[FF Freelance] Black Paper

Infinite L

BLACK PAPER

By Viayamada [@INFINITEVIAKIM]

||Length: Vignette (2000++)||Genre: Detektive Story|Crime||Ratting: PG-15||

||Cast: L.KIM[INFINITE] as Jack|Original Character|Hoya[INFINITE] as Derek|Etc||

 

Semua orang menggunakan topeng dengan cara mereka masing-masing dan ada masa dimana topeng itu terbuka—menunjukan sosok asli dibalik topeng itu yang terkadang diluar dugaan para manusia.

.

.

.

Jack bukanlah tipe pria pendendam namun, melihat kedua orangtuanya terbujur kaku diatas lantai marmer dengan darah yang mengucur deras dari kepala juga perut mereka membuat Jack geram.

Jack terlamapaui tau bahwa kedua orangtuanya itu adalah korban pembunuhan dan Jack ingin agar siapapun pembunuhnya itu bisa tertangkap dan merasakan dinginnya lantai penjara juga dinginnya jeruji besi.

Dua orang detektif, Jane dan Derek, juga para polisi mulai berdatangan kerumahnya—Jack adalah seorang detektif hingga mudah saja baginya untuk menelpon dua orang detektif terbaik kerumahnya dan menemukan oknum dibalik ini semua dengan waktu secepat-cepatnya.

Inginnya, Jack mencari tau kasus ini seorang diri bersama Jane, detektif terbaik versi ketua mereka yang juga menjambat sebagai adiknya—namun, mengingat ada satu kasus rumit yang kini ia tangani membuat posisinya digantikan oleh Derek—sahabat sekaligus detektif terbaik versinya.

malam itu, rinai hujan membasahi setiap jengkal jalanan kota dan sesekali petir menyambar membelah angkasa raya diikuti dengan suara yang berhasil memekakkan telinga para warga kota—untungnya itu tidak membuat semua orang menjadi tuli mendadak.

Jack tidak suka situasi ini; terjebak dikantornya tanpa bisa keluar akibat hujan yang terlampaui deres diluar sana—Jack tak suka jika pakaiannya harus basah akibat rinai hujan.

Sedikit mendegus kesal sebelum ia menikmati kopi mocachino yang sejak sepuluh menit yang lalu tersedia diatas mejanya yang dipenuhi berkas-berkas kematian Jackson—seorang pria asal Canada yang tewas terbunuh dikamar hotel tempatnya menginap.

Jack mengambil salah satu berkas dan mulai memandang dengan seksama setiap gambar yang tercetak dengan rapinya diatas kertas putih tak berdosa itu.

Jack teringat kata dokter forensik yang memeriksa jasad Jackson; ada tiga luka tembak dikepalanya dan tiga luka tusuk pada perutnya.

Jack tak habis pikir dengan siapapun itu pembunuhnya yang terkesan kejam dan pintar—tak ada satupun sidik jari maupun barang bukti sedikitpun disana—Jack menduga bahwa siapapun itu pelakunya, ia tengah membalas dendamnya pada Jackson.

Bunyi ketukan pintu berulang kali menginterupsi kegiatan Jack saat itu, ditaruhnya berkas tersebut kembali diatas meja kayu lantas berseru dengan suara yang cukup lantang—akibat adanya suara petir yang menyambar diluar sana. “masuk!”

Kenop pintu ruangan Jack terputar dan tak lama kemudian pintu itu terbuka menampakkan sosok gadis dengan tinggi sekitar seratus tujuh puluh delapan sentimeter dengan rambut yang menjuntai kebawah, kaos berwarna putih polos, jeans dan jangan lupakan sneakers yang membuat gadis itu terlihat santai.

Jack terlampaui tau siapa gadis itu? Gadis itu adalah Jane, adiknya, yang kini terlihat capek; peluh yang menetes dari pelipisnya juga ada kantong mata yang menunjukan bahwa dirinya kurang tidur.

“aku menemukan fakta mengejutkan.” Suara parau itu datang dari Jane bersamaan dengan dirinya yang menduduki sebuah kursi yang membuatnya kini berhadapan dengan sang pemilik ruangan, Jack, dengan meja sebagai satu-satunya penghalang diantara keduanya.

