[FF Freelance] Moment to Remember

momentlk

Annyeong, zeakyu imnida, pertama kalinya kirim ff ke RFF semoga bisa dipublish. Terima kasih kak admin semuanya, maaf aku pendatang baru dan susah berkata-kata, semoga RFF makin kece badaii…

Judul : Moment to Remember (Kaistal version)

Author : zeakyu

Rating : PG – 15

Length : Vignette

Genre : Teen, Romance

Main Cast : Kim Jong In – Jung Soo Jung

Support Cast : Choi Jinri

Disclaimer. FF ini pernah di publish di blog pribadi maupun di fb, namun dengan main cast berbeda. Terinspirasi dari kumpulan kata-kata kakak angkatan saya, tapi tetap original tulisan saya.

Ketika jalan mimpi itu telah terbentang dihadapannya, haruskah aku memutuskan jalannya?”

 

 

 

Simponi langit berubah menjadi coklat, tak biru lagi. Warnanya keemasan, menggambarkan sinaran kuning akan segera kembali keperaduannya. Kutatap lurus langit itu. Kutarik kedua lengkung bibirku membentuk sebuah guratan senyum. Mataku kupejamkan seraya mengambil sebanyak – banyaknya oksigen yang ada dibumi itu, menyimpannya agak lama, baru kuhembuskan lagi oksigen yang telah berganti menjadi karbondioksida dan uap air itu.

 

Aku terduduk disebuah gazebo berbentuk segienam itu. Sendiri, hanya di temani sebuah benda elektronik dengan berat lebih dari satu kilo. Kurasakan otakku telah terrefresh kembali. Mungkin sekarang aku bisa menatap layar laptopku kembali. Jari lentikku ini bermain di tuts keyboard, menekan berbagai huruf membentuk untaian kata yang menjadi kalimat lalu menjadi barisan paragraph. Lelah sebenarnya, apalagi sebenarnya aku tak terlalu menyukai menulis makalah yang menyebalkan ini. Tapi ini adalah tugas, tugas yang harus kuselesaikan, aku tak ingin mengecewakan orang tuaku yang telah bersusaah payah membiayaiku sekolah, hingga aku bisa masuk kesebuah universitas terkemuka di kota ini.

Sesekali kuedarkan mataku menatap sekeliling, mencoba mencari sesosok manusia yang tengah kutunggu. Nihil, belum terlihat juga batang hidungnya. Kesal menyergap hatiku. Dua jam menunggunya sembari menyelesaikan  makalah, tanpa makan tanpa minuman dan sendirian. Kulirik telpon genggamku, berharap ada sebuah pesan masuk darinya, sama saja, tak ada satupun pesan masuk ke telponku. Aku hanya mampu berdecak kecewa. Gelap, kurasakan sebuah tangan menutupi mataku hingga aku tak bisa  melihat apapun.

 

“Lepaskan tanganmu Oppa! Dasar anak kecil!” kesalku pada seseorang yang kuyakin adalah orang yang kutunggu, kekasihku yang telah menemaniku selama Dua tahun di kampus ini.

 

“Aish, aku ini bukan anak kecil!” Ujarnya seraya melepaskan tangannya dari mataku. Aku segera mengalihkan pandanganku, meencoba menengok ke kanan. Blush wajahku memerah saat wajah lelakiku berada di depan mataku. Aku hanya bisa memicingkan  mataku seraya menikmati desiran darah yang mengalir deras di tubuhku ini.

 

“Aku tau aku tampan, berhentilah menatapku seperti itu” Ucapan dari suara lelaki yang terlanjur kusayang itu cukup menghentakkan jantungku. Aish, kenapa aku bisa memiliki lelaki se percaya diri seperti dia.

 

“Benarkah?” kataku dengan membentuk ekspressi seperti anak kecil polos, tak lupa kueratkan kedua tanganku dan kutaruh di depan dadaku seraya membulatkan mataku.

