[FF Freelance] It’s Love (Chapter 4)

It's Love

Title                       : It’s Love

Length                  : Chapter

Rating                   : General

Genre                   : Romance, Friendship, Sad story

Author                  : Inge Venesia (twitter: @ingevenesia)

Cast                       : Taeyeon (SNSD), Leeteuk (SJ), Sunny (SNSD), Ljoe (Teen Top)

Support cast       : SNSD and SJ members

Previous               : Chapter 1Chapter 2, Chapter 3,

Disclaimer           : Jika ada kesamaan nama, unsur cerita, dll berarti hanya kebetulan.

Summary:

Semua sisi kehidupan memiliki sisi terang maupun gelap. Bisa saja terang datang sebelum atau setelah gelap. Sama halnya dengan cinta. Cinta datang disaat yang tidak terduga. Cinta juga datang dari orang yang tak terduga. Cinta bisa datang dan pergi kapan saja tanpa bisa diprediksi. Cinta datang dengan indah dan dapat pergi dengan indah juga. Sebaliknya cinta datang dengan indah dan pergi menyisakan kenangan dan luka yang mendalam. Cinta bisa juga pergi dan kembali dalam beberapa waktu. Semua dapat dilakukan oleh sosok yang disebut cinta. Cinta itu baik. Cinta itu jahat. Cinta itu memberikan kita kebahagiaan. Cinta juga memberikan kita luka. Semua dapat dilakukan oleh cinta. Cinta sejati akan selalu menjadi hal terindah bagi setiap insan. Cinta yang tulus dan abadi akan menyisakan kenangan yang tak terlupakan bagi yang ditinggalkan. Cinta… cinta.. cinta…

 

 

Part 4

“Berhentilah menangis. Jangan buat Jungsoo tidak tenang disana.” Kangin oppa menepuk bahuku pelan. Aku menyadari apa yang kuperbuat saat ini hanya mempeberatkan Jungsoo oppa disana. Maafkan aku oppa, selama ini aku hanya membuatmu sulit.

Aku berjalan pelan menyelusuri langkah demi langkah, menikmati hembusan angin musim gugur, menyaksikan dedaunan yang menguning gugur menghiasi sepanjang jalan seperti gugurnya hati dan perasaanku. Perjalanan dari halte bis ke pemakaman rasanya jauh sekali, padahal hanya berjarak 1 km. Langkah kakiku semakin lama semakin berat disusul air mataku yang tidak dapat terbendung mengingat segala kenangan yang kumiliki dengan Leeteuk oppa. Oppa kau benar-benar jahat, sangat jahat. Tidak pernah terbesit dalam ingatanku oppa akan meninggalkan kami semua dengan cara yang tragis seperti ini. “Nuna!” aku menoleh ke belakang akibat reflex saat ada yang memanggilku dari belakang. Aku segera menghapus air mata secepat kilat dan menyadari bahwa yang memanggilku itu adalah Ljoe. “Hai.” Sapaku datar dan mengulas senyuman singkat sembari berdiri menunggu agar Ljoe dapat menyamakan posisiku dengannya. Ljoe berlari kecil menyusulku yang kira-kira berjarak 10 meter. Mengingat jalan setapak  ini merupakan turunan, itulah langkah Ljoe lebih cepat dari normalnya. “Dari mana?” sapaku saat ia sudah berhasil menyamakan dengan posisiku yang berjalan menuju pemakaman. “Dari atas. Motorku parkir di atas. Disini hanya ada jalan setapak untuk pejalan kaki tidak bisa masuk kendaraan apapun. Walaupun bisa, resikonya sangat tinggi. Nuna darimana?” tanyanya balik. Aku yakin ini hanya basa-basi saja. “Dari rumah.” Balasku singkat sembari melihat ke bawah dan menendang batu-batu kerikil yang ada. Jalan menuju pemakaman tidak mudah. Jalan menurun sepanjang kurang lebih 500 meter yang tidak dapat dilalui kendaraan, jalan setapak yang masih ditutupi tanah liat dan bebatuan, sangat mengerikan jika hujan deras melanda. Kapan saja dapat terjadi hal-hal yang tidak diinginkan disini. Namun hanya disinilah tempat paling layak sebagai tempat pembaringan terakhir bagi laki-laki yang benar-benar kucintai lebih dari aku mencintai diriku sendiri. “Nuna, maafkan hyungku jika dia banyak salah ataupun mengecewakan nuna.” Ljoe memecahkan lamunanku yang berfantasi dengan bunga-bunga musim gugur. Aku menarik nafas dalam-dalam sebelum menjawab Ljoe. Rasanya menyakitkan jika terus mengingat apa yang sudah oppa lakukan selama ini. Perjuangannya, sakitnya, senyumannya, semua tentangnya, sungguh menyakitkan. “Bagiku apapun yang oppa lakukan adalah yang terbaik. Oppa berhasil membuatku menyayangi seseorang lebih dari menyayangi diriku sendiri. Oppa membuatku mengerti tentang hidup. Tidak ada kesalahan yang dibuatnya selama kami bersama. Aku yang seharusnya meminta maaf kepada oppa atas segala perilakuku selama ini. Selama ini aku bodoh tidak menyadari apa yang oppa rasakan, rasa sakit yang dipendamnya bertahun-tahun.” Aku tidak sanggup melanjutkan kata-kata karena kembali terhanyut dalam kesedihan dan kenangan yang oppa berikan selama ini. Air matapun tak sanggup kubendung lagi. Dengan cepat aku menghapus air mata yang sudah sukses membasahi seluruh pipiku saat mengingat perkataan Kangin oppa kemarin: air mata hanya akan membuat Jungsoo oppa tidak tenang disana.