“what?”

“pembunuh mom and dad sama seperti pembunuh Jackson.”

Jack mengangkat satu alisnya—isyarat agar sang adik menerangkan secara detail maksud dari ucapannya.

“kata dokter forensik, ada tiga luka tembak dan tiga luka tusuk ditubuh mom and dad.”

Tiga luka tusuk dan tiga luka tembak?

Ah, iya. Ini sama seperti kasus Jackson yang kini ia tangani.

Itu berarti pembunuh kedua orangtuanya juga menaruh dendam pada kedua orangtuanya.

“berarti kita harus bekerja sama?”

Jane mengangguk mantap.

.

.

.

“tak ada yang mendengar suara tembakan dari rumah kita.” Itu ucapan Jane yang baru saja menyelidiki kasus kedua orangtuanya dengan cara menanyai beberapa orang yang saat itu tengah menikmati waktu mereka dengan bersantai dirumah.

Jack mendegus kesal diikuti dengan rambutnya yang teracak frustasi.

“bagaimana ini? Mana mungkin kita menyelidiki kasus ini sendirian? Dimana Derek? Bukankah dia juga ikut menangani kasus mom and dad?”

Ada jeda cukup lama—berkisar satu menit—sebelum Jane menjawab; “Derek bilang ia mendapat tugas lain dari ketua.”

Jack menyipitkan matanya dan menatap dengan lamat gurat wajah Jane.

“lie.”

Ah, Jane memang tidak pintar jika berbohong pada Jack. Kakaknya itu—entah bagaimana caranya?—selalu berhasil menemukan kata ‘kebohongan’ walau kata itu sudah tersimpan dengan baik.

Jane mendegus dengan rasa kesal.

“bagaimana kau tau?”

“ketua tidak akan memberikan tugas pada detektif yang sudah ditugasi kasus lain, Jane. Ingat?”

Satu kosong.

Jane kalah telak dan karenanya gadis itu hanya diam seraya memandang langit senja diluar sana yang terasa begitu indah.

“kau belum jawab Jane.”

Ah, seharusnya Jane tau bahwa kakaknya ini akan terus bertanya sampai pertanyaannya itu terjawab.

Diam-diam Jane meruntuki sifat aneh kakaknya itu yang melampaui batas kewajaran—baginya.

“Derek tidak mau. Puas?”

Jack termenung.

Derek tidak mau?

Jack cukup tau bagaimana Derek itu? Dirinya adalah tipe orang yang bersemangat saat dihadapi kasus-kasus baru sekalipun itu merumitkan dan hampir tak pernah mengelu dihadapan ketua detektif.

Lalu apa sekarang?

“why?”

“i don’t know.”

Dan setelahnya diam mengambil alih keadaan. Jack sibuk berpikir mengenai sifat Derek yang aneh sedang Jane mulai memikirkan rencana apa yang mereka ambil untuk segera menuntaskan kasus merumitkan ini.

.

.

.

“dimana Derek?” suara bernada kesal itu keluar dari katup bibir Jack.

Sesungguhnya Jack bukanlah pria kasar yang suka mencari keributan layaknya sekarang. Hanya saja ia ingin segera mencari tau keberadaan Derek saat ini dan menanyai pria berumur dua puluh tahunan itu mengenai alasan dirinya menolak untuk menuntaskan kasus kedua orangtua Jack?

Jack memutar kenop pintu kayu yang dibuat untuk akses keluar-masuk ruangan Derek. Dibukanya pintu itu.

Dan tidak ada Derek disana.

Jack bukanlah orang yang suka menjelajahi ruangan orang lain sekalipun orang itu adalah Jane. Baginya semua orang memiliki privasi mereka sendiri dan tak ada yang berhak ikut camur.

Tapi tidak untuk sekarang.

Jack menjelajahi ruangan Derek dengan niatan mencari suatu barang yang agaknya bisa memberi tau Jack mengenai alasan Derek.

