[Chapter 10] 2050

2050

“When you’re not a human..”

by Shinyoung

Main Cast: Kim Myungsoo & Son Naeun || Support Cast: Infinite & Apink || Genre: AU, Romance || Length: Chapter 10/? || Rating: || Credit Poster: iheartpanda || Desclaimer: Cast belongs to God. No copy-paste. Copyright © 2014 by Shinyoung.

Chapter 10 — Date or Not? Pt. 1

Teaser | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9

*

Sebelumnya: Mereka berempat sudah tiba di rumah baru mereka di Incheon. Myungsoo bahkan sempat mengunjungi makam orang tuanya bersama Naeun. Jaehyun juga sudah menciptakan bangunan yang berada di halaman belakang rumah Bomi.

Bomi yang selalu memasak makanan enak dan Naeun yang ikut membantu ini dan itu. Disisi lain, Krystal mulai mencari tahu tentang masa lalu ayahnya melalui internet dan lain-lain.

Jaehyun sudah berhasil menciptakan gerakan-gerakan baru yang membuat Bomi terkesan. Jaehyun mengatakan bahwa ia akan menciptakan Bomi sebuah program khusus untuknya jika gadis itu bisa memasak pasta enak. Bisakah Bomi memasakkannya?

*

Kakinya melangkah menuju lantai satu yang rupanya sudah ramai. Ia sempat menoleh ke arah kamar disampingnya yang tertutup rapat sebelum ia menuruni tangga dan mencium bau masakan yang menyeruak masuk ke dalam hidungnya.

Ia menggosok-gosok rambutnya dengan handuknya dan melangkah menuju dapur. Dilihatnya, Bomi yang tengah sibuk memasak pasta dengan lincah. Gadis itu memasukkan beberapa potong daging sapi ke dalam saus pastanya.

“Hei, Bomi-ya. Kenapa kau masak pasta?”

Bomi menoleh dan ia tersenyum lebar, namun ia kembali sibuk. “Aku pikir kau tidak akan bangun, Naeun. Jaehyun akan menciptakan program khusus untukku jika aku memasakkan pasta yang enak untuknya.”

“Si bodoh itu,” gumam Naeun. “Tentu saja kau akan memasakkan pasta enak. Ngomong-ngomong dimana Jaehyun?”

“Kau tidak melihatnya?” Bomi menoleh sekilas ke arahnya namun ia kembali pada saus pasta-nya. Naeun menggeleng walaupun ia tahu Bomi tidak melihatnya. “Dia ada di halaman belakang.”

Naeun pun ber-oh ria dan ia langsung meninggalkan Bomi. Ia melangkah keluar dari dapur dan menuju halaman belakang. Benar saja, ada Jaehyun disana tengah fokus dengan MacBook-nya. Setelah itu, ia sadar bahwa sudah ada Naeun yang berdiri disampingnya untuk ikut melihat apa yang sedang dikerjakannya. Naeun pun mengerutkan keningnya ketika melihat apa yang sedang dikerjakan oleh Jaehyun. Ia menduga bahwa itu program.

“Itu apa?” tanya Naeun.

Jaehyun tertawa kecil. “Ini adalah program ‘Angel Beats’ yang kemarin aku bilang,” jawabnya. “Aku sudah memberitahu Bomi cara kerjanya dan bagaimana penampilannya. Kau mau lihat?”

“Um—Nanti saja,” kata Naeun.

“Oke. Kalau kau mau aku bisa langsung memprogram ini pada dirimu. Jadi ya, atau kau mau membuatnya sendiri?”

Naeun langsung menggeleng. “Tidak usah. Aku tidak pandai menciptakan program semacam dirimu itu. Aku mau makan, kau mau?” Ia menggosok hidungnya. “Kau tahu, Bomi sangat pintar memasak dan kau harus siap-siap menciptakan program khusus itu untuknya.”

Tawa Jaehyun menyerupai gonggongan tanpa humor. “Aku memang sudah mempersiapkannya. Aku selalu siap jika aku kalah. Tapi, apa kau juga mau?”

“Tidak usah.” Naeun melangkah menuju pintu geser yang menghubungkan bangunan rumah dengan halaman belakang. Sebelum ia sempat menggeser pintunya, ia berbalik menatap Jaehyun yang masih sibuk dengan MacBook-nya. “Kau benar-benar tidak mau makan?”

Jaehyun mengangkat kepalanya dari layar MacBook. Laki-laki itu menatap Naeun sambil berpikir sebentar. Akhirnya, ia mengangguk dan mengekori Naeun dari belakang menuju ruang makan.

Bau pasta menyeruak ke dalam hidung Jaehyun ketika ia duduk di kursi yang bersebrangan dengan Naeun. Tak lama kemudian, Bomi datang dan melepaskan sarung tangannya. Lalu, ia duduk disamping Jaehyun. Naeun menoleh ke arah lantai dua.

