[Oneshot] Fate

fate-yoo

Fate

Yoon Dujun (Beast) – Yoon Nara (OC)

Oneshot | Sad | General

A fanfiction by Yoo

Cover by Pearlshafirablue

.

.

“ If my love for you goes any deeper, it would only hurt me more.“

.

.

 

Yoon’s House, Seoul

August 13th, 2003

Hari itu kediaman keluarga Yoon Jaewook, kedatangan beberapa tamu dari sanak keluarga. Kakak laki-lakinya membawa istri dan kedua anaknya berkunjung. Mereka ingin bertemu dengan anggota baru dari keluarga Yoon. Seorang anak gadis berusia 10 tahun yang diangkat oleh Yoon Jaewook. Seorang anak gadis yang merupakan anak dari sahabat karibnya, Bae Sungjoon. Seorang anak gadis yang ditinggal mati kedua orangtua kandungnya akibat kebakaran yang menimpa. Seorang anak gadis yang kini mengubah marganya dari Bae menjadi Yoon.

Yoon Nara.

Anak yang kini diperkenalkan menjadi bagian dari keluarga Yoon. Anak bertubuh kurus dan kecil namun memiliki garis wajah yang keras.

Sekarang ia berdiri di depan sanak keluarganya yang baru. Kepalanya tertunduk, masih merasa asing di tempat barunya. Rambut panjangnya yang tergerai jatuh menutupi wajah mungilnya. Matanya bergerak ragu-ragu namun liar. Ia menggigit bibir bawahnya, dari dalam dirinya masih mencoba untuk beradaptasi di lingkungan baru.

Seorang anak perempuan lainnya tampak mengampit lengan kanannya. Berbeda dengannya, anak perempuan itu menunjukkan senyuman lebar. Berbanding terbalik dengan Nara, ia menyiratkan binar-binar bahagia dari raut wajahnya. Senang karena memiliki saudara baru.

Di sebelah kiri Nara, seorang wanita yang memiliki perawakan tinggi semampai dan aura  elegan, berjalan berdampingan. Ia juga tersenyum ketika mencapai anak tangga dan menyapu pandang keluarga Yoon lainnya yang sudah menunggu di sofa ruang tengah.

“Jadi, ini anggota keluarga baru kita?” tanya kakak laki-laki Yoon Jaewook. Ia memandang keponakan barunya penuh minat.

Yoon Jaewook tersenyum bangga, “Mulai sekarang Nara akan menjadi salah satu dari keluarga Yoon.”

Aigoo, cantik sekali,” komentar kakak ipar Yoon Jaewook.

Sedangkan Nara sudah dituntun Yoon Minsung, ibu barunya yang juga merupakan istri dari Yoon Jaewook, mendekat ke sofa tempat semuanya berkumpul. Yoon Jongsuk, anak laki-laki Yoon Jaewook, tampak memberi isyarat pada kedua adiknya untuk duduk di sampingnya. Yoon Jiah, anak perempuan Yoon Jaewook yang kini mengampit lengan Nara, menangkap bahasa tubuh kakaknya dan menggandeng Nara untuk duduk di dekat Jongsuk. Sedangkan Yoon Minsung bergerak ke arah suaminya, duduk bersebelahan.

“Naraya, ayo beri salam pada Paman dan Bibi,” ujar Yoon Jaewook pada anak perempuan yang sekarang resmi menjadi anaknya.

Nara langsung menuruti perkataan ayah angkatnya, ia bangkit dari duduknya lalu membungkukkan badan dengan sopan. “Annyeonghaseyo, joneun Bae —ah, Yoon Nara imnida. Bangapseumnida, Yoon Ahjussi, Yoon Ahjumma,” ujarnya memperkenalkan diri pada Paman dan Bibinya yang baru. Mulai sekarang ia harus terbiasa dengan marga barunya. Menyimpan rapat-rapat nama keluarganya yang lama.

Semua yang ada di sana tersenyum ketika gadis kecil itu memperkenalkan diri. Termasuk kedua anak Paman dan Bibinya, Yoon Doori dan Yoon Dujun.

