[Chapter 7] 2050

2050

“When you’re not a human..”

by Shinyoung

Main Cast: Kim Myungsoo & Son Naeun || Support Cast: Infinite & Apink || Genre: Fantasy, Angst, Romance || Length: Chapter 7/? || Rating: || Credit Poster: iheartpanda || Desclaimer: Official written by me. The cast belongs to God. No copy-paste. || A/n: Halo! Disini aku menjelaskan beberapa hal yang mungkin akan membuat kalian bingung. Tapi, kalau kalian baca baik-baik, mungkin kalian ngerti. Kalau ada yang gak ngerti, silahkan komentar atau tanyakan saja! Terimakasih buat Chapter 6 yang dikomentari oleh 15 orang huahaha;” Ngomong-ngomong, makasih juga dukungan kalian atas UN-nya. Jadi, selamat membaca ya!♥♥♥

Chapter 7 — Made by L

Teaser | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6

**

Sebelumnya: Ahn Jaehyun yang mengaku sebagai Robovent dari tahun 3000 membuat Naeun kaget bukan main, termasuk Yoon Bomi yang juga ikutan kaget. Kemudian, datanglah mimpi buruk yang tak terduga pada Naeun, dan itu ada hubungannya dengan Myungsoo.

Naeun, bersama Bomi dan Jaehyun merencanakan cara-cara untuk melawan Barvseu. Yang pasti, mereka juga harus membuat alat transportasi untuk mencari Robovent yang lainnya. Juga, memprogram diri mereka agar bisa menciptakan berbagai perlindungan.

Terakhir kali, Namjoo membenarkan bahwa Jaehyun berasal dari tahun 3000. Namun, siapa yang menciptakan Jaehyun? Itu membuat Naeun sedikit berwaspada. Mungkinkah itu Kim Jongin atau Kim Joon-Myeon?

**

“Son Naeun, aku mau mandi. Selesaikan segera sarapanmu.” Myungsoo memberitahu Naeun. Lalu, Naeun hanya menanggapi perkataan Myungsoo dengan anggukannya.

Setelah memastikan bahwa Myungsoo sudah pergi, Naeun kembali menatap layar Screvisible-nya. Disana masih ada Namjoo dengan perkataannya yang tergantung tadi karena Myungsoo tiba-tiba memanggil Naeun.

“Jadi, siapa?”

Namjoo berdeham kecil. “Um—Dia adalah Kim Myungsoo.”

Hati Naeun langsung mencelos ketika mendengar nama itu disebutkan oleh Namjooo. Bahunya langsung turun, tubuhnya ikut bergetar ketika ia mendengar nama itu.

Kim Myungsoo.

Bagaimana bisa seorang Kim Myungsoo hidup di tahun 3000. Mungkinkah, Kim Myungsoo yang sekarang tinggal bersamanya adalah Kim Myungsoo yang melakukan perjalanan?

Mungkinkah?

Semua itu berkelebat dalam pikiran Naeun. Naeun tidak bisa berpikir, perasaannya tercampur aduk. Antara bingung, kaget, tidak percaya, dan takut.

Takut, itu lah yang paling ia benci. Dia benci ketika ia harus ketakutan. Semua yang ia sangka-sangka tentang Myungsoo, dia takut tentang itu. Bagaimana jika Myungsoo juga melakukan teleportasi dari tahun 3000?

Bagaimana jika Myungsoo ternyata musuhnya?

Son Naeun?!

Naeun pun tersadar dari alam bawahnya. Pelan tapi pasti, ia mengangkat kepalanya dan menatap Namjoo yang masih berada di layar Screvisible-nya. “Uh, maaf. Tadi, aku sedikit terkejut. Tapi, kenapa dia?”

Maksudnya?

“Ya ampun. Maksudku kenapa yang menciptakan Jaehyun adalah—.” Naeun terdiam sebentar lalu melirik sekitarnya. Nihil, tidak ada siapapun. “—Kim Myungsoo?” tanyanya dalam suara berbisik.

Namjoo menghela nafas panjang. “Aku rasa kita harus mencari tahunya nanti karena aku harus mencarinya di perpustakaan utama Veloza Land. Kau tahu kan? Disana internetnya luar biasa cepat dan segalanya ada.”

“Baiklah, terserah kau sebenarnya.”

Kemudian, gadis itu memutuskan sambungan video call-nya. Lalu, terbesit di benaknya, bertanya-tanya bagaimana bisa seorang Kim Myungsoo menciptakan Jaehyun.

Baru juga, ia ingin bangkit dari sofa, Myungsoo turun dari lantai dua dengan rambut basahnya. Laki-laki itu mungkin baru saja selesai mandi karena dia baru saja pulang berolahraga.

Ia mengacak rambutnya dengan handuk yang bertengger di bahunya. Lalu, ia melihat Naeun sambil menatapnya bingung. “Son Naeun? Kau tidak bekerja?” tanyanya.

Naeun menepuk dahinya. “Aku lupa!”

**

Sejenak, setelah pekerjaannya sebagai pelayan selesai, dia bisa melupakan sedikit kewaspadaannya pada Kim Myungsoo. Gara-gara Namjoo yang mengatakan bahwa Myungsoo yang menciptakan Jaehyun, dia jadi merinding sendiri.

Bomi dan Jaehyun yang baru saja melepaskan apron mereka, menatap Naeun bingung karena gadis itu sama sekali tidak melepaskan apronnya. Dia masih disana dengan seragam restoran dan menatap jendela dengan pikiran kosong.

Kemudian, Jaehyun meletakkan telunjuknya di depan bibirnya dan memberikan isyarat pada Bomi agar membuat gadis itu terkejut. Mereka pun melangkah dengan perlahan dan….

“BUM!”

Naeun langung terlonjak dan memekik sekeras mungkin. Menyadari bahwa Jaehyun dan Bomi yang mengerjainya, ia langsung cemberut. “Ugh! Kalian!”

