[Chapter 9] 2050

2050

“When you’re not a human..”

by Shinyoung

Main Cast: Kim Myungsoo & Son Naeun || Support Cast: Infinite & Apink || Genre: Fantasy, Angst, Romance || Length: Chapter 9/? || Rating: || Credit Poster: iheartpanda || Desclaimer: Official written by me. The cast belongs to God. No copy-paste. || A/n: Halo! Aku balik dengan chapter 9! Hoa! Gak kerasa nih udah chapter 9 lagi HAHA. Aku juga berencana bakal menyelesaikan ini secepatnya supaya aku bisa ngetik cerita baru lagi. HEHE. So, enjoy!

Chapter 9 — Welcome to Incheon

Teaser | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8

**

Sebelumnya: Tiga Robolars sudah yakin dengan pilihan mereka, yaitu pindah ke Incheon dan mulai merakit pesawat-bisa-berubah tersebut. Jaehyun juga sudah mulai mempelajari program-program Robolars.

Sedangkan itu, Myungsoo juga sudah memastikan bahwa dirinya juga ikut pindah ke Incheon. Dia merindukan semua tentang kampung halamannya itu dan juga agar ia terselamatkan dari ancaman pembunuhan ayah tiri Krystal.

Terakhri kali, Myungsoo mendapatkan pesan foto dari Krystal yang rupanya merupakan foto dari ayah tiri Krystal, ayahnya, dan yang terakhir—yang tak terduga sama sekali—yaitu ayah dari Bae Suzy. Gadis yang sudah meninggal sejak lama itu. Tapi, apa hubungan ketiga ayah mereka tersebut?

**

Bomi keluar dari mobil Jaehyun sambil merentangkan kedua tangannya ke atas. Setelah melalui perjalanan panjang yang mengakibatkan tubuh gadis itu semuanya keram. Bahkan, Jaehyun sempat memarah-marahinya karena ia tidak bisa menyetir—setidaknya, gadis itu bisa menggantikan Jaehyun untuk menyetir.

Namun, sia-sia saja Jaehyun memarah-marahinya, Bomi sama sekali tidak bisa menyetir mobil. Disisi lain, Naeun yang sudah bergantian menyetir—tentu saja karena ia pernah memprogram dirinya—dengan Myungsoo. Myungsoo merasa sedikit beruntung.

Myungsoo menguap lebar-lebar sambil membuka bagasi mobilnya. Ia menarik keluar dua kopernya dan dua koper lain milik Naeun. Ia memanggil Naeun untuk membantunya. Cepat-cepat, gadis itu membantunya menarik kopernya. Kemudian, Naeun menyusul Bomi dari belakang dengan dua koper yang ia tarik secara paksa. Jaehyun pun ikut masuk dan mengekori Naeun dari belakang bersama koper-kopernya.

Myungsoo mengambil kameranya yang ia letakkan di jok belakang. Laki-laki itu membiarkan kopernya dan ia berjalan mendekati pagar. Ia menatap rumah yang sangat-sangat besar itu. Ia sampai menggelengkan kepalanya karena kagum.

Rumah itu merupakan rumah tingkat dua dengan sebuah balkon yang menjulur di lantai duanya. Tampaknya itu sebuah kamar. Disisi lain, di lantai satunya, sebuah pintu utama berwarna cokelat dengan gagang keemasan menghiasi bagian utama rumah tersebut.

Di kanan bangunan utama, ada sebuah garasi berbentuk persegi yang dapat menampung tiga mobil. Diatas garasi ada sebuah bangunan lagi yang sejajar dengan lantai dua dari bangunan utama.

Sedangkan itu, di kiri bangunan utama, ada sebuah pagar lagi yang rupanya menuju kolam renang pribadi dan taman kecil yang menghiasi rumah tersebut. Di depan bangunan utama, ada sebuah taman kecil berbentuk lingkaran dengan sebuah air mancur di tengah-tengahnya.

Rumah itu dibangun dengan dua utama yang membentuk jalan setengah lingkaran. Tujuannya, agar mobil bisa masuk dengan mudah dan berhenti di depan rumah dan keluar juga dengan mudah.

“Myungsoo!” panggil Naeun dari lantai dua ketika Myungsoo sibuk memotret bangunan rumah tersebut. Myungsoo segera mengarahkan kameranya ke arah Naeun dan memotret gadis itu berkali-kali.

Spontan, Naeun langsung mengerucutkan bibirnya dengan wajah dibuat kesal. Dalam hati, Myungsoo tertawa karena melihat wajah manis gadis itu. Lalu, sepersekian detik kemudian, gadis itu meletakkan kedua jarinya dan membentuk huruf V di dekat matanya.

Setelah selesai memotret Naeun, Myungsoo menurunkan kameranya dan melihat Naeun. “Ada apa?” tanyanya sambil menutup pagar utama.

“Kau mau masuk tidak? Bomi mau memasakkan makanan untukmu,” katanya. “Dia takut kau tidak suka dengan makanan yang akan dibuatnya.”

“Aku makan apa saja,” kata Myungsoo. “Yang penting enak dimakan dan bisa dimakan tentunya.”

