I Found You [Epilogue]

i found you epilogue

Author: ree

Genre: AU, tragedy, romance

Rating: PG-15

Length: chaptered

Main Casts: Im Yoona SNSD, Lee Jonghyun CNBLUE, Lee Donghae Super Junior

Other Casts: Jessica Jung SNSD

Previous: Prologue | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6-End

Disclaimer: Just my imagination

 

 

 

 

“Some search, never finding a way. Before long, they waste away. I found you, something told me to stay. I gave in, to selfish ways. How I miss someone to hold when hope begins to fade…”

-Avenged Sevenfold-

***

 

 

 

 

 

Two Years Later…

Paris, France

4.45 PM

 

Yoona memutar-mutar cangkir cappuccino hangat dengan kedua tangannya kemudian menyesapnya perlahan. Ia lalu menopangkan dagunya di atas meja dan mengarahkan pandangannya ke luar jendela besar yang berada tepat disampingnya, mengamati orang-orang yang berlalu-lalang di jalanan. Bukankah kata orang Paris adalah kota yang romantis? Tapi kenapa semua orang-orang ini tampak begitu sibuk?

“Lagi-lagi melamun.” Tiba-tiba suara seseorang membuyarkan lamunannya. Yoona menoleh. Tampak Donghae sudah berada disamping mejanya. Ia lalu duduk dihadapan Yoona dan menyandarkan badannya di kursi sambil melipat kedua tangannya.

Yoona tersenyum, “Bagaimana urusan di dapur?”

“Yah, memang sedikit repot. Tapi semuanya sudah teratasi dengan baik.” Jelas Donghae, “Padahal kami baru saja buka. Tapi langsung ada masalah karena kelalaianku.”

Yoona tersenyum geli. Memang tadi Donghae sempat repot karena gochujang yang dipesannya langsung dari Korea sebagai bahan untuk membuat ricotta gnocchi dengan bumbu Korea─masakan andalannya─belum juga sampai. Sepertinya cukup banyak orang-orang Eropa yang tertarik dengan masakan campuran Eropa dan Korea buatan Donghae itu. Buktinya, masakan itu langsung menjadi populer sejak restoran ini dibuka.

“Oh ya, selamat atas pembukaan restoran cabangmu kemarin. Maaf aku tidak bisa datang. Tiba-tiba saja bos menyuruhku menghadiri rapat di Sorbonne.” Ujar Yoona. Terdengar sedikit nada kecewa dalam suaranya.

Gwaenchanha. Asalkan kau mau sering-sering mampir kesini.” Jawab Donghae setengah bergurau.

“Aku senang akhirnya kau bisa membuka cabang restoran keluargamu di Paris. Ini benar-benar hebat!” puji Yoona. Namun tak lama kemudian wajahnya berubah sendu, “Ayahmu pasti merasa senang.”

Donghae membuang pandangannya ke luar jendela. Bukannya ia tak senang jika mendengar nama ayahnya, hanya saja ia tidak ingin mengingat masa lalunya yang pahit. Jika mendengar nama ayahnya, yang terlintas dalam benaknya hanyalah segala perbuatan jahat yang telah pria itu lakukan.

Semenjak ayahnya meninggal dua tahun yang lalu, Donghae berusaha keras mengelola bisnis restoran keluarganya di Itaewon. Setelah kejadian malam itu, ia hampir dijebloskan ke penjara atas tuduhan pembunuhan ayahnya. Namun setelah diselidiki, para polisi dapat meyakini keterangannya bahwa ia terpaksa melakukan hal itu sebagai bentuk pembelaan diri hingga akhirnya ia lolos dari tuduhan. Meskipun begitu, ia masih harus berusaha lebih keras mengembalikan kepercayaan masyarakat dan reputasi restoran keluarganya. Donghae yang tidak pantang menyerah akhirnya berhasil membuka cabang restoran keluarganya di Paris yang baru diresmikan kemarin.

Sadar bahwa keadaan berubah canggung karena kata-katanya, Yoona pun memutuskan untuk mengganti topik pembicaraan, “Lalu, kalau kau sibuk dengan restoran disini, bagaimana dengan restoran di Itaewon? Siapa yang mengurusinya?”

“Ada seorang karyawan ayahku yang baru saja diangkat menjadi executive chef disana, dan Kang Minhyuk. Kau tahu? Ternyata kemampuannya dalam memasak hebat juga. Dia sudah menjadi sous chef sekarang. Itu semua pasti berkat bimbinganku.” Jelas Donghae bangga.

