COFFEE SHOP

COFFEE SHOP1

Author: Anditia Nurul (@im_NRL)||Rating: PG-13||Length: Oneshot||Genre: Romance||Main Characters: (Infinite) L / Myungsoo & (A-Pink) Naeun||Additional Character: (B1A4) Baro / Sunwoo||Disclaimer: I own nothing but storyline. Inspirated by B.A.P’s Coffee Shop’s lyric||A/N: Edited! Sorry if you got the typo(s). Do not like the pairing? Don’t read!

That’s coffee shop is just a coffe shop. Kedai kopi yang sering kita kunjungi. Kedai kopi kita.

HAPPY READING \(^O^)/

“KRIIING!”

Suara jam beker yang sengaja kuatur untuk berbunyi pada pukul 8 tepat, terdengar. Aku menggeliat pelan, sepersekian detik kemudian menguap. Aku beranjak dari tempat tidur, melangkah untuk menyibak gorden yang menghalangi masuknya sinar matahari ke dalam kamar hotel tempatku menginap.

Pemandangan gedung-gedung dan rumah-rumah yang disinari indahnya mentari pagi menyambut kembalinya aku ke Seoul setelah kuhabiskan waktu 4 tahunku untuk mendapatkan gelar sarjana bisnis di salah satu universitas yang berada di Canberra, Australia.

Puas menikmati pemandangan Seoul dari lantai 8, aku pun beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhku yang terasa dekil. Usai mandi, aku berpakaian dan… bersiap memulai hari pertamaku di Seoul.

Keluar dari gedung hotel yang terletak di kawasan Yongsan-gu, lengkap dengan tubuh yang dibalut kaos oblong putih yang aku tumpuk dengan blazer berwarna hijau tosca serta bawahan jeans berwarna putih, aku melangkah menyusuri emperan toko di sebelah kiri hotel.

Sambil berjalan, aku mendengarkan lagu melalui earphone yang telah terhubung dengan MP3 player di saku kiri celanaku. Mulutku bersenandung kecil mengikuti lirik sebuah lagu yang terdengar di telingaku.

Seoul tidak banyak berubah setelah aku tinggalkan selama 4 tahun. Semuanya masih sama. Gedung-gedung tinggi yang berdiri kokoh di sekitarku. Lampu-lampu jalan yang catnya mulai memudar, bahkan ada beberapa yang cat mulai terkelupas. Jalan yang aku lalui ini benar-benar tidak asing lagi.

Sedetik kemudian aku tersadar.

Perlahan, satu per satu kenangan menelusup ke dalam otakku. Membuat kedua mataku bekerja layaknya proyektor yang menyorotkan gambar sesosok yeoja yang tengah berlari-lari pelan di depanku.

Son Naeun.

Wajah cantik milik yeoja itu terpampang jelas dalam ingatanku. Empat tahun berlalu sejak aku memutuskan hubungan dengannya, tapi… bayang wajahnya masih saja menari-nari di pikiranku.

Aku ingat, dulu aku dan yeoja itu sering berjalan bergandengan tangan di jalan ini. Jalan yang kami lalui jika kami akan pergi ke tempat itu. Sebuah kedai kopi yang sering kami kunjungi. Bayangan Naeun yang memutari sebuah tiang lampu jalan di depanku sambil menjulurkan lidah ke arahku terlihat begitu jelas bagai kejadian nyata.

Hah~ bagaimana kabar yeoja itu sekarang?

Apakah dia masih berada di Seoul?

Apakah… dia masih mengingatku?

Kedua kakiku terus melangkah hingga aku tiba di sebuah taman yang di tengahnya terdapat sebuah kolam air mancur. Kembali, sebuah kenangan terputar di dalam kepalaku. Mengingat sebuah kenangan bersama Naeun di kolam air mancur itu.

-Flashback-

4 Years Ago

“Hah~ lelahnya~” keluh Naeun ketika kami duduk di sebuah bangku panjang yang berada di dekat kolam air mancur. Rindangnya dedaunan pohon cukup melindungi kami dari sinar matahari.