Jaehyun langsung tergelak, “makanya jangan bengong. Kau sedang memikirkan apa sih?” tanyanya penasaran. Bomi pun mengangguk, “Son Naeun, kau seperti dililit banyak utang.”

“Oh, astaga.” Wajah Naeun langsung datar saat mendengar pernyataan Bomi. “Memangnya ada Robolars yang miskin? Dan, aku beritahu ya, disini yang paling kaya raya adalah Jaehyun.”

Jaehyun mendengus kesal, namun Bomi langsung tersenyum jahil. “Kenapa kau tidak bilang Kalau begitu traktir kita berdua besok!” Mendengar itu membuat Jaehyun mengeluh. “Oh, ayolah! Robolars punya uang yang tak terhitung!” Bomi kembali mengusik laki-laki itu.

Sedangkan Naeun hanya menggeleng-geleng pasrah. Kemudian, gadis itu melepas apronnya dan melepaskan seragamnya. Setelah itu, ia menyisir rambutnya dengan tangannya. Bomi dan Jaehyun hanya saling melirik memberikan isyarat.

“Kau benar-benar tidak ingin bercerita?” tanya Bomi akhirnya karena mati penasaran. “Ya, kau bisa cerita dengan kami. Kita kan Robolars,” tambah Jaehyun mencoba meyakinkan gadis itu.

Naeun menghela nafas kemudian ia duduk di kursi yang ditengahnya terdapat meja bundar. Diikuti dengan Bomi dan Jaehyun yang juga ikut duduk di kursi lain. Kemudian ia menatap Jaehyun lekat-lekat.

“Dengar ya, aku tidak mau kalian terkejut atau apapun, tapi aku benar-benar ingin menanyakan hal ini padamu, Jaehyun,” kata Naeun akhirnya dalam satu tarikan nafas. Jaehyun sontak langsung melotot. “Ada apa denganku?”

Bomi pun ikut menatap Jaehyun. “Ada apa dengannya?” tanyanya. “Apa dia punya masalah denganmu, Son Naeun?”

Pertanyaan Bomi langsung dijawab dengan gelengan kepala Naeun. Jaehyun pun menatap gadis itu bingung. “Kalau begitu apa? Apa aku pernah membuatmu marah atau sebagainya?”

“Bukan!” pekiknya kesal. “Makanya dengarkan aku dulu!”

Bomi dan Jaehyun langsung memasang wajah serius dan ketakutan. Kemarahan seorang Son Naeun yang bisa membuat telinga Bomi dan Jaehyun pecah itu, benar-benar menyeramkan.

Ditambah dengan ekspresi wajah Naeun yang menakutkan, itu benar-benar membuat Bomi sedikit waspada ketika gadis itu marah. Cepat-cepat, mereka mendekat.

“Apa kau benar-benar dari tahun 3000?” tanya Naeun akhirnya. Jaehyun mengangguk pasti, “apa kau masih tidak percaya denganku?”

Naeun langsung menggeleng. “Bukan itu. Siapa yang menciptakanmu? Apa dia orang yang berpengaruh?” tanyanya langsung. Jaehyun mengangkat alisnya, “haruskah aku mengatakan itu?”

Naeun mengangguk. “Harus.”

Bomi menatap Jaehyun dan meneliti wajahnya. “Ada yang kau sembunyikan, Ahn Jaehyun.”

“Bukan begitu. Yang menciptakanku adalah seorang laki-laki dengan nama Kim Myungsoo dan laki-laki itu berwajah persis seperti seorang laki-laki yang mengantar Son Naeun pada hari pertamanya.”

Tenggorokan Naeun pun tercekat. Kemudian ia menatap Jaehyun serius. “Darimana kau tau bahwa dia yang mengantarku?”

“Begini, aku sedang membuang sampah-sampah yang bertumpuk dan ketika aku melangkah keluar, aku melihat sebuah mobil mewah yang berhenti. Mataku tertumbuk pada Kim Myungsoo dan ketika kau keluar, aku langsung tahu bahwa kau adalah Robolars.”

“Benar begitu, Naeun?” tanya Bomi. Naeun mengangguk pelan, “ya, memang waktu itu laki-laki itu yang mengantarku dan namanya juga Kim Myungsoo.”

Jaehyun langsung terbatuk-batuk. “Bagaimana bisa namanya juga Kim Myungsoo?” tanyanya bingung. Naeun hanya mengangkat bahunya pasrah karena dia tidak tahu apa-apa.

“Dan, Kim Myungsoo mengatakan bahwa dia hanyalah manusia biasa. Aku pikir, mungkin suatu hari dia akan ada di tahun 3000. Tapi, kalau seperti ini caranya, kita bisa mengubah masa depan kita,” kata Naeun dengan wajah takutnya.

Kini, tubuh Jaehyun dan Bomi ikut bergetar. Mereka tidak bisa membayangkan bahwa nanti mereka bisa mengubah masa depan. Jaehyun pun tersenyum lebar, “kalau begitu ayo kita ubah masa depan!”

“Tunggu! Tapi, kenapa?” tanya Naeun. Bomi pun mengangguk setuju, lalu ia ikut menatap Jaehyun. “Iya, kenapa kau bersemangat?”

Jaehyun tersenyum sekilas, “kalian harus tahu bahwa di tahun 3000, semua Robolars semacamku harus dimusnahkan oleh seorang laki-laki bernama Kim Joon-Myeon.”

“Kim Joon-Myeon?” Bomi dan Naeun bersamaan mengucapkan nama itu. Nama yang bisa membuat merinding siapapun yang mendengarnya atau mengucapkannya. Bagaikan efek nama dari Lord Voldemort.

Jaehyun menatap kedua gadis itu bingung dan menganggukkan kepalanya. Kemudian, ia membuka mulutnya, “kalian kenal?”