“Dimana Myungsoo?” tanyanya sambil menggosok-gosok tangannya. Kemudian ia berbalik ke arah kedua sahabatnya.

Bomi tengah mengambilkan pasta untuk Jaehyun dan menuangkan sausnya. Lalu, ia beralih pada Naeun dan menunjuk pintu kamar mandi yang ada di dekat ruang tengah. “Tadi dia bilang mau ke kamar mandi dulu beberapa detik yang lalu sebelum kalian masuk. Jadi, mungkin beberapa detik lagi dia keluar.”

Naeun hanya mengangguk kemudian ia menyerahkan piringnya pada Bomi seakan-akan minta diambilkan pasta. Bomi mendengus pelan, namun ia menjalankannya.

Ketika Bomi ingin menuangkan saus pasta ke atas pasta milik Naeun, Myungsoo keluar dari kamar mandi itu dengan wajah yang ditepuk-tepuk menggunakan handuknya. Naeun bertanya-tanya mungkinkah Myungsoo baru saja cuci muka.

Laki-laki itu mengambil kursi di samping Naeun dan duduk disana. Kemudian, Bomi mengambil piring Myungsoo dan mengisikannya pasta. Sedangkan Jaehyun sudah berkutat dengan pastanya.

“Jadi, gimana?” tanya Bomi ketika Naeun baru ingin menyuapkan sendoknya untuk yang kedua kalinya. Naeun hanya mengangguk-ngangguk dan memberikan jempolnya ke arah wajah Bomi.

Disamping, Myungsoo juga hanya bergumam pelan. “Enak kok,” kata Myungsoo. “Jangan tanya padaku, tanya saja pada Jaehyun.”

“Enak,” komentar Jaehyun sambil mengunyah pastanya. “Aku janji akan membuatkanmu programnya.”

“Kapan?”

“Kapan-kapan.”

“YA!”

“Aku lebih tua darimu,” kata Jaehyun mendorong kening Bomi dengan telunjuknya. “Aku sudah membuatkannya. Sekarang kau bisa makan dengan santai.”

**

Mereka terdiam dalam diam karena bingung ingin membicarakan apa. Sedangkan itu, Bomi dan Jaehyun sudah mengutak-ngatik dengan rakitan pesawat mereka yang mulai terbentuk.

“Bicara soal kemarin malam,” kata Myungsoo memecah keheningan akhirnya. Myungsoo menggosok-gosokkan tangannya karena bingung dan ia menghela nafas panjang. “Soal ke pemakaman orang tuaku. Kau mau sekarang?”

Naeun menggigit bibirnya. Ia berpikir sejenak sebelum ia mengambil keputusan yang salah. Sebenarnya, dia juga sedikit bingung antara pilihan harus membantu Bomi-Jaehyun atau mengantar Myungsoo. Kalau makamnya dekat, mungkin ia sebaiknya menemani Myungsoo. Terkadang, Myungsoo lebih membutuhkannya. Naeun bisa membantu kedua sahabatnya itu nanti.

Ya, sebaiknya ia membantu Myungsoo. Jika ia terus menunda-nunda jawabannya, Myungsoo pasti akan kecewa terhadapnya. Terutama, Myungsoo sudah lama sekali belum mengunjungi makam orang tuanya. Naeun hanya merasa bahwa dia berusaha bersikap sopan.

Tapi, akhirnya ia meneguk jus jeruknya untuk melegakan tenggorokannya yang daritadi tertahan karena ia tidak tahu harus menjawab apa. Lalu, ia meletakkan kembali gelasnya ke atas meja.

“Makamnya jauh?”

“Dekat,” kata Myungsoo. “Sekitar 10 menit dari sini dan setelah itu kita bisa kembali lagi. Aku hanya ingin membersihkan dan berdoa disana sebentar. Kalau kau tidak mau juga tidak masalah.”

“Aku mau kok,” tukas Naeun. Lalu ia menatap ke arah Bomi dan Jaehyun yang tengah sibuk dengan MacBook masing-masing. “Aku ganti baju dulu, setelah itu kita berangkat.”

Naeun bisa menangkap dari sudut matanya bahwa Myungsoo mengangguk pelan. Laki-laki itu pun bangkit dan meninggalkannya menuju lantai dua dan hilang setelah masuk ke dalam kamarnya. Sepeninggalan Myungsoo, Naeun menghabiskan jus jeruknya dan ikut bangkit menuju dapur untuk mencuci gelasnya.

Ia memasuki kamarnya setelah selesai mencuci gelas bekas jus jeruknya. Ia membuka lemari pakaiannya dan mencoba meneliti pakaian apa saja yang mungkin cocok untuknya. Akhirnya, ia memilih untuk memakai kemeja hitam yang menutupi seluruh lengannya dan juga celana jeans hitam yang panjang.

Setelah selesai, ia menuju meja riasnya untuk memoleskan bedak dan juga lipstik merah muda yang berwarna natural. Tak lupa, ia menjalin seluruh rambutnya menjadi satu dan menyisakan beberapa helai rambut yang jatuh menutupi keningnya.

