A Late Regret (Chapter 9 [Pre-Ending])

a-late-regret

Title : A Late Regret (Chapter 9)

Author : DkJung

Main casts :

  • [Infinite] Kim Myungsoo
  • [A Pink] Son Naeun
  • [Miss A] Bae Sooji
  • [BTS] Kim Seokjin

Genre : Romance, School life, Angst

Rated : Teen

Length : Chaptered

Disclaimer : chapter ini adalah pre-ending, jadi bersiaplah! (?) /gaje/

Summary :

Penyesalan. Ya, penyesalan memang selalu datang di akhir. Jika penyesalan itu belum datang, kau tidak akan pernah berhenti dan menyadarinya, sampai ada pihak yang terluka atau bahkan pergi meninggalkanmu.

Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7 | Chapter 8

 

~Chapter 9~

“Bagaimana bisa kau ada di sini, Bae Sooji?” tanya Naeun dengan suara parau.

“Aku, baru saja akan ke lobby. Aku sedang menemani Eomma menjenguk temannya yang sakit. Karena kebetulan lewat, aku tak sengaja melihatmu dari kaca pintu, jadi aku memutuskan untuk masuk. Apa kau keberatan?”

Naeun hanya tersenyum lalu menggeleng. Hal itu membuat Sooji menghela napas lega. Setelah keheningan berlangsung cukup lama, Sooji mengembalikan pandangannya pada rontokkan rambut Naeun yang berada di lantai. Jumlahnya tidak bisa dibilang sedikit. Rambut Naeun benar-benar rontok parah.

“Tidak usah melihat rambutku seperti itu.”

Mendengar perkataan Naeun, Sooji reflek mengalihkan pandangannya karena merasa tak enak. Namun perlahan, ia kembali melirik ke arah Naeun. Sooji tidak menyangka, di saat seperti ini, Naeun masih bisa menyunggingkan senyuman. Bahkan, sangat manis.

Gwenchana?” tanya Sooji. Jujur, ia tidak terlalu yakin Naeun menunjukkan senyuman itu dari hatinya.

Naeun mengangguk pelan, masih dengan senyumannya.

Melihat keadaan Naeun yang memprihatinkan seperti ini, membuat Sooji teringat kembali pada perkataan Seokjin yang mengingatkannya agar berjaga jarak dengan Myungsoo. Entah mengapa, setelah ia melihat sendiri keadaan Naeun, ia merasa telah menjadi gadis yang jahat. Dengan teganya ia mengganggu hubungan Myungsoo dan Naeun. Mungkin Sooji seharusnya menyadari, bahwa hubungannya dengan Myungsoo hanya akan ada di masa lalu, dan tidak akan pernah bersemi kembali.

Eoh? Bae Sooji?”

Karena melamun, Sooji agak terkejut ketika Seokjin datang. Sementara Naeun hanya tersenyum ke arah Seokjin, seperti biasa.

Kini Seokjin justru tak berkutik. Terlihat sekali bahwa ia keheranan, kenapa Sooji bisa sampai tahu kamar Naeun. Bahkan ia belum pernah memberi tahu di rumah sakit mana Naeun dirawat pada Sooji. Karena ia rasa, itu semua tidak perlu.

Melihat Seokjin yang diam saja, Sooji berjalan menghampirinya.

“Kita harus bicara,” ujar Sooji sambil berjalan keluar kamar rawat Naeun mendahului Seokjin. Setelah mendapat anggukan kepala dari Naeun, Seokjin pun segera menyusul Sooji.

Begitu sampai keduanya di luar, Sooji langsung menatap Seokjin penuh selidik. Seokjin yang tidak mengerti apa maksud tatapan Sooji hanya bisa mengalihkan pandangannya. Sementara Sooji yang melihat sikap Seokjin hanya menghela napasnya.

“Apa Myungsoo tahu soal ini?” tanya Sooji, mencoba to the point.

“Bagaimana kau bisa tahu Naeun dirawat di sini? Apa yang kau lakukan di sini?”