Ya! Kau ini narsis sekali!” Yoona mencubit lengan Donghae gemas dan berhasil membuat pria itu meringis kesakitan.

“Kelihatannya Minhyuk sangat bangga dengan statusnya sekarang. Memangnya gadis yang bernama Jung Soojung itu tidak menceritakannya padamu?” tanya Donghae kemudian.

Yoona menggeleng, “Setelah aku pindah kesini, kami jadi jarang berkomunikasi. Yang kutahu dia sekarang diangkat menjadi chief editor majalah di Seoul.”

Donghae mengangguk-angguk, “Ngomong-ngomong, kira-kira sampai kapan kau berada di Paris?”

“Sampai aku bosan.” Jawab Yoona cepat, “Aku ingin melupakan semua kejadian buruk di masa lalu.”

“Bagaimana dengan Jonghyun? Kau sudah bertemu dengannya?” tanya Donghae hati-hati. Ia takut pertanyaannya akan melukai gadis itu.

Yoona menggeleng lemah, “Aku bahkan tidak tahu dimana dia sekarang.”

“Kau tidak mencoba menghubunginya?”

“Aku tidak tahu nomor ponselnya. Dan entah kenapa tidak ingin mengirimkan e-mail padanya.” Yoona mendesah, “Aku ingin menemukannya, bukan menghubunginya.”

“Maksudmu seperti kebetulan yang tiba-tiba, begitu?”

Yoona menaikkan sudut bibirnya. Mungkin kedengarannya bodoh, tapi memang itulah yang diinginkannya. Pikirannya lalu melayang ke kejadian dua tahun yang lalu. Setelah mobil polisi dan ambulans datang, para polisi segera melepas ikatan di tangan Yoona dan memberikannya oksigen sebagai pertolongan pertama. Selama dibawa ke ambulans, Yoona terus melihat ke arah Jonghyun yang sudah tidak sadarkan diri dan diangkut dengan tandu. Mereka dimasukkan ke ambulans terpisah, dan setelah itu Yoona tidak pernah melihat pria itu lagi. Kehilangan Jonghyun untuk yang kedua kalinya serta kehilangan seluruh anggota keluarganya terasa sangat menyesakkan. Ia membutuhkan ruang untuk bernapas dan melupakan semua kejadian buruk yang menimpanya. Maka dari itulah Yoona memutuskan untuk pindah ke Paris sampai batas waktu yang ia sendiri belum tentukan.

Yoona sedang menyeruput kembali cappuccino hangatnya ketika matanya menangkap Donghae sedang memperhatikannya tanpa berkedip sedikit pun.

“Kenapa kau melihatku seperti itu? Kau iba padaku?” tanya Yoona setengah bergurau.

“Ya. Aku iba padamu. Tak kusangka ada orang yang benar-benar percaya kebetulan seperti itu.” Jawab Donghae jujur.

Yoona mendengus pelan, kemudian kembali meneguk cappuccino-nya. Memangnya salah kalau dia percaya kebetulan?

Tiba-tiba mereka mendengar suara pintu berdenting. Kemudian masuklah seorang gadis cantik kedalam restoran itu. Gadis itu mengenakan mantel panjang hitam dengan syal bermotif leopard. Wajahnya sedikit merona merah karena menahan hawa dingin di luar sana.

“Ah, kau sudah datang?” tanya Donghae setelah gadis itu menghampiri meja mereka berdua.

Jessica mengangguk, kemudian menoleh ke arah Yoona, “Yoona-ya, kapan kau datang?” tanyanya ramah.

Yoona membalas senyuman Jessica, “Baru saja.”

Jessica mengangguk-angguk, kemudian duduk di sebelah Donghae, “Bagaimana urusan di dapur?”

“Tenang saja. Bukan masalah yang serius.” Jawab Donghae.

“Bukan masalah serius? Kau bahkan sempat marah saat meneleponku.” protes Jessica, namun masih dalam batas volume suara yang wajar.

“Aku tidak marah. Kau saja yang menyimpulkan seenaknya.” timpal Donghae. Tak lama kemudian kedua orang itu pun sibuk dengan pembicaraan yang Yoona sendiri tidak begitu mengerti maksudnya.

Yoona memperhatikan gerak-gerik kedua orang itu. Tidak, bukannya ia kesal karena diacuhkan, tapi yang ia perhatikan adalah sikap dan perhatian yang ditunjukkan Donghae ketika bertemu gadis itu. Rasanya ada yang berbeda. Mereka kelihatan semakin merasa nyaman satu sama lain. Sesekali Donghae terlihat bercerita tentang dirinya yang selama dua tahun ini tidak pernah lagi diceritakannya pada Yoona. Sikap Donghae itu mengingatkannya ketika mereka masih berpacaran dulu.

