[FF Freelance] Tears And Smile

tears&smile

Judul                : Tears And Smile

Author             : Friska

Genre              : Sad romance

Length             : Oneshoot

Rating              : PG +17

Main Cast        : Do KyungSoo, Park Ri Yeon (OC)

Additional Cast : Kamu bakal nemu sendiri😀

Disclamer        : Annyeong ^^. Ini sebenarnya ff pertama aku. Mian kalo kurang sedih nantinya, hehe. Mian juga kalo posternya kurang bagus, baru belajar bikin poster memang, jadi mohon maklum :p oya, ff ini pernah aku kirim di beberapa tempat, jadi kalo misalnya nemu (?) ff yang persis sama kaya ini dan nama authornya “Friska”, ya pasti itu kiriman ku. Hehe. So, biarpun akhirnya ff ini garing banget kalian harus tetep kasih komen dan saran buat aku oke? Jangan lupa like juga tentunya😀 Baiklah. Selamat membaca!! Bye.. *kabur nenteng Sehun (?)*

 

 

 

Saat itu keadaannya kacau, dia selalu menyendiri, enggan bergaul, menjadi pendiam, dan.. membuatku selalu khawatir. Penyebabnya hanya satu, Jang Hae Jil—yeojachingu-nya—meninggalkannya tanpa sepatah katapun. Sebenarnya aku sedikit merasa senang dengan kepergian Hae Jil, itu berarti aku punya kesempatan untuk menyatakan perasaanku yang mungkin sudah menjamur di lubuk hatiku padanya, Kyung Soo. Terdengar egois memang, sangat egois. Hingga pada akhirnya aku hanya melihat wajah Kyung Soo yang menyedihkan, bukan Kyung Soo yang aku kenal. Itu membuatku sedih.

Aku tidak suka melihat Kyung Soo tersiksa seperti itu karena aku menyayanginya, menyayanginya lebih dari seseorang yang sudah bersahabat 5 tahun lamanya. Akhirnya aku memutuskan untuk mencari informasi tentang Hae Jil. Aku tidak setengah-setengah mencarinya, aku berjuang mati-matian demi mendapatkan senyum Kyung Soo saat aku berkata “aku menemukan Hae Jil”. Tapi hasilnya tetap nihil.

Aku muak melihat tingkah Kyung Soo yang semakin lama semakin menyedihkan, membuatku menyatakan perasaanku di hari itu. Jantungku hampir copot waktu itu, air mataku sudah ingin terjun bebas di pipiku, tapi Kyung Soo hanya diam sambil menatapku lekat. Setidaknya dia mau memperhatikanku saat aku bicara.

“Walaupun kamu tidak menyukaiku, tapi aku akan berusaha membuatmu lepas dari Hae Jil. Walaupun aku harus jadi pelarianmu, aku mau. Aku tidak suka melihat Kyung Soo yang payah seperti ini.” Dan air mataku sukses membasahi pipiku. Kyung Soo tiba-tiba mendekapku, dan berkata “Aku juga menyukaimu, Park Ri Yeon”. Hatiku lega, aku senang, dan aku bahagia.

Selanjutnya hari-hariku dipenuhi dengan perjuangan membuat Kyung Soo bicara panjang. Aku harus rela menjadi yeoja-banyak-omong agar Kyung Soo menanggapi setiap ceritaku, minimal menertawainya. Setiap hari begitu, selalu begitu sampai sekarang. Saat ini, Kyung Soo yang lebih banyak bertutur kata dibanding aku. Bukan! Ini bukan karena aku, sifatnya yang dulu kembali. Kyung Soo kembali menjadi namja yang periang dan menyenangkan. Aku bahagia, lebih bahagia dibanding ‘hari pernyataanku’ dulu.

Saat itu tiba-tiba Kyung Soo mengajakku pergi ke restaurant klasik favoritnya. Ini pertama kalinya Kyung Soo membuat kejutan untukku. Pertama kalinya membuat sesuatu yang membuatku sadar bahwa aku sekarang bukan sekedar sahabatnya, tapi yeojachingu-nya. Pertama kalinya Kyung Soo mendekapku, mengecup keningku dan membuatku terbang tinggi saat ia bekata “Happy Anniversary ke 1 tahun, chagi”.