Mendengar pertanyaan Seokjin, Sooji merasa usahanya untuk berbicara to the point itu sia-sia.

“Kau pikir itu penting untuk saat ini? Kalau memang aku sengaja ke sini untuk menjenguk Naeun, apa itu masuk akal? Aku bahkan tidak tahu Naeun dirawat di rumah sakit ini,” jawab Sooji pada akhirnya.

Ah, keurae, kau benar.”

Setelah Seokjin menjawab,tidak ada lagi yang bicara. Suasana menjadi hening. Sooji yang tadinya ingin berbicara to the point pun kini justru bingung ingin bicara apa. Ia lalu melihat Seokjin yang tengah mengalihkan pandangannya ke arah lantai rumah sakit.

“Aku akan ke Cina.”

Seokjin mendongak. “Jadi benar?”

Sooji hanya mengangguk. “Aku akan langsung berangkat pada hari kelulusan.”

Seokjin pun hanya menganggukkan kepalanya. Setelah itu, hening kembali. Entah kenapa kali ini suasananya berbeda. Tidak biasanya Sooji kesulitan berkata-kata di depan Seokjin, begitu pun dengan Seokjin.

“Naeun, dia, gadis yang baik dan tegar. Aku salut padanya,” ucap Seokjin sambil melirik ke arah kaca pintu kamar rawat inap Naeun.

Keurae, karena itulah, sepertinya dia yang paling cocok untuk Myungsoo. Bukankah Myungsoo sangat mencintainya?”

“Bae Sooji, apa yang–“

“Sepertinya Myungsoo memang mencintai Naeun. Rasa cintanya padaku sudah tidak ada lagi. Yang ada hanya ingatan masa lalunya denganku yang ia ingat kembali baru-baru ini, itu tidak berarti dia masih mencintaiku, kan? Aku baru sadar sekarang. Orang mungkin bisa saja mengingat memorinya bersama kekasihnya di masa lalu, tetapi untuk menumbuhkan kembali rasa cinta di masa lalu, itu tidak mudah. Butuh waktu lagi bagi seseorang untuk bisa mencintai kekasihnya lagi. Aku yakin Myungsoo juga begitu.”

Tanpa sadar, Sooji mulai meneteskan air mata. Ia tidak menyangka bisa mengatakan semuanya. Rasanya lega ia bisa mengungkapkan apa yang selama ini ia pikirkan dan rasakan.

“Sooji-ya, apa ini artinya kau, merelakan Myungsoo?”

Sooji tersenyum pahit. “Aku bahkan tidak pernah merasa aku memilikinya. Walau rasanya sakit, tetapi aku cukup lega, merelakan orang yang kucintai bersama dengan orang yang dicintainya. Apalagi, orang yang dicintainya sedang membutuhkannya,” ujar Sooji sambil melihat Naeun yang sedang tertidur melalui kaca pintu.

Seokjin menggeleng-gelengkan kepalanya lalu bertepuk tangan setelah mendengar kata-kata yang terlontar dari mulut Sooji. Ia tidak menyangka, orang yang jutek padanya seperti Bae Sooji ini bisa juga mengeluarkan kata-kata yang indah. Bahkan, ia masih tidak menyangka Sooji menangis di hadapannya.

“Apa maksud tepuk tanganmu itu? Kau pikir aku sedang berpidato?” ucap Sooji kembali dengan nada bicaranya yang seperti biasa sambil menghapus air matanya.

Mendengar Sooji yang sepertinya sudah kembali menjadi Sooji yang biasanya membuat Seokjin tersenyum geli lalu memeluk gadis itu.

“Kau hebat, Bae Sooji.”

Sementara itu, Myungsoo hanya bisa terpaku sambil menatap Sooji dan Seokjin dari kejauhan. Kini ia tahu apa maksud perkataan Seokjin. Seokjin pernah bilang padanya bahwa salah satu dari Naeun atau Sooji akan pergi meninggalkannya. Kini Myungsoo sudah mengetahuinya. Sooji akan ke Cina, pergi meninggalkannya.