Yoona tersenyum. Sepertinya, Donghae sudah menemukan cintanya yang baru.

“Kalian berdua sangat serasi.” celetuk Yoona di tengah pembicaraan mereka. Baik Donghae maupun Jessica langsung menghentikan percakapan mereka dan menoleh. Sekilas Yoona dapat melihat mereka saling bertukar pandang satu sama lain.

Jinjja.” Yoona menekankan kata-katanya. Ia tidak berbohong dan tidak berniat untuk berbohong karena memang seperti itulah kelihatannya. Dilihatnya wajah kedua orang itu mulai merona merah.

Yoona menyunggingkan senyum, kemudian bangkit dari tempat duduknya, “Baiklah, kurasa aku harus pergi.”

“Ah, kau mau kemana? Tidak duduk-duduk dulu disini?” tanya Jessica yang merasa tidak enak karena tanpa sadar telah mengacuhkan Yoona tadi.

“Benar. Di luar sangat dingin.” Sahut Donghae.

Gomawo, tapi aku harus pergi ke suatu tempat. Kapan-kapan aku pasti kesini lagi.” Tolak Yoona halus. Ia lalu mengedikkan kepalanya dan berjalan menuju pintu keluar. Ia sadar, kehadirannya diantara mereka berdua hanya akan menjadi pengganggu.

Sesampainya di luar, Yoona langsung merapatkan mantelnya. Jujur, ia tidak begitu menyukai musim gugur dan musim dingin karena ia akan langsung bersin-bersin jika terkena udara dingin. Jika sudah begitu, hidungnya pasti akan langsung memerah dan gatal. Rasanya sangat tidak enak. Tapi mau bagaimana lagi? Lebih baik ia pergi daripada mengganggu kedua orang itu. Kata-katanya untuk pergi ke suatu tepat tadi hanyalah bohong belaka.

Yoona berjalan perlahan menyusuri sudut kota Paris. Ketika melihat ke sekeliling, tampak orang-orang berjalan dengan pasangannya masing-masing, baik itu teman, pacar, atau orang tua. Sedangkan ia hanya sendiri. Ya, sendiri. Ia tidak punya siapa-siapa lagi sekarang. Lama-kelamaan rasa kesepian ini membuatnya jengah dan sesak. Ia ingin menemukan seseorang yang dapat berada di sisinya.

Tiba-tiba Yoona mendengar suara alunan gitar. Ia langsung menoleh ke sekeliling, mencari tahu dari mana suara tersebut berasal. Kemudian dilihatnya kerumunan orang-orang di sudut jalan. Tanpa pikir panjang Yoona segera menghampiri kerumunan tersebut dan menyeruak diantara orang-orang untuk melihat dari dekat siapa objek yang sedang mereka perhatikan.

Hatinya mencelos begitu melihat bahwa yang memainkan gitar itu adalah seorang pria paruh baya. Tampaknya pria itu adalah pemusik jalanan karena sebagian orang-orang yang mengerumuninya melemparkan sejumlah uang kedalam guitar case yang dibiarkan terbuka.

“Apa yang sebenarnya kau pikirkan? Kau berharap kalau orang yang memainkan gitar itu adalah Jonghyun, begitu?”

Dengan langkah gontai Yoona meninggalkan kerumunan tersebut dan kembali berjalan menyusuri trotoar. Hatinya berkecamuk. Ia tidak bisa membohongi dirinya kalau ia tidak bisa melupakan Jonghyun, walau ia pergi sejauh apapun. Setiap kali melihat sesuatu yang berhubungan dengan pria itu, ketegaran hatinya pasti langsung goyah. Apa sebaiknya ia berhenti mengharapkan kehadiran Jonghyun?

Tiba-tiba seseorang menyenggol pundaknya dengan cukup keras, membuat Yoona sedikit terdorong ke belakang. Yoona mendongak. Dilihatnya seorang pria asing yang jauh lebih tinggi darinya itu tengah mendelik sinis ke arahnya.

“Excusez-moi1).” Yoona buru-buru meminta maaf sambil menundukkan kepalanya. Namun pria itu malah beranjak pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Yoona hanya bisa mengerucutkan bibirnya dan kembali melanjutkan langkahnya. Namun, entah karena sedang tidak fokus atau apa, ia terus-terusan menabrak orang. Berkali-kali ia meminta maaf, sampai pada akhirnya seseorang berbadan besar tanpa sengaja menabraknya dan membuatnya terjatuh. Bukannya meminta maaf, orang itu malah terus berjalan. Dia bahkan tidak menoleh sedikit pun.