“Bukan. Tapi, dia yang memimpin Veloza Land.” Bomi duluan yang menjawab pertanyaan Jaehyun. Naeun hanya bisa mengangguk dan pikirannya kembali melayang pada penampakan wajah Kim Joon-Myeon.

“Tapi, dia bisa hidup di 500 tahun lagi!” Jaehyun hampir memekik seperti wanita. Namun, ketika ia ingin berkata lagi, ia harus menyimpannya dalam-dalam karena sesuatu mengganggu obrolan mereka.

Bip. Bip. Bip. Bip.

Suara Screenvisible milik Naeun pun berbunyi. Tangan Naeun menggeser layar Screvisible di hadapannya. Lalu, munculah wajah Namjoo yang tampak tegang dan ia menatap Naeun dengan alis terangkat setelah melihat Bomi dan Jaehyun.

Bomi!” pekiknya gembira. Bomi langsung tersenyum lebar, “Namjoo! Aku merindukanmu!”

Ah, dan kau pasti Ahn Jaehyun,” tebak Namjoo sambil menunjuk laki-laki itu. Pemuda itu menganggukkan kepalanya. “Apa kau mengenalku?” tanyanya sambil menunjuk dirinya sendiri.

Naeun yang menceritakanmu. Ah ya, Naeun! Soal Kim Myungsoo.” Naeun langsung bergidik. Matanya terfokus pada mata Namjoo. “Ada apa?” tanyanya serius. Wajahnya tampak tegang.

Namun, tangannya juga ia gerak-gerakkan sedikit agar dia tidak terlalu ketakutan. Kemudian, Namjoo tersenyum tipis. “Aku tidak bisa menemukan informasi apapun tentang Kim Myungsoo karena dia di tahun 3000. Aku kan masih di tahun 2050.

“Oh, yaampun aku lupa. Lalu bagaimana?”

Jaehyun langsung tertawa. “Tentu saja, aku bisa membantu kalian! Kenapa kalian penasaran tentang Kim Myungsoo?”

Naeun menoleh ke arah Jaehyun. “Tidak ada Faylars disana?”

“Ada. Tentu saja, ada. Dan, kau ingin menyuruhku untuk meminta Faylars di tahun 3000 untuk mencari tentang masa lalu Kim Myungsoo?” tanya Jaehyun. Naeun pun mengangguk. “Segitu pentingkah?”

“Aku tinggal di rumahnya.” Akhirnya Naeun mengatakan hal yang sebenarnya. “Saat pertama kali aku tiba di tahun 2014, aku tiba di rumahnya dan akhirnya dia mengizinkanku untuk tinggal disana.”

Dagu Jaehyun langsung melorot dan menampakkan gigi-giginya yang bersih. “Apa dia tahu kalau kau seorang Robolars?” tanyanya setelah sadar. Naeun hanya mengangguk.

Naeun! Aku putuskan sambungannya!” Namjoo memberitahu dan Naeun mengangguk tanpa menoleh ke arah gadis itu sama sekali. Kemudian, ia menggeser Screvisible nya agar tertutup.

Lalu, keheningan pun terjadi diantara mereka bertiga. Bomi pun berdeham kecil lalu ia membuka suara, “Naeun, kenapa kau tidak memberitahu kami dari awal?”

“Aku pikir itu tidak penting tapi setelah ada Jaehyun itu menjadi penting!” Naeun mencoba membela dirinya dan Jaehyun pun mengangguk setuju. “Itu tidak apa-apa, Son Naeun. Bomi, kita harus mengerti.”

“Apa ada yang kalian sembunyikan?” tanya Naeun.

Mereka berdua menggeleng. “Tidak, kita hanya sering membicarakan keanehanmu dan aku sudah tahu tentang Kim Myungsoo sejak Jaehyun mengatakan bahwa dia seorang Robovent juga.” Bomi menjelaskan.

Naeun pun mengangguk. “Lalu, bagaimana dengan Kim Myungsoo?”

Jaehyun menarik Screvisible nya yang tampak lebih indah daripada milik Naeun dan Bomi. Rupanya, Screvisible nya bisa diberikan tema. Pemuda itu, menyentuh layarnya dan menghubungi seseorang.

Tak lama kemudian, seseorang muncul disana dan Jaehyun menyuruh Naeun-Bomi untuk menyingkir. Kedua gadis itu pun mengangguk dan menyingkir darinya. Lalu, sebuah suara disana berdeham.

Ada apa, Ahn Jaehyun?

“Carikan tentang masa lalu Kim Myungsoo.”

Untuk apa?” tanya laki-laki itu.

“Carikan saja. Aku hanya penasaran.”

Kau benar-benar tidak ingin memberitahuku?

Naeun langsung menggeleng ke arah Jaehyun untuk melarangnya memberitahu apapun. Kemudian, pemuda itu mengangguk dengan isyarat matanya. “Aku hanya penasaran, Choi Minho. Cepat, beritahu aku.”

Baiklah,” ujar laki-laki yang bernama Minho itu malas. Kemudian, tak lama, Minho memberikan Jaehyun sebuah buku tebal kemudian jatuh berdentum ke atas meja bundar.

“Terimakasih.” Jaehyun pun menutup sambungan telepon setelah Minho menganggukkan kepalanya. Cepat-cepat, Bomi dan Naeun berdiri di kanan dan kiri Jaehyun.

Ketiganya, langsung membuka buku itu.

**

Malam ini, Jaehyun memutuskan untuk kembali melanjutkan membaca buku tebal yang diberikan oleh Minho, padahal ia sudah berjanji pada Naeun dan Bomi untuk tidak membacanya dahulu.

Namun, ketika ia baru ingin menarik buku itu dari atas nakasnya, ponselnya berdering pelan. Lalu, ia mengurungkan niatnya untuk mengambil buku tebal itu dan diambilnya ponselnya.

Son Naeun: Ahn Jaehyun, ingat ya, jangan baca duluan!

