[FF Freelance] Gone

Gone Cover

Title                       : Gone

Author                  : Trifa

Genre                   : Family, Angst, Friendship

Length                  : Oneshoot

Rating                   : General

Casts                     :

-Lee Jinki (Onew SHINee)

-Lee Jinyoung (OC)

-Kim Kibum (Key SHINee)

-Hyunmin Ahjumma and others

Disclaimer           : This plot and story are mine. Casts belongs to themselves. Picture taken from hdwallphotos.com.

Summary             : Kebahagiaan bisa datang dari seseorang yang di sayangi yang dapat dijadikan alasan untuk tetap menikmati hidup. Tapi bagaimana jika orang itu pergi? Bukankah alasan itu pun ikut lenyap? Haruskah mempertahankan kehidupan ini dan mencoba mencari alasan dan kebahagiaan baru?

A.N                        : Ini adalah ff kedua yang pernah aku buat, mian kalau aneh dan gak jelas. Please comment and be a good reader chingu! d(^_^)b

Happy Reading!

 

 

 

 

Jinki menyantap sarapannya dengan lahap bersama adiknya, Jinyoung. Memang hanya ada mereka berdua di rumah itu. Orangtua mereka telah meninggal dunia akibat kecelakaan pesawat 2 tahun yang lalu. Itu sebabnya mereka berdua sangat dekat. Walaupun Jinki terkadang sibuk dengan urusan kuliahnya, ia selalu menyempatkan diri untuk menemani Jinyoung pergi ataupun menonton televisi bersama sambil berbincang. Jinki sangat menyayangi adiknya itu, karena hanya dia yang Jinki miliki selain bibi mereka yang sekarang memimpin perusahaan milik appa mereka.

“Jinyoung, kau terlihat semakin kurus, apa akhir-akhir ini kau sakit?” Tanya Jinki serius di sela makannya.

“Jinja? Tidak oppa, aku tidak apa-apa” Jawab Jinyoung menggelengkan kepala sambil mengaduk kuah sup miliknya.

“Tapi bukankah kau pernah mengeluh karena perutmu sering sakit? Apa sekarang sudah baik?”

“Ne, tapi sekarang aku sudah tidak apa-apa oppa. Oppa tidak perlu khawatir” Ucap Jinyoung santai lalu memakan suapan terakhirnya.

“Baiklah. Seharusnya kau lebih hati-hati, jaga kesehatanmu, ne?” Ucap Jinki sambil meraih gelas yang berisi air putih dan langsung meneguknya habis. “Apa kau sudah selesai? Ayo kita berangkat!” Jinki segera bangkit dari kursinya. Jinyoung mengangguk dan langsung memakai tas sekolahnya.

 

***

                Jinki melangkahkan kaki memasuki rumahnya yang sepi. Biasanya ia mendapati adiknya sedang menonoton televisi di ruang keluarga, tetapi sore ini tidak. Suasana rumah sangatlah sepi, hanya suara detikan jarum jam dari jam klasik yang berdiri di sudut ruangan itu yang terdengar.

“Jinyoungie…Jinyoungie…” Jinki berseru memanggil nama adiknya. Ia tidak menemukan Jinyoung di kamar nya. ‘Kemana dia? Tidak mungkin dia belum pulang, sepatu miliknya sudah ada di dekat pintu tadi’ Ucap Jinki dalam hati dengan heran sambil berjalan menuju dapur. Betapa kagetnya Jinki saat mendapati Jinyoung terbaring tak sadarkan diri di lantai dapur dengan gelas yang pecah dan air minum yang tumpah.

“Ya Tuhan! Jinyoung!”  Jinki berlari dan segera berjongkok di samping tubunya. Ia mengangkat setengah badan adiknya itu sambil memanggil namanya. “Jinyoung sadarlah, kenapa kau bisa seperti ini?” Jinki menepuk-nepuk pipi kanan Jinyoung untuk menyadarkannya, namun sia-sia saja. Dengan panik Jinki membawa tubuh Jinyoung menuju mobilnya dan segera pergi ke rumah sakit.

 

 

“Kanker hati?” Tanya Jinki membulatkan mata. Suaranya menggema mengisi seluruh ruangan bernuansa putih itu. Jelas ia kaget. Ia tidak percaya dengan apa yang dokter itu sampaikan. Seperti ada sesuatu yang berat menimpanya, tiba-tiba kepalanya terasa sakit.

“Benar, dan keadaannya sudah cukup parah” Jawab seorang dokter yang sedari tadi berbicara dengan Jinki di dalam ruangannya.

“Ta, tapi, bagaimana ini bisa terjadi? Kenapa tidak ada gejala yang timbul dengan jelas pada Jinyoung?” Jinki merasa tenggorokannya tercekat.

“Gejala pasti ada. Biasanya orang yang terkena kanker hati akan merasakan sakit pada perut bagian atasnya, cepat lelah dan tubuhnya semakin kurus” Jelas dokter .

“Ya Tuhan kenapa bisa terlambat seperti ini?” Seru Jinki sambil mengusap wajahnya frustasi. “Lalu apa yang bisa dilakukan agar Jinyoung segera sembuh?”

“Bisa dilakukan dengan kemoterapi atau radioterapi. Tetapi itu tidak bisa menjamin dia akan sembuh total. Jika keadaannya semakin parah, maka akan dilakukan transplantasi hati”

“Lakukan saja apa yang harus dilakukan untuk membuatnya sembuh. Tolong selamatkan dia” Jinki memohon. Air mata keluar begitu saja dari mata sabitnya. Ia beranjak dari kursinya dan membungguk bertemakasih lalu berjalan keluar ruangan.