Yoona meringis ketika melihat telapak tangannya yang lecet mengeluarkan darah dan mengibas-ibaskannya. Tiba-tiba saja seseorang mengulurkan tangan ke arahnya.

“Vouz avez besoin d’une aide, mademoiselle?2) tanya orang itu dengan menggunakan bahasa Perancis yang fasih. Yoona mendongak. Matanya terbelalak begitu melihat siapa sosok yang berdiri dihadapannya.

Entah kenapa Yoona merasa kesal. Ia langsung berdiri tanpa memedulikan uluran tangan pria itu. Ia lalu memukul-mukul dada dan pergelangan orang itu dengan kesal.

Ya! Kemana saja kau?!”

Ya! Sakit, Yoona-ya!” kata Jonghyun merajuk sambil berusaha menghalangi pukulan Yoona dengan kedua tangannya.

“Kemana saja kau selama ini?! Kau bahkan tidak memberiku kabar sama sekali!” Yoona terus memukuli Jonghyun tanpa ampun.

Melihat mata Yoona yang mulai berkaca-kaca, Jonghyun langsung menahan kedua tangan Yoona dan menariknya kedalam pelukannya.

Mianhae, Yoona-ya… Mianhae…”

 

***

 

“Kenapa tanganmu sering sekali terluka? Aneh sekali.” Komentar Jonghyun begitu selesai membersihkan luka Yoona dan menempelkan plester di telapak tangannya. Saat ini mereka sedang duduk di bangku taman tidak jauh dari tempat mereka bertemu tadi, “Waktu baru pertama kali bertemu kau juga menggores jarimu dengan pisau kan?”

Yoona tidak menjawab. Ia terus memandangi Jonghyun yang sedang serius mengobati luka lecet di telapak tangannya.

“Sebenarnya kau ada dimana selama ini?” tanyanya kemudian.

“Korea.” Jawab Jonghyun singkat.

“Tapi aku tidak pernah bertemu denganmu. Dan kau tidak pernah menemuiku.”

Jonghyun menghela napas, “Setelah kejadian itu aku harus dirawat di rumah sakit selama tiga bulan sampai benar-benar sembuh. Tiba-tiba saja aku dipanggil pihak kepolisian untuk dimintai keterangan atas tuduhan penggunaan senjata api secara ilegal. Untung saja aku tidak pernah menggunakan pistol itu selama berada di Korea. Tapi karena sudah memilikinya aku harus menjalani hukuman selama setahun.” Matanya menerawang, mencoba mengingat-ingat kejadian yang sebenarnya sama sekali tidak ingin diingatnya, “Setelah itu aku bermaksud mengunjungimu, tapi temanmu yang bernama Soojung bilang kalau kau sudah pindah ke Paris. Kau tahu berapa lama waktu yang kubutuhkan untuk mencarimu di kota ini tanpa alamat sedikitpun?”

Yoona terperangah. Rupanya begitulah kejadian yang sebenarnya. Ia merasa sangat bersalah karena telah menuduh Jonghyun yang tidak-tidak. Tidak seharusnya ia berprasangka buruk pada pria itu karena kondisinya jauh lebih parah daripada dirinya.

Mianhae… Aku tidak bermaksud untuk─”

Gwaenchanha.” Jonghyun mengusap puncak kepala Yoona lembut, “Melihat kau masih hidup dan baik-baik saja sudah cukup bagiku.”

“Jadi, kau sengaja kesini untuk mencariku?” tanya Yoona.

Jonghyun mengangguk, “Wae? Kau menganggap bahwa pertemuan kita sekarang adalah suatu kebetulan?”

Yoona memalingkan wajahnya, “Yah, begitulah…”

“Bukankah dari awal sudah kubilang kalau pertemuan kita bukanlah suatu kebetulan?”

“Memang bukan kebetulan, tapi takdir.” Sergah Yoona.

“Kau percaya takdir?”

“Kenapa tidak? Bukankah kau ditakdirkan sebagai anggota yang ditunjuk untuk membunuhku waktu itu? Dan aku ditakdirkan untuk menjadi anak dari mantan anggota geng yang akan menjadi targetmu. Maka dari itulah kita bisa bertemu.” Jelas Yoona yakin.