 

“Tentu saja kau itu sangat beruntung mendapatkan Kim Jong In, lelaki paling tampan. Makanya seringlah bersyukur pada Tuhan karena aku memilihmu!” Ujarnya seraya mencubit kedua pipiku. Sakit. Cih, aku ingin muntah mendengar barisan katanya, over confident.

 

“Ish, rasakan ini!” akupun menjitak kepalanya. Dia meringis kesakitan.

 

“Sayang, kau ingin kepalaku benjol ya!!!” ucapnya sedikit keras, namun bukan bentakan, aku lebih merasakan ini sebagai sebuah kekesalan.

 

Oppa juga ingin pipiku tembem kan!”

 

“ Itu salahmu memasang wajah manis dan imut seperti tadi, membuatku ingin meremas pipimu!” Katanya yang masih sibuk mengelus bagian kepalanya yang baru saja kujitak. Untung saja, hal ini membuatnya tak sadar akan perubahan mimic mukaku yang makin memerah. Aku mengalihkan pandanganku ke layar laptop, tak menggubris kata – katanya lagi. Aku memintanya untuk menunggu 5 menit lagi, aku hanya tinggal menyelesaikan bagian kesimpulan.

 

Jariku telah lelah berkutat pada tuts keyboard ini. Kugerakkan anak panah yang ada dilayar ke sebuah kotak kecil di pojok atas berwarna merah, dimana ada tanda silang putih didalamnya, Tak lupa sebelumnya telah kusimpan semua data yang baru selesai kubuat. Setelah itu kutekan icon star dan memilih shutdown untuk mengakhiri semua kerjaaanku, hanya sebentar aku harus menunggu hingga layar laptopku telah berganti hitam, Kututup dan kutaruh benda kotak itu di dalam tas gendong yang kubawa.

 

Akupun beralih melihat lelaki yang ada disampingku, kulihat dia tengah asyik dengan psp yang ada ditangannya. Dasar otak gamer sejati. Kuperhatikan wajahnya yang focus pada benda kecil di tangannya. Aigo, kenapa terlalu tampan lelaki ini, membuat jantungku seakan melompat dari tempatnya. Ayolah Jung Soo Jung, sadarlah, jangan terlihat kau terpesona lagi padanya, bisa – bisa tuan over confident ini makin melayang keatas awan.

 

Oppa, aku sudah selesai, ayo kita pulang!” Seruku tepat di samping telinga kirinya. Ia terlonjak kaget, hampir saja psp yang ada di tangannya jatuh, namun ternyata refleknya cukup cepat, hingga psp itu tak jadi jatuh.

 

“ Sayang, jangan teriak terlalu keras seperti itu, kau pikir aku tuli apa?”

“Habisnya Oppa kalo focus main game pasti menjadi orang yang tuli, ayolah hari sudah mulai sore, aku sudah cape Oppa.” ujarku yang langsung menggandeng tanganya, memuntunnya untuk  bangkit dan pergi dari gazebo segienam itu.  Aku dan dia menuju ke sebuah ruang terbuka, di mana banyak sekali motor  dan mobil berjejer dengan rapi. Namun lelakiku malah menyeretku ke gerbang keluar kampus.

 

“ Loh Oppa?” Kuhentikkan langkahku, membuatnya terhenti pula. Ia palingkan wajahnya yang menatap lurus kedepan menjadi menatapku. Ia tersenyum, seakan mengerti semburat heran yang terpancar jelas dimataku.

 

“Hari ini aku tak akan mengantarmu dengan motorku, kita nikmati perjalanan kita dengan jalan kaki saja ya, hehe” Suaranya terdengar riang. Aku hanya bisa mengangguk menuruti permintaannya, menikmati perjalanan pulang ini hanya dengan jalan kaki? Bukankah itu suatu hal yang mengasyikkan?  Terlebih berjalan kaki dengan lelaki yang kucintai ini. Ia melepaskan genggaman ditanganku.

