[FF Freelance] Behind The Library (Chapter 4A)

req-trafalkid2

Author                  :        trafalkid

Length                  :        Multi Chapter

Genre                   :        Horor and Romance

Rating                   :        PG-15

Main Cast            :        Shim Hana and Park Chan Yeol

Other Cast           :        Jurina Matsui, Byun Baek Hyun, Chan Yeol’s Fans, and Jurina’s Mother.

Previous               :        Chapter 1Chapter 2, Chapter 3,

 

 

 

 

“Apa maksudmu?”.

 

Jurina terbang mengitari ruangannya. “Ah, tidak. Nantinya kau akan tahu sendiri”.

 

Hana mendengus kesal. “Huh, aku paling tidak suka jika harus bermain teka-teki seperti ini”.

 

Si hantu masih melayang-layang mengitari ruangannya itu.

 

“Ah, iya.. kurasa kita belum berkenalan”.

 

Barisan kata yang diucapkan Hana tadi berhasil membuat Jurina berhenti. Ia memandangi gadis itu dengan tatapan apa-anak-ini-waras?

 

“Namaku Shim Hana. Dan kau?”.

 

Jurina menaikkan sudut bibirnya. “Kurasa kau lupa namaku”.

 

“Hah?”, ucap Hana dengan nada yang aneh. “Kau melantur rupanya”.

 

Hal itu membuat tawa Jurina meledak. “Aku sudah memberi tahu namaku padamu sebelumnya”.

 

Hana menurunkan pandangannya dari si hantu. Ia mencoba mengingat-ingat.

“Sepertinya kau belum memberi tahu namamu padaku”.

 

Kali ini Jurina mengarahkan ekor matanya ke arah gadis itu. “Sepertinya anak muda zaman sekarang mulai pikun”.

 

Hana masih bingung dengan pernyataan Jurina barusan.

 

“Baik, mungkin aku lupa namamu. Jadi bisakah kau memberi tahuku siapa namamu?”.

 

Jurina membuang mukanya. “Tidak perlu. Aku sudah memberi tahukannya padamu, tapi kau tidak mempedulikannya. Dan lagipula kau sudah hampir dekat dengan maut. Kurasa hal sepele seperti namaku tidak akan berguna”.

 

Hana mengulurkan tangannya. “Aku perlu tahu namamu. Jadi kau bisa menjadi temanku”.

 

Deretan kata itu berhasil membuat Jurina tercekat.

 

“Jangan bicara yang tidak-tidak”.

 

Jurina melirik ke arah Hana. Tangan gadis Korea itu masih terjulur. Sang hantu mendongak untuk dapat melihat muka Hana.

Ia menatap bola matanya yang sedikit sayu. Tak ada keraguan sama sekali. Gadis itu serius dengan pernyataannya.

 

“Cih, apa kau bermaksud menghinaku? Karena aku menghabiskan waktu berhargaku untuk bergentayangan disini dan tak bisa berbuat apa-apa sehingga aku selalu sendirian?”.

 

“Ya”, jawab Hana singkat.

 

Jurina menggeram kesal. “Pergi!”.

 

“Aku hanya mengiyakan kata-katamu yang terakhir, bukan yang pertama”.

 

Hana menarik napas dalam-dalam. “Sebelumnya aku sempat terpikir.. kau adalah hantu. Itu berarti kau tidak selalu menampakkan diri pada semua orang. Kau pasti susah berkomunikasi dengan orang-orang yang masih hidup yang masuk ke ruangan ini. Dan kau tidak bisa berbahasa korea, jadi meski ada orang yang bisa melihat wujudmu kau tetap tidak bisa berkomunikasi dengan mereka”.

Ting tong. Kalimat Hana tersebut benar-benar tepat sasaran.

 

Jurina masih enggan menyahut uluran tangan Hana. Ia berpikir bahwa itu hanyalah gurauan semata.