Jinki berjalan di koridor menuju kamar adiknya. Pikirannya terus menerawang dan tatapannya hampir kosong. Badannya sedikit gemetar. Ia masih tidak percaya dengan semua ini. Sungguh menyakitkan jika adiknya harus menjalani ini. Kanker bukanlah penyakit yang mudah disembuhkan. Ia takut jika adiknya tidak bisa sembuh dan harus kehilangan orang yang ia sayangi lagi.

Jinki sudah sampai di depan pintu kamar dan membuka pintunya. Di sana sudah ada Hyunmin ahjumma  yang duduk di samping tempat tidur Jinyoung.

“Oppa!” Seru Jinyoung yang ternyata sudah sadar. Jinki hanya menatap mereka berdua dan tidak menghiraukan panggilan adiknya. Hyunmin ahjumma pun heran dengan ekspresi Jinki saat ini.

“Jinyoung, kenapa kau selalu bilang bahwa kau baik-baik saja? Dan kenapa kau menyepelekan sakitmu waktu itu? Bahkan kau tidak tahu kan apa yang akan terjadi padamu jika kau seperti itu, hah?!” Jinki mengeluarkan suara keras dan sedikit membentak. Matanya sedikit merah dan berair. Dan ekspresi itu, seperti perasaan antara sedih, kesal, dan kecewa.

“Oppa ada apa? Maafkan aku jika aku seperti itu. Tapi, apakah terjadi sesuatu yang buruk padaku? Apa penyakitku parah?” Jinyoung jelas terlihat kaget dengan ucapan oppanya . Ditambah dengan ekspresi Jinki yang membuatnya takut.  Hyunmin ahjumma kaget dan heran dengan ucapan Jinki yang tiba-tiba.

“Mulai sekarang kau akan tetap dirawat di sini. Kau tidak perlu sekolah, patuhi apa yang dokter katakan padamu” Jinki tidak menjawab pertanyaan Jinyoung dan hanya memberitahukan itu kepadanya dengan tegas.

“Memangnya aku sakit apa? Apakah separah itu? Tapi aku sudah merasa lebih baik sekarang”

“Sudahlah, sebaiknya kau ikuti saja” Perintah Jinki. Ia tetap tidak memberitahukan tentang penyakit adiknya itu.

“Jinki, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kau terlihat kesal seperti ini? Sebaiknya kau ceritkan padaku”  Hyunmin ahjumma berdiri dan mengajak Jinki untuk berbicara dengannya di luar. Jinyoung hanya bisa menatap mereka berdua dengan perasaan bingung sekaligus takut. Ia takut jika penyakitnya ternyata memang parah.

 

“Jinki, sebenarnya ada apa? Apakah Jinyoung sakit parah?” Tanya Hyunmin ahjumma yang duduk di samping Jinki yang sedang diam menunduk.

“Sebenarnya, Jinyoung, dia terkena kanker hati” Jawab Jinki mengangkat kepalanya dan menatap wajah bibinya itu. Ia berusaha untuk tenang sekarang.

“Kanker hati?” Hyunmin ahjumma kaget sekaligus tidak percaya mendengarnya. Jinki pun mengangguk. “Tapi Jinyoung bisa disembuhkan kan?”

“Keadaannya sudah cukup parah, ia harus melakukan terapi, tapi ia akan sembuh total jika melakukan transplantasi hati” Jelas Jinki. Hyunmin ahjumma termenung. Perkataan itu terdengar memilukan baginya. Ia tidak bisa membayangkan jika Jinyoung harus menghadapi ini. “Ahjumma, apakah kita harus memberitahukannya sekarang pada Jinyoung?”

“Mungkin kita memang harus memberitahunya sekarang, karena jika nanti, ia pasti akan lebih merasa kecewa” Ucap Bibi sambil menyentuh bahu Jinki dan mengajaknya untuk kembali masuk.

Hyunmin ahjumma dan Jinki duduk di samping tempat tidur Jinyoung. Mereka berdua mempersiapkan diri untuk memberitahunya. Ini memang sangat berat bagi mereka.

“Ahjumma, oppa, Aku sakit apa? Kenapa kalian seperi itu? Apakah sakitku ini parah?” Jinyoung menatap mereka berdua lekat. Ia yakin bahwa penyakit yang ia alami sangat serius.

“Sebenarnya… ehhmm…” Hyunmin ahjumma ragu mengatakannya. Ia hanya kembali menengok pada Jinki. Sulit baginya untuk memberitahukan Jinyoung, walaupun memang ini yang terbaik.

“Tidak apa-apa, katakan saja, aku mohon” Jinyoung menggenggam tangan Bibinya.

“Sebenarnya kau terkena kanker hati, Jinyoung” Akhirnya Bibi melepaskan kata-kata itu dari mulutnya. Tiba-tiba air matanya mengalir. Jinyoung awalnya terlihat kaget, namun ia segera mengalihkan pandangannya ke langit-langit kamar dan tersenyum. Ia telah mempersiapkan diri dengan semua kemungkinan ini.

“Kanker hati? Orang bilang kanker itu sulit disembuhkan, tapi aku yakin kalau aku bisa sembuh dengan cepat “ Gumam Jinyoung berusaha tersenyum. Tetapi tentu saja perasaan sedih sedang menyelimuti hatinya. “Benarkan oppa? Oppa maafkan aku, aku tidak bisa menjaga tubuhku dengan baik dan sudah membuat kalian khawatir. Tapi kalian tidak perlu cemas, aku akan berusaha keras untuk sembuh” Jinyoung tersenyum pada Jinki. Jinki menatapnya nanar lalu membalas senyumannya.

“Ani. Ini bukan salahmu. Ne, oppa tahu kalau kau bisa” Ucap Jinki sambil mengusap puncak kepala adik kesayangannya itu. Hyunmin ahjumma pun ikut tersenyum dan mengeratkan genggamannya pada tangan Jinyoung.