Ia kembali memeriksa penampilannya sebelum ia keluar dari kamar. Tepat ketika ia membuka pintu kamarnya, Myungsoo juga keluar dari sana. Naeun melebarkan matanya ketika melihat penampilan Myungsoo yang hampir sama sepertinya; kemeja hitam berlengan pendek dan celana jeans hitam.

“Son Naeun!”

Naeun tersadar dari lamunannya kemudian ia melirik ke arah lantai satu dimana Bomi berteriak memanggil namanya. Matanya beralih pada Myungsoo dan menatap kedua orang tersebut secara bergantian. Setelah menyadari apa yang terjadi, ia langsung ternganga lebar dengan mata yang diperbesar.

“Astaga,” ujar Bomi. “Kalian cocok sekali!”

Spontan, Naeun langsung melebarkan matanya, kemudian cepat-cepat ia berdeham dan mengalihkan wajahnya. Ia merutuki dirinya sendiri karena sekarang pasti wajahnya sudah merona merah padam.

Disisi lain, Myungsoo hanya menunduk sambil tersenyum kecil. Kemudian, laki-laki itu menggosok dagunya dan menuruni tangga meninggalkan Naeun yang masih disana sendirian.

Bomi pun menggelengkan kepalanya dan pergi kembali ke halaman belakang karena ia tidak jadi mengusik Naeun yang rupanya ingin pergi dengan Myungsoo. Gadis itu memilih menyerah.

Myungsoo menunggu Naeun yang masih diam berdiri di lantai dua. “Son Naeun? Jadi menemaniku tidak?” tanya Myungsoo. Naeun pun sedikit terlonjak dan menatap ke arah Myungsoo sedikit malu dan mengangguk.

Kemudian, keduanya menuju mobil Myungsoo yang terparkir di luar garasi. Laki-laki itu membukakan pintu untuk Naeun dan Naeun tersenyum kecil dan sedikit tertawa melihat tingkah laki-laki itu.

Setelah keduanya berada di dalam mobil, Myungsoo segera melajukan mobilnya. Naeun menduga-duga bahwa keduanya pasti akan saling diam lagi karena Yoon Bomi. Naeun mengumpat kesal karena Yoon Bomi, mereka berdua terperangkap dalam keadaan aneh lagi.

“Um—Son Naeun?”

Myungsoo lagi yang memecah keheningan untuk entah yang keberapa kalinya. Naeun merutuki dirinya sendiri karena tidak bisa membuat keadaan membaik, jadi ia membiarkan Myungsoo membuka pembicaraan.

“Ya?”

“Uh—Soal Yoon Bomi, tidak usah dipikirkan,” kata Myungsoo. “Kau tahu, dia pasti hanya bercanda dan aku jadi sedikit tidak enak padamu.”

Naeun tertawa pelan. “Seharusnya aku yang mengatakan hal seperti itu dan itu bukan salahmu. Kau tahu, Bomi memang seperti itu dan dia mengatakan hal yang sejujur—uh—maksudku dia adalah orang yang polos. Dia mengatakan hal yang dia pikirkan.”

“Ah, kau benar,” kata Myungsoo. “Apa kau sudah makan?”

“Bukankah tadi kita sudah makan pasta-nya Bomi?” tanya Naeun lalu terkekeh pelan menyadari pertanyaan bodoh Myungsoo. Sedangkan itu, Myungsoo menepuk keningnya pelan.

“Aku lupa,” katanya sambil kembali fokus dengan kemudinya.

“Bukan salahmu.”

“Memang bukan salahku—Kita sudah sampai.”

Naeun membuka sit-belt-nya dan keduanya turun dari mobil secara bersamaan. Myungsoo mendahului Naeun untuk mengambil langkah. Naeun sempat menduga-duga bahwa Myungsoo memakamkan kedua orang tuanya di kaki gunung. Benar rupanya, tak lama kemudian mereka sampai.

Dua batu nisan besar dengan tulisan-tulisan hangul yang mengukirinya. Wangi dupa dibakar menyeruak masuk ke dalam hidung Naeun. Myungsoo pun menumpukan lututnya didepan makam ayahnya dan tak lama kemudian, air mata laki-laki itu mulai berjatuhan. Setelah selesai berdoa pada makam ayahnya, ia beralih pada makam ibunya dan kini luapan air matanya semakin banyak.

Begitu banyak cerita yang ia luapkan di depan makam ibunya. Sampai-sampai Naeun membalikkan badannya dan menghela nafas panjang. Ia tidak bisa menahannya; antara ingin menenangkan Myungsoo dengan pelukan hangatnya atau membiarkan laki-laki itu menangis seperti anak kecil.

Akhirnya, Naeun ikut berjongkok disamping laki-laki itu dan memeluk laki-laki itu dengan hangat. Ia menepuk punggung Myungsoo pelan dan menenangkan Myungsoo dengan kata-kata hangatnya. Air mata Myungsoo yang tak terhentikan, membasahi kemeja hitam Naeun di bagian bahunya.