“Kau meragukan Bomi?” tanyanya dengan alis setengah terangkat. “Masakan dia benar-benar enak dan tentu saja bisa dimakan.”

Kemudian, gadis itu masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu menuju balkon tersebut rapat-rapat. Myungsoo hanya tertawa pelan melihat tingkah gadis itu. Lalu, ia masuk ke dalam rumah tersebut dengan kopernya. Baru saja ia masuk ke dalam rumah tersebut, ia bisa mengendus wangi makanan yang tengah dimasak oleh Bomi. Di dalam, rumah tersebut tampak sangat luas dan megah.

Ruang tamunya dibangun dalam suatu ruangan agar tentu saja orang yang pertama kali masuk tidak langsung melihat bagian dalam rumah tersebut. Myungsoo harus membuka pintu lagi menuju ruang tengah. Ia bisa melihat ruang tengah yang sangat luas dengan televisi berukuran sangat besar menempel pada dindingnya.

Setelah ruang tengah, ada sebuah tangga lebar yang menuju ke dua arah. Ke kanan dan ke kiri. Kalau ke kiri, Myungsoo yakin bahwa itu menuju ruangan yang berada di atas garasi tadi. Kalau ke kanan, mungkin menuju ruangan lain. Di belakang tangga lebar tersebut, ada sebuah pintu berkaca yang bisa digeser menuju halaman yang sangat besar. Disana, ada Jaehyun yang tengah berkutat dengan Screvisible-nya.

Akhirnya, Bomi muncul dari dapur yang berada di kiri ruang tengah tersebut. Ia tersenyum menatap Myungsoo. “Kim Myungsoo-ssi, kau bisa mengambil kamar yang ada disamping kamar Naeun. Dia ada di atas.”

“Ah, begitu,” kata Myungsoo menganggukkan kepalanya. “Terimakasih. Ngomong-ngomong, apa rumahmu ini benar-benar milikmu? Aku menduga-duga bahwa kalian bertiga sangat kaya.”

“Kalau rumah ini milik orang tuaku. Soal keuangan, Jaehyun dan Naeun jauh lebih kaya daripada aku,” katanya sambil tertawa. “Sudah ya, aku mau masak dulu.” Ia kembali masuk ke dalam dapur.

Myungsoo menduga-duga juga kalau dapur di dalam rumah ini sama besar dan sama megahnya dengan rumah ini. Akhirnya, ia pun menaiki tangga dan menemukan Naeun yang sudah berdiri tepat di dekat tangga.

Ia melipat kedua tangannya dengan gaya yang sama sekali bukan dirinya. “Tuh, kamarmu ada disamping kamarku.” Naeun menunjuk sebuah pintu yang dicat warna hitam.

Myungsoo menatap Naeun. “Lalu kamarmu?”

“Itu,” Naeun menunjuk pintu putih yang rupanya kamar itu ada di kanan kamar Myungsoo. “Dan, kamar berbalkon tadi milik Bomi. Di kiri kamarmu ada kamar Jaehyun.”

Myungsoo menatap pintu berwarna cokelat yang ada di kiri kamarnya. Kemudian, ia hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Ia menoleh ke arah Naeun. “Kau sudah mandi?”

Naeun menggeleng. “Aku baru mau mandi setelah aku meyakinkan bahwa kau memasuki kamar yang tepat. Aku takut kau tiba-tiba masuk ke kamarku.”

“Kalau sampai?” Myungsoo mengerling jahil. Spontan, Naeun langsung meninju bahu laki-laki itu dan berbalik pergi masuk ke dalam kamarnya. Myungsoo pun hanya menggosok bahunya dan tertawa puas.

**

“Apa yang kalian lakukan di atas? Lama sekali,” ujar Bomi saat Naeun dan Myungsoo turun bersama-sama. Naeun mencibir. “Aku baru selesai mandi dan dia entahlah, aku juga tidak tahu.”

“Aku pikir kalian berdua sempat berbuat macam-macam,” kata Jaehyun santai sambil menyuapkan makanannya. Naeun melotot ke arahnya, lalu meninju bahu laki-laki itu. “Kau pikir aku ada apa dengannya?”

Jaehyun pun meringis pelan. “Aku hanya bercanda, Son Naeun,” katanya. “Lain kali, kau jangan meninju bahuku. Kekuatanmu benar-benar menyeramkan.”

Myungsoo tertawa. “Jaehyun benar. Aku pernah merasa seperti ditiban sebuah besi seelah ia memukulku,” kata Myungsoo. Naeun menatapnya sengit. “Aku memang besi, bodoh.”

“Sudahlah, ayo makan,” kata Bomi menengahi mereka semua. “Kita seharusnya menikmati makanan bukan bertengkar seperti ini.”

Naeun menyuapkan makanannya. “Sejak kapan kau beralih menjadi seorang biksu?” tanyanya.

Bomi sontak tertawa pelan. “Aku hanya menengahi kalian berdua, tahu. Oh, ayolah, Son Naeun, kita disini untuk makan.”

“Baiklah,” kata Naeun akhirnya. Lalu, ia menatap halaman belakang yang sudah dibangun sebuah bangunan berukuran sedang dengan teknologi tinggi. Disamping bangunan itu, ada sebuah menara yang menuju ke gedung observasi.

