[FF Freelance] Love Really Hurts (사랑참아프다) (Chapter 5 – END)

final

Title : Love Really Hurts (사랑참아프다) – Chapter 5

Author : @pijicalangek

Cast : Son Naeun

Kim Myungsoo

Kim Jongin

Length : Chaptered

Genre : Tragedy, Hurt, Romance, Angst and Crime

Rating : PG-15

Previous : Chapter 1Chapter 2, Chapter 3, Chapter 4

Preview: Cinta itu memang menyakitkan, lebih sakit daripada di bunuh. Namun, cinta akan lebih sakit ketika kau mulai di lupakan oleh orang yang kau cintai

A/N: Halaaaw semua. Ngga nyangka ya ini udah final hiks😦 part ini panjaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaang banget siapkan mata kalian hihihihihi. Seperti biasa ini murni dari karangan author, maaf jika ada typo di sekeliling sini😦 thanks juga buat RFF udah mau berkenan muat FF yang tak sebagus FF disini hihihi. Sudah segitu aja curcolnya. BTW HOREEE NGGA DI PW(?) comment ya comment panjaaaang panjang kalo perlu kkk~ udahlah segitu ae. Makasii.

Happy reading my BELOVED readers🙂

***

 

 

 

Kini Jongin dan Naeun sudah berdiri di depan sebuah rumah mungil sederhana di pesisir pantai. Naeun menatap kosong rumah itu pikirannya masih terombang ambing di sana, rumahnya dengan Myungsoo.

Jongin mengenggam erat tangan Naeun mencoba memberikan ketenangan kepada yeoja yang ia cintai ini.

Kajja!” ucap Jongin semangat menarik tangan Naeun memasuki rumah itu.

“Kau masih ingat rumah ini bukan?Rumah ini tempat kita bermain dulu.Kau bisa memakainya disini, setidaknya menenangkan pikiranmu disini,” ujar Jongin lembut mengelus rambut Naeun.

Jongin mengusap kedua pipi Naeun dengan telapak tangannya pelan menghapus buliran air mata yang terus keluar, “Sudahlah tidak usah menangis Naeun-ah, kau lebih cantik tersenyum.”

Mendengar hal itu Naeun hanya tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya, “Gomawo Jonginnie,”

Baby don’t cry tonight after the darkness passes

Baby don’t cry tonight it’ll become as if it never happened

You’re not the one to disappear into foam, something you never should’ve known

So Baby don’t cry cry my love will protect you

Handphone Jongin berbunyi, lelaki itu merogoh ponselnya dan mengangkat panggilan itu.

Yeoboseyo?” ucap Jongin.

Oppa! Bisakah kita bertemu?” tanya seorang yeoja disebrang sana.

Jongin menatap Naeun memastikan yeoja itu akan baik-baik saja jika ia pergi,”Baiklah, aku akan menemuimu di taman seperti biasa dua jam lagi,”

Eoh!Arraseo,” yeojaitu menjawab dengan pelan.

“Sampai bertemu disana Soojung-sshi,”

Ne, jaljayo~” Jongin segera menutup panggilan itu dan menatap Naeun.

Naeun menepuk tangan Jongin dengan pelan, “Kau ingin pergi?” tanyanya.

Jongin mengangguk, “Ne, berjanjilah kau akan baik-baik saja disini,”

Naeun mengumam dan mengangguk patuh, “Arraseo, kau masih mengira aku anak kecil, eoh?”

Tawa lelaki itu terdengar lepas, “Aku akan selalu mengiramu seperti anak kecil bahkan sekecil ini Naeun-ah,” Jongin menunjukkan jari kelingkingnya untuk menggambarkan Naeun.

Naeun mengerucutkan bibirnya dengan kesal, “Yak!Aku tidak sekecil itu ppabo!”

Arrayo, rapikan rumah ini, okay?”

Yak!Aku ini bukan pembantumu!”

“Hahaha, aku hanya bercanda saja, Son Naeun. Lihat wajahmu sudah seperti kepiting rebus,”

Naeun tertawa kecil dan mendorong Jongin ke pintu masuk rumah itu, “Pergi kau pergi,”

“Kau berani mengusirku, eoh?” tanya Jongin menjitak kening Naeun dengan jahil.

“Aku bukan mengusirmu, hanya saja aku menyuruhmu pergi,” Naeun menjulurkan lidahnya dan tertawa jahil.

“Baiklah aku akan pergi dulu, jaga dirimu baik-baik.Naeun-ah,” pamit Jongin dan mengecup kening Naeun sesaat dan bergegas pergi.

Naeun tersenyum melihat perilaku sahabatnya itu, “Gomawoyo Jongin-ah.”

***

“Kim Myungsoo, sudah cukup!” Sungyeol, sahabat Myungsoo dengan cepat menarik botol soju yang hampir di tegak lelaki itu.

Myungsoo, lelaki itu menatap kosong pemandangan kota Seoul dari apartemen Sungyeol. Ya, kini ia sudah tinggal di kediaman sahabatnya ini.

Myungsoo tersenyum lemah, “Berikan aku satu botol lagi, Sungyeol-ah,”

“Kau gila!Sudah enam botol kau habiskan, dan kini kau meminta lagi?”

“Kau tidak mengerti Lee Sungyeol, setidaknya minuman ini membuatku merasa tenang,”

Sungyeol menepuk bahu sahabatnya itu, “Bukan botol-botol ini yang membuat merasa tenang, kau butuh dia, Kim Myungsoo,”

Isakan tangis terdengar di ruangan itu, seorang Kim Myungsoo tengah menangis.Entahlah menangis karena menyesal, mungkin?

Lelaki bermarga Lee itu memeluk sahabatnya, mencoba membantu menenangkan pikiran lelaki di hadapannya ini, “Menangislah sepuasnya, tenangkanlah dirimu dahulu. Setelah itu kita pikirkan cara agar Woori noona tidak menyebarkan video itu. Aku akan pergi mencari makanan,”

Setelah mengucapkan kata yang setidaknya membuat beban di pikiran Myungsoo berkurang, Sungyeol akhirnya keluar dari apartemen itu.

“Aku tidak percaya Son Naeun.Bagaimana bisa kau membuatku mencintaimu?”Myungsoo terdiam dan akhirnya terduduk memeluk lututnya.Kembali menangis.

***

Naeun menghela nafasnya, tangannya menggeser pintu belakang rumah.Matanya seketika terbelalak melihat sapuan ombak biru di hadapannya. Bibir tipis itu menyebut nama lelaki yang sudah membawaya kesini, Jongin.

Beberapa detik senyuman itu tertahan dan mulai tergantikan dengan tatapan kosong yeoja yang tengah mengandung itu. Sepasang kaki jejangnya berjalan menuju pasir pantai berusaha menenangkan pikirannya yang sudah jauh entah dimana, memikirkan seorang namja yang masih berstatus sebagai suaminya atau sebentar lagi akan berganti menjadi mantan suaminya.

*Flashback*

Aroma khas obat-obatan membuat yeoja berambut gelombang ini terbangun dari tidur sejenaknya, sebuah suara khas terdengar memasuki indra pendengarannya dan sebuah tangan terasa mengenggam hangat tangannya.

“…Ayolah Son Naeun bangun, mana Son Naeun yang kuat, eoh? Dirimu ingin apa? Aku akan mengabulinya jika kau bangun sekarang juga Son Naeun, bukankah ini menarik dan aku tahu kau sangat menyukainya? Jadi bangunlah dan dapatkan hadiahmu, babo-ya,” suara sahabatnya Kim Jongin.

Yeoja yang bernama Naeun itu tersenyum lemah dan membalas genggaman tangan Jongin dan perlahan membuka matanya, di lihatnya sang sahabat tengah mengadahkan wajahnya ke atas.

“Mengapa kau masih memanggilku bodoh Kim Jongin?”tanya Naeun tertawa pelan.

Terlihat jelas lelaki di hadapannya itu terkaget, namun beberapa saat kemudian tersenyum hangat.

“Yak!Baboya kenapa kau baru bangun?Kau tau kau hampir membuat jantungku berhenti,” protes Jongin sembari membantu Naeun duduk di tempat tidurnya.

“Salahmu sendiri, aku sudah memanggilmu berulang kali dan kau!Kau hanya mengataiku bercanda?Dasar bodoh!”Naeun memukul kepala Jongin dengan tertawa kecil.

Jongin mengelus kepalanya pelan berpura-pura merasakan sakit yang sama sekali sebenarnya tidak ada.

“Hei!Kim Jongin!” panggil Naeun.

“Hmm, waeyo?”

“Aku sudah bangun sekarang!”