 

“Tenang saja. Aku juga tidak punya teman”.

 

Lagi. Jurina menoleh ke arah Hana.

 

“Kau masih beruntung, setidaknya saat kau masih hidup kau bisa memiliki teman. Sedangkan aku tidak”.

 

Jurina mulai mencerna kalimat yang baru saja terlontar dari bibir gadis itu. “Mencoba mengarang alasan?”.

 

Hana menarik tangannya yang tak kunjung dijabat oleh Jurina. “Kau perlu bukti?”.

 

Jurina menganggukkan kepalanya dengan mantap.

 

“Baiklah, besok akan kubawakan sesuatu sebagai pembuktianku. Nah, aku pamit dulu ya”, ujar Hana. Ia segera bangkit dari kursinya dan melesat pergi.

 

Sang hantu memandangi kepergian gadis itu. Selama ia menjadi hantu tak pernah ada orang yang mengucapkan kata-kata seperti yang tadi diucapka oleh Hana. “Aku perlu tahu namamu. Jadi kau bisa menjadi temanku”.

~~~

 

Sebuah kelangkaan mendapati Chan Yeol rela datang ke perkumpulan para fansnya. Ia harus mengurangi perasaan risihnya dengan cara melibatkan diri dengan para remaja putri yang luar biasa ekstrim. Bahkan kini namja itu merasa bahwa mungkin sasaeng dari seorang idol itu benar-benar nyata. Pikirannya mulai sedikit terhentak akibat memikirkan jika ia menjadi seorang idol. Belum menjadi idol saja sudah begini tingkah fansnya, bagaimana jika ia menjadi idol? Ahaha, ia bergidik sekaligus tertawa dalam hatinya.

 

Ia tersadarkan oleh beberapa gadis yang menatapnya dengan tatapan yang tidak biasa. Yang mungkin bisa membuat beberapa pria ilfeel karena mendapat tatapan itu. Yah, tapi dia adalah Park Chan Yeol. Ia tidak bisa membentaki para gadis itu. Namja itu membuang pikirannya tentang idoling itu. Ia kembali pada tujuannya semula.

 

Tak jarang ia menebarkan pesonanya pada tiap gadis yang lalu lalang di depannya. Fanservice yang membuat fansnya begitu terpana akan kharismanya.

 

Baek Hyun agak sedikit risih dengan para gadis yang tanpa sadar menginjak kakinya dan menabrak punggungnya hanya demi mengejar seorang Park Chan Yeol. Kalau saja Chan Yeol tak memaksa Baek Hyun datang kesini pasti ia akan sangat ogah.

 

Yah, berhubung Chan Yeol masih mencari keberadaan gadis misterius incarannya itu ia dengan berat hati harus ekstra sabar saat dicecar seribu pertanyaan dari fans-fansnya. Seperti.. “Apa makanan favoritmu?”, atau “Maukah kau bila aku membelikanmu bubble tea yang sangat enak”, dan yang paling parah, “Maukah kau menjadi pacarku?”

 

Chan Yeol terlihat sedang berbincang-bincang dengan ketua fanclubnya itu. Tak berapa lama gadis tersebut – ketua fanclub – menyodorkan sebuah buku pada Chan Yeol.

 

Chan Yeol menerima buku itu dengan senang hati, lalu ia memberikan winknya pada gadis dihadapannya itu sebagai tanda terima kasih.  Gadis itu megap-megap dibuatnya.

 

Kemudian Chan Yeol berpesan pada gadis itu untuk mendapatkan sedikit waktu untuk privasinya. Sang gadis setuju.

 

Tak lama kemudian ruangan yang ditempati oleh Chan Yeol menjadi sepi.

 

Inilah saatnya..

 

Chan Yeol membolak-balik halaman demi halaman sebuah buku bersampul cokelat. Buku itu berisi daftar ‘official fans’ dari fanclub yang didedikasikan untuk Chan Yeol.

 

Sayangnya ia tak juga menemukan foto gadis yang ia maksud.

 

Lelah dengan pencariannya itu akhirnya Chan Yeol segera keluar dari ruangan itu.

 

Ia berpamitan singkat dengan para fansnya, seraya menarik Baek Hyun yang terhimpit diantara keberadaan 2 gadis bongsor yang sudah pasti adalah fans fanatik Chan Yeol.

