That Glazed Winter – Chapter 1

that glazed winter

THAT GLAZED WINTER

“Facing Him”

BY

Kiran

Cast  :  Sulli (f(x)) & Do Kyungsoo (EXO-K)  ||  Cast : Tiffany (SNSD), Baekhyun (EXO-K), Kris (EXO-M),   ||  Genre  :  Romance, Fantasy, Western  ||  Rating  :  PG-16 || Length : Chapter || Credit Poster : funluobell

Inspired by C.S. Lewis’s Narnia & Eloisa James’s Desperate Duchess Series

Previous Chapter :

Prolog

*****

More Detail:

Sulli as Sulli Mareviere, putri dari James Mareviere, Duke of Rovaldine

D.O as Dio Soilaven, pewaris keluarga Nobel of Ritzoviral

Tiffany as Tiffany Reindfelt, putri Navis Reindfelt, Nobel of Everolen

Baekhyun as Baekhyun Byun, pewaris keluarga Nobel of Zousanorve [sub-urban family]

Kris as Kris Mareviere, pewaris keluarga Duke of Rovaldinne

*****

“Letitia, jangan memberitahu Her Grace tentang ini. Kau tadi hampir memberitahunya, kalau kau sadar.” jelas Sulli saat sampai di kamarnya setelah pertemuan santai dengan anggota keluarga Mareviere lainnya. “Kau tahu kan aku sudah suka padanya sejak aku berumur sebelas tahun?”

“Oh Your Grace, Anda tidak boleh melakukannya,” ujar Letitia berusaha menasehati Miss Sulli dengan bijak. “Kau tidak sejenis dengan mereka. Lihatlah, sekarang kau berusia delapan belas tahun dan siap menikah. Kau tidak boleh menikah di usia lebih dari dua puluh tahun, Your Grace, sesuai dengan peraturan bangsawan wanita, sedangkan mereka menikah di usia tiga puluhan untuk pria dan dua puluh limaan untuk wanita. Kuharap kau tidak pernah melupakan itu.”

“Demi Aslan peraturan itu kolot sekali!” umpat Sulli kesal.

“Jangan merusak tatanan para leluhur, Your Grace. Sebaiknya Anda berdoa di Cair Paravel sekarang. Kereta kuda akan disiapkan dalam waktu lima belas menit. Apakah Anda perlu saya untuk memilihkan baju yang akan Anda pakai, Your Grace?”

“Tentu,”

~k~

Sulli Mareviere memang pendoa sejati. Andai saja dia bukan putri bangsawan, sudah pasti dirinya akan menjadi biarawati di Cair Paravel, tempat Aslan yang terhormat ini.

Karena kakaknya, Kris, tidak lagi melakukannya karena sedang pergi ke suatu desa untuk proyek pembenahan nasional, ia harus datang sendiri karena Letitia tidak bisa masuk. Sudah tidak perawan dan sudah menikah, alasan yang kedengarannya aneh.

Mereka yang tidak perawan dan perjaka, tidak boleh berdoa di Cair Paravel, melainkan harus ke Dest Ravoir, karena telah menjadi wanita dan pria seutuhnya.

Sulli tidak banyak berdoa untuk dirinya sendiri, ia selalu merapalkan kalimat untuk kesejahteraan Thelmarines, keselamatan keluarga, dan perlindungan dari bahaya. Tiga doa yang menghabiskan waktu tiga puluh menit. Dasar putri yang pandai berdoa.

Ia keluar dari Cair Paravel tiga puluh lima menit kemudian, tetapi ia tak menemukan Letitia di tempatnya semula. Kemana dia? Bukankah sebelumnya ada di sini?

Sulli menunggu. Lima menit. Sepuluh menit. Tapi Letitia tidak muncul. Sebaliknya, ia malah bertemu dengan pria yang tujuh tahun ini selalu ditunggunya setiap hari Rabu jam tiga sore di ujung jalan sambil bersembunyi.

Jadi kelas ilmuwan juga berdoa?

Pria itu mendekat. Oh tidak! Bencana macam apa ini? Oh, muka Sulli memerah. Apa yang harus dilakukannya? Karena terlalu panik, Sulli hanya membalikkan badan dengan tanpa sadar tetap anggun bak seorang bangsawan yang sedang memperlihatkan keindahan gaunnya.