“Ya, aku tahu.Kau pikir aku buta?”

“Bukan itu yang aku maksud Kim Jongin,”

“Lalu apa?”

“Kau bilang, kalau aku bangun kau akan menuruti segala kemauanku, bukan?”

“Mema—“

Sebuah decitan pintu terdengar, seorang yeoja berponi memasuki ruangan itu memotong apa yang ingin Jongin katakan.

Mianhae menganggu, Aku Jung Hyerim.Psikolog untuk pasien Kim Naeun, bisakah aku memeriksanya?”yeoja berponi itu berkata dengan senyuman sehingga kedua matanya mengecil dan membentuk bulan sabit.

“Tentu saja,” ucap Jongin tersenyum lalu berdiri dari kursinya dan beranjak pergi, sebelum pergi iaberbisik di telinga Hyerim, tetapi masih bisa di dengar Naeun, “Hati-hati Hyerim-sshi wanita itu sudah gila,”

“Yak!Kim Jongin!!” teriak Naeun kesal.Jongin tertawa dan akhirnya pergi dari ruangan itu.

Hyerim tertawa kecil melihat kedua orang di hadapannya ini, ia pun segera duduk di tempat Jongin tadi.

“Jadi mengapa aku bisa hadir disini?” tanya Hyerim membuat Naeun mengeryitkan kedua alisnya.

“Maksudmu?” tanya Naeun balik tidak mengerti.

Hyerim tersenyum dan membuka berkas data Naeun, sekilas ia membaca data tersebut dan menatap Naeun.

“Tekanan batin sehingga membuat janin yang di kandung melemah? Kau ingin dengar sesuatu terkait permasalahanmu Naeun-sshi?” tanya Hyerim memandang Naeun.

Naeun memiringkan wajahnya menimbang-nimbang permasalahan itu di dalam pikirannya, “baiklah, aku akan mencoba mendengarkannya,”

“Tekanan batin sehingga membuat janin yang di kandung melemah?Aku sudah sering mengatasi hal ini ada yang berhasil dan ada yang tidak. Ini di karenakan satu hal yaitu beban pikiran bukan?” tanya Hyerim kembali dan di jawab anggukan dari Naeun.

“Beban pikiran ada banyak macam, namun hal yang membuat ibu hamil terkena hal ini karena.Satu masalah pekerjaan dan kedua masalah keluarga.Masalah yang mana yang menyebabkanmu seperti ini?”Hyerim kembali bertanya. Kali ini pertanyaan ini membuat Naeun diam. Haruskah ia mengakuinya atau tidak?

“Aku mengalami masalah yang kedua.Mungkin,” jawab Naeun pelan.

Hyerim menepuk pundak Naeun, “Ingin berbicara hal ini di luar ruangan ini?Mungkin di taman?”

Naeun menimbang kembali apa yang di tawarkan Hyerim. Bagaimanapun juga walaupun di depannya ini psikolog, namun tetap saja Hyerim adalah orang asing baginya.

Mengerti dengan apa yang di pikirkan Naeun, Hyerim tersenyum kecil, “Aku tahu, aku adalah orang asing bagimu. Tapi, jika kau mau aku bisa menjadi sahabatmu, Naeun-ah.”

Senyuman di bibir Naeun menyimpul, “Baiklah, aku rasa tak ada salahnya jika di taman,”

Kedua yeoja itu berjalan menuju taman belakang rumah sakit ini. Setelah mereka sampai, mereka-pun duduk di kursi taman yang di rindangi pohon maple.

“Sudah siap untuk menceritakannya?” tanya Hyerim.

“Baiklah, aku siap,” jawab Naeun mengangguk.

Naeun menceritakan segalanya keapada Hyerim, termasuk juga sahabatnya Jongin yang mencintainya. Hyerim tersenyum tipis dan menghapus air mata Naeun menggunakan sarung tangannya.

“Apakah kau sangat mencintainya?” tanya Hyerim.

Hening sesaat, terlihat jelas raut wajah Naeun yakin namun menahan perih jika ia mengatakannya, “Ya, aku mencintainya,” senyum getir Naeun.

Hyerim mengenggam tangan sahabat barunya ini, “Kau tahu aku mempunyai solusi yang bisa membahagiakanmu kelak nanti atau semakin membuatmu terpuruk. Tapi menurutku kau lebih baik mengikuti saran dari Jongin… ceraikan Kim Myungsoo,” perkataan itu keluar dari mulut Hyerim bersamaan dengan air mata yang turut keluar dari pelupuk mata Naeun, mendengar kalimat terakhir dari gadis berponi di sampingnya ini.

Naeun dan Jongin kini diam berdiri di depan rumah Naeun dan juga Myungsoo.

“Perlu aku antar?” tanya Jongin memegang pundak Naeun.

Naeun tersenyum lalu melepaskan tangan yang hinggap di pundaknya itu dengan pelan dan menggeleng, “Aku bisa sendiri Jongin-ah, terimakasih sudah mengantarku.”

Kedua kaki jenjang gadis itu berjalan mendekati rumah itu.Ada seberkas rasa yang menyuruhnya tidak membuka pintu rumah itu.Namun, dengan mantap gadis itu membuka pintu rumah tersebut.

Satu tetes air mata keluar…

Di ikuti juga tetesan berikutnya mulai membasahi wajah Naeun ketika ia melihat pemandangan yang seketika detik itu juga mematahkan hatinya. Suaminya seorang keturunan chaebol bertingkah seperti hewan liar dengan seorang gadis.

“KIM MYUNGSOO!!” teriak Naeun seketika memberhentikan aktivitas suaminya itu.

Myungsoo di depannya menatap Naeun kaget, “Son Naeun?”

Menangis, hanya itu yang ia lakukan ketika menatap wajah lelaki itu. Isakan kecil yang menjadi semakin besar keluar dari bibir mungil itu berusaha meluapkan segala yang ia rasakan.

“Naeun-ah ada apa?” suara Jongin terdengar di belakangnya entah mungkin lelaki itu mendengar teriakan sahabatnya ini.

“Kim Myungsoo! Apa yang kau lakukan?!” teriak Jongin dan seketika mendekat ke arah Myungsoo yang tengah membeku.

Satu hantaman di awali di pelipis Myungsoo, di ikuti hantaman lain yang mengenai tubuhnya.

“Jongin,” ucap Naeun kecil memanggil namja yang sudah sibuk menghantam suaminya itu, namun Jongin tak menanggapinya dan semakin menghantam tubuh Myungsoo.

Seberkas rasa sakit juga Naeun dapatkan saat ia melihat manik mata Myungsoo menatapnya dengan lemah, “Kim Jongin sudah cukup!” teriak Naeun membuat kepalan tangan Jongin terlepas.

Dengan pelan namun pasti Naeun berjalan ke arah Myungsoo, menatap wajah Myungsoo dengan senyuman lelah, “Apakah kau memperlakukan semua yeoja seperti ini, Kim Myungsoo?”

Diam, ruangan itu menjadi diam tak satupun dari mereka mengeluarkan suara.Hanya buliran air mata yang keluar dari pelupuk mata Naeun, tangan kekar Myungsoo mulai mendekati wajah yang tengah menangis itu berusaha untuk menghapusnya.Namun, Naeun segera menghempaskannya.

“Jawab aku Kim Myungoo!” teriak Naeun parau dan menampar pipi Myungsoo cukup keras hingga menimbulkan suara.

Ya, pertama kalinya Naeun menampar pipi suaminya itu dengan keras, “A-aku bisa menjelas—“

“Sayang siapa dia?Bisakah kita ke kamar saja?” sebuah suara yeoja yang sedari tadi diam itu bersuara.Naeun memandangnya dengan sinis, “Baiklah jika sebenarnya itu maumu Kim Myungsoo, aku akan mengirimkan surat perceraian kita. Dan kalian bisa segera menikah,”

Naeun menghapus air matanya dengan punggung tangannya walaupun buliran air mata tetap juga keluar dari matanya, perlahan ia menepuk bahu Myungsoo dan tersenyum sendu. Naeun memutar balikan tubuhnya menghadap pintu keluar rumah mereka dan berjalan menjauhi Myungsoo, “Jongin-ah bawa aku pergi dari tempat ini,”

Berkali-kali Naeun menghapus air mata yang terus keluar. Kini ia sudah berada di dalam mobil Jongin menatap nanar rumah yang sudah tiga bulan ia tinggali. Tak beberapa lama Jongin datang dan segera memasuki mobilnya

“Jongin-ah,” panggil Naeun pelan.

Jongin menatap Naeun dan bertanya, “Ne?”

“Bisakah kau menepati janjimu di rumah sakit tadi?”

