kedua lututnya. Ia bergeming, memelototi berbagai macam aspek di hadapannya tanpa menggubris wanita itu.

Sesaat Parkbom membenarkan jasnya, kemudian memandang Seunghyun sekali lagi dan berakhir meletakkan kedua tangannya di tepian kursi. Sebetulnya ia ingin membujuk pria itu untuk ketiga kalinya agar mau kembali ke rumah sakit karena ia sudah tak enak hati melihat tubuh Seunghyun mulai menggigil sepersekian detik, ditambah ia pun berkali-kali menggigit bagian bawah bibirnya. Namun entah memang tak semudah membalikkan telapak tangan. Seunghyun tetap terdiam pada posisinya, dan di sisi lain, Parkbom takut jika membuatnya berteriak selayaknya kejadian pagi tadi.

Hingga akhirnya, ia memutuskan untuk mengubah posisi duduknya sedikit lebih mendekat pada pria itu. Walau kenyataannya memang tidak dapat mengurangi suhu dingin udara malam, namun setidaknya, itu lebih baik ketimbang harus duduk berjauhan.

Lantas Parkbom pun tersenyum tipis.

“Kalau seperti ini… tidak apa-apa, kan?” tanya Parkbom, meskipun wanita itu tahu Seunghyun tidak bakal menjawab pertanyaannya. “Setidaknya aku ingin membuatmu merasa lebih baik. Yah, walaupun tidak seberapa.”

Seunghyun kembali memandangi danau.

Dan itu membuat Parkbom semakin merasa sulit, namun tetap berusaha untuk menyunggingkan senyum.

“Tapi syukurlah, kau tidak pergi ke mana-mana. Aku takut jika terjadi sesuatu padamu, karena kau adalah tanggung jawabku. Di tengah malam seperti ini bisa saja kan tiba-tiba kau menghilang kemudian ditemukan tidak sadarkan diri di jalanan, atau mungkin diculik para perampok, atau bahkan yang lebih buruk seperti… tertabrak mobil…”

Seunghyun pun tetap bergeming seperti sedia kala.

Oke, Parkbom, sepertinya cara berpikirmu sudah kelewatan.

“Eh, ng… maaf,” katanya, canggung. “Aku tidak akan mengulangnya lagi.”

Parkbom lalu menundukkan kepalanya barang semenit lantaran bingung harus mengawalinya dari mana lagi. Seunghyun sepertinya tidak begitu tertarik mendengarkannya, tetapi Parkbom tetap bersikeras agar kesenyapan tidak membelenggu.

“Aku tahu itu tadi tidak lucu. Jadi, lupakan saja.” Wanita itu tertawa hambar. Lalu terdiam beberapa saat. Cukup aneh memang jika harus menertawakan ucapannya sendiri meski bagi orang lain itu sama sekali bukan lelucon. Ditambah itu hanya ditanggapi oleh pandangan kosong Seunghyun yang sudah beberapa kali dilihatnya. Akan tetapi mau bagaimana lagi, Parkbom sudah terlanjur. Anggap itu bukanlah hal yang penting. Beruntung saat ini hanya pria itu saja yang dapat mendengar suaranya. Walau semenit kemudian otaknya kembali berkelana ke dalam dunianya sendiri. Memperhatikan bintang bertabur di angkasa malam yang sepertinya bisa dihitung hanya dengan jari.

Alhasil, Parkbom mengikuti arah pandang Seunghyun, kemudian tersenyum kecil.

“Kau suka melihat bintang?” tanya Parkbom, dan seperti biasa, tidak ada suara menyeruak.

“Yah, kau mungkin tidak perlu menjawabnya. Tapi kau tahu, aku senang sekali melihatnya ketika masih delapan tahun.” Kemudian mendesah pelan.

“Saat itu hampir memasuki musim panas, Ayah dan Ibuku mengajakku mendaki bukit setapak di dekat rumahku ketika malam telah datang. Ayahku pernah bilang, jika kau melihat langit dari sana, maka kau akan terasa dekat pula dengan langit itu. Dia juga bilang jika bintang akan lebih banyak bersinar saat musim panas. Awalnya aku tidak memercayainya, karena Ayahku seorang penikmat mitos. Tapi semakin lama, aku mulai menyadari jika ucapannya memang benar, meskipun kala itu aku melihatnya di langit Amerika.”

Sunggingan di wajah Parkbom semakin lama semakin melebar.