“Nuna kumohon jangan menangis lagi. Kalau nuna menangis, nanti hyung tidak tenang disana. Jebal nuna. Hyung sangat menyayangi nuna lebih dari yang nuna tahu. Itulah sebabnya hyung tidak pernah memberitahu nuna tentang penyakitnya. Hyung tidak ingin nuna memikirkannya terlalu jauh. Aku yakin Kangin hyung sudah memberitahu nuna tentang ini. 1 bulan yang lalu hyung pergi meninggalkan nuna, bukan karena hyung tidak sayang dengan nuna ataupun hyung pergi ke luar negeri. 1 bulan itu hyung kembali ke desa, tempat dimana ia dibesarkan oleh neneknya yang sudah lebih dulu meninggal. Disana hyung menyumbangkan segala yang ia miliki kepada anak-anak yang membutuhkan. Mulai dari baju, buku, bahkan uang tabungannya digunakan untuk melakukan pembangunan tempat belajar sederhana disana. 3 minggu berlalu, hyung kembali ke Seoul untuk menghabiskan 1 minggu terakhirnya, mengulang semua kisah cintanya dengan nuna dari awal kalian bertemu sampai saat itu. Hyung setiap malam menangis saat melihat foto-foto kalian, hadiah-hadiah yang nuna berikan padanya. Dari hyung membuka mata sampai menutup mata, yang dirasakannya hanyalah rasa sakit yang tidak tertahankan. Tapi berkat segala kenangan yang nuna berikan padanya, hyung berhasil melawan rasa sakit itu. Nuna tahu, hampir setiap hari aku ingin menangis melihat hyung yang berteriak kesakitan, menelan puluhan pil penahan rasa sakit. Walaupun kami lama tidak bertemu, tapi Jungsoo hyung adalah sepupuku yang paling kusayangi.  Aku tidak bisa melihatnya kesakitan seperti itu. Mianhae nuna, selama ini aku tidak memberitahumu mengenai penyakit hyung. Aku takut nuna akan kecewa ataupun nuna pergi meninggalkan hyung. Bagi hyung, nuna adalah segenap hidupnya. Saat nuna pergi meninggalkannya, saat itu juga hyung akan pergi dari dunia ini.” Aku menangis terisak mendengar cerita panjang dari Ljoe. Ia pun juga tidak dapat menahan air mata yang sudah berkumpul di pelupuk matanya. Kami berdua hanya menangis sepanjang jalan dan tidak dapat berkata apa-apa lagi sampai akhirnya langkah kaki membawa kami ke tempat pemakaman yang dituju.

