[FF Freelance] Of Afternoon Gift

tumblr_inline_mzh5ueL6Qu1suflgq

Of afternoon gift

Title: Of Afternoon Gift || Author:boyannie || Main Casts: EXO’s Luhan and OC’s Kyle || Minor Cast: Jung || Genre: Romance and Fluff || Length: Vignette || Rating: PG! || Disclaimer: I just own the story.

.

“She said you’re a gay!”

 

.

 

Kyle baru saja keluar dari Starbucks yang jaraknya hanya lima menit dari apartemen sembari menenteng dua cupfrappuccino—satu untuknya, dan satunya lagi pesanan Luhan—ketika ponsel dalam saku celananya tiba-tiba bergetar dan mengeluarkan bunyi nyaring.

 

Sebenarnya, ia tidak mau repot-repot mengangkat telepon itu, pasalnya kedua tangannya tengah sibuk sekarang. Namun, bunyi nada dering itu semakin lama semakin keras dan tidak menutup kemungkinan bisa mengganggu orang. Maka, ia memutuskan duduk di kursi taman—yang kebetulan sekali—ada di dekatnya, dan mengangkat telepon tadi.

 

Dalam hati ia menebak-nebak, mungkin saja itu telepon dari Luhan yang membutuhkan sedikit bantuannya. Untung saja ia masih berada di sekitar sini, kalau-kalau anak lelaki itu butuh dibelikan gula, ia masih belum terlalu jauh untuk memutar arah menuju supermarket.

 

Ia mengeluarkan ponselnya, menyapu layarnya perlahan kemudian melihat caller ID yang terpampang di sana. Oh, thank goodness, ternyata bukan Luhan.

 

“Hey, Kyle! Kau sedang sibuk hari ini? Apa yang sedang kaulakukan omong-o—” Kyle hanya mengerlingkan mata, bahunya terangkat menandakan kebosanan. “Langsung ke intinya saja, Jung, apa yang kauinginkan?”

 

Terdengar desahan pendek keluar di seberang sana, menyusul jawaban dari gadis bernama ‘Jung’ yang disebutkan tadi. “Kasar sekali. But well, kau tidak lupa dengan janjimu sore ini, ‘kan? Kautahu, diskon sweater dan denimshorts hanya sampai hari ini saja. Bayangkan Kyle, tujuh puluh persen untuk semua produk!” ujarnya sedikit berteriak. Sahabatnya satu itu memang atraktif sekali jika menyangkut big sale semacam ini.

 

“Tidak usah seberlebihan itu, Jung. Kau baru saja membuat telingaku berdarah.” balasnya sekenanya, kemudian mengapit benda berbentuk kotak warna hitam itu diantara bahu dan telinga kirinya.

 

“Kau juga berlebihan mengenai bagian telinga yang berdarah itu.” Skak! Kyle benar-benar tengah menelan ludahnya sendiri. Namun ia hanya menganggap hal itu sebagai ‘masa bodoh’. Tidak terlalu diambil pusing, dalam kata lain.

 

“Kau bisa mengajak pacarmu saja, aku sedang tidak ada waktu.” jawab Kyle jujur sebelum mengaduk-ngaduk minumannya dan—terpaksa—menyedotnya sedikit lantaran rasa hausnya sudah sampai tenggorokan.

 

“Junmyeon, maksudmu? Dia pergi ke luar kota, tepat dua hari yang lalu. Dan biar kutebak, apa Luhan sedang mengunjungimu hari ini? Lalu, kau mendadak tidak punya waktu untukku karenanya? Tunggu, apa Luhan ada bersamamu sekarang? Then, let me tell him, YOU SON OF A BITCH, GET THE HELL OU—” Jung berteriak kencang sekali sampai-sampai Kyle agak tersedak dan ponselnya hampir jatuh. Dan bagian ‘telinga berdarah’ itu mungkin saja tidak seberlebihan yang dikira.

 

Kyle sedikit terbatuk, menyeka daerah sekitar mulutnya yang agak kotor terkena air. “Jung! Tidak usah berteriak, bisa? Dan apa kau sebegitu bencinya pada Luhan? Jika ingatanku masih benar, dia tidak punya masalah denganmu.”