Setelah memperkenalkan dirinya, Nara kembali duduk di antara saudara angkatnya, Jongsuk dan Jiah. Ia kembali menundukkan kepala. Ia memainkan kedua tangannya dengan gelisah. Sejujurnya, ia masih belum bisa sepenuhnya nyaman di rumah barunya ini. Nara bukan anak yang bisa dengan cepat beradaptasi dengan lingkungan baru. Apalagi bayangan akan kedua orangtua kandungnya masih jelas di benaknya. Keluarga kecilnya yang sekarang tidak lagi bersamanya. Keluarga kecilnya yang mulai saat ini hanya akan menjadi kenangan yang tersimpan dalam hati dan menjadi bagian dari dalam dirinya yang lalu.

Tanpa seorang pun tahu, anak laki-laki yang sekarang menjadi sepupu angkatnya mengamati gerak-geriknya. Dujun tidak bisa melepaskan pandang dari Yoon Nara. Entah mengapa, ia merasa ada sebuah dorongan untuk terus memperhatikan gadis kecil itu.

Irisnya tak hentinya terpaku pada gadis kecil yang duduk sambil terus menunduk. Wajahnya tertutup helai demi helai rambut panjangnya yang hitam. Ada sesuatu yang membuat Dujun penasaran terhadap gadis kecil itu. Ia terus memperhatikannya. Gadis itu memiliki tubuh yang kecil dan terlihat rapuh. Namun Dujun sempat melihat sorot matanya meski hanya sekilas tadi. Sorot mata gadis kecil itu tidak sama dengan yang tampak dari penampilan fisiknya. Sorot matanya tajam dan tegas, berbeda dengan anak-anak pada umumnya.

Dujun langsung mengalihkan pandangannya ketika kepala gadis itu terlihat hendak mendongak. Ia berpura-pura melihat ayahnya dan pamannya, Yoon Jaewook, yang sedang bercengkrama bersama yang lain. Namun, ekor matanya bergerak diam-diam ke arah Yoon Nara. Sekarang gadis kecil itu tampak menggigit bibir mungilnya. Lagi-lagi matanya bergerak ragu-ragu namun liar, sedangkan kedua tangannya saling menyatu dengan posisi duduk yang agak membungkuk.

Dujun menyembunyikan senyumnya. Ia ingin bisa mengenal gadis kecil itu lebih dekat. Tapi sepertinya ia harus berupaya lebih karena itu bukan hal yang mudah.

***

Melodi seolah memenuhi ruangan di mana Dujun memainkan pianonya. Setiap berkunjung ke rumah Yoon Jaewook, ia selalu menyempatkan diri untuk memainkan grand piano yang terletak di sebuah ruangan di lantai dua. Hanya ada ia di sana sekarang, sedangkan lainnya sudah ada di taman belakang. Seperti biasa, berbincang bersama. Dujun lebih memilih untuk menyendiri dan —seperti biasa— ia akan langsung melesat ke ruangan piano ini.

Kali ini tangannya bergerak lincah menyusuri tuts-tuts piano dan memainkan sebuah lagu dari Ludovico. I Giorni. Salah satu lagu favoritnya yang biasa dimainkannya. Lagu dengan instrumen yang lembut didengar. Ia menikmati setiap melodi yang keluar dari dentingan piano yang ia hasilkan. Seolah tenggelam dalam permainan pianonya sendiri, ia tampak memejamkan kedua kelopak matanya. Membiarkan dirinya menyatu dengan nada-nada yang menari mengelilinginya.

Hingga ia mencapai nada terakhir dan menyudahi permainan pianonya. Kedua kelopak matanya pun terangkat. Ia mengulum senyum, berbangga diri karena sudah berhasil menyelesaikan satu lagu kesukaannya.

Ketika sebuah bayangan tak sengaja masuk dari balik pintu, ia refleks mengalihkan pandangannya ke arah bayangan itu berasal. Matanya yang besar dan bulat melebar kala mendapati seseorang berdiri di balik pintu. Tidak butuh waktu lama untuk menyadari siapa orang itu. Dujun lalu melempar senyuman pada gadis kecil yang sekarang sudah setengah bersembunyi di balik dinding samping pintu ruangan.