“Janj— ah, kau ingin apa Naeun-ah?”

“Aku… aku ingin kau membawaku pergi dari sini,”

FLASHBACK OFF

Naeun menatap lautan pantai yang hampir membeku di depannya.Sebuah selimut hangat tersampir di bahu Naeun. Naeun menoleh dan mendapati seorang yeoja berambut berwarna merah itu duduk di sebelahnya, wajah yeoja itu seperti pernah ia temui sebelumnya.

“Annyeong, kau Son Naeun?” tanyayeoja berambut merah itu tersenyum.

Naeun menganggukkan kepalanya, “ne, neo nuguya?”

“Perkenalkan Jung Soojung, kau pasti pernah melihatku bukan. Mianhae,”

“Ka—kau yang bersama Myungsoo?”

Soojung –yeoja berambut merah itu- tersenyum dan mengangguk pelan, “Ya, maafkan aku. Aku tidak mengetahui Myungsoo oppa sudah menikah,”

Aniya, gwenchanayo.Lagi pula kami akan bercerai,” ujar Naeun pelan kembali menatap hamparan pantai yang nyaris membeku.

Soojung menatap Naeun dengan tatapan tidak percaya, “Mworago? Aku kira ia mencintaimu,”

Naeun menghela nafasnya, kemudian menatap wajah Soojung, “Kau tahu, dari awal kami bertemu dia sudah membenciku, Soojung-sshi.Kami melaksanakan perkawinan akibat perjodohan konyol.Namun, setelah beberapa kami tinggal, aku merasakan jatuh cinta kepadanya.Sedangkan dia… ya. Dia lelaki bernama Kim Myungsoo itu entah mencintaiku atau membenciku,”

Tersenyum, Soojung hanya tersenyum melihat Naeun, yeoja ini begitu kuat dengan semuanya.Kini keduanya tengah menatap pantai itu, memikirkan sesuatu masing-masing di kepala mereka.

“Naeun-ah,” panggil Soojung membuat Naeun menoleh.

“Kau beruntung,” ucap Soojung dengan tatapan yang tak lepas dari pantai.

“Kau begitu beruntung mempunyai dua namja yang kini mencintaimu.Sedangkan, aku? Siapa yang mau dengan gadis lemah sepertiku,”

Mwo?Dua namja?”

Ne, Kim Myungsoo dan Kim Jongin,”

“Myungsoo? Kim Myungsoo? Dia tidak mencintaiku, Soojung-sshi,”

Cekikan tawa kecil terdengar dari bibir manis Soojung, “Aigoo, mengapa terlalu formal? Hapuslah embel-embel sshi itu haha,”

Naeun mengenggam tangan Soojung, “Bisakah aku meminta bantuan?”

Soojung mengeryitkan kedua alisnya seakan bertanya, “Bisakah, kau membuat Jongin… jatuh cinta padamu?”

‘DEG!’

Dentuman jantung begitu keras terjadi di dada Soojung.Namun, gadis itu mengenggam balik tangan Naeun dan tersenyum hangat.

“Entahlah, aku juga ingin membuatnya jatuh cinta padaku.Karena, aku juga tidak tahu sejak kapan aku mencintainya. Namun, aku minta maaf kepadamu Naeun-ah, Jongin oppa memintaku untuk kembali merebut Myungsoo oppa,”

“Apakah kau akan melakukannya?”

“Entahlah, aku bingung,”

“Aku mohon Soojung-ah, bisakah kau membuat Jongin jatuh cinta padamu? Aku tidak ingin memanfaatkannya seperti ini,”

“Tapi—“

“Aku mohon Soojung-ah,”

Soojung tersenyum, “Baiklah akan kucoba,”

***

Sungyeol berjalan di tengah keramaian pasar malam itu, menatap makanan-makanan yang sudah di sediakan pedagang.Namun, seorang yeoja yang berada di dalam pasar itu menarik perhatiannya dengan pelan di ikutinya yeoja tersebut yang keluar dari daerah ramai itu menuju sebuah gang sepi yang sudah berdiri dua orang berbadan besar, dengan cekatan Sungyeol segera bersembunyi di balik tembok.

“Bagaimana?Kapan kau akan membayar semua utangmu?” teriak salah satu namja yang di temui yeoja itu.

Terlihat jelas raut wajah yeoja itu yang semula tegang kini tersenyum,”Kalian tenang saja kini 10 juta won, sudah tidak masalah untukku,”

“Baiklah, kapan kau akan menyerahkannya?” tanyanamja lainnya.

“Aku bisa besok, di tempat ini jam delapan pagi,” ucap yeoja itu mantap, dan tak berapa lama kedua lelaki berbadan besar itu pergi meninggalkan yeoja yang kini tengah berbalik badan mulai memasuki kerumunan pasar lagi.

Tak tinggal diam perlahan Sungyeol kembali mengikutinya dan menarik tangan yeoja itu.

“Go Woori! Ikut aku,” ucap Sungyeol pelan.

Myungsoo menatap kaca kamar mandi apartemen Sungyeol, melihat pantulan dirinya yang begitu berantakan.Lelaki itu menutup matanya, kembali mengingat ucapan yang keluar dari bibir Naeun dan entah sudah keberapa kalinya buliran air mata kembali menetes.

“Kenapa?Kenapa kau pergi, ketika aku mulai mencintaimu, Naeun-ah?”Myungsoo membenturkan tangannya ke arah kaca dan tak semenitpun tetesan darah mulai keluar dari tangannya.

“Apakah Tuhan sengaja?Aku mohon berikan aku kesempatan sekali lagi,” ucap Myungsoo parau.

Lelaki bermarga Kim itu berjalan gontai keluar dari kamar mandi.

“Kim Myungsoo! Apa yang kau lakukan dengan tanganmu?” teriak Sungyeol menatap tangan Myungsoo.

Teriakan Sungyeol tak Myungsoo hiraukan, dengan cepat ia menuju yeoja yang berada di sebelah Sungyeol itu, menghantam pelipis yeoja yang baru saja membuat hidupnya hancur berantakan, Go Woori.

***

“Hei! Belum tidur?” tanya seorang lelaki duduk di samping yeoja berambut merah yang sedang menatap lautan lepas di depannya.

Aniya, oppa sendiri?” jawab Soojung tersenyum menatap lelaki yang kini ia cintai, Kim Jongin.

Jongin menghela nafasnya, menggeleng pelan kepalanya, “Ada sesuatu yang menganggu pikirkanku,”

“Ingin bercerita?” tawar Soojung pelan.

“Baiklah, aku tidak tahu apakah yang kulakukan ini benar?Apakah ini akan baik-baik saja jika aku memaksa Naeun untuk menikah denganku?” ujar Jongin pelan.

Tak ada satupun dari mereka yang berbicara, hanya desiran ombak yang terdengar begitu jelas menghantam batu karang.

“Sooju—“

Chu~

Sebuah bibir tipis menyentuh bibir Jongin, membuat Jongin membulatkan kedua matanya dan mendorong pundak Soojung dengan pelan.

“A-apa yang kau lakukan?” tanya Jongin kaku.

“Aku menyukaimu oppa,” jawab Soojung pelan.

Mworago?”

“Aku mencintaimu Kim Jongin!”

“Tapi, bagaimana dengan perja—“

“Aku tidak menginkannya,”

“Kau bilang, kau masih mencintai Myung—“

“Aku mencintaimu Kim Jongin!Tidakkah itu jelas?” tangis Soojung pelan.

“Aku tidak mengerti, Soojung,” Jongin berdiri memutar balikkan tubuhnya kembali pulang ke kamarnya, namun itu terhenti ketika ia mendengarkan ucapan Soojung.

“Kau tahu? Naeun-pun tidak akan menerimamu walau kau akan memintanya menikah denganmu dengan berbagai alasan. Karena Naeun hanya menganggapmu sebagai sahabat dan itu tak lebih, Kim Jongin,” jelas Soojung tegas.

“Masuklah Soojung-ah, perjanjian kita tak akan berubah,” ucap Jongin hendak pergi.

Soojung dengan cepat memeluk Jongin dari belakang, menangis pelan di punggung namja itu, “apa yang kurang dariku, oppa?”

Jongin terdiam, pikirannya hanya tertuju pada Naeun bukan pada gadis yang baru ia kenal ini, “Kau tidak kurang atau apapun, Soojung-ah. Hanya saja aku hanya mencintai Naeun, Son Naeun,”

“Bisakah kau melihatku, sekali saja? Bisakah aku membuatmu mencintaiku?” tanya Soojung terisak.