Jaehyun langsung terkekeh pelan. Jari-jarinya langsung meluncur diatas papan keyboard ponselnya. Diketiknya balasan pesan bagi Naeun.

Ahn Jaehyun: Tenang saja, aku tidak akan membacanya.

Son Naeun: Aku pegang janjimu!

Setelah itu, Jaehyun meletakkan ponselnya lalu ia menatap kembali buku tebal dengan judul ‘L’ itu. Buku itu tampak menyeramkan dari halaman depannya.

Cover buku itu dipasang warna hitam dengan huruf L ditengah-tengahnya dan warna huruf L itu dibuat berwarna putih dengan ukiran-ukiran yang membuat huruf itu menarik.

Tebal buku itu kira-kira sekitar 3 cm dengan jumlah halaman 250. Rupanya, yang membuat buku itu tebal adalah halaman-halaman yang dicetak dengan kertas kualitas bagus dan tebal.

Jika, kalian membuka buku itu, kalian pasti akan terpesona dengan kecanggihan buku yang luar biasa itu. Buku itu bisa menampilkan gambar bergerak yang muncul secara pop up namun bukan terbuat dari kertas, melainkan gambar transparan.

Jaehyun pun menghela nafas panjang dan memasukkan dirinya ke dalam selimut. Dia merasa bahwa matanya sudah berat namun, pikirannya masih terus saja terfokuskan pada Kim Myungsoo.

Di tempat lain, Naeun juga tidak bisa menutup matanya. Pikirannya tercampur aduk, padahal daritadi ia sudah mencoba mengosongkan pikirannya. Namun sia-sia saja.

Ingatannya kembali pada kejadian tadi di restoran, ketika ia bersama Bomi dan Jaehyun membuka buku tebal yang berjudul ‘L’ itu. Tenggorokannya tercekat ketika membaca judul buku itu. Jelas-jelas, itu adalah nama panggilan dari Kim Myungsoo.

Jelas-jelas, ia mengucapkan panggilan itu beberapa hari yang lalu. Bukan, mungkin beberapa minggu yang lalu. Dia sudah lupa.

Otaknya masih berputar-putar, mencari tahu kemungkinan-kemungkinan. Di buku itu dijelaskan bahwa Kim Myungsoo atau L merupakan laki-laki dengan wajah yang mendekati sempurna.

Buku itu menjelaskan tentang masa lalu Kim Myungsoo yang lahir dari keluarga Kim Joon-Myeon. Kenyataan itulah yang membuat Naeun semakin frustasi.

Padahal, jelas-jelas orang tua Kim Myungsoo sudah meninggal. Atau jangan-jangan, suatu hari nanti, Kim Joon-Myeon akan menculik pria itu dan membawanya bersama ke masa depan?

**

“Bagaimana tidurmu?”

Suara Kim Myungso membuat telinga Son Naeun sedikit bergetar. Gadis itu masih tidak bisa membayangkan bagaimana jika Myungsoo benar-benar merupakan anak dari Kim Joon-Myeon.

Ia pun dengan cepat, menggelengkan kepalanya frustasi dan Myungsoo menatap gadis itu bingung. Lipatan keningnya semakin bertambah ketika Naeun menghembuskan nafas panjang.

Atau lega?

“Jadi ada apa denganmu, Son Naeun?” Myungsoo kembali mengaduk kopinya ketika Naeun tersadar bahwa Myungsoo daritadi menanyainya. Laki-laki itu menaruh kaki kirinya diatas kaki kanannya.

Myungsoo yang notabene sedang tidak ada pekerjaan, bisa santai sedikit di rumahnya. Naeun pun mengerang kesal kemudian ia menatap Myungsoo lekat-lekat.

“Siapa nama ayahmu?”

“Eh?” Myungsoo langsung menaruh cangkirnya diatas meja berlapis kacanya. Ia menatap Naeun bingung. Alisnya bertemu. “Ada apa dengan ayahku?”

“Tidak, aku hanya ingin bertanya.”

Myungsoo pun hanya mengangguk. “Namanya Kim Jonghyun. Ada apa?”

Naeun langsung menarik nafas lega dan senyumnya mengembang. Namun, tiba-tiba ia teringat sesuatu, wajahnya pun kembali murung lalu ia melangkah menuju dapur.

“Ada apa, hei?” tanya Myungsoo penasaran. Matanya mengikuti tubuh Naeun yang sudah berada di dapur dengan tangan yang mulai mengambil mangkuk dan membuka kulkas.

Gadis itu menggeleng. “Tidak ada apa-apa. Ngomong-ngomong, bagaimana dengan Krystal? Dia tidak pernah menerormu kan?”

“Tidak. Ada apa?” Myungsoo menyesap lagi kopinya sampai habis lalu tangannya menyambar remote televisi. Lalu dia menatap Naeun lagi, “apa kau bisa membuat tv ini memutarkan acaranya sesuai perasaanku?”

Tawa Naeun langsung meledak. “Tentu saja! Aku bisa mengubah apapun menjadi lebih teknologi. Kau ingat? Aku ini 36 tahun lebih moderen daripada kau.”

“Sombong,” Myungsoo mencibir.

Naeun hanya terkekeh, kemudian ia melangkah menuju ruang tengah dan meletakkan mangkuk serealnya diatas meja kaca milik Myungsoo. Setelah itu, ia mendekati televisi.

Dalam waktu sekejap, tangannya sudah mulai mengutak-ngatik dan tv itu langsung berubah bentuk. Kini, harapan Myungso tentang garansi televisi yang gratis hilang sudah.

Sudah bisa dipastikan bahwa perusahaan televisi itu tidak akan membenarkan televisinya jika rusak karena bentuk televisinya yang benar-benar moderen.

Walaupun begitu, sekarang Myungsoo bisa mempercayakan segalanya pada Naeun. Jika alat elektroniknya rusak, setidaknya ia bisa meminta gadis itu untuk membenarkannya.