Setelah hari itu semuanya berbeda, Kyung Soo lebih sering memanggilku ‘chagi’. Bahkan aku dipaksa memanggilnya oppa. Kyung Soo juga, ah.. bukan, Kyung Soo Oppa sekarang juga sering manja padaku, lebih sering bertanya ‘Kau sudah makan atau belum, chagi-ah?’ , lebih sering menelfonku, lebih sering mengajakku keluar, dan banyak lagi.

Semua begitu indah hingga suatu hari Kyung Soo Oppa mengajakku makan siang bersama. Aku hampir tersedak bubble tea saat Kyung Soo Oppa berkata “Kemarin aku bertemu Hae Jil”. Kau tahu? Detik itu juga rasanya dunia sudah kiamat, dadaku sesak, dan hatiku…. Jangan ditanya, hatiku terluka. Tapi aku malah tersenyum pada Kyung Soo Oppa dan menjawab “Benarkah?”. Aku menyesal.. aku menyesal mengatakan itu, karena setelahnya Kyung Soo Oppa menceritakan semuanya. Menceritakan bagaimana mereka bertemu di bandara saat Kyung Soo Oppa menjemput ayahnya, menceritakan apa saja yang mereka bincangkan, menceritakan bagaimana penampilan Hae Jil saat itu, dan.. menceritakan tentang janji mereka bertemu lagi minggu depan.

Tanganku tidak lagi menyentuh makanan di atas meja, tubuhku lemas, hatiku teriris-iris, mataku sudah panas. Tapi aku terus menyimak Kyung Soo Oppa bercerita, melihat setiap mimik Kyung Soo Oppa saat menyebut nama ‘Hae Jil’ sambil menunjukkan senyumku. Padahal aku ingin menangis saat itu.

Dan bodohnya aku bertanya “Dan Oppa akan menemuinya?” saat Kyung Soo Oppa menatapku penuh harap setelah bercerita panjang lebar tentang Hae Jil dan janji ‘mereka’. Kyung Soo Oppa mengangguk dengan semangat “Dia memintaku agar mangajakmu juga.” Katanya.

Jadilah aku sekarang bercermin di kamarku, bersiap untuk berangkat di ‘janji temu’ Kyung Soo Oppa dan Hae Jil. Aku sedikit bingung dengan mata sembabku. Kuakui, saat menangis kemarin aku sangat berharap Kyung Soo Oppa tahu kalau saat itu aku meraung-raung merasakan sakit di dalam dada. Tapi sekarang, aku sangat malu keluar dengan wajah lusuh seperti ini. Apa jadinya kalau nanti Hae Jil lebih terlihat menarik di mata Kyung Soo Oppa dibanding aku, yeojachingu-nya?

Aku hanya bisa pasrah saat Kyung Soo Oppa datang menjemputku. Aku sibuk memikirkan alasan mata sembabku saat menuruni tangga, karena kupikir Kyung Soo Oppa akan bertanya ‘kenapa matamu sembab? Kau semalam menangis, chagi?’ tapi aku sia-sia memikirkannya, karena begitu aku berdiri di hadapannya dia berkata “Ayo cepat. Kita hampir terlambat.” Sambil melihat jam tangannya dan berjalan ke mobil tanpa menungguku.

Kami sudah sampai di taman kota. Sepertinya kami memang sedikit terlambat, Hae Jil sudah duduk santai dengan sekaleng soda di tangannya. Setelah beberapa basa-basi kami bertiga berjalan-jalan menyusuri taman. Kami bercerita banyak, ah… bukan kami, tapi Kyung Soo Oppa dan Hae Jil. Aku tidak berkata apapun selain ber-‘oh’, sesekali tersenyum dan tertawa kecil. Aku lebih sering menunduk, melihat sepatu kets ku yang melekat di kakiku yang terus melangkah.

Saat aku lama bungkam berjalan bersama mereka, diam-diam aku memelankan langkahku. Pelan.. pelan… pelan… dan akirnya berhenti, berhenti menatap mereka berdua. Menatap Kyung Soo Oppa yang sedang menceritakan entah apa dengan semangat dan Hae Jil yang sangat memperhatikan setiap kata yang terucap dari bibir Kyung Soo Oppa. Baru beberapa bulan yang lalu Kyung Soo Oppa membuat hatiku terbang sangat sangat tinggi, sekarang… hatiku dibiarkannya jatuh tanpa ia lihat lagi bagaimana keadaanku.