Jongin mengendurkan tangan Soojung yang melingkar di tubuhnya, “Ani Soojung-ah, maafkan aku. Aku hanya mencintainya,”

“Aku mencintaimu Kim Jongin!” teriak Soojung parau.

Dengan sekali hentakan Jongin melepaskan tangan Soojung, “Aku lelah Jung Soojung!Dan ingat aku hanya mencintai Son Naeun!” ujar Jongin tegas dan melangkah pergi.

Kedua lutut Soojung terasa lemas, gadis itu terjatuh di atas pasir pantai.Memandangi punggung Jongin yang pergi darinya, buliran air mata tak henti keluar dari pelupuk matanya. Kini isakan tangis keluar dari bibirnya dengan menyebut satu nama, “Jongin,”

‘Plak!’

Tamparan keras mendarat di pipi Woori, tak hentinya Myungsoo menyiksa yeoja yang sudah terkulai lemas itu.Sedangkan, Sungyeol sudah berusaha menahan Myungsoo untuk tidak juga menghabisi nyawa yeoja itu disini.

“HANYA SEPULUH JUTA WON, KAU MEMBUATKU MENDERITA?” teriak Myungsoo marah.

“Myungsoo!Kau bisa menghancurkan apartemenku!” ujar Sungyeol menahan Myungsoo untuk tidak menghajar Woori.

“AKU TIDAK PEDULI! YEOJA BUSUK INI SUDAH MENGHANCURKAN HIDUPKU LEE SUNGYEOL!” teriak Myungsoo kembali mencoba menghantam Woori.

“Jika kau membunuhnya, kau akan dapat hukuman penjara Kim Myungsoo! Setelah itu, apa kau pikir Naeun kembali menerimamu?” ucap Sungyeol pelan, mendengar nama Naeun membuat Myungsoo melemas dan terduduk di lantai.

Sungyeol perlahan membantu Woori untuk berdiri, lelaki itu mendudukannya di kursi dan memberinya air putih.Terlihat jelas yeoja itu kini tengah ketakutan melihat Myungsoo yang lebih mirip seekor Singa ganas yang siap memangsa siapapun yang menganggunya.

Sungyeol menghela nafasnya, “Aku beri kau dua pilihan, Aku akan memberimu sepuluh juta, tapi video itu aku ambil atau kau mau piihan keduaku?” tawar Sungyeol.

Woori menggelengkan kepalanya keras, “Aku akan tetap menikahinya,”

Rahang Myungsoo mengeras mendengar perkataan Woori, ingin sekali rasanya ia menghabisi gadis yang tengah duduk di depannya ini.

“Dengan menyebarkan video itu?” tanya Sunyeol remeh.

Woori mengangguk yakin, “Kau yakin? Jadi, kau memilih tawaran keduaku?” tanya Sunyeol kembali dan di jawab pula dengan anggukan Woori.

Sungyeol tersenyum licik mengambil laptopnya dan kembali duduk di depan Woori, “Kau pikir media akan percaya? Jika aku mengatakan kau mempunyai kasus sudah membunuh seorang pemilik pabrik terbesar di Jepang, menembak anak pemimpin CUBE company?Berhubungan dengan gangster ganas di Jepang? Pernah berusaha membobol bank Amerika. Siapa akan percaya denganmu Go Woori?” ujar Sungyeol tersenyum menatap  Woori. Myungsoo membuka mulutnya lebar dan menatap Woori tak percaya.

“Tapi aku mencintainya!” teriak Woori yakin.

Myungsoo menatap jijik Woori, “Bullshit!”

“Woori-sshi, serahkan video itu pada kami atau aku akan memanggil polisi untuk menangkapmu disini,” ujar Sungyeol tenang.

Woori memutar otaknya berusaha mendapatkan ide untuk tidak kehilangan uang yang akan ia dapati yang akan membebaskannya dari hutang, “Benarkah? Polisi tentu akan mengira kau bekerjasama denganku, menyembunyikan penjahat yang mereka cari sepertiku disini,”

Sungyeol tertawa remeh, “Kau pintar Go Woori, tapi kau rupanya tak mengetahuiku. Aku seorang pengacara, tentunya aku akan membela diriku sendiri dan juga, kau ingin tahu? Aku salah satu tim penyelidik polisi korea,”

‘Skak-mat!’

Woori kini diam tak berkutik.Tangannya merogoh kantung celananya dan mengeluarkan kartu memori dan memberinya ke Sungyeol.

Sunyeol memasukan memori itu kedalam laptopnya melihat benar atau tidak dan video itu benar-benar ada di sana. Sunyeol tersenyum, “Seharusnya dirimu menerima tawaranku yang pertama yang tentunya kau dapatkan 10 juta, Go Woori.”

“Yakin tidak mempunyai salinan?” tanya Myungsoo cukup tenang.

Woori mengangguk, “Ya, aku baru mengeluarkan itu dari kameraku,”

“Apa lagi yang kau tunggu?Pergi dari sini,” ujar Myungsoo datar.

Woori menatap Sungyeol dengan malas, tubuhnya ia langkahkan keluar dari apartemen itu.

Myungsoo tersenyum sedikit, memeluk sahabatnya itu, “Gomawo,”

Sungyeol tertawa kecil menepuk bahu Myungsoo, namun tak lama lelaki itu mendorong bahu Myungsoo menatap namja itu dengan tawa remeh.

Mwoya?” tanya Myungsoo bingung.

“Apa lagi yang kau tunggu?Cari tahu gadis yang kau cintai dimana,” ujar Sungyeol mengikuti ucapan Myungsoo tadi.

Lelaki bermarga Kim itu tersenyum sepintas, setidaknya masalahnya satu persatu terpecahkan.

“Lee Sungyeol, bisakah aku meminta bantuan darimu sekali lagi?” tanya Myungsoo.

Sungyeol mengerutkan kedua alisnya, “Apa yang bisa ku lakukan?”

“Sebelum bertemu dengan Naeun, bisa kau carikan aku lelaki bernama Kim Jongin?”

***

Sinar matahari musim dingin merambat melalui tirai jendela Jongin, membuat mata lelaki itu perlahan terbuka, menatap langit-langit kamarnya.Pikiriannya pagi ini sudah runyam akibat percakapannya tadi malam dengan Soojung.

Jongin meregangkan seluruh ototnya, mata halzenut coklatnya kini telah terbuka sempurna.Jongin beranjak pergi dari tempat tidurnya membuka pintu kamarnya dan terlihat disana, di meja makan dua orang yeoja tengah berbicara.

Namun, keduanya berhenti bercanda ketika mataSoojung menangkap Jongin berdiri disana.Canggung hal itu yang kedua manusia itu rasakan.Sedangkan Naeun yang tidak mengerti dengan keadaan hanya bingung.

“Jongin-ah, kajja sarapan,” ajak Naeun.

Jongin menatap kursi kosong yang terletak di depan Soojung.Hanya kursi itu yang kosong, Jongin menghela nafasnya dan beranjak menduduki kursi tersebut.

“Bagaimana tidurmu?”tanya Naeun menyerahkan semangkuk sarapan di depan Jongin.

Jongin tersenyum kecil, “Cukup menyenyakan, dirimu?”

“Hmmm, aku tidur sangat nyenyak,” jawab Naeun tertawa kecil dan menyuapkan sesendok sarapannya ke dalam mulutnya, “Nampaknya Soojungie tidak tidur nyenyak?”Naeun menelannya sarapannya dan bertanya kepada Soojung yang hanya diam menghabiskan sarapanya sejak Jongin datang.

Soojung terdiam sibuk memikirkan jawaban yang tepat untuk Naeun, “Aku tidur dengan nyenyak, Naeun-ah,” senyum Soojung tipis.

Naeun tertawa pelan, “Kau tidak bisa membohongiku, Soojung-ah,”

Gadis berambut merah itu mengeryitkan dahinya, “Maksudmu?”

“Lingkaran matamu tidak berkata kau tidur nyenyak semalam,” Naeun tersenyum dan menujuk lingkaran mata yang terlihat jelas di sana, “Apakah kau menangis?”

Jongin menatap wajah Soojung yang tengah menunduk, bisa ia lihat sebuah lingkaran warna hitam menghiasi wajah cantik itu. Seberkas rasa bersalah terbesit di dirinya.Namun, sayang rasa egoisnya lebih besar daripada rasa itu.

Soojung mengangkat wajahnya dan bertemu dengan tatapan Jongin, tapi kini Jongin sudah mengarahkan matanya menatap Naeun, dengan senyuman paksa dan menahan air matanya untuk jatuh, Soojung menjawab, “Tidak, mungkin aku hanya kurang tidur saja.”

