[Chapter 8] 2050

2050

“When you’re not a human..”

by Shinyoung

Main Cast: Kim Myungsoo & Son Naeun || Support Cast: Infinite & Apink || Genre: Fantasy, Angst, Romance || Length: Chapter 8/? || Rating: || Credit Poster: iheartpanda || Desclaimer: Official written by me. The cast belongs to God. No copy-paste. || A/n: Haloo! Aku balik nih dengan chapter 8. Huahaha. Ngomong-ngomong, aku sebenernya udah nulis sampe chapter 10, cuma aku masih edit-edit lagi biar gak ngebosenin. Untuk chapter sebelumnya, soal Myungsoo-Naeun nya, maaf kalau sedikit>< emang chapter 7 difokusin untuk bagian-bagian penting dulu. Kalau mulai chapter 8 udah aku banyakin kok Myungsoo-Naeun nya HAHA. Udah ah, enjoy!

Chapter 8 — Move to Incheon

Teaser | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7

**

Sebelumnya: Naeun telah mengetahui bahwa yang menciptakan Jaehyun tak lain adalah Kim Myungsoo. Pikiran Naeun terus berkelebat dengan pertanyaan ‘Bagaimana bisa Kim Myungsoo hidup di tahun 3000?’. Krystal juga menemukan sebuah foto misteri di dalam ruang kerja ayahnya.

Naeun, Bomi, dan Jaehyun mulai merencanakan perjalanan mereka untuk melawan Barvseu. Semakin cepat mereka membunuh Barvseu, maka semakin cepat juga bagi Naeun dan Bomi untuk terbebas dari kutukan Robovent yang menjalari tubuh mereka.

Disisi lain, Naeun ingin mengajak Myungsoo untuk ikut bersama perjalanan mereka. Tapi, bukankah itu berbahaya bagi seorang Kim Myungsoo?

**

Veloza Land, 2050

“Tunggu! Kim Namjoo!”

Namjoo membalikkan badannya dan mendapati Lee Sungjong yang terus-terusan mengejarnya. Rupanya, laki-laki itu tak gencar untuk mengejar Namjoo karena ia ditugaskan untuk menangkap Namjoo.

Dengan terpaksa, Namjoo berlari semakin cepat menjauhi Sungjong. Namun, laki-laki itu berhasil menangkap Namjoo sebelum gadis itu sempat menyebutkan mantra kutukan.

“Aish! Lepaskan aku, Sungjong!” pekik Namjoo. Ia berusaha melepaskan genggaman kuat laki-laki itu, namun tenaga Sungjong jauh lebih besar dari gadis itu. Akhirnya, gadis itu menyerah. “Apa maumu?!”

“Aku ditugaskan ayahmu untuk menangkapmu, Kim Namjoo,” kata Sungjong. “Entahlah, akhir-akhir ini dia merasa bahwa ada satu hal yang ia lupakan dan ia memintamu untuk menyembuhkannya.”

“Aku bahkan tidak tahu caranya!” Namjoo meraung. “Dan, kau sebagai sahabatku! Seharusnya kau membantuku! Bukan, menyerahkanku pada ayahku. Bahkan, dia bukan ayahku!”

Sungjong terdiam. Perlahan ia melepaskan tangan Namjoo. “Benar, aku hanya sahabatmu,” katanya kemudian ia memalingkan wajahnya. “Pergilah, jauh-jauh. Sebelum, aku menangkapmu lagi.”

Namjoo menatap wajah sahabatnya tak percaya. Tapi, ia bisa merasakan bahwa ada kemarahan yang menjalari wajah laki-laki itu. Sebelum ia kembali terbang pergi meninggalkan Sungjong, gadis itu mengecup pipinya.

“Aku menyukaimu, bodoh,” kata Namjoo dan terbang pergi.

Sungjong menatap gadis itu dan ia bisa merasakan rona kemerahan yang mulai menjalari wajahnya serta telinganya.

**

Seoul, 2014

Sedangkan itu, di Restoran Youdora, tiga Robovent tengah berbincang-bincang tentang rencana mereka, Kim Myungsoo, dan terakhir kali tentang pernyataan Naeun yang ingin mengajak Myungsoo untuk ikut dalam perjalanan mereka. Bomi dan Jaehyun sontak melebarkan mata mereka tak percaya ke arah Naeun. Mengetahui reaksi mereka, Naeun langsung cemberut karena dia tahu pasti jawabannya adalah ‘tidak’.

“Kenapa dengan wajahmu?” tanya Jaehyun. “Kita bahkan belum menyebutkan jawabannya. Jangan-jangan kau yakin bahwa kita akan menjawab ‘tidak’?”

Naeun mengangguk pelan. Bibirnya bergetar ingin mengatakan sesuatu, namun dia tidak bisa. Akhirnya, hanya helaan nafas lah yang menjadi jawaban atas pertanyaan Jaehyun. Ia menggosok-gosok hidungnya.

“Aku mengizinkanmu,” kata Bomi. “Tapi, bukankah itu membahayakan kehidupan Myungsoo? Kau tahu kan, Myungsoo hanyalah manusia biasa. Kita adalah Robolars dan artinya juga kita harus melindunginya.”

“Tugas tambahan sebenarnya,” kata Jaehyun. “Aku juga setuju tapi itu dia juga yang aku takutkan. Apa alasanmu ingin mengajaknya? Jangan katakan bahwa kau tidak punya alasan.”