“Sudah selesai dan kau masih butuh remote jika kau tidak ingin acara itu diputar.” Naeun menjelaskan kemudian ia duduk di sofa yang ada di sebrang Myungsoo.

Gadis itu mulai menyuapkan serealnya satu persatu, namun kegiatannya terhentikan ketika Myungsoo menatap gadis itu lekat. Wajah Naeun sontak berubah menjadi merah.

“Ada apa?” tanya Naeun bingung. Myungsoo pun tersadar, “maaf, tadi aku hanya meneliti wajahmu.”

Naeun pun mengangguk kemudian ia kembali menyantap serealnya dengan lahap. Jika dipikir-pikir, apa tidak apa-apa kalau dia makan sereal setiap pagi?

**

“Aku merasa ada yang aku lupakan satu hal,” ujar laki-laki paruh baya itu sambil memijit pelipisnya.

Seseorang dengan tubuh kekar menatapnya bingung. “Tidak mungkin Tuanku melupakan satu hal. Aku yakin, Tuan pasti bisa mengingatnya suatu hari nanti.”

“Bah!” Laki-laki paruh baya itu mencibir. Kemudian, ia menatap pria bertubuh kekar itu dalam-dalam. “Tentu saja, aku akan mengingatnya suatu hari nanti! Tapi kapan?”

“Jangan tanya aku, Tuanku. Yang pasti, aku akan mencarikan penyembuhnya jika anda meminta.”

Laki-laki paruh baya itu tersenyum tipis. Kemudian, senyumnya tergantikan dengan wajahnya yang serius. “Kalau begitu, carikan aku penyembuhnya.”

“Bukankah anak anda bisa menyembuhkannya?”

“Dia?”

“Ya, dia.”

“Boleh juga.”

**

“Jangan ikut campur urusanku, Jung Krystal! Jika kau tidak ingin aku depak dari rumah ini, maka berhentilah menanyai hal semacam itu karena aku bahkan tidak tahu dendamnya!”

Perempuan dengan rambut yang pendek dan pakaian mewah itu melipat kedua tangannya di depan dada. Dress berwarna merah selututnya tampak berkilau.

Di lehernya, melingkarlah bulu-bulu berwarna abu-abu agar menutupi lengannya yang tak tertutup. Rupanya, perempuan itu sedang bersiap-siap menuju pesta karena di genggaman tangan kanannya ada tas kecil berwarna cokelat dan bermerek.

“Ibu tidak akan memberitahuku atau benar-benar tidak tahu?” tanya Jung Krystal menantang.

Perempuan itu sontak melotot mendengar pertanyaan anaknya sendiri. Ia melepaskan silangan tangannya dan ia menggeram pelan, “dengar ya, Jung Krystal. Aku bahkan tidak tahu setan apa yang tersembunyi di balik tubuhmu! Yang pasti, aku tidak tahu dan itu bukan urusanku!”

“Tapi—.”

“Aku mau pergi! Jaga rumah!” Perempuan itu sedikit membentak dan keluar dari rumah besar itu. Kini, Krystal hanya bisa menatap pintu besar yang sudah tertutup itu.

Di cela pintunya, ia bisa melihat ibunya sudah memasuki mobil. Pintunya ditutup oleh ayah tirinya dan mobil itu pun melaju pergi, meninggalkan perasaan sakit yang menggunung di dada Krsytal.

Lalu, ia pun akhirnya melangkah menuju ruang kerja ayah tirinya secara berhati-hati. Dia tahu kalau di ruamhnya ini kosong, jadi dia bisa bergerak secara bebas.

Dengan perlahan, ia mendorong pintu ruang kerja ayahnya. Dia tidak pernah kesana dan sekarang adalah pertama kalinya. Hati-hati, ia melirik sekeliling, mencoba memastikan bahwa laki-laki itu tidak memasang cctv. Memang benar, laki-laki itu percaya pada keluarga barunya.

Kaki Krystal bergerak masuk, jantungnya berdentum keras dan keringat mulai mengalir. Lalu, matanya bertumbuk pada sebuah pintu yang tampak terbuka sedikit.

Dengan hati-hati, ia melangkah ke sana dan menyelinap ke dalam. Kaki Krystal terasa lemas ketika tahu apa yang ada di dalam sana. Ternyata, tumpukan emas yang tak ternilai harganya.

“Huh, ibu memang mencintai uang,” ujarnya. Kemudian, ia melangkah keluar. Namun, langkahnya berhenti ketika ia menangkap sesuatu yang tampak tidak asing dimatanya.

Ia berbali dan mendapati sebuah bingkai foto dengan ukuran super besar dan foto itu tampak foto lama. Matanya meneliti foto itu dan ia mendapati wajah ayah tirinya.

Juga, bersama dua orang laki-laki lain. Tapi, siapa? Dan, sepenting itukah fotonya sampai dibingkai dan ditaruh di dalam ruangan penyimpanan emasnya?

**

Hari demi hari sudah dilalui dan Myungsoo mulai merasa tidak betah tinggal di rumahnya. Akhir-akhir ini, dia memang hanya pergi ke beberapa tempat untuk melakukan pemotretan dengan model barunya. Tapi, tetap saja, ia terkadang mempekerjakan Naeun sebagai modelnya.

Menurutnya, gadis itu merupakan model yang sangat sempurna. Tidak ada yang bisa mengalahkan gadis itu. Kemampuan gadis itu diatas rata-rata model-model Internasional. Bahkan, Park Chorong sering merasa tersaingi.

Tapi, apa boleh buat, Naeun kan bisa diprogram.

Myungsoo menarik nafasnya dalam-dalam dan mulai berpikir jernih. Sampai akhirnya, seseorang menepuk bahunya, lalu ia memutar kursinya dan mendapati Nam Woohyun sudah berdiri di belakangnya bersama Chorong.

