[FF Freelance] Our Little Promise – The Untold Reason (Chapter 3)

Poster FF_Our Little Promise copy

Title                 :           Our Little Promise : The Untold Reason

Author             :           Red Rose

Length             :           Chaptered

Rating              :           PG-15

Genre              :           Romance, Angst, Hurt

Main Cast       :           Jung Soo Jung & Kim Jong In

Other Cast      :           Jung Soo Yeon (Just Introduction)

Previous          :          Chapter 1, Chapter 2,

Credit Poster  :          Red Rose

Disclaimer      :           The story is mine. Read it and give me some advice about my story.

 

 

 

Eomma, aku tidak ingin sekolah disana. Lagipula disini masih banyak universitas yang bagus dan terbaik.”

Soo Jung bersikeras membujuk ibunya agar menyetujui keinginannya untuk melanjutkan di salah satu universitas di Seoul saja. Soo Jung tidak mau meninggalkan Seoul. Karena itu, dengan berbagai macam cara dia lakukan untuk membujuk ibunya.

“Iya, Eomma tahu. Tapi, akan lebih baik kalau kau sekolah disana. Kau lihat, begitu banyak perancang terkenal yang lulus dari universitas ternama di Amerika. Lagipula disana ada kakakmu.”

Eomma, aku tahu itu. Tapi, jaminan suksesnya seseorang bukan berdasarkan orang itu dari lulusan luar negeri atau bukan, melainkan dari diri orang itu sendiri. Selain itu, aku tidak ingin merepotkan Soo Yeon eonni. Dia pasti sedang sibuk dengan pekerjaannya disana dan apa tidak menganggu appa eonni jika aku tinggal disana?”

Dalam hati Soo Jung berharap kali ini ibunya akan menyerah. Biasanya akan berhasil setiap kali Soo Jung sudah benar-benar memelas apalagi jika berhadapan dengan ibunya.

Biasanya. Namun, kali ini lain dari biasanya.

Eomma sudah menghubungi kakakmu dan dia bilang dia senang sekali bila kau mau tinggal disana sambil menemaninya.”

Eomma…”

“Soo Jung-ah, eomma hanya ingin yang terbaik untuk dirimu dan juga untuk kakakmu, Soo Yeon. Baiklah, pembicaraan kita mengenai masalah ini selesai untuk malam ini. Pikirkan baik-baik, Soo Jung-ah. Temui eomma jika kau telah membuat keputusanmu.”

Ibu Soo Jung lalu pergi meninggalkan Soo Jung yang masih berdiri kaku. Soo Jung hanya menatap punggung ibunya yang makin lama mnghilang dibalik pintu kamarnya. Soo Jung menghela nafasnya pelan.

Apa yang harus dia lakukan?

Dia merasa menjadi seperti anak pembangkang yang tidak mau menuruti perkataan orangtuanya. Dia merasa sangat buruk sekali saat ini. Pikiran dan hati Soo Jung saat ini benar-benar kacau. Pada akhirnya, kedua kaki Soo Jung membawa dirinya ke kamar tidurnya. Mungkin tidur bisa menenangkan pikirannya dan dia bisa kembali memikirkan masalah ini.

***

Mata Soo Jung masih terbuka. Soo Jung bisa melihat bahwa kamar tidurnya gelap dan satu-satunya sumber penerangan di ruangan itu hanya lampu kamar kecil berbentuk beruang. Soo Jung tidak mengalami insomia atau mimpi buruk.

Soo Jung tidak bisa memejamkan matanya walau rasa kantuk sudah menyerangnya saat kepala dan badannya sudah menempel di tempat tidurnya yang nyaman. Dia masih memikirkan pembicaraan dirinya dan ibunya beberapa jam yang lalu.

Soo Jung melihat jarum jam menunjukkan angka dua. Lima jam sudah sejak pembicaraan itu berakhir dan lima jam juga dia masih belum bisa memejamkan kedua matanya. Bagaikan video, dikepalanya terputar dengan jelas pembicaraan itu.

Soo Jung bukannya tidak mau menuruti perkataan ibunya. Hanya saja, banyak alasan mengapa dia tidak ingin meninggalkan Seoul.

Ibu dan ayah Soo Jung sudah lama berpisah sejak umur Soo Jung lima tahun. Setelah perpisahan antara orangtuanya, ibunya memutuskan agar Soo Jung diasuh olehnya mengingat usia Soo Jung yang masih terlalu kecil untuk berpisah dari ibunya.