“Aku punya alasan,” tukas Naeun. “Kim Myungsoo adalah yang menciptakanmu, Ahn Jaehyun.” Naeun mengambil nafas dalam-dalam. “Entahlah, aku hanya penasaran dengan Kim Myungsoo dan hidupnya juga terancam.”

“Terancam?” Bomi mengerutkan keningnya. Kemudian, ia menelusuri mata Naeun dan meneliti wajah gadis itu. “Apa dia akan dibunuh atau dia akan masuk penjara?”

“Sebenarnya, aku pernah mendapatkan mimpi buruk,” kata Naeun. Bahunya langsung merosot ke bawah dan menatap flat shoes-nya. “Aku bermimpi bahwa Myungsoo akan dibunuh oleh mantan kekasihnya yang Myungsoo tidak akui, sebenarnya. Aku hanya ingin memastikannya bahwa ia baik-baik saja.”

“Kau menyukainya?” tanya Jaehyun. “Kau ingin memastikannya bahwa ia baik-baik saja tampaknya kau benar-benar menyukainya,” Jaehyun menebak-nebak. Kemudian, laki-laki itu mengangkat wajah Naeun.

Naeun menatapnya sendu. “Aku tidak menyukainya, aku hanya takut dia terluka. Tidak mungkin seorang Robolars mencintai manusia.”

“Kau bukan Robolars,” Bomi menekankan. “Kita semua disini Robovent. Jika kau tidak keberatan untuk mengakuinya, akui saja kalau kau menyukainya. Tak ada hal yang tidak mungkin di dunia ini, Son Naeun.”

“Kita hidup di dunia yang berbeda,” kata Naeun menatapnya marah. “Aku tidak menyukai Kim Myungsoo. Aku hanya peduli.”

“Sudahlah, Yoon Bomi,” kata Jaehyun menghentikan Bomi yang ingin buka suara lagi. Ia memijit pelipisnya kemudian ia mengangkat perkamennya. “Kalau begitu, ajak dia.”

“Tapi, Jaehyun,” kata Bomi. Ia tampak takut-takut untuk mengutarakan pernyataannya, tapi ketika Jaehyun menatapnya Bomi pun berubah pikiran. “Aku takut dia justru—ya kau tahu—kecelakaan, maksudku.”

Naeun menatapnya. “Aku akan menjamin kehidupannya.”

“Kalau itu maumu,” kata Jaehyun mantap. “Aku rasa kau yakin dengan perkataanmu. Jadi, kita tidak perlu melarang dia, Yoon Bomi. Lagipula, aku juga ikut penasaran dengan Kim Myungsoo—penciptaku.”

Bomi menatap kukunya yang dicat dengan rapi. “Ya, benar.”

“Baguslah, kalau begitu,” kata Naeun. Ia menghela nafas lega lalu menatap kedua sahabatnya secara bergantian. “Kalau begitu, apa besok kita bisa memulai merancang alat transportasinya?”

“Seharusnya begitu,” kata Jaehyun. “Besok tanggal?” tanyanya sambil membuka kalender meja yang terletak di tengah-tengah meja bundar itu. “Hari Rabu tanggal 6 Maret. Kita punya waktu sampai bulan Juli, setelah itu ingatan Kim Joon-Myeon akan kembali.”

“Bagus, kita masih punya waktu lama,” kata Naeun. “Setidaknya, kita bisa membagi tugas dan mulai merancangnya. Tapi, dimana kita akan merancangnya? Aku tidak yakin soal pesawat yang bisa dilihat manusia itu.”

Bomi mengangkat tangannya. “Aku punya rumah di Incheon dan rumah itu benar-benar jauh dari pemukiman penduduk.”

“Hebat, kapan kau beli itu?” tanya Jaehyun. “Setahuku, kau baru tiba di Seoul bersamaan dengan Naeun. Ya, sekitar bulan Januari awal bukan?”

“Ya,” kata Bomi. “Rumah itu milik orang tua angkatku.” Bomi tersenyum lebar dan Naeun bertepuk tangan kagum. Sedangkan Jaehyun memutar matanya seakan-akan hal itu tidak penting.

“Aku pikir, kau yang beli,” kata Jaehyun.

Bomi terkekeh. “Aku tidak sekaya kalian berdua. Waktu aku menjadi Robolars, aku sering menghamburkan uang, tahu. Jadi, ya, tabunganku tidak sebanyak kalian—tapi, aku bisa bilang cukup banyak sekarang karena tambahan dari orang tuaku.”

“Oke, sekarang sudah larut malam,” kata Naeun akhirnya. “Kita harus pulang. Segera dan mulai besok kita harus memutuskan izin kerja.”

“Apa? Itu tidak akan membuat Doojoon sajangnim curiga?” tanya Bomi. “Aku pikir kita harus memutuskan izin kerja satu-persatu atau—.” Bomi terdiam sejenak dan berpikir. “—kau punya rencana?”

Naeun menampilkan gigi-giginya yang rapi. “Tentu saja, aku bisa meminta ramuan dari Namjoo untuk membuat sajangnim lupa tentang kita bertiga. Aku pikir, setidaknya kalian baru beberapa bulan kan?”

“Aku tiba disini sejak Desember dan mulai bekerja ketika bulan Januari. Sedangkan Bomi, dia bekerja disini ketika bulan Februari awal,” jelas Jaehyun. Ia mengetuk-ngetuk meja yang menandakan ia mulai berpikir serius.