Setelah kira-kira setengah jam menunggu agar Myungsoo pulih, Naeun melepaskan pelukannya kemudian ia menatap laki-laki itu. “Kau tidak apa-apa?”

Myungsoo mengangguk pelan menanggapi pertanyaan Naeun. Ia pun bangkit dan membantu Naeun untuk ikut bangkit. Tangan Myungsoo yang masih menggenggam Naeun, membuat gadis itu sedikit canggung. Ia mencoba melepaskan tangannya, namun Myungsoo menahannya.

“Biarkan aku menggenggam tanganmu sebentar,” ujar Myungsoo. Lalu ia menarik tangan Naeun dan menggenggamnya erat untuk meninggalkan makam itu. Setelah itu, keduanya menuruni pegunungan menuju mobil mereka yang masih terparkir rapi disana.

**

“YA! Kenapa mereka tidak pulang-pulang?” tanya Bomi yang daritadi menggerutu sendiri. Ia mencoba menghubungi Naeun, namun gadis itu justru mematikan sambungan teleponnya.

Jaehyun yang sedang mengutak-ngatik program untuk transportasi mereka itu hanya tertawa kecil membiarkan Bomi marah-marah sedaritadi. Sebenarnya, ia sudah tahu apa yang sedang kedua orang itu lakukan melalui pesan yang dikirimkan oleh Naeun, tapi ia membiarkan Bomi berceloteh dahulu.

Kesannya memang Jaehyun adalah seorang laki-laki yang jahat, sebenarnya tidak, ia hanya suka melihat Bomi marah-marah seperti kesetanan itu. Akhirnya, karena tidak tahan mendengar celoteh Bomi, ia pun berdeham.

Laki-laki itu menghentikan aktifitasnya dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada sambil menyenderkan badannya pada kursi yang di dudukinya. “Mereka berdua sedang jalan-jalan. Biarkan saja, Naeun tadi sempat memberikanku pesan dan ponselnya disita oleh Myungsoo.”

“YA!” Bomi melotot ke arah Jaehyun. “Kenapa kau tidak memberitahuku daritadi? Kenapa manusia itu harus menyita ponselnya?”

“Mungkin—.” Jaehyun terdiam sejenak kemudian ia berpikir sambil menatap ke langit yang cerah dengan awan-awan yang bergumpal disana seperti kapas. “Mereka sedang kencan singkat, jadi Myungsoo tidak mau kencan mereka diganggu. Lagipula, biarkan saja Naeun, dia sudah bekerja keras dengan program-program setiap malam. Dia sering membantuku,” lanjut Jaehyun.

Bomi pun terdiam kemudian ia mengangguk pelan. “Yasudahlah,” katanya. “Aku mengerti perasaan Myungsoo yang menyukai Naeun. Lagipula, Naeun itu bodoh sekali kenapa dia tidak menyadari perasaan Myungsoo padanya? Jelas-jelas, Myungsoo sering memberitahunya.”

“Naeun masih Robolars,” ucap Jaehyun. Ia kembali menatap MacBook-nya, kemudian melanjutkan, “tidak ada yang salah dengan kita jika kita tidak menyadari hal seperti itu. Robolars diciptakan tanpa cinta.”

“Huh,” keluh Bomi. “Pantas saja Robolars tidak ada cinta, lihat saja penciptanya siapa. Ngomong-ngomong, kau mau minum sesuatu? Aku mau pergi ke supermarket sebentar.”

“Boleh,” kata Jaehyun sambil meneguk saliva-nya. “Aku sampai tidak sadar bahwa aku belum minum sejak tadi pagi. Kalau bisa, aku mau jus. Apa saja, asalkan jangan yang aneh-aneh.”

**

“Bisakah kau berhenti memakiku?”

“Kau yang terus-terusan bertanya hal seperti itu!” ujar si laki-laki dengan tampang galak itu. Ia yang awalnya duduk, kini sudah berdiri di depan meja kerjanya. “Sudah kubilang, aku tidak akan menceritakan apapun kecuali dia mau membunuh Kim Myungsoo!”

“Berhentilah menyuruh-nyuruh anakku!” teriak wanita itu. “Krystal bukanlah seorang gadis yang dilahirkan untuk membunuh laki-laki itu! Aku tahu bahwa Myungsoo adalah mantan kekasihnya, tapi Krystal tidak akan melakukan perbuatan keji itu!”

Laki-laki itu tertawa kecil. “Aku tahu kau sangat menyayangi Krystal, tapi aku tidak akan membiarkanmu ikut-ikutan dalam hal ini. Ini adalah kali terakhirnya aku memperingatkanmu, aku tidak akan memberitahumu.”