Kakak Soo Jung , Jung Soo Yeon, yang saat itu berumur sepuluh tahun mengerti dan menerima apa yang diputuskan oleh kedua orangtuanya dan Soo Yeon harus rela berpisah dari ibu dan adik perempuan satu-satunya yang sangat dia sayang. Setelah itu, Soo Yeon akhirnya mengikuti ayah mereka pindah ke Amerika.

Walaupun sudah tidak bertemu secara fisik, hubungan komunikasi antara dua saudara yang terpisah itu masih berjalan dengan baik. Setiap tahun saat perayaan Natal tiba, Soo Yeon dan ayahnya pulang ke Seoul untuk berkumpul bersama Soo Jung dan ibunya.

Hubungan antara kedua orangtua mereka baik bahkan bisa dikatakan sangat baik walau sudah bercerai. Melihat hal itu, Soo Jung dan kakaknya penasaran dengan alasan kedua orangtuanya bercerai. Walaupun begitu, kedua kakak beradik itu tidak pernah menanyakan alasan mengapa kedua orangtua mereka bercerai sampai mereka sudah beranjak remaja.

Menjadi anak broken home tidak membuat Soo Jung dan kakaknya tumbuh menjadi anak yang liar. Ini berkat didikan orangtua mereka yang sejak kecil ditanamkan pada kedua kakak beradik itu bahwa kelak mereka harus menjadi seseorang yang baik dan sukses.

Itu juga yang kini sedang ibunya terapkan pada Soo Jung.

Orangtua mana yang tidak ingin melihat anaknya tumbuh menjadi seseorang yang sukses dan berhasil.

Soo Jung tahu akan hal itu. Keinginannya untuk menjadi seorang perancang terkenal-seperti kakaknya-membuat ibunya menginginkan yang terbaik untuk Soo Jung.

Tapi, tidak bagi Soo Jung.

Meninggalkan ibunya sendirian di Seoul tidak pernah terpikirkan oleh Soo Jung sebelumnya. Soo Jung tahu kalau yang ibunya lakukan adalah untuk kebaikannya. Tapi jika dirinya meninggalkan ibunya, siapa yang akan menemani ibunya?

Mengingat hanya Soo Jung satu-satunya keluarga yang masih dimiliki ibunya, membuat Soo Jung semakin berat untuk meninggalkan ibunya, walau ibunya tidak keberatan sekalipun.

Belum selesai  berkutat dengan kekhawatiran akan ibunya, nama Kim Jongin muncul dibenaknya.

Kim Jongin.

Laki-laki yang selama sebelas tahun terakhir ini sudah menjadi temannya-lebih tepatnya sahabat-berhasil masuk dalam daftar panjang alasan mengapa Soo Jung tidak bisa meninggalkan Soo Jung.

Memiliki satu-satunya teman sampai umurnya menginjak tujuh belas tahun, membuat Soo Jung merasa berat untuk meninggalkan Jongin. Lagipula mereka sudah berjanji satu sama lain.

Mengenai keinginan Soo Jung untuk menjadi seorang desainer, Jongin tidak mengetahuinya. Soo Jung memutuskan untuk tidak memberitahu kepada Jongin sampai dia menemukan waktu yang tepat.

Kapan?

Soo Jung tidak tahu kapan itu.

Sebelum akhirnya kedua matanya mulai menyerah dan mulai menutup, Soo Jung masih sempat melihat angka di jam menunjukkan angka tiga dan sekali lagi, Soo Jung melihat bayangan Kim Jongin yang sedang tersenyum semakin membuat dirinya berat untuk meninggalkan Seoul.

***

“Kau tidur berapa jam semalam?”

Soo Jung menguap-entah yang ke berapa kalinya-refleks menutup mulutnya yang terbuka lebar dengan kedua tangannya.

“Aku tidur nyenyak semalam.” Soo Jung menjawab sekenanya.

“Nyenyak dan keadaanmu seperti ini? Mimpi buruk?”

Tidak. Sama sekali aku tidak bermimpi buruk. Ini karena aku melihat wajahmu sesaat sebelum aku terlelap.