Jonghyun terdiam. Nasib, kebetulan, dan takdir. Ia merasa rancu dengan semua hal itu. Selama ini ia hanya menjalani hidup dengan menganggap bahwa semua yang terjadi adalah karena perbuatan kita sendiri.

Yoona menatap Jonghyun lekat-lekat tanpa sedikitpun mengedipkan mata. Ketika bertemu lagi dengan Jonghyun, ia baru tahu, bahwa ia sangat merindukannya. Perasaannya meluap-luap, jauh melebihi perasaan saat ia bersama Donghae dulu. Dan ia sangat menikmati perasaan itu.

“Kenapa kau menatapku seperti itu?” tanya Jonghyun ketika menyadari siapa yang sedang menjadi objek pandangan Yoona.

Yoona tidak langsung menjawab. Gadis itu tersenyum lembut tanpa sedetik pun mengalihkan pandangannya dari Jonghyun, “Neol chajasseo3)…”

Jonghyun balas menatap Yoona lekat-lekat. Ia tidak menyangka kehilangan Yoona selama ini akan terasa sangat menyesakkan. Ia berusaha menguatkan dirinya dan segera mencari gadis itu setelah kondisinya pulih. Ia tidak ingin kehilangan Yoona untuk kedua kalinya. Ah tidak, untuk yang ketiga kalinya.

Jonghyun lalu menggeleng, “Ani. Neol chajasseo.”

 

***

 

1)      Maafkan aku

2)      Apa kau butuh bantuan, nona?

3)      Aku menemukanmu

 

 

__________________________________

Halo!

Dengan begini tuntaslah sudah tugasku buat ngepost I Found You. Makasih buat yang udah setia membaca dan menunggu🙂

Well, sebenernya aku nulis FF ini udah lama, sekitar dua tahun yang lalu. Jadi aku cuma edit-edit seperlunya. Waktu itu dibandingkan dengan bikin cerita yang rumit dan belibet, aku lebih menikmati proses penulisannya. Jadi kalo ada yang merasa jalan ceritanya sedikit mudah ditebak, yeah… I definitely realized it. But hey, all you need to do is just enjoy the story, right?

Baru nyadar kalo tulisanku di FF ini masih jauh dari kata sempurna. Tapi aku bakal berusaha buat lebih baik lagi kedepannya. Meskipun ga janji kapan nulis FF baru lagi. Mungkin klise, tapi cukup sulit nyari waktu yang bener-bener kondusif buat nulis di tengah segala urusan perkuliahan. Yang udah kuliah pasti ngerti. Jadi aku ga mau ngejanjiin apapun.

Posternya ga kreatif. Yea I know that. I don’t have enough time to make a decent one. Sorry…

Kalo ada waktu dan ide, mungkin aku bakal bikin FF baru. Tapi kalo ga ada… ya… liat nanti, hahahahaha…

Sekali lagi makasih buat comment dan like-nya. Thank you!😀

11 thoughts on “I Found You [Epilogue]

  1. Hoho , gomawo author sudah publish epilog nya,
    Sudah lepas penasarannya sama nasin Jongyoon
    Bagus thor critanya
    D tggu ff jongyoon lainnya😀

  2. yeay~ ada epilognya, pertanyaan pertanyaan di chapter akhir sudah terjawab semua
    hmm seneng semuanya bisa berakhir bahagia hihi
    nice ff. keren deh!

  3. Yes. Thx for the epilogue🙂
    Jd engga tergantung n penasaran lg😀

    Ffnya bagus kok! ^^
    Actionnya dapet..
    Two thumbs up for u!! (y) (y)

    Of course u’re right! What readers all needs is just enjoying the story n review-ing hihi
    Sippo…. Keep writing n fighting ne!!^^

  4. kurang panjang thor ~ masa kagak ada moment sweet nyaa -.- tapi enggak papa deh gue suka kok ^^ aku tunggu FF terbaru yoona jonghyun yaahhhh

  5. Maaf ya thor baru bisa comment dipart ini. Sebelum sampe di epilog ini ak udah baca chapter” sebelumnya dan ak suka bgt sma ff ini. Apalagi adegan” actionnya itu keren bgt. Pokoknya salut deh buat authornya. Keep writing

  6. Maaf baru comment dipart ini. Sebelum sampe ke epilog ini ak udah baca chapter” sebelumnya. Dan ak suka bgt ff ini apalagi actionnya itu berasa bgt. Pokoknya salut deh buat authornya. ditunggu fanfic jongyoon lainnya. Keep writing

Don't be a silent reader & leave your comment, please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s