“Kalau itu mau mu.” Wanita itu tersenyum tipis kemudian ia melebarkan matanya, menatap lurus-lurus ke dalam mata laki-laki itu. Sampai akhirnya, laki-laki itu megap-megap dan terjatuh ke belakang—tepat terduduk di atas kursi kerjanya. Wanita itu menggosok-gosok tangannya.

Lalu, ia menatap ke arah pintu ruangan yang terbuka sedikit. “Jung Krystal, aku tahu kau ada disana. Cepat keluar dari sana atau aku akan membuatmu tersiksa mulai hari ini juga.”

Dengan langkah takut-takut, Krystal keluar dari sana dan ia menatap ibunya tak percaya, seolah apa yang dilakukan ibunya seperti seorang monster. Ia tidak peduli, ia takut pada ibunya.

“Dengar Krystal, aku menyayangimu,” katanya saat Krystal sudah berada di dekatnya. “Tapi, aku mau kau mendengarkan ini semua karena sebentar lagi kita akan menjadi kaya raya.”

“Tapi—Tapi, apa yang baru saja kau lakukan padanya?”

“Aku hanya membuatnya pingsan,” kata wanita itu. “Dengar, aku tidak membunuhnya, aku hanya membuatnya pingsan karena mulai hari ini ia akan mengikuti apa yang kita inginkan.”

“Ta—.”

“Sudahlah,” potong ibunya. “Ayo, kita dengarkan kejujuran dari seorang laki-laki ini. Walaupun aku tahu bahwa ia memang berpendidikan, tapi aku tidak percaya bahwa ia bisa sekaya ini.”

Wanita itu berjalan mendekati tubuh laki-laki yang masih berstatus sebagai suaminya itu. Ia tersenyum tipis, kemudian ia menelusuri wajah laki-laki itu dengan jari-jari lentiknya. Jari telunjuknya berhenti tepat diatas dahi laki-laki itu. Krystal menatap adegan itu dengan takut-takut.

“Kim Jong-Woon,” ujarnya pelan. “Apa kau mendengarku?”

“Ya,” jawab laki-laki itu datar dan tak berdaya.

Krystal berpikir keras, mungkin saja ibunya ini membuat ayah tirinya ini terhipnotis atau mungkin saja ibunya mempunyai kekuatan gaib sehingga ayahnya ini tiba-tiba tertidur.

“Apa dendam yang kau miliki terhadap ayah dari Kim Myungsoo?”

“Aku harus menceritakannya?”

“Ya.”

“Ketika aku masih sekolah di SMA, aku selalu berteman dengan ayah dari Kim Myungsoo alias Kim Jonghyun dan juga ayah dari Bae Suzy yaitu Bae Sungrok. Kami bertiga terus bersama bahkan dalam mendirikan perusahaan. Sampai akhirnya, Kim Jonghyun menikahi seorang gadis yang ternyata gadis yang kusukai,” ujar laki-laki itu datar. Namun, Krystal bisa menangkap rasa pedih dari laki-laki itu.

Laki-laki itu melanjutkan, “aku menahannya sampai akhirnya mereka punya anak. Kami berempat—termasuk gadis yang aku sukai—terus merintis perusahaan bersama-sama. Sungrok juga sudah punya anak yang seumuran dengan Myungsoo dan ternyata mereka berpacaran ketika mereka SMP. Lalu, Suzy meninggal dan aku tahu bahwa Krystal memacari Myungsoo saat mereka SMA.”

Krystal meneguk saliva-nya.

“Saat itu juga, aku memanfaatkan Krystal yang tengah mengajak Myungsoo pergi menemaninya mencari baju. Aku membunuh kedua orang tua Myungsoo alias Kim Jonghyun dan gadis itu—gadis yang aku sukai. Aku tidak peduli. Aku dendam pada Kim Myungsoo.”

“Sekarang juga, dendam itu akan terhapuskan dan kau akan lupa dengan semua masa lalumu. Ketika kau membuka matamu, kau akan menjadi orang yang benar-benar bekerja mencari uang untuk istri dan anakmu. Bahkan, semua emas yang kau miliki adalah milik istri dan anakmu,” ujar wanita itu.

Krystal terdiam.

“Dalam hitungan ketiga, kau buka matamu.” Wanita itu tersenyum tipis. “Satu, dua, tiga.”

Benar saja, ayah tiri Krystal itu terbangun dan menatap kedua perempuan itu secara bergantian dan tersenyum tipis. Krystal terkejut bahwa ayah tirinya itu berubah drastis dalam sekejap. “Sedang apa kalian? Aku pasti tadi tertidur. Ah ya, Krystal, aku punya beberapa emas di lemari penyimpananku. Kau mau?”

Krystal terdiam lagi.

“Krystal masih muda, dia bisa mengambilnya kapan-kapan, yeobo,” ujar ibu Krystal dengan senyuman licik disana yang memperingatkan Krystal untuk segera keluar dari ruangan itu. “Kau bisa melanjutkan tidurmu, tadi kami kesini hanya untuk mengajakmu keluar.”

