In Your Eyes

In Your Eyes

In Your Eyes

“Do you see what I see?

by Shinyoung

Main Cast: Kim Myungsoo & Son Naeun || Support Cast: Park Chorong || Genre: Fantasy, Romance || Length: Oneshoot || Rating: || Credit Poster: Junnie!ART || Desclaimer: Official written by me. The cast belongs to God. No copy-paste. || A/n: Cerita ini juga di posting di blog milikku, disini.

**

“Oh, Eomma, aku berangkat!”

Ne!”

Gadis itu melangkah keluar dari rumahnya. Ia segera memasang headphone-nya lalu ia mulai menekan judul lagu idolanya itu — Shinhwa. Gadis itu mengeratkan tasnya sambil melangkah menuju halte bus yang tidak jauh dari gedung apartemennya. Sambil menggumamkan lagu yang didengarnya, ia menekan ponsel layar sentuhnya itu.

Sesampainya di halte bus, ia segera menyenderkan tubuhnya di dekat tiang halte bus. Ia memang senang bersandar di tiang itu, menurutnya tak ada yang memperhatikannya. Ia tak suka diperhatikan oleh siapapun, terutama oleh laki-laki. Hanya saja, ia merasa risih apabila seseorang memperhatikannya. Tepat saat pemutar lagunya mengganti lagu lain, bus yang akan dinaikinya tiba. Dengan cepat, ia berlari menuju pintu itu, menempekan kartunya, dan mengambil kursi yang paling belakang dan di sudut bus itu.

Ia menghela nafas panjang setelah ia mendapatkan bangku itu. Ia segera menenggelamkan tubuhnya di kursi itu. Tak lama setelah ia duduk, seorang laki-laki yang berseragam sama dengannya duduk disampingnya. Gadis itu tak mempedulikan laki-laki itu. Yang ia inginkan hanyalah sendiri di bus itu tanpa berbicara dengan siapapun.

Gadis itu kembali fokus dengan ponselnya sambil melihat-lihat foto baru dari idolanya. Sambil tersenyum sendiri. Kemudian diliriknya jendela bus yang tampak sudah mendekati halte sekolahnya. Ia pun segera bergegas berdiri, begitu pula dengan laki-laki yang ada di sampingnya.

Tepat di halte itu, ia menekan bel yang ada di dekatnya. Namun, jari lain juga menyentuh bel itu hingga membuat jari gadis itu bersentuhan dengan jari lain itu. Pemilik jari lain itu adalah laki-laki yang duduk di sampingnya. Gadis itu segera menolehkan wajahnya lalu dilihatnya laki-laki itu. Tanpa berkata, gadis itu segera membalikkan tubuhnya lalu keluar dari bus itu. Diikuti oleh laki-laki itu juga.

Gadis itu melepas headphone-nya sambil menoleh ke arah belakang memastikan laki-laki yang berseragam sama dengannya itu tidak mengikutinya. Ya, hanya saja ia merasa bahwa ada yang lain yang mengikutinya.

“Son Naeun!”

Gadis itu sontak menolehkan kepalanya. Mencari siapa yang memanggilnya. Gadis itu – Son Naeun – segera menemukan pemilik suara itu. “Eoh, Chorong eonni!” teriaknya ke arah sunbaenim nya itu. Dengan cepat gadis dengan poni itu melangkah menuju hoobae-nya sambil tersenyum.

Mereka pun melangkah bersama menuju pintu utama SMA Gwangjoon yang sangat besar itu. Tangga-tangga lebar menuju aula sekolah diramaikan oleh murid-murid yang duduk belajar bersama. Ada juga yang tertawa dan berinteraksi. Ada pula yang tengah bermain bersama. Dan yang terakhir, ada yang sendirian membaca buku. Namun, seragamnya tampak kusam di mata Naeun.

Naeun mendekati gadis yang duduk sendirian itu. Chorong yang awalnya melihat Naeun melangkah menuju ke salah arah hanya bisa tersenyum, kemudian pergi meninggalkan Naeun. Ia tidak mau berurusan bersama Naeun.

“Permisi.”

Lantas gadis itu segera menolehkan wajahnya ke arah Naeun, bercak-bercak darah masih menempel di wajah gadis itu. Gadis itu tampak kusam dan wajahnya pucat. Pakaiannya kotor penuh tanah. Buku yang dibacanya juga buku pelajaran tahun lalu alias murid-murid yang sudah lulus sebulan kemarin. Naeun yang baru saja naik ke kelas 2 itu langsung mengangguk-nganggukkan kepalanya ketika melihat buku yang dipegang oleh gadis itu. Ia mengerti situasi ini.

“Kenapa sunbaenim bergentayangan disini?”

**

Hari ini Naeun harus sibuk lagi. Rasanya ia ingin mati saja jika ia mendapatkan tugas yang sangat berat dari seseorang yang tak dikenalnya pula. Jujur saja, Naeun merasa semua ini memberatkannya, namun jika ia tak mengerjakan tugas itu ia merasa sedih, kesal. Semuanya bercampur.

“Son Naeun, bukan?”

Naeun membalikkan tubuhnya. Laki-laki yang ia temui di bus tadi pagi itu tersenyum ke arahnya. Kemudian Naeun segera membalas senyumnya sekilas. “Ya, ada apa?” tanyanya sambil bangkit dari tempatnya ia duduk—tangga. Kemudian ia melangkah mendekati laki-laki itu sambil membaca tag namanya.

“Kau sedang ada tugas?”

Naeun terdiam. Bagaimana bisa laki-laki itu mengetahui tentang tugas. Apa jangan-jangan ada yang tahu bahwa ia bisa melihat hantu. Bukankah hanya Chorong sunbaenim yang tahu tentang hal itu. Akhirnya Naeun berusaha tenang dan tidak berpikir yang macam-macam. Kemudian ia berdeham kecil. “Tugas? I—Iya, sedikit. Ada apa?”

“Bisa bantu aku?”

“Membantumu? Kita baru saja bertemu, Kim Myungsoo-ssi.” Naeun menekankan kata ssi di akhir kalimat. Gadis itu juga bertanya-tanya apakah laki-laki itu sunbaenim-nya atau hoobae-nya atau juga seangkatan  dengannya.

Mata laki-laki itu mengecil karena senyuman kecilnya. “Aku kelas 2-3.”

Naeun langsung membulatkan mulutnya. “Kalau begitu aku benar,” kata Naeun sebelum akhirnya ia terlonjak kaget karena seorang gadis yang tadi ada di tangga menuju aula sekolah berdiri di belakang Myungsoo.