“Ada apa?” tanya Myungsoo. “Rasanya sudah lama sekali kita tidak berkumpul seperti ini. Apa kau bawa makanan?” Myungsoo bangkit dari kursinya dan berjalan menuju sofa yang berada di kamarnya.

Woohyun tertawa, “aku bawa makanan. Bukan, aku sebenarnya, tapi Chorong yang bawa,” ujarnya menunjuk parsel yang dibawa oleh Chorong. Kemudian Chorong mengangkatnya tinggi-tinggi agar Myungsoo melihatnya.

Kemudian, pasangan kekasih itu duduk di sofa yang bersebrangan dengan milik Myungsoo. “Harusnya, aku yang bertanya ‘ada apa’ padamu, Kim Myungsoo,” kata Chorong sambil membuka parsel yang dibawanya.

Tangannya menarik keluar buah-buah dan juga beberapa batang cokelat. Ditambah dengan sebotol wine yang sebenarnya tidak ingin Chorong bawa. Tapi, Woohyun memaksanya untuk membawa botol anggur itu.

“Ada apa denganku?” Myungsoo mengangkat alisnya. “Aku merasa bahwa tidak ada yang salah denganku. Kalaupun aku salah, apa segitu terlihatnya?”

“Ya,” jawab Woohyun lugas. Laki-laki itu mengambil buah anggur yang sudah dicuci Chorong waktu di rumah. “Intinya, kau terlihat frustasi. Bukan frustasi sih, tapi entahlah. Aku tidak bisa menjelaskannya, mungkin Chorong bisa.”

“Oke,” Chorong meletakkan anggurnya. Kemudian, ia memangku kakinya dan menatap Myungsoo lekat-lekat. “Apa kau punya masalah dengan perempuan? Atau—Ah, jangan bilang kalau itu adalah Son Naeun?”

Myungsoo menghembuskan nafasnya dan mengangguk pasrah. “Aku mati bosan di rumah jika tidak ada dirinya. Padahal, biasanya aku merasa santai-santai saja waktu tidak ada Naeun.”

“Kau menyukainya bukan?” tanya Woohyun memotong duluan perkataan Chorong. Chorong langsung tergelak sendiri dan ia menatap Myungsoo serius. “Kau pasti menyukainya, Kim Myungsoo! Jangan berbohong dan aku tahu benar dirimu!”

“Oh, ayolah, ada aku disini, Park Chorong,” Woohyun mendesis cemburu. Chorong langsung merangkul laki-laki itu. “Maafkan aku, tapi Myungsoo adalah sahabatku sejak kecil. Jadi, aku tidak bisa berbohong.”

“Aish, kalian ini,” kata Myungsoo memotong kemesraan keduanya. “Aku tidak menyukainya dan aku tidak akan pernah menyukai gadis robot itu karena aku selalu mencintai Suzy.”

Chorong tersenyum kecut. “Kau ini sinting, Kim Myungsoo.”

Kedua alis Myungsoo langsung bertemu. Disisi lain, Woohyun hanya mencoba menikmati buah anggur yang tersisa dan ia paham bahwa Chorong sangat benci pada gadis yang bernama Suzy itu walaupun dia sudah meninggal.

“Ada apa denganku?”

“Ya, tentu saja, kau sinting. Kau mencintai gadis yang bahkan meninggal disisi laki-laki lain. Dia bahkan tidak memintamu untuk menemaninya di akhir hidupmu!” ujar Chorong setengah berteriak. “Aku muak denganmu, Kim Myungsoo. Singkirkan gadis itu! Dia sudah meninggal!”

“Hei, Park Chorong!—”

“Oh, ayolah, hentikan semua ini,” kata Woohyun akhirnya menengahi keduanya. Lalu, laki-laki itu menatap Myungsoo serius. “Park Chorong benar dan aku tidak membela siapapun. Suzy sudah meninggal dan biarkan dia bahagia disana.”

Myungsoo terdiam dan dalam hati ia membenarkan perkataan Woohyun. Dengan amarah yang berkecamuk di dadanya, ia mengambil botol anggur itu. Namun, cepat-cepat, Woohyun menyambarnya.

“Kau tidak boleh minum,” katanya melarang Myungsoo. Kemudian, ia beralih pada Chorong dan menatap gadis yang tengah memandang Myungsoo kosong itu. “Ayo, Chorong, kita seharusnya pulang sekarang.”

“Kau benar, aku harus melupakan Suzy.”

Chorong langsung terenyum tipis kemudian ia bangkit dari sofa dan melangkah keluar, diikuti oleh Woohyun yang mengekorinya di belakang sambil melambaikan salam perpisahan pada Myungsoo. Laki-laki itu hanya bisa tersenyum getir.

**

Bomi mengeluh kesal ketika ia harus mendapatkan pekerjaan tambahan karena dia sudah beberapa hari ini dia tidak bisa tidur–gantinya, ia tertidur ketika ia berada di dapur.

Yoon Doojoon sudah memarahi gadis itu sambil membentaknya, tapi rupanya gadis itu hanya menerimanya dengan pasrah. Dengan bantuan Naeun dan Jaehyun, mungkin ia tidak akan secepat itu menyelesaikan pekerjaan tambahannya–membersihkan kamar mandi.

Sekarang, restoran sudah sepi dan pengunjung terakhir yang datang adalah sepasang suami-istri yang ternyata baru saja menyelesaikan liburan mereka di Korea.

“Huh, melelahkan!” Naeun berkata ketika mereka bertiga sudah terduduk mengelilingi meja bundar favorit mereka.

Naeun meletakkan kepalanya ke atas meja dan mulai bergumam tidak jelas. Disisi lain, Jaehyun tengah mengipas-ngipas lehernya yang terus saja berkeringat.

Bomi hanya bersenandung lagu yang tidak diketahui Jaehyun ataupun Naeun. Baru saja, Naeun ingin mengangkat kepalanya, Bomi memekik, “Cause you’re my destiny! Woo! WOO!