“Ah, begitu,” ujar laki-laki itu. “Maafkan aku.”

**

“Hei, sebenarnya kita mau kemana sih?” tanya Naeun kesal setelah dari tadi Myungsoo hanya mendiamkannya dan entah mengajaknya kemana. Setahu yang Naeun lihat, daritadi mereka hanya mengelilingi kota Incheon. “Kau tahu, Bomi akan marah besar!”

Myungsoo tertawa pelan kemudian ia menyerahkan ponsel Naeun kembali pada gadis itu. Cepat-cepat, gadis itu menyambarnya dan segera menghidupkan ponselnya yang tadi sudah dimatikan.

“Yoon Bomi!” panggilnya ketika ia sudah terhubung dengan Bomi. Gadis itu memekik marah disana dan Naeun tertawa pelan. “Maafkan aku! Ponselku sempat disita oleh Myungsoo.”

YA! Disita katamu?! Apa laki-laki itu sinting?” Bomi berteriak disana, sampai-sampai Myungsoo yang tengah menyetir bisa mendengar suaranya. “Dia benar-benar psikopat!

Mendadak, Myungsoo menginjak rem sehingga kedua manusia itu—sebenarnya Naeun setengah manusia kan—terbanting ke depan. Myungsoo segera meminta maaf pada mobil-mobil yang berada di belakangnya, kemudian Naeun pun memarahinya karena tidak hati-hati.

Tuh! Aku bilang juga apa! Dia pasti psikopat!” kata Bomi. Naeun bisa mendengar bahwa gadis itu tengah memasak karena suara wajan yang berbenturan dengan sutil masak. “Oh ayolah! Naeun, dia pasti akan menculikmu! Kata Jaehyun, kalian berdua sedang kencan!”

Naeun langsung melebarkan matanya. “YA! Yoon Bomi!” pekiknya marah. “Tentu saja tidak mungkin! Dia hanya mengajakku pergi!” Mendadak, Naeun mendekatkan ponselnya pada bibirnya dan berbisik disana, “dia tidak mungkin mengajakku berkencan. Aku robot dan dia manusia.”

Sudah ah!” ujar Bomi. “Aku mau masak. Kalau kau tidak pulang, silahkan makan di luar karena aku tidak akan memasakkan kalian berdua makanan! Terutama untuk Kim Myungsoo!

“Hei! Apa dia menyebut namaku?” tanya Myungsoo. Naeun cepat-cepat memberinya lambaian tangan yang mengisyaratkan bahwa tidak ada apa-apa atau bukan apa-apa atau bukan membicarakannya atau juga jangan berbicara apapun padanya. Myungsoo menggelengkan kepalanya karena bingung.

Naeun mendengus disana ketika Bomi memarahinya tidak membantu membuat pesawat-bisa-berubah itu. “Oh ayolah, bukankah Jaehyun sudah cerita? Atau dia belum cerita? Aku sudah membantu kalian dalam pembuatan program! Kau sinting, setiap malam aku tidur larut!”

Bomi terkekeh pelan. “Maafkan aku, aku hanya bercanda! Sudah ya!

Setelah itu, sambungan pun terputus dan disusul oleh desahan berat Naeun yang menandakan bahwa ia benar-benar lelah berbicara dengan Bomi. Gadis itu melirik sekilas ke arah dasbor mobil Myungsoo yang menunjukkan pukul satu siang. Gadis itu berpikir sejenak.

“Nah, kita sudah sampai,” kata Myungsoo memarkirkan mobilnya di depan sebuah kafe yang tampak ramai itu. Naeun meneliti kafe tersebut, sedangkan Myungsoo melepas sabuk pengamannya. Laki-laki itu menoleh ke arah Naeun dan menatapnya bingung. “Kau tidak mau turun?”

“Eh—Eh, mau!”

Myungsoo tertawa kecil. Keduanya turun dari mobil dan masuk ke dalam kafe. Naeun yang tidak pernah pergi ke kafe hanya mengikuti Myungsoo dari belakang seperti orang bodoh. Untungnya, tubuh Myungsoo yang besar menutupi gadis itu jadi ia tidak tampak seperti pencuri.

Keduanya duduk di sebuah meja yang berada di sudut ruangan. Myungsoo memesan Caramel Macchiato dan Sandwich. Karena Naeun tidak tahu apa-apa, ia meminta Myungsoo memesankannya apa saja.

“Eh—Myungsoo, apa kau pernah mencoba ice cream?”

“Tentu saja,” jawab Myungsoo santai sambil menuliskan pesanannya. Tapi, ia berhenti dan mengangkat wajahnya, lalu menatap Naeun dalam-dalam. “Jangan bilang kau tidak pernah minum ice cream?”

Naeun tertawa kecil kemudian ia mengangguk pelan.

“YA! Kau tidak pernah minum ice cream?” Laki-laki yang memekik seperti wanita itu membuat orang-orang disekitar mereka langsung menatap mereka kebingungan dan tertawa mengejek. Sementara itu, Myungsoo segera meminta maaf atas kelalaiannya yang membuat orang-orang mulai membicarakan mereka.