Disana sudah dipenuhi oleh orang-orang dengan tuxedo dan hanbok hitam, seperti yang aku dan Ljoe kenakan saat ini. Rasanya ingatanku hilang entah kemana, sampai susah mengenali orang-orang yang ada disana, terlebih lagi sudah sangat ramai. Ljoe menggenggam erat lenganku, menjagaku jangan sampai kehilangan kesadaran atau terpencar di kerumunan orang. Ia menarikku semakin ke dalam, mendekat dengan pusat pusaran manusia-manusia disini.

Sekarang tepat didepanku terdapat sebuah peti berwarna coklat mengkilap yang dihiasi rangkaian bunga berbentuk salib diatas tutupnya. Bagian dalamnya dilapisi kain putih dari bahan sutra yang sangat halus. Aku maju beberapa langkah, mendekatkan diri dengan peti dan melihat isi dalamnya. Leeteuk oppa berbaring, terbujur kaku disana, menggunakan tuxedo hitam. Tangannya sudah diberi sarung tangan dan kakinya dibalut oleh sepatu hitam yang mengkilap. Tidak ada yang berubah dari wajahnya, rambutnya, segalanya, selain wajahnya yang pucat yang lingkaran mata yang membiru. Senyum tipis tersungging di wajahnya menandakan bahwa ia sudah memiliki kebahagiaan abadi. Aku meraba setiap lekukan di wajahnya. Dingin. Saat itu aku benar-benar menyadari bahwa oppa benar-benar sudah pergi meninggalkanku dan kami semua selama-lamanya.

Sekarang sudah saatnya aku harus melepas oppa dari hadapanku. Peti yang tadi terbuka sekarang sudah tertutup rapat dan perlahan-lahan dimasukkan ke dalam tanah. Kemudian tanah dilemparkan ke dalam lubang tersebut yang semakin lama semakin menutupi peti. Semua orang disekitarku menangis meraung-raung. Saat itu rasanya dunia berhenti berputar. Aku masih tidak percaya, mulai saat ini aku tidak bisa melihat wajah oppa lagi, senyumnya, apalagi menyentuhnya. Tidak bisa lagi. Bagaimana caranya aku melanjutkan hidup jika seperti ini. Kenangan tidak mungkin dapat dilupakan dalam waktu yang singkat, pasti banyak hal-hal yang mengingatkanku kembali dengan oppa.

3 bulan berlalu setelah kepergian oppa. Sekarang aku sedikit demi sedikit belajar melupakan kenangan yang oppa tinggalkan selama hubungan kami. Bukan bermaksud melupakan, hanya saja menyimpannya di tempat tersembunyi di dalam pikiran dan tidak ingin membukanya kembali, selagi tidak ada yang mengingatkan. Aku lebih banyak mengapresiasikan waktuku mengurusi pekerjaan oppa yang belum terselesaikan di meja ruang Dewan Perwakilan Siswa dan menghabiskan sisanya bersama dengan peri-peri pencerah hari-hariku, GG9.

“Taeyeon-ah!” tidak perlu aku menoleh, aku yakin pasti Sunny yang memanggilku dengan suara cempreng seperti anak kecil, suara khas Sunny yang membuatku tidak bisa menolak permintaannya. Aku terus pura-pura sibuk dengan berkas-berkas yang berserakan di atas meja ruang DPS. “Taeyeon, jawablah panggilanku.” Teriaknya lagi.

“Wae? Ada apa Sunnyku?” sahutku tanpa menoleh sedikitpun ke arah Sunny dan masih sibuk mengurusi berkas. Ini bukan pura-pura, tapi memang benar-benar sibuk dengan berkas yang ada.

