I’m Your Lover, Your Chaser, Forever [8/FINAL]

imyourlover-chaser-forever-11

Author : Awsomeoneim

Genre : Romantic, PG-17, Teenager-Semi-Mature,

Cast :

Main Cast :

  • (OC) Yoon Ah, Choi
  • Infinite’sL (Myung Soo, Kim)
  • TeenTop’sL. Joe (Byung Hun, Lee)

Supporting Cast :

  • F(x)’s Sulli (Jin Ri, Choi)
  • TeenTop’s Chunji(Chan Hee, Lee)
  • Infinite’s members

Disclaimer :

  • The OC and The story is officially mine.
  • The Idols belongs to God, Their Parents-Family, Their Company, and Their fans around the world.

Posted Part :  Part 1 | Part 2 Part 3 | Part 4 | Part 5 | Part 6 } Part 7 |

=)0o0o0(=

Previous Part :

“Jawab dulu pertanyaanku baru kau boleh membaca pikiran..” sergah Yoon Ah sebelum semburat merah muncul di wajahnya.

“Mendiskusikan soal yeoja yang, secara tidak sengaja, sama-sama spesial untuk kami,”

‘DEG!’

Choi Jinrikah? Zelo memberitauku L.Joe pernah menyukai Sulli semasa SMP..’

L menyentuh dagu Yoon Ah lembut dan membawa pandangan Yoon Ah tepat sejajar dengannya,

“Soal Choi Yoon Ah.”

=)OoOoO(=

Author POV.

Kaki besi ranjang kesehatan berderik pelan ketika sepasang kaki Myungsoo berpijak mantap ke lantai bermotif catur hitam-putih milik ruang kesehatan. Memaksa tubuhnya beranjak meninggalkan ranjang berseprei putih bersih yang cukup nyaman, untuk beberapa menit lalu. Angin bertiup dari jendela disampingnya, menyibak perlindungan yang diberikan sepasang gorden berwarna pastel pada kelopak mata Myungsoo dari sinar matahari siang itu. Reflek sang pemilik memalingkan wajahnya untuk menghindarkan sepasang orbs coklat hazel miliknya dari sengatan sinar yang menyilaukan.

‘Ah, seharusnya aku mengikuti yeoja itu pergi,’ rutuknya sembari melangkah mendekati pintu keluar.

Tepat setelah menutup pintu di belakang punggungnya, pandangannya menelusuri koridor yang tampak lenggang, ‘Kakinya lebih pendek dariku, tapi kenapa langkahnya cekatan sekali?’ ujarnya sembari melangkah gontai menuju lift.

Yaa Chunji!” sapanya kepada seorang siswa berambut coklat tua yang melangkah mendekat ke arahnya. Sepertinya akan memasuki lift yang sama dengannya.

Eo, L! Sedang apa kau disini?” pemuda yang kini sudah berada di sampingnya bertanya sembari menyelidiki wajah yang cukup familier namun tampak berbeda kali ini, “Kau dan L.Joe benar-benar saling pukul di atap? Aigooo..siapa yang mendapat lebih banyak lebam kali ini?”

“Apakah terlihat jelas?” tanya L masam. Ia mengalihkan pandangannya ke pintu lift untuk melihat refleksi dirinya. Tidak perlu menunggu jawaban Chunji, ia sendiri dapat melihat dengan jelas beberapa memar baru menghiasi wajahnya seperti beberapa hari yang lalu, hanya saja kali ini agak berbeda, karena tanpa noda darah di sudut bibirnya.

Saat pintu lift terbuka, keduanya memasuki lift bergantian. Angka 5 dan 4 tampak berganti warna beberapa detik kemudian.

“Apa kau mengunjungi ruang kesehatan? Yoon Ah masih di sana?”

“Tidak, dia sudah kembali ke kelas terlebih dahulu,” Myungsoo terdiam untuk beberapa saat sebelum melontarkan pertanyaan kepada Chunji, “Kau berada di kelas yang sama dengannya kan? Kau pasti tau kenapa ia ke ruang kesehatan. Secara keseluruhan ia tampak sehat..”