“Ada apa?” tanya Myungsoo sambil menoleh ke belakang lalu menoleh kembali ke arah Naeun. Dengan cepat Naeun melambaikan kedua tangannya menandakan bahwa tidak ada apa-apa.

Naeun menghela nafas kecil. “Tidak ada apa-apa. Oh ya, kau ingin aku membantu apa?” tanya Naeun akhirnya. Ia berusaha untuk mengalihkan pembicaraan. Ia tidak ingin Myungsoo berpikir macam-macam tentang dirinya. Cukup dirinya, Chorong, dan Tuhan yang tahu tentang kelebihannya.

Tangan laki-laki itu meraih tangan Naeun. Naeun sedikit kaget, namun kemudian ia mengendalikan perasaannya. Myungsoo mendekati wajah Naeun lalu menatapnya dalam. “Kau bisa melihat perempuan yang ada di belakangku bukan?”

Sontak Naeun terkejut akan pertanyaan Myungsoo. Myungsoo menjauhkan wajahnya kemudian ia tersenyum, lalu ia melepaskan tangan Naeun. Ia melipat kedua tangannya di depan dada. “Mengaku sajalah.”

“Eung—Oke, iya.”

“Ayo, bantu aku.”

“Apa?”

“Apanya yang apa?”

“Sudahlah. Jadi kau sendiri bisa melihat hantu?” Alis mata Naeun terpaut. Tak ada kerutan yang terjadi di dahinya. Hanya kerutan kecil yang membuatnya semakin serius. Myungsoo pun menganggukkan kepalanya pelan sambil memamerkan gigi-giginya yang rapi dan bersih.

Seketika senyuman kecil muncul dari bibir Naeun.

“Ada apa?”

“Tidak, aku merasa senang bahwa ternyata bukan aku saja yang bisa melihat hantu, ternyata kau juga bisa melihatnya.”

“Penyendiri.”

“Apa?”

Myungsoo menggelengkan kepalanya. Kemudian ia menoleh ke belakang. Ke arah gadis itu. Gadis itu tampak masih malu-malu. Naeun berpikir sejenak kemudian ia menoleh ke arah gadis itu dan membaca nama tagnya.

“Yoon Bomi?”

Gadis itu menganggukkan kepalanya. Kemudian ia melangkah menjauhi belakang tubuh Myungsoo dan tersenyum ke arah Naeun. Walaupun senyuman itu tampak seram, bagi Naeun senyuman itu adalah senyuman luka.

“Jadi kenapa sunbaenim meninggal?”

“Kau tidak bisa menanyakan hal itu pada hantu, bodoh.” Kata Myungsoo sambil memukul pelan kepala Naeun. Naeun menatap kesal Myungsoo.

“Lihat saja.”

Naeun meraih tangan gadis itu walaupun akhirnya tembus karena Yoon Bomi adalah seorang hantu. Yoon Bomi tersenyum kecil kemudian ia membuka mulutnya. Samar-samar Naeun dapat mendengar suara lain yang berasal dari lorong. Naeun bangkit lalu menuju ke lorong yang sepi itu.

Aku dibunuh oleh sahabatku sendiri.

Myungsoo hanya bisa menonton Naeun. Ia sendiri kurang pandai dalam berkomunikasi dengan hantu. Karena itu, sebenarnya ia selalu meminta para hantu itu untuk meminta bantuan pada orang lain saja.

Aku mencintai seorang laki-laki bernama Jang Dongwoo.

Naeun tersenyum kecil kemudian ia semakin mendekat ke arah ujung lorong. Hingga akhirnya ia membalikkan tubuhnya dan muncul murid-murid SMA Gwangjoon yang sudah saatnya untuk pulang.

Tampak banyak murid-murid yang saling tertawa. Mereka melangkah begitu saja tanpa melihat ke arah Naeun. Naeun tersenyum getir, bayangan masa lalu. Tak lama kemudian, ada 3 orang murid yang keluar dari kelas disaat-saat lorong itu sudah sepi.

“Ya! Bomi-ya! Kenapa kau tidak bercerita bahwa kau sudah berpacaran dengan Dongwoo?” tanya gadis itu. Gadis itu tersenyum lebar dengan poni yang menutupi dahinya. Wajahnya tampak sangat cantik walaupun tampaknya ia bukan dari keluarga mampu.

Yoon Bomi—gadis itu—tersenyum lebar. Kemudian matanya beralih ke arah laki-laki yang ada disampingnya. Naeun menatap laki-laki itu dalam, itu pasti Jang Dongwoo. Mereka melangkah melewati Naeun. Naeun mengikuti mereka bertiga.

Sampai akhirnya mereka pun tiba di aula SMA Gwangjoon. Mereka bertiga berhenti melangkah kemudian Jang Dongwoo angkat bicara. “Oh, kalian tunggu disini, aku rasa sepertinya ada yang tertinggal di kelas.”

Dongwoo meninggalkan mereka bertiga dalam keheningan. Naeun merasa ada yang ganjil, dan dugaannya benar. Tepat saat itu Yoon Bomi—yang hantu—menepuknya. Kemudian Naeun menoleh ke arah Bomi.

“Siapa kedua temanmu itu?”

Yang kurus dan cantik adalah Jung Soyoon. Yang satu lagi adalah Kim Joohyun.

“Oh, aku mengerti.”

Kemudian ia melirik ke arah ketiga gadis itu. Benar, saat itu juga, Jung Soyoon tampak memberikan isyarat pada Joohyun. Bomi sendiri masih dalam pandangannya menatap kepergian Jang Dongwoo.

Lalu, tangan Soyoon mengambil sesuatu dari dalam tasnya, yaitu sebuah saputangan. Ada yang ganjil dengan saputangan itu, namun Joohyun sudah memelototi Soyoon seakan menyuruh gadis itu untuk bertindak cepat.

Dan, tepat saat itu tangan Soyoon menutupi mulut Bomi dengan saputangan itu. Bomi berteriak namun, sayang, ia tidak sempat. Gadis itu langsung pingsan dan Joohyun langsung menangkap tubuh gadis itu.

Naeun menolehkan kepalanya ke arah Bomi – yang hantu, ia menyadari bahwa Bomi tengah tersenyum tipis. Ia pasti sangat sakit saat melihat itu. Terlalu sakit untuk membayangkan cara bagaimana sahabatnya membunuh.

“Son Naeun?”