“Bagus, setidaknya ramuan itu hanya menghapus tentang bagian kita dari hidupnya,” kata Naeun. “Aku bisa membawa ramuan itu besok juga. Jaehyun, kau bawakan minuman itu padanya. Bomi, kau pastikan bahwa kau pura-pura terkejut saat melihat sajangnim pingsan.”

“Aku pikir, ada bagusnya juga memberikan pada seluruh karyawan disini saat kita sudah pulang bekerja agar tidak ketahuan,” kata Jaehyun. “Itu rencana paling menakjubkan yang pernah ada.”

**

Myungsoo terkantuk-kantuk menunggu Naeun di depan televisinya. Padahal, dia sudah meminum kopi, tapi tetap saja ia masih mengantuk. Kini, dia menepuk-nepuk pipinya agar tidak mengantuk. Sampai, bunyi pintu terbuka terdengar, ia langsung terlonjak dan bangkit dari sofa. Buru-buru, ia menuju pintu utama dan menyambut Naeun dengan tatapan antara mengantuk dan marah.

“Kenapa kau baru pulang?” tanya Myungsoo. “Kenapa kau tidak memberitahuku bahwa kau akan pulang malam?” Myungsoo mendorong tangannya ke arah tembok dan menatap Naeun serius.

Naeun melepaskan sepatunya dan tak bergeming. Ia menaruh sepatunya diatas rak sepatu, kemudian ia menatap Myungsoo dari atas sampai bawah dan sepersekian detik kemudian ia menatap wajah laki-laki itu.

Gadis itu meneliti wajah Myungsoo dan matanya yang mengantuk. Seolah-olah ia ingin mencari tahu apa yang ada dibalik mata kecil itu. Memang, tatapan Myungsoo setajam elang, namun Naeun tidak bisa memungkiri itu lah karisma dari seorang Kim Myungsoo.

“Ada apa?” tanya Myungsoo setelah berdeham. “Kau tahu, itu tidak sopan bagi seorang yang lebih muda untuk meneliti wajah seseorang yang lebih tua. Terutama, aku adalah laki-laki.”

“Memangnya kenapa kalau kau laki-laki?” tanya Naeun sedatar mungkin. “Dan, aku pulang telat karena ada urusan kecil. Aku mau menceritakanmu semuanya setelah aku mandi.”

“Tentang?”

“Aku bilang,” tukas Naeun. Ia menatapnya tajam. “Nanti setelah aku mandi.”

Myungsoo hanya mengangguk dan membiarkan gadis itu menuju lantai dua untuk mandi dan berpakaian. Atau juga, melakukan hal-hal lain yang harus ia selesaikan. Akhirnya, rasa kantuk Myungsoo menghilang. Karena penasaran tentang hal yang akan dibicarakan oleh Naeun, laki-laki itu memilih untuk kembali memutar televisinya dan mengganti channel karena tidak ada tontonan menarik semalam ini.

Mungkin ada bagi para pencinta drama, tapi Myungsoo bukanlah orang yang mencintai drama korea. Terutama, akhir-akhir ini, banyak penonton yang rela tidur malam untuk menonton drama berjudul ‘You Who Came From The Stars’ yang baru saja selesai Februari lalu atau ‘Three Days’ yang baru saja diputar. Menurutnya, tidak ada hal yang menyenangkan daripada fotografi jika ia harus berkata seperti itu.

Oppa,” panggil Naeun.

Spontan, Myungsoo langsung menoleh ke arah lantai dua dimana Naeun berdiri. Gadis itu menatapnya dalam-dalam dan kembali meneliti wajahnya. Sedangkan Myungsoo terdiam menunggu.

“Tolong buatkan aku roti atau apa saja,” kata Naeun akhirnya. Rambutnya masih basah dan ia masih mengenakan kimono untuk mandinya yang berwarna merah muda. Ia menggosok-gosok rambutnya yang basah dengan handuknya. “Aku lapar.”

“Ah, akan aku buatkan makan. Keringkan dulu rambutmu. Nanti aku yang repot kalau kau sakit lagi,” kata Myungsoo. Kemudian, ia langsung melengos menuju dapur. Ia memeriksa kulkasnya yang ramai dengan ini dan itu. “Aku seharusnya membuatkatkannya jus buah.”

Dengan ogah-ogahan, Myungsoo mengambil buah stroberi kesukaan Naeun—pernah, Naeun meminta Myungsoo untuk membuatkannya jus stroberi, tapi karena Myungsoo tidak punya, akhirnya ia menangis.

Tangannya dengan cepat memotong buah-buah itu agar terpisah dari tangkai dan daunnya. Lalu, ia memasukkan buah-buah itu ke dalam juicer serta beberapa mililiter air. Terakhir, ia menambahkan beberapa sendok teh gula. Laki-laki itu menutup juicer-nya dan menghidupkannya. Setelah tampak halus, Myungsoo mematikannya.

Ia menuangkan isi juicer itu ke dalam gelas bening yang ukurannya pas untuk menunangkan seluruh jus stroberi tersebut. Kemudian, ia meletakkannya diatas bar nya. Kini, ia sudah beralih ke arah lemarinya dan ia membukanya. Ia mengambil dua helai roti dan mulai mengoleskannya dengan selai stroberi, lagi.

“Kau sedang apa?” tanya Naeun dari ruang tengah. Suaranya sedikit berteriak namun ia tidak berteriak seperti biasanya karena dia tahu ini sudah tengah malam dan tak baik mengganggu tetangga.

Tapi, peduli apa tentang tetangga, Woohyun adalah tetangganya.