“Jung, lepas tasmu itu!” Akupun melepas tasku dari pundakku, dengan cepat ia meraih tas yang ada ditanganku.

 

“Ya Tuhan, kau membawa beras berapa karung si? Pantas saja kau makin pendek, daripada memiliki yeoja yang pendek, lebih baik aku saja yang membawa tasmu, kau bawa saja tasku ini!”  cibirnya seraya memberikan tas selempangnya kepadaku, Diapun segera memakai tas gendongku. Aku hanya mampu tersenyum melihatnya, tak ingin membalas cibirannya. Lantas ia kembali menggandeng tanganku, mensejajarkan tubuhnya dan tubuhku, melangkahkan kaki bersama, sesekali ia mengayunkan tangan kami yang saling menggenggam itu ke depan dan kebelakang.

 

Tiap kali pulang kuliah, ia dengan telatennya menantiku, sengaja ingin mengantarku pulang. Aku senang, bukan karena aku bisa mengirit ongkosku, tapi aku senang karena bisa bersama dengannya, bisa mendengar suara dan melihat senyumannya. Bisa menceritakan berbagai cerita yang kualami di kost dan di kampus. Dan seperti biasa, ia hanya mengelengkan kepalanya, seraya menjawab sekedarnya, terkadang dia malah terlihat sungkan mendengar ocehanku yang bak burung beo ini. Namun tak kuhiraukan, aku malah tambah semangat untuk menceritakan segalanya padanya.

 

Terkadang saat aku mulai lelah mengoceh, gilirannya yang bercerita. Dengan keriangan dan semangat ia menceritakan kisahnya. Terkadang ia juga bernyanyi, suara merdunya yang melelehkan hatiku seakan tak pernah ingin berhenti mendengarnya. Kami sama – sama tertawa saat kisah lucu dan menggemaskan yang tercerita. Akupun sempat berfikir, seharusnya aku mencari kost baru yang letaknya lebih jauh dari kampus agar  momen momen ini menjadi lebih lama. Hingga aku bisa berlama – lama denganmu, seraya memperhatikan setiap detail darinya.

 

Waktu adalah pedang, bila kita tak mampu menggunakannya dengan baik, maka waktulah yang akan membunuh kita, waktu berjalan dengan cepat, Dua4 jam akan terlampaui begitu cepat bak peseta jet yang melayang diudara. Hari ini aku dan  Jong In Oppa tengah menikmati es krim di tepi sungai han yang romatis itu sambil menatap dan memperhatikan keajaiban tuhan yang begitu indah. Aliran sungai han yang tenang, dengan udara segar yang dapat aku dan Jong In Oppa rasakan.

 

Oppa, bagaimana kau bisa menikmati eskrim ini, bila kau memakannya dengan tergesa- gesa seperti itu?” gerutuku saat kulihat ia yang seperti orang tengah berperang melawan waktu untuk menghabiskan es krim ditangannya.

 

“Dengan cara ini aku bisa menikmati eskrim coklat ini, bodoh!”

 

“Memanggiku bodoh lagi, huhh….” Aku menatapnya sembari melototkan mataku, tanda aku kesal. Ia malah tertawa, melihatnya tertawa membuatku tak tahan untuk ikut tertawa, walau entah apa yang aku dan dia tertawakan. Dan kamipun saling melempar tawa renyah. Kini es krim di tangannya telah hilang, tersimpan di dalam tubuhnya. Sedangkan es krimku, masih menggunduk di tanganku. Jong In Oppa kembali tertawa, tertawa melihat caraku memakan es krim, iapun menyemangatiku agar aku segera menghabiskan es krimku. Namun rasanya aku telah kenyang memakan es krimku, akupun menyerah.

 

Oppa, aku sudah tak tahan lagi memakan eskrim ini!” iapun tersenyum, seraya mengambil es krim ditanganku, kemudian menjilatinya dengan sangat pelan.