Naeun membalikkan badannya sesudah Soyoon dan Joohyun masuk ke dalam mobil bersama Bomi. Ia sadar bahwa ternyata Myungsoo juga ikut ke dalam bayangan masa lalu ini, tapi ia tidak melihatnya ketika tadi di koridor.

“Tadi kau dimana?” tanya Naeun langsung.

“Mengikuti Dongwoo.”

“Apa?”

“Iya, dia bukan ke kelas, melainkan mengambil mobilnya yang terpakir di halaman belakang untuk ikut membunuh Bomi,” jelas Myungsoo. Mata Naeun langsung melebar.

Ia menoleh ke arah Bomi hantu dan Bomi tampak sangat sedih. “Maaf, sunbaenim, tapi kita harus cepat. Kita harus tau siapa pelaku dibalik semua ini.”

Bomi hantu menganggukkan kepalanya kemudian dalam sekejap mereka sudah berada di mobil Soyoon dan Joohyun. Naeun terduduk di samping Bomi asli yang masih pingsan dan Myungsoo duduk disampingnya.

Sedangkan, Bomi hantu tengah duduk di jok paling belakang. Lalu, Soyoon dan Joohyun yang duduk di depan melirik sedikit ke arah Bomi asli yang pingsan. Sesampainya mereka di sebuah gudang, mobil langsung berhenti.

Gudang itu tampak tidak asing.

“Ini gudang sebuah pabrik. Pasti pabrik pakaian,” kata Naeun.

Iya, ini adalah gudang pabrik perusahaan pakaian milik Soyoon.

Naeun menarik Myungsoo untuk keluar dari mobil tanpa membuka pintu mobilnya. Bomi hantu mengikuti mereka sambil melayang-layang seperti biasanya. Kemudian, ketiganya memperhatikan Soyoon dan Joohyun yang menarik Bomi asli ke dalam gudang.

Tanpa basa-basi, Myungsoo segera mengikuti ketiganya dan betapa terkejutnya mereka di dalam sudah ada Dongwoo yang siap dengan sarung tangannya. Juga, Soyoon dan Joohyun yang mendudukkan Bomi di sebuah bangku.

Kedua gadis itu memakai sarung tangan hitam seperti Dongwoo.

Dan, Joohyun mengeluarkan sebuah jangka. Mendadak, tenggorokan Naeun terasa tercekat. Ia tidak bisa. Ia tidak kuat melihat ini. Tapi, dia harus. Harus. Dia harus menolong Bomi.

Kalau dia tidak menolongnya, hantu itu akan selalu bergentayangan dan Bomi pasti tidak akan tenang disana.

“Naeun, ada apa?” tanya Myungsoo sambil menggenggam pegelangan tangan gadis itu. Naeun menggeleng sambil terus memperhatikan Joohyun yang mendekati Bomi. Kemudian, gadis itu menutup mata Bomi dengan sebuah ikatan hitam.

Bomi pun tersadar. “Aku dimana?” tanyanya.

“Kau berada di dalam penjara kami,” ujar Soyoon menjawab pertanyaan Bomi.

“Soyoon?”

“Iya,” jawab Joohyun.

“Joohyun?”

“Tentu saja,” jawab Joohyun sambil mengangkat jangkanya. Ia tersenyum senang, kemudian gadis itu dengan cepat menggores wajah Bomi dengan jangka tanpa ampun.

Bomi berteriak kesakitan dan Joohyun semakin menjadi-jadi. Gadis itu menggoresnya tanpa ampun dan membuat wajah gadis itu berlumuran darah.

Naeun tak kuasa menahan tangisannya dia segera menangis dan Myungsoo segera mendekap gadis itu tak ingin membuat Naeun semakin tersiksa karena melihat perilaku tanpa ampun itu.

Pantas saja aku tidak tahu bahwa Dongwoo ikutan karena dia hanya membungkam mulutnya dan dia menembakku.

Tepat saat itu, tangan Dongwo menarik pelatuk pistolnya dan dengan senyuman di bibirnya, ia menembak gadis itu.

Dor!

Bomi pun tewas di tempat dan Dongwoo langsung mencium bibir Joohyun. Myungsoo melirik Bomi hantu yang menatap laki-laki itu tak percaya dan tepat saat itu mereka sudah kembali.

“Naeun?”

Naeun melepaskan dekapan Myungsoo dan ia menyadari bahwa ia sudah kembali dari bayangan masa lalu. Gadis itu menatap Myungsoo. “Terimakasih,” kata Naeun. “Biasanya, aku hanya meringkuk sendirian.”

**

“Jadi, masalah Bomi sunbaenim sudah selesai?” tanya Chorong sambil menyesap Cappuccino-nya ketika mereka—Naeun dan Chorong—berada dalam sebuah Kafe dekat SMA Gwangjoon. Mereka juga baru saja pulang sekolah.

Naeun menganggukkan kepalanya sambil memutar-mutar cangkirnya. Sebenarnya, Naeun hanya melakukan beberapa hal, sampai-sampai senyuman senior yang satu itu masih melekat dalam ingatan Naeun.

Gadis itu menatap keluar jendela dan matanya mencari-cari apakah ada hantu di jalan. Dan, benar, saat itu juga ia melihat sebuah hantu bergentayangan di belakang seorang laki-laki yang sibuk dengan ponselnya.

Rupanya, laki-laki itu Myungsoo.

“Chorong eonni, aku duluan,” kata Naeun sambil bangkit dari bangkunya dan meninggalkan Chorong dalam keadaan bingung.

Setelah masalah Bomi selesai, perempuan itu tidak pernah melihat Myungsoo di sekolah. Dia bertanya-tanya dimana Myungsoo dan rupanya mereka memang tidak takdir untuk bertemu.

Gadis itu berlari-lari kecil lalu ia menyusul Myungsoo. Dan, Naeun menepuk pundak laki-laki itu.

“Myungsoo!”

Myungsoo membalikkan badannya dan ia menyadari bahwa dibelakangnya sudah ada Naeun dan seorang hantu yang dari tadi mengikutinya kemana saja. “O—Oh, Naeun.”

“Ini tugasmu,” kata Naeun sambil menunjuk hantu gadis kecil disampingnya.

Myungsoo memutar bola matanya. “Kenapa dia tidak minta padamu saja? Aku lelah diikutinya terus-terusan.”

Ya! Aku juga banyak tugas!”