***

Waktu sudah menunjukan tengah hari di kotaBusan, salju yang kian deras turun membuat kota itu semakin dingin. Namun, seseorang namja berwajah tampan mengeratkan baju hangatnya berjalan dengan cepat menyusuri jalanan yang sepi itu untuk segera tiba di tempat yang sudah ia janjikan bersama seseorang, lebih tepatnya saingannya.

Myungsoo, lelaki berwajah tampan itu memasuki café yang sudah ia janjikan dengan Jongin. Ya, Sungyeol sudah berhasil menemukan namja ini dengan cepat.Entah lelaki bernama Lee Sungyeol itu tahu dimana letak lelaki berkulit coklat ini tinggal.

“Ada apa?” tanya Jongin dingin ketika Myungsoo duduk di hadapannya.

Myungsoo tersenyum tipis, “Aku membutuhkannya,”

Mwoya?Maksudmu?” Jongin bertanya kembali tidak mengerti dengan apa yang telah Myungsoo katakan.

Myungsoo menegakan badannya, “Aku ingin istriku lagi,”

Jongin tersenyum remeh, “Apa maumu?Tiga yeoja tidak puas?”

Kini Myungsoo yang tak mengerti dengan pertanyaan Jongin, lelaki itu menatap Jongin seolah bertanya apa yang dimaksud dengan tiga yeoja.

“Kau tak mengerti?Son Naeun, yeoja murahan itu, dan Jung Soojung,” jelas Jongin.

“Jung Soojung? Kau mengetahui Krystal?” tanya Myungsoo.

Jongin tertawa mengejek, “Hei, yang kau cari Son Naeun atau Jung Soojung?Atau kau juga belum tahu Naeun tengah mengandung anakmu?”

“Aku mencari Kim Naeun, apa kau bilang?Naeun hamil?Baguslah, dengan begitu aku dapat memilikinya,” jawab Myungsoo tersenyum.

Tangan Jongin mengepal mendengar Myungsoo berkata seenaknya. Dengan pasti ia bangun dari tempat duduknya, menghantam wajah Myungsoo hingga lelaki itu terkapar di lantai café itu.

“Itu pukulan untukmu dari Naeun, dan ini…” Jongin menendang perut Myungsoo dengan keras, “itu untuk Soojung, jangan pernah kau menyakiti kedua yeoja itu atau kau akan lebih parah daripada ini.”

Lelaki berkulit coklat itu beranjak pergi dari tubuh Myungsoo. Namun, Jongin berhenti sejenak membalikan badannya dan berjongkok di depan tubuh Myungsoo yang terkapar dengan tersenyum menantang ia berkata, “Mari kita bertarung secara sehat untuk mendapatkan Naeun,” akhirnya dengan mantap Jongin meninggalkan Myungsoo yang sedang tersenyum dan membersihkan darah di ujung bibirnya dengan tangannya saat mendengar tawaran Jongin.

Sungyeol dengan malas menjelajahi pasar tradisional ini untuk membeli soju, seluruh soju-nya sudah habis di minum oleh Myungsoo. Matanya menjelajahi toko-toko soju tempatnya biasa membeli dan kini matanya sudah berhenti di satu obyek, bukan toko soju atau minuman keras yang biasa ia minum. Melainkan seseorang yeoja yang ia cari bersama Myungsoo, Son Naeun.

Keduanya sudah berada di dalam rumah makan tradisional korea, entah sudah beberapa waktu yang mereka buang dengan beraragumen di pasar tadi. Naeun menatap takut namja tinggi di depannya ini.

“Apakah benar-benar tidak ada Myungsoo?” tanya Naeun takut.

Sungyeol tertawa kecil, “Kau tidak lihat aku sendirian, disini?”

Naeun tersenyum sepintas, tangannya ia masukan kedalam tasnya mengambil map coklat dan menyerahkannya kepada Sungyeol.

“Bisakah kau memberikannya kepada Myungsoo?” tanya Naeun kembali.

Bukannya mengambil map itu, Sungyeol kembali mendorong map tersebut ke arah Naeun, “Aku tidak bisa, masalah kalian harus kalian selesaikan sendiri,”

“Aku mohon!Aku tidak ingin bertemu dengan Myungsoo lagi,” rintih Naeun pelan.

“Kau tau Naeun?Setelah kau pergi, Myungsoo bahkan menghabiskan sepuluh botol persedian sojuku, ia membutuhkanmu Son Naeun,” jelas Sunyeol.

Naeun terdiam memikirkan apa yang telah Sungyeol katakan, hingga akhirnya yeoja itu menghela nafasnya dan mengelengkan kepalanya lemah, “Aku tidak bisa,”

“Jadi kau akan tetap mengajukan perceraian?” pertanyaan Sungyeol kembali membuatnya terdiam tak berkutik, namun dengan ragu yeoja itu menganggukkan kepalanya.

Tak berapa lama kemudian sosok seseorang sudah berdiri di belakang Sunyeol membuat Naeun terdiam membeku, dengan cepat Naeun berdiri mengambil tasnya dan beranjak pergi, namun pergerakannya terhenti Sungyeol sudah menarik tangannya.

“Kau berbohong, Sungyeol-sshi,” satu tetes air mata  jatuh dan tatapan amat kecewa dari mata Naeun.

“Maafkan aku, ini untuk kebaikan kalian berdua,” ujar Sungyeol pelan.

Naeun berusaha melepaskan genggaman erat dari tangan Sungyeol, namun lelaki ini sungguh bertenaga besar.

“Naeun-ah, aku bisa jelaskan,” ujar Myungsoo pelan membuat Naeun tersenyum kecut, “Tidak ada lagi yang perlu di jelaskan, kini kau hanya tinggal menandatangani ini semua,” Naeun menujukkan map coklat yang ada di meja itu dengan matanya.

“Aku akan bertanggung jawab Naeun-ah, bertanggung jawab atas bayi kita,” seketika perkataan Myungsoo membuat Naeun diam.

“Maaf ini bukan urusanku, aku pergi dulu,” Sungyeol melepaskan genggaman tangannya dan pergi dari tempat itu meninggalkan sepasang suami istri itu diam.

Air mata Naeun kini keluar kembali, “Darimana kau tahu?” tanya Naeun parau.

Myungsoo tersenyum, “Mari kita ulangi hal ini dari awal dan setelah ini masalah kita akan selesai,”

Naeun menggelengkan kepalanya dengan cepat tersirat jelas yeoja itu menatap takut Myungsoo, “Tidak, kau menandatangani itu semua dan semua ini akan selesai,”

***

Jongin tertawa kecil saat ia keluar dai café itu, sebuah tantangan konyol yang tak terpikirkan terlintas dari otaknya. Sebuah tantangan untuk mendapatkan seorang Naeun, bukankah itu gila?Dan Jongin juga sadar, sebenarnya Naeun-pun tak suka di taruhkan seperti ini. Tapi apa boleh buat ia yang melontarkan sebuah tantangan ini maka ia harus memenangkannya tak peduli dengan apa yang telah Naeun katakan tadi pagi.

Lelaki berkulit kecoklatan itu mengadahkan tangannya ke atas menikmati butiran-butiran salju yang jatuh di tangannya. Sebersit pikiran tersimpan di otaknya, namun segera ia tepis dan mengenggam butiran salju itu membasahi tangannya.

Saat ia hendak ingin melangkah sebuah bahu cukup keras menghantam bahunya dan betapa terkejutnya ia ketika melihat namja itu, Kim Myungsoo.

“Yak!Apa yang kau lakukan? Ingin ku hantam lagi?” teriak Jongin kesal, hampir saja ia terjungkal ke gundukan salju yang tersimpan di sudut toko bunga itu.

Myungsoo melukiskan smirk tampannya di wajahnya, “Aku? Aku akan merebut hati Naeun, bukankah permainan sudah dimulai?” lelaki yang mempunyai kulit lebih putih darinya itu segera bergegas meninggalkan Jongin yang entah kemana.

Jongin mengumpat dan menendang bongkahan salju itu, “Sial, aku sudah tertinggal selangkah!”

Bukannya hal buruk yang tercipta dari wajah itu melainkan senyuman, senyuman entah dalam hal apa. Hanya seorang Kim Jongin yang mengetahui hal itu, Jongin memasukan kedua jemarinya kedalam saku jaketnya dan berjalan ke arah taman yang tak jauh berada di sana. Ia kini perlu menghubungi seseorang, seseorang yang mungkin bisa menyambungkan hatinya.

Yeoja pemilik rambut berwarna merah ini terus menekuk wajahnya sembari memandangi salju yang deras turun dari langit melalui jendela kamarnya, helaan nafas entah beberapa kali yeoja yang mempunyai nama Jung Soojung itu hembuskan.