Sampai Jack menemukan potongan kertas berwarna hitam yang tergeletak dipojok kanan ruangan Derek.

Jack mengambilnya.

.

.

.

Jack bukanlah orang sabar yang telatan. Namun Jack terpaksa melakukannya; menyusun kembali potongan kertas itu dan menyambungnya mengenakan selotip.

Setelah lama akhirnya kertas hitam itu kembali menjadi satu mengijinkan Jack untuk membaca kata tiap kata yang tertulis diatanya—walau sedikit susah.

Bagi siapapun yang menerima kertas ini.

Hai, aku adalah Black Paper pembunuh baru yang memiliki otak genius yang menyimpan dendam pada siapapun yang menerima kertas hitam ini.

Aku adalah orang yang menykai warna hitam dan angka tiga yang akan membunuh siapapun penerima kertas ini menggunakan pistol dan pisau.

Berhati-hatilah! Dan sebelum kalian mati ditanganku aku minta pada kalian untuk meminta maaf padaku.

-BLACK PAPER-

Jack mengangkat satu alisnya. Ia sama sekali tak mengerti maksud dari pesan singkat yang ditulis oleh seseorang yang mengaku bernama Black Paper itu. Agaknya, ia butuh Derek untuk hal yang satu itu.

Namun kini ada dimana Derek?

.

.

.

Jack benar-benar frustasi saat ini.

Kopi yang membasahi kerongkongannya terasa semakin pahit dari biasanya. Pizza yang terasa begitu nikmat kini terasa tidak layak makan seperti pizza kadaluarsa. Langit senja yang biasanya terlihat begitu indah dengan semburat merah diatas sana kini terasa biasa-biasa saja.

Jack tidak tau dimana keberadaan Derek.

Tak ada yang tau letak Derek sekarang ini, termasuk adiknya. Ponsel Derek mati dan itu membuat letak Derek tak dapat terdeteksi dengan GPS. Para detektif dan para anggota kepolisian juga tak tau keberadaan Derek.

Lalu, dimanakah sekarang Derek bersembunyi?

“aku melihat Derek memasuki ruangan ketua sekitar lima hari yang lalu—kalau tidak salah saat itulah terakhir kali aku melihat Derek.” Itu kata Mellani, seorang gadis seumuran dengan Jane yang akhir-akhir ini dekat dengan Derek—dari yang Jack tau kini keduanya saling mencintai satu sama lain tanpa berniat untuk menjalani hubungan yang lebih dari sekedar partner kerja.

Lima hari yang lalu? Bukankah itu adalah satu hari setelah kematia kedua orangtua Jack?

.

.

.

Jack menghela napas—mencoba menenangkan jantungnya yang kini berdetak dengan tempo yang terlampaui cepat seiring dengan keringat dingin yang mentes dari pelipisnya.

Tangannya sudah bersiap membuka pintu dari ruangan sang ketua detektif sejak kata ‘masuk’ diserukan dari dalam.

Jack membenci situasi ini; mendatangi ruangan ketua detektif yang terasa seperti neraka baginya. Terasa begitu panas walau nyatanya ada AC yang bertengger pada dinding ruangan tersebut.

Bagi Jack, ketuanya begitu menakutkan. Ia sering mengejek para detektif lain yang dianggap tidak berhasil dalam menuntaskan kasusnya dan Jack tidak suka diejek. Diejek sama dengan menurunkan harga dirinya yang paling berharga.

Tapi Jack tetap membuka sang pintu hanya karena ingin menjawab misteri hilangnya Derek agar misteri yang lainnya segera terselesaikan.

“oh, ternyata kau Jack. Tumben sekali?”

Jack hanya tersenyum—sebuah senyum penuh dengan keterpaksaan—seraya menduduki kursi yang ada didepan meja sang ketua yang sebut saja namanya Daniel.

“ada apa Jack?”

“eung, kata Mellani Derek mendatangi ruangan anda lima hari yang lalu. Apa itu benar?”

Daniel mengangguk seraya menegak secara perlahan kopi Capuchino yang sejak tadi sudah ada diatas mejanya yang bersih dari berkas-berkas tak berguna yang hanya akan memusingkan.