“Kemarilah,” ujar Dujun melambaikan tangannya, mengisyaratkan kepada gadis kecil itu untuk masuk.

Baru setelah ajakan Dujun yang kedualah, gadis itu mau menampakkan dirinya dan melangkah masuk. Dengan ragu, ia berjalan lambat-lambat ke arah Dujun yang masih terduduk di balik grand piano.

“Duduklah di sini,” Dujun menepuk bangku piano yang ia duduki. Ia bergeser, memberi ruang lebih untuk gadis itu.

Nara bergeming, ia masih dalam posisinya berdiri. Dujun lalu menelengkan kepalanya agar bisa melihat wajah Nara yang tertunduk. Perlahan tangannya meraih tangan gadis kecil itu. Menyuruhnya untuk duduk di sampingnya. Nara pun menurut dan membiarkan anak lelaki itu menarik lengannya.

“Kau mendengarkan lagu tadi?” tanya Dujun, setelah Nara duduk di sampingnya.

Gadis kecil itu mengangguk pelan, “Maaf.”

“Kenapa meminta maaf?” Dujun tergelak. Kedua manik matanya memandang Nara lekat-lekat. Ia menghentikan tawanya ketika melihat gadis itu mulai tertunduk lagi. Ia berdeham lalu melanjutkan kalimatnya. “Apa kau suka piano?”

Nara sedikit mendongak. Tampak berpikir sejenak. “Aku suka, tapi aku tidak bisa memainkannya.”

“Apa kau mau kuajari bermain piano?” Mata bulat anak lelaki itu melebar, berbinar.

“Apa… tidak apa?”

Dujun kembali terkekeh. “Tentu saja tidak apa. Kalau kau mau, aku bisa mengajarimu piano.”

Kali ini Nara mengalihkan semua perhatiannya pada anak lelaki yang dikenalnya sebagai sepupu barunya itu. Tak bisa dipungkiri, ia sangat senang mendengar tawaran itu. Dengan cepat Nara mengangguk mengiyakan. Dan tanpa disangka, anak lelaki itu mengacak rambutnya. Nara tidak berusaha melepas matanya dari Dujun kecil. Bola matanya terpaku pada Dujun yang tersenyum lebar padanya sembari masih mengacak puncak kepalanya.

Awalnya, ia tidak berani untuk mendekati Dujun. Sejak pertama melihatnya di ruang tengah tadi, ia masih belum punya keberanian untuk menyapa anak lelaki itu. Nara tidak bisa langsung membuka diri untuk orang-orang yang baru dikenal. Tapi sekarang, dengan sekejap Dujun bisa mencuri perhatiannya. Ia tidak menyangka anak lelaki itu akan memberinya senyuman ramah dan mengacak rambutnya seperti yang biasa dilakukan seorang kakak pada adiknya. Padahal mereka baru saja bertemu.

“Kalau begitu, mulai sekarang aku akan mengajarimu piano. Aku akan menjadi gurumu dan kau akan menjadi murid tunggalku,” ujar Dujun sembari tertawa renyah.

Tawa itu menular pada diri Nara. Gadis itu sekarang sudah tertawa bersama Dujun. Ini pertama kalinya Dujun mendengar tawa gadis kecil itu. Meski takjub, tapi ia menyembunyikan perasaan itu dan tetap tertawa bersama. Ia ingin membuat Nara merasa nyaman ketika berada di dekatnya.

***

Yoon’s House

December 1st, 2003

Bulan Desember telah tiba, tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Memasuki musim dingin, waktunya bagi semua anak menanti datangnya salju. Begitu pun keempat bocah yang tengah bermain bersama di taman belakang kediaman keluarga Yoon. Taman itu begitu luas, hampir mirip seperti lapangan golf mini. Pohon-pohon Ek tumbuh kokoh di setiap tepi taman. Rumput hijau membentang luas menjadi tempat yang pas untuk bermain kejar-kejaran, persis seperti yang dilakukan keempat anak itu.