“Menurutmu apakah ia baik-baik saja setelah mendengar issue antara kau dan Sulli?”

“Siapa yang…”

“Kurasa kau harus memberikan les tambahan untuk sepupumu dalam memilih topik pembicaraan. Itu saja.”

“Dasom? Apa yang dia.. aish!” Sudah terlambat untuk Myungsoo menggali lebih dalam informasi dari Chunji saat sosok yang baru satu detik melangkah keluar lift kini sudah lenyap entah kemana.

=)0o0o0(=

Ketika siswa lain sedang kepayahan menjaga konsetrasi di jam terakhir pelajaran, Kim Myungsoo  sudah memakirkan roda empat miliknya di basement Kim Mansion dan melangkah lebar-lebar menuju pintu masuk utama menuju sebuah ruangan.

Omo! Kau sudah pulang, anakku yang tampan!” Seru seorang wanita yang entah muncul dari mana.

Myungsoo terpaksa berhenti tepat di depan pintu ruangan yang menjadi tujuan utamanya untuk melirik sosok dalam balutan dress selutut berwarna hijau tosca yang menghampirinya dengan bersemangat.

Aigoo.. kau seharusnya berlari memeluk eomma, Myungie-yah..”

Myungsoo mendengus kesal, ia tidak membolos untuk mendapatkan scene ibu-anak-harmonis seperti ini, melainkan, “Aku datang untuk menemui aboeji.”

Oh, arraseo, ia ada di ruangan itu. Apa yang sangat ingin kau—” pertanyaan Mrs. Kim menggantung di udara begitu saja setelah Myungsoo melesat masuk ke ruang kerja Mr. Kim. Mengabaikannya.

Aboji,” panggilnya segera setelah berdiri di hadapan seorang pria berambut klimis yang tampak mengelap salah satu koleksi jam tangan miliknya.

Ah, kau datang lebih awal dari jam pulang Haengbok High. Ada apa?”

“Issue itu, siapa yang menyebarkannya?”

“Kau masih bertanya? Tentu saja wanita yang baru saja berbicara denganmu di depan ruanganku yang melakukannya.. Kau seperti tidak mengenal eommamu sendiri..” sebuah tawa malas dilontarkan oleh pria paruh baya yang kini sibuk memandangi koleksi jam tangan dalam sebuah kotak antik di atas meja.

“Dia bukan eommaku. Dia wanita gila yang kau nikahi 17 tahun lalu,” desis Myungsoo sebelum pergi dari ruangan klasik yang dipenuhi lemari-lemari kaca berisi koleksi jam tangan milik Mr. Kim.

“Kau sudah akan pergi? Secepat ini? Makan siang akan siap dalam lima menit,” sapa seseorang yang tampak santai membolak-balik halaman majalah mode sembari duduk nyaman di sofa yang berada tak jauh dari ruangan Mr. Kim.

“Aku tidak ada waktu untuk menunggu. Nikmati saja makan siang & malam berdua berdua seperti biasanya,” ujar Myungsoo tanpa menghentikan langkahnya.

“Kita akan makan malam bersama Keluarga Choi! Pukul 7 malam!” sahut wanita itu saat Myungoso meraih knop pintu utama.

Tanpa balasan Myungsoo memutar knop di hadapannya dan melangkah cepat menuju basement meninggalkan Kim Mansion.

=)0o0o0(=

‘Dia wanita gila. Benar-benar gila.’

Yaaa Kim Myungsoo mau berapa kali kau mengumpat ibumu sendiri? Kau merasa kekurangan dosa?”

Lengkingan sinis Sunggyu menyentak Myungsoo yang sejak 15 menit lalu menghempaskan tubuh jangkungnya pada salah satu sofa tunggal yang ada di ruangan pribadi Infinite, ia tidak sadar gumaman dalam pikirannya terucap cukup jelas untuk tertangkap indra pendengaran manusia.

