[FF Freelance] Rain Code

rain

Rain Code

by

Deriza Lau

Main Cast : Krystal f(x) & Kai EXO ||  Sub Cast : Alex (OC) || Genre : Life || Length : Ficlet || Rating : Teen || Disclaimer : Cerita ini asli ide author sendiri dan ini pertama kalinya author publish FF. Jadi maaf kalau banyak typo. Dimohon (sangat) kritik dan sarannya.

Happy Reading!🙂

 

Saat itu hujan, meski sudah lewat bertahun-tahun, tapi aku masih ingat betul dengan kejadian tragis yang menimpa hubungan kami, antara aku dan Kai.

Aku masih sibuk dengan setumpuk dokumen bahan skripsi S-1-ku tahun ini, melegakan sekali saat mengingat sebentar lagi akan wisuda. Malam ini aku Home Alone, kaka laki-lakiku mengantar Mom ke Zurich, mengunjungi janda tua yang dikenalnya beberapa tahun lalu saat liburan keluarga. Mom memang selau berlebihan terhadap hal-hal seperti itu. Sedagkan Dad, ia masih belum kembali dari pelayarannya di laut jawa demi menyelesaikan research tentang ganggang laut disana.Beruntung malam iniKai berjanji akan datang menemaniku. Ia sudah menelfon beberapa jam lalu, memastikan agar aku tetap terjaga di dalam rumah dan sekedar mengingatkan akan berita perkiraan cuaca yang sempat kami tonton di TV cafe tadi pagi, jujur saja ia sangat perhatian. Namun kemabali menegok pada hujan deras yang makin merapat diluar, aku masih tidak yakin ia akan datang malam ini.

Aku melamun menatap jalan-jalan basah dari balik jendela. Ada sesuatu yang membuyarkan konsentrasiku. Entah karena suara berisik radio tua milik Dad yang tak bisa dimatikan, suara deritan engsel jendela yang bobrok diterpa angin, atau malah suara TV yang sengaja kunyalakan untuk membuat suasana rumah ini sedikit ramai.

Samar-samar terdengar suara langkah berat dari luar, kakinya menghentak mantap.Tak lama setelah itu seseorang menggedor pintu sangat keras, tepat saat acara TV di ruang tengah menampilkan penampakkan hantu dari film horor yang menemani malamku hari ini. Sedikit mengerikan memang.

Aku melangkah pelan menuju pintu depan, ada keraguan untuk membukakannya. Sekilas menerka-nerka siapa sosok dibalik pintu rumahku. Perlahan kuputar knop pintu di hadapanku.

“Kai?!” aku sedikit tersentak, pria itu benar-benar menepati janjinya.

Aku terdiam lama. Ya Tuhan pakaiannya basah dan matanya merah karena beradu dengan derasnya hujan malam ini.

“Kau tidak mau mengajakku masuk?” ia mengerdikkan kepalanya pada suasanya hangat di dalam. Apa aku menganggurkannya terlalu lama?

Sepatu, jeans dan kaus biru basah yang melekat di badannya, aku hampir saja gila dengan apa yang kulihat saat ini.

“Kukira kau tak akan datang,”

Kuraih handuk kering yang tergantung di samping kamar mandi lalu melemparkan kearahnya. Aku terus memandangi Kai, ia melepas kaus kaki basahnya lalu melemparkan kedalam ranjang cucian. Beberapa saat ia menghilang kedalam kamar mandi kemudian keluar dengan telanjang dada sambil menenteng kaus birunya.

“Aku sudah janji padamu.”

Aku mengangguk-angguk mengerti sambil terus mengikuti gerak geriknya. Ia berjalan ke dapur, membuat kopi panas untuk mengahngatkan tubuhnya.

“Lagi pula ini kunjugan terakhirku,”

Aku terdiam, hening beberapa lama diikuti suara Kai yang terus menyesap kopinya.Malam ini, dengan kalimat singkat yang diucapkannya, semua terasa runtuh begitu saja, keakraban, persahabatan, atau mungkin cinta.Semua benar-benar akan berakhir.

“Jangan bercanda,” ucapku berusaha tenang.