“Dasar manja! Baru begitu saja kau sudah kelelahan,” ledekku sembari mengambil tempat di sebelahnya.

Yeoja itu menoleh ke arahku, menggembungkan kedua pipinya kesal. “Kau pikir berjalan kaki di bawah matahari yang bersinar terik dengan tas berisi 4 buku tebal itu tidak melelahkan, eoh? Menyebalkan!”

Aku terkekeh. “Mianhae. Ah, kau pasti haus. Mau aku belikan air minum atau es krim?” tawarku.

“Es krim saja,” jawabnya.

“Ya sudah. Tunggu di sini sebentar.”

Aku beringsut menuju sebuah van penjual es krim yang berada di sekitar taman. Mengantri sebentar karena cukup banyak orang yang membeli es krim di van tersebut, kemudian kembali menghampiri Naeun dengan 2 cone es krim cokelat di tanganku.

“Ini untukmu,” kataku seraya menyodorkan 1 cone es krim padanya.

Satu cone es krim itu pun berpindah ke dalam pegangannya. “Gomawo~”

Aku dan Naeun pun terdiam. Sibuk menjilati es krim masing-masing sambil memandang ke arah kolam air mancur yang berada beberapa meter di depan kami. Tidak lama, kulihat seorang yeoja berdiri di depan air mancur tersebut. Melemparkan sebuah koin ke dalam kolam itu sambil mengucapkan sesuatu.

Ah~ ne.

Aku tidak tahu ini fakta atau hanya gosip, tapi menurut kabar yang beredar, jika seseorang melempar koin ke dalam kolam tersebut sambil menyebutkan permohonannya, maka permohonannya akan terkabul.

Sudah lama aku ingin mencoba hal itu. Sepertinya, hari ini kesempatan yang bagus.

“Naeun-ah, kau mau melakukan sesuatu denganku?” tanyaku sambil melihat ke arah yeoja dengan bando berwarna pink yang menghiasi kepalanya.

“Melakukan apa?” tanyanya.

Aku mengeluarkan dua buah koin—kembalian dari uang pembayaran es krim—dari saku blazer sekolahku dan menunjukkannya pada Naeun. “Bagaimana kalau kita melempar koin ke dalam kolam itu,” aku menunjuk kolam di depan, “Dan mengucapkan permohonan kita? Kau mau?”

Naeun terkekeh. “Aish! Kau percaya hal begituan, eoh?”

“Memangnya kau tidak percaya?”

“Molla,” jawabnya enteng.

Aku mendengus.

“Coba saja dulu. Kalau harapan kita tidak dikabulkan, tidak apa-apa. Aku hanya iseng ingin mencobanya. Bagaimana?”

“Ne, baiklah. Tunggu setelah es krimku habis.”

A few minutes later

Detik ini aku mendapati diriku dan Naeun berdiri di dekat kolam air mancur tersebut. Lengkap dengan sebuah koin di tangan masing-masing. Tampak jelas di bagian dasar kolam terdapat puluhan atau mungkin ratusan koin dengan nilai nominal beragam.

“Kau sudah siap, Naeun-ah?” tanyaku.

“Ne.”

“Baiklah, ucapkan permohonanmu dalam hati, lalu lemparkan koinnya ke kolam.”

Kubiarkan Naeun melakukan hal tersebut lebih dulu. Yeoja itu memejamkan kedua matanya sambil tersenyum. Dan, beberapa detik kemudian, ia melemparkan koin di tangannya ke dalam kolam.

“PLUNG~” Koin milik Naeun kini berada di dasar kolam bersama dengan koin-koin lainnya.

“Sekarang giliranmu, Myungsoo-ya.” Yeoja itu menoleh ke arahku.

Aku mengangguk pelan. Kualihkan pandanganku ke arah kolam. Sepersekian detik kemudian, aku pun memejamkan mataku dan mengucapkan permohonanku di dalam hati.