Mianhe hyung,”

“Apa yang dilakukan Mrs. Kim padamu kali ini?” Sungyeol melontarkan pertanyaan tanpa mengalihkan perhatian dari layar PC yang ia kencani sejak pagi buta. Tentu saja, Sungyeol adalah visual gamers jenius, sekaligus pembolos sejati yang sudah terkenal pamornya di seantero sekolah tingkat menengah Seoul.

Myungsoo menyandarkan punggungnya sembari memijit pelipisnya yang mulai merasaan denyut nyeri setiap kali mendengar berita buruk yang ia dengar dari Chunji siang ini, “Merencanakan penyatuan dengan Choi Corp. Ambisinya masih sama saja.”

‘SRAAAK-BRAAAK’

Dengan satu kedipan mata, Sungyeol telah berteleportasi ke hadapan Myungsoo, membuat Sunggyu, Sungjong, dan tentu saja Myungsoo tersentak di tempat masing-masing.

“Bukankah itu berarti harapan utama dalam hidupmu bisa tercapai dengan mudah? Yaaa apa yang sudah Yoon Ah lakukan hingga Mrs. Kim kembali menyetujui hubungan kalian? Apakah ia berhasil mengambil kembali kendali Choi Corp.? Woaaa daebaak sudah bisa tertebak Choi Yoon Ah bukan wanita biasa! Kau benar-benar beruntung bisa berjodoh dengannya, eoh!!”

Seruan histeria beruntun Sungyeol hanya dibalas dengan keheningan dari 3 pasang mata yang menatapnya dengan tatapan yang sama, dan pikiran yang sama. Bocah laki-laki ini hanya jenius dibidangnya. Game.

‘PLAAAK’

Aish! Kau pikir Myungsoo akan sakit kepala dan berwajah sekusut ini jika memang itu yang terjadi?”

‘PLAAAK’

“Kau sudah gila, Lee Sungyeol?”

Sungyeol sudah bersiap menerima pukulan ketiga di kepalanya, namun ketika ia mengintip dari sudut matanya, tangan sang magnae berhenti dan menggantung di udara. Ah, ternyata ia hampir saja terbawa suasana mengikuti jejak kedua hyungnya. Dengan segera Sungjong menarik tangannya kembali dalam dekapannya semula dan sedikit menegakkan punggungnya.

“Aku tidak ingin mengatakan ini, tapi kurasa kini kau benar-benar hodang, hyung. Apa ini efek sering membolos? Kau harus segera melakukan Tes IQ terbaru, aku khawatir status IQmu sudah kritis hyung..”

“Lalu..siapa yang….”

“Myungsoo-ya, kau harus segera bersiap! Mr. & Mrs. Kim sudah menunggu di Restauran T untuk makan malam dengan Keluarga Choi.”

Sebuah seruan datang dari arah pintu masuk, mengalihkan momen sidang putusan IQ Lee Sungyeol. Alis keempat pasang mata di dalam ruangan itu bertaut heran menatap 3 orang yang kini berjalan mendekat ke arah mereka.

“Kurasa Mrs. Kim sudah memberitaumu kan?” ujar Woohyun kepada yang bersangkutan karena seruan awal Dongwoo tidak mendapat respon apapun darinya.

Tanpa mengalihkan perhatiannya Myungsoo menjawab singkat, “Dan kurasa aku sudah mengatakan pada wanita itu aku tidak akan pergi.”

“Myungsoo-ya..” Hoya hendak menekan lebih jauh namun kata-katanya menghilang ketika ia menangkap raut jengah di wajah Myungsoo

“Kau harus pergi. Sekarang!” Bentakan dingin Dongwoo menyentak keenam orang lain yang ada di dalam ruangan itu.

Yaaa ini urusan keluargaku kenapa kalian begitu–”

“Untuk kau ketahui, ini tidak sesederhana yang kau pikirkan Kim Myungsoo. Urusan perjodohanmu juga menyangkut bisnis keluarga kami!”