Naeun yang merasa bersalah akhirnya memilih untuk diam dan meminta maaf pada Myungsoo. “Apa disini ada ice cream?” tanya gadis itu. “Aku mau ice cream. Kau tahu, aku tidak pernah mencobanya.”

“Oke,” kata Myungsoo akhirnya. “Jadi, kau mau rasa apa? Tentu kau tahu rasa kan bagaimana? Jangan katakan bahwa kau tidak pernah tahu rasa.”

“Aku sudah di program, jadi tentu saja aku tahu rasa itu bagaimana. Bahkan, aku sudah merasakan rasa yang belum pernah kau coba pastinya,” kata Naeun. “Kau pasti tidak pernah mencoba rasa permen karet raspberry.”

Myungsoo mengangguk pelan dan memalingkan wajahnya yang merona karena menahan rasa malu. “Sudahlah, jadi kau mau rasa apa?” tanya Myungsoo sambil menggoyang-goyangkan penanya. Sebenarnya, ia sudah tahu bahwa Naeun pecinta stroberi, tapi tidak ada salahnya bertanya. “Disini ada rasa stroberi, cokelat, dan vanila.”

“Stroberi,” kata Naeun senang. “Bukankah kau sudah tahu bahwa aku mencintai stroberi?” Naeun menyipitkan matanya.

Myugsoo menuliskan pesanan Naeun dan memanggil seorang pramusaji untuk mengambil daftar pesanan mereka. Setelah itu, Myungsoo kembali berbalik dan menatap Naeun.

“Aku tahu kalau kau menyukai stroberi, tapi tidak ada salahnya bukan jika aku bertanya lagi?” Myungsoo menyilangkan tangannya di depan dada. “Siapa tahu kau mau mencoba rasa lain.”

Naeun pun membenarkan perkataan Myungsoo. “Hei, Myungsoo, bagaimana sih rasanya cinta?”

Sontak, Myungsoo langsung terbatuk. “Kau tidak pernah merasakan cinta?” tanya Myungsoo. Naeun menggeleng. “Cinta itu menyakitkan dan rasanya tidak ada. Pahit mungkin?”

“Serius?”

Myungsoo terkekeh. “Tentu saja tidak, Son Naeun. Maksudku, cinta yang aku alami adalah salah satu kenangan buruk bagiku. Seperti yang kau tahu, aku punya pengalaman buruk dengan Krystal dan Suzy.”

“Suzy?”

“Apa aku belum menceritakannya?”

Naeun menggeleng pelan. “Belum, kau baru menceritakan tentang Krystal yang menurutmu secara tidak langsung membunuh kedua orang tuamu. Kalau aku jadi Krystal, aku pasti akan sangat-sangat menyesal. Bisakah kau menceritakan soal Suzy dan dirimu?”

“Kau benar-benar ingin tahu?”

Naeun pun mengangguk. “Ya, sebenarnya, aku tidak terlalu penasaran sih. Tapi, itu kan privasimu. Lagipula, pekerjaanku kan bukan polisi atau sebagainya, jadi aku tidak boleh terlalu serius. Jadi, kuserahkan segalanya padamu, Oppa!”

“Jangan memanggilku oppa,” kata Myungsoo sambil menyipitkan matanya. “Lama-lama, aku jadi tidak suka. Aku jadi merasa sangat-sangat-sangat tua di hadapanmu. Terutama, mengingat kau hidup di tahun 2050.”

Naeun terkekeh. “Baiklah, maafkan aku. Sekarang kau mau cerita atau tidak?”

“Boleh,” kata Myungsoo akhirnya. “Jadi . . .”

Setelah Myungsoo selesai bercerita, Naeun pun mengangguk-nganggukkan kepalanya sambil menyuapkan sendok terakhir es krim-nya. Gadis itu sangat menikmati rasa es krim yang dingin dan membuat giginya sedikit ngilu itu. Terutama, rasa lembut dari stroberi itu.

“Oh ya,” kata Naeun. “Kau pernah merasakan ciuman?”

“Son Naeun.” Myungsoo menatapnya galak. “Pertanyaanmu benar-benar tidak pantas ditanyakan disini. Bukankah kita pernah berciuman?” tanya Myungsoo sambil menatap matanya.

Naeun mencoba mengingat-ingat. Lalu, ia teringat pada kejadian di pagi hari dimana bibir Myungsoo menyentuh bibirnya sekilas. “Itu—bukan—ciuman.”

“Ternyata kau bisa membedakannya,” kata Myungsoo sambil terkekeh pelan. Kemudian, ia menyeruput habis Caramel Macchiato-nya. “Dengar ya, aku hanya pernah berciuman dengan Suzy sekali dan itu juga dia sedang tertidur.”

“Kau diam-diam?”