~~~

 

“Aku hampir mati tadi!”.

 

Chan Yeol melirik ke arah namja bermata kecil di sampingnya. “Tak perlu berlebihan seperti itu”.

 

“Yaa! Kau saja yang tidak tahu jika mereka begitu anarkis! Mereka terus saja menginjak kakiku, menabrak punggungku, dan tingkah gila lainnya hanya agar bisa lebih dekat denganmu”, ujar Baek Hyun kesal.

 

Chan Yeol terkekeh melihat penderitaan sahabatnya itu. “Haha, malang sekali nasibmu, nak”.

 

Baek Hyun mendaratkan pukulan yang cukup keras di lengan namja jangkung itu.

 

“Aww, sakit”, rintih Chan Yeol. “Apa kau mau kulaporkan fansku?”.

 

“Huh, dasar anak pengadu!”. Jelas sekali bahwa Baek Hyun cukup kesal dengan peristiwa fans gila itu. “Lagipula .. apa yang membawamu datang ke tempat terkutuk itu? Aku tidak habis pikir!”.

 

Chan Yeol menunjukkan tawa khasnya, “Tak ada salahnya menyambangi fansku bukan? Hahaha”.

 

Baek Hyun memalingkan mukanya. Ia masih tidak terima dengan perlakuan yang ia dapat tadi.

 

Tiba-tiba ia teringat sesuatu. “Hei, ini jam berapa?”.

 

“Jam 12. Kenapa?”.

 

Baek Hyun menepuk jidatnya. “Oh Tuhan! Kita terlambat! Ayo!”.

 

Chan Yeol masih tidak mengerti. “Terlambat apa?”.

 