Myungsoo mendengus kesal, kemudian ia mendecak pelan sambil tersenyum terpaksa. “Yasudahlah, ayo, gadis kecil,” katanya sambil melirik gadis itu malas.

“Jangan seperti itu!” kata Naeun kesal. “Kalau begitu, aku akan bantu kau saja.”

“Lebih baik begitu.”

Setelah itu, mereka berdua mengikuti langkah gadis yang kecil itu. Agar tidak terlihat terlalu mengikuti, Myungsoo dan Naeun pun membicarakan hal-hal kecil seperti pelajaran dan semacamnya. Ketika gadis itu berbelok, mereka bertiga tiba di sebuah gedung apartemen yang tampak mahal.

“Aku tinggal di gedung apartemen ini,” ujar Myungsoo pelan. “Jangan bilang dia mau berbuat sesuatu dengan apartemenku.”

Tentu saja tidak, Oppa! Aku mau mencari kucing kecilku yang diambil oleh seorang gadis lain. Bodoh.

“Astaga, dia berkata bodoh padamu, Kim Myungsoo-ssi,” kata Naeun sambil tertawa. “Aku pikir seharusnya aku juga mengatakan bodoh padamu.”

“Bisakah kau berhenti memanggilku dengan ssi? Aku tidak betah dan kita seumuran! Kita juga sudah saling mengenal,” Myungsoo memeringatkannya. Mereka bertiga lalu memasuki lift dan gadis itu menekan tombol 24.

“Jika itu yang kau mau, Kim Myungsoo,” kata Naeun sambil tersenyum. Kemudian ia menoleh ke arah Myungsoo. “Ngomong-ngomong, kau tinggal di lantai berapa?”

“Ada apa?”

“Tidak, aku hanya bertanya.” Naeun mendengus pelan. Dia pikir laki-laki itu benar-benar akan memberitahunya, rupanya Myungsoo justru mencurigainya.

“Lantai 24 nomor 508.”

Naeun langsung tersenyum kecil. “Aku tidak menanyakan nomornya, ya. Jadi, hati-hati saja, Kim Myungsoo, aku bisa mengirimkanmu pesan teror.”

“Aku percaya kalau kau tidak akan berani melakukan hal itu,” Myungsoo menduga-duga. Kemudian ia melangkah keluar duluan mengikuti gadis itu bersama Naeun dibelakangnya. Gadis itu menunjuk sebuah apartemen bernomorkan 507.

“Oh, bagus, tepat disamping apartemenmu,” kata Naeun sambil menekan bel apartemennya.

Tolong mintakan bahwa kalian mencari kucing kecil berwarna putih besar dan berhidung pesek. Bilang bahwa itu punya adik kalian. Kalian tampak serasi, tahu.

Automatis, Naeun dan Myungsoo langsung terbatuk-batuk tanpa henti sebelum pintu apartemen nomor 507 itu terbuka. Disana ada seorang gadis kecil dengan rambut sebahu yang tampaknya seumuran dengan gadis itu.

Ah, ini temanku. Namanya adalah Kim Hwayoung.

“Kim Hwayoung, bukan?” tanya Naeun semanis mungkin. Disampingnya, Myungsoo tersenyum kecut melihat gadis itu ikut berjongkok untuk mensejajarkan tingginya dengan Hwayoung.

“Iya, aku Hwayoung. Ada apa unnie?”

“Apa kau punya kucing kecil?”

“Iya, unnie. Tapi dia sudah mati tertabrak dan aku hendak menguburnya disamping makam temanku yang bernama Yoo Shin-Ra.”

**

Myungsoo menghidupkan mobilnya kemudian menunggu gadis itu memasang sabuk pengamannya. Sebentar-sebentar, ia melirik ke arah gadis itu dan darahnya sedikit berdesir.

“Ayo,” kata Naeun ketika sadar bahwa Myungsoo belum juga melajukan mobilnya. Myungsoo mengangguk. “Ngomong-ngomong, kau sudah makan malam?”

Naeun terdiam sejenak, matanya melirik jam yang ada di dasbor mobil Myungsoo. Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore dan terakhir kali dia hanya minum Capucchino yang dipesannya bersama Chorong tadi siang jam 12, tepat setelah pulang sekolah.

Kini, tubuhnya masih terbalut seragam. Akhirnya, ia pun mendesah berat. “Iya, aku belum makan malam. Kenapa? Kau mau membayarkan makan malam untukku?”

Myungsoo terkekeh pelan menyadari bahwa gadis itu terlalu asal ceplos. “Kalau kau mau,” tawarnya.

“Tidak usah,” kata Naeun. “Makan saja di rumahku. Ada eomma-ku dan dia pasti senang melihatmu.”

“Kenapa begitu?” Myungsoo bertanya bingung. “Ada apa denganku dan apakah ibumu mengenalku?”

“Tentu saja tidak,” jawab Naeun lugas. “Eomma dulu ingin sekali memiliki anak laki-laki dan ternyata tidak bisa. Pada akhirnya, hanya aku lah yang lahir dan menjadi anak tunggal.”

“Aku juga anak tunggal. Tapi, dimana rumahmu?” tanya Myungsoo ketika menyadari bahwa daritadi ia hanya mengikuti jalur yang ada di depan matanya.

Naeun langsung tertawa dan ia segera menyebutkan alamatnya pada Myungsoo. Tangan Myungsoo mengetikkan alamat rumah gadis itu di layar touch screen-nya.

“Jadi, apa tidak apa-apa aku makan di rumahmu?”

“Tentu.”

Setelah berbincang-bincang selama perjalanan, mereka pun tiba di rumah Naeun. Myungsoo memarkirkan mobilnya di depan rumah Naeun dan mempersilahkan Naeun agar turun duluan dan menyapa ibunya.

Naeun hanya mengangguk, kemudian ia masuk ke dalam rumahnya duluan. Ia melangkah menuju ruang keluarga dimana ibunya sedang membaca majalah. “Eomma!”

“Oh, Naeun-a. Kau baru pulang?” tanya ibunya sambil memeluk anak semata wayangnya itu. Kemudian, perempuan itu melepaskan pelukannya dan melirik ke arah pintu yang terbuka lebar. “Kau pulang dengan siapa?”

Naeun langsung tersenyum kecil. “Itu yang aku ingin bicarakan. Dia temanku dan dia mau makan disini. Orang tuanya bekerja di luar negeri karena itu dia hanya sendirian di rumahnya.”

“Temanmu?” Ibunya menggoda. Naeun langsung cemberut dan ibunya pun tertawa kecil. “Ayo, ajak dia masuk.”