Naeun menduga bahwa itu adalah pekerjaan Jaehyun. “Jaehyun, kau sudah membangunnya? Cepat sekali.”

Jaehyun mengangguk dan menelan makanannya. “Begitulah, kau tahu kan, teknologi tahun 3000. Aku membangun observasi untuk mengamati bintang. Aku sedang tertarik.”

“Sejak kapan?”

“Sejak tahun 3000.”

“Oh,” kata Naeun sambil melanjutkan makanannya. Lalu, ia menatap Bomi. “Kita butuh berapa banyak barang lagi untuk pesawatnya?”

“Sekitar 12 barang lagi. Aku pikir, kita bisa minta bantuan Namjoo untuk Desktor dan Jaehyun sudah menemukan program untuk pesawat tersebut agar bisa berubah-ubah,” kata Bomi.

Jaehyun mengangguk. “Aku juga sudah menemukan program yang tampak seperti dalam anime ‘Angel Beats’,” katanya.

“Sayang sekali, aku belum menonton anime tersebut,” kata Naeun sambil mengerucutkan bibirnya lalu meneguk air putihnya. “Aku padahal sudah menonton banyak anime.”

“Tidak apa-apa,” kata Bomi. “Program yang diberi judul ‘Angel Beats’ itu memang sangat mudah. Kita hanya perlu memasukkan judul gerakan yang akan kita gunakan dan menggerakkan tubuh kita.”

Naeun mengerutkan kening tak mengerti.

“Maksudnya, misalkan kau memberikan judulnya berupa ‘Attack’ lalu kau menggerakkan tanganmu seperti ini,” kata Jaehyun dan meninju tangannya ke depan. “Maka, automatis, program tersebut akan menjalankan perintahnya. Dia akan memasukkan gerakan tersebut ke dalam tubuhmu dan mulai saat itu, jika kau menyebutkan kata ‘Attack’, automatis kau meninju tanganmu ke depan.”

“Lalu, bagaimana dengan gerakan yang lain? Misalkan, bantuan seperti pisau atau sebagainya,” kata Naeun. “Setauku dalam anime-anime ber-genre action sering memunculkan hal-hal seperti itu.”

“Kalau itu, aku bisa membuatnya,” kata Jaehyun bangga. “Aku bisa menciptakan berbagai gerakannya.”

“Kapan kau belajar itu?”

“Sewaktu malam setelah kita merencanakan tentang ramuan untuk Doojoon,” kata Jaehyun sambil tertawa pelan. Lalu, ia menyisir rambutnya ke belakang dengan jari-jarinya. “Aku tidak tidur sebenarnya.”

“Sinting! Tidur sekarang,” kata Naeun.

Jaehyun tergelak. “Baiklah, Tuan Putri.”

Sontak, Myungsoo langsung menatap tajam Jaehyun. “Jangan memanggilnya seperti itu,” katanya pedas. Jaehyun bergidik dan menatap balik laki-laki itu. “Ada apa memangnya?”

“Astaga, bisakah kalian berhenti,” kata Bomi frustasi. Dia menumpuk piring-piring kotor milik Jaehyun dan Myungsoo ke atas piringnya. Begitupula dengan piring Naeun yang ia taruh paling atas.

Naeun tertawa dan mengangguk setuju. “Kau sebaiknya tidur, Ahn Jaehyun,” kata Naeun. “Kim Myungsoo, antarkan aku ke supermarket terdekat. Kita harus membeli kebutuhan makanan kita.”

“Aku menduga-duga kalau uang tabunganmu berjumlah triliunan,” kata Myungsoo lalu menguap lebar. Naeun tersenyum kecil. “Memang seperti itu kenyataannya. Jaehyun lebih banyak.”

Jaehyun bergidik. “Begitulah,” katanya lalu naik ke lantai dua dan masuk ke dalam kamarnya. Sedangkan Bomi menuju dapur untuk membersihkan piring kotor. Suara air dinyalakan terdengar.

Naeun menoleh ke arah Myungsoo. “Sebaiknya kau berganti pakaian,” kata Naeun. “Kau menggunakan baju tadi kan? Gantilah.”

Mungsoo hanya mengangguk dan pergi menuju lantai dua dan meninggalkan Naeun yang menuju dapur untuk membantu Bomi membersihkan piring-piring kotor. Dia juga sempat masuk ke dalam bangunan di halaman belakang.

**

Dari sejak jam 10 pagi sampai jam 7 malam, Krystal masih berkutat dengan MacBook-nya. Ia sedang mencari-cari informasi tentang masa lalu ayah tirinya itu karena ia penasaran.

Terutama, setelah ia mendapatkan balasan pesan dari Myungsoo yaitu tentang hubungan ayahnya dan ayah mantan kekasihnya, Bae Suzy. Krystal tidak pernah mengetahui wajah mantan kekasih Myungsoo yang satu itu.

Tapi, dia masih sibuk mencari, sampai-sampai Jongin secara diam-diam datang ke rumahnya dan melalui pintu belakang. Seperti biasa, ayah tiri Krystal selalu menolak habis-habisan jika Jongin datang ke rumahnya.