Aku memukul-mukul dadaku, berharap hatiku berhenti terasa nyeri, jadi aku tidak perlu menangis merasakan sakitnya. Tiba-tiba mereka berdua berhenti dan berbalik memandangku yang jaraknya sudah cukup jauh.

“Kenapa berhenti Ri Yeon-ssi? Ayo kesini.” Hae Jil mengayun-ayunkan telapak tangannya, menyuruhku segera kesana. Tapi aku hanya diam dengan tanganku yang masih mengepal di dadaku, aku menatap Kyung Soo Oppa yang sekarang juga menatapku. Mata kami bertemu, aku merasakan kekhawatiran di sinar matanya. Apa aku gila? Kyung Soo Oppa mengkhawatirkan ku? Mengkhawatirkanku saat ada Hae Jil di sampingnya?

“Ri Yeon-ssi! Apa kamu sakit?” teriak Hae Jil. Mata Kyung Soo Oppa sedikit membulat saat Hae Jil berteriak, tapi aku segera tersenyum. Tersenyum dan berkata “Aku baik-baik saja.” Kulihat Kyung Soo Oppa ikut tersenyum saat itu juga. Tidak apa-apa Ri Yeon-ssi, kau memang baik-baik saja, batinku.

Kami melewati kabun bunga saat ini. Lumayan membuatku terhibur dengan warna-warni dan bau wangi mereka. Lalu aku memetik satu yang berwarna putih. Kucium baunya hingga terasa di syaraf-syaraf otak ku yang dari tadi menegang. Tiba-tiba Hae Jil juga memetik satu bunga yang sama dengan ku, dia melakukan hal yang sama—menciuminya. Kyung Soo Oppa juga, dia memetik bunga yang sama juga, tapi dia tidak mencium baunya. Aku sempat melirik Kyung Soo Oppa, dia diam-diam memandangi Hae Jil penuh arti saat Hae Jil memejamkan matanya untuk merasakan sensasi wangi si bunga. Dan saat Hae Jil membuka matanya, Kyung Soo Oppa memberikan bunga di tangannya kepada Hae Jil. Aku terkesiap dan mengalihkan pandanganku, mensugesti pikiranku bahwa aku tidak pernah melihat apa yang baru saja terjadi, walaupun jantungku sudah berderu kencang.

Kami kemudian berjalan lagi. Sepanjang langkah aku hanya memandangi bunga di tanganku. Kemudian timbul pertanyaan dalam diriku, siapa pemilik hati Kyung Soo Oppa sebenarnya? Aku melihat Kyung Soo Oppa dan Hae Jil yang berjalan dalam diam, lalu aku memandang bunga di tanganku lagi. ‘Kau hanya harus bertahan sedikit lama Ri Yeon-ssi.’ Aku menyemangati diriku sendiri.

Aku selalu berharap hari ini berlalu dengan cepat. Sehingga aku bisa memandangi Kyung Soo Oppa tanpa ada penghalang, berbincang sepuasku dengannya dan pulang ke rumah dengan sedikit perasaan lega bisa mengajaknya bicara. Tapi sialnya sore itu juga hujan. Terpaksa kami berteduh di depan toko yang tengah tutup. Langit sangat gelap dan hujan turun sangat deras. Aku yakin ini akan memakan waktu lama.

Benar saja. Setengah jam kami berdiri di sana, dan hujan masih turun dengan riang. Aku menyilangkan tanganku dan mengusap-usapkan ke kedua lenganku untuk mengusir dingin. Tiba-tiba Kyung Soo Oppa melepas sweeter coklat dari tubuhnya kemudian menyodorkan padaku. Bukannya menerimanya, aku malah tertegun. Hal pertama yang Kyung Soo Oppa lakukan sebagai tanda dia perhatian padaku hari ini, ah… ternyata dia masih ingat bahwa aku juga ada disini. Sweeter itu cukup lama ada di tangan Kyung Soo Oppa, tanpa menunggu aku lagi Kyung Soo Oppa memakaikannya padaku. “Kamu bisa mati kedinginan.” Ucapnya dingin. Masa bodoh dia melakukannya karena memang khawatir padaku atau merasa tidak enak padaku karena dia tidak mengajakku bicara seharian tadi, yang pasti sekarang tubuhku membeku, seperti ada sengatan saat Kyung Soo Oppa menyentuhku, pipiku pasti sudah bersemu merah, dan jantungku…. Ah, aku rindu perasaan ini.