Naeun mengangguk dan ia menuju pintu utama. Ia memunculkan dirinya sedikit dan memanggil Myungsoo. Laki-laki itu menoleh dan mendapati Naeun menjulurkan dirinya dibalik pintu. “Ayo, masuk!” ajak Naeun.

Myungsoo mengangguk pelan kemudian ia masuk ke dalam rumah Naeun mengikuti gadis itu dari belakang. Ibu Naeun langsung tersenyum lebar ke arah Myungsoo. “Aigo, aku baru tahu bahwa Naeun punya teman setampan dirimu. Siapa namamu?”

“Aku Kim Myungsoo,” ujarnya sambil tersenyum kecil kemudian membungkuk sedikit. “Terimakasih dan tentu saja Nyonya tampak cantik.”

Ibu Naeun langsung tersenyum kecil kemudian ia bangkit dari sofanya. “Kalian duduk saja dulu dan aku akan buatkan makan malamnya.” Ibu Naeun meliriknya. “Naeun, kau buatkan Myungsoo minum.”

Naeun langsung mendesah pelan. “Menyebalkan,” gumamnya sambil melangkah menuju dapur mengikuti ibunya. Tak beberapa lama kemudian, ia kembali dengan dua gelas jus jeruk di tangannya. Sedangkan itu, Myungsoo segera menerimanya.

“Dimana ayahmu?” tanya Myungsoo hati-hati. Naeun langsung tersentak kemudian ia duduk disamping Myungsoo dan merebahkan dirinya. “Ayahku juga kerja di luar negeri. Jadi, dia hanya mengirimkan uang kesini dan pulang setiap satu tahun.”

“Bersyukurlah,” kata Myungsoo. “Kedua orang tuaku bahkan tidak pernah menjengukku. Mereka terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka berdua.”

**

Atas paksaan Ibu Naeun, Myungsoo jadi hampir sering menghampiri rumah Naeun. Bahkan bukan hampir sering lagi, tapi setiap hari. Naeun mengatakan bahwa ibunya tampak lebih cerah daripada sebelum-sebelumnya.

Ibunya selalu merutuki dirinya sendiri sebelumnya karena tidak bisa mendapatkan anak laki-laki. Namun, sejak adanya Myungsoo, ibunya menjadi lebih sering tersenyum.

“Kupikir ibuku sedikit gila,” kata Naeun pada Chorong ketika mereka makan di kantin. Baru saja Naeun ingin memasukkan ddeobeoki-nya, Myungsoo duduk disampingnya.

“Siapa kau?” tanya Chorong langsung. Kemudian, Myungsoo tersenyum kecil, dia sadar bahwa dia bukanlah laki-laki yang terkenal di angkatannya.

Menurutnya, menjadi terkenal bukanlah apa-apa. Dia hanya menginginkan hidupnya di sekolah tenang dengan nilai yang memuaskan itu sudah cukup.

“Aku Kim Myungsoo,” kata Myungsoo dan menambahkan, “aku temannya Son Naeun.”

“Oh, jadi kau teman yang selama ini diceritakan oleh Naeun? Aku–.”

“Park Chorong sunbaenim,” potong Myungsoo dan tertawa kecil. Chorong hanya tersenyum tipis. “Aku tahu kau, sunbaenim. Siapa yang tidak kenal sunbaenim?

“Kau sedang menggodanya atau memujinya?” tanya Naeun menengahi pembicaraan mereka.

Myungsoo langsung tertawa pelan dan Chorong hanya tersenyum tipis. “Dengar ya, aku tidak pernah menggoda gadis manapun, apalagi Park Chorong sunbaenim. Bukankah dia sudah punya kekasih?”

“Hoho,” Naeun tertawa sinis. “Aku lupa kalau Chorong unnie punya kekasih bernama Nam Woohyun. Aku tidak pernah suka sunbaenim yang satu itu.”

“Kenapa?” tanya Myungsoo.

“Uh, Woohyun sering mengejek gadis ini,” kata Chorong akhirnya karena Naeun hanya diam saja. Mungkin, dia malu mengatakan alasannya. “Sebenarnya, Woohyun tidak bermaksud seperti itu dan dia menyukai Naeun kok.”

“Menyukai dalam bentuk apa?” tanya Myungsoo langsung. Chorong tersenyum tipis. “Tentu saja sebagai adiknya.”

“Alasan sekali sunbaenim itu,” kata Naeun sambil mengerucutkan bibirnya. “Sudah ah, lagipula untuk apa kita membahasnya. Dan, Kim Myungsoo,” Naeun menoleh ke arahnya. “Ibuku menjadi gila karena kau!”

“Salahkan dirimu mengajakku makan di rumahku,” Myungsoo menjawab dan tak mau kalah dari Naeun. Menurutnya, bukan salahnya, karena Naeun lah yang mengajaknya duluan.

“Oke,” Naeun menyerah. “Terserah.”

**

“Ngomong-ngomong, aku mau liburan, kau mau ikut?” tanya Myungsoo saat mereka sedang dalam perjalanan pulang. Mereka baru saja menyelesaikan tugas mereka lagi.

Dan, ya, bisa dikatakan, mereka menjadi dekat sejak kejadian makan-di-rumah-Naeun. Ditambah, dengan Naeun yang sering ikut menumpang pulang bersama Myungsoo.

“Boleh, kemana?”

“Pulau Jeju,” kata Myungsoo. “Kita berangkat tepat saat liburan sekolah dimulai.”

“Boleh aku mengajak Chorong?”

“Aku hanya punya dua tiket pesawat.”

Naeun langsung menatapnya. “Jadi, hanya kita berdua?” Ia hampir memekik tak percaya. Myungsoo hanya mengangguk dengan wajah datar.

“Ada apa? Toh, kita tidak akan melakukan hal yang aneh-aneh. Aku bukanlah orang semacam itu,” ujar Myungsoo. “Percaya sajalah padaku.”

Aigo, aku tidak berpikiran bahwa kau akan macam-macam padamu, Kim Myungsoo,” kata Naeun lalu mengerucutkan bibirnya. “Aku tentu saja percaya padamu.”

Myungsoo tertawa kecil kemudian ia mengusap kepala gadis itu dengan senyuman di bibirnya. Jantung Naeun langsung berdentum tak karuan dan tak berirama.

“Eung, Myungsoo?” panggil Naeun tiba-tiba dan tangan laki-laki itu langsung turun dari kepalanya. Myungsoo sadar bahwa dia terlalu lama menaruh tangannya.