“Kau pikir aku peduli?!” Myungsoo balas berteriak ke arah Dongwoo, sembari menatapnya tajam ke arah hyung yang baru saja memotong perkataannya dengan sebuah alasan yang tidak masuk akal baginya.

“Kau harus peduli!”

Rupanya Dongwoo juga tidak berniat mengalah kali ini. Hingga Sunggyu memutuskan untuk mendekat ke arah dua orang yang kini sedang beradu tatapan tajam karena tampaknya mereka akan terus beradu urat dan membuat tekanan udara di dalam ruangan itu semakin penat.

“Kalian bersiap saja dulu, Myungsoo akan pergi dengan kami.”

Dongwoo merespon penawaran Sunggyu dengan sebuah lirikan sinis, “Ha, akan lucu sekali jika kalian berempat kabur dari Korea Selatan, kan?”

“Sahamku taruhannya.”

Seluruh perhatian kini terpusat kepada seseorang yang sejak tadi diam duduk di atas meja di dekat Myungsoo.

“Aku tidak bercanda, percayalah,” lanjutnya saat ia menangkap tatapan heran semua orang-orang di dalam ruangan itu.

“Deal!”

Dengan satu kata, Dongwoo menyetujui perjanjian yang dibuat secara singkat dengan Sungyeol. Kemudian ia melangkah pergi setelah sebelumnya melirik tajam Myungsoo yang sedang menatapnya dingin. Kemudian Hoya dan Woohyun mengikutinya di belakang.

Setelah ketiga orang itu pergi, keempat orang yang tersisa segera menarik nafas lega, kecuali Myungsoo.

Hyung, apa yang ka–”

“Untuk kali ini… kau harus mengalah,” raut wajah Sungyeol menampakkan keseriusan kali ini. Secara ajaib sosok hodangnya telah lenyap terbawa ketegangan suasana yang baru saja melanda.

“Tapi hyung..”

“Cobalah menjadi sosok menantu yang baik,”

“Kita akan diskusikan langkah selanjutnya, setelah acara makan malam hyung..” Sungjong berusaha memberi harapan pada Myungsoo dengan melanjutkan kata-kata Sunggyu.

Myungsoo baru tersadar akan satu hal saat mendengar perkataan Sungjong, “Diskusikan? Itu artinya kalian belum mempersiapkan rencana selanjutnya kan? Ahh yang benar saja. Bagaimana jika aku benar-benar berakhir berdiri di altar bukan dengan Yoon Ah?”

“Kau tau Sulli tidak akan jatuh bersamamu kan?”

“Siapa yang berani menjamin?”

Sungyeol tersentak di tempatnya kala mendengar nama ‘Sulli’ disebutkan, “Jadi.. kau akan dijodohkan dengan Sulli? Choi Jin Ri? Bukankah dia temanmu semasa SMP di Inggris?”

“Saham Sungyeol hyung yang akan jadi taruhannya jika rencana kalian gagal.”

Mwo? Yaaa apa yang kalian bicarakan? Kenapa membawa sahamku?”

“Bukankah kau yang mengatakannya sendiri beberapa menit yang lalu, hyung?”

Rupanya… Sungyeol belum terbebas sepenuhnya dari kutukan hodang.

=0o0o0=

Ketika terdengar suara ketukan pintu, seluruh perhatian yang semula terfokus pada papan tulis teralihkan. Terlebih pada saat sosok yang kini melangkah memasuki ruang kelas adalah Kim Myungsoo. Lelaki muda itu membungkuk hormat kepada guru yang sedang mengajar kemudian dilanjutkan pembicaraan dengan suara rendah diantara keduanya yang menyebabkan seisi kelas penasaran. Sempat terjadi keheningan beberapa detik sebelum guru tersebut menganggukkan kepala pada Myungsoo. Pemuda yang semula berdiri di depan kelas kini menyusuri barisan para siswa, menuju salah satu bangku.