 

“Kau itu aneh Oppa, tadi kau makan buru – buru, sekarang, es krim yang hampir melelh itu malah kau makan dengan pelan,”

 

“Jangan berisik, aku hanya tengah menikmati eskrim yang telah kau makan ini, es krim ini rasanya biasa saja, namun menjadi lebih manis karena eskrim ini sebelumnya telah kau makan, dan aku ingin menikmati setiap jilatan es krim ini.”

 

Lagi, wajahku kembali memerah bagaikan udang yang baru saja diangkat dari oven, aku hanya termangu mendengar tiap kata yang terlontar dari mulutnya. Benar-benar membuatku seakan tebang ke atas bintang. Aku hanya bisa menatap semua tingkahmu, menatap diam – diam setiap gerakan dari tubuhmu, tawanya, caranya berbicara, caranya memakan eskrim, bahkan suaranya, ku rekam semuanya dalam memoriku, membaginya menjadi fragmen – fragmen kecil yang terekam dengan kualitas tertinggi. Hingga setiap saat aku bisa mengenangnya dan memutarnya semauku.

 

Es krimku telah Jong In Oppa habiskan. Tanpa  aba- aba iapun berbaring di pahaku. Membuat getaran getaran didadaku makin bergetar hebat. Apalagi kini matanya tengah asyik memandang wajahku. Akupun begitu, mataku tengah asik menelisik tiap garis wajahnya, yang akan kurekam lagi dalam sebuah otak kecilku.

 

“Jung, kenapa kau begitu cantik, aku sungguh tak sanggup bila ingat esok kita harus berpisah.” Deg, kata – katanya mengingatkanku akan kesedihanku. Kuhela nafasku panjang, lalu tersenyum kembali.

 

“Bukankah kita telah berjanji untuk tak membahasnya lagi?”

 

“Aku tak bermaksud untuk membahasnya, namun aku benar – benar merasa tak rela, haruskah aku mundur?”

 

“Tidak, itu impianmu … bukan hanya impianmu, tapi ini adalah impianku juga. Aku tak ingin bila semuanya lenyap hanya karenaku.”

“Aku tahu, tapi aku sungguh tak ingin meninggalkanmu disini!”

 

Entah apa yang harus kini aku katakan padanya.Matanya menggambarkan ketidak relaan untuk berpisah, Aku tak sanggup untuk melihatnya terpuruk seperti itu. Kami berdua bermimpi untuk bisa berkuliah ke Paris,belajar bersama. Sayangnya takdir berkata lain, lamaran beasiswa Jong In Oppa di terima d universitas yang sangat aku dan ia ingnkan. Sedangkan aku? Aku masih belumm beruntung untuk berkuliah disana. Sesal dan sedih yang terukir didalam sanubariku, namun apa yang bisa kuperbuat?

 

Merelakannya atau menahannya? Dua hal yang sangat sulit kupilih. Ketika jalan mimpi itu telah terbentang dihadapannya, haruskah aku memutuskan jalannya? Tidak! aku tak ingin egois, bagaimanapun ini juga demi kebahagiannya kelak.

 

Oppa, apakah kau mencintaiku?”:Tanyaku pelan

 

“Tentu, aku sangat mencintaiimu”

 

“Kau tahu, aku juga sangat mencintaimu, namun ada kalanya cinta tak harus bersama, ada kalanya kita harus merelakan cinta untuk kebahagiaan cinta di masa depan, cinta yang kujalani dengamu bukanlah cinta monyet, bukanlah cinta remaja yang egois, aku mencintaimu maka aku ingin kau bahagia dan bila Oppa benar mencintaiku, maka bahagiakan aku dengan kau mengejar mimpi kita.” Dengan perlahan aku berkata padanya, berat mengatakan ini semua, namun bila aku menahannya, justru kepedihan yang akan kurasakan. Membuatnya tak bisa meraiih mimpinya, sama saja membuatku terpuruk lebih jauh.