Karena emosinya mulai terpancing, akhirnya Myungsoo pun melangkahkan kakinya untuk menghampiri kedua orang yang tengah berpelukan itu, Sooji dan Seokjin.

Ya, Bae Sooji!” teriak Myungsoo begitu ia berada tepat di samping Sooji. Reflek, Seokjin pun melepaskan pelukannya dengan Sooji.

“Kau ini belum pernah ke rumah sakit, ya? kenapa kau membuat suara yang keras?” tanya Seokjin sambil menatap Myungsoo tajam. Myungsoo tidak menghiraukan perkataan Seokjin, ia hanya diam sambil terus menatap Sooji, meminta penjelasan dari gadis itu.

“Ah, aku tahu. Kau pasti bisa sampai di sini karena mengikuti Sooji, kan?”

Lagi-lagi Myungsoo hanya diam. Bukan ucapan Seokjin yang ingin ia dengar saat ini. Ia pun tidak sedikitpun mengalihkan pandangannya dari Sooji, berharap gadis itu akan berbicara padanya. Namun Sooji hanya diam, menundukkan kepalanya. Ia kini tengah mengumpulkan keberanian untuk mengatakan semuanya pada Myungsoo. Ketika merasa sudah cukup untuk berpikir, akhirnya Sooji menatap mata Myungsoo.

“Kau mendengar semuanya?” tanya Sooji. Myungsoo hanya mengangguk.

“Bagus kalau begitu, jadi aku tidak perlu bersusah payah untuk menjelaskannya padamu.”

Myungsoo sama sekali tidak mengerti ke mana arah pembicaraan Sooji, tapi kelihatannya, gadis itu mempunyai pembicaraan penting dengannya. Myungsoo tiba-tiba saja mengerutkan dahi ketika Sooji mengalihkan pandangannya pada sebuah pintu kamar rawat inap yang berada tepat di belakang mereka bertiga saat ini.

“Kau tidak penasaran siapa yang berada di kamar ini?”

Myungsoo mengerutkan kedua alisnya. “Mwo?”

“Masalah kepergianku ke Cina tidak penting saat ini. Gadis yang ada di dalam kamar ini lebih membutuhkanmu, dibanding aku.”

Mendengar kata ‘gadis’ yang dilontarkan Sooji, membuat jantung Myungsoo mendadak berdetak lebih cepat. Entah kenapa kini ia membayangkan Naeun. Ia sendiri juga bingung, gadis mana lagi yang Sooji bilang sedang membutuhkannya saat ini selain Naeun. Tapi, rumah sakit? Kenapa Naeun bisa berada di rumah sakit? Untuk menghapus rasa penasarannya, akhirnya Myungsoo pun berjalan perlahan mendekati kaca pintu kamar tersebut.

Begitu mendekat, dan mencoba melihat ke dalamnya, Myungsoo terkejut. Dengan gegabah ia segera membuka pintu kamar tersebut. Namun begitu pintu itu terbuka, Myungsoo justru membeku. Ia merasa sakit. Entah kenapa, rasanya sakit melihat orang yang ia cintai terbaring lemah di rumah sakit. Melihat tubuhnya yang kurus, kulitnya yang pucat, dan juga rambutnya yang terlihat lebih tipis, membuat Myungsoo tak yakin bahwa penyakit Naeun ringan. Tanpa terasa, mata Myungsoo terasa memanas seiring dengan munculnya genangan air mata.

Myungsoo lalu membalikkan tubuhnya untuk menatap Seokjin. Lelaki itu kini tengah menatap Myungsoo dengan tanpa ekspresi. Tanpa bberbasa basi, Myungsoo langsung meninju pipi kiri Seokjin. Sooji yang berada di sana spontan menghampiri Seokjin yang terjatuh.

“Kim Myungsoo! Tidak seharusnya kau membuat keributan di rumah sakit!”