“Aku ingin Naeun selalu bahagia.”

“PLUNG~” Dan koin milikku pun berada di dasar kolam.

“Apa permohonanmu, hm?” tanya Naeun tiba-tiba. Kualihkan pandanganku dari kolam ke arah yeoja cantik itu.

“Katakan dulu apa permohonanmu, baru aku mengatakan permohonanku.”

Yeoja itu memanyunkan bibirnya. “Ish! Kau ini. Baiklah, permohonanku tadi adalah aku ingin kita selalu bersama,” ucapnya. “Nah, apa permohonanmu?” tanyanya penasaran.

“Aku tidak mau memberitahumu!”

Yeoja itu membulatkan kedua matanya. “Mwoya? Ya! Kenapa kau curang, Myungsoo-ya?” protesnya.

“Itu rahasiaku. Weee~” ledekku, lalu berlari menjauhinya. Yeoja itu mengejarku sehingga tercipta adegan kejar-kejaran dua siswa di taman tersebut. Hahaha… lucu sekali melihat wajah Naeun yang memerah karena kepanasan.

“Ayo, Naeun-ah! Kejar aku!”

-End Of Flashback-

Aku menghela nafas.

Berdiri di dekat kolam, memandang ke dasarnya. Koin-koin di sana semakin bertambah banyak. Rupanya, semakin banyak orang yang percaya akan kabar tentang kolam pengabul permohonan ini. Sayang, permohonan Naeun hari itu tidak terkabul. Entah, mungkin karena Naeun yang setengah percaya melakukan hal tersebut sehingga ‘keajaiban’-nya tidak terjadi atau mungkin… kolam pengabul permohonan ini hanya omong kosong belaka.

Namun, aku masih berharap kalau permohonanku hari itu bisa dikabulkan.

Ne, aku harap Naeun selalu bahagia.

@@@@@

Aku masih berjalan, kali ini menyusuri trotoar yang di sebelah kanannya terdapat dinding dan di sebelah kirinya berjejer pepohonan yang membuat suasana sejuk. Dedaunan yang terjatuh dari pohon, berayun-ayun pelan hingga mencapai trotoar. Angin yang bertiup sedikit kencang, membuat dedaunan tersebut terbang rendah, berpindah ke tempat lain.

Bayangan Naeun di jalan beberapa saat lalu pada akhirnya membuatku memutuskan untuk mampir di kedai kopi yang sering kami kunjungi. Sedikit kupercepat langkahku begitu kulihat papan nama kedai beberapa meter di depan sana.

Tidak lama kemudian, akhirnya aku tiba di kedai tersebut. Sebuah kedai kopi dengan konsep outdoor. Setiap mejanya dilindungi payung besar yang berbeda warna dari satu meja dengan meja lain. Di bagian tengah kedai, terdapat sebuah kolam ikan berbentuk segi empat.

Masih sama dengan yang dulu.

Kuayunkan kakiku menuju sebuah meja berpayung hitam yang bersampingan dengan kolam. Ne, itu adalah tempat favoritku dan yeoja itu. Baru beberapa detik aku duduk di kursi, seorang pelayan wanita menghampiriku.

“Mau pesan apa, Tuan?” tanyanya.

“Pasta.”

“Minumnya, Tuan.”

“Cappuccino.”

“Baiklah, mohon tunggu sebentar.”

Kuedarkan pandanganku ke sekitar begitu si pelayan beranjak meninggalkan mejaku. Mendapati beberapa orang yang duduk di dekatku sedang asik menikmati pesanan masing-masing.

Beberapa detik kemudian, kualihkan pandanganku ke arah kolam. Melihat beberapa ekor ikan—entah jenis apa—berenang ke sana kemari dengan perlahan. Membuat siapa saja yang melihatnya merasakan ketenangan.

“Permisi, Tuan. Ini pesanan Anda.”