“Permisi,” ucap pria itu dingin. “Apa kau di sini mengenal seseorang bernama Tiffany?”

Sulli membalikkan badan. Kegugupannya sudah sirna dan sekarang ia tersenyum ceria. “Dari keluarga mana?”

“Aku tidak tahu. Keluarganya mendapat gelar Nobel of Everolen,”

“Kelihatannya seperti kelas ilmuwan. Kami─para bangsawan─hanya mengenal gelar Baron, Viscount, Earl, Marquess, dan Duke. Bukankah ilmuwan tidak berdoa?” balas Sulli sopan.

“Kami juga bangsa Thelmarines. Sindiranmu kuterima dengan baik, Miss…,”

“Mareviere,”

“Ah, Miss Mareviere. Keluarga yang dicintai His Majesty, bukan begitu?” Sial. Belum-belum sudah mengajak perang. Jadi ini mengapa para bangsawan tidak bisa bersatu dengan para ilmuwan? Karena omongan mereka yang tanpa kesopanan, ketus, dan tak berbelit-belit?

“Oh, terima kasih Mister…,”

“Soilaven. Dio Soilaven,” ujarnya sambil membungkukkan badan dan mencium tangan Sulli yang bersarung datang, “Apakah aku sudah menunjukkan kesopanan sebagai seorang yang terhormat, Your Grace?”

“Apa? Soilaven? Kau?”

“Yang baru-baru ini meluncurkan herbal anti-kanker, begitukah maksudmu?”

“Bukan,” Bukan?

“Maksudku kau bukan dari keluarga Byun?” Oh, tidak! Bagaimana ini? Bagaimana jika pria itu mengiranya seorang stalker dan mencari-cari informasi tentangnya? Ini gila! Kenapa ia bisa mengucapkan kata-kata frontal seperti itu… kepada seseorang yang seharusnya dihindarinya?

“Ah,” ucap Dio sambil tersenyum samar. Entahlah apa yang ada di pikirannya sekarang. “Ternyata kau menyukaiku tapi salah mengira namaku?”

“Apa?”

“Kau terkejut? Saat kau bercermin saat ini juga, kau akan lebih terkejut.” balasnya santai.

“Hah?”

“Sadarkah kau kalau pipimu itu memerah di hadapanku?”

“Apa?”

Jadi Dio hanya diam dan melangkahkan kakinya untuk lebih dekat ke arah Sulli. Sekarang ia mengangkat tangannya dan… menempelkannya ke pipi Sulli. “Apa kalau begini kau sudah tidak akan berkata ‘hah’ dan ‘apa’?”

Dan sensor itu berjalan cepat. Ia memanaskan otak Sulli yang tadi sempat membeku. Bagaimana ini? Ia sudah ketahuan. Dengan terang-terangan dan sangat memalukan.

“Kalau kau mau, kita bisa berhubungan gelap. Kutunggu kau hari Senin di Rown Manor jam satu siang.” ucapnya.

Dio masih belum melepaskan tangannya dari pipi Sulli, sebaliknya dia malah mendekatkan wajahnya ke wajah Sulli. Oh Aslan, apa yang dilakukan pria itu terhadap Sulli? Bibirnya… Oh…

“Datanglah,” bisiknya lembut di telinga Sulli.

Dan setelah itu segalanya selesai.

Dia pergi. Meninggalkan Sulli yang masih terdiam dengan pikirannya sendiri.

“Aslan… Aku sudah tidak perawan,” ucapnya ketika sudah tersadar penuh. “Bagaimana aku mengatakan hal ini pada His Grace?”

“Oh, Your Grace, maafkan keterlambatanku,” ucap Letitia dengan nafas tersengal-sengal. “Aku baru saja menolong seorang gadis belia yang pingsan setelah keluar dari Cair Paravel.”

“Oh Lety,” balas Sulli singkat. “Tak apa-apa. Ayo segera pulang,”

“Apa kau baik-baik saja, Your Grace?” tanya Letitia khawatir. Sulli kelihatan pucat di tengah musim gugur yang tidak terlalu dingin ini.