Myungsoo tidak menghiraukan ucapan Sooji dan justru kini ia menatap Seokjin tajam sembari mengarahkan jari telunjuknya tepat ke wajah lelaki yang tengah terduduk sambil memegangi pipinya itu.

“Kau! Bukankah aku sudah bertanya padamu apa menyakit yang diderita Naeun?! Kenapa kau tidak menjawabnya? Huh?! Lihat keadaannya! Dan kau tega menyembunyikan semua ini dariku? Apa maksudmu?!”

“Kau menyalahkanku? Seharusnya aku yang bertanya padamu. Kapan kau peduli dengan Naeun? Kau bahkan masih terlalu sibuk untuk menentukan pilihan antara Sooji atau Naeun, benar, kan? Jadi jangan salahkan aku kalau kau tidak tahu Naeun mengidap leukemia.”

“Kim Myungsoo?”

Samar-samar sebuah suara gadis yang terdengar sangat pelan itu membuat Myungsoo terdiam. Ia lalu menoleh ke arah kamar Naeun. Dan benar saja, gadis itu kini terbangun karena keributan yang dibuat oleh Myungsoo. Naeun bukan hanya terbangun, tetapi ia juga terkejut melihat kehadiran Myungsoo. Padahal, seumur hidupnya, ia tidak ingin Myungsoo sampai mengetahui penyakitnya.

Agak mengejutkan memang. Myungsoo sama sekali tidak menghampiri Naeun. Ia kini justru berlari kencang meninggalkan rumah sakit. Terus berlari tak tentu arah, mencoba untuk lari dari kenyataan yang sama sekali tidak ia inginkan seumur hidupnya. Melihat orang yang dicintainya, mengidap penyakit kanker.

~***~

Myungsoo terus berlari. Bahkan, langkah kakinya semakin cepat saja. Entah kemana ia akan berlari. Yang jelas, ia tidak bisa menerima ini semua. Ia tidak bisa menerima bahwa Naeun menderita kanker. Kenapa bukan dia saja? Kenapa harus gadis sebaik Naeun? Kenapa? Myungsoo tak berhenti bertanya-tanya dalam hatinya. Air matanya tak henti mengalir dari matanya. Seumur hidupnya, baru pertama kalinya ia menjadi secengeng ini. Myungsoo bukanlah tipe lelaki yang mudah menangis.

Tetapi kali ini berbeda. Ini soal Naeun. Dan melihat gadis itu begitu lemah dengan wajah yang pucat, juga beberapa bekas suntikan jarum, membuat Myungsoo tak sanggup lagi untuk menahan tangisnya. Perlahan tapi pasti, ia mulai mengerti maksud dari perkataan Seokjin. Naeun. Mungkinkah gadis itu akan meninggalkannya? Tidak. Ia tidak ingin itu sampai terjadi. Naeun pasti bisa sembuh. Pasti kankernya tidak parah, Myungsoo akan selalu berharap begitu. Tetapi mengingat Naeun yang sering pingsan, Myungsoo semakin pesimis.

Setelah cukup lelah berlari dengan peluh yang mulai mengucur dari dahinya, Myungsoo pun berhenti berlari. Ia kini tepat berada di sebuah jembatan. Bisa ia lihat permukaan sungai yang luas dan alirnya yang mengalir deras. Ingin rasanya ia menceburkan dirinya ke sana, memejamkan matanya, lalu bangun dari mimpi buruknya. Ini mimpi? Myungsoo berharap begitu. Tetapi tidak. Ini bukan mimpi. Perasaannya yang kalut dan air mata yang terus membanjiri pipinya membuatnya tersadar, ini semua bukan mimpi. Kenyataannya adalah, kekasihnya yang paling ia cintai itu memang menderita kanker.

“AAAARRRGGGGHHHHHH!!!!!”

Myungsoo berteriak sekencang-kencangnya, mencoba melampiaskan perasaannya. Ia tidak peduli dengan beberapa orang yang melihatnya. Tetapi setelah berteriak, ia tidak merasa lega sama sekali. Mungkin ia baru akan merasa lega kalau Naeun sembuh. Melihat rambut gadis itu yang sangat tipis, membuat hati Myungsoo perih. Ia seolah merasakan sakit yang Naeun rasakan.

