[FF Freelance] Obsession

seuk jin

OBSESSION

By Viayamada [@INFINITEVIAKIM]

||Length: 1000+ Words||Genre: Crime||Ratting: PG-15||

||Cast: Kim Seok Jin [BTS]|A Girl||

Selama ini aku selalu menganggap dirinya sebagai gadis pendiam yang mengidolakanku.

 

 

.

.

.

Semburat merah menghiasi langit sebagai pertanda bahwa matahari dan juga rembulan—beserta kawan-kawannya—akan segera berganti tempat.

Dan kala itu aku berjalan beriringan dengan dirinya.

Sesekali aku melirik dirinya yang rupa-rupanya sibuk membersihkan kepalanya dari dedaunan kering berwarna kecokelatan—yang  jelas tak mampu berfotosintesis—yang secara tidak sengaja mencium kepalanya yang terbalut dengan tudung hoodie.

Aku terkikik pelan dibuatnya.

Aku tak takut dengan kemungkinan besar adanya paparazi yang sedang mengikutiku toh, aku sudah melakukan penyamaran yang baik—yang semoga saja dapat menutupi identitas asliku sebagai penyanyi dari Korea, Kim Seok Jin.

Karenannya aku berani melakukan sedikit adegan romantis dengannya—mengambil dedaunan yang hinggap dikepalanya sebelum mengenggam dengan erat tangan kanannya.

Aku tau bahwa ini adalah tindakan yang cukup berani pasalnya aku adalah seorang idola dan dia adalah fansku.

Ah, peduli apa aku?

Toh, ia hanyalah gadis polos yang setiap harinya selalu menguncir dua rambut hitam mengkilatnya dan dilihat dari wajahnya yang polos bak anak kecil berumur lima tahun, aku yakin ia tak begitu tau-manau soal percintaan seperti remaja pada umumnya.

Mataku melirik kearahnya membuatku serta-merta melihat adanya semburat merah yang muncul dari pipinya.

Aku kembali terkikik pelan dibuatnya.

Sepanjang perjalanan menuju rumahnya kami hanya terdiam membiarkan suara langkah kaki kami yang bergesekan dengan dedaunan yang jatuh keatas jalanan juga suara mobil yang berlalu lalang menjadi backsound dari kegiatan kami petang itu.

Oh, omong-omong ada satu alasan kenapa sekarang aku berjalan seirama dengannya untuk menuju rumahnya; untuk mengerjakan tugas dari walikelas kami, Han sonsaengnim.

Aku tak mempermasalahkan hal itu sekarang—biasanya aku akan menolak mentah-mentah—pasalnya akhir-akhir ini aku sudah tak lagi disibukkan didunia entertaiment yang begitu melelahkan; tak ada comeback, promosi album, tour dunia, showcase atau kegiatan lainnya yang dapat menyita waktuku.

Langkahnya berhenti begitu saja membuatku mau tak mau juga ikut berhenti.

“Itu rumahku.” Ujarnya seraya menunjuk suatu tempat.

Mataku mengikuti kemana tunjukan itu diperuntukan dan setelahnya mata cokelatku melihat dengan jelas rumah mewah berlantai dua berdiri dengan angkuhnya.

Aku terkesikap beberapa saat sebelum akhirnya ia menarik tanganku dan mengajakku untuk semakin mendekati rumah itu.

Ia membuka sang pagar yang menjulang tinggi—yang membuat rumah itu hampir tak terlihat—dengan bantuan seorang maid dari dalam menimbulkan suara decitan nyaring memekakkan telinga—menandakan bahwa pagar itu telah tua dan dihinggapi banyak karat disana-sini.

“silahkan masuk.” Ujar maid itu dengan suara yang cukup anggun.

Ia kembali menarik tanganku untuk segera memasuki perkarangan rumahnya.

Halaman rumahnya cukup luas namun sama sekali jauh dari kata ‘indah’. Sejauh mata cokelatku memandang aku sama sekali tak menemukan eksistensi bunga-bunga indah pun dengan ilalang.

“apa yang kau lakukan? Ayo masuk!”

Aku terlonjak kaget. Serta-merta kepalaku menoleh kesumber suara dan kakiku segera berlari tatkala aku melihat ia sudah berdiri diambang pintu dengan pandangan kesal dengan gerakanku yang lamban—mungkin.

.

.

.

Pintu cokelat itu terbuka mengijinkan setiap mata untuk menatap seperempat bagian dari kamar yang dapat dijangkau oleh mata.

Ia kembali menarik tanganku—mendorongku untuk menjelajahi kamarnya yang rupa-rupanya cukup luas.

Ada satu televisi, satu dvd player, dan begitu banyak kaset yang tertata dengan apiknya disebuah laci yang digunakan sebagai tempat Televisi itu berdiri juga sebagai tempat penyimpanan dvd.

Mataku membulat sempurna tatkala aku menemukan banyak poster yang memuat gambarku terpasang disana-sini. Tak hanya poster, ada juga kaos beserta handuk yang kulemparkan pada saat aku mengadakan konser di Busan—yang secara tidak langsung mengatakan bahwa ia mendatangi konser itu.