 

Dan Jung tidak benar-benar memberikan perhatiannya pada Kyle, ia hanya bersantai dan memutar bola mata hazel-nya di seberang sana. “Aku tahu. Aku hanya tidak menyukainya bersanding dengan wanita sempurna sepertimu. Dia itu tidak waras. Dia itu menyukai model majalahamatiran itu… dia menyukai Oh Sehun. Dan semua orang tahu itu.”

 

Kyle menutup matanya selama beberapa detik, mendesah sepanjang yang ia bisa. Ia tahu apa yang akan Jung katakan, tentang ‘ketidak-normalan’ Luhan. Sinar matahari sudah mulai meneduh di atas sana, kepulan asap kendaraan juga memasuki hidung Kyle mengingat tempat ia duduk hanya satu atau dua meter di pinggir jalan. “Sudah berapa kali kukatakan, Jung. Semua orang menganggap rumor itu nyata, kecuali aku. Dengar, ya, Luhan itu lelaki normal. Dan bagian aku seorang wanita sempurna itu terlalu hiperbolis, kupikir.”

 

Okay, okay, whatever. Tidak ada bukti kalau dia normal, dia bahkan tidak pernah menyatakan perasaannya padamu, iya, ‘kan? Yang jelas, kau harus menemaniku belanja sore ini, kutunggu di tempat biasa. Satu-satunya alasan yang bisa kuterima kalau kau tidak datang adalah…” katanya menggantung, Kyle sedang siap-siap dengan ucapan yang akan dilontarkan sahabatnya itu—ia berpikiran buruk, kalau boleh jujur.

 

“Luhan akan menikahimu.” Nah, benar, ‘kan?

 

“Apa kaubilang? Jung! Halo? JUNG!! Ah—shit.”

 

 

Kyle tidak habis pikir dengan perkataan Jung, Luhan menikahinya? Demi Tuhan, sudah lebih dari tiga tahun ini Luhan berhubungan dengannya, dan lelaki itu belum pernah sekali pun mengucapkan kata ‘I love you’. Ah—jangan jauh-jauh, mereka juga belum tahu hubungan apa yang mengikat keduanya.

 

Dikatakan berteman, mereka terlalu dekat. Dikatakan berpacaran, tidak juga, tidak ada dari mereka yang berinisiatif untuk menyatakan perasaan. Belum lagi fakta bahwa Luhan sering terlihat bersama dengan Sehun—tetangga Kyle di komplek—sehingga muncullah berita kalau Luhan dan Sehun itu menyimpang. Kautahu-lah maksudnya. Rumit, memang.

 

Kyle masuk ke apartemennya dengan wajah yang murung. Ia bingung, mengenai ucapan terakhir Jung tadi. Kyle bisa saja datang menemani Jung sore ini dan masalah pun selesai. Tapi, apa semudah itu? Terkadang terbesit sedikit pikiran kalau Luhan benar-benar menyimpang—duh, tapi gadis keturunan Minnesota-Busan itu tidak kesampaian memikirkan hal seburuk itu.

 

Kyle kemudian berjalan menuju ruang makan, membawa dua cup minuman yang satu diantaranya tinggal setengah bagian. Di sana tengah terduduk seorang Luhan, menunggu dengan sabarnya. “Kenapa lama sekali, Kyle? Waffle-ku sudah jadi sejak dua puluh menit yang lalu. Dan apa itu noda coklat di bajumu?”

 

Gadis itu tidak menjawabnya, hanya meletakkan minuman mereka di atas meja. Lantas memilih untuk memakan waffle coklat buatan paca—oh bukan, teman dekatnya itu. Mata Luhan menyipit ke arah si gadis, “Kyle? Kenapa diam saja?”

 

Ia benci ini. Luhan selalu bisa membuatnya luluh. Seberapa keras pun ia mencoba untuk tidak peduli, perasaan itu tidak dapat terelakkan. “Bukan masalah penting, tidak usah khawatir.”

 

Si lelaki menyilangkan tangannya, “Bagaimana aku tidak khawatir? Kaudatang dengan wajahmu yang mengerikan itu tanpa berkata apapun padaku. Pasti ada hal yang terjadi, benar?”

 

Kyle menelan waffle coklatnya kemudian meneguk satu gelas penuh air putih dibandingkan frappuccino kesukaannya sebelum menatap mata lawan bicaranya dengan intens. “Seburuk itukah wajahku, Lu? Oke, lupakan bagian mengerikan itu, dan ya, some things happened. Jung calledme, and…”

 

“Dia berkata yang macam-macam padamu?” tanya Luhan dengan mimik wajah yang terkesan penasaran. “Bukan, tapi tentangmu… dan Sehun.” ujar Kyle, nada bicaranya merendah seiring dengan pandangan matanya yang meneduh.