“Son Naeun, Son Naeun, Son Naeun.”

~***~

Sooji belum juga mengalihkan pandangannya dari kaca jendela bus yang saat ini ia dan Seokjin tumpangi. Ia masih belum berhenti mengingat kejadian dimana Myungsoo hampir berkelahi dengan Seokjin hanya karena Naeun. Ia kini sudah tahu seberapa besarnya rasa cinta Myungsoo pada Naeun. Pasti sangat besar. Apalagi setelah melihat air mata Myungsoo yang cukup deras mengalir dari matanya. Baru kali ini Sooji melihat Myungsoo menangis sampai seperti itu. Selama berpacaran dengannya, Myungsoo tidak pernah menunjukkan emosi yang sampai berlebih seperti itu. Sooji semakin yakin bahwa Naeun lah yang pantas berada di samping Myungsoo.

“Cemburu?”

Pertanyaan Seokjin sukses membuyarkan lamunan Sooji yang kemudian menoleh ke arah lelaki itu.

Mwo?”

“Atau kau justru menyesal?”

“Apa maksudmu?”

Seokjin sepertinya tidak berniat untuk meneruskan topik mereka, dan lebih memilih untuk mengalihkannya.

“Apa Bae Ahjumma sudah pulang lebih dulu?” tanyanya. Sooji hanya mengangguk.

Seokjin menghela napas lalu memandang lurus ke arah depan. Ia memejamkan matanya sekilas. “Aku harap, setelah si brengsek itu akan berada di sisi Naeun setelah ini semua,” ujar Seokjin yang mengundang kerutan di dahi Sooji karena lelaki itu menyebut kata ‘brengsek’.

“Brengsek?”

Keurae. Lelaki seperti Myungsoo itu brengsek! Bagaimana bisa dia mencintai dua orang sekaligus dan menyakiti perasaan mereka? Tidakkah kau sakit hati karenanya? Kau tidak merasa marah padanya? Dia keterlaluan, bukan?”

Sooji hanya bisa tersenyum masam mendengar pertanyaan Seokjin. Itu semua memang benar. Ia memang merasa sakit karena Myungsoo menduakannya. Tapi mungkin jika Naeun tahu, ia juga akan merasakan hal yang sama. Sooji pasti akan semakin tidak tega melihat gadis itu. Ia sudah menderita kanker, akan lebih sakit jika ia juga harus sakit hati. Biar ia saja yang merelakan Myungsoo. Karena Naeun jauh lebih membutuhkannya.

Ya, kau melamun lagi? Kita sudah sampai!” seru Seokjin sambil menepuk bahu Sooji.

Sooji hanya mengangguk kemudian menyusul Seokjin yang sudah beberapa langkah lebih dulu darinya untuk menuruni bus.

~***~

Myungsoo membuka pintu kamarnya dengan langkah gontai. Ia sudah seperti orang yang kehilangan semangat hidupnya. Dengan perlahan, ia meraba-raba dinding kamarnya untuk mencari tombol lampu. Kamarnya begitu gelap sebelum akhirnya ia menyalakan lampu kamarnya. Ini sudah pukul tujuh malam. Myungsoo tidak menyadari bahwa ia hampir saja menjelajahi kota Seoul seharian dengan bekas air mata yang sudah mongering di pipinya. Begitu Myungsoo hendak mengambil ponselnya yang biasa ia simpan di atas meja belajarnya, ternyata barang itu justru kini tidak ada. Myungsoo sempat kebingungan, namun akhirnya segera berlari keluar kamar.

Sesampainya ia di depan tangga rumahnya, ayahnya sudah berdiri tegak di sana, sambil menodongkan ponselnya. Dengan cepat, Myungsoo segera mengambilnya. Ia baru berniat untuk mengecek isinya namun sudah ditahan oleh pertanyaan ayahnya.