Aku juga menemukan berbagai macam aksesoris yang masih berbau mengenai diriku, Kim Seok Jin. Sebut saja sebuah jam tangan led yang memuat namaku disalah satu sudut jam, sepatu lukis yang mengukir namaku, lightstik official, banner kecil dengan namaku juga nama fandomku, sticker bergambar chibiku dan sebagainya—kurasa aku tak perlu menyebut satu per satu.

Mataku semakin membulat tatkala aku menemukan eksistensi jam tangan kesukaanku diatas meja belajarnya.

Well, aku cukup tau bahwa pabrik itu tak hanya menjual satu jam tangan saja. Ada berjuta-juta jam tangan serupa dan boleh jadi ia adalah salah satu dari sekian pemilik jam tangan tersebut.

Tapi entah kenapa aku merasa bahwa itu adalah jam tangan milikku.

Jam tangan itu hilang sekitar lima bulan yang lalu—saat aku melakukan promosi di Jepang—dan kuduga bahwa itu pasti ulah sasaeng fans yang acap kali menjelajahi kamar apartementku tanpa kata ‘permisi’ dan mulai mengambil beberapa barang pribadi milikku.

Diam-diam aku menyesali keputusanku untuk menjadi penyanyi setelahnya.

Aku mendekati meja itu lantas mengambil jam tangan itu.

Kutatap lamat-lamat dan perasaan yakin bahwa ini adalah milikku semakin bertambah.

Aku menemukan berbagai detail terkecil yang sama persis seperti jam tanganku.

Apa dia sasaeng?

Tapi melihat kepolosan pada wajahnya aku menjadi pesimis untuk hal satu itu.

“kau punya jam ini juga?” ujarku seraya mengangkat tinggi-tinggi jam tersebut—anggap saja ini sebagai penyelidikan.

Ia menggeleng dan itu cukup membuatku mengangkat salah satu dari alisku—tidak mengerti.

Ia berjalan kearahku—mengabaikan sejenak sang laptop yang ia geletakkan begitu saja dikasur queen size miliknya.

Ia mengambil sang jam tangan lantas menatapnya secara intens—persis seperti yang kulakukan pada beberapa detik yang lalu.

“Ini milikmu.”

“Apa? Apa maksudmu?”

“Kuambil dari apartementmu saat kau promosi album di Jepang. Oh, aku juga mengambil satu celana dalammu.”

Aku terlonjak kaget. Mataku membulat dibuatnya.

Aku merasa tertipu dengan penampilan luarnya.

Diam-diam aku meruntuki Han sonsaengnim yang telah membuatku mengerjakan tugas dengan dia.

Diam-diam aku kesal, kenapa saat ini aku tidak world tour atau promosi album saja? Jika seperti itu aku tidak akan pernah mengerjakan tugas ini bersamanya.

Oh, buat apa aku kesal dengan keputusan yang kubuat? Toh, waktu juga tidak akan bisa kembali berputar, bukan?

“Kau tau? Aku mencintaimu lebih dari sekedar fans yang mencintai idolanya. Aku mencintaimu lebih dari apapun. Aku mencintaimu seutuhnya. Tapi aku sadar bahwa aku tak akan pernah bisa menjadi milikmu. Oleh karena itu,aku akan membunuhmu dan mengawetkanmu jika perlu agar kau menjadi milikku seutuhnya juga selamanya.”

Oh, ini bukan pertanda baik.

Gadis ini bukan sekedar fans.

Jika ia mengatakan bahwa ia mencintaiku maka ia salah. Ia tidak mencintaiku. Tapi, ia terobsesi kepadaku!

Aku melangkah mundur namun ia malah kembali memangkas jarak yang terbentang diantar kami. Dadanya menyentuh dadaku, ia mendekatkan wajahnya pada telingaku membisikkan suatu kalimat yang entah bagaimana bisa? Membuat bulu kudukku berdiri.

“dan setelah ini kau akan menjadi milikku.

.

.

.

Dan aku tak tau kapan tepatnya sebuah pisau menusuk jantungku.

Aku meninggal, tentu saja.

.

.

.

Tapi ternyata, aku salah!

6 thoughts on “[FF Freelance] Obsession

  1. Kok gantung?
    Jadi jin nya mati ngga?
    Serem amat fans nya, aku sampe deg2an pas dia bilang pengen bunuh jin. Btw. Fanficnya keren, bahasanya enak dan feelnya dapet^^

    • annyeong^^ maaf aku kalo bikin ff suka ngegantung/ditimpuk/ well, akan ada sequelnya mungkin soalnya beberapa readers rame-rame minta dibuatin sequel dan selesai pengumuman un smp aku bakalan post diwp aku.
      thank you^^

  2. Prtma kl bca ff dsni tu kl gk slh yg “Omo! My litlle husband” castny Taem.
    Q suka.

    Jd coba cari2 lgi..
    Eh! Ktmu ma ini..

    Pz liat. Woaah… JinBTS..!

    Endingny ‘Aku meninggal, tentu saja.’
    kug enteng bgt dy ngomongny??!

    Lha trus ntu, kalimt trakhir mksudny ap? APA..?!?

  3. wah ini ada kelanjutannya ga saeng? Hallo aku readers baru, ini ffnya bagus, serius but harus ada sequel hehe 🙂

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s