Myungsoo hanya diam dan melangkah keluar dari dapurnya dengan tangan kanan memegang gelas dan tangan kiri memegang roti oles beralaskan piring kecil yang sebenarnya berguna untuk mengalasi cangkir.

“Ini,” kata Myungsoo sambil menaruh keduanya diatas meja kacanya. Ia duduk disamping Naeun dan tenggelam disana. Matanya menatap televisi yang daritadi hanya ia putar tanpa suara.

Gadis itu tersenyum lebar. “Makasih.”

“Bukan masalah,” kata Myungsoo. “Jadi, kau mau bercerita tentang apa? Aku harap itu bukanlah tentang mimpi burukmu lagi. Kenyataannya, tidak ada tanda-tanda tentang orang akan membunuhku.”

“Bersyukurlah,” kata Naeun. Gadis itu menggigit rotinya dan mengunyahnya pelan-pelan. “Ini bukan tentang mimpi burukku. Melainkan hal lain yang lebih buruk daripada mimpi burukku.”

“Ow,” kata Myungsoo pura-pura sakit. “Aku harap aku tidak mendengarnya. Tapi, silahkan saja. Kau boleh bercerita padaku dan aku harap aku bisa membantumu, Son Naeun.”

“Aku Robovent—setengah robot—dan aku punya teman di Restoran Youdora yang juga Robovent. Mereka adalah—.”

“Mereka? Berapa banyak?”

Naeun memutar bola matanya. “Bisakah kau tidak memotong perkataanku? Aku sedang bercerita,” kata Naeun dan Myungsoo hanya mengangguk pelan membiarkan gadis itu melanjutkan.

Tangan Myungsoo menekan tombol merah pada remote televisinya dan membiarkan televisi tersebut mati. Myungsoo menatap televisi yang sudah padam itu lurus-lurus karena tidak berani menatpa Naeun.

“Mereka adalah Yoon Bomi dan Ahn Jaehyun,” kata Naeun. Myungsoo baru ingin membuka mulutnya karena mendengar nama Jaehyun disebut-sebut, namun ia kembali mengatupkan bibirnya ketika melihat Naeun. “Mereka juga Robovent dan perbedaannya Jaehyun berasal dari tahun 3000. Sedangkan, aku dan Bomi berasal dari tahun 2050. Kami bertiga harus membunuh induk dari Robolars yaitu Barvseu yang entah dimana,”

“Kami berencana pindah untuk mulai merakit alat transportasi—pesawat, lebih tepatnya. Pesawat yang bisa berubah-ubah itu harus dibuat dalam waktu secepatnya agar kami bisa mencari bantuan Robolars lain untuk membunuh Barvseu.”

Naeun terdiam sejenak menunggu reaksi Myungsoo. Laki-laki itu sadar bahwa Naeun menunggunya dan ia pun mengangguk pelan. Naeun kembali menarik nafas dalam-dalam. “Kami juga menemukan fakta bahwa kau lah yang menciptakan Jaehyun dan kau masih hidup di tahun 3000. Entahlah, aku sama sekali tidak mengerti tentang hal itu,”

“Tapi yang pasti, kami harus segera pindah dan mulai melakukan perjalanan. Aku mengajakmu, Kim Myungsoo. Ini juga demi dirimu agar kau tidak terancam untuk dibunuh oleh Krystal. Aku berharap kau mau ikut.”

Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut laki-laki itu. Tubuhnya bergetar hebat dan bibirnya berkedut ingin mengatakan sesuatu. Namun, gagal, usahanya ingin berbicara pupus karena saking gugupnya. Ia tidak bisa percaya bahwa ia yang menciptakan Jaehyun. Ia bahkan tinggal di tahun 3000. Ia hanya manusia biasa yang tidak bisa menciptakan robot. Ia hanya seorang fotografer atau model terkadang.

Tapi, ada sedikit rasa tergoda dari Kim Myungsoo yang ingin ikut dalam perjalanan Naeun. Ia juga membenarkan soal Naeun yang mengatakan bahwa ingin melindunginya dari ancaman pembunuhan. Perasaannya tercampur aduk oleh rasa penasaran karena alasan ayah Krystal yang ingin membunuhnya dan ingin ikut dalam perjalanan Naeun. Dia benar-benar tidak tahu, tapi akhirnya dia menghela nafas panjang.

“Oke, aku ikut. Tapi, aku harap kita hanya sebentar,” kata Myungsoo. “Maksudku, aku ingin tahu alasan ayah tiri Krystal ingin membunuhku dan dendam ayah tirinya pada ayahku.”

“Maaf, perjalanan kita membutuhkan waktu cukup lama,” kata Naeun. Ia memijit pelipisnya. “Begini saja, kalau kau berharap ingin tahu, aku bisa berteleportasi mengunjungi Krystal atau memastikan tentang ayah tirinya.”

Myungsoo hanya mengangguk. “Kalau begitu maumu, aku ikut saja,” katanya. “Kembali ke kamarmu, sudah larut.”

Naeun mengangguk dan sebelum ia sempat bangkit, Myungsoo menepuk kepala gadis itu dan tersenyum tipis ke arahnya. Lalu, Myungsoo pergi ke lantai dua dan masuk ke kamarnya. Keheningan di dalam ruang tengah membuat Naeun cepat-cepat menghabiskan roti dan jus-nya. Dalam hitungan menit, dia sudah kembali ke dalam kamarnya dan meminta Namjoo membuatkan ramuan.