“Siapa itu Son Naeun?”

Myungsoo mengerutkan dahinya. Ia bingung kenapa ayahnya kini justru menanyakan soal Naeun padanya. Jangan bilang kalau ia juga tidak boleh berhubungan dengan gadis itu? Yang benar saja.

“Memangnya kenapa?”

“Apa dia pacarmu? Dia gadis yang baik? Kalau memang begitu, kau tidak perlu lagi berhubungan dengan Bae Sooji, Arra?”

Tuan Kim kemudian pergi meninggalkan Myungsoo yang masih terdiam. Entah mengapa Myungsoo tidak langsung mengiyakan itu semua. Naeun memang gadis yang baik, dan Naeun memang kekasihnya. Tapi, begitu ia mendengar larangan ayahnya untuk tidak berhubungan dengan Sooji, masih membuat perasaannya janggal.

Myugsoo lalu kembali berjalan ke kamarnya. Ia menutup pintu kamarnya. Setelah menaruh ponselnya di atas meja belajarnya, Myungsoo membaringkan tubuhnya di atas kasurnya. Ia kini ingin merenungkan semuanya, sebelum terlambat.

Bae Sooji, ia akan pergi ke Cina. Dan Son Naeun, apa ia akan pergi juga?

~To Be Continued~

 

Finally……. Chapter 9 updated!

Semoga bisa memuaskan ya! aku harap di chapter ini komennya akan lebih banyak, karena komen di chapter ini akan menentukan ending di chapter 10 nanti. Maaf kalo yg ini pendek, aku usahain chapter 10 bakal panjang.

Thakns for reading and leave your comment please^^

 

Advertisements

21 thoughts on “A Late Regret (Chapter 9 [Pre-Ending])

  1. naeun gk pergi kok, yakan thor ? ;;) ending nya myungeun ya, thor ?? T-T btw, smangat buat nulis chap slanjutnya y thor ^^

  2. yampuuun.. jadinya myunzy apa myungeun? myungzy ajalaaah:((( kasian kalo myungsoo ditinggal naeun meninggal..
    next chap jangan lama2 nee….

  3. myungeun thor~
    nih ff bikin kesel sendiri ngeliuat sikap labilnya myungsoo–”
    kasiaaan naeun nya T.T
    next chap ya thor ane tunggu~ fighting ╭(^▽^)╯

  4. Biasanya aku komen pake wp tapi sekarang lagi males buka wp hehe. Degdegan ini sama endingnya ntar. Kayaknya aku ngerasa dua-duanya bakal dapet myungsoo deh. Authornim pasti ngerti maksudnya gimana

  5. MYUNGEUN!!
    Kasian naeun udh sakit masa ditinggal/?nanti suzy sama si jin tomang aja thor wehehh.
    Myungeun myungeun/bawa spnduk

  6. myungeun aja thor
    thor part ini rasa kecepatan yah
    #abaikan
    thor jangan lama lama part 10 nya thor
    dan semoga park 10 nya gak nyesek soalnya dari part 1 sampai 9 bawaannnya nyesek mulu
    #abaikan
    author daebak
    fighting thor

  7. Myungeun myungzy gak masalah. Tapi disini aku lebih suka karakter suzy. Dan aku juga suka kalau suzy di pairing sama jin sama myungsoo, menurutku ok ok aja. Pokoknya aku dukung suzyyy /?
    Next chapter ya 😉

  8. kalo menurut aku sih ya thor ini pasti myungsoo gak dapet naeun atau pun suzy. naeun nya meninggal trs suzynya pergi wkwk /ngasal! tp ttp berharap myungsoo sm naeun aja ship mereka<3

  9. Aaaaa sedih thor 😦
    Suzy pasti sakit hati bgt
    Yaaa myungsoo bagaimana bisa mencintai dua yeoja sekaligus!! Aigooo nappeun nom
    Bgaimana dgn seokjin ?
    Apa dia jg mnykai suzy?

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s