“Kemasi seluruh barangmu. Sekarang.”

Tampak jelas ekspresi kaget dari siswi yang menduduki bangku itu, namun ia segera mengumpulkan kembali kesadarannya dan mengemasi barangnya sesuai komando Myungsoo. Dua menit kemudian, tas punggung miliknya telah berpindah ke genggaman tangan kiri Myungsoo sementara salah satu pergelangan tangannya digenggam erat oleh tangan lain Myungsoo yang menggiringnya keluar kelas.

Sepuluh langkah kemudian, “Kita akan kemana?”

“Mengunjungi suatu tempat.”

“Apakah jauh?”

“Lumayan.”

“Apakah aku bisa pulang hari ini?”

Hanya sebuah gumaman yang menjadi jawaban dari Myungsoo kali ini. Setelah ia meletakkan tas yang ia tenteng sejak beberapa menit lalu, ia membukakan pintu penumpang dan tanpa bertanya sang pemilik tas tersebut masuk dengan patuh.

=)0o0o0(=

“Myungsoo-ya, apa yang sedang kau rencanakan?”

Yoon Ah tampak masih tidak dapat duduk nyaman di tempat duduknya sejak menginjakkan kaki di tempat tersebut. Tatapan menyelidiknya mengarah lurus kepada namja dihadapannya yang tampak duduk santai sambil mengeksekusi hidangan pesanan mereka yang baru saja tiba.

Mereka sedang berada di sebuah lantai dua sebuah restauran mewah masih dengan seragam sekolah yang menempel pada tubuh keduanya.

“Rencana?” Myungsoo menghentikan tarian pisau di atas piringnya sembari menengadahkan pandangannya, “Memangnya apalagi yang akan dilakukan sepasang kekasih di sebuah restaurant, Yoon Ah-ya? Battle dance?”

Myungsoo membalas dengusan kesal Yoon Ah dengan smirk andalannya sebelum menukar piring steaknya dengan milik Yoon Ah.

“Makanlah, jika kau tidak ingin pulang terlalu malam, lebih baik kau memindahkan potongan daging itu ke perutmu lebih cepat.”

Yoon Ah hendak membalas kalimat Myungsoo namun pandangannya tersita oleh sepiring steak yang seluruhnya sudah terpotong dengan ukuran siap santap.

“Myungsoo-ya… kenapa–”

“Aku tidak mau saus steaknya mengotori seragammu,”

Myungsoo masih tampak tenang di tempatnya, sementara Yoon Ah sedang membeku di seberangnya.

“Hal sedetail ini saja masih kuingat dengan jelas, bagaimana bisa kau memintaku melupakan seluruh hal tentangmu? Choi Yoon Ah sungguh kejam, eo?” ujar Myungsoo sembari memindahkan potongan steak pertama ke dalam mulutnya sembari membalas tatapan lekat sanderanya.

=)0o0o0(=

Keduanya segera berjalan menuruni tangga restauran menuju lantai dasar, setelah mereka menyantap makan malam mereka dan Myungsoo menerima sebuah pesan singkat.

“Kau ingin bertemu seseorang?”

Yoon Ah tidak dapat menyembunyikan rasa penasarannya lagi saat Myungsoo berhenti di ujung tangga sembari mengedarkan pandangannya. Dan Yoon Ah segera menemukan siapa orang yang ingin ditemui namja tersebut.

Penglihatan Yoon Ah masih setajam elang untuk mengenali keempat sosok yang duduk dalam satu meja dengan akurat sekalipun di dalam ruangan dengan penerangan temaram.

Mr. dan Mrs. Kim, dan tentu saja Choi Sooyoung didampingi putrinya. Choi Jinri.

“Yang benar saja!” seru Yoon Ah menahan tangan Myungsoo tepat saat ia hendak menariknya menuju sebuah meja.

Myungsoo berbalik menatap Yoon Ah dan ia agak terkejut saat melihat tatapan gugup membanjiri wajah yeojanya.