“Sampai sekarang pun aku masih suka melihatnya. Dan kurasa, suasana di sini juga tidak jauh berbeda dengan Amerika. Mereka tetap indah, tetapi sayang, hanya ada sepuluh bintang yang saat ini bersinar.”

Seunghyun meremas jemarinya sendiri, lantas mencengkeram kain celana yang terikat di lututnya.

“Wajar saja sih, karena sekarang sedang musim semi. Padahal kalau banyak pasti bagus. Aku jadi ingat bagaimana Ibuku kesulitan menebak ada berapa bintang di atas sana. Kemudian tertawa bahagia saat tahu ada bintang jatuh tepat di atasku. Ayahku menyuruhku segera berdoa, dan kau tahu apa yang kuharapkan?”

Hanya angin berembus yang menyahut pertanyaan Parkbom. Sedangkan Seunghyun semakin erat meremas kain celananya.

“Aku berharap bisa mendapatkan pacar.” Lalu terdiam. “Aneh sekali kan, di usiaku yang masih belia, aku sudah memikirkan soal pacar?”

Lagi-lagi wanita itu tertawa, setidaknya terdengar lebih nyaman daripada sebelumnya. Ia tidak sanggup menghentikan senyum ketika memori di kepalanya bersahutan silih berganti. Dan ia pun baru sadar, jika sepertinya sekarang ia tampak banyak bicara di dekat pria itu. Parkbom termasuk orang yang suka mengingat masa lalu. Entah hal sekecil apapun, ia dapat mengingatnya dalam hitungan detik. Seperti kehilangan sebutir penghapus saat masih bersekolah atau ketika salah seorang temannya meludah di halaman. Itupun tergantung akan kemauan, termasuk hal ngeri yang ia lihat tadi pagi yakni sosok yang sedang mengalami gangguan psikis bernama Choi Seunghyun.

Si tokoh utama yang kini tengah meringkuk di sampingnya.

Si tokoh utama yang sedang memandang kosong.

Dan Si tokoh utama yang kini sedang menangis…

 

Tunggu.

 

Menangis?

 

Parkbom terkesiap, saat mengetahui raut hampa Seunghyun yang—entah dia menyadarinya atau tidak—sudah basah oleh air matanya yang mengalir di kedua pipi sembari menatap air bergerak tenang di danau. Parkbom lantas mendekat, membiarkan sorot kekhawatirannya mengelabui pupil Seunghyun. Ketenangan yang tercipta pun seketika lenyap begitu saja. Ia cemas. Ia takut.

“Seunghyun-ssi,” lirih Parkbom. “Kenapa menangis?”

Seunghyun tidak menjawab.

“Hei, jangan membuatku takut. Kau baik-baik saja, kan?”

Pria itu tidak berbuat apa-apa. Cuma terdiam tanpa merespon barang sedikitpun. Parkbom bingung, bagaimana ia harus menenangkan Seunghyun yang dari awal selalu menutup bibirnya rapat-rapat. Pun sedari tadi Seunghyun selalu saja membisu kala Parkbom mengajaknya bicara. Namun ketika Seunghyun tak lagi meringkuk hingga Parkbom meletakkan tangan kirinya di pundak belakang Seunghyun, seketika pria itu menjerit.

“Jangan sentuh!!” pekiknya, memelototi Parkbom yang kini memandangnya tak percaya. Bagaimana tidak, karena Seunghyun yang sebelumnya terlihat baik-baik saja tiba-tiba berubah 180 derajat lebih menakutkan. Dan seperti yang ia lihat, ada sesuatu yang aneh mengganjal.

“Jangan menyentuhku…” lirihnya seraya menggeleng dan memeluk tubuhnya sendiri. “Tidak… jangan dekati aku…” tambahnya berulang-ulang.

“Apa salahku?” Seunghyun menatap nanar sosok di depannya seraya terisak. “Aku tidak melakukannya, kan? Jangan dekati aku… pergi!”

Alis Parkbom mengernyit bersamaan, mengiringi setitik air mata Seunghyun yang kembali jatuh.

Kenapa…

Kenapa begini lagi?