Baek Hyun segera menggamit lengan Chan Yeol dan menyeretnya. “Sudahlah! Ayo ke aula!”.

~~~

 

Terdengar suara benda bergeser.

 

Jurina memutar bola matanya.

 

“Hai, Jurin. Maaf membuatmu menunggu”.

 

Jurina agaknya kesal dengan kehadiran gadis  berambut hitam itu.

 

“Ini hari libur, kenapa kau datang ke sekolah?”, tanyanya.

 

Hana menjatuhkan tubuhnya  tepat di ujung ruangan itu. “Aku ada urusan di sekolah”.

 

“Huh”, Jurina memalingkan mukanya.

 

“Jangan ge-er dulu. Aku datang ke sini bukan hanya karenamu”.

 

Jurina terlihat sedikit malu. “Oh, terserahlah apa itu”.

 

“Kemarilah”, ujar Hana.

 

“Sejak kapan kau berani memerintahku?”.

 

Hana membetulkan posisi kakinya agar ia nyaman saat duduk. “Kau sinis sekali hari ini”.

 

Si  hantu  akhirnya menghampiri Hana. Ia melihat gadis  itu menenteng sebuah buku dengan cover winnie the pooh. Ia  mengangkat alisnya.

 

“Bukti”, jawab Hana.

 

“Oh”. Jurina segera dapat menangkap maksudnya.

 

Hana mengulurkan buku itu pada Jurina. “Kau bisa membawanya sendiri kan? Jangan usili aku dengan kata-kata seperti ‘aku hantu, aku pasti akan menembus apapun yang kubawa, jadi  kau harus memegangnya untukku’. Aku tidak bodoh. Jika mau hantu  bisa saja menyentuh barang-barang layaknya manusia dan tidak menembusnya”.

 

Jurina segera mengambil buku  itu dengan paksa.

 

“Kau pasti tau maksudnya”.

 

Buku itu – yang kini dibaca oleh Jurina – adalah diary milik Hana. Kalimat yang tertera dalam diary itu bukanlah menggunakan hangul, melainkan menggunakan hiragana. Dan ia menggunakan Bahasa Jepang dalam melampiaskan curahan hatinya di lembaran-lembaran kertas itu. Sehingga tidak seorangpun akan mengetahuinya.

 

“Kau menulis ini kemarin?”, tanya Jurina sinis.

 

“Tentu tidak. Duh, masa dalam waktu semalam aku membuang waktuku dengan mengisi 1 buku itu”, gerutu Hana.

 

Jurina menatap lekat-lekat mata Hana, berharap ada sedikit kebohongan terbaca dari matanya.

 

Ia menyerah. Sepertinya Hana tidak sedang berbohong.

 

Akhirnya ia mulai membuka buku itu lagi.

Lembar demi lembar ia baca. Ia paham betul dengan arti tulisan Hana. “Apa kau berdarah jepang? Atau pernah tinggal di sana?”.

 

Hana yang tadinya bermain-main dengan kursi yang berderit langsung menghentikan aksi konyolnya itu. “Hah? Apa? Oh, Jepang. Sebenarnya ibuku adalah warga negara Jepang, dan aku menghabiskan masa kecilku di sana. Kemudian aku pindah ke sini –Korea. Namun saat libur tiba aku selalu menyempatkan diri ke rumah nenek di Akihabara”.

 

“Rumahmu di Akihabara?”, tanya Jurina. Konsentrasinya tidak terpecah meski ia berbicara sambil membaca diary.

 

“Rumah nenekku. Kau sendiri dimana kampung halamanmu?”.

 

Srek srek. Terdengar suara lembar buku di bolak-balik. “Sama denganmu”.

 

“Oh ya? Kau serius?”, tanya Hana antusias.

 

“Itu dulu. Dulu sekali. Sebelum keluargaku pindah ke Korea. Kau tahu… itu.. tentang invasi Jepang ke Korea”, jawab Jurina.

 

Hana terkekeh mendengar suara deritan kursi kuno yang ia duduki. “Oh, invasi itu. Hahaha”.

 

Sepertinya Jurina tak terusik dengan kebisingan yang dibuat oleh Hana.

 

Jurina menutup diary itu. “Aku sudah membacanya”.

 

“Hah? Oh”.

 

Jurina mendekati Hana dan mengembalikan diarynya.

 

“Aku tidak berbohong ‘kan?”, tanya Hana. Ia menerima buku itu dari tangan si hantu.

 