Gwenchana?”

“Kau bilang kau tidak punya rencana apapun,” tanya Yoon Ah dengan nada yang lebih mirip sebuah desisan.

Myungsoo membalikkan badannya sehingga ia menatap Yoon Ah sepenuhnya dan kedua tangannya menggenggam erat tangan Yoon Ah yang dibanjiri keringat dingin. Ini alasan Myungsoo untuk tutup mulut soal rencana sebenarnya dari semua. Setidaknya sampai mereka menyelesaikan makan malam mereka.

“Kau benar-benar tidak ingin bertemu mereka? ”

Yoon Ah tak bergeming dan hanya menatap Myungsoo tajam. ‘Bertemu mereka? Mendengar nama mereka saja adalah hal yang paling kuhindari selama setahun terakhir ini.’

“Bahkan untuk membebaskan diri kita dari hal yang pasti akan bisa lebih buruk dari sebelumnya?”

Pandangan Yoon Ah melembut, namun kegugupannya tidak berkurang barang satu persen, “Myungsoo, aku–”

“Yoon Ah-ya.. Mungkin dulu aku terlalu muda untuk memahami arti mempertahankan, sehingga memutuskan untuk mengajakmu lari dari mereka. Tapi kali ini aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama. Cukup sekali kita lari dari tekanan mereka Yoon Ah..”

Sembari menarik nafas, Myungsoo berusaha menyembunyikan wajah sendunya dibalik sebuah ulasan senyuman samar, “Kurasa, sekarang satu-satunya kesempatan kita, sebelum semuanya menjadi lebih buruk. Tapi jika memang kau merasa sudah lelah, kita bisa mengambil jalan sebaliknya.”

Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia akan siap menerima kenyataan terburuk malam itu.

Yoon Ah memutuskan untuk pergi darinya.

=)OoOoO(=

Yeoboo.. bisakah kau ambilkan diapers?”

Eodi?”

“Di tas bayi di dekat sofa”

Secepat kilat namja yang semula hendak menyambar handuk segera berbalik arah menuju keberadaan diapers sesuai dengan arahan yeoja yang kini sibuk berkutat dengan bedak dan tissue basah di hadapan bayi berusia tiga bulan yang tengah menghisap jari jempolnya sembari memandanginya dengan kedua manik mata yang berkilauan.

Chagiya..”

Namja tersebut berusaha mengalihkan perhatian si yeoja, namun yang ia dapatkan hanya pandangan sekilas dan sebuah ucapan ‘gomawo’ setelah diapers yang semula di tangannya kini telah berpindah tangan.

“Hanya itu?” tanyanya dengan nada putus asa.

Ne?”

Seluruh perhatian yeoja itu sedang terpusat seluruhnya kepada makhluk mungil dihadapannya sehingga tidak ada sedikitpun perhatian tersisa untuk seseorang yang kini sedang mengerucutkan bibirnya sebal.

Kekesalannya semakin memuncak tatkala kedua irisnya disodori pemandangan yeoja tersebut menghujani wajah si bayi dengan ciuman gemas berulangkali seusai menggantikan popok dan membuatnya kembali harum.

“Ya Tuhan, memangnya kalah menarik bagaimana aku dengannya yang hanya bisa menghisap jari sampai aku tidak mendapatkan sedikitpun perhatianmu, chagiya..”

Patut diakui bahwa saat seorang Kim Myungsoo mengenakan hem putih yang masih menempel di badannya setelah seharian beraktivitas berpotensi mengacaukan degupan jantung siapapun yang menatapnya lebih dari pesona iklan minuman ringan di saat suhu udara meningkat ekstrem.

Yoon Ah sendiri yang mengakuinya beberapa hari lalu, namun untuk kali ini, Yoon Ah memilih untuk mengabaikannya.