Dengan senyum miris Soojung menuliskan namanya dan Jongin di embunan kaca kamarnya, “Tidak bisakah kau melihatku?” gumam Soojung menerawang ke luar menerobos salju-salju yang begitu deras turun itu berusaha mencari keberadaan namja berkulit coklat itu, walaupun ia tahu apa yang dilakukannya ini terdengar konyol.

‘Drrrt…’

Soojung melirik benda yang bergetar di nakas sebelah tempat tidurnya, tak sampai dua detik Soojung kembali mengalihkan tatapannya dari benda itu menatap kembai kearah luar.

Menatap sepasang kekasih sepayung berdua bercanda tawa di tengah kepingan salju serta putih yang melatari belakang mereka.Soojung tertawa miris mengingat namja itu kembali, namja yang membuatnya lupa dengan perasaannya kepada Myungsoo.

‘Drrrt…’

“Yak!Bisakah kau diam sebentar? Menganggu saja,” Soojung memutar bola matanya dengan kesal dan beranjak pergi dari tempat yang ia telah diami sekitar tiga puluh menit itu dan berjalan menuju handphonenya yang sedari tadi bergetar.

Senyuman merekah dari bibirnya ketika membaca nama seseorang tengah menelponnya, seseorang yang sudah ia tuliskan tadi di jendelanya.

Yeoboseyo?” ucap Soojung manis.

“Yak! Kau ini, aku hubungi dari tadi kenapa tidak mengangkat?” suara di sebrang sana terdengar seperti tengah memarahinya.

Soojung mengerucutkan bibirnya, “Jika hanya ingin memarahiku lebih baik oppa tidak usah saja menghubungiku,”

“Yasudah jika itu maumu, padahal aku ingin mengajakmu ke—“

Ani-ani!Oppa ada dimana? Aku akan segera kesana,” ujar Soojung cepat membuat cekikan dari sebrang sana terdengar.

“Kau jalan saja ke taman dekat rumah itu, aku menunggumu disana.Arraseo?” ucap Jongin yang membuat Soojung mengangguk kencang.

“Soojung-ah?” panggil Jongin, sadar dengan akan hal itu Soojung segera kembali dari alam khayalnya.

Ne, oppa. Aku akan segera tiba disana, jalja~” Soojung menutup ponselnya dan berlari kea rah lemari.

Yeoja berambut merah itu berkali-kali mencoba baju yang ada di lemarinya dan berakhir pada sweater hitam dengan bawahan mini-skirt berwarna putih membuatnya terlihat sangat manis. Namun, Soojung mengerutkan dahinya dan segera melepaskan mini-skirtnya menggantinya dengan celana jeans putihnya.

“Aku hampir lupa jika ini musim dingin,” cekik Soojung mengambil tasnya dan pergi dari rumah itu.

Lelaki bernama lengkap Kim Jongin itu terus menatap lingkaran jam di tangannya dengan berkali-kali menatap jalanan. Dan sebuah senyuman tergambar di wajah Jongin ketika melihat seseorang yang ia tunggu telah tiba, Soojung.

Jongin berdecak, “Yak! Kau ini lama sekali,”

“Namanya juga yeoja, oppa kira aku atleat yang akan dengan secepat kilat sampai disini, eoh?” teriak Soojung kesal.

Lagi-lagi Jongin berdecak dan berjalan meninggalkan Soojung menuju motornya.Soojung mengekorinya dengan patuh.

“Naik!” suruh Jongin.

Oppa kenapa kau mengikuti apa yang kupakai?” tanya Soojung melongo melihat pakaian Jongin yang sama warnanya dengannya menjadikan mereka terlihat memakai pakaian couple.

Jongin yang di tatap malah merasa sedang di telanjangi oleh Soojung degan cepat ia menutup tubuhnya, “Yak! Kau yang mengikutiku, aku saja tidak tahu,”

Soojung hanya bergumam dan mengangguk.Gadis itu segera menaik dan duduk di belakang Jongin, jantung Soojung dengan cepat berdetak melihat punggung namja itu di hadapannya.

Lelaki di depannya ini melempari sebuah helm dengan sigap Soojung mengangkatnya, membuat Jongin tersenyum sedikit, “Pakailah,”

Soojung yang mash kaget hanya terdiam membuat Jongin kembali kesal, lelaki itu menstandarkan motornya dan berjalan ke arah Soojung. Jongin segera mengambil alih helm itu dan memakaikannya pada Soojung dengan cepat, “A-apa yang oppa lakukan?” tanya Soojung kaget

“Memakaikanmu helm tuan puteri,” jawab Jongin gemas dan mencubit hidung yeoja di depannya ini membuat yang di cubit melongo.

Jongin menaiki kembali motornya, saat ia hendak menyalakan sebuah suara bertanya kepadanya, “Bolehkah aku memeluk oppa?” tanya Soojung cemas.

Cekikan tawa Jongin terdengar, “Tentu saja boleh,”

Soojung tersenyum cerah dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Jongin, begitupula dengan Jongin detak jantung segera berubah menjadi cepat.Jongin menggelengkan kepalanya dengan pelan, “Tidak, aku masih mencintai Naeun.Aku harus memenangkan taruhan ini dengan lelaki brengsek itu.”

***

“Bukan ini caranya, Kim Naeun!” ujar Myungsoo menolak menandatangani surat perceraiannya.

Naeun mempertajam telinganya, baru kali ini ia mendengar Myungsoo memanggil namanya dengan marga lelaki ini. ‘Tidak, Son Naeun kau harus tetap pada pendirianmu,’ batin Naeun.

Ani, menurutku ini adalah cara yang tepat. Suka atau tidak?Mau atau tidak?Semuanya kuserahkan padamu, masih banyak hal yang masih penting ku urus, permisi,” Naeun melewati Myungsoo dengan tidak menatap namja yang kini memandangnya dengan tatapan yang sulit di artikan, entah itu tatapan khawatir, cemas atau kecewa.

“Jadi semua ini tidak ada pentingnya?” tanya Myungsoo pelan tetapi masih bisa di dengar oleh Naeun. Dengan pelan juga Naeun mengatakan ‘ya’entah Myungsoo mendengarnya atau tidak, yang ia harap Myungsoo tidak mendengarkan hal itu.

Yeoja yang tengah mengandung itu keluar dengan air mata membasahi pipinya dengan kasar Naeun menghapus buliran-buliran itu.

“Ini memang sudah jalannya, Son Naeun,” gumam Naeun pelan dan perlahan melangkah pergi dari sana.

“Ini belum berakhir, Kim Naeun!” teriak Myungsoo membekukan langkah Naeun, terdengar jelas langkah Myungsoo hendak ke arahnya dengan cepat Naeun langkahkan kakinya kembali seperti hendak berlari.

“Diam, jangan mengikutiku Kim Myungsoo!” teriak Naeun tak sekeras Myungsoo, tetapi Naeun yakin Myungsoo mendengarnya.

“Apa salahnya aku mengikuti istriku?” ujar Myungsoo suaranya yang semakin dekat membuat Naeun kembali mempercepat langkahnya untuk menjauh.

Naeun menggelengkan kepalanya, ia tidak akan terbujuk rayuan Myungsoo, “Aku sudah tak lagi istrimu, kita akan bercerai,”

“Tapi, aku mencintaimu,” ungkap Myungsoo jujur.

“Bullshit!” balas Naeun kembali mempercepat langkahnya.

Mendengar hal yang dikatakan Naeun membuat Myungsoo teringat dengan Woori. Saat Woori mengatakan hal yang sama dengannya saat ini dan ia membalas kata yang sama dengan yang diucapkan Naeun kepadanya.

Lelaki itu memandang Naeun sudah menjauh, ‘tidak!Aku tidak akan melepaskannya,’ ujar Myungsoo dalam hati dan berjalan setengah berlari.

“Aku tidak akan menandatanganinya, Kim Naeun,” ujar Myungsoo penuh penekanan.

Naeun tidak memperdulikannya dengan cepat ia menambahkan kecepatannya, ketika ia melihat pejalan kaki yang menyebrang sudah di ujung sana dengan cepat gadis itu menyusul para pejalan kaki yang sudah menyebrang. Gadis itu percaya ia akan tiba pada lampu hijau berhenti di tempat tujuannya. Namun, takdir sudah di tuliskan oleh Tuhan, mau atau tidak seluruh umatnya harus mengikuti, tapi apakah Naeun siap?Apakah orang yang kini meneriaki Naeun untuk kembali juga siap?

‘BUGH!’