**

Semua berjalan lancar dan kini seluruh karyawan termasuk Yoon Doojoon ikut pingsan dalam aksi ketiga Robovent sinting itu. Naeun tertawa puas setelah aksi mereka berhasil. Jaehyun hanya menggeleng-geleng saat melihat Naeun dan Bomi yang daritadi memekik girang sambil berloncat-loncat karena menjalankan aksi mereka dengan mulus.

“Kalau begitu, kita harus pergi sekarang dan memastikan tidak ada barang yang tertinggal,” kata Jaehyun. “Seharusnya juga kita membawa seragam kita agar mereka tidak curiga.”

Aigoo, kita benar-benar hebat,” kata Bomi. “Kita harus bergegas secepatnya dan besok kita harus pindah. Aku sudah meminta izin pada kedua orang tuaku dan mereka mengizinkanku.”

“Aku harap orang tuamu tidak pernah memeriksa rumah itu,” kata Naeun sambil melepas seragamnya dan memasukkannya ke dalam tas. “Ngomong-ngomong soal tiket kereta—.”

“Kita berangkat pakai mobil saja,” kata Jaehyun. Ia menyandangkan tasnya ke bahu dan berjalan keluar bersama Bomi dan Naeun. Lalu, ia mengunci restoran tersebut setelah memastikan bahwa di tangan Doojoon ada kunci restoran.

Bomi tersenyum dan Naeun juga ikut tersenyum. “Aku benar-benar senang rencana kita berjalan sangat lancar. Tapi, kalau mereka sampai curiga toh kita sudah pindah ke Incheon,” kata Bomi.

“Itulah yang aku harapkan,” kata Naeun. “Kita bertemu jam berapa?”

“Aku akan jemput Bomi setelah itu aku ke rumahmu sekitar jam 8 pagi. Setelah itu kau dan Myungsoo—menggunakan mobilnya—mengikuti kita dari belakang,” Jaehyun menjelaskan. “Dengan begitu kita bisa sampai bersama-sama.”

Naeun mengangguk sambil masuk ke dalam mobil Jaehyun dan duduk di belakang bersama Bomi. Jaehyun duduk di depan untuk mengemudikan mobilnya tentu saja.

Jaehyun pun berdeham memecah keheningan. “Myungsoo sudah yakin mau ikut?” tanyanya. “Apa kau benar-benar sudah memberitahunya bagaimana ancamannya jika dia ikut?”

“Ya,” kata Naeun sambil mengangguk. “Dia benar-benar mau ikut. Padahal tadi pagi aku sudah memberitahunya untuk kedua kali soal itu dan dia bilang tidak apa-apa. Dia juga bisa memantau Krystal.”

“Krystal? Siapa itu?” tanya Jaehyun. Bomi mengangguk setuju. “Aku rasa kau melewatkan sesuatu yang belum kau ceritakan pada kita berdua.”

“Iya,” kata Naeun setuju. “Aku memang belum menceritakan hal ini pada kalian. Dia adalah orang yang akan membunuh Myungsoo. Ayah tirinya punya dendam pada ayah Myungsoo dan ingin membunuh Myungsoo lewat Krystal.”

“Jahatnya,” kata Bomi takut.

“Ya, manusia sekarang rata-rata seperti itu,” kata Jaehyun. “Itu tidak seberapa daripada Kim Joon-Myeon yang akan membunuh kalian alias menghancurkan kalian menjadi berkeping-keping.”

“Oh, aku tidak bisa membayangkan hal itu,” kata Bomi. Ia bergidik ngeri sambil mencoba membayangkan bagaimana tubuhnya dipotong menjadi berkeping-keping atau dimasukkan ke dalam alat pemotong.

Naeun tertawa getir. “Aku tidak mau membayangkan hal itu. Itu membuatku gila dan frustasi. Apalagi mendengar nama Kim Joon-Myeon membuat otakku mendadak tidak berfungsi.”

“Itu mengerikan,” kata Jaehyun.

Setelah Bomi turun, tentu saja mobil Jaehyun langsung melaju menuju rumah Naeun. Mereka berdua baru tahu bahwa rumah Bomi terletak di ujung komplek mereka jadi mereka tidak perlu keluar komplek lagi.

Naeun mengucapkan terimakasih dan salam perpisahan pada Jaehyun sebelum turun dari mobilnya. Lalu, ia masuk ke dalam rumahnya—bukan, melainkan rumah Myungsoo.

Ia melihat Myungsoo yang tengah menarik turun kopernya ke lantai satu dengan hati-hati. Kemudian, ia berhenti sebentar untuk melihat Naeun yang baru saja masuk dan melepas sepatunya.

Naeun meletakkan sepatunya di rak dan masuk ke ruang tengah. Ia membanting tubuhnya ke atas sofa, sedangkan Myungsoo membawa turun kopernya. Lalu, ia menariknya dan meletakkannya di dekat pintu utama.

Myungsoo ikut duduk di samping Naeun. Laki-laki itu mengacak rambut Naeun dengan senyum khasnya. “Bagaimana dengan kerjamu? Apa tidak mencurigakan kalau kau tiba-tiba resign?”

“Tidak,” kata Naeun yakin. Ia menghidupkan televisi. “Aku sudah memberikan mereka semua ramuan agar mereka lupa dengan aku, Bomi, dan Jaehyun. Besok kita berdua berangkat menggunakan mobilmu.”

“Memangnya kita akan kemana?”

“Incheon.”