 

***

                Jinki berjalan di koridor kampus dengan terburu-buru. Ia berencana mengunjungi adkinya di rumah sakit. Ini sudah hari ke-5 adiknya dirawat. Ia yakin adiknya itu sangat kesepian, karena tidak ada yang bisa terus menemaninya. Hyunmin ahjumma pun hanya datang siang hari karena sibuk menangani perusahaan. Itu sebabnya Jinki berusaha secepat mungkin datang ke rumah sakit.

“Jinki-ya!” Tiba-tiba terdengar suara melengking yang begitu dikenal Jinki. Jinki menoleh ke arah sumber suara.

“Ah Kibum, ada apa?”

“Kau terlihat terburu-buru. Kau mau kemana? Apa kau akan pergi berkencan?” Tanya Kibum sedikit menggoda Jinki. Kibum adalah sahabat Jinki sejak sekolah menengah. Ia sangat dekat dengan Jinki bahkan dengan keluarganya.

“Apa maksudmu? Kau tahu kan, aku tidak punya yeoja yang bisa kukencani” Jawab Jinki tersenyum ringan menanggapi perkataan sahabatnya itu.

“Lantas kau mau ke mana?”

“Ke Rumah Sakit” Jawabnya singkat.

“Untuk apa kau ke sana? Menjenguk seseorang?” Tanya Kibum dibalas dengan angguka Jinki. “Memang siapa yang sakit?”

“Jinyoung” Jinki melangkahkan kakinya cepat menuju mobilnya yang terparkir.

“Jinyoung adikmu?”

“Tentu saja. Menurutmu siapa lagi?” Jinki sudah berada di depan mobilnya dan segera mengeluarkan kunci mobil dari sakunya.

“Ah Jinja? Memangnya dia sakit apa? Mengapa kau tidak memberitahuku?” Tanya Kibum sedikit kecewa.

“Apa aku harus memberitahumu, heh?”

“Tentu saja. Jinyoung sudah kuanggap sebagai adikku sendiri. Pokoknya aku harus menjenguknya juga ” Tegas Kibum melipat tangannya di depan dada.

“Yasudah. Cepat sana pergi ke mobilmu!” Suruh Jinki yang baru saja duduk di kursi kemudi.

“Tapi aku tidak membawa mobil hari ini. Jadi aku ikut denganmu, ne?” Pinta Kibum sambil menunjukkan aksi aegyonya.

“Aisshh kau ini. Yasudah cepat masuk!”

 

“Jinki, bisakah kita berhenti di toko donat di ujung jalan itu? Aku ingin membeli donat” Pinta Kibum menunjuk salah satu sudut jalan.

“Kau ini, makanan saja yang kau pikirkan. Kita harus cepat ke sana!” Ucap Jinki sedikit meninggikan suaranya dan melirik Kibum. Terkadang sahabatnya itu tidak memperdulikan situasi.

“Ya! Aku ingin membeli donat untuk adikmu, babo! Bagaimana bisa aku menjenguknya tanpa membawakannya sesuatu, hah? Kau juga harusnya membawa sesuatu untuknya!” Balas Kibum berteriak dan memutar sedikit badannya menghadap Jinki yang sedang menyetir. Jinki segera menutup telinganya mendengar suara Kibum. Memang cerewet sekali namja ini.

“Ne, arasseo… mianhae” Jinki mengangguk dan segera meminggirkan mobilnya di depan toko donat itu dan berhenti. Kibum segera turun dan Jinki menunggu di dalam mobil. Selang beberapa menit, Kibum keluar dari toko itu dengan membawa satu kotak donat dan segelas stroberi milkshake.

“Hei, kenapa kau tidak membelikan satu untukku?” Ucap Jinki menunjuk gelas milkshake milik Kibum.

“Kenapa kau tidak minta?” Jawab Kibum santai tanpa melihat wajah Jinki sedikitpun.

“Tadi kau tidak bilang kalau kau akan membeli itu” Balas Jinki mulai menjalankan mobilnya.

“Baiklah, kau boleh minum sedikit punyaku” Ucap Kibum menyodorkan milkshakenya kepada Jinki.

“Ani. Aku tidak mau minum dari bekas mulutmu” Jawab Jinki membuat Kibum menatap tajam Jinki dengan mata kucingnya. Jinki hanya tersenyum jahil.

“Dasar kau! Masih baik aku mau menawarimu” Kibum memutar bola matanya, memfokuskan pandangannya ke jalanan di tengah kota Seoul itu. “Oh iya Jinki, memangnya Jinyoung sakit apa?” Tanyanya tiba-tiba.

“Jinyoung terkena penyakit yang… selama ini tidak pernah aku bayangkan. Untuk membayangkannya saja aku takut”

“Apa seburuk itu? Apa?” Kibum terlihat khawatir.

“Kanker hati” Jawab Jinki singkat. Sakit rasanya jika ia harus mengatakan kalimat itu.

“Mwo?” Kibum merasa tidak percaya dengan ucapan Jinki barusan. Ia meyakinkan bahwa telinganya sedang terganggu atau tidak.

“Iya kanker hati. Kau tahu kan?” Jinki hanya menatap lurus ke depan.

“Ta, tapi bagaimana bisa?”

“Ya begitulah, siapa yang tahu bahwa seseorang akan tertimpa penyakit seperti itu” Jinki berusaha untuk tetap tenang, menahan rasa sedih saat ia harus membahas tentang ini lagi. Kibum terdiam. Setetes air bening keluar dari matanya. Ia tahu apa itu kanker dan seberapa sulitnya untuk sembuh. Ia sangat khawatir, tentu saja. Karena ia juga begitu menyayangi Jinyoung.