Aku tersenyum tulus padanya ketika Kyung Soo Oppa selesai berkutat dengan sweeter dan tubuhku. “Terimakasih.” Tak lupa aku mengucapkannya. Kyung Soo Oppa hanya tersenyum tipis padaku, tipis, sangat sangat tipis. Aku mulai gusar, aku baru menyedari bahwa sedari tadi Kyung Soo Oppa sangat dingin padaku. Membuat hatiku jatuh.

Aku sudah tidak tertarik tentang apa saja yang dilakukan dua manusia di sampingku, aku sama sekali tidak tertarik, tidak. Aku hanya menunduk, memandangi air yang menetes dari langit, membuat percikan-percikan kecil di genangan air. Aku mendengar Kyung Soo Oppa berkata “Apa kau kedinginan?” di tengah deru hujan. Aku mendongak, lalu ribuan pisau menghujam jantungku. Kyung Soo Oppa menggosok-gosok kedua tangannya kemudian menggenggam erat kedua tangan Hae Jil. Mereka berdua tertawa bersama. Dan aku… aku…. air mata melangalir tanpa hambatan di pipiku. Aku segera mambalikkan tubuhku dan berlari menerjang hujan meninggalkan mereka berdua sebelum tangis dan isak ku pecah. Aku sempat mendengar Kyung Soo Oppa memanggilku, butuh apa dia memanggilku? Ternyata dia masih mencintai Hae Jil, dari dulu hingga sekarang, perasaannya masih tetap sama. Dan aku, hanya boneka penghibur baginya, selama ini aku hanya boneka. Tidak seharusnya aku menangis seperti ini, tidak seharusnya aku menyalahkan Kyung Soo Oppa, aku seharusnya tahu diri, aku harusnya menyalahkan diriku sendiri, aku seharusnya sadar, aku hanyalah pelariannya. Pelarian Kyung Soo Oppa yang aku cintai.

Keesokannya aku tidak keluar kamar sama sekali. Kyung Soo Oppa menelfonku, Kyung Soo Oppa mengirimiku pesan, bahkan Kyung Soo Oppa datang ke rumahku. Tapi aku tidak sedang ingin mendengar suaranya dan aku sedang tidak ingin melihat wajahnya. Aku sakit, tubuhku, pikiranku dan hatiku, mereka sakit.

Setelah empat hari mendiamkan Kyung Soo Oppa, akhirnya aku menjawab telfonnya. Dia mengajakku keluar, dia ingin bertemu denganku. Dan aku menemuinya di kedai yang sering kami kunjungi bersama, berdua, aku dan Kyung Soo Oppa. Aku merindukannya. Aku ingin melihat wajahnya, aku ingin mendengar suaranya, aku ingin memandang kedua matanya. Dan mengatakan ‘Aku mencintaimu Oppa.’

Saat aku dihadapkan dengannya, sejenak aku merasa ingin menghambur ke pelukkannya, tapi itu tidak mungkin mengingat ada meja yang memisahkan jarak kami. Jantungku ingin meledak. Kyung Soo Oppa menanyakan keadaanku, kedua alisnya bertautan saat menceritakan bagaimana perasaannya empat hari terakhir. Kyung Soo Oppa kemudian menggenggam erat kedua tanganku yang tergeletak di atas meja, dan dia berkata “Aku merindukanmu, chagi-a.” kau tidak akan pernah tahu bagaimana perasaanku saat itu, aku ingin menangis, menangis mensyukuri kenyataan bahwa aku punya tempat di hati Kyung Soo Oppa. “Aku juga merindukanmu Oppa, aku sangat merindukanmu.” Mataku berkaca-kaca. “Shtttt… jangan menangis” kata Kyung Soo Oppa. Tapi setetes air luput dari mataku. Kyung Soo menghapusnya lembut dari pipiku, kemudain beralih mengecup kedua tanganku. ‘Aku mencintaimu Oppa, aku sangat mencintaimu.’ Raungku dalam hati.

Setelah hari itu kami menjalani hari seperti biasa. Kyung Soo Oppa kembali seperti namjachingu-ku, bukan lelaki yang membiarkan yeojachingu-nya melihat dirinya bermesraan dengan yeoja lain. Ahkir-ahkir ini dia juga tidak pernah menyebut nama Jung Hae Jil. Aku senang, aku tenang, dan aku bahagia. Aku kembali menjadi Park Ri Yeon tanpa air mata tiap malam. Aku sudah lelah menangis.