“Kim Yeobo.. kau memang lebih menarik dari iklan minuman ringan manapun, tapi kurasa untuk hari ini kau akan tampak lebih istimewa sesudah berbilas dan berganti pakaian santai. Jadi cepat tanggalkan pakaian penuh peluh itu secepatnya, atau kau ingin paru-parunya dipenuhi polusi?” ujarnya sembari melirik sekilas ke arah Myungsoo yang kukuh berdiri di tempatnya semula masih dengan wajah yang ditekuk, kemudian kembali ke arah bayi mungil dalam gendongannya.

Kerucut di bibir Myungsoo belum juga punah hingga akhirnya Yoon Ah menyadari satu hal dan segera berjinjit sambil menarik bahu Myungsoo untuk mempermudahnya mendaratkan sebuah ciuman pada salah satu pipi namja yang belum juga berniat mengganti aura air mukanya.

“Ciuman selamat datangku terlambat lima menit. Bahkan aku mendapatkannya di pipi. Dan hanya satu pipi pula,” sungut Myungsoo setelah Yoon Ah kembali menapakkan kedua kakinya seperti semula.

Yoon Ah berusaha menahan tawa sekecil apapun yang hendak meledak melihat tingkah kekanakan Myungsoo yang sungguh bertolak belakang dengan betapa dewasa postur tubuhnya. Usia yang hampir menginjak kepala tiga rupanya tidak terlalalu berpengaruh pada perkembangan mentalnya.

Mianhe yeobo…akan kubayar lunas nanti. Sekarang cepat ambil handukmu, akan kubuatkan minuman hangat eo,” rujuk Yoon Ah sembari menyapukan telapak tangannya di pipi Myungsoo dan cukup berhasil untuk memunculkan garis senyuman yang sempat absen dari wajah pemiliknya.

Arraseo, aku akan cepat,” ujarnya sembari mencuri ciuman kilat dari pipi Yoon Ah dan pandanganya tertumbuk pada makhluk mungil yang kini menggapaikan lengannya dengan penuh semangat ke arahnya, “Karena aku sudah tidak sabar menggendong monster kecil ini.”

=)OoOoO(=

Myungsoo tengah mengayun-ayunkan bayi yang hampir terlelap di gendongannya saat bel apartemen berbunyi nyaring.

Karena Yoon Ah sedang berkutat dengan tumpukan alat makan malam mereka, maka Myungsoo tidak ada pilihan lain selain berjalan cepat ke arah intercom sebelum suara bising itu mengusik istirahat makhluk mungil dalam gendongannya.

Segera setelah suara pengaman pintu terbuka, seorang wanita berpakaian formal berjalan masuk diikuti seorang pemuda dengan pakaian yang lebih santai dibelakangnya.

Oppa, apakah–”

Myungsoo memutus kalimat wanita itu dengan kode sebuah jari di depan bibirnya. Dan syukurlah wanita tersebut menangkap kode itu dengan cepat kemudian menengok bayi yang kini telah tertidur pulas dalam gendongan nyaman lengan Myungsoo.

Oh, wasseo?

Sapaan ceria Yoon Ah terdengar saat ia menangkap dua sosok familier itu di ruang keluarganya.

“Apa kalian akan langsung membawa Jin Hun pulang? Tidak mau makan malam dulu?” tanyanya saat Myungsoo dengan ekstra hati-hati memindahkan makhluk mungil dari gendongannya kepada gendongan wanita dihadapannya.

“Kami sudah makan dengan udon dan saat aku menghubungi Myungsoo dia bilang kalian baru saja selesai makan malam, jadi kami tidak membawakannya,” balas pemuda yang datang bersama wanita tersebut.

“Seharusnya kau menghubungiku Byung Hun-ah.. Aigoo, aku sangat ingin udon..” ujar Yoon Ah sembari mengelus perutnya yang mendadak terasa lapar saat membayangkan betapa nikmatnya kuah ‘Udon’.

Oh, apakah ini tanda kau sedang ngidam, chagiya?” sela Myungsoo yang tampak berbinar namun segera meringis kesakitan saat mendapat sikutan di daerah perutnya.