“Entahlah, ayo jalan. Aku ingin segera sampai rumah,”

~k~

Jadi apa yang telah dilakukan Sulli semalaman ini? Memikirkan bagaimana Dio Soilaven menciumnya? Ngomong-ngomong benarkah sebuah ciuman? Kenapa hanya sekilas dan tak bersensasi? Sebentar─benarkah ia berciuman? Bukankah lebih mirip tabrakan bibir karena hanya menyentuh ujung bibir bagian atasnya saja?

Ah, gila! Intinya aku sudah tidak perawan, batinnya. Ia merubah posisi tidurnya. Ke sini. Ke sana. Oh Aslan! Ada apa dengannya? Gadis manis ini mulai tidak bisa tidur karena memikirkan seorang pria!

~k~

“Astaga, Sulli! Badanmu panas sekali,” ucap Rowena, Duchess of Rovaldine, yang sekarang sedang dalam tahap membangunkan putri bungsunya ini. “Letitia!” jeritnya anggun. Ia membelai-belai rambut Sulli. Ia khawatir, tidak biasanya Sulli sakit. Daya tahan tubuhnya biasanya bagus.

“Ada apa, Your Grace?” ucapnya tergopoh-gopoh dari dapur. Masih dengan celemek yang melingkari lehernya.

“Apa kau tahu Sulli sakit?”

“Benarkah?” balas Letitia sama tidak tahunya. Ia mendekat ke arah Sulli, lalu meletakkan telapak tangannya di atas dahi Sulli.

“Saya akan memanggil dokter keluarga, Your Grace,” ucapnya lalu keluar dari kamar.

“Ya. Ya. Benar. Lakukan itu.”

~k~

“Bagaimana keadaannya, Dok?” tanya sang Duchess khawatir. “Dia baik-baik saja kan?”

“Dia baik-baik saja. Hanya kelelahan dan flu berat.” jawabnya singkat dan tanpa sapaan tanda kesopanan. Dokter termasuk keluarga ilmuwan, makanya ia tak melakukan hal-hal yang menurutnya tak penting. Apa itu kesopanan bangsawan? Hal yang merepotkan untuk mereka.

“Ah, begitu,” balasnya.

“Mungkin dia akan sembuh dalam waktu tiga hari. Jangan membuatnya keluar rumah.”

“Baik. Aku akan memberitahunya.”

Beberapa jam setelahnya, Sulli bangun setelah dikompres air hangat di dahinya. Ia mengerjap-erjapkan matanya. Bibirnya bergumam, “Mama,”

Sang Duchess yang tertidur di hadapannya terbangun, “Sulli, kau sudah bangun, sayang?”

“Minum,”

“Ah benar. Kau harus minum banyak.” ucapnya sambil menyodorkan segelas air putih kepada putri di hadapannya. “Kau kelelahan dan flu berat. Tadi dokter sudah ke sini.”

“Begitukah? Aku ingin makan selain bubur. Bolehkah?” tanyanya sedikit manja.

“Tentu. Dokter tidak bilang apa-apa soal makanan. Letitia sudah menyiapkan makanan untukmu. Duduklah. Mama akan menyuapi.” Nyonya Mareviere mengalihkan tatapannya ke sesuatu yang tertutup kain di meja dekat tempat tidur Sulli. Ia membuka dan mengambilnya, bersiap menyuapi Sulli.

“Apa His Grace tahu aku sakit?” tanyanya ingin tahu. Biasanya ayahnya selalu sigap kalau sudah menyangkut anak-anaknya. Tapi ia tidak melihat batang hidungnya kali ini. Ada dimanakah ayahnya?

“Duke sudah keluar sejak pagi buta. Katanya ada sesuatu yang harus diselesaikan. Perkebunan atau apalah. Aku juga tidak paham kenapa Duke masih mempertahankan perkebunan yang perlu pengintaian itu.”

“Apa His Grace berniat menikahkanku tahun ini?” tanyanya sebelum memakan sesendok makanan yang disodorkan oleh ibunya. “Dan maharnya adalah perkebunan? Supaya nantinya aku tidak bercerai karena harga perkebunan itu yang sangat mahal?”