Beda lagi dengan ibu dari Krystal, dia tidak peduli dengan Jongin. Dia hanya peduli dengan caranya berpakaian dan bagaimana ia hidup. Ibunya sangat mencintai uang karena itulah ibunya sangat mencintai ayah tirinya.

“Kau tidak mau makan?” tanya Jongin akhirnya.

Krystal masih menatap MacBook-nya. Ia pun menggeleng pelan sambil menarik ke bawah laman yang tengah dibukanya. Sekarang, ia sudah mendapatkan beberapa informasi tentang ayah tirinya.

Ternyata, ayah tirinya merupakan teman satu sekolah dengan ayah Myungsoo dan ayah Suzy. Disisi lain, mereka bertiga membangun perusahaan secara bersama-sama. Tapi, ayah Suzy keluar dan ayah Myungsoo meninggal.

Sampai sekarang, Krystal masih tidak tahu apa dendam ayah tirinya pada ayah Myungsoo yang sudah meninggal. Krystal menghela nafas panjang dan mematikan MacBook-nya.

“Lelah?” tanya Jongin. Krystal menatap laki-laki itu dan mengangguk pelan, lalu ia mengambil gelas air putihnya dan meneguknya sampai habis. “Seharusnya kau tidak berkutat seharian di depan sana.”

Krystal pun mengerucutkan bibirnya. “Aku sangat penasaran.”

“Kau boleh penasaran, tapi kau harus menjaga matamu,” saran Jongin. Ia menyenderkan tubuhnya ke sofa yang berada di depan tempat tidur Krystal. Krystal pun terduduk di atas tempat tidurnya. “Kau harus tidur, setelah ini aku mau pulang.”

“Iya,” kata Krystal sambil tersenyum tipis. “Aku masih penasaran soal dendam itu. Tapi, aku tidak mencium gerak-gerik ayahku yang ingin membunuh Myungsoo. Kalaupun itu akan terjadi, aku tidak tahu.”

“Jangan terlalu dipaksakan,” kata Jongin. Ia tersenyum tipis. “Kau tahu, terkadang kita harus merelakan sesuatu. Lagipula, kau bukan siapa-siapa Kim Myungsoo. Mungkin, sebaiknya kau memperingatkannya.”

“Aku memang bukan siapa-siapanya, tapi aku harus memperingatkan laki-laki itu. Setidaknya, aku membantu,” kata Krystal.

Jongin mengangguk setuju. “Kau selalu melakukan yang terbaik, Jung Krystal.”

**

Tidak ada yang bisa dilakukan Naeun selain menciptakan beberapa program untuk dirinya melalui Screvisible-nya yang baru saja dikirimkan Jaehyun program berjudul ‘Angel Beats’ itu.

Bicara tentang ‘Angel Beats’, Naeun menjadi penasaran dengan film animasi tersebut. Akhirnya, setelah menimbang-nimbang, ia membuka MacBook-nya dan menghidupkan wifi dari ponselnya.

Ia membawa MacBook-nya menuju meja kecil yang sebenarnya bisa digunakan untuk belajar. Tapi, soal umur Naeun yang sudah menginjak 22 tahun, menyebabkan gadis itu tidak perlu belajar.

Terutama, gadis itu merupakan setengah robot yang tak mengenal tentang sekolah. Sejak kecil, ia dilatih untuk bekerja dan melindungi Veloza Land dari ancaman bahaya.

Jari-jari lentik milik Naeun meluncur pada papan ketik MacBook-nya. Ia mengetikkan ‘Angel Beats Anime’ disana ketika ia mencapai Google. Dalam waktu sekejap, hasil pencaharian muncul.

Naeun memilih laman Wikipedia sebagai sumbernya. Setelah membaca-baca, akhirnya ia memilih untuk mengunduh film animasi tersebut. Totalnya ada sekitar 12 episode yang harus dia unduh. Gadis itu langsung memutarnya dan ternyata ia menyadari bahwa memang benar program milik Kanade berjudul ‘Angel Beats’ juga. Ia sempat berpikir bahwa Jaehyun punya otak encer.

Butuh waktu sebentar bagi seorang Son Naeun untuk berkutat dengan film animasi yang baru saja diunduhnya. Setelah selesai, ia menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 10 malam.

Sebenarnya, akhir dari film animasi itu sangat tragis, tapi Naeun tidak menangis. Tentu saja karena Naeun masih seorang robot. Dia bisa mengontrol perasaannya dengan mudah.

Suara pintu diketuk mengagetkan Naeun. Ia pun bangkit dari kursinya dan membukakan pintu kamarnya. Disana, berdiri Kim Myungsoo dengan jaket hitamnya dan juga tudung jaket yang menutupi kepalanya.

“Ada apa?” tanya Naeun sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Ia menyenderkan tubuhnya pada kusen pintu. “Kalau kau bicara tentang hal yang tidak penting, sangat menyesal aku tidak akan melayanimu.”

Myungsoo hampir melotot saat mendengar perkataan Naeun. Tapi, ia memilih untuk menatap gadis itu datar dan menghambil nafas dalam-dalam. “Mau temani aku ke makam orang tuaku?”