Jinki memutar knop pintu kamar diikuti Kibum dari belakang. Jinyoung yang sedang membaca komik yang kemarin oppanya belikan segera mengalihkan pandangannya ke pintu melihat Jinki yang baru saja masuk. Jinyoung tersenyum. Ia tahu oppanya ini selalu datang setiap hari untuk menemaninya.

“Jinyoungie!” Kepala Kibum tiba-tiba menyembul dari belakang tubuh Jinki dan berseru menyapa Jinyoung.

“Kibum oppa? Oppa juga ikut ke sini?” Jinyoung tersenyum senang.

“Tentu saja. Tapi oppamu itu baru memberitahuku hari ini. Jika aku tahu dari beberapa hari yang lalu, aku pasti sudah datang dari awal. Ini, aku bawakan kau donat” Kibum menyimpan sekotak donat itu di meja di samping tempat tidur.

“Gomawo Kibum oppa”

“Itu karena aku tidak mau kondisi Jinyoung semakin parah karena sering kau jenguk” Ledek Jinki sebelum menuangkan air putih dari meja dan meneguknya. Ia berjalan santai dan segera duduk di sofa abu di sudut ruangan sambil mengutak-atik iPhone-nya.

“Ya! Jaga mulutmu Lee Jinki! Kau tahu, aku ini penghibur yang baik”

“Kalau begitu, lebih baik kau jadi badut penghibur saja, haha” Jinki tertawa, membuat Kibum berbalik menatap Jinki tajam. Ia tahu bahwa sahabatnya itu sedang becanda. Tapi ini sungguh menyebalkan.

“Omo! Lihat oppamu itu Jinyoung, betapa menyebalkannya dia. Aiiisssh… sebaiknya aku saja yang menjadi oppamu” Ucap Kibum kembali pada posisi awalnya. Jinyoung tertawa melihat kedua orang ini. Ia sudah sering melihat mereka seperti ini, seperti anak kecil saja. Hei! Bukankah mereka sudah 22 tahun?

Tiba-tiba ponsel Kibum berdering. Ia segera meraihnya dari saku dan melihat nama yang tertera di layar poselnya. Nae Eomma. Ia memutuskan keluar kamar untuk menerima telepon dari eommanya itu. 3 menit kemudian, Kibum kembali masuk dengan wajah tertekuk.

“Eommaku memintaku untuk menemaninya ke rumah kakekku di Daegu, jadi aku harus pergi sekarang. Mianhae karena aku tidak bisa ikut menemanimu Jinyoung” Sesal Kibum.

“Gwenchana oppa. Tapi nanti oppa akan datang ke sini lagi kan?”

“Tentu saja. Kalau begitu aku pergi dulu, lekas sembuh Jinyoung. Annyeong” Ucap Key berjalan menuju pintu dan melambaikan tangan pada Jinyoung. Jinyoung membalasnya.  Ia menatap sosok Kibum yang menghilang di balik pintu.

“Hei! Bukankah minggu depan adalah hari ulang tahunmu?” Ucap Jinki setelah tidak sengaja melihat kalendar di atas meja.

“Ne oppa” Jinyoung memasukkan satu gigitan donat dengan toping krim green tea ke mulutnya.

“Kau ingin oppa belikan apa, hem?”

“Aku tidak ingin apa-apa oppa, aku hanya ingin sembuh karena aku takut kalau aku tidak akan sembuh”

“Hei, kenapa kau bicara seperti itu? Bukankah kau sangat yakin kalau kau akan sembuh cepat? Yakinkan dirimu Jinyoung.  Oppa, Ahjumma dan Kibum oppa sangat menyayangimu, kami selalu mendoakanmu” Jinki mengusap puncak kepala adik kesayangannya itu. Jinyoung berusaha tersenyum. “Ah, bukankah minggu depan juga komikus kesukaanmu, Ono Eriko akan datang ke Korea? Bagaimana kalau oppa datang ke tempat meet and greetnya dan meminta tanda tangan serta fotonya untuk mu?” Tawar Jinki terlihat bersemangat.

“Jinja?” Jinyoung pun ikut bersemangat. Jinki mengangguk meyakinkan.

“Tadi juga oppa mendapat informasi kalau B.A.P merilis album baru hari ini, kau juga tahu kan? Oppa juga akan membelikan CD albumnya untukmu, otte?”

Jinyoung terkejut dan mengagguk senang. Ia langsung meraih tubuh Jinki dan memeluknya.

“Gomawo oppa”

“Ne, tapi kau juga harus membayarnya dengan kesembuhanmu. Sebentar lagi akan memasuki musim dingin, bukankah setiap tahun kita selalu menyaksikan salju pertama turun di musim dingin? Jadi cepatlah sembuh, ne?” Jinki membalas pelukannya. Tak sadar air matanya telah jatuh membasahi bahu Jinyoung. Jinyoung terus mengangguk dan berjanji dalam hatinya. Ia merasa sangat beruntung memiliki oppa yang sangat menyayanginya. Ia tidak bisa membayangkan jika hal terburuk menimpanya. Pergi bersama penyakitnya dan meninggalkan oppanya sendiri. Takut. Ini sungguh membuat dirinya takut. Air matanya menetes. Perutnya terasa sakit. Sakit dari penyakitnya itu menyerangnya lagi. Tubuhnya sedikit gemetar. ‘Oppa aku takut…’

 

-Flashback-

 

“Yeobo, ada apa? Apa yang terjadi pada tuan dan nyonya Hwang?” Nyonya Lee bertanya khawatir pada suaminya yang baru saja menerima telepon mengenai keluarga Hwang. Suaminya itu tampak mematung karena shock.