“lalu dimana ia sekarang?”

Ada jeda yang cukup lama sebelum Daniel bersuara. “i don’t know. Memangnya kenapa?”

Jack mengumpat dalam hati. Tingkat ke-frustasian-nya kini bertambah setingkat.

Tidak ada yang tau dimana Derek dan itu artinya semua misteri ini tidak akan cepat berakhir.

“aku menemukan ini diruangannya dan aku benar-benar membutuhkan Derek untuk menngetahui maksud dari ini semua selain itu aku juga membutuhkan bantuan dari Derek untuk menyelesaikan kasus kedua orangtuaku dan Jackson.”

Jack mengambil sang kertas hitam yang sebelumnya ada didalam tas ranselnya lantas menaruhnya diatas meja milik Daniel.

“oh, ini. Aku tau.”

Jack menghela napas penuh dengan perasaan lega. Itu tandanya satu misteri telah berhasil terungkap.

“lima hari yang lalu Derek keruanganku untuk menunjukan ini padaku. Derek bilang ia menemukannya di tempat tewasnya kedua orangtuamu—rumahmu. Derek dan aku akhirnya menyimpulkan bahwa kertas itu ditulis oleh seseorang yang membunuh orangtuamu sekaligus pembunuh Jackson.

“dia bilang ia tau siapa penyuka warna hitam juga angka tiga yang disebutkan dikertas ini namun, Derek sama sekali tak memberi tauku apa-apa. Ia bilang ia ingin memberikan sebuah kejutan kecil pada para detektif.

“tadi kau bilang bahwa kau tak tau keberadaan Derek sekarang ini? Jadi aku berpikir bahwa sang pembunuh telah tau bahwa Derek mengetahui identitasnya karenanya, ia menculik Derek kesuatu tempat—atau bahkan membunuhnya—lantas menyobek kertas ini.”

Jack mengangguk, sudah mulai paham.

“tapi ketua, bukankah kantor ini memiliki sitem keamanan tingkat tinggi yang tak akan bisa dibobol oleh hecker secanggih pun? Orang yang bisa memasuki kantor kepolisian dan kantor detektif harus memiliki id card dan juga memiliki sidik jari yang sesuai selain itu ada code.”

Jack tak habis pikir, segenius apa orang ini hingga bisa membobol kantor kepolisian dan detektif yang memiliki sistem keamanan tingkat tinggi seperti ini?

“berarti salah satu dari orang disini adalah pembunuhnya.” Gumam Daniel yang disetujui oleh Jack berupa anggukan.

“lalu dimana Derek sekarag?”

Ah, pertanyaan itu lagi. Sebuah pertanyaan yang terasa seperti misteri yang tak akan pernah terselesaikan bagi seorang Jack.

Jack bersumpah akan bunuh diri setelah ini jikalau Derek tak juga ditemukan keberadaanya dan sang pelaku tak juga ditemukan.

“aku yakin Derek disembunyikan ditempat ini. Dari yang aku tau, diruangan Derek itu ada sebuah tempat persembunyian dan aku yakin Derek ada disana.”

.

.

.

Pagi itu terasa membingungkan bagi seorang Jack.

Tidak, ini bukan lagi soal misteri akan dimana Derek dan siapa pelaku dibalik ini semua karena sejatinya semua itu sudah terpecahkan.

Derek berhasil ditemukan pingsan disebuah ruangan kecil tanpa fentilasi udara yang tersembunyi diruangan Derek dan Derek berhasil mengemukakan siapa oknum dibalik semua ini dengan fakta-fakta yang diucapkannya secara gamblang.

Tapi ini semua diluar ekspetasi seorang Jack.

Pembunuhnya adalah Jane, adiknya sendiri.

Jane pembunuh kedua orangtuanya sekaligus pembunuh Jackson.

Jack diam-diam kesal pada dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia tidak sadar bahwa oarang yang menyukai warna hitam dan angka tiga adalah Jane?