“Tapi, sudah malam,” kata Naeun sambil menatap jendela yang ada di belakangnya. “Ini sudah jam 10. Kenapa tidak besok saja?”

Sebenarnya, ada sedikit perasaan menyesal ketika Naeun mengatakan hal tersebut. Itu, pasti sangat menyinggung Myungsoo. Mungkin saja, Myungsoo sangat merindukan kedua orang tuanya. Seharusnya, dia menemaninya saja, toh ada Myungsoo ini.

Naeun menatap laki-laki itu dengan perasaan bersalah dan Myungsoo menggeleng pelan. “Tidak apa-apa,” katanya sambil menangkat tangannya seakan-akan ingin mengakhiri topik ini. “Kita bisa mengunjunginya besok.”

Myungsoo tersenyum kecil dan ia duduk disamping pintu kamar Naeun. Laki-laki itu sempat menepuk-nepuk lantai yang akan didudukinya. Lalu, ia juga membersihkan bagian yang ada disampingnya.

Tanpa disuruh, Naeun duduk disamping laki-laki itu setelah menutup pintu kamarnya. Ia merapatkan sweater-nya dan menyenderkan kepalanya ke dinding kamarnya.

“Kau tidak mengantuk?” tanya Myungsoo. “Setahuku, seorang gadis sudah tidur atau mendengkur di kamarnya saat jam 10. Rumah ini sudah sangat sepi dan Bomi pasti sudah tidur.”

“Aku masih setengah robot jadi aku bisa mengendalikan kapan aku ingin tidur,” kata Naeun. “Bomi tentu saja sudah tidur. Kita bertiga selalu pulang larut dan dia sering mengeluh karena lelah. Kalau Jaehyun, aku tidak yakin dengan laki-laki itu.”

“Dia juga Robolars?” tanya Myungsoo.

“Iya, waktu itu aku pernah cerita kan. Dia datang dari tahun 3000 dan tiba disini sebelumku. Jadi, dia lebih banyak tahu daripada aku. Yang menciptakannya juga adalah kau.”

Myungsoo memalingkan wajahnya. “Aku tidak mengerti,” katanya sedikit ragu. “Kau tau, aku masih disini. Di tahun 2014. Bagaimana bisa seorang Kim Myungsoo yaitu aku ada di tahun 3000?”

“Jangan tanya padaku,” kata Naeun. “Aku sendiri tidak tahu bagaimana caranya dirimu ada disana. Aku dan Jaehyun, juga Bomi akan menelitinya nanti setelah kami melawan Barvseu.”

“Apa kau akan kembali ke tahun 2050?”

“Um—Aku tidak tahu.”

“Bisakah kau menetap disini?” tanya Myungsoo pelan. Laki-laki itu menoleh ke arah Naeun dan menatap wajah gadis itu dari samping. “Tidak bisakah kau menetap disini lebih lama?”

Sudut mata Naeun menangkap wajah Myungsoo yang menatapnya. Gadis itu menguap kecil dan mengangkat bahunya. Ia sendiri bahkan tidak tahu apa yang akan dilakukannya nanti ketika ia sudah menjadi manusia sepenuhnya. Akankah ia menetap di tahun 2014? Akankah ia kembali ke tahun 2050? Atau ia justru ke tahun 3000 untuk meneliti Myungsoo?

Pikirannya tercampur aduk dan ia kembali ke dunianya ketika Myungsoo menyikut bahu gadis itu. Lalu, Naeun bergumam menanggapi seikutan Myungsoo yang terasa seperti senggolan kecil.

“Kau belum menjawab pertanyaanku,” kata Myungsoo. “Sebenarnya, tidak apa-apa kalau kau tidak ingin menjawabnya. Aku tidak memaksamu.”

Neun menarik nafas dalam-dalam dan menghela nafasnya secara perlahan. Ia memantapkan pikirannya dan ia sempat berdeham sebelum ia mengatakan segalanya. “Jawabannya adalah aku tidak tahu.”

“Setelah kau merakit pesawat, kau akan apa? Melawan Barvseu?” tanya Myungsoo. “Setelah kau berhasil melawan Barvseu, kau akan apa?”

“Aku tidak tahu, Kim Myungsoo,” kata Naeun pelan. Saat itu juga, Myungsoo menggenggam tangannya erat. “Aku—Aku bahkan belum yakin kalau aku bisa melawan Barvseu. Aku harus keliling dunia bersama Bomi dan Jaehyun untuk mencari Barvseu dan bantuan Robolars lain.”

Mendadak, raut wajah Myungsoo langsung berubah. Ia semakin mengeratkan genggamannya pada Naeun. “Kau keliling dunia?” tanyanya. “Demi mencari Barvseu itu?”

“Iya, aku harus keliling dunia dan mencari Robolars lain. Aku juga mengajakmu, Kim Myungsoo,” katanya. “Kalau kau mau sebenarnya. Tapi, aku takut ini membahayakan dirimu. Aku sudah bilang waktu itu.”