“Maaf,” kata Myungsoo cepat-cepat.

Naeun hanya tersenyum kecil. “Bukan itu, aku mau bertanya,” kata Naeun dan membuat Myungsoo merasa sedikit malu. “Ada apa?”

“Berapa harga tiketnya?”

“Tidak usah dibayar, Son Naeun.”

“Tapi—.”

“Tidak usah,” Myungsoo memaksanya sambil memarkirkan mobilnya di depan rumah Naeun. “Sudahlah, aku menganggapnya sebagai hadiah untukmu.”

“Hadiah?” Naeun mengangkat alisnya. “Ulang tahunku masih lama, Kim Myungsoo.”

“Aku tahu itu,” kata Myungsoo yakin. “Tanggal 10 Februari kan?”

“Oh—Oh, iya,” kata Naeun sambil tersenyum. Kemudian, ia membuka pintu mobilnya sebelum ia berkata, “terimakasih untuk tiketnya.”

Myungsoo hanya bergumam kecil sambil mengangguk lalu Naeun keluar dari sana dan masuk ke dalam rumahnya. Dari dalam mobil, Myungsoo hanya bisa tersenyum kecil.

**

Gadis itu menggeliat diatas kasurnya waktu ponselnya terus-terusan berdering. Akhirnya, ia mengambil ponselnya dan menatapnya dengan pandangan yang masih mengabur.

Ia menggeser layar ponselnya dan mendekatkannya ke kuping. Dengan terkantuk-kantuk, gadis itu bersuara. “Halo?”

Son Naeun!” Suara itu memekik. Naeun langsung tahu siapa yang menghubunginya. “Woohyun mengajakmu liburan! Kau mau tidak? Kalau mau kita berangkat hari ini!

“Aduh, Chorong unnie. Maaf ya, tapi aku sudah ada rencana liburan hari ini dan aku berangkat hari ini,” kata Naeun sambil mengusap-ngusap matanya.

Ia melirik jam dindingnya yang masih menunjukkan pukul 5 pagi. Seharusnya, dua jam lagi, Myungsoo menjemputnya dan mereka akan berangkat liburan selama lima hari.

Dan, tentu saja, ketika Naeun meminta izin, ibunya langsung memperbolehkannya. Bahkan, ibunya tidak mencoba memperingatkannya karena akan liburan dengan laki-laki asing. Naeun hanya bisa menggosok pelipisnya jika mengingat betapa bahagianya wajah ibunya.

Yah, kau ini,” Chorong melanjutkan. “Yasudahlah! Ngomong-ngomong, kita mau liburan ke Amerika loh,” kata Chorong menggoda gadis itu. “Kau benar-benar tidak ingin ikut?

“Tidak karena aku sudah punya rencana liburan. Sekalipun aku dipaksa, aku tidak mau karena ada Nam Woohyun!”

Baiklah, aku tutup ya telponnya!

Setelah sambungan telepon diputuskan oleh Chorong, gadis itu bangkit dari tempat tidurnya dan melangkah menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya.

Setidaknya, bersiap-siap lebih awal lebih baik bukan? Daripada nanti ia harus tertidur lagi dan bangun terlambat. Dia tidak mau merepotkan Myungsoo, terutama laki-laki itu sudah membayarinya tiket.

“Son Naeun!” Ibunya memanggil dari luar kamarnya ketika Naeun baru saja selesai memakai bajunya.

“Ada apa, Eomma?” tanyanya sambil membuka pintu kamarnya. Ibunya tersenyum cerah sambil menatap anaknya dari atas sampai bawah.

“Aku pikir kau belum bangun. Myungsoo sudah dibawah,” kata ibunya. “Dia katanya mau ikut sarapan disini makanya aku sangat senang.”

“Astaga, laki-laki itu,” gumam Naeun. Kemudian ia menatap ibunya. “Sebentar lagi aku ke bawah.”

Ibunya hanya mengangguk lalu Naeun masuk ke dalam kamarnya. Ia kembali melirik ke cermin dan menatap refleksi dirinya. Ia tampak sangat cantik dan manis dengan kaus berwarna putih tanpa lengan ditambah dengan kemeja berkotak-kotak merah yang menutupi sepanjang lengannya.

Dibawahnya, ia mengenakan celana jeans pendek yang berwarna biru muda. Ia juga mengikat seluruh rambutnya habis menjadi ekor kuda dan menyisakan beberapa helai rambutnya menjuntai. Kemudian, ia menyambar topi bertuliskan ‘SHINHWA’ dan dikenakannya secara terbalik.

Sebelum keluar dari kamarnya, ia memastikan bahwa ia sudah menaruh kopernya di dekat ruang tamu dan juga sepatu Nike-nya yang berwarna biru muda dengan sol berwarna pink.

“Son Naeun!” panggil ibunya dari bawah ketika Naeun baru saja melangkah keluar dari kamarnya. Kemudian, gadis itu menuruni tangga dan melihat Myungsoo yang tengah makan di ruang makannya bersama ibunya.

Myungsoo langsung meliriknya dan menatapnya dari atas sampai bawah lalu tersenyum tipis. Cepat-cepat, Naeun turun dari tangga dan duduk di kursi yang ada disamping Myungsoo.

“Lama sekali kau, Naeun,” ujar ibunya sambil mengambilkan makanan untuk Naeun. Naeun hanya terkekeh pelan. “Maaf, eomma. Aku harus mempersiapkan diriku.”

“Hanya liburan, Son Naeun,” Myungsoo mencibir. “Bukan pergi ke pesta.”

“Terserah kau, Kim Myungsoo.”

Gadis itu melahap makanannya dan sesekali ia melirik ke arah Myungsoo yang tengah berbincang-bincang dengan ibunya. Dalam hati, Naeun merutuki dirinya karena dia tidak pernah membuat ibunya sebahagia itu.

“Ayo, berangkat,” usul Myungsoo ketika Naeun telah selesai. Ibu Naeun langsung tersenyum kecil dan menatap sekilas anaknya. “Naeun, jangan macam-macam.”

“Astaga, harusnya Myungsoo-lah yang diberitahu hal itu, eomma,” kata Naeun kesal. “Sudahlah, ayo berangkat. Kita harus bergegas.”

**

Naeun menghirup nafas dalam-dalam ketika mereka baru saja turun dari pesawat. Myungsoo yang ada di belakang hanya tertawa melihat gadis itu. Kemudian, Naeun berbalik dan menarik Myungsoo untuk berjalan bersisian.