Soo Jung menggeleng dan mengacungkan jempolnya dihadapan muka Jongin untuk meyakinkan laki-laki itu bahwa dirinya baik-baik saja. Melihat hal itu, Jongin hanya menghela nafasnya pelan tanda dia tidak akan melanjutkan pertanyaannya yang sebenarnya begitu banyak tentang kondisi gadis yang dibawah matanya itu terbentuk berkas hitam tipis.

“Baiklah kalau begitu. Sekarang kita mau kemana? Ehm… Biar kutebak, rumahmu?”

“Tidak. Kita ke rumahmu saja.”

Dahi Jongin berkerut. Tidak biasanya Soo Jung bersikap seperti ini. Biasanya Soo Jung akan langsung-tanpa menanyakan kepada Jongin sebelumnya-mengajak Jongin ke rumahnya walau hanya untuk minum jus dan makan sedikit cemilan.

Namun kali ini, Soo Jung lebih memilih untuk datang ke rumahnya.

Soo Jung yang kurang tidur sampai hampir tertidur dikelas tadi-kalau saja Jongin tidak duduk disampingnya dan membangunkannya-sampai jam sekolah berakhir, Soo Jung yang selama perjalanan pulang hanya diam saja dan lagi-lagi hanya menguap, Soo Jung yang tidak menggebu-gebu mengajak dirinya ke rumahnya, dan Soo Jung yang lain hari ini.

Jongin menatap wajah gadis itu. Walau saat ini Soo Jung sedang tersenyum sambil memandang ke depan, Jongin dapat melihat sinar dimata gadis itu tidak secerah biasanya. Ini berarti ada sesuatu yang terjadi kemarin dengan Soo Jung.

Dan Soo Jung memilih tidak menceritakannya. Ini semakin membuat Jongin penasaran. Apa yang sebenarnya terjadi pada Soo Jung?

Soo Jung tahu bahwa Jongin tidak akan percaya begitu saja dengan keadaannya yang saat ini merupakan bohong besar kalau dia dalam kondisi yang baik-baik saja. Terlalu bodoh jika Soo Jung berusaha untuk menutup rapat keadaannya saat ini. Karena itu, Soo Jung pura-pura tidak tahu dan terus berjalan sampai mereka tiba didepan rumah Jongin.

“Kau tidak membawa kunci rumah?”

Suara Soo Jung tadi berhasil membuat Jongin sadar dari lamunannya. Karenanya, Jongin tidak sadar bahwa mereka sudah sampai di depan gerbang pintu rumahnya.

“Ah, tidak. Aku membawa kunci itu.” Jongin mengambil sebuah kunci dari kantong celana sekolahnya lalu membuka gembok gerbang pintunya.

Mereka berdua lalu masuk. Keadaan rumah Jongin sepi siang ini. Soo Jung tidak heran dengan hal tersebut. Kedua orangtua Jongin pasti sedang berada di kantor keluarga mereka. Kedua kakak perempuan Jongin tidak berada di sini. Kedua kakak perempuan Jongin berada diluar negeri untuk bersekolah.

Soo Jung tiba-tiba teringat dengan permintaan ibunya agar dia mau bersekolah disana.  Cepat-cepat Soo Jung mengusir pikiran itu dari kepalanya sampai dia menyadari bahwa Jongin sudah berjalan dua sampai tiga langkah didepannya. Refleks, Soo Jung mempercepat jalannya agar tidak membuat Jongin curiga.

“Kau tidak mau menceritakannya padaku?” Jongin bertanya saat mereka sudah berada di kamar Jongin.

Soo Jung hanya bisa menghela nafasnya pelan. Serapat apapun dia berusaha menutupinya, Jongin akan selalu bisa menemukan kunci untuk membukanya.

“Ini hanya masalah biasa antara aku dan ibuku.”

Jongin mengambil posisi duduk didepan Soo Jung dan Soo Jung duduk diatas tempat tidur Jongin. Ini seperti dimana seorang detektif sedang menginterogasi seorang pelaku kejahatan.

Jongin detektifnya dan Soo Jung merasa menjadi pelakunya. Apalagi dengan posisi Jongin menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya sambil menatap Soo Jung dengan wajah serius.

“Baiklah, ibuku meminta agar aku melanjutkan sekolah ke luar negeri karena ibuku berpikir itu lebih baik. Tapi aku menolak karena beberapa alasan…”

Soo Jung menarik nafasnya lalu mulai berbicara lagi.