“Duke belum pernah mendiskusikannya padaku, Sayang. Jangan terlalu khawatir. Bisa jadi itu untuk Kris. Untuk pernikahan di bawah tangan.” ucapnya sambil mengusap rambut panjang Sulli Mareviere.

“Pernikahan di bawah tangan?” tanya Sulli tak paham.

“Kakakmu tidak tampak antusias dalam memilih wanita. Jadi sepertinya Duke punya wacana untuk menikahkannya di bawah tangan. Kalau kau sadar, Duke sama persis seperti kakakmu.” ungkap sang Duchess.

“Mama menikah di bawah tangan?”

“Ya. Karena ayahmu tidak berada di sini. Ia dengan jiwa mudanya ikut bersama His Highness bereksplorasi ke daerah-daerah di luar pulau ini.”

“Apa kalian baik-baik saja setelah itu?” tanya Sulli ingin tahu.

“Tentu. Bahkan kami memiliki kalian berdua dan ayahmu tidak memiliki simpanan satu pun.” ucapnya sambil tersenyum mengingat momen-momen romantisnya dengan sang Duke.

“Ah, begitu,” balasnya setelah menghabiskan isi gelasnya. “Apa saat menikah Mama masih perawan?” tiba-tiba terbesit pertanyaan konyol yang menjadi mimpi buruknya tadi malam. Pertanyaan yang membuatnya sakit fisik dan jiwa.

“Tentu,” jawabnya mantap. Seolah tak ada keraguan. Seolah mengetahui batasan-batasan keperawanan yang dimaksudkan.

“Bagimana dengan ayah?”

“Sejujurnya pria tidak menyukai keperjakaan. Tapi karena ayahmu lebih menyukai ekspolasi daripada wanita, kurasa waktu itu ayahmu masih.”

“Mama, bagaimana indikasi ketidakperawanan itu?” akhirnya Sulli menanyakan kejelasan masalahnya secara implisit.

“Kalau kau sudah melakukan hubungan badan, berarti kau sudah tidak perawan. Hal itu terjadi saat pria menelanjangimu dan memasukkan sesuatu di saluran pipismu.”

“Hanya itu?” tanyanya tak percaya. Jadi selama ini ia yang berlebihan?

“Ya. Memang apa lagi?” Duchess of Rovaldine balik bertanya.

“Kalau sudah pernah berciuman, apa masih bisa masuk ke Cair Paravel?”

“Setahuku bisa,” balasnya tak begitu yakin tapi lumayan meyakinkan orang lain.

“Syukurlah,”

“Ada apa? Apa kau berciuman?”

“Eh─”

*****

Note:

(Your / His / Her) Grace: sapaan kepada para bangsawan yang punya gelar lebih tinggi/ tertinggi. Your Grace untuk seseorang yang sedang diajak bicara. His/Her Grace merupakan kata ganti yang merujuk ke bangsawan lain.

(Your / His / Her) Majesty: sapaan kepada raja. Your Majesty untuk raja yang sedang diajak bicara. His/Her Majesty merupakan kata ganti yang merunjuk pada orang ketiga (sedang membicarakan raja).

(Your / His / Her) Highness: biasanya untuk keluarga inti raja. Ketentuan sama.

*****

12 thoughts on “That Glazed Winter – Chapter 1

  1. wow! dio walau ngomongnya ceplas ceplos nggak ada sopannya tapi manis juga aduuuh suka deh
    apa nantu hubungan sulli dan dio bakal jadi hubungan terlarang ya? dan bakal dapat banyak hambatan..
    next part soon

  2. Ya ampun my handsome dio walapun tangan sulli yang kamu pegang tapi ko aku jadi ikut deg degan yah hehehe
    Pertemuan pertama yang greget, ayo sulli nanti temuin dio
    Oke ff nya bagus dan ditunggu part selanjutnya :))

  3. Ya ampun gak tau lagi mau comment apa…
    Suka cast nya.suka jalan ceritanya..
    Kelanjutanya ditunggu.

  4. Ffny bagus walaupun masih rada bingung sama panggilannya…
    Itu dio straight banget yah.
    Hahahah
    Baru juga kenal sulli tapi udah dicium ajja
    Baca next chap ahhh

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s