“kau pikir aku sedang melucu? Aku sudah mengatakannya padamu bebrapa minggu lalu,”

Aku tidak bergeming. Kini kurasa suara radio tua itu mulai mengganggu pedengaranku.Entah dengan dalil apa aku menyalahkan suara sendat-sendatnya yang mulai melukai inderaku. Rasanya aku ingin menagis sekarang. Telingaku, dengan segala ketidak siapan tak pernah menginginkan suara-suara itu, sama seperti kata-katanya barusan.

“Kedepannya, semoga harimu menyenagkan,” kupaksa mulutku untuk bicara.

Aku sudah berada diujung kekebalanku. Aku bahkan tak pernah bermimpi punya tameng setebal ini sebelumnya.

“Kau juga, aku akan menemuimu saat libur musim panas, tapi aku tidak bisa menjamin,”

Demi apapun, aku mulai muak dengan segala basa-basinya yang terkesan ‘memberi harapan palsu’. Rasa kecewaku sudah tumpah dan membuatku maikin tak sanggup untuk sekedar menatapnya.

“Terserah kau saja! Aku tak minta kau menemuiku, pergilah semaumu!”

“Kenapa jadi membentak? Kau marah?”

Pertanyaan bodoh.

“Lupakan,” aku bagit dari kursiku, “Aku lelah, aku mau tidur sekarang, terserah apa yang mau kau lakukan,”

Tanpa banyak bicara lagi aku berbalik, berjalan tegap menuju kamarku. Tak ada lagi yang perlu dibicarakan. Selesai sampai disini saja.

Singkat cerita, aku menghindar darinya. Bahkan hari saat ia akan pindah ke Horwich, aku tak pernah menemuinya, sekalipun hanya untuk salam perpisahan. Buat apa? Cerita kami telah berakhir, bahkan ketika semua belum dimulai.

Entah harus bagaimana aku menyebut hubungan singkat kami. Kupikr-pikir, harusnya aku tak perlu memikirkan statusnya yang membingunkan itu. kadang terasa sangat akarab melebihi teman, sangat dekat seperti berpacaran, tapi juga sangat renggang saat aku harus meghadapi fakta perpisahan kami. Dia, sepertinya hanyalah bayang-bayang sesaat untukku, tak lebih.

Semenjak malam itu, aku tak lagi pernah benar-benar bertemu dengannya. Aku menghindar dan dia juga makin tak ada kabar. Di musim panas, ia tak pernah datang. Aku pun tak perduli lagi, sudah tak ada kepercayaan yang kutaruh padanya.

Malam ini hujan deras kembali mengguyur Switzerland. Susana yang sama dengan malam perpisahanku. Bedanya, malam ini ada Alex dan Mom yang tak lagi bepergian, juga Dad yang sudah kembali dari perjalanan research-nya.

Dari luar aku bisa mendengar suara langkah Alex menaiki tangga. Badan besarnya itu, ia akan menghancurkan tangga kayu di rumah jika sering-sering beraktifitas naik turun. Itulah mengapa kakakku tak pernah diijinkan menempati kamar di lantai atas.

“Krystal! Ada tamu untukmu!”

Alex berteriak, itu berarti ia kena marah Dad dan mengakhiri langkahnya di tengah tangga demi menjaga keutuhan bokongnya dari serangan Dad. Sudah kubilang, badan besarnya bisa menghancurkan tangga bobrok rumah kami.

“Aku akan turun sebentar lagi!” teriakku dari dalam kamar.

Aku heran, masih saja ada orang yang punya niat bepergian di malam hujan seperti ini. Ditambah beberapa menit lalu sudah ada peringatan akan badai. Orang macam apa ia?

Sudah hampir empat tahun sejak terakhir kali seorang pria nekat menembus badai untuk menepati janjinya.

Aku berhenti di dasar tangga. Sudah lama sekali, dan aku sudah tidak kaget dengan perbuatan nekatnya yang seperti ini. Untuk sesaat akan kubiarkan mataku bertemu manik matanya, saling menyapa dan mengingat masa lalu.

“Lama tak bertemu, Kai,”

 

-Fin-

11 thoughts on “[FF Freelance] Rain Code

  1. woah~ setelah empat tahun saling menghindar dan menghilang tanpa kabar, kai muncul juga dengan suasana yg sama
    aku suka ceritanya. nice ff..

  2. sepertinya kai seneng pergi saat hujan deras berasa di sinetron jalan ujan ujanan hahahahah……
    tapi tadinya aku mikir krystal ketemu kai dimana gitu tapi trnyata kai dtang lgi pas ujan nice ff😀

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s