Tapi tak begitu lama, Jiah menghentikan pacunya mengejar Jongsuk yang saat itu mendapat giliran menjadi target yang harus mereka kejar. Jiah memegang dadanya yang naik turun, terengah setelah berlarian. Ia mengambil napas banyak-banyak.

Nara yang tadinya berlari di belakang Jiah ikut menghentikan pacunya. Ia menghampiri saudara perempuannya yang tengah terengah. Dipegangnya pundak Jiah. “Kau baik-baik saja?” tanyanya, memastikan Jiah baik-baik saja.

Jongsuk dan Dujun yang sadar jika kedua gadis kecil itu sudah tidak mengejarnya, menoleh ke belakang lalu berlari menghampiri.

“Jiya, kau tidak apa?” tanya Jongsuk pada adiknya.

Jiah mendongak, masih terengah. “Kita istirahat saja ya, aku tidak kuat berlari,” pintanya.

Dujun malah tersenyum cukup lebar, menampakkan deretan gigi putihnya. “Kita duduk di sana saja.” Ia menunjuk bangku di dekat teras belakang rumah.

Semua menyetujui dan langsung berjalan ke arah bangku yang biasanya dipakai untuk bersantai. Setelah sampai, Jiah buru-buru duduk dan menyandarkan punggungnya di kursi taman. Diikuti ketiga lainnya yang duduk di kursi-kursi yang masih kosong.

“Kau harus sering-sering berolahraga agar staminamu tidak gampang turun, Jiya,” ujar Dujun mirip seperti guru olahraga. Jiah hanya mengerucutkan bibir, ia tidak terlalu suka olahraga, dan pelajaran yang paling dibencinya adalah olahraga. Tubuhnya tidak bisa dipaksa untuk melakukan hal yang bisa menguras tenaganya. Dari kecil badannya memang tidak sekuat kakaknya, Jongsuk. Bahkan dengan Nara pun, ia kalah. Tubuh Nara memang kecil dibanding Jiah, tapi daya tahan Jiah jauh lebih lemah.

Dan sepertinya Dujun melupakan hal itu.

“Aku benci olahraga,” gumam Jiah. Bibirnya masih mengerucut. Kini kedua tangannya terlipat di dada.

Jongsuk hanya terkekeh pelan melihat adiknya yang cemberut. Ia lalu terdiam ketika butiran putih lembut mengenai telapak tangannya. Ia mendongak dan seketika irisnya melebar saat menyadari salju pertama tahun ini telah turun. “Woah, saljunya turun!” serunya, seraya bangkit.

Jiah malah sudah mulai berlari kecil ke tengah hamparan taman. Wajahnya berbinar sembari membentangkan kedua tangan. Melupakan napasnya yang tadi nyaris habis. “Waah, akhirnya salju turun! Kita bisa membuat boneka salju nanti!” serunya riang.

Dujun tertawa pelan melihat kedua sepupunya, Jiah dan Jongsuk, yang kini sudah berada di tengah taman lagi. Berputar-putar menikmati turunnya salju. Ia lalu mendongak memandang bulir-bulir salju yang jatuh dari langit.

Ekor matanya tak sengaja melirik Nara yang berdiri di sampingnya. Ia mengamati gadis kecil itu. Nara juga mendongak menatap butiran salju yang turun ke bumi. Kedua tangannya menengadah, membiarkan salju-salju itu menyentuh permukaan kulitnya. Sebuah senyuman terukir di wajahnya kala memandang butiran salju yang mencair di telapak tangan.

Sudut bibir Dujun terangkat membentuk sebuah lengkungan ketika melihat gadis yang tengah memainkan salju di telapak tangan. Salah satu hal yang paling ia sukai adalah senyuman gadis itu. Ia akan langsung ikut tersenyum saat melihat senyuman Nara.

Dibandingkan dengan salju, baginya senyuman Nara jauh lebih indah. Dan entah mengapa senyum itu selalu berhasil membuat perasaannya tenang. Dujun tak pernah tahu alasan mengapa hal seperti itu bisa terjadi. Alasan mengapa ia akan mengulum bibir saat Nara tersenyum. Ia belum menemukan jawabannya.