“Aku tahu ini membahayakan, tapi aku mau ikut,” katanya lugas. “Aku juga mau menghindari ancaman pembunuhan ayah tiri Krystal. Tapi, lama-lama, aku merasa tidak bisa apa-apa disini.”

“Bukan masalah,” kata Naeun. “Disini yang bertugas adalah kami bertiga. Kami harus gerak cepat dan segera menciptakan pesawat itu. Aku sempat berpikir apa sebaiknya aku juga menciptakan alat untuk melindungi dirimu.”

“Tidak usah,” kata Myungsoo cepat-cepat. Dalam hatinya yang paling lubuk, ia merasa tidak enak pada Naeun. “Kau selalu menciptakan ini itu padaku. Pokoknya, besok kita berdua ke makam orang tuaku.”

Naeun hanya mengangguk pelan kemudian tangan laki-laki itu menjauh dari tangannya. Sebelum Myungsoo berdiri meninggalkannya, laki-laki itu mengecup pipi gadis itu.

Sontak, wajah Naeun langsung merona merah—menjalar sampai ke telinganya—dan jantungnya terus berdentuman tak berirama. Sedangkan itu, Myungsoo tertawa kecil dan mengacak rambut gadis itu.

“Aku pikir, robot sepertimu tidak bisa merasakan cinta.”

Naeun langsung melotot marah padanya. “Itu bukan cinta! Aku hanya—Um, malu! Y—Ya! Malu!” kata Naeun kesal. “Lagipula, kenapa kau harus mencium pipiku? Aku bukan siapa-siapamu.”

“Oh, aku tidak mau aku mencium pipimu?” tanya Myungsoo. Laki-laki itu mengerling jahil dan tersenyum kecil. “Kau mau aku mencium bibirmu? Aku bisa melakukannya lagi.”

“YA!”

“YA?! Aku lebih tua daripada kau, Son Naeun!” Myungsoo melotot ke arah Naeun, tapi Naeun justru balik memelototinya karena masih kesal. Akhirnya, Myungsoo mengangkat kedua tangannya seolah-olah menyerah. “Oke-oke.”

“Kembalilah ke kamarmu!” ujar Naeun kesal. Gadis itu bangkit dan buru-buru masuk ke dalam kamarnya. Ia membanting pintu kamarnya cukup besar, sampai-sampai Myungsoo terlonjak. Tapi, Myungsoo sedikit senang karena menurutnya wajah Naeun tampak polos dan manis ketika ia marah.

**

Gadis itu mengerang kesal saat mendengar ponselnya terus-terusan berdering. Akhirnya, ia pun bangkit dari tempat tidurnya dan menatap cermin sekilas untuk memastikan penampilannya.

Rambut yang acak-acakan dan beberapa helai rambut masuk ke dalam mulutnya, serta air liur kering yang menempel dari arah bibirnya turun ke dagu. Ia pun mengacak rambutnya asal dan ia menyambar ponselnya dari nakas tempat tidur.

Ia mendapati sebuah nama disana yang daritadi menelponnya. Gadis itu mengangkat telponnya dengan malas dan mendekatkannya ke telinga. Disana, terdengar helaan nafas lega.

“Ada apa? Kenapa kau membangunkan tidur nyenyakku? Kau tahu ini jam berapa?” tanyanya kesal. “Jam 3 pagi, Ahn Jaehyun!”

Oke, maafkan aku,” kata Jaehyun dengan terpaksa. Gadis itu yakin bahwa Jaehyun sudah memutar bola matanya kesal karena omelannya. “Aku baru saja menciptakan beberapa program baru!

“Kenapa kau tidak bangunkan Naeun saja?!” pekik gadis itu marah. Ia mengacak-acak rambutnya frustasi dan mengerucutkan bibirnya. “Aku benar-benar tidak bisa mengerti kau, Jaehyun!”

Oh, ayolah, Bomi! Kau harus mengerti!” kata Jaehyun. Seukir senyum muncul di bibirnya. “Naeun lebih mengerikan daripada kau.

Bomi mendengus. “Lalu, ada apa dengan program baru itu? Apa kau sudah membuatnya tampak seperti film animasi?” tanyanya. “Aku harap kau tidak bekerja demi program itu. Kau harus tidur.”

Aku bisa tidur nanti,” kata Jaehyun santai. “Oh ya, aku juga sudah meminta Faylars untuk mencarikan informasi tentang Myungsoo tapi hasilnya masih nihil. Rupanya, Myungsoo menyembunyikannya.

“Tapi—Tapi, Myungsoo bilang kalau dia tidak mengenal tahun 3000 sama sekali,” kata Bomi. Ia mengerjapkan matanya agar tidak tertidur. “Kau tahu, terkadang aku berpikir Myungsoo ada hubungannya dengan kita.”

Kau benar,” kata Jaehyun. “Aku sempat berpikir bahwa suatu hari nanti, Myungsoo akan ikut kita pindah ke tahun 3000 atau bahkan kita bisa mengubah masa depan. Aku membayangkan bagaimana nanti jika sudah tidak ada Barvseu.

“I—Itu masih perjalanan yang sangat panjang.”