“Mereka… mereka berdua mengalami kecelakaan di Gwangju, kecelakaannya sangat parah, mobil mereka menabrak bus yang sedang melaju kencang dari arah yang berlawanan, itu sebabnya mereka berdua tewas di tempat kejadian” Ucap Tuan Lee menatap istrinya dengan mata menahan tangis akibat berita buruk itu. Keluarga Hwang merupakan kolega bisnis terdekat mereka karena tuan Hwang Gil Dong sendiri adalah sahabat tuan Lee Min Suk sejak kecil.

“Ya Tuhan… kenapa ini bisa terjadi? Yeobo bagaimana ini?” Nyonya Lee menangis sejadi-jadinya dan memeluk suaminya. “Lalu, bagaimana dengan Jinyoung? Siapa yang akan merawatnya?”

“Entahlah, orangtua Gil Dong sudah terlalu tua untuk mengurus seorang bayi”

“Jika mereka mengijinkan dan kau juga mengijinkan, aku akan merawat Jinyoung. Apa itu boleh?” Tanya Nyonya Lee terisak masih dalam pelukan suaminya. Tuan Lee mengangguk setuju dan mengeratkan pelukannya. Ia juga merasa khawatir terhadap Jinyoung yang masih bayi. Bagaimana jika dia tidak terurus nanti.

 

 

“Jinki, lihat ini. Mulai sekarang, bayi ini akan menjadi adikmu” Ucap nyonya Lee kepada anaknya Jinki. Jinki duduk mendekati eommanya dan memperhatikan bayi itu. Saat itu umurnya masih 10 tahun. “Namanya Jinyoung, Lee Jinyoung. Kau harus menyayanginya, ne?” Tegas eommanya. Mereka telah mengganti marga Jinyoung dari Hwang menjadi Lee. Jinki tersenyum dan mengangguk.

“Ne eomma, aku akan menyayangi dan menjaganya. Dan aku harap dia akan menjadi adik yang juga menyayangiku, eomma dan appa” Ucap Jinki polos. Eommanya pun ikut tersenyum. Ia merasa bersyukur kepada Tuhan karena telah menganugerahinya anak sebaik dan sepenurut Jinki.

 

-Flashback End-

***

                Angin musim semi berhembus lembut. Hamparan ilalang bergoyang dan melambai ramai. Jinyoung kecil tertawa riang. Berlari dengan setangkai bunga tulip di genggamannya. Angin menerpa rambut hitamnya yang terus berkibar.

“Jinyoung hati-hati, nanti kau bisa terjatuh” Jinki yang masih remaja itu berseru dan membuat adik kecilnya itu menoleh padanya. Jinki duduk berteduh di bawah pohon besar. Entah apa nama pohon itu. Jarinya menari di atas sebuah sketchbook bersampul coklat. Terlihat gambar padang ilalang dengan pohon besar di tengahnya. Tidak jauh dari pohon itu, sebuah keluarga kecil berkumpul dengan wajah bahagia. Si perempuan mungil duduk ceria di pangkuan ibunya, dan si anak laki-laki dirangkul lembut oleh sang ayah. Itulah yang digambar Jinki. Tampak seperti keluarganya sendiri memang. Ia memeluk gambar itu. Menutup matanya dan tersenyum. Berdoa dalam hatinya, semoga keluarganya ini tidak dapat terpisahkan selamanya.

“Oppa…” Jinyoung berteriak dan merengek memanggil oppanya. Jinki kaget dan segera beranjak. Jinyoung menangis dengan posisi terduduk di atas tanah sambil memegangi lutut kanannya yang sepertinya terluka. Ia terjatuh rupanya. Jinki berlari menghampiri Jinyoung. Namun, saat Jinki sudah berada sekitar 2 meter di depan Jinyoung, tiba-tiba saja angin berhembus kencang. Sebuah tembok muncul di depan mereka dan perlahan terus meninggi.

“Jinyoung!”

“Oppa!”

Suara mereka hampir menghilang di tengah deru angin. Jinyoung menangis memanggil oppanya. Jinki merasa takut dan bingung. ‘Apa ini?’. Mereka saling menatap untuk yang terakhir kalinya, sebelum tembok itu menutupi mereka berdua. Sosok Jinyoung menghilang dari pandangan Jinki. Suaranya pun tidak terdengar lagi. Sangat gelap… sangat sunyi…

 

Jinki terbangun dengan keringat yang bercucuran deras. “Oh mimpi macam apa itu” Gumamnya gelisah. Ia melirik arlogi hitamnya. Pukul 2 pagi. Ia merasakan tubuhnya lemas dan sedikit gemetar. Mimpi buruk yang menakutkan. Jinki menatap Jinyoung yang terdidur pulas di ranjang rumah sakitnya. Ia menatapnya cemas dalam waktu yang cukup lama. ‘Apa sebenarnya maksud dari mimpi itu?’ Tanyanya dalam hati. Sungguh mimpi itu membuat Jinki sangat gelisah dan membuatnya tetap terjaga hingga pagi.

 

***

                Sinar matahari memasuki celah jendela kamar rumah sakit. Membuat Jinyoung terbangun dan menyipitkan matanya karena silau. Ia tidak melihat oppanya di sana. Biasanya oppanya itu pergi setelah Jinyoung bangun atau membangunkan Jinyoung dan memberitahunya bahwa dia akan pergi. Tapi pagi ini tidak. Saat Jinyoung akan mengambil air minum, ia melihat selembar kertas hijau di meja. Ia meraih dan membacanya. Dari Jinki oppa ternyata.