Suara ramah seorang pelayan membuatku sedikit terkejut. Lantas, kutolehkan wajahku ke arahnya, melihat ia sedang menyajikan pesananku.

“Selamat menikmati,” ucapnya lagi.

Gamsahamnida.”

Lagi, pelayan tersebut beranjak dari mejaku. Aroma cappuchino yang masih mengepulkan asap terhirup oleh indera penciumanku. Perlahan-lahan membawaku ingatanku kembali ke kejadian beberapa tahun lalu.

-Flashback-

Aku berlari pelan memasuki area kedai kopi tersebut dengan nafas yang tersengal. Seketika, kedua mataku menangkap sosok yeoja itu duduk di tempat biasa. Di bangku di dekat kolam. Berjalan sembari mengatur nafas, aku menghampiri yeoja yang saat ini melihat ke arahku dengan wajah cemberutnya.

“Mianhae, aku terlambat. Tadi aku harus menjemput noona-ku di tempat kerjanya sebentar.”

Yeoja itu menghela nafas. “Sudahlah. Lupakan,” katanya, mengalihkan pandangannya ke arah kolam.

Kuulurkan tangan kanannyaku untuk menyentuh pipi kiri yeoja itu. Menolehkan wajah cantik miliknya ke arahku. “Hei~ jangan marah, eoh. Mianhae aku tidak memberitahumu sebelumnya.”

“Ck! Kau selalu seperti itu. Bisakah lain kali kau memberi kabar kalau kau datang terlambat? Kau membuatku cemas, tahu! Aku pikir terjadi sesuatu padamu di jalan.”

Tanganku berpindah menyentuh punggung tangan kirinya yang berada di atas meja. Mengelus pelan punggung tangan yang lembut itu seraya berkata, “Terima kasih sudah mencemaskanku. Aku berjanji ini yang terakhir kalinya aku bersikap seperti ini.”

Yeoja itu menghela nafas. “Baiklah. Awas kalau kau seperti ini lagi.”

Aku hanya mengangguk sembari menyunggingkan senyum padanya. “Oh, ya, kau sudah pesan sesuatu?” tanyaku mengalihkan topik pembicaraan.

“Sudah. Tunggu sebentar lagi,” jawabnya.

Tepat beberapa detik di saat kalimat itu keluar dari mulut Naeun, seorang pelayan menghampiri meja kami dengan sebuah kereta dorong yang di atasnya terdapat makanan yang dipesan oleh Naeun.

“Selamat menikmati~” ucap pelayan itu ramah setelah ia menghidangkan makanan dan minuman di atas meja.

“Gamsahamnida,” balas Naeun.

“Kau memesankan pasta untukku?” tanyaku, melihat pasta di hadapanku dan wajah Naeun bergantian. Ck! Yeoja ini tahu kan aku tidak begitu suka pasta. Jincca!

Yeoja itu mengangguk pelan. “Ne. Kau harus mencoba makanan itu sesekali.”

Aku mendengus. Tanganku meraih gagang sendok, kemudian mengaduk pasta itu. “Astaga, berminyak sekali.”

“Ya! Cobalah dulu. Itu enak kok~” bujuk Naeun, lalu menyuapkan sesendok pasta miliknya ke dalam mulutnya. “Tuh~ enak sekali~” gumam Naeun dengan pasta di mulutnya.

Aku menatap pasta di hadapanku. Aigoo…, makanan berminyak ini harus masuk ke perutku? Yang benar saja? Dalam keadaan terpaksa, kusuapkan sedikit pasta itu ke dalam mulutku. Kukunyah perlahan.

“Bagaimana? Enak, kan?”

“Dasar curang!” celetukku. Naeun mengerutkan keningnya. Bingung.

“Curang apanya?”

Kumanyunkan bibirku. “Kau memaksaku makan pasta berminyak seperti ini. Lalu kau, kuminta mencicipi sedikit hamburger saja tidak mau.”

“Itu karena hamburger ada acarnya.”

“Memangnya kenapa kalau ada acarnya? Kau juga harus mencoba acar. Rasanya enak.”