Ya, aku harap begitu,” kata Jaehyun pelan. “Aku harap kita bertiga bisa mengalahkan Barvseu. Setidaknya, kalau aku sudah menjadi manusia aku memutuskan tidak akan kembali ke tahun 3000.

“Kau sinting?”

Iya. Karena kau adalah temanku.

“Ya!” Bomi memekik marah. “Lalu kenapa?” Bomi terdiam sebentar untuk mengambil nafas. “Aku pikir kau akan kembali ke tahun 3000. Disana kan lebih canggih daripada tahun 2014. Untuk apa kau susah-susah melawan Barvseu jika kau memilih tahun 2014.”

Tentu saja kita harus melawannya.

“Kenapa?”

Jaehyun tampak terdiam sebentar. “Kim Joon-Myeon bisa saja mengejar kita ke tahun 2014. Ramuan Namjoo masih berfungsi jadi kita harus bergegas,” katanya. “Kim Joon-Myeon akan melakukan apapun untuk membunuh kalian. Um—Sebenarnya, aku juga sih.

“Aku bingung, kenapa Kim Joon-Myeon masih ada di tahun 3000?” tanya Bomi. “Lalu, kenapa ada Kim Myungsoo di tahun 3000? Kenapa dua-duanya bermarga Kim?”

Pertanyaanmu membuatku tidak bisa berpikir,” kata Jaehyun lalu tertawa pelan. “Sudah ya, kau tidur sana.

“Sialan kau, Ahn Jaehyun!”

Setelah itu, gadis itu menutup ponselnya secara duluan seperti biasa dan kembali terlelap dalam mimpi indahnya. Sedangkan Jaehyun, dia kembali berkutat dengan program ‘Angel Beats’-nya.

**

Paginya, Bomi mengucek matanya dan mendapati matahari yang sudah masuk ke dalam kamarnya. Ia menarik ponselnya dan melihat bahwa jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi.

Dia harus membuat sarapan untuk mereka semua termasuk dirinya. Gadis itu menyibakkan selimutnya dan melangkah menuju kamar mandinya yang ada di dalam kamarnya.

Setelahnya, ia mengambil pakaian kasualnya dan mengenakan sandal rumahnya. Ia keluar dari kamarnya dan menuruni tangga ketika ia melihat Jaehyun sudah menyibukkan dirinya di halaman belakang.

Tampaknya, laki-laki itu sedang melatih dirinya. Untungnya, halaman belakang rumah Bomi sangat luas. Ia bisa dengan leluasa mencoba program nya satu-satu yang baru ia ciptakan tadi malam.

Hand Sonic!

Bomi mengerutkan keningnya. Ia menyusul Jaehyun yang ada di halaman belakang dan ia langsung terlonjak kaget saat ia melihat sebuah pisau tunggal yang muncul dari tangan kanan Jaehyun.

Pisau ini berwarna hitam legam dan juga tembus pandang. Saat Jaehyun mengangkat tangannya, pisau itu memanjang. Bomi memekik dan saat itu juga Jaehyun terkejut.

“Ya! Kau jangan membuatku kaget!” kata Jaehyun kesal. “Hand Sonic Off.” Setelah berkata itu, pisau tunggal tadi masuk menghilang seperti ilusi. Bomi menduga-duga bahwa Jaehyun sudah menciptakan hal semacam itu yang lainnya.

“Aku menduga-duga bahwa kau sudah menciptakan hal lain semacam ini. Apa lagi selain Hand Sonic-mu itu?” tanya Bomi sambil melipat kedua tangannya di depan dada. “Dan, kau pasti tidak tidur.”

Jaehyun tertawa kecil. “Benar, aku tidak tidur,” katanya. Lalu, ia melangkah menuju meja bundar berpayung yang dikelilingi oleh 4 kursi. Diatas meja kayu tersebut, ada MacBook milik Jaehyun.

Tangan Jaehyun menari diatas papan ketik MacBook-nya. Ia membuka program ‘Angel Beats’-nya. Jaehyun memanggil Bomi dengan gerakan tangannya dan Bomi pun melangkah mendekatinya.

Gadis itu ikut melihat ke layar MacBook milik Jaehyun. Disana ada program yang tengah terbuka dan tertera beberapa nama aneh yang Bomi duga sebagai kekuatan super power itu.

Hand Sonic ada beberapa versi?” tanya Bomi.

Jaehyun mengangguk. “Ketika kau ingin mengaktifkannya kau harus menambahkan kata ‘on’ di belakangnya. Lalu, Hand Sonic ada empat versi sebenarnya. Aku membuatnya untuk memudahkannya,” kata Jaehyun sambil menarik ke bawah lamannya. “Ini, kau harus mengaktifkannya secara berurutan. Kau tidak bisa langsung mengaktifkan Hand Sonic Versi tiga. Kau harus mengaktifkan yang pertama, kedua, barulah yang ketiga.”

“Bisa kau tunjukkan?” tanya Bomi.

“Bisa, aku sudah memprogramnya masuk ke dalam tubuhku,” kata Jaehyun yakin. “Aku juga sudah mulai merakit pesawatnya. Tadi malam, Naeun menyarankan agar energi pesawat saat siang hari menggunakan matahari dan pada malam hari menggunakan energi bulan. Kalau tidak ada matahari atau bulan, kita bisa mengisinya dengan listrik atau memprogramnya lagi.”