Saengil chukha nae dongsaeng! Semoga kau tetap menjadi adikku yang baik, penurut dan pintar. Mianhae karena oppa tidak bisa menunggumu bangun dan mengucapkannya langsung. Hari ini ada urusan penting dan oppa harus datang ke kampus lebih pagi. Oppa janji akan membawakan kado itu untukmu hari ini. Cepat sembuh, ne. Hwaiting^^

                                                                                                                                                                Oppamu,

                                                                                                                                                                   Jinki

Jinyoung tersenyum. Benar, ini adalah hari ulang tahunnya. Hampir saja ia lupa. Tiba-tiba ia termenung. ‘Apakah tahun depan aku akan bertemu dengan hari ini? Hari ulang tahunku?’ tanyanya dalam hati dan langsung menggeleng. ‘Tidak. Kau tidak boleh seperti itu Jinyoung! Kau harus sembuh secepatnya’ Ia langsung menegaskan. Tak lama, seseorang masuk ke dalam kamarnya.

“Selamat ulang tahun Jinyoung!”

“Ahjumma? Ne, gamsahamnida” Hyunmin ahjumma segera memeluk Jinyoung.

“Oppamu sudak berangkat?” Hyunmin ahjumma melepas pelukannya dan menaruh sekeranjang buah di atas meja. Jinyoung mengangguk. “Hampir saja lupa kalau hari ini adalah ulang tahunmu, jadi aku belum sempat membelikan hadiah untukmu. Tapi nanti sore, aku akan datang ke sini membawa kue dan hadiah. Kita akan merayakan ulang tahunmu di sini, akan kusuruh oppamu pulang lebih awal, otte?”

“Ne, aku senang. Gamsahamnida ahjumma”

“O iya, tadi dokter memberitahuku kalau sudah ada donor hati untukmu. Jadi, lusa kau sudah bisa di operasi untuk transplantasi hati. Ini berita baik bukan?”

“Jeongmal? Akhirnya aku akan segera sembuh dan keluar dari tempat yang membosankan ini” Ucap Jinyoung dengan mata berbinar.

“Iya sayang, sebentar lagi kau akan sembuh. Baiklah, kalau begitu aku harus pergi ke kantor sekarang. Sampai jumpa Jinyoung” Hyunmin ahjumma mengecup puncak kepala Jinyoung sekilas lalu berjalan meninggalkan kamar. Ruangan itu kembali sepi. Jinyoung kembali  termenung dengan gelisah. Bukannya ia tidak senang karena donor hati itu. Tapi operasi transplantasi itu membuatnya sedikit takut. Bagaimana kalau operasi itu gagal? Bagaimana kalau ia tidak selamat saat operasi? Pikirannya terus bercabang membayangkan banyak kemungkinan terjadi. Tapi bukankah ia harus kuat dan menjalani semua ini? Ini semua tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kesembuhan dan kebahagiaan yang ia dapatkan nanti. Ini hanyalah pengorbanan kecil.

***

                Jinyoung duduk di atas sofa di sudut kamar, dengan tiang infus di sampingnya. Di depannya sudah ada sebuah kue ulangtahun dengan toping buah favoritnya. Di samping kanannya, Hyunmin ahjumma duduk dengan tangan kanan menopang dagu dan tersenyum.

“Nah, sekarang kita tunggu oppamu datang. Kita akan rayakan ulangtahunmu” Jinyoung tersenyum senang. “Dan ini hadiah untukmu. Cepat dibuka!” Ucap Hyunmin ahjumma menyerahkan sebuah kotak berwarna merah dengan hiasan pita di atasnya. Jinyoung segera membuka kotak itu dengan gembira.

“Waah.. neomu yeppeo!” Seru Jinyoung saat meraih sesuatu dalam kotak itu. Sweater berwarna biru langit dengan garis putih di bagian tangan dan dua kantung di sisi kiri dan kanan.

“Apa kau suka?” Tanya Hyunmin ahjumma. Jinyoung tersenyum dan mengangguk, lalu ia memeluk erat bibinya itu.

“Ne, gamsahamnida ahjumma”

“Tapi kenapa oppamu belum datang, padahal tadi sudah kusuruh dia untuk pulang cepat” Tiba-tiba ponsel  Hyunmin ahjumma bergetar. Ada pesan yang masuk.

From : Jinki

Ahjumma maafkan aku, aku harus tetap di kampus karena dosenku memintaku untuk membantunya memeriksa hasil tes kemarin. Tapi aku janji akan ada di rumah sakit sebelum jam 8 malam. Sampaiakan juga maafku pada Jinyoung.

 

Angin malam berhembus memasuki kamar membuat Jinyoung terbangun dan bergidik kedinginan. Ia sudah menunggu Jinki  sampai ia tertidur di sofa bersama  Hyunmin ahjumma dan sampai sekarang pun oppanya itu belum juga datang. Ia melirik jam yang terpasang di dinding bercat krem itu. Pukul 11 malam. Ia segera bangkit sampil merapatkan hoodienya dan berjalan menuju jendela lalu menutupnya. Perasaan cemas meliputi hatinya. Ini sudah hampir tengah malam, tapi kenapa oppanya itu belum datang? Tidak ada kabar lagi setelah pesan yang diterima Hyunmin ahjumma tadi sore. Ia merasa khawatir. Ia takut terjadi sesuatu dengan oppa kesayangannya itu. Ia berdiri mematung di depan jendela yang menghadap langsung ke jalan depan rumah sakit sambil berharap akan melihat mobil cooper hitam milik oppanya melintas. Setelah 15 menit menatap jalanan, ia memutuskan untuk kembali duduk di sofa dengan perasaan yang semakin gelisah. Tak lama, terdengar suara knop pintu yang diputar. Jinyoung yakin bahwa itu adalah Jinki dan pintu kamar pun terbuka. Namun, yang masuk adalah seorang perawat yang hendak membangunkan Hyunmin ahjumma.

“Permisi nyonya, ada yang mencarimu. Mereka dari kepolisian” Ucap perawat itu pelan.