Yeoja itu mendengus. “Ne, ne. Arasseo. Lain kali aku akan mencoba hamburger kesukaanmu itu.”

“Bagus kalau begitu,” kataku. “Ngomong-ngomong, pasta ini lumayan enak,” ucapku tak tahu malu.

-End Of Flashback-

Terlalu banyak hal yang mengingatkanku akan yeoja itu di tempat ini. Suasana, makanan, minuman, kolam ikan, semuanya. Empat tahun berlalu, tapi aku merasa seolah kenangan itu terjadi beberapa hari yang lalu. Semuanya terekam dengan jelas di memori otakku.

Rasanya ingin tahu apakah Naeun masih sering datang ke tempat ini?

Apakah ia masih memesan pasta berminyak?

Apakah ia masih tidak suka acar?

Apakah ia masih suka duduk di tempat ini?

Dan…, apakah ia masih mengingatku?

@@@@@

Beberapa menit berlalu, aku masih duduk di kedai ini dengan piring bekas pasta serta cappuccino yang tersisa setengah cangkir. Belum ada niatku untuk beranjak dari tempat ini. Entahlah, aku begitu rindu akan suasana di sini.

Jeongmal? Aigoo, sayang sekali. Padahal, mereka terlihat serasi.”

Ne. Sayang mereka putus.”

Suara dua orang yeoja yang baru saja duduk di meja di sebelahku membuatku mengalihkan pandangan ke arah mereka. Dua orang yeoja yang mungkin baru duduk di sekolah menengah atas. Seorang di antaranya berambut pendek sebahu dengan gaya pakaian yang sedikit tomboy. Sementara, yeoja yang satu lagi punya rambut sepunggung berwarna kecoklatan. Gayanya girly. Sungguh berlawanan dengan temannya.

“Ck! Kenapa Jonghyun begitu bodoh memutuskan hubungan dengan Yoona hanya karena dia mau sekolah di luar negeri!? Mereka kan bisa LDR,” kata yeoja berambut sepunggung.

Aku tidak tahu mengapa, tapi hari ini benar-benar banyak hal yang secara tidak langsung membuatku teringat pada Naeun. Bahkan, obrolan dua remaja yang tidak aku kenal ini seolah menyindirku. Menyindir perbuatanku 4 tahun lalu saat aku memutuskan Naeun karena… aku ingin melanjutkan sekolahku di Canberra.

Flashback

“Naeun-ah, kenapa tiba-tiba memintaku datang ke sini, hm?” tanyaku ketika aku baru saja tiba di kedai ini, sekitar 10 menit setelah Naeun meneleponku dan memintaku ke sini. Kutatap yeoja di hadapanku itu, terlihat menundukkan kepalanya sedikit dan tidak menjawab pertanyaanku.

Naeun menyelipkan rambutnya ke bagian belakang telinga kirinya. Kedua bibirnya masih tertutup rapat. Ia menghela nafas. Aku tidak tahu kenapa Naeun terlihat sangat pendiam hari ini. Biasanya, begitu aku datang, ia yang berbicara panjang lebar sehingga terkadang aku tidak punya kesempatan untuk bercerita.

“Naeun-ah? Kenapa kau diam saja hari ini, eoh? Apa kau ada masalah?”

Hanya terdengar suara percakapan dari orang-orang di sekitar kami.

“Ya! Ayolah, Naeun-ah. Katakan sesuatu. Kau mulai membuatku cemas,” desakku.

Sungguh aku tidak mengerti Son Naeun hari ini. Dia tiba-tiba memintaku ke sini, tapi… kenapa begitu aku sudah berada di hadapannya, ia malah tidak berbicara barang satu kali pun?! Seolah aku tidak ada di hadapannya. Seolah hanya dia bersama dengan secangkir espresso di hadapannya yang berada di tempat ini.