Jurina membalikkan badannya dan mulai terbang.

 

Di lain sisi Hana mulai beranjak dari kursinya dan bersandar di tembok dengan beralaskan lantai kayu yang sangat kotor.

 

“Kau pasti kesepian”.

 

Jurina tak menggubrisnya.

 

“Hidup selama ini dan berkeliaran di sekolah”.

 

“Bukan. Aku tak bisa berkeliaran di sekolah. Aku terkurung dalam ruangan ini”.

 

Uhuk, uhuk”. Cairan ungu itu mulai keluar lagi dari bibir Hana. Dadanya terasa sesak dan matanya mulai berkunang-kunang.

 

Dan ketika ia mendongak ia mendapati jari Jurina menyentuh dahinya.

 

Flashback

 

Pagi yang indah sepertinya.

 

Seorang gadis yang mengenakan yukata sedang menyeruput gyokuro miliknya. Terlihat sekali bahwa gadis itu berasal dari golongan atas.

Beberapa makanan mewah telah tersaji di atas koshatsu. Dan tak butuh waktu lama agar Chawan Mushi yang mengisi mangkoknya raib.

 

“Kau terlihat tenang sekali”, ujar seorang wanita.

 

“Aaah, ibu”, sambutnya. Gadis itu segera berlari menghampiri ibunya. Lupa karena menggunakan yukata akhirnya gadis itu terjatuh.

 

Ibunya membantunya untuk berdiri. “Aduh, hati-hati”.

 

Gadis itu hanya tersenyum dan mulai bisa berdiri seperti semula. “Aku merindukan ibu”.

 

“Baru ibu tinggal 3 hari saja sudah seperti ini”, goda ibunya.

 

“Aneh rasanya rumah tanpa ibu”, jawab gadis itu.

 

Sang ibu gembira melihat kondisi putrinya yang masih sehat seperti biasanya. “Dimana ayahmu?”.

 

“Ayah masih tidur, bu. Sepertinya ayah pulang sangat larut, dan tadi ketika aku masuk ke kamarnya wajahnya terlihat seperti ia benar-benar kelelahan”.

 

Ibu dari gadis itu mulai mengelus lembut puncak kepalanya. Kemudian ia mulai mengajak putrinya itu untuk menghangatkan diri di bawah koshatsu.

 

“Ini musim panas, bu. Kenapa ibu malah ingin berada di bawah koshatsu?”.

 

Sang ibu tertawa dengan anggun. Ya, ia tak melupakan tata krama yang diajarkan. Keluarganya adalah bangsawan, sudah selayaknya jika ia menjaga sikap. “Tidak tahu. Tiba-tiba saja ibu ingin berada di sini”.

 

Anak dari wanita itu segera mengeluarkan kakinya dari koshatsu. “Padahal gerah sekali, kenapa ibu begitu betah?”.

 

Wanita yang dimaksud malah tertawa kecil. “Selagi kita masih bisa merasakan kehangatan dunia kenapa tidak?”.

 

Gadis itu – Jurina –mendadak menjadi murung.  “Ibu berkata seolah-olah ibu akan pergi”.

 

“Hahaha, ibu cuma bercanda, sayang”, hibur ibu Jurina.

 

  1. Terdengar suara pintu dibuka.

 

“Wah wah, kau sudah pulang rupanya”.

 

Jurina dan ibunya menoleh ke arah sumber suara.

 

“Aku merindukan gadisku dan tentunya dirimu juga”, jawab ibu Jurina.

 

Jurina berlagak menutupi hidungnya. “Ayah bau sekali. Lihat ini jam berapa”, sindir Jurina.

 

Ayah berjalan menghampirinya dan kemudian ikut memasukkan kakinya ke dalam koshatsu. “Kalau begitu bisakah kau mengambilkan handuk dan pakaian ayah di lemari?”.

 

Jurina memanyunkan bibirnya. “Baiklah”.

 

“Ah, sayang”, interupsi ibu Jurina. “Jangan ambil pakaian kerja ayah. Ambillah pakaian kasual saja”.

 

Padahal di  tangan Jurina sudah siap dengan  pakaian yang biasanya digunakan ayahnya. “Loh, memangnya kenapa, bu?”.

 

Mata ibu dari Jurina terlihat berbinar. “Hari ini waktunya ayah menghabiskan waktu bersama kita”.

 