Jaehyun dan Naeun langsung menutup kuping mereka rapat-rapat karena sebentar lagi Bomi akan berteriak sekencang-kencangnya karena hanya ada mereka bertiga di restoran.

Ya, Jaehyun yang bertugas sebagai orang yang mengunci restoran itu tentu saja bisa santai setidaknya.

“Oh, yaampun, rasanya lega!” Bomi memekik senang.

Kemudian, Naeun dan Jaehyun hanya bisa berdecak kesal berkali-kali sambil menggelengkan kepala mereka. Lalu, Jaehyun mengambil buku ‘L’ nya yang daritadi ia simpan di dalam tasnya.

Diletakkannya buku itu dan ia menatap kedua sahabatnya, “siap untuk melanjutkan?” tanyanya memecah keheningan.

Bomi pun berubah drastis menjadi serius dan ia menganggukkan kepalanya. Begitupula dengan Naeun yang juga hanya bergumam, “ya.”

Mungkin gadis itu banyak pikiran, pikir Jaehyun.

Jaehyun tersenyum lebar kemudian ia membuka buku itu dan mereka mulai melanjutkannya. “Jadi, ternyata Kim Myungsoo bukan anaknya Kim Joon-Myeon?”

Tadi pagi, Naeun sudah memberitahu keduanya tentang nama ayah dari Kim Myungsoo. Kini, mereka harus membahasnya. Bukan harus lagi, mungkin semacam kewajiban mereka untuk membahasnya.

“Apa tidak apa-apa jika kita membicarakan orang lain?” Bomi bertanya dengan wajah datarnya. “Ada apa denganmu? Faktanya, kita bukan manusia dan kita tidak akan berdosa.” Naeun menjelaskan.

Bomi pun hanya mengangguk. “Maafkan aku.” Naeun mengabaikan Bomi dan matanya beralih pada Jaehyun lalu ia mengangguk. “Benar, namanya Kim Jonghyun bukan Kim Joon-Myeon.”

“Entah kenapa, aku merasa bahwa suatu hari Kim Joon-Myeon bisa menculik Myungsoo,” kata Bomi. Naeun langsung menatapnya. “Aku setuju itu dan aku sudah berhari-hari aku memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi,” kata Naeun seraya menyenderkan tubuhnya.

Jaehyun menghela nafas panjang dan membalik halaman selanjutnya. Matanya langsung tertuju pada judul di halaman itu yaitu ‘Kim Myungsoo Punya Kekasih?’. “Hei! Ini apa?!”

Kemudian, Naeun dan Bomi langsung mendekat dan dari judulnya, Naeun langsung melebarkan matanya. Ia menatap Jaehyun. “Ayo, baca!”

“Disini dia mengatakan bahwa dia punya kekasih tapi dia tidak menjelaskan siapa gadis yang beruntung itu.” Jaehyun menjelaskan. Kemudian dia terdiam sejenak dan otaknya berputar, “setahuku , dia memang tidak punya kekasih. Entahlah, aku bahkan tidak pernah melihat dirinya secara langsung.”

Bomi melongo sempurna. “Apa dia tidak keluar rumah untuk mengawasi daerah kalian?”

“Tidak. Di tahun 3000 alias di kawasanku, seluruh pemimpin daerah bisa mengawasi daerahnya dengan mudah yaitu dengan kamera yang terpasang di semua bagian.”

“Semua?”

“Iya,” Jaehyun menjawab pertanyaan Naeun.

Lalu, Naeun mendengus kesal. “Bagaimana jika Kim Myungsoo yang kau maksud bukanlah Kim Myungsoo kita?”

“Tidak mungkin! Walaupun aku memang tidak pernah bertemu dengannya secara langsung, dia selalu berbicara melalui layar lebar yang berada di tengah-tengah kota untuk mengumumkan sesuatu.”

Jaehyun melipat kedua tangannya di depan dada. “Oh, kita juga tidak boleh melupakan permasalahan Barvseu. Kita harus segera merakit transportasi kita dan kita butuh waktu 6 bulan, bukan?”

Naeun mengangguk setuju dan ia mengeluarkan perkamen daftar barang yang harus dicari mereka untuk membuat pesawat-bisa-berubah itu. Maksudnya, pesawat itu bisa berubah menjadi alat transportasi apapun.

Bomi langsung membuka perkamen panjang itu dan matanya melotot. “Sebanyak ini? Kenapa juga kita harus membutuhkan alat-alat seperti ini?” tanyanya. “Dan, apa kita bisa membuatnya? Merakitnya susah!”

“Aku bisa,” Jaehyun berkata dengan mantap.

Naeun mengangguk setuju, “dia benar, Bomi. Jaehyun bisa merakitnya dengan cepat. Namun, waktu yang kita butuhkan untuk mencari barang-barang itu. Mungkin, juga ada barang yang harus kita ciptakan sendiri.”

“Lalu, bagaimana dengan program yang harus kita buat untuk melindungi diri?” tanya Jaehyun. “Aku sedikit kesulitan dengan satu hal yang itu. Kau tau kan, aku yang dari tahun 3000 tidak terlalu pintar.”

“Bohong, ah,” Naeun tertawa. “Kau pasti yang terpintar diantara kita. Pokoknya, ini—.” Naeun mengeluarkan sebuah buku lebar dan setebal 1,5 cm. Ia menaruhnya diatas meja bundar. “—dengan buku panduan ini, kita bisa menciptakan segalanya.”

Bomi menatap buku itu, “darimana kau mendapatnya?”

“Namjoo! Dia menyelinap ke perpustakaan Kim Joon-Myeon dan aku berharap bahwa Kim Joon-Myeon tidak menyadarinya.”

“Aku juga,” Jaehyun mengangguk setuju. Kemudian ia mengambil buku tebal yang berjudul ‘Buku Panduan Merakit dan Memprogram Robolars’. Kemudian, Jaehyun tersenyum, “artinya kita menciptakan program baru?”