“Taeyeon, bisakah kau berhenti sebentar dan menoleh ke arahku? Ada sesuatu yang penting yang ingin aku beritahu. Jebal…” sunny mendekatiku dan benar-benar memohon dihadapanku. Jika sudah begini, aku tidak dapat menolak apa yang dimintanya. Akhirnya aku meletakkan segala berkas yang memenuhi tanganku sedari tadi dan menatap wajah Sunny yang penuh dengan senyum. Rasanya seperti banyak bunga menaburi setiap senti wajahnya. “Taeyeon-ah, kau tahu, aku akan mengganti statusku mulai hari ini?” aku perlu menghabiskan sekitar 1 menit untuk mengolah apa yang Sunny katakan. “Status apa?” aku hanya menggaruk kepala karena bingung apa yang  dimaksud Sunny. “Pria yang aku harapkan sekarang menjadi milikku.” Sunny memelukku dan melompat-lompat. Aku hanya diam saja tidak tahu apa yang terjadi. “Siapa? Ljoe?” aku melepaskan pelukan Sunny dan memastikan apa yang terjadi. Sunny hanya membalas dengan anggukan. Oke ini gila. Aku tidak menyangka Sunny dan Ljoe dapat bersama dalam waktu secepat ini. Wajar saja dari tadi Sunny seperti orang kurang waras, senyum-senyum sendiri.

Aku tidak yakin bagaimana persis hubungan Sunny dengan Ljoe dari awal. Yang jelas mereka tidak pernah terlihat ketemuan di sekolah ataupun diluar jam sekolah. Mungkin saja yang lewat SMS. Hm entahlah aku tidak mengerti dan tidak ingin mengerti. Kadang-kadang saja Ljoe mengirimkanku pesan, palingan hanya membahas sedikit tentang Leeteuk oppa, bagaimana keadaan sebelum kematiannya yang sangat mengharukan. Ia rela membelikanku hadiah dan membungkusnya sebagai penepatan janji dan hadiah terakhirnya untukku. Ljoe juga bercerita bagaimana orang tua oppa yang tidak memiliki waktu untuk anaknya, apalagi perhatian. Sampai saat ini ayah dan ibu oppa tidak mengetahui tentang penyakit dan kematian anaknya 4 bulan yang lalu. Aku juga masih tidak menyangka bagaimana bisa Ljoe dan oppa memiliki ikatan sepupu. Rasanya dunia benar-benar sempit akhir-akhir ini.

Bel sekolah berbunyi menandakan waktu istirahat sudah tiba. Aku hanya duduk diam ditempat dudukku, mengeluarkan satu-satunya handphone yang kumiliki lalu mengotak-atik, melihat-lihat apa yang terjadi di social media. Sebenarnya bukan aku tidak mau melakukan interaksi dengan orang saat jam istirahat, tapi akhir-akhir ini aku sering demam, jadi memungkinkan aku untuk malas kemana-mana. Aku menjelajahi setiap social media yang kumiliki mulai dari BBM, Twitter, hingga Line. Yang kutemui adalah status Sunny dan Ljoe berubah 180 derajat. Biasanya di bio twitter Sunny tencantum nama Ljoe begitu juga sebaliknya, di BBM, Line. Tapi sekarang semuanya berubah.

Kebetulan sekali Sunny datang membawa 2 buah roti bakar kesukaannya dan berjalan mendekatiku. Seperti biasa, ia selalu membagi apapun yang dimilikinya kepadaku, termasuk roti bakar. Karena diselimuti rasa penasaran, aku segera menanyakan apa yang baru aku lihat.

“Yaa Sunny-ah, mana statusmu? Kenapa namanya hilang?” tanyaku sambil menatapnya tanpa henti.

“Sudah putus.” Dengan santainya Sunny menjawab dan masih masih sempat melahap roti bakar yang dipegangnya. Aku hanya melongo mendengar jawaban Sunny. Sesingkat itukah hubungan mereka sampai-sampai anniv 1 bulan saja belum, sudah putus.

Akhirnya pulang sekolah tiba juga. Aku bergegas merapikan segala buku dan perabotan di atas meja dan langsung pulang. Kondisiku memang lagi tidak sepenuhnya sehat, dan juga aku sudah bosan melihat guru-guru disini. Makanya aku cepat-cepat pulang.

Pucuk dicinta ulampun tiba. Bingo! Ljoe menyapaku saat kami bertemu di gerbang sekolah. Tepat sekali, aku ingin menanyakan perihal putusnya dia dengan Sunny.

“Taeyeon!” sapanya dari belakang. Tidak perlu menoleh lagi aku sudah tahu siapa itu. Ya, pasti Ljoe.

“Yaa, mana nunanya? Aku lebih tua darimu.” Kataku menggerutu.