***

Seperti biasa, setiap Dujun mengunjungi rumah pamannya, Yoon Jaewook, ia akan menyempatkan diri pergi ke ruangan dimana grand piano kesayangan pamannya berada. Sekarang setiap ia pergi ke ruangan itu, ia tidak sendiri lagi. Tidak memainkan piano sendirian lagi. Ada seseorang yang kini menemaninya. Nara akan duduk di sana bersama Dujun sambil memainkan piano putih itu. Tempat itu menjadi ruangan tersendiri bagi mereka berdua bertemu. Mereka menyebutnya sebagai markas kecil.

Dan seperti janji Dujun waktu itu, ia akan menjadi guru Nara dan mengajarinya bermain piano. Tapi bukan hanya sekedar menjadi guru untuknya, seberjalannya waktu Dujun telah menjadi sosok berarti bagi Nara. Sama seperti Hyunwoo. Orang yang akan menjadi tempatnya bersandar dan tempatnya berkeluh kesah.

Oppa, aku sudah bisa menghafal not-not lagu yang waktu itu kau mainkan,” ujar Nara, berniat memamerkan jerih payahnya selama mempelajari cara bermain piano.

“Benarkah? Coba mainkan, aku ingin mendengarnya.”

“Dengarkan baik-baik, ya?” Nara menunjukkan senyum miringnya. Lalu beralih pada piano di hadapannya. Dengan mantab jemari lentiknya mulai menyusuri tuts-tuts piano. Memainkan lagu yang pertama kali didengarnya dari Dujun.

Lagu karya Ludovico Einaudi yang menjadi favoritnya, tepat saat ia mendengar permainan cantik dari Yoon Dujun.

I Giorni.

Nada-nada yang muncul lewat dentingan pianonya mengalun lembut, seolah mengitari keduanya. Melodi indah tercipta dari setiap tuts yang ia mainkan. Dujun perlahan memejamkan kedua kelopak matanya. Menikmati setiap nada yang ia dengar. Seolah ikut terhanyut dalam irama yang mengalun lembut.

Nara memainkan lagu itu dengan sangat baik. Tanpa celah sedikitpun. Tidak ada kesalahan yang ia buat saat memainkan lagu Ludovico tersebut. Masih terhanyut dalam alunan melodi, Dujun menyadari dirinya ikut takjub dengan kemampuan Nara. Hanya beberapa bulan ia mengajari gadis itu bermain piano, itu pun dengan cara ajarnya yang tidak sebaik seorang master piano profesional, dan sekarang Nara sudah berhasil memainkan sebuah lagu dari salah satu pianis terkenal yang bisa dibilang tidak mudah untuk dimainkan oleh seorang pemula. Sebagai guru dadakan, ia merasa bangga Nara bisa belajar dengan cepat.

Dujun membuka matanya. Lagu yang dimainkan Nara masih belum berakhir. Masih mencapai pertengahan lagu. Ia lalu melirik gadis yang duduk di sampingnya yang masih meneruskan permainan pianonya. Senyumnya mengembang melihat Nara yang memainkan lagunya. Gadis itu tampak memejamkan kedua mata, dengan tenang namun tetap penuh konsentrasi menekan setiap balok hitam putih.

Dujun mengamati gadis itu dan senyuman tak pernah lepas dari wajah tampannya. Ia tidak tahu mengapa dengan hanya melihat gadis itu, senyumnya akan muncul begitu saja bahkan tanpa kendali dari otaknya terlebih dahulu.

Ia tidak tahu mengapa rasa sayangnya pada gadis itu semakin berkembang dari hari ke hari. Ia pun tak tahu mengapa gadis itu menjadi sangat berharga baginya seberjalannya waktu.

***

Seoul, August 9th 2013

Sepi menyelimuti kediaman Yoon hari ini. Sang pemilik rumah sedang berada di luar negeri dalam jangka waktu yang panjang untuk urusan bisnis. Ia ditemani istrinya ikut serta. Menyisakan ketiga anaknya di kediamannya yang luas, beserta para pelayan yang ada. Namun saat ini, Jiah dan Nara pun sedang tidak ada di rumah.