“Tidak, dia mengetahui hal itu.” Myungsoo menyenderkan tubuhnya pada kursi yang di dudukinya. “Sebenarnya, waktu itu dia hanya berpura-pura tidur dan sadar waktu aku menciumnya.”

“Menyeramkan,” komentar Naeun. “Apa rasanya?”

“Astaga.” Myungsoo menggosok pelipisnya karena frustasi dengan pertanyaan Naeun yang satu itu. “Lebih baik kau mencobanya sendiri dan rasakan bagaimana bibir orang yang kau cium itu.”

“Apa aku boleh mencium siapapun?”

Myungsoo pun sontak melotot ke arah Naeun. “Tentu saja tidak!” katanya. “Kau harus mencium seseorang yang benar-benar kau cintai. Terutama kau ini perempuan. Kau tidak boleh membaginya sembarangan.”

“Artinya, kau benar-benar mencintai Suzy?” tanyanya. “Apa kau masih mencintainya sampai sekarang? Kenapa kau tidak mencari gadis lain saja? Maksudku, Suzy isn’t exist anymore.”

Myungsoo memutar bola matanya. “Bisakah kau bertanya satu-satu, Son Naeun?” tawarnya. “Aku sudah tidak mencintainya karena dia berkhianat padaku. Bukankah aku sudah bilang bahwa dia justru bersama laki-laki lain di akhir hidupnya? Aku tidak punya waktu untuk mencari gadis lain.”

“Ah, begitu ya,” kata Naeun. “Sayang sekali, di akhir hidup seorang gadis yang kau sukai justru bukan bersamamu. Takdir, tidak ada yang bisa menentukannya. Seperti sekarang ini, aku bahkan tidak bisa menentukan sampai kapan aku bisa bertahan di tahun 2014.”

“Bisakah kau tinggal lebih lama?”

“Aku tidak tahu,” jawab Naeun. “Itu adalah pertanyaan tersulit yang pernah ada, karena pada dasarnya, aku kesini karena aku dikejar oleh Joon-Myeon. Aku seharusnya sudah mati.”

Myungsoo tersenyum tipis. “Kalau kau berhasil membunuh Barvseu, apa kau akan pergi? Maksudku, kembali ke 2050?”

“Aku—tidak tahu . . .”

“Kau benar, tidak ada yang bisa memprediksi kenyataan itu.”

“Kalau aku bisa menetap disini dan aku sudah berubah menjadi manusia, maka aku mau hidup disini,” kata Naeun. “Tapi, aku tidak tahu, apakah aku bisa menetap disini atau tidak. Apakah ada peraturannya? Apakah aku akan mati jika aku hidup disini? Aku tidak tahu.”

Myungsoo hanya diam. Tapi, setelah itu ia berkata pelan, “kalau kau butuh aku, aku pasti akan membantumu. Apapun itu, aku pasti akan disisimu dan selalu membantumu. Termasuk. . .” Myungsoo tediam dalam diam.

“Ciuman itu,” lanjutnya.

**

 

A/n: Halo! Setelah aku pikir-pikir, sebaiknya aku nulis part ini sampe 4000 words aja. Karena, bakalan ada part 2 dari ‘Date or Not’. Hehe. Mungkin kalau di chapter-chapter selanjutnya, aku bakalan nulis sampai 6000 words. Terus, udah aku ganti juga genre nya jadi AU. Karena pas aku baca ternyata fantasy itu lebih ke fairy-tale  dan sebagainya lah. Plus, di bagian akhir chapter ini, sumpah aku bingung banget. Intinya, aku gak mau buat Myungsoo itu terdengar seperti murahan/? tapi lebih kayak membantulah. HAHAHA. Terakhir, makasih yang udah comment, like, rating! Saranghaeyo!♥

Advertisements

11 thoughts on “[Chapter 10] 2050

  1. Aaaaaa…. Critaanyaa,, uaaahh,, thoirr tmbahin skinsip myungeun dong , heheheh /plakkk/ doohh thorr critanya mkiin seruu ehh,, ituu apaa tiri kristal smpe kpn bkal trhipnotis /? . Ayoo thoorr cemunguutt,,, fighting (ง’̀⌣’́)ง

  2. Thor Momentnya MyungEun Gitu ” aja . tambahin donk yang lebih So Sweet :-* . Ditunggu Next Chapternya Thor 😉

  3. waaah thor~ ditunggu next chapternya nyaw~ ceritanya makin lama makin bagus~ ihhh wow (っ•́ ₃ • ̀)つ

  4. Thorr! Dapet ide dari mana nulis nyaa? #plak , KEREN !! Tambah lama tambah menarik ceritanya, romance-comedy nya ditunggu buat next chap. *semoga nggak di pw* gomawoo! 😀

  5. makin seru thoooor … aaah MyungEunnya banyaaaaak… besok besok tambah lagi yaa thor 😀
    oh ya, itu maksud kalimat terakhir apa yaaa … ?
    ditunggu next partnya thor

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s