Suatu hari aku mengunjungi rumah Kyung Soo Oppa. Seperti biasa, disana hanya ada Kyung Soo Oppa dengan 2 pembantunya. Orang tua Kyung Soo Oppa sedang sibuk dengan bisnis mereka di Jepang. Kyung Soo Oppa mengajakku bermain game di kamarnya, walaupun aku parah dalam game, tapi masa bodoh. Kami tertawa bersama, saling cubit dan berlari-larian saat yang kalah harus dijitak kepalanya. Haha.. aku senang.

“Sebentar chagi-a. Aku ambil camilan.” Kyung Soo Oppa beranjak sesudah mengecup keningku. Aku sempat senyum-senyum sendiri saat Kyung Soo Oppa sudah menutup pintu.

Aku membolak-balik majalah sport milik Kyung Soo Oppa dengan ditemani suara game player yang masih menyala tanpa pemain. Tiba-tiba ponsel Kyung Soo Oppa berdering. Mataku membulat ketika melihat siapa yang menelfon, ‘Hae Jil’. Aku membiarkannya sampai deringnya mati. Tidak lama setelahnya dering pesan berbunyi. Aku sudah bisa menebak nama siapa yang akan muncul di layar. Dan benar, Hae Jil ada di sana. Aku segera membukanya. ‘Oppa, bisa menemuiku sekarang? Aku membutuhkanmu.’ Aku menautkan kedua alisku, keringat dingin menyucuri dahi dan tengkukku. Tiba-tiba satu pesan masuk datang lagi, dan lagi lagi dari Hae Jil. Isinya ‘Aku menunggumu di tempat biasa Oppa.’ Tempat biasa? Mereka sering bertemu?

Kemudian mucul rasa penasaran dalam hatiku. Aku membuka kotak masuk milik Kyung Soo Oppa. Aku sempat tercengang melihat semua pesan dari Hae Jil

‘Oppa, Aku merindukanmu.’

‘Bisakah kita bertemu.’

Lagi

‘Oppa aku sakit.’

‘Aku demam Oppa.’

‘Bisakah Oppa menemaniku?’

Lagi

‘Oppa. Aku membeli gitar baru.’

‘Iya. Tapi aku tidak bisa memainkannya.’

‘Sungguh? Oppa sungguh mau mengajariku?’

‘Baiklah. Aku sekarang sedang dirumah.’

Lagi

‘Oppa.. Tahukah kau?’

‘Tahukah kau kenapa aku kembali di depanmu?’

‘Kau benar-benar tidak tahu?’

‘Ehmm.. karena aku ingin kembali denganmu.’

Cukup. Cukup!!!

Aku segera menghapus air mataku dan menjauhkan ponselnya saat Kyung Soo Oppa datang. “Maaf menunggu lama, chagi-a.” katanya sambil meletakkan beberapa makanan ringan didepan layar televisi yang lebar. aku tersenyum sebisaku dan berkata “Tidak apa-apa. Oppa.”

Tiba-tiba ponsel Kyung Soo Oppa berdering. Aku sempat khawatir. Dan kekhawatiranku benar. Hae Jil yang sedang menelfon. Dibuktikan dengan Kyung Soo Oppa yang keluar kamar saat menjawabnya. Setelahnya Kyung Soo Oppa bilang padaku bahwa dia harus pergi. Ada sesuatu yang penting dan mendesak katanya. Oh ya? Ternyata Hae Jil adalah sesuatu yang penting dan mendesak.

Aku kembali merasakannya. Merasakan hatiku disayat 1000 pisau tajam. Aku sempat mengulum bibirku sebelum tersenyum pahit dan berkata “Baiklah. Aku akan pulang.” Aku membenarka ucapanku. Aku keluar dari rumahnya dan berjalan ke halte bus sendirian. Kyung Soo Oppa tidak bisa mengantarku, katanya dia harus buru-buru. Iya…. Dia harus buru-buru menemui Hae Jil.

Aku benar-benar ingin pulang kerumah saat ini. Tapi kakiku megajakku ke tempat lain. Dan sampailah aku disini, di taman. Aku berjalan-jalan santai menikmati udara segar untuk melupakan pesan-pesan Hae Jil dan berfikir bahwa Kyung Soo Oppa memang benar-benar ada keperluan, bukan menemui Hae Jil.