 

*****

 

Pukul delapan pagi, Seoul pun sudah dipenuhi oleh para pejalan kaki yang kerap berdesakan memenuhi jalanan. Di setiap sudutnya, sebagian besar pejalan kaki didominasi oleh para pekerja kantor. Ada beberapa dari mereka yang rela berangkat lebih pagi demi memenuhi jadwal meeting. Cukup mengesalkan memang, karena di jam berikut biasanya mereka masih disibukkan dengan jadwal minum kopi di kedai terdekat untuk menghangatkan diri. Namun berkat pekerjaan lah, mereka harus melupakan acara santainya sejenak.

Ketika langkah kakinya telah mendarat di sebuah kebun berpetak, Parkbom membawa dirinya di tengah-tengah kebun seraya menyunggingkan senyum manis di bawah hangatnya sinar mentari di pagi hari. Aktivitas kali ini diawali dengan mengunjungi toko bunga yang terletak beberapa blok dari apartemennya sebelum ia disibukkan dengan pekerjaan di rumah sakit. Nuansa di sekitar lahan yang dipenuhi rerumputan hijau, ditambah sederet bunga yang beragam bermekaran di tiap hamparan seketika meningkatkan mood-nya. Kedua sudut bibirnya selalu terangkat tinggi ketika kaki jenjang itu kembali meminimalisir jarak dari posisinya menuju meja kasir. Tentu saja, sebab pemandangan menyejukkan seperti ini memang sangat jarang ditemui di kota besar yang ia tempati sekarang. Apalagi pepohonan yang tumbuh di tiap sisi kebun. Sungguh, Parkbom berani taruhan jika panorama semacam ini hampir tidak pernah ditemui di daerah singgasananya.

Akan tetapi pengecualian, bagi sosok Choi Dongwook yang sangat suka memenuhi pekarangan rumahnya dengan bermacam-macam tumbuhan.

Parkbom kemudian bergegas menemui seorang penjaga kasir yang kini sedang menduduki meja panjang seraya melakukan keseharian yang dilakukan para wanita pada umumnya—mempercantik diri dengan bedak wajah, eye shadow dan lipstik merah marun. Lalu memagut dirinya di depan cermin seraya tersenyum centil, menyisir rambut bob-nya dan memanyunkan bibir beberapa kali. Satu menit, dua menit, ia terus saja bercermin, tanpa memedulikan sosok Parkbom yang sudah berdiri menghadapnya. Sudah menjadi kebiasaan bagi Parkbom karena selalu diacuhkan oleh pelayan kasir itu demi bersolek.

Alhasil, desahan Parkbom pun muncul begitu saja.

“Mau sampai kapan kau seperti itu, Jiyoo-ya?” tanya Parkbom.

Lee Jiyoo—pelayan tersebut—terkesiap. “Oh, Bom,” sahutnya sembari tersenyum cerah dan mengembalikan cermin pada tempatnya. Tidak lupa alat-alat make up-nya dimasukkan ke dalam laci. “Maaf membuatmu menunggu.” Kemudian tertawa. “Apa yang bisa kubantu untuk pelanggan setiaku ini?”

Parkbom tersenyum kecil. “Tolong, seperti biasanya, ya.”

Belum sempat Parkbom mengeluarkan dompetnya, Jiyoo buru-buru menyela. “Bunga Tulip lagi?” Keningnya berkerut samar. “Aneh, kau selalu membeli bunga itu ketika berkunjung ke sini. Memangnya ada apa dengan bunga yang lain? Lagipula, semuanya masih segar, kok.”

Parkbom mengalihkan pandangannya dari isi tas. “Seniorku menyukai Tulip,” katanya, lantas tersenyum sekenanya. “Aku ingin menempatkan bunga itu di meja kerjanya. Kudengar hari ini hari ulang tahunnya.”

“Ulang tahun Dokter Choi maksudmu?” Wajah Jiyoo nampak berseri-seri. “Waah, cepat sekali. Kalau begitu, tolong sampaikan ucapan selamat ulang tahunku padanya, ya,” tambah Jiyoo, kemudian memutar bola matanya. “Oh, dan jangan lupa juga, sampaikan ucapan terima kasihku padanya karena sudah menyelamatkan adikku. Berkat bantuannya, akhirnya adikku bisa dipindahkan ke sekolah reguler.”

“Tentu, pasti akan kusampaikan.” Parkbom tersenyum lebar, kemudian menunggu sejenak ketika Jiyoo berbalik memasuki ruangan bersuhu lembab di belakangnya untuk mengambil pesanan Parkbom. Beberapa saat kemudian ia pun muncul dengan membawa sebuket Tulip dengan pita biru muda terikat bersama dengan kartu ucapan. Jiyoo menempatkannya di meja seraya menyodorkan pulpen pada Parkbom.