“Sesungguhnya kita seumuran, bahkan aku lebih tua darimu.” Aku hanya bingung dengan perkataannya, tapi ya terserahlah, yang penting aku harus menggali informasi yang penting dulu.

“Kenapa kalian putus?” Tanyaku langsung to the point.

“Sebenarnya aku tidak menyukai Sunny.” Jawabnya singkat. Aku menyipitkan mata menatapnya dalam-dalam. “Lalu, kenapa waktu itu kau tembak dia?” tanyaku balik.

“Aku tidak ingin dicap sebagai pria tukang PHP yang sudah memberikan harapan palsu kepada Sunny selama ini. Aku tahu Sunny benar-benar menyukaiku, tapi aku tidak. Supaya semua pihak tidak ada yang tersakiti, makanya aku tembak Sunny.” Ljoe mencoba menjelaskan dengan sedetail mungkin.

“Lalu coba pikirkan perasaan Sunny! Ini namanya kau mempermainkan perasaan dia. Bagaimana bisa seorang laki-laki bertindak seperti itu.” Kataku kesal karena merasa bahwa Ljoe mempermainkan perasaan sahabat sesendokku. (artinya sahabat semakan seminum)

“Sekarang coba pikirkan perasaanku. Bagaimana rasanya mendekati seorang wanita yang perasaan sedikit saja kau tidak punya? Rasanya hambar. Aku mendekati Sunny karena permintaanmu. Aku mengabulkannya karena aku tidak bisa menolak permintaanmu, Taeyeon-ah. Sekarang aku akan mengakui semuanya. Aku yakin kau masih ingat dengan Lee Byunghun, teman masa kecilmu dan laki-laki pertama yang dekat denganmu. Itu aku! Ljoe hanyalah namaku di Amerika. Nama asliku Lee Byunghun. Selama di Amerika aku tidak dapat melihat wanita lain. Yang kupikirkan hanyalah gadis kecil bernama Kim Taeyeon yang sekarang berdiri dihadapanku. Walaupun itu cerita masa kecil, tapi perasaanku ini sungguh-sungguh. Kau tahu bagaimana perasaanku setelah itu? Aku pindah kesini juga karena ingin bertemu denganmu lagi. Apa yang terjadi seterusnya? Aku melihat fotomu dengan Jungsoo hyung, sepupuku sendiri di kamarnya. Kau tahu bagaimana hancurnya hatiku saat itu? Wanita yang kucari selama ini, cinta pertamaku dari dulu hingga sekarang pacaran dengan orang lain, terlebih sepupuku yang sangat aku sayangi. Tidak tahu kan bagaimana sakitnya hatiku saat itu. Apalagi saat hyung bercerita tentang dirimu, tentang kisah kalian, tentang dirimu yang menjadi semangat hidupnya. Aku hanya dapat diam dan tersenyum, padahal sakit sekali rasanya. Ratusan kali aku berpikir saat kau bertemu denganku, kau akan meninggalkan hyung dan berbalik melihatku. Tapi setelah aku melihat kisah kalian, semua angan-anganku kandas. Tidak mungkin seorang Kim Taeyeon rela meninggalkan Park Jungsoo yang mencintainya segenap hidupnya demi seorang Lee Byunghun. Aku sadar itu! Oleh karena itu aku menerima penawaran untuk mendekati Sunny agar aku dapat melupakanmu dan bisa lebih tahu jauh denganmu. Sekarang kuakui aku suka denganmu Taeyeon-ah, aku cinta denganmu. Aku sadar aku tidak bisa mencintaimu seperti bagaimana yang Jungsoo hyung lakukan, tapi aku mencintaimu tulus dari hatiku yang paling dalam. Sungguh. Aku juga sadar kau sulit untuk menerima cintaku karena Sunny dan hyung. Aku sadar itu Taeyeon-ah. Tapi mohon berikan aku kesempatan untuk menjadi bagian terkecil di hatimu.” Ljoe menyelesaikan uraian panjangnya kemudian langsung berlari secepat mungkin meninggalkan aku yang berdiri mematung di depan gerbang sekolah.