“Yoon Ah, aku lupa memberitahumu jika aku ada meeting pagi besok, apakah kau bisa–”

“Kau tau aku akan selalu menerima Jin Hun kapanpun dia datang, Jinri-ya..”

“Asal tidak kurang dari pukul enam pagi,” Myungsoo kembali menyela dan ia kembali harus meringis kesakitan karena sikutan yang sama mendarat di perutnya. Lagi.

Ah, bukankah Myungsoo bebas kerja besok? Bagaimana jika kalian datang ke cafeku dengan Jin Hun? Bukankah kalian berdua belum pernah datang kesana? Dan aku berani taruhan kalian jarang keluar rumah akhir-akhir ini.”

Yoon Ah kembali teringat keinginannya untuk berjalan-jalan ketika mendengar dakwaan Byung Hun, namun sedikit keraguan menyelip dipikirannya,”Kau yakin cafe tempat yang nyaman untuk Jin Hun?”

“Oh ayolah, mana mungkin Jin Hun tidak merasa nyaman berada di cafe appanya..”

“Kenapa tidak kau buktikan sendiri dengan membawanya langsung bersama denganmu sembari kau persiapan membuka cafe?” sergah Myungsoo sembari menyerahkan tas berisi perlengkapan bayi kepada pemuda berambut eksentrik di hadapannya.

“Lalu membiarkannya menghirup debu? Aigoo kau paman yang kejam ternyata eo?”

Myungsoo hanya berdecak pura-pura sebal, “Kau pikir siapa yang menidurkan si monster kecil jika bukan paman Kim yang kejam ini, Mr. Lee??”

“Sebaiknya kita pulang sekarang sebelum sebuah tinjuan benar-benar mendarat di wajahmu, oppa..” putus Jin Ri segera selain karena kedua matanya sudah mengantuk berat.

Uh baiklah, kami pulang dulu, jeongmal gomawoyo Yoon Ah-ya,”

“Sepertinya kau sungguh merindukan tinjuanku di wajahmu Lee Byung Hun…”

=)끝(=

Apakah ada afstor [after story / sequel]? It’s a No, guys.

Apakah ada side story? It’s a no either, guys.

Ya, jadi cukup sampai di sini kisah panjang, ribet, gapenting nan geje Myungsoo-Yoon Ah yang rasanya udah seabad ngga diupdate..

Dampak UN dan Liburan panjang memang mengancam kemauan alias dorongan nafsu untuk menarikan jemari di atas keyboard bagi author beriman lemah seperti saya..

Chingudeul mianheeee~ >< *deep bow*

Terima kasih banyak buat yang sudah mau menunggu selama ini, yang masih inget sama cerita ini, dan apalagi sama yang leave comment.

Euleuh, nomu maturnuwun sanget~

Ketemu di karya berikutnya, ne? 😉

-Itu juga kalo masih tertarik sama author ini ㅋㅋㅋ-

Advertisements

8 thoughts on “I’m Your Lover, Your Chaser, Forever [8/FINAL]

  1. plis si myungsoo rada apa gitu, ngumpat ibu sendiri gila -_-
    Duh sungyeol gue menderita~pukpuk..
    wehhh udah punya baby yah? ckck..
    Nice ff thor~

  2. Njir sungyeol lawak sumpah. Danitu terakhir aku ketipu berapa kali aja, kirain si myung jadi ama jinri, ternyata yoonah, kirain itu bayi, bayi mereka, ternyata bayinya jinri. Anw thor, aku bayangin yoon ah itu yoona snsd, jadi ngapin dia harus jinjit cium pipi myung. -..- muhaha. Di tunggu karya2 spektakuler selanjutnya dear author.. ❤

  3. Aku kan baru baca part ini aja… Jadi kurang ngerti hehehe…
    Nanti aku comment lagi kalo udh baca semua…
    Gomawo hehehe ._.b

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s