“Kau harus tersenyum karena kita sedang liburan,” ujar Naeun tiba-tiba. Mereka sedang menunggu giliran koper mereka untuk diambil.

Ketika Naeun melihat koper berwarna hitamnya dan milik Myungsoo juga, ia segera menarik koper itu dan memastikan bahwa itu koper miliknya. Lalu, keduanya melangkah keluar dari bandara.

Myungsoo menoleh kesana-kemari sampai akhirnya ia menemukan sebuah taksi. Segera, Myungsoo menoleh ke arah Naeun. “Naeun, disini.”

Naeun hanya mengangguk kemudian ia melangkah mendekati Myungsoo. Keduanya masuk ke dalam taksi setelah menaruh koper mereka di bagasi.

Setelah itu, Naeun tertidur pulas disana. Myungsoo hanya berdecak kesal berkali-kali. “Apa yang dilakukannya waktu di pesawat?” gumamnya. “Apa dia tidak tidur?”

Taksi melaju membelah jalan raya. Sampai akhirnya, mereka tiba di sebuah rumah yang besar bertingkat dua. Naeun yang tertidur pulas di bahu Myungso menyebabkan Myungsoo sedikit kesulitan.

Myungsoo mengetuk kaca pembatasnya kemudian supir taksi menoleh. Ia menerima bayaran Myungsoo dan keluar dari sana untuk mengambil koper mereka.

“Hei, Naeun,” panggil Myungsoo sambil mencolek pipi gadis itu beberapa kali. Yang dicolek hanya bergumam kecil tidak jelas, namun Myungso bisa mendengarnya. “Hm, Myungsoo kenapa kau tampan sekali? Tapi, kau sangat dingin padaku.”

Myungsoo langsung tertawa. Akhirnya, ia keluar dari taksi dan memutari taksi itu. Kemudian, ia menggendong gadis itu. Dengan isyarat tubuh, Myungsoo menyuruh supir taksi membantunya membawakan koper masuk ke dalam rumah.

Rumah tingkat dua itu sangat megah. Halamannya bersih dan ditata rapi sedemikian rupa. Berbagai bunga juga tampak sering disiram dan beberapa pohon tinggi menjulang menambah hijaunya rumah itu.

Pintu besar berwarna putih yang bergagang kuning keemasan itu menghiasi bagian depan rumah itu. Di samping bangunan utama, ada sebuah bangunan yang menjulang ke atas mirip menara, hanya saja menara itu dibangun lebih lebar dan lebih pendek daripada menara-menara yang lainnya.

Pada menara itu, ada tangga yang mengitari dan menuju sebuah pintu besar dengan jendela yang menempel disamping pintu itu. Di samping bangunan utama juga ada garasi yang dapat menampung dua mobil. Di depan garasi, terparkir sebuah mobil sedan hitam yang hanya bisa membawa dua orang.

Kim Myungsoo membaringkan gadis itu di atas sofa empuk besar berwarna merah dengan hati-hati. Supir taksi juga sudah kembali ke mobilnya dan meninggalkan halaman rumah Myungsoo setelah Myungsoo mengucapkan terimakasih padanya.

Sebuah televisi besar berukuran 60 inci tertempel di dinding di hadapan sofa-sofa yang diatur mengitari sebuah meja. Meja itu lebar dan pendek, juga berkaca bening. Di dalam kaca bening itu terdapat tatanan dasar laut berupa souvenir yaitu pasir, bintang laut, dan koral.

Setelah Myungsoo selesai memasak makanan untuk dirinya dan Naeun, ia menghampiri gadis itu. Kemudian, ia kembali membangunkan gadis itu, namun ia benar-benar pulas.

Myungsoo meneliti wajah gadis itu. Matanya yang lebar dan tidak terlalu sipit, hidungnya yang tidak terlalu mancung, bibirnya yang kecil, alisnya yang cukup tebal. Ditambah halusnya wajah gadis itu tanpa adanya kekurangan sedikit pun.

Tangan Myungsoo menelusuri wajah gadis itu sambil menyingkirkan beberapa helai rambut yang menjuntai menutupi wajah gadis itu. Pelan tapi pasti, Myungsoo mendekatkan wajahnya. Kini, hidung mereka berdua sudah saling bersentuhan dan Myungsoo kembali mendekat. Myungsoo menutup kedua matanya dan bibirnya sudah mendarat pada bibir Naeun dengan lembut.

Namun, tanpa Myungsoo tau, Naeun membuka matanya perlahan dan ia menyadari bahwa ia tengah berciuman dengan Myungsoo—bukan, melainkan Myungsoo yang menciumnya.

Ketika tahu Myungsoo akan membuka matanya, Naeun kembali berpura-pura tidur. Kemudian, ia bisa merasakan bibir Myungsoo perlahan menjauh dan kini, laki-laki itu mengecup keningnya. Sayangnya, jantung Naeun tidak bisa diajak kompromi karena terus berdentum-dentum dengan kencang.

Ia berharap Myungsoo tidak menyadarinya karena laki-laki itu berbisik di teliganya. “Naeun, bangun,” bisiknya. Kemudian, sambil berpura-pura, Naeun menggeram kemudian ia menggeliat. Lalu, ia membuka matanya dan terduduk di atas sofa.

Matanya teralihkan pada Myungsoo yang duduk di samping sofanya. Ia menatap Myungsoo dalam. “Sudah berapa lama aku tertidur?” tanyanya. “Maaf.”

“Oh, tidak lama. Hanya waktu kau tidur di taksi, kau menyender padaku dan aku membawamu masuk,” jelas Myungsoo. “Aku membuatkan makanan, ayo makan.”

Setelah keduanya selesai makan, Naeun mengelilingi rumah itu untuk melihat-lihat. Lalu, Myungsoo tiba-tiba muncul dan mengejutkan gadis itu. “Ini rumahmu?” tanya Naeun.

Mereka sudah berada di lantai dua yang terhubung dengan lantai berumput hijau. Disana mereka bisa melihat lurus ke arah pantai dan ada pagar bening yang menghalangi pinggirnya. Sedangkan itu, Naeun duduk di salah satu kursi.

“Iya, begitulah,” kata Myungsoo sambil dudduk di dekat Naeun. “Aku pikir, orang tuaku tidak akan apa-apa jika aku liburan kesini.”

“Orang tuamu tampaknya menyenangkan.”