“…aku tidak bisa meninggalkan ibuku disini sendirian sementara aku disana tinggal bersama kakak dan ayahku. Tidak ada yang menjaga ibu disini. Jongin jangan tatap aku seperti itu.”

Jongin lalu menurunkan kedua tangannya dari posisinya tadi dan mengubah posisinya dengan menopang dagunya dengan kedua tangannya dengan posisi badan yang dia majukan lebih dekat dengan Soo Jung.

Soo Jung rasa ini tidak ada bedanya dengan posisi tadi selama tatapan Jongin tidak berubah.

“Kau tidak perlu khawatir, aku akan menjaga bibi.”

Pernyataan Jongin itu sukses membuat Soo Jung serasa dialiri oksigen yang banyak sampai membuatnya sesak.

“Kau harus melanjutkan sekolahmu, Soo Jung-ah. Ibumu hanya menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Dia ingin kau berhasil. Jangan pernah tolak apa yang akan membawamu menuju pintu kesuksesan. Ibumu pasti tahu jalan yang terbaik untukkmu.  Kau tidak perlu khawatir, ada aku disini.”

“Aku tahu itu. Tapi…”

“Kau mau minum apa?” Jongin memotong perkataan Soo Jung.

Soo Jung dalam sebelas tahun mengenal Jongin sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi ketika Jongin sudah berbicara seperti tadi dan tidak mau mendengar alasan apapun dari dirinya. Apalagi menyangkut tentang masa depan dirinya. Soo Jung yang merasa bahwa pada akhirnya percuma saja jika dia menjawab pernyataan Jongin tadi hanya menatap Jongin dengan senyum tipis diwajahnya.

“Terserah saja.” Jongin lalu keluar dengan memberikan tanda kepada Soo Jung untuk menunggu sebentar. Soo Jung hanya menganggukkan kepalanya.

Mungkin bagi orang yang tidak tahu hubungan Jongin dan Soo Jung, bebasnya akses keluar-masuk Soo Jung ke kamar Jongin terasa hal yang aneh.

Tapi tidak bagi Soo Jung maupun Jongin.

Mereka sudah terbiasa sejak kecil. Tapi kebebasan itu tidak berarti mereka bisa menguasai zona pribadi milik orang lain itu seperti milik mereka sendiri. Mereka memiliki batasan untuk hal itu.

Sambil menunggu Jongin kembali, Soo Jung mengambil salah satu buku yang tersusun rapi di rak buku milik Jongin. Soo Jung menemukan ketertarikannya terhadap buku itu dan mulai membacanya sambil berbaring di atas tempat tidur Jongin.

Saat sedang berkonsentrasi dengan apa yang dirinya baca, Soo Jung merasakan sesuatu yang ujungnya runcing dan sedikit tajam jatuh menyentuh wajahnya dan membuat Soo Jung terkejut. Sontak, Soo Jung bangkit dari posisinya dan mengambil sesuatu yang jatuh mengenainya tadi.

Sebuah amplop.

Soo Jung yang berpikir bahwa itu merupakan salah satu isi dari buku yang sedang baca, langsung membuka amplop itu dan mulai mebaca satu persatu kalimat yang diketik dengan jelas di atas kertas itu.

Jongin yang baru saja kembali dari dapur terhenti langkahnya saat dia melihat Soo Jung sedang membaca sesuatu yang tidak dia harapkan dibaca oleh gadis itu. Jongin masih berdiri dan tidak berani masuk ke kamarnya sampai Soo Jung selesai membaca seluruh isi surat itu dan mendapati Jongin sedang berdiri mematung sambil membawakan dua gelas minuman di tangannya.

“Kau bilang tidak perlu khawatir. Kau bilang akan menjaga ibuku. Kau bahkan menyuruhku untuk menceritakan semuanya.”

“Soo Jung-ah…”

“Kapan kau memberitahuku?”

“Besok.”

“Besok. Cerdas sekali, Kim Jongin.”

Soo Jung lalu berdiri dan berjalan mendekati Jongin. Matanya merah menahan agar airmatanya tidak keluar membasahi pipinya.

“Kau akan memberitahuku dengan cara apa? Menulis surat lalu menyuruh seseorang untuk memberinya kepadaku? Atau kau punya cara lain? Bagaimana bisa kau mengatakan bahwa aku tidak perlu khawatir mengenai ibuku sementara kau juga tidak akan berada disini dalam jangka waktu yang tidak bisa ditentukan.”