Dujun yang sejak tadi mengunjungi rumah itu, sekarang sudah berada di ruang piano di lantai dua. Ia memutuskan pergi ke ruangan itu, sementara Jongsuk pergi keluar untuk membeli beberapa soju. Sepupunya itulah yang tadi menghubunginya dan memintanya untuk datang. Dujun yang hari itu memiliki waktu senggang akhirnya mau menemui.

Jemarinya menyusuri rangka grand piano yang sering dimainkannya jika sedang berkunjung ke rumah itu. Sebelum akhirnya duduk di bangku piano. Ia tergelitik untuk memainkan sebuah lagu. Sambil menunggu Jongsuk tiba, satu lagu mungkin bisa mengusir rasa bosan.

Perlahan ia mengarahkan jari-jarinya pada tuts piano. Dengan lihai menekan balok-balok tersebut hingga tercipta alunan nada lembut. Ia pun ikut menyanyikan lagu yang sekarang ia mainkan. Sebuah lagu yang ingin ia nyanyikan untuk seseorang. Namun ia sadar harus mengubur keinginannya dalam-dalam. Kesempatan itu hanya akan menjadi sebuah angan kosong yang tak pernah tercapai.

When the visions around you,

bring tears to your eyes

And all that surround you,

are secrets and lies

 

I’ll be your strenght

I’ll give you hope

Keeping your faith when it’s gone

The one you should call,

was standing here all along

 

And I will take you in my arms

And hold you right where you belong

Till the day my life is through

This I promise you

 

I’ve loved you forever in lifetimes before

And I promise you never will hurt you anymore

I give you my word

I give you my heart

This is a battle we’ve won

And with this vow,

forever has now begun

 

Just close your eyes

Each loving day

I know this feeling won’t go away

Till the day my life is through

This I promise you

 

Over and over I fall

When I hear you call

Without you in my life baby

I just wouldn’t be living at all

 

And I will take you in my arms

And hold you right where you belong

Till the day my life is through

This I promise you baby

 

Just close your eyes

Each loving day

I know this feeling won’t go away

Every word I say is true

This I promise you

Dujun sampai di bait terakhir, menghentikan lagunya dengan sentuhan alunan nada yang lembut. Sebelum ia sadar seseorang sudah berdiri di samping pintu. Memperhatikannya dalam diam.

“Oh, kau sudah datang,” ujarnya pada Jongsuk, yang masih berdiri bersandar di samping pintu. Di tangannya tampak bungkusan berisi botol-botol soju.

“Sejak tadi aku di sini,” jawabnya, sembari melangkah masuk. Ia lalu meletakkan bungkusan yang ia bawa di meja yang ada di sudut ruangan, di sebelah kanan samping grand piano. Ia duduk di sofa dan mengambil sebotol soju. “Aku juga mendengarmu bernyanyi.”

Dujun menggaruk tengkuknya. “Maaf, aku tidak menyadari kedatanganmu tadi.”

“Tak apa,” Jongsuk tertawa renyah. “Kau menyanyikan lagu itu penuh penghayatan.”

Dujun hanya membalasnya dengan kekehan singkat.

Jongsuk memandang sepupunya itu penuh arti, sebelum melanjutkan kalimatnya. “Sepertinya aku mencium adanya panah cupid di sini.” Ada nada menggoda di balik suaranya.

Namun Dujun lagi-lagi hanya tertawa pelan menanggapi ucapan Jongsuk.

“Jadi, siapa gadis beruntung itu?” lanjut Jongsuk. Raut mukanya menyiratkan rasa penasaran yang tinggi.

“Gadis mana yang kau maksud? Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan,” Dujun tertawa canggung. Ia tidak ingin melanjutkan obrolan ini, sesungguhnya.

“Hei, aku melihat semuanya. Dari caramu bernyanyi tadi terlihat jelas kalau kau tidak asal menyanyikan lagu itu,” ujar Jongsuk. “Kau… sedang jatuh cinta?”

Anniyo,” sanggah Dujun, meski telinganya sudah memerah sekarang.