Jiyoo tersenyum. “Tuliskan beberapa hal untuknya. Seperti ucapan selamat ulang tahun, misalnya.”

Wanita itu membisu sejenak, kemudian meraih pulpen tersebut dan bergegas menuliskan beberapa kata. Di sela Parkbom tengah menggerakkan pulpennya, Jiyoo mendesah sambil mengingat-ingat sesuatu.

“Ngomong-ngomong, Dokter Choi dan putranya pernah berkunjung ke sini juga, lho,” terangnya. “Sekitar dua bulan lalu. Kalau tidak salah Dokter Choi membeli beberapa Lily untuk dihadiahkan pada mendiang istrinya, lalu putranya membeli sebuket Mawar merah untuk seseorang. Kemudian aku bertanya apakah itu untuk pacarnya, tetapi dia cuma tersenyum kemudian pergi setelah membayar.“ Jiyoo langsung mendesah berat. “Sayang sekali, padahal aku belum sempat meminta tanda tangannya, tapi dia sudah pergi. Kau tahu, adikku penggemar beratnya.”

“Benarkah?” tanya Parkbom, kemudian mengangguk pelan. “Dia memang tampan, sih. Wajar saja kalau dia punya banyak penggemar. Lagipula, aku berteman dekat dengannya. Bahkan jika ada waktu, aku sering jalan-jalan bersamanya.”

Jiyoo terkejut. “Kau, teman dekat Choi Dongwook?” Kelopaknya membulat bak bola ping pong. “Astaga, yang benar?” tambahnya menggebu, hampir tidak memercayai ucapan Parkbom. “Aaah, pasti menyenangkan bisa berteman dengan artis terkenal. Kau benar-benar beruntung, Bom. Kalau aku jadi kau, berjalan bersama Tuan Choi Dongwook setiap hari, bisa jadi aku akan langsung jatuh cinta padanya. Tahu sendiri kan, dia itu sungguh mempesona.”

Parkbom menanggapi dengan senyum simpul. “Yah, dia memang teman yang menyenangkan.”

Jiyoo mendengus kecil seraya menepuk pelan bahu Parkbom. Sesaat kemudian ia memasang wajah cemberut. “Kenapa kau baru memberitahuku sekarang, sih? Kalau aku tahu kau berteman dengannya sejak lama, aku kan bisa minta tolong padamu untuk meminta tanda tangannya.”

Parkbom mengangkat bahu. “Kenapa aku yang salah? Salah sendiri kau tidak bertanya padaku.”

Jiyoo memberengut, namun di detik berikutnya ia kembali tersenyum. “Ya sudah lah, berhubung kau sudah di sini, tolong mintakan tanda tangannya, ya.”

Parkbom berhenti menulis sejenak, memandang heran teman sebayanya ini. “Astaga, banyak sekali permintaanmu. Tadi ucapan selamat ulang tahun, sekarang tanda tangan,” katanya seraya menggeleng pelan tetapi masih menyunggingkan senyum khasnya dan kembali menulis. Pernyataannya barusan hanya ditanggapi kekehan kecil Jiyoo, kemudian wanita itu kembali mengeluarkan cermin, memagut dirinya lagi sembari membetulkan poninya yang terpotong rapi.

Mulanya Parkbom nampak sedang berpikir, kemudian tiba-tiba saja ia teringat sesuatu.

“Oh, ng, Jiyoo-ya, tolong Tulipnya satu lagi.”

Jiyoo mengangkat sebelah alisnya. “Untuk apa?”

“Untuk ditempatkan di meja Dokter Choi.”

“Tapi, Tulip ini kan sudah…”

“Tidak, ini untuk urusan lain,” sahut Parkbom, disertai terselesaikannya tulisan ucapan selamat ulang tahun untuk Dokter Choi lantas ia mengembalikan pulpennya pada Jiyoo. “Aku minta sekaligus bersama potnya.”

Jiyoo terdiam cukup lama, kemudian kembali lagi ke ruangan di belakangnya untuk mengambil satu pot berisi beberapa tangkai Tulip lantas ditempatkan di atas meja. Memang kelihatannya ia cuma membisu, namun di dalam batinnya ia bertanya-tanya. Apakah Tulip yang Parkbom beli dua hari lalu sudah layu sehingga Parkbom membelinya lagi? Padahal Tulip itu bisa bertahan sampai seminggu lebih jika disirami dua kali sehari secara rutin.