 

Luhan mengambil waffle coklat miliknya, ia berdiri dan berjalan santai mencari topinya yang ia taruh di sembarang tempat ketika datang kemari. “Oh—apa ia tidak suka aku dekat dengan Sehun? Atau apa—” ucapannya dipotong begitu saja, sementara ia masih mengunyah kue warna tanah itu dengan kepala yang masih fokus di bawah meja—mencari-cari si topi.

 

No, it’s not about that, Lu! It’s about our relationship! She said you’re a gay! Don’t you get it?” teriak Kyle, ia tidak sadar kalau badannya ikut berdiri dan manik matanya sedikit berair. Perasaannya bercampur aduk, antara marah karena lelaki ini telat sekali dalam berpikir dan sedih karena hubungannya yang melayang-layang tanpa tujuan.

 

Bertepatan dengan itu, Luhan menemukan topi hitam kesayangannya di atas rak dapur. “Aku tidak mengerti karena aku memang tidak menyukai Sehun dalam konteks yang gadis itu maksudkan. Aku dan Sehun sudah kenal jauh sebelum aku mengenalmu.We’re buddies, remember?” Kyle kembali terduduk, berusaha menahan amarahnya. “I know. Tapi mereka berpikiran lain, Lu.”

 

“Makanya jangan terlalu dipikirkan, kautahu aku lebih dari mereka. Ini tentang kepercayaan, Kyle. Dan satu lagi, maaf aku tidak bisa berlama-lama, aku punya banyak urusan hari ini. Uhm—” Luhan menghabiskan potongan kecil waffle-nya dengan tergesa. “—aku belikan kau makaron, kotaknya kusimpan di meja dapur.”

 

Luhan membenarkan posisi topinya, dan dalam hitungan detik ia menghampiri Kyle yang masih asyik dengan waffle buatannya di meja. “Aku pergi dulu,” itu adalah ucapan terakhir Luhan sebelum ia menghilang, keluar dari pintu apartemen.

 

Satu, dua menit Kyle dibuat membatu akan aksi Luhan yang begitu tiba-tiba, ia merasakan coklat basah menempel di dahinya. Entah disadari atau tidak, kedua ujung bibirnya perlahan terangkat. Gadis itu meraih kotak berwarna biru muda dengan pita putih di atasnya.

 

Sesaat ia dibuat tersipu, bukan karena kue makaron itu, tapi karena surat kecil dengan tulisan tangan lelaki pujaannya ada di sana. ‘Kujemput kau jam empat sore ini, kita akan pergi ke butik langganan ibuku untuk fitting gaunmu. Sebaiknya kau bersiap. I love you, Kyle.’

 

Pipinya merona, pikirannya melayang, kurasa aku benar-benar tidak bisa menemanimu belanja, Jung.

 

.

I know you right, I’ve loved you since long, so prove ‘em wrong.

 

.

 

—end.

 

[a/n] oke, jadi ini fic hasil brainstorming aku sejak lama. aku tahu ini ancur, aku tahu. dan si anak rusa ini emang kaya toksin! i love you, deer-boy. terakhir, jangan gebukin aku, dan kalau berkenan kamu bisa kasih opini kamu di comment box atau cukup kasih aku like. jangan lupa juga mampir ke wp pribadi aku ya: boniaciyan.wordpress.com

have a good day, pal!

 

 

8 thoughts on “[FF Freelance] Of Afternoon Gift

  1. Keren wkwk
    Agak ga ngerti sih cuma keren
    Foto Luhannya…
    Okay abaikan
    Yang jelas ceritanya ok(?)
    Nice ff
    Keep writing

  2. Masih sedikit ga ngerti nih
    lola banget -_-
    jadi sebenernya mereka tuh pacaran apa engga sih
    Tapi mereka satu apartemen
    tapi kenapa luhan mau ngajakin kyle nikah

  3. Masih sedikit ga ngerti nih
    lola banget -_-
    jadi sebenernya mereka tuh pacaran apa engga sih
    mereka satu apartemen?
    tapi kenapa luhan mau ngajakin kyle nikah
    But its ff so nice
    i love this ending so much
    so sweet haha

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s