“Maksud ibu ayah akan mengambil libur hari ini?”, tanya Jurina ragu.

 

Anggukan dari wanita yang bersandar di pintu itu menjadi jawaban. Jurina berjingkrak kegirangan karenanya.

 

“Baiklah, pakaian itu masukkan kembali”, tunjuk ibu Jurina pada pakaian yang hendak dibawa oleh putrinya itu.

 

“Baik, bu”, jawab Jurina dengan riang.

 

Jurina sudah selesai menata kembali pakaian formal ayahnya di lemari. Ia hendak mengambil pakaian yang menurutnya paling kasual untuk digunakan saat berlibur.

 

  1. Pintu dibuka paksa.

 

Jurina terkejut. “Ah, ibu. Kenapa ibu….”.

 

Tanpa persetujuan dari anaknya tiba-tiba saja wanita itu membuka lemari dan memasukkan Jurina ke dalam lemari itu.

 

“Bu, apa yang ibu lakukan?”, rintih Jurina.

 

Bang! Bang !

 

Terdengar suara peluru berdesing.

 

Jurina segera membungkam mulutnya sendiri. Mungkinkah ini… pemberontakan warga Korea?

 

Ia dapat mendengar suara pintu lemari yang dikunci.

 

Gadis itu mengintip dari lubang kecil yang ada di lemari.

 

Ibunya bergegas pergi meninggalkan ruangan yang ditempati oleh Jurina.

 

Bang !

 

Jurina menelan ludah. Suara peluru itu kian terdengar jelas olehnya. Apakah para pemberontak berada di dalam rumahnya sekarang ini?

 

Tap tap tap. Jurina mendengar derapan langkah kaki. Sepertinya bukan hanya 1 orang saja.

 

Bang !

 

“Suamiku!”, teriak ibu Jurina.

 

Mental Jurina mulai jatuh. Ia yakin bahwa peluru itu mengenai ayahnya.

 

Bang !

 

“Istrikuuuu!”, teriak ayah Jurina dengan pilu.

 

Air mata Jurina mulai berjatuhan. Ia menggigit tangannya sendiri agar ia tidak terisak.

 

“Rasakan itu! Itu adalah bukti bahwa Tuhan itu adil! Rasakanlah penderitaan warga Korea akibat tindakan bengis bangsamu!”, ujar sebuah suara.

 

Rasanya sudah hampir 1 jam Jurina berada di dalam lemari itu.

 

Tangisannya terhenti. Penyebabnya adalah ia sama sekali tidak mendengar suara ibunya.

 

Sementara para pemberontak masih ada yang berkeliaran di rumahnya.

 

Mereka menjarah harta milik keluaraganya hingga tak ada yang tersisa.

 

“Apa tidak ada orang lain lagi selain pasangan suami istri itu di rumah ini?”.

 

“Tidak. Kami sudah mencarinya dari sudut ke sudut dan tak menemukan tanda ada orang lain disini”.

 

Selama beberapa detik tidak terdengar suara apapun.

 

“Baiklah kalau begitu kita berpindah tempat. Panggil semuanya untuk segera meninggalkan rumah ini”.

 

“Siap!”.

 

Setengah jam berlalu sejak peristiwa berdarah di rumah Jurina.

 

Jurina hendak keluar dari lemari itu.  Namun ia tersadar jika lemari dikunci dari luar. Dan ia tidak memiliki cukup tenaga untuk mendobrak pintu lemari itu. Bahkan bersuara saja mustahil baginya.

 

Ia berpikir bahwa mungkin ibunya menginginkannya mati. Tapi tidak di tangan para pemberontak itu, melainkan mati karena terkurung dalam lemari itu.

 

 

Jurina seketika menjadi was-was. Pintu terbuka. Apakah ada pemberontak yang masih tersisa?

 

Gadis itu tidak berani mengintip lewat lubang kecil di lemari. Ia takut keberadaannya ditemukan.

 

 

Pintu lemari terbuka.

 

Jurina begitu ketakutan. Mungkin ajalnya sudah dekat pikirnya.

 

Tapi hal yang menakutkan adalah darah yang bersimbah dari kepala dan dada seorang wanita –ibu Jurina.

 

“Ibu”, pekik Jurina.

 

Ibunya meletakkan telunjuk di bibirnya sebagai isyarat agar putrinya itu tidak bersuara.

 