Sementara Parkbom bergegas mencari dompetnya.

“Apa Tulipnya layu, Bom?” Jiyoo pada akhirnya bertanya. “Soalnya, tidak biasanya kau membeli Tulip pada pot dalam waktu dekat.”

Parkbom menutup bibirnya dalam hitungan detik, lantas menjawab. “Kemarin Seunghyun memecahkan potnya.”

“Apa?”

Bola mata Parkbom melebar, kemudian berkedip memandangi Jiyoo yang kini menatapnya dengan raut bingung.

“Seunghyun?” Jiyoo mendekatkan wajahnya sebab baru kali ini ia mendengar nama itu.

“Siapa dia?”

Parkbom agak menjauhkan wajahnya, lalu menggeleng pelan.

“Bukan siapa-siapa,” jawabnya singkat disertai senyuman. “Hanya seorang pasien.” Lalu ia menemukan dompetnya dan mengambil beberapa lembar uang kemudian diberikan pada Jiyoo. “Dia sama seperti adikmu waktu itu. Hanya saja jenis penyakitnya yang berbeda.”

“Oh…” Jiyoo mengangguk kecil, lalu menempatkan uang Parkbom pada tempatnya dan tersenyum simpul. “Kudoakan semoga cepat sembuh.”

“Terima kasih.” Parkbom kemudian meraih sebuket Tulip dan satu potnya dengan dua tangan. Dan ia tersenyum sejenak menatap Jiyoo seraya membungkuk kecil.

“Dan, sepertinya aku harus ke rumah sakit sekarang,” katanya. “Sekali lagi terima kasih banyak, ya. Oh iya, tolong sampaikan salamku untuk adikmu.”

“Tentu saja,” kata Jiyoo sumringah. “Semoga harimu menyenangkan.”

Parkbom mengangguk. “Sampai jumpa.”

“Hati-hati di jalan.”

Wanita itu berbalik meninggalkan meja kasir dengan langkah sedang. Akan tetapi sebelum Parkbom benar-benar mencapai pintu, teriakan Jiyoo dalam sekejap menghentikan gerak kakinya.

“Oh iya, Bom,” Jiyoo menutup bibir sejenak. “Boleh aku bertanya sesuatu?”

Parkbom terdiam di tempat tanpa membalikkan tubuhnya.

“Ng… s—soal Seunghyun…” kata Jiyoo, agak memelankan suaranya.

“Apa dia tampan?”

Sorot mata Parkbom mengarah pada pintu, merasa bingung memikirkan mengapa tiba-tiba Jiyoo bertanya seperti itu. Awalnya ia menghempaskan udara sejenak, sedikit menerawang bagaimana perawakan pasien penderita Ekshibisionisme itu, kemudian memutar kepalanya hingga terlihat jelas senyum kecilnya di mata Jiyoo.

“Yah, dia tampan.” Lantas mengangkat bahunya dan tersenyum sedikit lebar.

“Tapi kurasa, akan sangat tampan… kalau dia tidak sakit.”

Jiyoo berkedip tanpa berkata apa-apa, hingga wanita berambut merah itu pergi dan sudah benar-benar tidak menginjakkan kaki di toko bunganya.

 

*****

 

Di Senin pagi yang cerah, suasana koridor rumah sakit pun masih sangat sepi. Hanya ada beberapa perawat yang berjalan silih berganti memasuki kamar rawat inap untuk mengantarkan sarapan kepada para pasien. Kemudian ada pula segelintir dokter yang baru saja datang dan bergegas meminta tolong pada salah seorang perawat di meja resepsionis untuk mengisi daftar hadir. Ada beberapa dari mereka yang saling bertegur sapa kepada pasien yang sedang duduk bersantai pada deretan kursi yang telah disediakan. Ditambah ada sebagian pasien anak-anak yang berlari-lari kecil saling mengejar teman sekamarnya di sekitar koridor seraya tertawa riang.

Mulanya memang terlihat baik-baik saja, tidak ada suatu hal pun yang menjadi masalah.

Sampai akhirnya sebuah pekikan menjadikan heboh seisi rumah sakit.

KYAAAAAAA!!