“Tidak juga,” kata Myungsoo. Kemudian, ia menghela nafas panjang. “Lebih menyenangkan dengan orang tuamu tampaknya. Mereka berdua tidak bekerja di luar. Maksudku, kau masih ada ibumu, kau bisa bersama ibumu.”

Naeun tersenyum membenarkan perkataan Myungsoo. Seharusnya ia menyukurinya karena Myungsoo selama ini hanya sendirian. Dia pasti sudah sangat mandiri.

**

“Besok pulang,” gumam Naeun sambil menyesap hot chocolate-nya ketika ia duduk sendirian di lantai dua dimana ia bisa melihat lurus ke pantai. “Aku pikir, Myungsoo orang menyebalkan tapi dia menyenangkan.”

Tiba-tiba, Myungsoo masuk dan mengejutkan Naeun. Laki-laki itu membawa dua roti di atas piringnya dan duduk di kursi di dekat Naeun. Ia menyodorkan pirinya ke arah Naeun. “Mau?”

“Boleh,” jawab Naeun dan mengambil sepotong roti. Ia memakannya dengan lahap. “Isi kacang. Kesukaanku.”

“Dua-duanya kacang,” kata Myungsoo sambil mengunyah rotinya dan menatap lurus ke arah pantai. “Kau menyukai liburan ini?”

“Tentu saja,” kata Naeun. “Menyenangkan. Kau bisa membuatku tertawa seharian. Aku tidak pernah liburan bersama orang tuaku, sejujurnya.”

Myungsoo tersenyum tipis. “Kalau kau mau, kita bisa liburan sampai liburan sekolah selesai.”

Naeun menoleh ke arahnya dan melotot. “Kau gila?” tanyanya. “Aku bahkan hanya membawa baju untuk lima hari ini dan lagipula bukankah kau sudah memesan tiket untuk besok?”

“Aku bisa membatalkannya,” kata Myungsoo dengan datar. “Untuk bajumu, kita bisa beli atau meminta ibumu memberikannya pada suruhan ayahku.”

“Tidak,” kata Naeun. “Tidak usah dan kita bisa pulang besok.”

Myungsoo menatapnya. “Aku ingin liburan lebih lama denganmu,” katanya. “Aku senang bisa liburan denganmu.”

“Ke—Kenapa?” tanya Naeun setelah ia terdiam cukup lama untuk memikirkan kata-kata yang pas. “Kenapa denganku?”

“Aku menyukaimu, bodoh,” kata Myungsoo tanpa mengalihkan pandangannya. Naeun berbalik menatapnya tidak percaya. “Aku menyukaimu sudah lama, sebelum kita bertemu di bus.”

“A—Aku bahkan tidak tahu dirimu sebelum kita bertemu di bus,” kata Naeun jujur.

Keduanya saling menatap dan Myungsoo menatapnya tajam. Tapi, matanya menyiratkan perasaan sedih juga. Mungkin, karena perkataan Naeun.

“Kau tidak pernah memperhatikan sekelilingmu,” kata Myungsoo. “Aku bahkan setiap hari bertemu dirimu di bus dan aku selalu melakukan ini itu di sekolah agar kau melihatku. Tapi, kenyataanya, kau tidak melihatku. Sampai akhirnya, aku tahu kalau kau juga bisa melihat hantu,

“Aku awalnya tidak percaya,” kata Myungsoo. Myungsoo mengambil nafas dalam-dalam. “Tapi, setelah aku tahu bahwa kau bisa melihat hantu, aku sangat bahagia. Aku senang akhirnya aku bisa mengenalmu, bahkan bisa liburan denganmu.”

Naeun terdiam.

“Aku mengerti jika kau tidak menyukaiku,” kata Myungsoo pelan. “Aku minta maaf. Aku sudah mencium bibirmu waktu kau terti—.”

Naeun mengecup bibir Myungsoo. Saat itu juga, Myungsoo melebarkan matanya dan ia bisa merasakan bibir Naeun yang benar-benar menciumnya.

Setelah itu, Naeun menatapnya dalam. “Aku tahu kau menciumku, Kim Myungsoo dan aku juga menyukaimu.”

Myungsoo terdiam, namun ia berdiri dan menarik Naeun ke dalam pelukannya. Setelah lama dalam diam, Myungsoo mendekatkan wajahnya dan membiarkan bibirnya menyentuh bibir Naeun.

Naeun bisa merasakan bahwa Myungsoo memberikannya sedikit lumatan-lumatan kecil pada bibirnya. Gadis itu membalas ciuman Naeun sambil menahan tubuhnya dengan melingkari pinggang Myungsoo.

Disisi lain, Myungsoo meletakkan tangannya di leher Naeun dan mencium bibir gadis itu. Keduanya terlalu hanyut dalam ciuman mereka sehingga mereka tidak sadar bahwa sudah ada banyak hantu yang memperhatikan keduanya.

 

The End

18 thoughts on “In Your Eyes

  1. bagus sih ff nya, cuma ngga tau kenapa kok kayanya judulnya kurang pas ya?😮
    tapi ini udah bagus kok^^
    bikin ff myungeun lagi ya!🙂

    • haloooo kamu yang sering komentar di ff aku. makasih banyak komentarnyaaaa. iya ya emang gak pas nih haha soalnya aku gatau mau kasih judul apa lagi HAHA😀 sipp.

  2. yeeey ada ff myungeun lagi~
    aku suka ma castnya, ceritanya juga bagus tapi rada ngeri ma cara pembunuhannya hiiih /.\

    ane tunggu ff myungeun selanjutnya~ Fighting ヾ(*´∀`*)ノ

  3. Ini FF Keren Thor .. Romantis Banget >_< . Apalagi Castnya MyungEun😀 . Ditunggu FF yang Lain Thor . yg pasti MyungEun Dong😀

  4. Huaaa, seneng banget sama cast nyaaa, myungeun couple>.<👍
    Btw, itu kenapa author nya kreatif banget ya, pake jangka lho masbroo .___.v
    Oke deh thor, segini aja, btw fighting buat next ff,,:)
    Kalo bisa myungeun lagi ya thorr😉

  5. Keren banget!! Jarang2 bisa nemu ff sekeren ini!! Apalagi alurnsama critanya bikin tertarik!! Ide nya keren!!! Aww~ myungeun ❤️❤️

  6. Huaaa beruntung bgt bisa nemu fanfic ini❤ Romantis maksimaal myungeun disiniih huaaaaa sukaaak deh x) Dtggu karya selanjutnya thor!

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s