Jurina begitu lega melihat ibunya masih hidup meskipun kondisinya sedikit mengenaskan. Ia dapat melihat sorot mata ibunya yang terlihat lelah.

 

Ibunya menelusupkan telapak tangannya di wajah Jurina. Kemudian beliau mengecup kening Jurina dengan penuh kasih sayang.

“Aku bahagia mendapati dirimu masih hidup”.

 

Jurina menikmati setiap sentuhan lembut dari jemari ibunya yang bergerak menelusuri wajahnya.

 

Dan…

Terdengar suara langkah kaki.

 

Buru-buru ibu Jurina memasukkannya kembali ke dalam lemari.

 

Ibu Jurina segera bersembunyi di bawah kasur dengan seprai yang menjulur hingga ke lantai.

 

“Sepertinya tidak ada yang tersisa dari rumah ini. Semuanya sudah dijarah dan penghuni rumah ini sudah tewas”.

 

“Apa kau yakin?”.

 

“Iya”.

 

“Kalian pastikan dulu. Cepat cari di semua sudut rumah ini!”.

 

M-m-m-masih ada….?”, tanya Jurina dalam hati. Perasaannya mulai kembali drop. Ia ingin sekali mengakhiri semua ini. “Apa mungkin dengan aku keluar dari lemari ini mereka akan segera membunuhku? Mungkin tidak apa-apa. Mungkin juga sakitnya hanya sebentar. Karena malaikat akan segera menjemputku”.

 

Kemudian gadis itu tersadar. Pintu lemari tidak terkunci. Berarti sedikit saja gerakan darinya bisa menyebabkan pintu terbuka. Makin bertambah kencanglah degup jantung gadis itu.

 

“Baiklah, ayo kita keluar”.

 

“Kenapa? Apa kau masih tidak percaya? Tidak ada orang lain di sini”.

 

Seorang pria dengan rambut yang tersisir rapi mulai beranjak dari sebuah sofa. “Baiklah”.

 

Jurina merasa lega mendengar percakapan itu. Berita bagus sepertinya. Akhirnya ia bisa keluar dari lemari itu.

 

Pria tadi mulai berjalan keluar dari rumah tersebut.

 

Sesuatu mengalihkan perhatiannya.

 

Sebuah bingkai foto keluarga yang pecah  tergeletak di dekat rak sepatu. Pria itu memungutinya. Matanya menyipit ketika memandangi foto itu.

 

Ia memberi isyarat dengan telunjuknya pada pemberontak lain. Semua menjadi diam, tak berani bersuara.

 

“3 orang dalam foto keluarga. 1 terbunuh.  Sedangkan 2 belum diketemukan”, pikirnya dalam hati.

 

Ia mulai melangkahkan kakinya dengan sangat pelan hingga tidak menimbulkan suara.

 

“Tapi mungkinkah 2 orang itu tidak sedang berada di rumah? Mungkin mereka di luar kota atau kembali ke Jepang. Bisa jadi”, gumamnya dalam hati.

 

Lama ia mengitari sudut demi sudut di rumah itu tapi ia tidak menemukan sesuatu yang berarti.

 

Kerja sama yang bagus antara ibu dan anak. Tak ada satupun dari mereka berani buka mulut atau keluar dari tempat persembunyiannya. Namun kondisi Ibu Jurina kian mengenaskan. Ia sekarat.

 

Pria itu mulai menyerah dengan pemikirannya. “Ah, mungkin aku memang terlalu berlebihan”. Diakhiri dengan sedikit renungan itu pria tersebut mulai berjalan menuju kawannya-kawannya di luar sana.

 

Tiba-tiba kakinya refleks terhenti. Ia menunjukkan seringai lebarnya. “Atau mungkin tidak”.

 

Jurina tak lagi mendengar percakapan para pemberontak. Pikirnya mereka sudah pergi. Mungkin.

 

 

Pintu lemari terbuka lebar.

 

“Hai, gadis cantik. Jadi selama ini kau bersembunyi disini”. Ujar pria tadi dengan nada yang begitu gembira.

….

 

 

Advertisements

2 thoughts on “[FF Freelance] Behind The Library (Chapter 4A)

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s