Parkbom terlunjak kaget sebab mendengar teriakan tersebut. Lalu ia pun bergegas beranjak dari kursi dan keluar dari ruang kerjanya untuk mencari tahu ada masalah apa di rumah sakit. Entah mengapa jantungnya terasa begitu hebat bergemuruh, ditambah langkahnya yang cepat hingga menerbangkan sebagian poni rambutnya. Sebelum ia mencapai tujuan, ketika tengah melewati koridor, tetiba saja ia melihat seorang perawat berjalan mondar-mandir memeriksa ruang kerja Dokter Choi dengan raut gelisah. Seraya mengangkat sebelah alisnya, Parkbom pun segera menghampiri perawat itu.

“Apa yang terjadi?” tanyanya cepat.

“Oh, Dokter Parkbom.” Perawat itu menatap Parkbom dengan mimik takut. Napasnya pun menderu tidak teratur. “Tolong. Ada seorang pasien yang sedang mengamuk di dekat pintu utama.”

Parkbom berpikir sebentar. “Apa dia pasien Dokter Choi?”

“Ya.”

Sudah kuduga.

“Tolong antarkan aku ke sana.”

Nuansa koridor pun dipenuhi oleh derapan kaki Parkbom beserta si perawat yang saling bersahutan, pun banyak beberapa pasien yang sedang dalam masa pemulihan keluar dari kamar rawat inap mereka akibat teriakan seseorang lalu beranjak untuk melihat keributan yang terjadi sambil membawa tiang tempat infus mereka berada.

“Lepaskan! Lepaskan aku, bajingan!!”

Itu suara Seunghyun.

Parkbom semakin mempercepat langkah bersama si perawat sampai membuat napasnya terengah dan terdengar jelas di sepanjang koridor. Hingga akhirnya ia pun tiba di tempat kejadian, menerobos kerumunan pasien beserta perawat yang tidak terlalu banyak dan berhasil berdiri berjarak beberapa senti di tengah orang-orang yang melihat.

Ia memandangi Seunghyun dengan tatapan mencengang. Hampir tidak memercayai matanya sendiri ketika melihat keadaan sosok pria yang terus meronta, berteriak dan memaki di bawah cengkraman dua orang dokter di kedua lengannya itu.

Napas terengah yang sedari tadi mendera, tiba-tiba terasa sesak di dadanya. Sakit.

 

Astaga…

 

Seunghyun…

 

 

-to be continue-


Glosarium

[1]Taco : Hidangan tradisional Meksiko yang terbuat dari jagung atau tortilla gandum ditambah daging serta beberapa sayuran.

 

A/N : HAAAAAIII KETEMU LAGI SAMA SAYA😀 Dan saya minta maaf atas keterlambatan publish ff ini ;__; karena saya disibukkan dengan tugas presentasi Bahasa Indonesia yang berjibun banyaknya heu heu T^T maaf banget saudara-saudaraku :’D *digilas

Tapi terima kasih banyak buat reader yang masih sudi membaca ff abal saya ini setelah sekian lama hahahaha😀 Minta komennya boleh ya? :”

27 thoughts on “Spring’s Agitator [Chapter 3]

    • dia kan sakit Ekshibisionisme disertai sedikit gangguan psikis😀 buat lebih jelasnya bisa dibaca dulu part-part sebelumnya🙂

      makasih banyak udah baca yaa

  1. aigooo… kapan senghyun bisa sembuh hehehe… biar bom jatuh cinta…
    aku penasaran ama masa lalu senghyun??? apa hal itu yg membuatnya sakit…
    next^^

  2. Akhirnya ada juga lanjutannya.. lammmmaaaaa bgt nunggunya -_-
    Dongwook nantinya sama Byul aja ya.. Bom itu miliknya Seunghyun.😀
    Bayangin Seunghyun nangis itu rasanya ikutan nyesek .hiks😦
    Sebenarnya apa sih penyebab Seunghyun bisa menderita penyakit itu? Butuh flashback nih ^_^

  3. Kyaaa seunghyun oppa diapain itu.. Trs dia kenapa:(
    Nextnya ditunggu loh eonn, makin lama makin bertmbh seru dan bikin kepo-_-
    Dan jangan lupa happy end.. Fighting eonnie^^

  4. hallo.. salam kenal aku readers baru disini😀 cerita nya bikin penasaran >.< , dan seunghyun ada apa dengamu ?? next😀

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s