Jongsuk tersenyum penuh arti. Dari sikap sepupunya itu, tidak mungkin ia tidak sedang jatuh cinta. “Jadi, Yoon Dujun sudah terkena panah cupid?” Ia tidak memedulikan sanggahan yang dilontarkan Dujun barusan.

Dujun hanya bisa mendengus geli mendengar Jongsuk yang menggodanya. Ia lalu tersenyum simpul meski dalam hati ia merasakan sesuatu menohok dadanya saat teringat perasaan semunya.

“Siapa gadis itu?” tanya Jongsuk sekali lagi. Ia benar-benar penasaran dengan gadis yang sudah merebut hati seorang Yoon Dujun.

Dujun mendongak, tersenyum lemah. “Kau mengenalnya.”

“Aku mengenalnya? Siapa?”

Sebenarnya, Dujun ingin menyimpan rahasia ini sendiri. Seperti pertama kali ia menyadari tentang perasaannya, ia berusaha menutupinya dari semua orang. Membiarkan Tuhan satu-satunya yang mengetahui rahasia kecilnya ini. Namun, menyimpan semua ini seorang diri, bukanlah hal yang gampang. Ia butuh seseorang untuk berbagi. Ia butuh seseorang yang bisa memahami perasaannya juga. Sekedar untuk menepuk pundaknya dan meringankan beban perasaannya ini.

Sejenak ia hanya terdiam memandang Jongsuk yang diliputi rasa penasaran. Ia menggigit bibirnya, lalu mendesah pelan. “Dia,” jawab Dujun, mengedikkan dagunya sekilas pada lukisan besar di belakang Jongsuk duduk. Lukisan keluarga Yoon Jaewook.

Jongsuk membalikkan badannya, mendongak menatap lukisan keluarganya. Jantungnya mencelos. Dengan cepat menggeser bola matanya pada Dujun. Sekarang ia tahu gadis yang Dujun maksud. Gadis yang telah mencuri hati dan segenap perhatian seorang Yoon Dujun. Gadis yang ternyata adalah adiknya sendiri.

Bukan Jiah. Jongsuk sangat tahu itu. Orang yang paling dekat dengan Dujun bukanlah Jiah. Orang yang Dujun maksud bukanlah Jiah. Melainkan adik angkatnya. Tebakannya tidak mungkin meleset.

“Kau bercanda?” tanyanya, masih tidak ingin percaya dengan kebenaran yang terpampang di depan matanya.

Senyuman lemah Dujun seakan menjawab semua pertanyaannya. Seakan menekannya untuk mempercayai hal yang sebenarnya tidak ingin ia percaya.

“Sejak kapan?” tanyanya lagi, tercekat.

Dujun menggeleng perlahan. “Yang kutahu perasaan ini semakin berkembang dari awal aku bertemu dengannya.”

“Tapi kalian—“

“Aku tahu,” sambar Dujun. “Tidak perlu mengingatkanku, aku sudah menyadarinya sejak awal.”

Jongsuk memandang sepupunya simpati. Secara tidak langsung ia bisa memahami perasaan lelaki itu. Ia tidak menyangka akan muncul perasaan itu dalam diri Dujun. Yang ia tahu hanyalah Dujun yang selalu memperhatikan adiknya sebagai kakak. Kini tak ada kata yang bisa terucap dari bibirnya.

“Aku tahu, perasaanku ini terhalang oleh status,” Dujun tersenyum kecut. Ia benci mengingat fakta itu. Ia dan Nara hanya sebatas saudara sepupu. Mereka sudah digariskan untuk menjadi keluarga. Ya, hanya sebatas itu. Dan Dujun benci mengingatnya. Ia benci dengan hubungan keluarga yang memaksanya untuk memendam perasaannya. Ia benci dengan keadaan yang menekannya untuk memusnahkan perasaannya sendiri.

“Dari awal aku tahu perasaanku ini tidak sepantasnya ada. Aku tahu aku tidak bisa meraihnya, tidak ada hak untukku mencintai anak dari pamanku sendiri. Semua ini percuma, perasaanku padanya tidak akan bisa tersampaikan. Tidak boleh tersampaikan.” ujarnya, menekan kalimat terakhir. Lelaki itu menunduk, kemudian mendesah pelan.