“Apakah… aku telah melakukan kesalahan, Naeun-ah?” Aku tak menyerah untuk memancingnya berbicara. Tapi, yang terdengar malah… suara isakan kecil. Kulihat Naeun menyeka air mata yang mengalir di pipi mulusnya. Ya! Apa benar aku melakukan suatu kesalahan?

“Na-Naeun-ah, mianhaeyo. Uljimarayo, jebal~” pintaku panik.

Naeun masih sesenggukan.

“Naeun-ah, aku mohon katakan kenapa kau menangis, eoh? Kenapa kau tidak mau bicara? Ayolah, katakan sesuatu. Apa kau punya masalah? Apa aku melakukan kesalahan?”

Naeun menegakkan lehernya, membuatku bisa melihat wajah cantiknya yang basah karena air mata. “Jadi, dimana?” tanya Naeun kemudian.

Aku tidak mengerti. “Apanya yang dimana, Naeun-ah?”

Naeun membuang muka, lalu mendengus. “Jangan pura-pura tidak tahu, Myungsoo-ya.”

“Aku benar-benar tidak mengerti apa maksudmu, Son Naeun!”

Naeun mengalihkan pandangannya dariku. Kedua mata teduhnya itu kini menatapku tajam. Genangan air nampak di kedua pelupuk matanya. “Apakah Yale? Oxford? Katakan dimana?”

Aku menghela nafas. Aku sudah tahu arah pembicaraannya. Semalam di situs pemerintah Korea, terdapat sebuah tulisan yang bertuliskan nama siswa-siswi rekomendasi sekolah yang berhasil mendapat beasiswa dari pemerintah untuk kuliah di luar negeri. Ada 10 siswa yang beruntung dan… salah satunya adalah aku.

Aku memang tidak pernah memberitahu Naeun mengenai hal ini. Mungkin…, ia mendengar dari siswa-siswa lain bahwa… siswa yang mewakili sekolah kami untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri adalah aku, Kim Myungsoo.

“Canberra University,” jawabku pelan.

“Australia? Bahkan kau memilih kuliah di sebuah universitas yang berbeda benua dengan benua tempat kau dilahirkan, eoh?” Naeun tertawa tidak percaya.

“Mianhae,” gumamku. Aku tahu dia pasti marah karena aku tidak memberitahukan hal ini padanya.

“Untuk apa meminta maaf? Pasti kau senang, kan?” tanyanya terdengar sinis.

“Naeun-ah! Tolong jangan bersikap seperti ini, eoh. Baik. Aku minta maaf karena tidak memberitahukan hal ini padamu. Maaf karena aku tidak memberitahumu bahwa pihak sekolah mendaftarkan aku sebagai salah satu siswa yang bisa mendapatkan beasiswa kuliah di luar negeri.”

“Terlambat!” katanya tegas. “Kau tahu, Myungsoo-ya? Aku kecewa padamu.”

Terbersit rasa bersalah dalam benakku ketika mendengar Naeun mengucapkan hal yang baru pertama kali aku dengar terucap dari mulutnya. “Naeun-ah, aku—”

“Cukup. Apapun penjelasanmu, kau pasti akan pergi ke tempat itu. Kau pasti akan jauh dariku, iya, kan?”

Aku menghela nafas. “Ne, Naeun-ah. Kita akan terpisah jarak yang jauh, tapi… itu bukan berarti hubungan kita berakhir, bukan?”

Entah untuk keberapa kalinya Naeun mendengus. “Kau bermaksud untuk menjalani hubungan jarak jauh denganku?”

“Ne. Bisa, kan?”

Naeun membuang muka sekilas, lalu kembali menatapku. “Aku pernah mengatakan padamu, Myungsoo-ya. Aku tidak mau menjalani hubungan jarak jauh. Aku pernah mengatakan alasan aku putus dengan mantanku sebelumnya, kan?”

Aku terkesiap.

Bodohnya aku melupakan hal itu.

Naeun pernah bercerita bahwa ia putus dengan mantan kekasihnya karena… mantan kekasihnya itu selingkuh akibat pacaran jarak jauh.