Naeun mengangguk dan Bomi melotot. “Bagaimana kita menciptakan program baru?” Ia setengah berteriak. “Kalau begitu, kita harus cepat! Kita butuh memeras otak kita!”

“Sabar!” Naeun menengahinya. Kemudian, ia menggosok pelipisnya yang terasa pusing sedari tadi. “Aku sudah memikirkannya secara matang-matang dan aku pikir kita bisa membuat program mudah lalu kita menggabungkan program itu menjadi program yang sulit.”

“Woah!” Jaehyun berdecak kagum. “Kau benar, Son Naeun! Kita harus membuat program yang paling mudah. Apa kalian menonton anime ‘Angel Beats’?” tanyanya sambil tersenyum.

Hanya Bomi yang mengangguk dan Naeun menggeleng. “Di anime itu, dijelaskan bahwa Angel menciptakan program untuk melindungi dirinya padahal dia hanyalah manusia. Kalau manusia bisa, kita seharusnya lebih bisa! Aku sudah memperkirakan, bahwa kita bisa mencari informasi tambahan di Screvisible,”

“ditambah dengan dari Namjoo. Aku yakin, para Faylars pasti tahu banyak. Kita juga harus menciptakan program untuk menyerang lawan dan sebagainya. Yang terakhir, kita juga harus merakit alat transportasi kita agar bisa berubah menjadi kecil kapanpun.”

Bomi mengangguk mengerti, begitu juga dengan Naeun yang walaupun tidak menonton anime yang dimaksudkan oleh Jaehyun. “Artinya, kita harus membuat program yang mengubah tubuh kita menjadi kecil juga?” tanya Bomi.

Jaehyun mengangguk. “Kau benar dan kita harus bergegas mulai besok.”

“Besok? Apa itu tidak terlalu cepat?” tanya Bomi. Naeun dan Jaehyun menggeleng secara bersamaan. Naeun memetik jarinya, “kita harus cepat. Secepatnya. Perjalanan kita masih panjang karena kita belum menemukan Robovent yang lain yang akan membantu kita.”

“Apa kita bisa melalui ini semua?” tanya Bomi.

“Tentu, jika kita bersama dan percaya pada diri kita,” Jaehyun menjawab. Kemudian, Naeun mengangguk. “Jaehyun benar. Kita pasti bisa, tapi–.”

“Apa?” tanya Bomi mendahului Jaehyun. Naeun menatap keduanya serius dan lekat-lekat, “apa aku boleh mengajak Kim Myungsoo ikut dalam perjalanan kita?”

**

 

a.n

jadi gimana? kali ini, aku bikinnya gak ngegantung loh endingnya. huahaha, gak tau sih. kalau menurutku gak ngegantung dan chapter ini panjang banget loh, berhubung aku kasih bonus karena chapter sebelumnya komentarnya banyak banget. intinya, makasih banyak lah yang udah komentar.

Selamat juga untuk yang menebaknya Kim Myungsoo! Kalian benar. Yang terakhir, untuk kalian semua para readers, laaaf♥

24 thoughts on “[Chapter 7] 2050

  1. Penasaran sumpah nanti myung soo gimana sikapnya ama naeun abis chorong bilang ke myungsoo alasan dia gasuka dirumah… semangat yaaaa chapter selanjutnya🙂

  2. penasaran banget lho Thor >_< .
    Moment myungeunnya mna ? . dkit banget thor😦 .
    Lanjutanya Cepet ya Thor😀

  3. kaget bingit ternyata myungsoo yg nyiptain jaehyun o_o
    semoga deh naeun, bomi, sama jaehyun bisa ngelaksanain misi mereka .
    penasaran nih myungsoo kok bisa masih ada di tahun 3000 . keren banget thor . cepet dilanjut ya :)) maaf atas kekhilafan tadi .

  4. Myungeun skipnya dong torr :p rda gmna gtuu klo myungeun kapel, hohoh ,, bguss thorr,, dohh ga sbar buat klnjutannya, ~ㅋㅋㅋㅋ fighting thorr (ง’̀⌣’́)ง lnjutkan :3

  5. myungeun momentnya mana thor?? dikit bangetz pake z T.T
    next chap nya ya thor~ aku tunggu. fighting thor (•̪ -̮ •̪)

    • halooo. wah pada nagihin myungeun nih. haha. maaf pake banget nih kalau myungeun nya dikit, emang di chapt ini bukan difokusin sama myungeun-nya hehe:-)) sipp.

  6. penasaran penasaran penasaran…. itu si Myungsoo yang nyiptaiin Jaehyun sama ngga sih sama Myungsoo yang sekarang di dunia nyata ???
    pokoknya ditunggu kelanjutannya thooor

    • halohaaaa. yeheyyy penasaran. sama gak yaaa? musti baca dulu sampe beres ceritanya baru tau deh myungsoo nya sama gak huahaha /ketawa jahat. sipp:D

  7. gw arap myungsoo 2014 adlh myungsoo yg nyipptaiin jaehyun itu…dn pcar myungsoo aku yajin 5000% itu pasti naeun !!thor lanjut ya cepet ne ?gw uda pnasran ni…hehe

    • halooo! suka bingung di bagian mana? coba nanti aku jelasin di chapter selanjutnya mungkin:D iya nanti aku banyakin kok, soalnya di chapter ini aku emang gak fokusin myungsoo-naeun hehe. sip!

  8. bikin penasaran aj apakah myungsoo yg menciptakan jaehyun ma myungsoo yg skr itu org yg sma trus ap sbnrx yg membuat ayah tiri kristal membenci myungsoo??
    banyakin myungsoo naeun momentx cingu

  9. Annyeong!! Thor, otaku + kpop yaa?? Yoroshiku nee ^^~ keren” thor ceritanya menarik, btw pingin banyak comedy romance (?) Gomawoo ..

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s