Love Me or Leave Me

Love Me or Leave Me Dara ver by A Kwon

Credit : A Kwon

Another fiction by Rebecca Lee

Choi Seunghyun, Sandara Park | Hurt, romance | T | OneShot

Disclaimer : Everything in this story is belong to me. Except those name that I use for my cast. Hope you enjoyed.

 

Manik jet black miliknya sembab dan memerah. Dengan napas yang masih cukup tak beraturan ia menyentuhkan tangan kanannya ke dada. Sesuatu berdenyut dan terasa begitu sakit di dalam sana. Seluruh kesadarannya akan dunia sekitarnya raib karena fokusnya pada luka yang kembali dipaksa menganga.


Gadis itu memutar tubuhnya dan pemandangan memilukan itu kembali memenuhi benaknya. Di ranjang itu harusnya hanya ia dan tubuh prianya saja yang menempati. Hanya mereka berdua pula yang seharusnya dapat menikmati indahnya memadu kasih di atasnya. Namun akhirnya kata seharusnya itu juga harus terpaksa dimusnahkan setelah kemarin malam ia dengan mata kepalanya sendiri melihat pujaan hatinya bergumul bersama dengan wanita lain di sana.

 
Ia hancur dan hatinya remuk redam. Kini ia bahkan nyaris tak mampu lagi meyakini perasaannya masih ada atau tidak untuknya. Gadis itu, dia memang mencintai prianya, teramat sangat mencintainya hingga akhirnya ia terbutakan. Namun kali ini, malam itu, dirinya yang sesungguhnya telah kembali. Rasa sayang itu masih ada di sana, tapi kebencian itu pun mulai tumbuh. Masih ingin tetap memilikinya, tapi ia sendiri baru merasa dirinya sudah terlalu letih.

 
Ia ingin dikejar. Ia ingin hatinyalah yang dicari dan direnggut. Ia ingin merasa dibutuhkan oleh pria itu. Ia ingin pria itu yang mengorbankan semuanya untuknya. Pria itu, dia harus bertanggung jawab atas semua kerusakan yang telah ia buat pada orang yang ia sebut sebagai jantung hatinya, separuh napas hidupnya.

 
“Kau baik-baik saja?” seseorang membuka pintu kamar dan perlahan berjalan menghampirinya.

 
Sandara diam. Ia kembali memutar tubuhnya hingga memunggungi sosok itu. Untuk pertama kalinya ia berani bersumpah bahwa ia muak dengan wajah itu juga suara itu.

 
“Kau kembali? Untuk apa? Bersenang- senang dengan wanita lain lagi? Ini apartemenku Choi Seunghyun.” Dara bersuara serak. Terdengar jelas ia seperti sudah cukup lama menangis sebelumnya.

 
“Maafkan aku.”

 
Dan hening tercipta di antara mereka, mengambang bersama udara sekitarnya.

 
“Semudah itukah? Aku bahkan berpikir kau tidak perlu melakukannya. Karena meskipun kau mengulang maaf itu hingga beribu kali kau akan tetap melakukannya. Iya, ‘kan?”

 
Seunghyun membeku di tempatnya. Ia nyaris tak percaya Daranya akan berkata seperti itu padanya. Dalam hati ia bertanya jika mungkin Dara telah benar-benar membencinya. Ia sadar betul seberapa bajingan dirinya telah menghancurkan gadisnya, tapi ia tetap tak ingin kehilangannya. Seunghyun juga mencintainya.

 
“Kau masih mencintaiku. Ku mohon katakan itu padaku. Kau masih melakukannya,” Seunghyun bergerak mendekati Dara. Dipeluknya gadis itu dari belakang dan berbisik di telinganya.

 
Dara terdiam, sedikitpun tidak bersuara. Jiwanya memang marah padah Seunghyun, otaknya pun telah memerintahnya untuk melakukan perlawanan melepaskan diri dari pelukan kekasihnya. Tapi hatinya memang lembut hingga Dara akhirnya kembali memberi perintah pada tubuhnya untuk pasrah.

 
“Dara, ku mohon… katakan padaku kau mencintaiku. Kau tidak membenciku,” Seunghyun tertunduk dan menempelkan dahinya ke pundak Dara. Ia merasakan sakit yang seolah mulai meruntuhkannya.

 
Chagi,” lirih Seunghyun lagi dan semakin menguatkan pelukkannya.

 
Dara tetap tak berkutik, ia masih bertahan dengan kebisuannya. Pandangannya tetap lurus pada jendela besar yang menyajikan pemandangan langit kelam Seoul sore hari dengan titik-titik air yang menyisakan dirinya di kaca jendela. Meskipun kepala di pundaknya diam, Dara tahu Seunghyun sudah beruraian air mata. Membuatnya sedikit mengeluarkan senyum jahat perintah dari alam bawah sadarnya.

 
“Masih punya cukup hati untuk merasa sakit dan menangis rupanya,” nada bicara Dara benar-benar datar dan menusuk.

 
Seunghyun mengangkat kepalanya dan spontan melepas pelukkannya. Sandara yang ada dihadapannya benar terasa begitu asing baginya. Sadar ini semua akibat kebodohannya. Benar-benar bodoh karena ia menjadi seorang brengsek yang mengucapkan banyak kata cinta dan janji setia,  namun pada kenyataannya ia sendiri yang menyiksa dengan perlahan, menyayat hati gadis itu hingga titik kehancuran.