Myungsoo langsung terbatuk-batuk dan Naeun menepuk-nepuk punggung laki-laki itu. Setelah berhenti, Myungsoo menatapnya dalam-dalam. “Incheon?”

“Iya, ada apa?” tanya Naeun. “Jangan bilang kau tidak tahu Incheon dimana! Kau tinggal di Korea Selatan lebih lama dariku, Kim Myungsoo.”

“Bukan itu,” kata Myungsoo. Ia memelankan suaranya. “Aku lahir disana dan tinggal disana sampai aku berumur 15 tahun. Lalu, aku pindah ke sini dan orang tuaku meninggal.”

“Oh,” kata Naeun. “Aku baru tahu itu kampungmu.”

“Ya, begitulah. Kau sudah mengatur kopermu?”

“Aku sudah mengepaknya sejak lama, lagipula barang-barangku tidak banyak. Hanya baju dan ini itu,” kata Naeun sambil merentangkan tangannya ke atas. “Sudah ya, aku mau keatas. Besok kita harus bangun pagi.”

Myungsoo mengangguk kemudian ia menepuk kepala gadis itu sebelum Naeun bangkit dan pergi ke lantai dua. Myungsoo hanya tersenyum kecil saat mendengar Naeun menggumamkan lagu BEAST ketika ia menaiki tangga.

**

Krystal menunjukkan ponselnya kepada Jongin ketika Krystal mengunjungi rumah Jongin. Gadis itu rupanya tengah menunjukkan foto ayahnya dan kedua orang laki-laki lain yang tak dikenalnya.

“Siapa menurutmu?” tanya Krystal. “Aku menemukannya di ruangan penyimpanan emas Abeoji. Kau tahu, emasnya bertumpuk-tumpuk. Aku bahkan tidak mengerti tentang laki-laki itu.”

“Kenapa kau tidak mengambil satu batang?” Jongin tertawa pelan. “Aku bercanda. Menurutku, dua orang laki-laki ini adalah sahabat lamanya. Mungkin salah satunya ayahnya Kim Myungsoo,” Jongin mengembalikan ponsel Krystal lalu menatap gadis itu. “Aku pikir mereka sudah berteman sejak lama. Mungkin seperti itu tapi aku tidak yakin juga soal ayah Kim Myungsoo. Coba tanyakan padanya.”

“Benar, aku harus menanyakannya. Siapa tahu dia kenal satu laki-laki yang lain. Kalau memang bukan ayahnya, aku harus mencarinya ke kantor polisi,” kata Krystal sambil memasukkan ponselnya.

Jongin berdecak kagum. “Kau benar-benar peduli soal ini. Jangan bilang kau masih mencintai Kim Myungsoo?” tanya Jongin. “Awas ya kau, Jung Krystal, kalau masih menyukai Myungsoo.”

“Tentu saja tidak! Aku hanya ingin memastikan bukan aku lah yang membunuh Kim Myungsoo,” kata Krystal lalu mengerucutkan bibirnya.

Jongin tertawa dan menarik pipi gadis itu gemas. Lalu, laki-laki itu mengecup bibir Krystal. “Kau milikku, Jung Krsytal.”

Wajah Krystal spontan langsung merona mereah. Ia yakin bahwa wajahnya kini sudah tampak seperti kepiting rebus. “Apa-apaan kau, Kim Jongin. Tentu saja, aku milikmu.”

“Tunggu apa lagi, cepat tanyakan hal itu pada Myungsoo,” kata Jongin. Krystal pun menggeleng pelan. “Aku pikir lebih baik besok aku menanyakannya. Ini sudah larut sekali, dia pasti sudah tidur.”

“Kuharap seperti itu.”

**

Mobil Jaehyun sudah terparkir di depan rumah Myungsoo bersama Bomi di dalam mobil itu. Jaehyun tak mengira bahwa Bomi sudah siap sejak pagi-pagi. Jadi saat Jaehyun tiba di rumahnya, Bomi sudah siap dan sangat rapi dengan dua koper yang dibawanya. Sama seperti Bomi, Jaehyun juga hanya membawa dua koper.

Bomi juga sudah memberi beberapa peralatan yang dibutuhkan mereka untuk merakit pesawat-bisa-berubah itu. Sedangkan, Jaehyun juga sudah mempelajari beberapa cara merakit pesawat itu dan memprogram Robolars.

“Berapa lama lagi kira-kira mereka?” tanya Bomi sambil melahap sarapannya yaitu nasi putih dan kimchi. Bomi menawarkannya pada Jaehyun, tapi Jaehyun menolak karena sudah sarapan.

Jaehyun melirik dasbornya. “Mungkin sekitar 3 detik lagi kalau aku benar. Naeun bilang seperti itu.”

Dan, saat itu juga, Naeun muncul dari pintu utama dan garasi mobil rumah Myungsoo terbuka. Myungsoo keluar dengan mobilnya dan Naeun menutup garasinya. Lalu, gadis itu masuk ke dalam mobil Myungsoo.

“Benar,” kata Bomi setuju. “Hanya 3 detik. Gadis itu benar-benar tepat waktu pantas saja sajangnim menyukai gadis itu. Dia selalu tepat waktu dalam melayani pelanggan kita.”

“Ya,” Jaehyun menyetujui gadis itu. Jari-jarinya menari diatas layar ponselnya. Ia tengah mengetikkan LINE untuk Naeun yang mobilnya sudah siap berada di belakang mereka.

Ahn Jaehyun: Kita berangkat sekarang. Kau sudah siap?