 

“Bagaimana hidupku nanti bila tak ada kau disisiku?”

 

Oppa, kau itu pintar tapi terlalu bodoh rupanya, selama sehari kita bertemu berapa jam? Paling saat kau menjemput dan mengantarku pulang, kita juga sering tak bersama, tapi kau masih bisa hidup bukan?”

 

“ Tapi ini berbeda sayang,”

 

“Sudahlah Oppa, Dua tahun tidaklah lama, bernjanjilah kau harus kembali dengan gelar di namamu, kita harus sukses demi impian dan hidup kita nanti”

 

Ia bangkit dari pahaku. Sekarang Jong In Oppa berada tepat didepanku, mata kami saling berpandang. Air mata yang telah lama kubendung, telah lolos kepermukaan. Jujur, aku tak bisa membayangkan bagaimana hidupku tanpanya lagi selama Dua tahun mendatang. Tak akan ada lagi caraku untuk mencuri pandang saat ia tengah asyik bercerita, tak bisa kudengar lagi suara indah saat ia bernyanyi, dan yang paling menyesakkan hatiku, ketika aku tak bisa melihat senyuman yang terukir di wajahnya.

 

Tubuhnya mendekat padaku. Diraihnya pundakku kemudian didekapnya tubuhku. Tuhan aku mohon hentikanlah waktu agar sat saat seperti ini bisa terus kurasakan. Aku tak semuanya berakhir, aku tak rela ia perg dariku.

 

“Saat aku pergi nanti, tunggulah aku, jangan pernah berpaling dariku, karena kau adalah tulang rusukku.” Ucapnya di sela – sela suara tangis piluku. Moment – moment yang terjadi selama setahun belakangan ini menggetarkan hatiku, akan selalu kuingat dan kubingkai rapi di kepalaku untuk dikenang dan menjadikanku kuat menjalani hidupku nanti, tanpanya.

 

*****

 

Gazebo berbentuk segienam itu masih berdiri kokoh ditempatnya, tak ada yang berubah, masih sama seperti Dua tahun yang lalu. Dua tahun sudah aku tak bertemu dengannya. Masih teringat jelas di dalam memoriku, bagaimana caranya ia memakan es krim dan memperbaiki kerah bajunya yang sebenarnya masih rapi, bagaimana ia melukiskan dengan jari – jarinya gambaran cerita yang tengah ia kisahkan. Sungguh sebuah bait memori yang tak bisa aku hilangkan dari lipatan – lipatan abu – abu yang ada di kepalaku. Mumpung aku masih bisa mengenang semua kisah ini.

 

“Eonni, katanya mau donor?” Ujar seorang gadis manis, ia sahabatku namanya Choi Jinri. Akupun kembali kedalam dunia nyataku lagi.

 

“Eh, iya kita ke ruangan donor itu!“ Aku dan Jinri berjalan beriringan kesebuah ruangan dimana dilaksanakan donor darah. kami di sambut denagn ramah oleh dua orang petugas cantik. Mereka menyuruh kami mengisi form. Selesai mengisinya, aku masuk kemudian meuju ke meja pemeriksaan tekanan darah Hemoglobin. Kutahan rasa sakitku saat sebuah jarum kecil menusuk jari telunjuk tanganku, sang petugas dengan hati – hati mengambil sampel darahku untuk di periksa apakah darahku bisa di donorkan atau tidak. Sampel darah itu dimasukkann kesebuah cairan berwarna biru. Lalu perlahan turun ke dasar.

 

Agashi, bisa untuk donor, silahkan berbaring di sana!” Ucap sang petugas seraya menunjukkan sebuah ranjang darurat. Kulangkahkan kakiku ke  ranjang itu, seorang petugas kembali menyapaku ramah dan menyuruhku berbaring.