Aku terus berjalan, berjalan, dan berjalan. Tiba-tiba langkahku terhenti melihat siapa disana. Dia Kyung Soo Oppa. Kyung Soo Oppa sedang memeluk Hae Jil sambil terseyum bahagia. Aku tidak bisa berkutik. Hatiku benar-benar hancur berkeping-keping. Tapi aku terus menatap mereka lekat. “Kyung Soo Oppa.” Kataku lirih. Seperti mendengar suaraku, Kyung Soo Oppa mendongak dan menemukanku disini. Berdiri tegak tak jauh dari mereka. Kyung Soo Oppa melepas pelukannya dan memandangku, Hae Jil ikut berbalik dan melihatku. Sepertinya dia juga terkejut.

Kyung Soo Oppa melangkahkan kakinya. “Ri Yeon-ah.” Panggilnya. Aku tersenyum pahit dengan mata berkaca-kaca. Kyung Soo Oppa belum sampai di hadapanku, aku berbalik dan hendak beranjak meninggalkan tempat menyakitkan ini. Tapi Kyung Soo Oppa sudah menghentikanku dengan menahan tanganku. Aku berhenti dan berbalik melihat wajahnya yang kalut. “Ri Yeon-ah. Dengarkan aku. Aku bisa jelaskan—.”

“Aku menyayangimu Oppa.” Suaraku bergetar. Kyung Soo Oppa tertegun.

“Aku juga menyeyangimu.” Katanya. “Sungguh. Aku menyayangimu.”

“Tapi kau tidak mencintaiku. Seperti aku mencintaimu. Oppa…. Aku mencintaimu.” Aku sendiri tidak tahu kenapa. Aku tersenyum! Aku tersenyum sambil melepaskan pergelangan tanganku yang ia genggam. Kemudain aku berbalik pergi.

Tatapanku kosong. Aku bisa merasakan darahku mengalir menyakitkan melewati jantungku. Perlahan aku menahan dadaku dengan telapak tanganku. Aku semakin merasakan sakit, aku…. Aku ingin menangis tersedu-sedu. Tapi aku menangis sambil tertawa. Rasanya aku gila. Kenapa cinta bisa begitu menyakitkan seperti ini?

Ahirnya setelah enam bulan psikiater panggilan ommaku keluar-masuk rumahku, aku bangkit. Aku dikirim belajar ke Australia. Aku menyelesaikan kuliahku dengan bersungguh-sungguh dan berhenti memikirkan namja jahat bernama Do Kyung Soo. Empat tahun aku disana dan sekarang aku pulang ke korea. Aku sekarang menjadi seorang perawat di salah satu rumah sakit besar di seoul. Dan aku bahagia.

Suatu hari saat aku menunggu bus di halte, tiba-tiba sesorang memanggil namaku. Aku mendongak ke sumber suara. Betapa terkejutnya aku melihat seorang Hae Jil berdiri di depanku. Tiba-tiba saja luka lamaku kembali menganga. Tapi seperti biasa, aku tersenyum kearahnya dengan ringan.

Ia mengajakku berbincang dengan secangkir teh di kedai terdekat. Setelah berbasa-basi menanyakan kabar, Hae Jil menyinggung nama Do Kyung Soo.

“Ri Yeon-ssi. Maafkan aku atas apa yang telah kulakukan dulu.” Katanya.

“Ah.. tidak apa-apa.” Jawabku enteng seperti kesalahannya hanyalah menghilangkan sebuah pensil.

“Aku menyesal…” suaranya parau. “ Aku menyesal membuat hati Kyung Soo Oppa bingung. Padahal Kyung Soo Oppa benar-benar mencintaimu.” Dia mulai menangis.

Aku tertegun mendengarnya. Benarkah? Benarkah Kyung Soo Oppa mencintaiku? “Apa katamu?” aku tercekat.

Tangis Hae Jil semakin keras. “Dia sekarang menjadi mayat hidup. Dia tidak pernah melakukan apa-apa selain berdiam di kamar sambil memanggil-manggil namamu. Aku tidak kuat melihatnya seperti itu.”

Benarkah? Benarkah Oppa menjadi seperti itu. Dadaku tiba-tiba sesak.