Son Naeun: Seperti yang kau lihat, kami sudah siap. Sangat.

Ahn Jaehyun: Baiklah. Kalau begitu kita berangkat.

Son Naeun: Oke, kami akan mengikutimu dari belakang.

Ahn Jaehyun: Ok!^^

Son Naeun: Ada apa dengan emotikonmu? Cepat mengemudi dan jangan diamkan Bomi.

Ahn Jaehyun: Iya-_-

Setelah itu, Jaehyun segera melajukan mobilnya dan Bomi menutup kotak bekalnya. Ia pun memundurkan kursinya agar bisa memandang keluar jendela dengan posisi yang enak.

“Ngomong-ngomong, rumah itu ada di tengah Incheon atau di pinggir?” tanya Jaehyun sambil memutar kemudinya keluar dari komplek. Kini mereka sudah berada di jalan raya dan menuju jalan tol.

Bomi merentangkan tangannya ke atas. “Tidak begitu di tengah aku pikir. Rumah itu benar-benar luas dan di belakang kita bisa membangun sebuah bangunan untuk merancang pesawat kita.”

“Aku membayangkan bangunan itu tidak terlihat oleh siapapun,” kata Jaehyun. “Lalu, kita membangun sebuah laboratorium atau observasi untuk melihat bintang. Itu pasti menyenangkan.”

“Itu benar-benar tampak seperti kartun ‘Phineas and Ferb’. Mereka membangun laboratorium di rumah mereka tapi tidak ada yang menyadarinya,” Bomi tertawa kecil.

Jaehyun mendengus. “Umurmu sudah 22 tahun tapi kau masih menonton kartun, Yoon Bomi. Ngomong-ngomong, kau jangan memandang keluar jendela terus. Kau harus memberitahu jalannya ketika kita sudah keluar tol.”

“Tenang saja, Ahn Jaehyun,” kata Bomi santai. “Kau ini terlalu bawel untuk ukuran seorang laki-laki. Aku pasti memberi tahumu, kecuali aku tertidur. Bangunkan aku, oke?”

Jaehyun mendecak. “Kau yang bawel. Terserah kau,” katanya sebal.

Sedangkan itu di mobil Myungsoo—Myungsoo dan Naeun yang dari tadi hanya diam-diam saja—punya suasana yang canggung. Myungsoo yang tidak tahu ingin mengatakan apa dan Naeun yang terlalu sibuk dengan pemandangannya.

“Hei,” kata Myungsoo akhirnya. Ia terus mengikuti mobil Jaehyun kemanapun. Jika laki-laki itu pindah jalur, Myungsoo jugak ikut pindah jalur agar dia tidak kehilangan jejak. Tampak seperti menguntit, namun jika seperti itu cara yang lebih baik.

Naeun hanya bergumam dan menoleh ke arahnya. “Ada apa?” tanyanya. “Kau ingin mengobrol?”

“Uh, bukan begitu,” kata Myungsoo lalu tertawa pelan. “Aku hanya tidak menyukai suasana hening seperti ini. Tidak bisakah kau bercerita?”

Naeun sontak langsung tertawa, tapi cepat-cepat ia mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Takut Myungsoo merasa tersinggung oleh perkataannya. “Aku mau cerita apa? Cerita kehidupanku tidak menarik. Aku hanya bekerja dan bekerja.”

“Apa tahun 2050 menyenangkan?”

“Tidak. Menurutku sih. Tapi, bagi para manusia mungkin menyenangkan,” kata Naeun sambil membayangkan kehidupannya saat itu. “Umurku kian bertambah seperti manusia pada umumnya tapi tubuhku tetap sama yaitu besi. Aku harus menggantinya setiap tahun dengan besi yang baru.”

Myungsoo tersenyum kecil lalu menepuk kepala gadis itu pelan. “Setidaknya sekarang kau setengah robot bukan?”

“Kau benar,” kata Naeun tersenyum dan membiarkan tangan Myungsoo masih di atas kepalanya. “Ngomong-ngomong, kenapa kau sering menepuk kepalaku?”

Myungsoo tertawa kecil. “Rambutmu halus dan wajahmu lucu ketika aku menepuk kepalamu. Ekspresimu selalu sama ketika aku menepuk kepalamu—polos.”

Naeun mengerucutkan bibirnya. “Aku tidak polos tahu!” Ia menoleh ke arah Myungsoo kesal dan hanya ditanggapi tawa kecil oleh Myungsoo. “Dan, ekspresiku tidak selalu sama.”

Ia menoleh sekilas ke arah Naeun dan tersenyum kecil. Lalu, ia menarik tangannya dari kepala Naeun. Naeun menatapnya. “Kau boleh meletakkan tanganmu di kepalaku. Tanganmu hangat,” kata Naeun pelan.

“Kalau aku tidak mau?”

“Terserah kau,” kata Naeun sebal. Ia lalu kembali menatap keluar jendela dan menikmati pemandangan jalan tol yang ramai oleh mobil-mobil. Di sisi tol begitu banyak pohon-pohon tinggi yang menambah kehijauan.

“Astaga,” ujar Myungsoo. “Kau marah padaku?” tanyanya. Ia meletakkan kembali tangannya ke atas kepala Naeun dan mengacak rambut gadis itu pelan.

Naeun tersenyum kecil dan menggelengkan kepalanya. Myungsoo bisa tahu bahwa Naeun menggelengkan kepalanya walaupun ia tidak melihatnya karena tangannya yang ada di atas kepala Naeun.