 

Petugas itu memegang tangan kiriku, kemudian menaikkan lengan kemeja yang aku pakai hingga ke lengan atas, membuat sikuku terihat. Petugas itu memasang alat pengukur tekanan dara di lengan kiriku, hingga membuat lenganku membesar. Kemudian ia mengoleskan alcohol di area sikuku.

 

“Genggam yang kuat!” kurasakan sebuah benda sih menusuk sikuku, ya, sebuah jarum berukuran cukup besar telah tepasang di sikuku. Jarum itulah yang akan menyalurkan darahku menuju sebuah kantong berukuran 1 liter. Mungkin orang merasa bahwa donor darah rasanya sakit, namun sebenarnya tidak, donor darah itu menyenangkan, sangat menyenangkan, bahkan membuat kita ingin terus – terusan memberikan darah kita secara percuma. Pikiranku melayang saat pertama kali aku mengikuti donor darah.

Hari ini terasa panas, aku tengah berada disebuah kurs untuk mengisi form donor darah. Galau menyergap, antara ikut atau harus kabur.

“Oppa, aku takut “

“Tidak apa- apa sayang, satu hal yang harus kau ingat mendonorkan darahmu sama saja membersihkan raga kita, karena mengganti darah kotor dengan memproduksi darah baru yang lebih fresh dan bersih. Selain itu darah yang kita donorkan bisa dimanfaakan oleh orang –orang yang membutuhkan darah kita.”

“Tapi….” Aku tak bisa melanjutkan omonganku, aku bingung, dengan cepat kuisi form itu dan  segera menuju ruangan donor darah, Jong In Oppa di check dahulu , setelah ia, barulah aku yang di check. Kemudian kami menuju ke ranjang darurat, kami berbaring bersebelahan. Jong In Oppa memegangi tangan kiriku, karena tangan kanankulah yang diambil darahnya. Ia terus mengoceh, membuatku tidak menyadari bahwa jarum telah menancap di siku tangan kananku.

“Tidak sakit kan?”:Ujarnya sambil mengembangkan senyumnya.

“Iya, rasanya malahan sangat nyaman Oppa” Kamipun saling melempar senyuman dan candaan hingga satu kantong darah telah kami terdonor dari tubuh kami masing – masing.

 

Aku berharap, saat itu kembali terulang, aku ingin Jong In Oppa berada di samping kananku, sembari memberikan semangat kepadaku. Dua tahun kujalani hidup tanpanya rasanya sangat sepi dan menyakitkan. Aku ingin ia kembali di sini, bersamaku di sisiku.

 

Entah, mungkin karena terlalu banyak menghayal, kurasakan tangan kananku tergenggam oleh sebuah tangan, kepalaku tertoleh ke kanan. Kupicingkan mataku, benarkah yang kulihat? Mata hazelnya, kulit tan-nya, rambutnya yang hitam, bibirnya yang penuh, dan senyuman yang sama, dia lelaki-ku. Lelaki yang selama ini kunanti tengah menatapku dengan tatapan kerinduan yang mendalam.

 

Oppa?” Ucapku tertatih, berharap ini bukanlah sebuah ilusi semata.

 

“Jung Soo Jung, I’m really miss you!” Benar, ini benar – benar suaranya, suara yang kurindukan kini ada di sampingku. Terima kasih Tuhan, kau telah mengirimkan malaikatmu untuk menjagaku lagi dari dekat. Bibirku kutarik keatas membentuk seulas senyum tulus penuh kerinduan.

 

“Mulai saat ini kita akan terus bersama….”

::: ::: :::

FIN

Fanfiction without conflict!

Bagaimana nih tanggepannya? Mengecewakan? Kurang greget? Maaf ya, memang masih belajar, jadi perlu banyak kritik dan masukan! Terima kasih.

4 thoughts on “[FF Freelance] Moment to Remember

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s