“Tolong… Ri Yeon-ssi tolong. Tolong kembalilah padanya. Aku tahu kau juga mencintainya. Aku tahu sampai sekarang kau masih mencintainya.” Katanya ditengah isaknya.

Tapi aku hanya diam. Sangat sulit mencerna kata-kata Hae Jil.

Tiba-tiba Hae Jil mengusap air matanya kasar kemudian menyeretku ke mobilnya. “Ayo ikut aku.” Ujarnya.

Sampailah kita di depan rumah Kyung Soo Oppa. Hae Jil turun dari mobil, aku belum. Aku masih menatap lekat rumah yang masih sama seperti dulu, tidak berubah sama sekali. Ingatanku melayang kembali kemasa lalu, masa dimana aku masih tertawa bersama Kyung Soo Oppa. Aku… merindukannya.

“Ri Yeon-ssi.” Hae Jil membuyarkan lamunanku.

Aku kemudian turun dari mobil dan menyebrang pekarangan rumah Kyung Soo Oppa. Semua masih sama. Semuanya, termasuk hatiku. Hatiku masih milik Kyung Soo Oppa.

Hae Jil mengajakku naik ke kamar Kyung Soo Oppa. Kami berhenti di depan pintu kamarnya.

“Sebentar.” Katanya. Kemudian ia mengetuk pintu.“Oppa… Buka pintunya.”

“Siapa? Aku tidak mau buka kalau bukan yeojachingu-ku yang mengetuk.” Sahutan dari balik pintu.

Suara itu…. Tenggorokanku tercekat. Mataku sudah berkaca-kaca.

“Disini ada yeojachingu-mu Oppa. Aku membawa Ri Yeon. Buka pintunya.” Teriak Hae Jil di sampingku.

“Benarkah?” kemudian pintu terbuka.

Aku tertegun melihat Kyung Soo Oppa. Kyung Soo Oppa sangat kacau. Dia terlihat lusuh, rambutnya acak-acakan, matanya sembab, lingkar hitam dimatanya sangat lebar. Kyung Soo Oppa benar-benar sangat amat menyedihkan, sama seperti saat dia di tinggal pergi Hae Jil dulu. Aku menangis. Aku sangat jahat membuat Kyung Soo Oppa seperti ini. Kemudian aku menghambur ke pelukan Kyung Soo Oppa, aku menangis keras di dadanya.

“Kau sudah kembali chagi-a.” Kyung Soo Oppa membelai lembut rambutku.

“Oppa seharusnya hidup dengan baik. Bukan hidup menyedihkan seperti ini.” Aku memukul lemah dada Kyung Soo Oppa.

Tiba-tiba Kyung Soo Oppa melepas pelukanku. Dia menatap kedua bola mataku lekat, menghapus air mata yang membasahi pipiku dan berkata “Aku mencintaimu Ri Yeon-ah.” Kemudian ia mencium bibirku dengan sepenuh hati.

 

5 tahun kemudian…

“Oppa… bangun.” Aku menggoncang-goncangkan tubuh seorang namja yang sedang tidur pulas.

Namja itu hanya menggeliat malas. “Ini hari minggui chagi-ah. Aku tidak bekerja.” Kemudian namja itu menenggelamkan wajahnya dibalik selimut.

“Oppa… aku punya sesuatu. Ayo banguun!!” aku menarik selimut dan menyibakkan gorden jendela hingga membuat namja itu mengernyit karena sinar matahari menyinari wajahnya.

Aku menarik tubuhnya hingga ia terduduk. “Aku sedang malas chagi-a. aku lelah.” Katanya sambil menyandarkan kepalanya di bahuku.

“Oppa… aku hamil.” Bisikku.

Seketika namja itu menegakkan tubuhnya dan menatapku dengan mata terbelalak “Benarkah?”

Aku mengangguk dan tersenyum malu.

“Arggh.. Chagi!!!” dia memelukku. “Aku akan menjadi ayah.” Lanjutnya.

Namja itu melepas pelukanku kemudian mengajak bicara perutku “Hai Kyung Soo kecil. Appa disini.”

Aku tertawa geli mendengarnya.

 

THE END

3 thoughts on “[FF Freelance] Tears And Smile

  1. Uri kyungsoo ku harus jadi namja yang tegas yah jangan bikin ri yeon sedih, nyesek di awal tapi sweet di akhir. Sip ditunggu karya selanjutnya :)) fighting

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s