Aku kembali mencerna apa yang Ljoe katakan tadi di sekolah. Lee Byunghun.. Lee Byunghun.. Lee Byunghun.. Laki-laki keturunan Amerika yang dulu pernah menjadi cinta pertamaku dan baru saja berdiri tepat dihadapanku. Bagaimana bisa ini semua terjadi. Aku juga tidak bisa menerima cintanya walaupun memang benar dia adalah cinta pertamaku. Tapi itukan dulu, sangat dulu. Rasanya semua itu berputar-putar di kepalaku. Nama Ljoe, Lee Byunghun, Sunny, oppa, semuanya. Tidak hanya itu, sekitarku juga ikut berputar sampai semakin lama semakin kabur dan semuanya gelap.

Aku membuka mata setelah apa yang baru saja kualami. Aku masih berada di tempat dan posisi yang sama saat terakhir kali yaitu di kamar sambil berguling diatas tempat tidurku yang empuk. Saat hendak bangun, rasanya kepala tidak dapat diajak kompromi. Sakit kepala hebat tak tertahankan lagi. Rasanya ingin aku berteriak saat ini juga, yapi aku tidak ingin ibu tahu tentang apa yang aku rasakan saat ini. Aku tidak ingin ibu mengkhawatikanku berlebihan hanya karena sakit kepala yang tidak seberapa ini. Aku segera menuju meja yang ada disebelah tempat tidurku, membuka lacinya dan mencari beberapa obat penghilang sakit kepala yang biasa aku makan, Berharap sakitnya akan hilang. Ya Tuhan semoga semuanya baik-baik saja.

Hari-hari kulewati seperti biasa, mengurusi berkas di ruang DPS dan menghabiskan waktuku yang berharga dengan GG9. Tugas-tugas sekolah juga sedang berpihak padaku, kadang seminggu tidak ada satupun tugas. Hah, hari-hari yang menyenangkan. Hubungan Sunny dan Ljoe juga membaik, walaupun meraka tidak kembali berpacaran, setidaknya mereka bisa menjadi teman akrab. Semakin hari aku juga semakin kenal dengan Ljoe, semakin menyadari bahwa ialah Lee Byunghun yang dulu aku kenal, Lee Byunghun yang sempat membuatku menutup pintu hatiku untuk pria lain sampai akhirnya aku bertemu dengan oppa. Ah jjinja, dunia begitu sempit. Walaupun saat ini aku tahu Ljoe yang ada disekitarku ini adalah Lee Byunghun yang dulu sempat aku cintai, tapi rasanya sulit melupakan sosok oppa yang selama ini memberikan kenangan terindah dalam hidupku. Entah bagaimana cara melupakan oppa. Seumur hidupku saja aku tidak yakin bisa melupakan oppa.

 

Author POV

Hidup Taeyeon terus berjalan seiring dengan berjalannya waktu. Walaupun ia sudah berusaha sekuat jiwa untuk melupakan Leeteuk, hasilnya nihil. Bayangan Leeteuk terus berputar-putar dipikirannya. Hidupnya selalu mengalami kekurangan, kekurangan akan kasih sayang dari pria yang benar-benar dicintainya, seperti makan nasi tanpa garam. Hidupnya hambar tanpa senyuman dari sang pria.

“Taeyeon-ah, waeyo? Kenapa wajahmu pucat sekali?” Yuri cemas melihat wajah sang sahabat yang pucat pasi seperti mayat. Taeyeon hanya menggeleng memberikan seulas senyum tipis pada Yuri. “Tidak apa-apa, aku hanya sedikit pusing.” Jawabnya. Mereka tetap melanjutkan pelajaran yang sangat melelahkan, olahraga. Taeyeon hanya terdiam di sudut ruang olahraga bersandar pada tiang ring basket sambil memperhatikan temannya yang lain sibuk dengan bola voli berwarna biru bercampur dengan warna kuning. Tanpa diduga Taeyeon ambruk dari tempatnya berdiri. Dengan segera semuanya menghentikan aktifitas dan mendekati Taeyeon lalu melarikan Taeyeon ke rumah sakit terdekat.

 

TBC

2 thoughts on “[FF Freelance] It’s Love (Chapter 4)

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s