“Tapi, aku tidak akan seperti namja itu.”

“Ne, itu yang diucapkan semua namja! Tapi, apa buktinya? Aku tidak mau mengulang kesalahan yang sama, Myungsoo-ya.”

Pelan aku meraih kedua tangan yeoja itu. Menggenggamnya erat dalam genggaman tanganku. “Percaya padaku, Naeun-ah. Aku tidak sama dengan mantan kekasihmu itu.”

Naeun menatapku sebentar, lalu dengan lembut ia menarik tangannya dari genggamanku. Tindakannya itu membuat hatiku mencelos seketika. “Mianhae, Myungsoo-ya. Tapi, aku benar-benar tidak bisa.”

“Ja-jadi, maksudmu?” Aku mengerti apa yang berada di dalam pikirannya, hanya saja… hal itu terlalu sulit untuk aku ucapkan.

Yeoja itu menundukkan kepalanya, lalu mengangguk pelan. “Ne. Kita putus!”

Hening sejenak.

Aku masih terlalu kaget mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Naeun-ku. Aku terbatuk pelan. Rasanya tidak percaya bahwa hubungan yang sudah terjalin selama 3 tahun harus berakhir karena… Naeun trauma dengan masa lalunya.

“Ba-baiklah, Naeun-ah,” ucapku lirih, “Kalau kau pikir itu yang terbaik, aku akan menerimanya.”

Naeun melihat ke arahku sejenak. Terlihat ia pun menahan tangisnya. Tidak lama, ia berkata, “Kalau begitu, aku pergi dulu, Myungsoo-ya. Semoga kau sukses di sana,” katanya, lalu bangkit dari duduknya.

Naeun lewat di sebelahku dan aku membiarkannya pergi begitu saja. Kedua mataku memandang kosong bangku yang diduduki oleh yeoja itu. Sejenak melihat ke arah secangkir espresso-nya yang tidak habis.

Hah~

Detik demi detik berlalu seiring dengan kurasakan rasa sakit menyeruak dari dalam sesuatu di tengah dadaku. Membuat nafasku sesak, bahkan nyaris membuatku menitikkan air mata. Cukup! Aku tidak mau dibilang cengeng, tapi… kau tahu kan rasanya diputuskan?

SAKIT!

-End Of Flashback-

Sekarang, rasa sakit itu sudah sembuh. Semenjak hari itu, kuputuskan untuk pelan-pelan melupakan segala sesuatunya tentang Son Naeun. Berusaha untuk bangkit menjalani hidupku tanpa sosok yeoja itu. Awalnya sangat sulit, tapi… ini hanya masalah waktu. Jika aku terus-menerus sedih hanya karena hal seperti itu, kapan aku bisa menjadi dewasa?

Putus hubungan.

Satu dari sekian banyak hal yang dirasakan seiring dengan tumbuh dewasanya kita.

Hari berganti hari. Bulan berganti bulan. Tahun berganti tahun. Sedikit banyak aku terbiasa menjalani hidupku tanpa yeoja itu. Dan, ya, aku pikir aku berhasil. Meski sesekali aku masih teringat akan beberapa hal tentangnya, tapi… itu wajar, kan?

Bagaimana pun, satu dari sekian banyak kebahagian yang terjadi di dalam hidupku adalah… saat bersamanya.

Suasana kedai yang semakin ramai dan sinar matahari yang terasa semakin panas membuatku berniat untuk beranjak dari tempat ini. Lebih dulu kulihat jam tangan berwarna hitam yang melingkar di pergelangan tanganku.

Oh, pantas saja ramai. Sekarang sudah dekat jam makan siang.

Kuhabiskan cappuccino-ku yang tersisa setengah cangkir, kemudian berjalan menuju kasir untuk membayar. Kulangkahkan kakiku meninggalkan kedai menuju halte bis yang letaknya sekitar 50 meter di sebelah kiri kedai.