“Polisi? Untuk apa mereka kemari?” Hyunmin ahjumma yang baru saja bangun dengan malas, tiba-tiba melebarkan mata terkejut. Perawat itu hanya menggelengkan kepala. “Dan sekarang sudah tengah malam, kemana Jinki? Sebenarnya apa yang terjadi?” Hyunmin ahjumma berjalan keluar dengan panik.

 

“Permisi, kami dari kepolisian lalu lintas Seoul. Apakah anda Lee Hyunmin, keluarga dari Lee Jinki?” Tanya seorang pria tinggi besar dengan serius.

“Ne, ada apa?” Firasat buruk mulai menggelayuti perasaan Hyunmin ahjumma.

“Kami ke sini untuk memberitahukan berita duka, bahwa saudara Lee Jinki telah mengalami kecelakaan di kawasan Gangnam. Mobilnya tertabrak oleh sebuah bus yang loss rem”

Hyunmin ahjumma terduduk di kursi tunggu. Seketika badannya terasa lemas. Pikirannya melayang.

“Lalu di mana Jinki sekarang?”

“Karena kecelakaan tersebut sangat parah, maka Lee Jinki dinyatakan tewas saat perjalanan menuju rumah sakit karena kehabisan darah. Kami turut berduka cita atas peristiwa ini” Jelas polisi itu dengan sedikit membungkukkan badannya. Hyunmin ahjumma yang mendengar itu, segera mengangkat kepala dan menatap wajah polisi itu, mencoba menemukan kebohongan dari apa yang baru saja mereka katakana. Tapi itu mustahil. Air mata keluar begitu saja dari pelupuk mata Hyunmin ahjumma. Hatinya tersayat mendengar kabar ini. “Dan kami menemukan ini di dalam mobinya, sepertinya ini untuk seseorang” Polisi itu menyerahkan sebuah kotak merah muda kepada Hyunmin ahjumma. Hyunmin ahjumma pun mengambil kotak itu dan membukanya. Terlihat sebuah komik dengan tanda tangan komikusnya dan sebuah CD album musik lengkap dengan kartu ucapan. Ia tahu bahwa ini untuk Jinyoung. Bagaimana ini bisa terjadi? Jinki meninggal tepat di hari ulang tahun adiknya. Sungguh sebuah pukulan bagi Jinyoung.

“Jinki! Waeyo? Kenapa ini bisa terjadi padamu Jinki?!” Hyunmin ahjumma berteriak dan menangis sejadi-jadinya. Seorang perawat dan polisi berusaha untuk menenangkannya. Mendengar teriakan dan tangis ahjummanya, Jinyoung bangkit dari sofa dengan perasaan cemas dan panik. Apalagi ia mendengar nama oppanya di sebut-sebut.

“Ahjumma ada apa? Mana Jinki oppa?” Jinyoung menghampiri ahjummanya sambil menyeret tiang infusnya. Ia merasa jika sesuatu buruk sedang terjadi, karena melihat ahjummanya menangis.

“Jinki… oppamu… dia mengalami kecelakaan, dan sekarang dia sudah meninggal” Ucap Hyunmin ahjumma terisak. Ia tidak tega menceritakan ini pada Jinyoung.

“Gotjimal! Ini semua pasti bohong kan?” Jinyoung mulai menangis dan meyakinkan semuanya bahwa semua ini pasti tidak benar. Hyunmin ahjumma menggelengkan kepalanya dan segera memeluk Jinyoung dan terus menangis. Jinyoung menangis dengan keras.

“Maldo andwae! Andwae, andwae, andwaeee!!!”  Jinyoung berteriak sambil memukul pelan punggung ahjummanya. Hyunmin ahjumma hanya bisa mengelus punggung Jinyoung untuk menenangkannya dan segera melepas pelukannya.

“Ini pasti untukmu kan?” Tanya Hyunmin ahjumma dengan parau sambil menunjukkan kotak merah muda itu dan berusaha untuk sedikit tersenyum. Jinyoung hanya melihat kotak yang sudah terbuka itu dan tidak mengambilnya. Malah ia melemparkannya ke lantai dengan kesal. Dengan sigap ia mencabut selang infuse dari punggung tangannya dan berlari masuk ke dalam kamar. Ia duduk di atas ranjang, memeluk kedua lututnya. Ia terus menangis sambil menyebut-nyebut nama oppanya.

“Oppa! Waeyo? Kenapa oppa harus pergi? Bukankah oppa selalu bilang jika oppa akan teus menemaniku? Tapi kenapa oppa meninggalkanku di sini? Aku tidak mau oppa, oppa, Jinki oppa!” Jinyoung terus menangis dan berteriak sampai suaranya terdengar serak karena hampir kehabisan suara.

 

***

                Hari ini adalah hari operasi Jinyoung. Tadi pagi, dokter bersama Hyunmin ahjumma telah memberitahukannya untuk mempersiapkan diri. Jinyoung hanya termenung duduk di atas ranjang. Tatapannya kosong. Walaupun seharusnya hari ini adalah hari yang membahagiakan baginya, dia tidak terlihat senang ataupun bersemangat. Semua itu telah tertimbun oleh perasaan sedih dan keputusasaan yang mendalam, tentu saja.  Raut wajahnya murung karena terus dirundung kesedihan. Semenjak Jinki meninggalkannya, ia merasa bahwa semua operasi ini akan sia-sia saja. Dia berpikir, untuk apa ia sembuh jika oppanya saja sudah tidak ada? Lebih baik ia juga pergi meninggalkan dunia ini. Walaupun ia sembuh nanti, ia tidak akan merasa bahagia. Karena satu-satunya kebahagiaan yang ia miliki adalah oppanya. Seseorang yang selalu menemani dan menyayanginya, walaupun ia mempunyai ahjumma yang juga menyayanginya, sosok oppanya tidak akan pernah bisa tergantikan. Pikirannya berkecamuk. Perasaan sedih, kecewa, dan putus asa telah menutupi seluruh hati dan otaknya.