Jongsuk bergeming, menolak untuk berkomentar. Ia membiarkan Dujun mengeluarkan isi hatinya. Mengeluarkan apa yang ia simpan dan tutupi sejak lama.

“Awalnya aku berpikir, mungkin saja perasaanku ini bisa terwujud. Aku bisa mengejarnya, membuatnya menoleh padaku dan mengutarakan perasaanku padanya. Meski kami bersaudara, tapi aku dan dia sama sekali tidak ada hubungan darah. Setidaknya masih ada kesempatan bagiku untuk meraihnya. Tapi tiap kali egoku itu muncul, selalu ada hal yang berhasil menjatuhkannya. Kenyataan memaksaku untuk kembali sadar bahwa aku dan dia tidak akan pernah bisa disatukan.”

Dujun mengangkat wajahnya ke udara. Menatap langit-langit dinding. Ia merutuki cairan bening yang sudah menggenang di pelupuk matanya. Lemah. Ia benci pada dirinya yang lemah.

Ia tersenyum sembari mendengus. Kemudian menatap kakak angkat gadis yang dicintainya itu lekat-lekat. “Tapi bukankah menjadi bayangannya saja sudah cukup? Menjadi bayangannya dan terus berada di dekatnya tanpa harus memaksakan perasaanku.”

Ketika rasa itu datang, tidak ada yang bisa ia lakukan selain menerimanya dan membiarkannya berkembang dari waktu ke waktu. Ia tidak bisa menghindar ataupun memusnahkan rasa itu. Ia tak sekuat yang dibayangkan. Cinta membuat siapapun lemah. Bahkan, seorang Romeo tidak bisa berkutik ketika dihadapkan pada rasa cintanya yang muncul saat melihat sang Juliet. Tidak bisa mengelak dari cinta yang perlahan mengantarnya pada sang maut.

fin

Ini fanfic yang saya buat pertengahan 2013, sebenarnya ini termasuk dari series canon yang saya buat di blog Paper of Stories, bercerita tentang masa lalu Yoon Nara (OC) dari sudut pandang Dujun, jadi jatohnya lebih ke semi-canon (saya juga rada bingung soal ini).

Another B.A.P/BTS/BTOB/Beast/Infinite/etc fanfiction

Paper of Stories

Terakhir, mind to review? 🙂

Advertisements

8 thoughts on “[Oneshot] Fate

  1. Kasian cinta terhalang status, tapi kan bukan sepupu kandung yang artinya nara adalah orang lain. Bikin squelnya dong thor kehidupan setelah mereka dewasa dan apa mereka bisa bersatu, ditentang keluarga atau tidak…hihii ngarep.com

    • yup, nara adalah orang lain, bukan sepupu kandung dujun jadi mungkin masih ada harapan buat dujun haha
      sekuel? ada kok nantinya, ditunggu saja ya hehe
      terimakasih sudah mampir dan jejaknya disini 🙂

  2. OHH GILA INI KEREN BANGET TT.TT
    Penggambaran melankolis nya keren banget apalagi di endingnya, baca sekalipun beberapa kali dengan metode apapun pasti langsung ngena 😀
    Two thumbs 😀

    • kalo dulu memang banyak sih yang antar sepupu bisa nikah, tapi itu di indonesia. bibi saya juga nikah sama sepupu jauhnya. tapi setau saya kalo sama sepupu yang dari anak sodara ayah kandung kita itu ga boleh, kalo ga salah sih. nah kalo di negara lain entahlah hehe
      di ff ini saya pengen ngangkat konflik batinnya si dujun yang jadi sepupu nara, yah walaupun nara ini cuma sepupu angkat hahaha
      sekuel? ditunggu saja ya hehe, terimakasih sudah mampir 😀

  3. Ffnya ngena bnget ;-;
    Gk tau mau coment apa lg.. 😐 pkoknya ffnya bgus,keep writing thor ^^

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s