Di halte, aku berdiri sambil memasang kembali earphone di telingaku. Menunggu bis yang akan mengantarku menuju rumah Sungyeol, sahabatku, di Dongjak-gu. Sekitar 5 menit berdiri, bis berwarna biru akhirnya muncul dari kejauhan.

Sekitar beberapa puluh detik kemudian, bis tersebut berhenti. Pintunya terbuka seiring dengan seorang namja bertopi keluar dari sana.

“Hati-hati, Jagiya~” ucapnya lembut sembari menjulurkan tangannya untuk membantu seorang yeoja yang juga mengenakan topi, turun dari bis.

“Ah, gomawo~” kata yeoja tersebut, lalu melepas topinya sejenak.

“Son Naeun?” gumamku refleks begitu melihat yeoja itu berdiri tidak jauh dariku.

Yeoja itu menoleh ke arahku, begitu juga dengan si namja yang tadi membantunya turun. Kulihat Naeun membulatkan kedua matanya ketika ia melihat wajahku. “Ki-Kim Myungsoo?”

“Kau kenal namja ini, Naeun-ah?” Namja yang bersama Naeun bersuara. Melihatku dan Naeun bergantian.

Seketika Naeun mengendalikan dirinya. “Uh, ne. Di-dia… dia temanku. Kim Myungsoo.”

Sekarang aku temannya.

Ya, setidaknya itu lebih baik dari pada ia menyebutku mantan kekasihnya.

Aku membungkuk sekilas kepada namja itu. “Kim Myungsoo imnida,” ucapku memperkenalkan diri.

Namja itu pun melakukan hal yang sama. “Cha Baro imnida. Bangapseumnida, Myungsoo-ssi,” balasnya.

“Kalian mau kemana?” tanyaku basa-basi.

Naeun terdiam sehingga Baro yang menjawab pertanyaanku. “Ke kedai kopi yang di sana.” Baro menunjuk kedai kopi yang baru saja aku tinggalkan. Aku hanya membalasnya dengan sebuah ‘oh’ yang singkat. “Kau sendiri?”

“Ah, aku mau ke Dongjak-gu,” jawabku. “Mm… aku permisi dulu. Aku mau naik bis ini,” pamitku.

“Oh, ne. Hati-hati, Myungsoo-ssi,” kata Baro seolah kami sudah lama kenal. Aku hanya tersenyum untuk membalas ucapannya, lalu masuk ke dalam bis. Aku duduk di bangku paling belakang, menyempatkan diri untuk melihat ke arah Naeun dan Baro yang berjalan sambil bergandengan tangan menuju tempat itu.

Hah~

Aku menghela nafas sembari mengalihkan pandanganku ke arah depan.

Sekarang kau terlihat sangat bahagia bersama namja itu, Naeun-ah. Bahkan, kau pun pergi ke kedai kopi itu bersamanya. Kau mengajak dia ke tempat dimana kita membuat begitu banyak kenangan.

But, it’s alright.

That’s coffee shop is just a coffe shop.

Kedai kopi yang sering kita kunjungi.

Kedai kopi kita.

-THE END \(^O^)/-

Anditia Nurul ©2014

-Do not repost/reblog without my permission-

-Do not claim this as yours-

Also published on Fanfiction Side & High School Fanfiction

A/N: Ini sebenarnya FF udah lama banget nongkrong di laptop, tapi aku baru ingat(?) dan baru sadar(?) kalo FF ini belum pernah di-publis. Jadilah… FF ini baru aku publish (di beberapa blog lain juga… hehehe). Last, review juseyooo~~~

13 thoughts on “COFFEE SHOP

  1. Ceritanya mirip lagu coffe shop trans, bagus ko eon… malah karna eon aku jadi terinspirasi pas ada tugas b.indo buat cerpen ya aku pake lirik lagu trus berhasil… maag kalo eon bukan dari lirik lagu nyarinya… keknua aku sok tau deh. mian ya eon^^ fighting dan maaf baru baca karna baru nemu

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s