Soo Jung masih berusaha menahn airmatanya.

“Soo Jung-ah…”

“Bukankah kita sudah berjanji bahwa kita akan tetap bersama dan walaupun harus berpisah, tidak seperti ini caranya. Sebelas tahun. Sebelas tahun, Jongin. Itu tidak singkat. Aku salah selama ini jika berharap bahwa kau tetap akan memegang janji itu.”

Soo Jung memberikan amplop itu dengan kasar kepada Jongin yang juga terkejut mengingat tangannya tidak dalam keadaan kosong. Soo Jung keluar dari kamar Jongin tanpa mengucapkan apa-apa.

Jongin ingin sekali mengejar Soo Jung. Tapi percuma kalau keadaannya sudah seperti ini. Jongin sekarang tahu mengapa seharian ini saat dia melihat Soo Jung ada perasaan aneh menyelimuti hatinya.

Jawabannya ini. Dan itu terasa menyakitkan. Bagaimana tidak? Orang yang sudah kau kenal selama sebelas tahun ini kau kecewakan karena susah sekali untuk menjaga perasaan orang tersebut agar tidak terluka ketika kau mengatakan yang tidak mereka harapkan.

Yang bisa Jongin lakukan hanyalah menatap kepergian Soo Jung dan menyesali kebodohan dan keputusan yang telah dia ambil.

***

 

Soo Jung terus berlari sambil mengusap airmatanya yang sudah turun dipipinya. Mati-matian dia menahan agar butir-butir bening itu tidak jatuh dihadapan Jongin. Soo Jung terus berlari hingga dia sampai dirumahnya.

Soo Jung tidak berharap bahwa Jongin akan menyusul dirinya dan menjelaskan semuanya.

Semuanya bahkan sudah sangat jelas.

Dari awal Soo Jung sudah tahu tentang keinginan Jongin itu. Dia juga tahu bahwa Jongin pasti akan pergi. Tapi tidak seperti ini. Soo Jung tidak mempermasalahkan isi amplop itu atau kapan Jongin akan memberitahu tentang hal tersebut sebenarnya.

Tapi, Soo Jung merasa kecewa ketika Jongin berjanji untuk menjaga ibunya. Hal itu membuat Soo Jung tidak habis pikir dengan jalan pikiran Jongin yang membuat dirinya bagaikan baru merasa kesejukan lalu tiba-tiba saja disiram air panas.

Ketika sampai dirumahnya, Soo Jung tidak terlebih dulu membuka sepatunya, membunyikan bel, dan mengucapkan salam. Soo Jung hanya ingin bertemu ibunya. Soo Jung menemukan ibunya sedang berada didapur, menyiapkan makan siang.

Dengan terengah-engah-Soo Jung baru sadar bahwa dari rumah Jongin dia terus berlari walau jarak rumah mereka tidak terlalu jauh tapi cukup membuat detak jantungnya berdegup lebih kencang-Soo Jung mengutarakan apa yang sedari tadi sudah dia pikirkan dan putuskan.

Dan Soo Jung sudah benar-benar memantapkan hatinya saat memutuskan semua itu.

Eomma, apakah rumah ayah dan Soo Yeon eonni masih bisa menampung satu anggota keluarga baru mereka?”

***

Bagaimana dengan chapter ketiga ini?

20 thoughts on “[FF Freelance] Our Little Promise – The Untold Reason (Chapter 3)

  1. itu jonginnya knp mpe krystal nangis gitu? jongin mo ninggalin korea juga? msh bingug ni. musti baca part sebelummnya kali ya😀 suka ama pairingan kai-krystal🙂

  2. nah hayo isi suratnya apa? apa tentang jongin yg direkrut jadi trainee
    what soojung ke amrik? jadi mereka pisah gitu~
    next part soon

  3. Thor plis jan pisahin KaiSstal, gue kagak redo thor😥 dan maksudnya soojung ngomong bisa nampung satu orang itu apaan thorr ? Apa itu buat ibu nya. Atau buat jong in tinggal bareng gitu. Aaaaaa penasaran thor.lnjutnya jan lama” ya😉

  4. jongin bikin frustasi ya di sini. kejer kek soojungnya😦 /sabar sabar puasa ini/
    nggak apa2 kok. karena kalo dikejar itu bakal mainstream (?)😀

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s