Jinyoung meraih segelas air putih di atas meja. Saat itu ia melihat sebuah pisau pemotong buah yang tergeletak begitu saja. Seketika, rencana negatif muncul dalam otaknya. Ia segera mengambil pisau bergagang hitam itu dan mengarahkan mata pisaunya ke pergelangan tangan kirinya. Ia memutuskan untuk bunuh diri. Perbuatan yang sangat konyol memang. Air matanya mengalir begitu saja. Apakah ia harus benar-benar melakukan ini? Apakah orang tua dan oppanya di sana akan senang dengan apa yang ia lakukan? Apakah ia harus mengakhiri hidupnya dengan cara seperti ini? Ia menangis semakin keras. Tapi akhirnya ia memutuskan untuk melakukannya dan segera memperdalam sisi tajam pisau itu di tangannya. Namun, sebelum ia sempat mengiris urat nadinya, tiba-tiba Hyunmin ahjumma masuk dan terkejut melihat Jinyoung menangis dengan pisau yang masih menghadap pergelangan tangannya.

“Jinyoung! Apa yang kau lakukan?!” Dengan panik, Hyunmin ahjumma melepaskan pisaunya dan melemparkannya ke lantai. Ia segera memeluk Jinyoung dan mulai menangis karena merasa khawatir padanya. Tangisan Jinyoung pun semakin menjadi.  “Kau jangan seperti ini Jinyoung, walaupun oppamu sudah pergi, bukan berarti kau harus mengakhiri hidupmu juga. Kau masih punya aku, ahjummamu yang juga sangat menyayangimu” Hyunmin ahjumma mengeratkan pelukannya dan menenangkan Jinyoung dalam pelukannya.

***

                Jinyoung mengeratkan sweater kelabunya. Duduk di kursi kayu di balkon kamarnya, menatap langit malam yang biru gelap. Angin berhembus semakin dingin. Mungkin ini akhir musim gugur dan awal dari musim dingin.

“Jinyoung, sebaiknya kau masuk! Bukankah di luar sangat dingin?” Suara Hyunmin ahjumma dari pintu kamarnya. Semenjak Jinyoug sembuh dan keluar dari rumah sakit, ia tinggal bersama Hyunmin ahjumma.

“Ne, sebentar lagi. Aku masih mau di sini” Jawab Jinyoung. Tiba-tiba butiran putih nan lembut jatuh dan terus terhembuskan angin. Salju. Salju pertama di musim dingin tahun ini baru saja turun. Jinyoung teringat kembali semua memori bersama Jinki. Di setiap tahunnya, Jinyoung dan Jinki tak pernah melewatkan momen ini. Jika salju pertama ini turun, maka mereka akan langsung berlari keluar menuju teras atau balkon hanya untuk melihat ini. Bagi mereka salju itu adalah hal yang sangat ditunggu-tunggu setiap tahun. Karena itu berarti musim dingin sudah datang. Mereka sangat menyukai musim dingin. Karena di musim dingin, semua terlihat bahagia berkumpul bersama keluarga. Walaupun mereka hanya memiliki Hyunmin ahjumma di 2 tahun terakhir ini, tapi sahabat terdekat mereka akan ikut berkumpul. Tapi sekarang, sudah tidak ada lagi sosok oppa yang menemaninya menyaksikan semua ini. Semuanya jelas tampak berbeda. Tidak ada yang membuatkannya coklat panas lagi. Tidak ada yang bercerita sampai tengah malam lagi. Tetapi Jinyoung juga sadar bahwa semua ini memang sudah takdir yang diberikan Tuhan kepadanya. Ia harus melewati kehidupannya dan belajar menikmati semua walaupun ia sudah kehilangan orang-orang tersayangnya.

Jinyoung kembali menatap langit. Ia baru sadar ada beberapa bintang di langit walaupun terlihat samar karena langit mendung. Jinyoung tersenyum. Ia teringat dengan appa, eomma, dan oppanya. ‘Aku harap kalian bisa tenang di sana. Walaupun aku tidak  bisa melihat dan bertemu dengan kalian lagi, tapi kalian akan selalu menjadi bintang di langit walaupun itu langit di musim dingin. Saranghae appa… saranghae eomma… saranghae oppa’

 

=The End=

 

Otte? Baguskah? Jelekkah? Rencananya aku mau bikin sequel fanfict ini dengan judul yang berbeda. Isinya menceritakan kehidupan Jinyoung semenjak ditinggal oppanya dan akhirnya ia menemukan kebahagiaannya pada orang lain. Jadi, aku minta sarannya dari kalian para pembaca (kalo ada yang baca u,u) Gomawo udah mau baca fanfict ini^^ Annyeong!

4 thoughts on “[FF Freelance] Gone

  1. duhh sedih bgt hidup jinyoung ya😥
    jinyoung sabar yaa. keluargamu sayang kok.
    eia thor kok kibum nya ilang2 aja :))? Muncul di sequel gak nnti? moga jinyoung nnti sama kibum hehe. makasih thor udah post ff yg bgus😉

    • sama-sama, aku juga makasih banget^^ iya soalnya Kibum cuma jadi support cast di sini😦 begitukah? awalnya aku mau bikin Jinyoung sama cast baru nanti, Kibum hanya jadi orang yang nganggep Jinyoung itu dongsaengnya, soalnya aku khawatir sama umur Jinyoung dan Kibum yang beda jauh. tapi coba aku bikin deh, kedengerannya menarik juga. makasih idenyaaaa {}

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s