Gadis itu menyenandungkan lagu ‘A Farewell to Myself’ dengan pelan. Myungsoo pun ikut bergumam mengikuti nada lagu itu. “Kau menyukai lagu itu?” tanya Myungsoo.

Naeun terkekeh pelan. “Aku sangat menyukai lagu itu,” katanya. “Sangat enak menjadi pengantar tidur. Aku juga menyukai lagu ‘If I Leave’. Irama lagunya menyenangkan hatiku.”

“Oh, lagu lama itu,” kata Myungsoo. “Ibuku sering memutarnya saat aku tengah mengerjakan tugas-tugasku waktu SMP dulu.”

“Apa kau tidak merindukan orang tuamu?”

“Tentu saja,” kata Myungsoo. “Aku berharap semua orang tuaku masih ada disini. Aku berharap mereka mengenalmu.”

“Kenapa begitu?”

“Kau orang yang menyenangkan, Son Naeun,” kata Myungsoo sambil tersenyum kecil. “Aku selalu dingin pada semua gadis sejak kepergian Suzy. Tapi, waktu aku bertemu denganmu, aku merasa aku tidak seharusnya dingin padamu.”

Naeun tersenyum. “Aku setengah robot karena itu kau tidak dingin padaku.”

Myungsoo menggeleng. “Tentu saja tidak, aku memang merasa bahwa kau bukan seperti gadis-gadis lainnya. Saat kau memanggilku L, aku sangat terkejut. Itu adalah sebutan yang diberikan orang-orang karena aku sangat dingin.”

“Kenapa L?” tanya gadis itu. “Setahuku L adalah karakter dalam anime yang berjudul ‘Death Note’. Aku suka menonton anime ketika aku tinggal di tahun 2050. Begitu banyak anime yang tersimpan di laptopku.”

“Ya, memang benar,” kata Myungsoo. “Aku dipanggil L sesuai karakter ‘Death Note’ itu. Bukankah L memang dingin?”

Naeun menggeleng. “Tentu saja tidak. Kenyataanya kau sangat baik padaku. Kau memberikanku izin tinggal di rumahmu. Kau memberikanku makan. Kau baik bukan dingin.”

“Maksudku L dalam ‘Death Note’,” kata Myungsoo sambil tertawa. “Kalau aku baik padamu, tentu saja. Memangnya aku jahat?”

Belum Naeun menjawab, ponsel Myungsoo berdering dan sebuah pesan masuk. Myungsoo meliriknya dan ia mendapati nama Krystal disana. Kemudian, ia menyuruh Naeun membacakannya.

“Ini ada foto. Dia menanyakan apakah ada ayahmu di dalam foto itu? Katanya juga di dalam foto itu ada ayah tirinya yang berdiri di tengah-tengah.” Naeun menunjukkan fotonya.

Sedangkan Myungsoo melirik sekilas sambil berbolak-balik menatap jalan karena ia tetap mengutamakan keselamatan hidupnya. Sampai akhirnya ia menemukan wajah ayahnya berdiri di kanan.

“Iya,” kata Myungsoo. “Bilang padanya, ayahku berdiri di kanan. Tapi, tunggu, di kiri siapa?” tanya Myungsoo. Naeun kembali menunjukkan fotonya dan Myungsoo memastikan bahwa jalannya kosong.

Ia menatap foto itu dalam-dalam dan ia kembali menatap lurus ke jalan. Lalu, Naeun menarik tangannya dan mengetikkan balasan disana. Myungsoo mencoba mengingat-ingat siapa laki-laki itu. Myungsoo menarik tangannya dari kepala Naeun dan memijit pelipisnya. Ia tampak mengenal laki-laki itu, namun ia tidak ingat siapa dia. Ia mencoba fokus dan sambil menelusuri masa lalunya.

Terakhir kali ia melihat laki-laki itu saat ia masih SMP dan saat itu ia masih di Incheon, di rumah lamanya. Berbagai ingatan muncul satu demi satu, sampai akhirnya sebuah ingatan masa lalu tentang dirinya dan seorang gadis yang pernah ia cintai.

Ingatan lama yang ia ingin hapus, namun gagal.

“Benar.”

“Apa?” tanya Naeun. “Aku harus mengirimnya?”

“Jangan,” kata Myungsoo. “Bilang pada Krystal bahwa laki-laki yang satunya adalah ayah dari Bae Suzy.”

**

 

a.n

tuh, gimana? udah aku banyakin loh bagian myungsoo-naeun nya. sebenernya, awal-awal emang aku belum banyakin karena di chapter awal-awal ditekankan bahwa myungsoo masih suka sama suzy, walaupun sebenernya sampe sekarang dia juga masih suka HUAHAHAHA. ini belum sampe tengah-tengah cerita loh, tapi makasih yang udah setia nunggu dan baca

10 thoughts on “[Chapter 8] 2050

  1. lanjut…😀 ecie,, secara ga langsung myungsoo bilang ke naeun klo naeun itu special ya buat dia kkk

  2. Aaaa… Chater inii ngegantung T.T hikss.. Tpii ggpp, krenn torr, dooh myungeun msiih krang gregett, romantisin dkit dong xD, ~ㅋㅋㅋㅋ ayoo thoorr fighting (ง’̀⌣’́)ง

  3. perjalanan pun dimulai! .. yeay! tambah penasaran thor, itu juga masih rumit dan terselubung soal dendam ayah tirinya Krystal ke Myungsoo…
    ditunggu chapter selanjutnya thor😀

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s