 
“Sebanyak luka yang telah dan akan kau berikan. Aku mencintaimu dengan gila dan terlalu hebat. Sayangnya, semua itu terjadi sebelum semalam. Kau tahu itu Seunghyun, kenapa bertanya?”

 
“Bagaimana dengan sekarang? Apa kau menghapusku?”

 
“Dengan bodohnya aku menjawab bahkan setelah semalam aku masih mencintaimu. Hanya mencintaimu,” Dara menjawab dengan memandang Seunghyun kali ini.

 
“Benarkah?”

 
“Choi Seunghyun, dengarkan aku. Aku mencintaimu terlalu banyak. Berkorban untukmu terlalu berlebih. Bahkan aku sudah menyerahkan semua milikku, tak hanya hati tapi juga seluruh hidupku. Aku bahkan rela dipandang bodoh dan naïf oleh orang-orang. Aku mengabaikan semua makian mereka yang menyakitkanku karena mereka tidak tahu seberapa berharganya kau dalam hidupku,” setetes noktah bening kembali mengalir di wajah putih Dara. Pertahanan gadis itu mulai ia jatuhkan.

 
“Aku akan melakukan semuanya untukmu, apapun. Bahkan jika kau memintaku untuk mati dan melompat ke neraka seorang diri,” setetes air mata lain berhasil lolos dan Dara hampir tak sanggup lagi menahan gejolaknya.

 
“Aku kehilangan akal sehatku hanya karena seorang pria sepertimu. Dengan ikhlas aku menerima semua rasa sakit darimu. Saat kau lebih mementingkan pekerjaanmu dibanding aku yang terbaring sakit,” sekali Dara menghela napas sebelum melanjutkan bicaranya. Ia memalingkan wajah dari Seunghyun menatap ranjang. Pikirannya memainkan kembali semua kejadian di hari-hari yang telah jauh berlalu.

 
“Saat kau lebih memilih teman dan rekan kerjamu daripada aku yang seorang diri kesepian di sini. Kau tidak tahu betapa aku sangat merindukanmu dan membutuhkanmu saat itu. Aku bahkan sangat menerimanya ketika kau memilih semua teman wanitamu yang sempurna dan klub malam sedangkan aku seorang diri di sini menunggumu pulang hingga penat bahkan tertidur di sofa. Aku bahkan tak pernah marah padamu ketika kau pulang dengan kondisi mabuk berat dan aroma parfum entah dari wanita mana yang menggelayuti tubuhmu, aku tetap menyambutmu dan membawamu tidur di kamar dengan nyaman. Kau bersenang-senang dengan duniamu dan aku berjuang keras untuk menjadi sebagian kecil duniamu, Seunghyun” Dara semakin berlinangan air mata saat mengungkapkan kalimat terakhirnya dengan menatap Seunghyun sendu.

 
Seunghyun hatinya seolah koyak dengan semua ucapan kekasihnya. Pengakuan itu membuat hatinya semakin remuk redam menyadari ia memang bukan pria yang sesungguhnya untuk Dara. Tatapan matanya lurus dan menggariskan penyesalan mendalam pada Dara. Mungkin perasaannya selama ini benar untuk sesegera mungkin melangkah mundur dari hidup gadisnya, tapi ia sadar ia tidak akan pernah bisa. Seunghyun begitu mencintai Sandara dan sangat membutuhkannya. Ia hanya tak tahu bagaimana cara untuk mencintai dan menunjukkan rasa sayang itu dengan tepat karena ia belum sanggup mengikat egonya di suatu tempat di dalam hatinya dan mengizinkan sisi lain dirinya untuk belajar arti cinta yang sesungguhnya.

 
“Chagi,”

 
“Berhenti memanggilku seperti itu, Seunghyun. Aku sudah terlalu lelah dan muak dengan semuanya. Dan sebelum aku semakin membenci dirku sendiri dan segala kebodohanku yang bertahan untuk mencintaimu. Sebelum semuanya semakin hancur berantakan dan tidak bisa lagi diperbaiki. Aku menyerah terus bertahan. Dan satu hal lagi Choi Seunghyun, kau hanya punya 2 pilihan saat ini. Cintai aku dengan sepenuh hatimu atau tinggalkan aku saat ini juga dan keluar dari tempat ini. Semua pilihan ada di tanganmu,” Dara menatap Seunghyun tajam dan dingin. Kali ini pertahanannya sudah sangat kuat.

 
Seunghyun tak bergeming untuk beberapa waktu.

 
“Jika pilihan pertama yang ku ambil, apa kau bersungguh-sungguh masih memiliki kesempatan itu?” terpancar keraguan di mata Seunghyun.

 
“Sudah kubilang semua bergantung padamu. Aku hanya mengikuti permainanmu.”

 
“Sandara Park, kalau begitu cobalah untuk mencintaiku satu kali lagi. Kali ini aku akan berusaha sekuat tenagaku untuk menghargai itu. Dan jika aku gagal lagi kali ini lakukan apapun yang kau mau, termasuk jika kau ingin membalas dendam rasa sakitmu padaku,” Seunghyun berjanji.

 
“Semoga kau benar-benar bisa membuktikannya padaku, Seunghyun.”

 

THE END

 

 

 

3 thoughts on “Love Me or Leave Me

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s