Enam langkah lagi, Naeun akan sampai dan berbahagia Myungsoo tidak akan mengikutinya. Tetapi tadkdir, ya Tuhan telah menuliskan berbeda dari pikiran Naeun.Tubuh itu terplanting dengan kerasnya setelah berhantaman dengan mobil.Darah keluar dari tubuhnya dan segera membeku di jalanan yang dingin.

“Tidak!!Ini tidak boleh terjadi!!” teriak Myungsoo dengan cepat lelaki itu berlari ke arah Naeun berusaha menyerobot kearah kerumunan manusia yang melingkari tubuh Naeun.

Ketika sampai di depan tubuh itu, Myungsoo membeku. Kedua lututnya terasa lemas seolah sudah tak mempunyai tulang lagi. Lelaki itu jatuh tepat di depan Naeun. Myungsoo menaruh kepala Naeun di pangkuannya, lelaki itu berusaha menepuk pipi yeoja itu yang sudah mendingin.

“Naeun, aku mohon bangunlah!Aku mohon!!” pinta Myungsoo dengan pelan, air mata dari wajah namja itu telah keluar.

“Siapa saja tolong hubungi ambulance!” teriak Myungsoo kepada seluruh kerumunan itu.

Dengan parau Myungsoo membisikan sebuah kata pada Naeun, kata yang entah itu menyakitkan baginya, “Kim Naeun… bisakah kau tidak meninggalkanku?”

***

Kedua pasangan itu berjalan seiringan sesekali tertawa bersama, betapa romantisnya kedua manusia itu.Itu hal yang pasti ketika orang-orang melihat mereka.Namun, semua itu hanyalah orang yang melihat, bukan yang mengalami.Kenyataannya adalah cinta yang selalu bertepuk sebelah tangan.Mereka tak lain adalah Kim Jongin dan Jung Soojung.

Jongin dan Soojung kini berada di hamparan bunga abadi, bunga edelweiss.Soojung beberapa kali merasakan tangannya sudah gatal ingin mencabut bunga-bunga yang indah disana. Sedangkan, Jongin? Lelaki itu menatap tingkah lucu Soojung dengan tertawa.

“Soojung-ah,” panggil Jongin.

Mwoya?Aku tidak akan mencabut bunga ini oppa,” Soojung mengerucutkan bibirnya dengan cepat Jongin mendekat dan mengecup sekilas bibir yang mengerucut itu.

Soojung membelakan matanya, “O-oppa ap—“

Perkataan Soojung terpotong ketika jari telunjuk Jongin mendarat di permukaan bibir Soojung, “Bisa kau ajarkan aku cara mencintaimu?” tanya Jongin tersenyum manis.

Mwo— aah, baiklah. Tapi aku tidak tahu bagaimana cara mencobanya,” Soojung diam menatap Jongin.

Jongin tertawa pelan dan segera mengangkat tubuh Soojung dengan bridal style.Soojung yang terkejut berteriak dengan kecang dan melingkarkan kedua tangannya di leher Jongin, “Bagaimana kau tahu, jika kita tak mencobanya?”

Gadis berambut merah itu tertawa kecil melihat tingkah Jongin, “Hei, bagaimana jika kita mengambil bunga ini?” usul Jongin membuat mulut Soojung terbuka, bukankah lelaki ini yang daritadi meneriakinya mati-matian karena ingin mencabut bunga ini?

“Yak! Bagaimana jika penjaga tahu?” tanya Soojung pelan, Jongin tersenyum dan mendekatkan bibirnya dengan telinga Soojung, “Kita lakukan dengan hati-hati,”

Kini keduanya sudah mencabuti seikat bunga edelweiss tanpa ketahuan.Kedua teman yang layaknya pasangan itu segera menuju motor Jongin untuk pulang kerumah.Namun, sejenak mereka berhenti ponsel Jongin bordering membuat Jongin menyuruh Soojung menunggu sebentar.

Yeobose—“

“JONGIN-AH!INI BAHAYA!?” suara yeoja langsung memotong ucapannya dan berteriak kencang.

“Yak! Ada apa Sohyun-ah?” tanya Jongin tak mengerti kepada Sohyun-yeoja tadi-

“Na-naeun…” ucap Sohyun pelan.

“NAEUN KENAPA?” kini giliran Jongin yang berteriak dan membelakan matanya.

“Na-naeu—“

“CEPAT BERITAHU AKU!” Jongin nampaknya sudah tidak bisa sabaran membuat Soojung yang dari jauh menatapnya mengerutkan dahinya ketika mendengar Jongin berteriak.

“Naeun kecelakaan tabrak lari,” ujar Sohyun pelan.

“Baiklah, aku akan segera tiba disana secepatnya!”Jongin menutup ponselnya dan berlari ke arah Soojung.

Soojung yang melihat Jongin berlari ke arahnya menatap lelaki itu bingung, mengapa ia terburu-buru?

Waeyo?” tanya Soojung.

“Cepat naik.Kita akan menuju rumah sakit,” perintah Jongin.

Soojung membelakan matanya, “Siapa yang sakit?”

“Naik saja dan kau akan mengetahuinya!” titah Jongin kali ini lebih kasar membuat Soojung dengan cepat menaiki motor itu.

Jongin segera menyalakan motor itu dan melajukannya di atas rata-rata membuat Soojung tidak bisa menghentikan aksi tutup matanya. Jongin benar-benar sudah mengalahkan pembalap, Soojung merasa ia hanya perlu dijemput malaikat pencabut nyawa saja jika ia dalam kelajuan motor seperti ini.

Tangannya dengan kuat melingkar di pinggang Jongin, dengan masih mengenggam bunga yang merupakan symbol abadi, berusaha berharap agar kenangan menyenangkan tadi abadi.

Seoul International Hospital

Keduanya telah sampai di pusat rumah sakit kebanggan Seoul ini.Dengan cepat Jongin masuk di ikuti oleh Soojung di belakang.Terlihat seorang dokter cantik tengah cemas melihat Jongin, Jongin segera menuju dokter itu.

“Sohyun bagaimana keadaannya?” tanya Jongin cepat.

Sohyun menatap ke arah Soojung yang raut mukanya sama saja dengan Jongin.

Ayolah siapa yang sakit?Siapa yang mebuatku hampir di cabut nyawaku?’ batin Soojung mengigit bawah bibirnya menunggu dokter yang bernama Sohyun itu menjawab.

“Naeun tengah berada di ICU, keluarganya sudah ada disana,” jawab Sohyun membuat mata Soojung terbelalak sedangkan Jongin dengan cepat berlari ke arah ruangan ICU.

Tangan Soojung megenggam erat seikat bunga edelweiss yang baru ia petik berasama Jongin. Baru saja ia merasakan kebahagiaan yang tak tergantikan, haruskah ia mengalami sakit hati? Lagi? Dengan yeoja yang sama.

Soojung menahan air matanya jatuh, ia tidak ingin membenci siapa-pun. Jongin, lelaki berkulit coklat itu membuat otaknya serta hatinya sakit. Bagaimana bisa namja itu menyuruhnya untuk ia ajarkan bagaimana mencintainya sedangkan hatinya masih berada di satu orang, Naeun.

Agasshi nuguya?” tanya Sohyun kepada Soojung.

Soojung yang menyadari masih ada Sohyun disana segera tersenyum walaupun itu senyuman paksa, “A-aku temannya Jonginoppa.”

Jongin berlari dengan cepat, detakan jantungnya sudah tak beraturan takut hal menakutkan akan terjadi pada temannya, Naeun. Setelah ia sampai disana terlihat jelas eomma Naeun sudah menunggu cemas disana. Dan di ujung sana terdapat lelaki yang paling Jongin benci, Myungsoo.

“Jongin!” ujar Ny. Son melihat teman kecil Naeun itu telah disana.

Bukannya mengidahkan panggilan orang yang paling ia hormati setelah orangtuanya tetapi, Jongin menuju Myungsoo yang tengah memandang pintu ruangan operasi itu dengan khawatir.

“Apakah kau yang melakukannya?” tanya Jongin tanpa basa-basi kepada Myungsoo.

Myungsoo menatap Jongin diam, “A-aku tidak bermaks—“

‘Bugh!’

Hantaman anatara tangan Jongin mendarat di pelipis Myungsoo.Hantaman demi hantaman sudah mendarat di tubuh Myungsoo, tanpa mengenal tempat lelaki itu sudah berniat membuat Myungsoo mati juga disana.

“DASAR KAU KEPARAT! AKU SUDAH MERELAKANNYA UNTUKMU, DAN KAU? KAU BODOH ATAU APA?!” teriak Jongin marah dan menghantam Myungsoo kembali membuat semakin banyak luka di tubuh Myungsoo mengingat sebelum ini Jongin juga sudah menghajarnya.