“jadi , apa alasanmu membunuh tiga orang itu Jane?” tanya Derek yang saat ini duduk berdampingan dengan Jack seraya memandang tajam Jane yang duduk dihadapan mereka tanpa rasa bersalah ataupun ketakutan.

“karena sebuah dendam.”

“dendam apa yang membuatmu sekeji ini, Jane?” kini aku yang bersuara dengan suara parau akibat menahan tangis.

“kau tak akan pernah percaya tapi ini adalah nyata. Aku membicarakan sebuah kebenaran. Fakta yang selama ini tak kalian ketahui.

“dimulai dari alasan mengapa aku membunuh Jackson? Aku jatuh cinta padanya karena dia begitu baik padaku hingga kami menjadi mengenal satu sama lain. Aku menceritakan segala hal pada Jackson begitu pula sebaliknya. Hubungan kami baik-baik saja tanpa ada masalah sesekali kami terlihat mesra walau tak ada satupun dari kami yang pernah mendeklarasikan rasa cinta hingga suatu malam Jackson bertindak tidak sewajarnya. Ia… ia mengambil paksa mahkota berhargaku. Ia meniduriku. Pria brengsek itu mengotori tubuhku.”

Jane menagis. Air mata satu per satu keluar dari kelopak matanya menganak sungai dipipinya.

“aku membunuhnya setelahnya karena aku menganggap Jackson pantas mati untuk menerima balasanku. Sebelumnya, aku telah mengirim surat hitam untuknya sebagai peringatan tapi ia justru membuangnya ditempat sampah.

“setelahnya, mommy and daddy marah-marah padaku hanya karena aku menumpahkan seluruh isi shampo yang baru mereka beli. Mereka berkata bahwa aku adalah anak yang dibuang yang secara tidak sengaja mereka temukan. Mereka bilang aku bodoh dan tidak pantas sebagai seorang detektif seperti Jack padahal selama ini mereka tak tau bahwa sebuah pujian selalu muncul dari ketua. Karenanya aku melakukan hal sama seperti yang kulakukan pada Jackson.”

Jane mnyelesaikan ucapannya dengan tangisnya yang semakin menjadi-jadi.

Jack diam-diam juga ikut sedih. Ia tau bahkan sangat tau bagaimana perasaan Jane kini. Dikotori oleh Jackson dan dicampakkan oleh kedua orangtua sendiri memang merupakan sesuatu yang sangat meyakitkan.

Jack tau betul.

Tapi Jack tak dapat berbuat apa-apa ketika ia melihat Jane dimasukan penjara dan bahkan terancam dihukum mati.

Jika bisa, Jack ingin kembali kemasa lalu dan menutup kasus ini hingga tak ada yang tau bahwa Jane adalah Black Paper—pembunuh.

.

.

.

Tak ada satupun kegiatan yang dilakukan tanpa alasan termasuk membunuh.

Kadang kala seseorang membunuh bukan karena niat jahat tapi juga niat baik.

Kadang kala seseorang membunuh karena seseorang yang mereka bunuh telah melakukan hal-hal yang tidak seharusnya pada mereka.

Bukankah begitu?

.

.

.

Maaf kalau ini diluar dugaan kalian. Mungkin kaliam ngarepin cerita detektif yang seru tapi yang ada kayak gini/nunjuk cerita/

Maklum ini FF kejar tayang. Mumpung ada ide langsung ketik.

Maaf kalau kata-kata asingnya gak aku italic atau banyak typo yang nyebar ya, biasa aku males ngecek/ditabok/

Well, itu adalah FF yang aku buat.

Walau FF ini absurd tapi please hargain FF ini.

THANKS buat yang udah mau baca.

BIG THANKS buat yang udah mau review.

Viayamada

7 thoughts on “[FF Freelance] Black Paper

  1. hai hehe seneng ada juga yang bikin ff hoya berotak pintar padahal aslinya…. /dicekek noya
    nice ff^^ gak ada typo kok kyknya
    keep writing:)

  2. waaaww……keren bener2 diluar dugaan aku kira pembunuhnya itu derek ternyata adik jack sendiri
    keren thor….😀

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s