“Kau benar-benar mengagumkan,” kata Bomi sambil bertepuk tangan kagum. “Sekarang tunjukkan semua versi dari Hand Sonic-nya.”

Jaehyun mengangguk, kemudian laki-laki itu bangkit dari kursinya. Ia berdiri jauh-jauh dari Bomi—ia khawatir mengenai Bomi dan bisa membunuh gadis itu. Bagaimanapun, Hand Sonic bisa memotong besi menjadi keping-keping.

Hand Sonic On!” teriak laki-laki itu. “Hand Sonic Version One!

Tangan kanan Jaehyun mengarah keatas dan sebuah pisau tunggal transparan muncul dari tangannya. Bentuknya biasa seperti pedang. Warnanya hitam legam dan sedikit menyala.

Hand Sonic Version Two!

Bentuknya sama seperti sebelumnya, hanya saja ujungnya berubah. Ujung pedang tersebut menukik tajam seperti kristal.

Hand Sonic Version Three!

Pedangnya berubah menjadi trisula dengan bagian tengah yang sangat tajam. Di kanan dan kirinya, ujungnya lebih pendek dan ujungnya agak membelok ke arah masing-masing.

Hand Sonic Version Four!

Kali ini trisula berubah menjadi seperti penjepit yang menyerupai tanduk setan. Bentuk ini memungkinkan untuk mencabik-cabik perut.

Bomi berterpuk tangan setelah Jaehyun mematikan Hand Sonic-nya. Ia menggelengkan kepalanya tak percaya. Lalu, Jaehyun kembali duduk dengan nafas terengah-engah.

“Aku pikir menggunakan program ini membutuhkan tenaga?”

“Tidak,” kata Jaehyun tertawa. “Aku hanya membuatnya terkesan seperti aku membutuhkan tenaga. Sejak kapan Robolars membutuhkan tenaga? Yang kita butuhkan adalah program.”

Bomi langsung cemberut. “Sialan, aku pikir menggunakan tenaga,” katanya. “Nah, terimakasih untuk pertunjukkannya. Kau mau makan apa? Kita punya semua yang kita butuhkan.”

“Makan apa saja?” Jaehyun mengerutkan keningnya. “Siapa yang membeli bahan makanan? Setahuku kemarin—.”

“Kau tidur, Jaehyun,” potong Bomi melipat kedua tangannya. Lalu ia mendekatkan wajahnya. “Kemarin Myungsoo dan Naeun lah yang pergi ke supermarket untuk membeli bahan makanan.”

“Oh,” kata Jaehyun sambil mendorong kening Bomi agar wajah gadis itu menjauh dari wajahnya. “Aku mau makan pasta. Kalau kau bisa membuatnya, aku akan menciptakan program khusus untukmu.”

“Tentu saja!”

**

 

a.n

ngomong-ngomong soal alur, bilang aja kalau misalkan alurnya agak lama. terkadang, aku memang sengaja membiarkan alurnya agak lama biar bagian-bagian pentingnya juga ada di dalam.

soal jumlah words nya, biasanya aku ngetik setiap chapternya 4000 words. sekarang aku mau nambahin jadi 6000 words. kalian setuju gak? tapi jumlah chapter nya tetep sama seperti yang aku bilang, bakalan banyak. mungkin sampe chapter 20 atau—entahlah. aku juga belum ada pemikiran soal endingnya bakalan di chapter berapa.

makasih yang udah comment, like dan feedback! saranghae!

12 thoughts on “[Chapter 9] 2050

  1. yg penting tetep update aja lanjutannya 😀 eits… myungsoo main kisseu aja ma naeu> modus nie ho8

  2. Aaa… Udh trbit yeaahh,, tpii myungeunnya kuang 😦 tpii ggp deh thorr,, critanya bgus jdii mkiin pnsaran sma endingnya, hohoho,, ayoo thoorr fighting (ง’̀⌣’́)ง lnjutkan :3

  3. kapan sih myung soo nyatain perasaan cintanya? penasaran banget kak… semangat ya nulisnya, aku suka soalnya kakak jadwal nulisnya pas banget 🙂

  4. ah, makin penasaran sama lanjutannya .. ihiiii Myungsoo asal cium pipi Naeun, ahaaaay..
    ngga papa kok thor, asal updatenya tepat waktu da ditunggu ngaret banget.. tetep ditunggu chapter selanjutnya, fighting 🙂

  5. waaah keren tuh programnya. oh iya myungeunnya dikit masa T.T
    si jaehyun t.o.p b.g.t dah~
    next chapter ane tunggu thor~
    Fighting~ :3

  6. Myungsoo mulai bertindak dan naeun jadi grogi hehehe, bomi jaehyun juga cocok ko. Jadi penasaran sama masa lalu myungsoo?? Oke semangat dan ditunggu part selanjutnya

  7. lanjut cingu n updatex gak pake lama yach..
    jdi mkin penasaran ma crtx n konflik di ff ini terutama mslh ayah myungsoo. kristal n suzy???????

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s