“Nak Jongin sudah cukup! Ini rumah sakit!” ujar Ny. Son berusaha menghentikan Jongin yang terus menghantam menantunya itu.

Lelaki berkulit coklat itu sudah tak mengidahkan panggilan Ny. Son, tanpa selingan waktu satu detik pun hantaman demi hantaman diterima Myungsoo.

“MAUMU SEBENARNYA APA?! AKU SUDAH CUKUP MERELAKANNYA BODOH! AKU TAK PEDULI APA YANG AKAN KUDAPATKAN JIKA MEMBUNUH CHAEBOL MACAM DIRIMU SEKARANG!” hantaman lagi Jongin daratkan pada wajah Myungsoo, mungkin satu pukulan lagi yang diterima Myungsoo sudah membuat lelaki keturunan chaebol itu akan kehilangan nyawa.

Oppa sudah,” suara pelan Soojung membuat Jongin berhenti memukul Myungsoo dan menatap yeoja itu diam.

Sial! Aku melupakan Soojung,’ batin Jongin menatap Soojung. Dengan kasar Jongin melepaskan tangannya dari kerah Myungsoo.

Myungsoo menatap Soojung dengan kaget, “Krystal?”

Merasa di panggil Soojung tersenyum hangat walau tak sehangat dulu, “Ne?”

Jongin merasakan tangannya di genggam Soojung, “Bisakah kita berbicara sebentar?” pinta Soojung.

Lelaki itu bergantian menatap ruang operasi dan wajah Soojung, “Baiklah,”

Keduanya kini telah pergi meninggalkan Myungsoo dan Ny. Son diam disana.

Eommonim mianhamnida,” ungkap Myungsoo berlutut di hadapan ibu mertuanya.

Dengan senyuman terukir Ny. Son membantu anak menantunya ini berdiri, “Sudahlah, bukankah ini sudah terjadi. Mari kita doakan agar Naeun baik-baik saja,”

***

Three Months Later

Saturday, 23:00 KST

Lelaki bermarga Kim itu tengah menunggu istrinya membeli bunga, lenguhan nafas beberapa kali terlontar dari bibirnya karena menunggu istrinya ini lama sekali.

Seorang yeoja kini sudah keluar dari toko bunga itu memasuki mobil suaminya yang sedari tadi menunggunya.

“Maaf, membuatmu menunggu.Aku hanya ingin yang terbaik,” ujar yeoja itu tersenyum.

Lelaki di sebelahnya itu mencubit hidung istrinya itu dengan gemas, “Yasudah, ayo kita ke rumah sakit, aku tak sabar bertemu dengannya,”

Yeoja itu menatap sang suami dengan dingin, “Apa kau bilang?”

“Aku bercanda, sayang,” ujar sang suami dan mengendarai mobilnya menuju rumah sakit.

Sepasang suami istri itu telah tiba dan memasuki gedung rumah sakit terbesar di Seoul.Untuk menjenguk teman lamanya.

“Myungsoo oppa!” teriak yeoja tadi itu ketika melihat seorang namja telah berada di dalam ruangan itu di ikuti sang suami.

“Yak!Krystal kecilkan volume suaramu,” suruh Myungsoo tersenyum.

“Bagaimana keadaan Naeun?” tanya suami dari Soojung yang selalu disapa Krystal oleh Myungsoo itu.

Myungsoo menghela nafasnya, “Ia belum bangun dari kejadian itu, bagaimana malam pertamamu Jongin?” goda Myungsoo membuat pasangan baru itu menyipratkan merah rona di wajah mereka.

“Aish, oppa!”Soojung mengerucutkan bibirnya membuat Myungsoo mengacak rambut yeoja itu.

“Ini untuk Naeun, semoga ia menyukainya,” Soojung menyerahkan bunga yang telah ia beli sebelum kesini tadi kepada Myungsoo.

Gomawo,” Myungsoo menerima bunga itu dengan tersenyum dan mengganti bunga yang di beri Soojung dengan bunga yang telah ia beli kemarin.

Jongin berdeham, “Soojungie, ayolah kita hampir telat,”

“Yak!Kau ini!”Soojung mencuit pinggang suaminya yang sering bertingkah laku seenaknya saja.

Myungsoo tertawa kecil melihat tingkah laku keduanya seperti masih berpacaran bukan menikah, “Oppa, aku dan orang ini pulang terlebih dahulu,” pamit Soojung.

“Yak!Myungsoo ingat jika kau melakukan hal buruk pada Naeun kau akan berhadapan denganku!” ancam Jongin sebelum mereka benar-benar pergi dari ruangan itu.

Hanya ada suara detakan jam, hembusan nafas dari dua orang itu serta tak lupa bunyi tetesan ifus yang mengalir kedalam tubuh Naeun, mendominasi ruangan tersebut.

Hal itu yang Myungsoo rasakan setiap harinya tanpa bosan memandangi wajah pucat itu berharap suatu hari ia membuka matanya dan tersenyum hangat.

Myungsoo mengelus rambut seseorang yang masih sah menjadi istrinya ini dengan lembut.Sudah tiga bulan istrinya ini masih dalam tidur panjang. Tak ada tanda dari Naeun kalau dia akan sadar.

Myungsoo mengecup kening istrinya itu dengan lembut, “Selamat malam, sayang. Semoga anak kita tenang di surga.” ujar Myungsoo pelan.

Lelaki itu melipat kedua tangannya dan menaruh kepalanya di atas sana, menjadikan kepalanya itu sebuah bantal dan tertidur pulas.

Sinar matahari terik sudah membangunkan Myungsoo, lelaki itu membuka perlahan matanya dan telah menemukan seorang yeoja yang biasanya tertidur itu kini terbangun dan membaca sebuah buku.

“Ka-Kau sudah sadar?” tanya Myungsoo dengan mata seketika terbelalak membuat yeoja itu menoleh dan tersenyum.

Myungsoo bangkit dari duduknya, “Aku akan panggilkan dokter,”

Naeun menggelengkan kepalanya, “Dokter sudah memeriksaku,”

Lelaki itu bernafas lega, “Aku tidak berani membangunkanmu, kau tertidur pulas sekali,” ujar Naeun tersenyum ke arah Myungsoo, senyuman yang bisa membuat jantungnya memompa lebih cepat.

Kim Myungsoo, lelaki itu tak membiarkan senyuman di bibirnya itu luntur melihat seorang yeoja yang memang ia rindukan kini telah bangun.

Namun, senyuman di wajah Myungsoo langsung pudar ketika mendengar Naeun bertanya padanya.

“Nama anda siapa?Apakah kau mempunyai hubungan denganku di masa laluku?”

Myungsoo baru teringat dokter sudah mengatakannya,

“Memori dari otak Naeun sebagian akan hilang, karena hantaman yang cukup keras,”

Dan Myungsoo juga teringat dengan seseorang yang telah mengatakan seperti ini,

“Cinta itu memang menyakitkan, lebih sakit daripada di bunuh. Namun, cinta akan lebih sakit ketika kau mulai di lupakan oleh orang yang kau cintai,”

Dan pada akhirnya? Myungsoo merasakannya sekarang…

***

THE END

A/N: AAA masa udah habis? T^T pingin buat sequelnya ah tapi tergantung yang ngomen berapa manusia😦

15 thoughts on “[FF Freelance] Love Really Hurts (사랑참아프다) (Chapter 5 – END)

  1. Saeng, ini belum selesai kan ya? Masih ngegantung, Naeun belum bangun dari komanya….
    Ayolah de, dibuatin seuquelnya yaa, diriku udah suka story-nya dari pertama lihat…. n sedih banget dengan Naeun yg lupa ingatan atau mungkin hanya terlupa akan Myung oppa serta oppa yg dilanda penyesalan tak terkira itu~
    Jadiin happy ending yoo.. Maafkanlah atas pemaksaan ini kkkk

    Sippo. Ditunggu lanjutannya ya saeng😉
    Keep writing n fighting!!^^

  2. Uwaaaah akhinya bisa ke-post jg comment-ku!
    Barusan nge-klick sampai 3x ga bisa”, ga nongol” ini komen -_-
    Hehe #curcol

  3. aaargh, seneng banget part 5.nya cepat di post dan panjang sekali^^
    SEQUEL Please!!
    MyungEun happy ending dong:D
    keep writing!!

  4. Huaaaa
    Sumpah sedih banget pas baca endingnya😥
    Butuh sequelnya nih….
    Endingnya ngegantung😦
    Daebak deh buat FF’nya😀
    Sukses banget buat aku nangis😥
    Ditunggu sequelnya😀

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s